wringinpitu

Galengan Sawah Bercerita: Desa Mencari Makna

…. tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan? – a random thought

desaku_1

Tengah Sawah, Dusun Ringinpitu, Plampangrejo, Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur

Jejak langkah.

Pernahkah merenung sudah seberapa jauh kaki melangkah menapaki jalan kehidupan kita? Pernahkan bertanya kemana langkah kaki menuju dan apakah kita melangkah ke jalan yang benar? Ada ribuan tanya mengiringi setiap gerak langkah perjalanan, saat kita berusaha memaknai.

Jalan hidup defaultnya terasa lempeng-lempeng dan lurus-lurus saja. Hanya sesekali terasa mendaki atau tak sadar kita telah jauh melangkah menurun. Terkadang terjal dan berliku. Ada kalanya kita sampai pada persimpangan, banyak jalan yang tebentang di hadapan dan kita dituntut untuk membuat sebuah keputusan: memilih. Tanpa tahu dengan pasti, bagaimana dan dimana jalan yang kita pilih akan berujung.

Ada yang menapaki perjalanan sebagai langkah-langkah keniscayaan yang tak bisa ditawar. Ada yang menapaki perjalanan penuh dengan strategi dan perhitungan untuk sebuah kata kunci: menjadi pemenang kehidupan. Ada yang sekedar mengikuti kata hati, kemana nurani bicara disanalah dia akan pergi. Adapula yang berfikir bahwa setiap peristiwa kehidupan tak ubahnya bilangan random yang tak perlu disiati, karena itulah inti dari seninya perjalanan hidup. Tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan?

Menyusur Jejak Langkah

Peristiwa mudik, pulang kampung kembali ke desa, ke dusun tempat kita lahir dan tumbuh, buatku adalah peristiwa sakral yang selalu istimewa. Disinilah, titik nol langkah perjalanan hidup kita dimulai. Dan menyusurinya kembali adalah peristiwa transendental yang mengingatkan kita untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita tempuh: are we on the right track?

Adalah jalan setapak, galengan sawah, jalanan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang diantara petak-petak sawah yang dahulu pernah, selama tak kurang dari enam tahun aku menyusurinya pulang pergi. Jalan terpendek dari rumah menuju SD ‘Inpres’ Negeri, yang terletak di pinggir sawah di dusun kami. Saat itu ada lima SD Negeri dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa kami, desa Plampangrejo. SD Negeri Plampangrejo 3 adalah satu-satunya sekolah di dusun kami, dusun Ringinpitu. Sebelum akhirnya kesuksesan program KB di era orde baru yang berakibat menurunya jumlah anak-anak membuat salah satu sekolah harus ditutup, kekurangan murid. Dan sekolah ku berubah nama menjadi SDN Plampangrejo 2. Dan hari itu, kami menyusuri galengan sawah itu kembali.

Galengan Sawah Bercerita

Bagiku, menapaki kembali jalan galengan sawah itu seperti membuka dan membaca kembali buku cerita lama. Bayangkan sedikitnya enam tahun aku menyusuri jalan yang sama, sepanjang hampir 2 km itu, setiap hari.

Secara fisik, meski puluhan tahun berlalu tak banyak yang berubah. Ceritanya yang berganti. Dahulu, di jalan itu, setiap pagi dan siang hari, ramai anak-anak berseragam merah putih, berjalan, meniti (jembatan papan kayu), dan melompat (kalen, saluran irigasi), menyusur setapak dan demi setapak dengan riang hati. Bila musim hujan tiba, daun pisang menjadi payung, tas dan sepatu harus dibungkus keresek. Seringkali kami harus menempuh jalur yang lebih panjang karena jembatan papan kayu hanyut oleh deras arus air kalen. Sepeda Ontel dan Payung adalah sebuah kemewahan buat kami saat itu.

Kini, yang ada hanyalah hening dan sunyi. Tak ada lagi anak-anak berjalan kaki menuju sekolah. Yang bersepeda ontel pun nyaris tidak ada. Kemajuan zaman membuat manusia semakin merasa nyaman, anak-anak dusun pun diuntungkan, antar jemput pakai sepeda motor dan mobil menjadi kebiasaan. Hidup boleh di desa, tetapi gaya hidup tak boleh kalah dengan orang kota- imajinasi kesuksesan hidup yang selalu mereka bayangkan lewat tayangan sinetron di TV.

Di jalan itu banyak cerita. Di bawah rumpun pohon bambu, ada rumah Lek Man Gun dan Bek Saudah. Keduanya kini telah tiada, Allahu yarhamhum. Pasangan suami istri ini selalu terlihat bekerja keras sebagai pengrajin alat-alat dapur dan pertanian dari bahan dasar bambu yang melimpah ruah di dusun kami. Ada tampah, tompo, dan banyak lagi yang bahkan aku sudah tak mampu mengingat namanya. Sebelum akhirnya alat-alat dapur dari bambu itu tergantikan oleh peralatan plastik made in negeri tirai bambu yang serba murah. Peralatan plastik itu menggempur pasar desa, dan kehidupan Lek Man Gun dan Bek Saudah pun kian merana. Barang-barang hasil tanganya yang terampil itu tak lagi laku di pasar desa.

Lek Man Gun adalah leleki gagah, tinggi besar, dan kulitnya kuning langsat. Begitun Bek Saudah, kulitnya kuning langsat tak seperti kebanyakan orang-orang desa kebanyakan yang kulitnya buluk kusam. Sayang kesempurnaan fisik mereka tak seindah cerita hidup yang menyertainya, setidaknya menurut ukuran kesuksesan hidup orang modern jaman sekarang. Kami masih ingat betul senyum tulus khas keduanya. Meski tengah sibuk berkarya, sapaan hangatnya tak pernah alpa menyapa kami yang melintas di depanya. Merekalah saksi hidup kami, yang mengamati kami tumbuh dari anak-anak hingga tumbuh menjadi remaja hari demi hari. Kini, di tempat yang sama yang ada hanyalah sunyi.

Selain rimbunan pohon bambu, tegalan pekarangan rumah Lek Man Gun juga dikelilingi oleh pagar hidup dari tanaman waribang, alias bunga sepatu. Bunga yang belakangan kutahu adalah bunga kebangsaan negara Malaysia. Bunganya indah berwarna merah, meski tidak pernah berubah jadi buah, yang sering diminta bawa oleh Guru kami di kelas untuk menerangkan alat reproduksi tumbuhan: Benang sari dan Putik. Ada juga bunga sejenis, berwarna merah lebih muda, tetapi tidak pernah mekar, dan jika dipetik dan dihisap pangkalnya, ada cairan yang manis sekali, semanis madu. Jika dulu tegalan itu hanya ditanami pohon pisang, kini tegalan itu jadi perkebunan buah naga.

Beberapa puluh langkah kemudian, pemandangan berikutnya adalah rimbunan pohon kelapa. Dahulu, di antara pohon kelapa itu adalah tanaman singkong. Yang merupakan bahan pokok industri panganan getuk lindri. Zaman berubah, selera cita rasa makanan orang-orang desa pun ikut berubah. Getuk warna-warni dengan taburan parutan kelapa diatasnya telah tergantikan cake warna-warni berbahan terigu dengan parutan keju di atasnya. Wajarlah, jika orang-orang desa mulai malas menanam singkong yang tidak ada harganya. Tegalan singkong pun kini berubah jadi hamparan tanaman padi, dengan pohon kelapa di pinggir-pinggirnya.

Jejak langkah kami terhenti, ketika kami sampai pada tempat jembatan papan kayu dulu itu berada. Jembatan itu benar-benar telah tiada, dan kalen saluran irigasi itu terlalu lebar buat kami untuk dapat meloncatinya. Dari kejauhan kulihat galengan-galengan sawah lebakan dengan tanaman mendong yang legendaris itu benar-benar telah raib. Tergantikan oleh rerimbunan pohon kelapa berpagar yang tak bisa lagi terlewati oleh pejalan kaki.

Tanaman mendong atau mensiang, bahan baku tikar kini pun telah tiada. Dahulu saat masih banyak ibu-ibu rumah tangga menganyam tikar mendong, tanaman ini adalah komoditas yang menjanjikan. Lagi-lagi, kondisi pasar desa tak lagi bersahabat saat tikar berbahan plastik sintesis dari pabrik menyerbu pasar desa. Lagian, sudah tak jaman, hari gini tidur di atas dipan beralaskan tikar. Spring Bed sudah terbeli oleh orang-orang desa.

Karena langkah terhenti, pagi itu, kami hanya bisa duduk-duduk di galengan-pematang sawah. Merenung, menyatu dengan alam. Pemandangan yang hijau, udara yang segar, hawa yang sejuk, suasana yang hening, hanya terdengar orkestra nyanyian kodok, jangkrik dan burung truwok yang hendak bertelur. Bukankah itu kemewahan bagi orang-orang kota?

Di pematang sawah, jangkar alam fikiranku terbawa pada cerita-cerita masa lalu. Tentang ikan kutuk alias gabus besar-besar dan belut yang dulu begitu melimpah di tempat ini, tentang burung gemak alias puyuh dan burung pitik-pitikan yang wujudnya mirip dengan ayam. Dulu kami, sering mengejar dan memburunya. Sarang dan telurnya mudah kami temukan di antara rimbun tanaman mendong. Belum lagi tentang burung emprit, kutilang, prenjak, srikatan, waakhowatuha. Entah dimana mereka kini rimbanya. Hilang tanpa meninggalkan pesan. Belakangan aku tahu, burung yang kami sebut burung pitik-pitikan itu hidup bebas berdampingan dengan manusia di kampusku, Universitas Nottingham, Inggris. Tak seorang pun berani menangkapnya. Terbesit rasa sesal, kenapa dulu kami begitu kejam memburunya.

Di pematang sawah itu rasa keprihatinanku menyergap. Cerita klasik ekonomi pedesaan yang bak lingkaran setan, sangat tidak menguntungkan dalam rantai sistem ekonomi. Terus berulang, entah dimana juntrungnya. Tentang harga benih, pupuk, dan obat hama yang mahal di masa tanam, kemudian harga jual yang tiba-tiba anjlok saat panen tiba. Panen raya saja merugi, apalagi jika gagal panen? Juga tentang komoditas pertanian lainya yang tak ada harganya di pasar. Aku sangat awam dengan ilmu ekonomi, kalaupun aku seorang Profesor di bidang ekonomi pun, aku tak yakin bisa mengatasi keadaan. Benar, keadaan sistemik yang tidak menguntungkan.

Masa depan ekonomi pertanian di pedesaan rasanya begitu suram. Lebih-lebih arah pembangunan pemerintah yang tidak pernah memihak. Ironi saat puncak kekuasaan dikuasai partai yang sloganya partainya wong cilik. Ironi di negeri agraris dan maritim yang arah pembangunan negerinya tak berpihak untuk bidang keduanya. Alangkah lucunya, masya alloh di negeri yang garis pantainya terluas di dunia, garam saja harus impor. Di hamparan tanah yang subur, tongkat dilempar jadi tanaman saja, bahan pangan masih harus impor.

Tak heran, jika tak seorang pun, dari pemuda-pemudi desa yang berminat jadi petani muda, harapan masa depan. Kecuali petani muda sloganistik, yang biasanya hanya abang-abang lambe. Hanya kamuflase, yang sebentar saja tak ada rimbanya. Buat muda-mudi desa, memilih menjadi petani itu tak ubahnya memperpanjang rantai kemiskinan yang turun temurun.

Untuk memutus rantai kemiskinan itu, yang beruntung, punya otak agak encer, menempuh pendidikan tinggi, untuk kemudian menjadi priyayi di kota. Yang kurang beruntung di bidang akademik, dan orang tua punya modal yang cukup memilih bekerja di luar negeri, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang agak kurang beruntung lagi, yah merantau di kota-kota dimana uang banyak beredar, Denpasar salah satu tujuan utamanya. Yang tidak punya pilihan, kerja serabutan di desa, dengan konsekuensi menerima apa pun yang diberikan oleh hidup di desa. Masih adakah anak muda yang menggenggam asa untuk membangun desanya?

Dari sudut pandang uang saja, apalah yang bisa diharapkan dari desa? Tetapi, dari sudut pandang kehidupan keseluruhanya, kita perlu belajar kembali dari desa. Tentang ketulusan, kepolosan, kesederhanaan, kepasrahan, dan mendefinisikan kembali: apa yang kita cari dalam hidup. Desa adalah tempat untuk meraba-meraba kembali kemanusian kita, yang secara tak sadar, kesibukan telah menjadikan kita tak ubahnya mur baut mesin industri pencipta uang. Desa kembali mengingatkan kita kembali bahwa ada hal-hal lain dalam hidup yang lebih penting dari sekedar uang.

Advertisements

Sepeda Ontel di Cambridge : yang tak lekang diterjang arus majunya teknologi transportasi

Menelusuri setiap sudut kota kecil ini membawa ingatan saya kembali pada tahun 90-an awal. Saya merasa bernostalgia dengan kehidupan dusun ku yang damai (Dusun Wringinpitu, Desa Plampangrejo), di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur; tempat dimana saya menghabiskan masa kecil ku yang penuh dengan kenangan. Kenanganan yang kini sudah tercerabut oleh keangkuhan perubahan Jaman yang entah saya tak tahu harus pergi kemana lagi jika saya ingin mengenangnya. Hingga akhirnya, kota kecil ini menghadirkan kenangan dan menghidupkan suasana masa lalu itu kembali. Di kota Cambridge, Inggris, kota pusat sumber inspirasi kemajuan peradaban manusia di dunia saat ini, tempat dimana salah satu universitas terbaik di atas jagad raya itu berada, saya kembali terhanyut dalam buaian romantika kenangan masa lalu kembali. Dan tahukah anda, kenanganan apakah itu?

Sepeda Ontel, Desa ku dan Kenangan masa kecil ku

sepeda ontel di cambridge_26

Iya kenangan itu adalah kenangan tentang sepeda Ontel. Mode transportasi bersahaja yang menjadi bagian tak terpisahkan dari langkah  panjang peradaban umat manusia. Masih terekam kuat dalam ingatan saya ketika saya masih kecil, di era tahun 90an di kampung saya sepeda ontel pernah menjadi mode transportasi paling utama. Para petani desa hilir mudik pulang pergi dari sawah ladang mereka dengan sepeda ontel mereka, termasuk untuk mengangkut hasil panen sawah dan ladang mereka. Anak-anak sekolah pun ramai bersepeda pergi dan pulang dari sekolah mereka. Mereka pergi bergerombol dan berboncengan berarak-arakan seperti laskar prajurit yang sedang pergi berperang. Saya termasuk di antara mereka. Bahkan Waktu SMP, saya dan beberapa teman dari desa Plampangrejo, harus mengayuh sepeda di setiap pagi-pagi buta  sejauh lebih dari 10 KM untuk menuju ke SMP Negeri yang terletak di Kota Kecamatan.

Tidak hanya untuk transportasi dalam desa, sepeda ontel di kampung saya pada saat itu juga biasa digunakan untuk menempuh perjalanan jarak jauh antar desa bahkan antar kecamatan. Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya, di setiap hari raya tiba, bapak selalu mengajak saya untuk bersilaturahim ke rumah saudara-saudara kami di luar desa dan kecamatan hanya dengan sepeda ontelnya. Saya dibonceng oleh Bapak, sementara adik saya yang perempuan di bonceng oleh emak  saya. Kami tidak sendiri, biasanya kami pergi bersama-sama dengan saudara yang lain. Pergi pagi-pagi buta dan kembali di rumah ketika malam mulai menjelang. Menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer, dari desa satu ke desa lainya, melintasi jembatan bambu,  bahkan seringkali harus menyebrangi sungai. Sungguh, sebuah kekuatan semangat silaturrahim yang sangat-sangat luar biasa pada saat itu, apalagi untuk ukuran masa sekarang.

Sepeda Ontel, Desaku, dan Riwayatmu kini

Lain ladang lain belalang, lain dulu lain sekarang. Sekarang, jika saya pulang kampung keadaan jauh berbeda. Sepeda ontel, yang dahulu di setiap keluarga setidaknya memiliki satu sepeda ontel, kini pun tinggal kenangan. Sepeda Bapak saya, yang dulu kokoh dan tangguh pun sudah lama dianggurin di dalam kandang ayam. Yang lambat laun karatan dan akhirnya rusak dimakan usia. Hanya sepeda-sepeda model BMX yang dipakai oleh mainan anak-anak kecil saja yang masih tersisa. Moda transportasi desa kini telah tergantikan oleh motor dan Mobil.

Jujur dari hati nurani yang paling dalam, setiap kali pulang kampung, saya merindukan suasana kedamaian dan ketentraman desa ku yang dulu. Di jalan kampung di depan rumah saya, yang hingga saat ini belum diaspal itu, kini penuh bising dengan suara berisik sepeda motor dan mobil. Apalagi, di hari lebaran. Jumlah volume mobil yang lewat di depan rumah saya meningkat sangat drastis. Hampir setiap menit ada saja mobil yang lewat. Menghadirkan suara bising dan menghembuskan debu-debu jalanan yang sangat menyiksa.

Desa saya yang dulu damai, di setiap lebaran berubah menjadi  tak ubahnya suasana di jalanan Ibu kota yang berisik. Mungkin, karena mobil adalah simbol kesuksesan pencapaian hidup manusia Indonesia. Sehingga kuda-kuda besi dari Jepang itu harus dipertontonkan ke seluruh penduduk kampung oleh anak-anak desa yang merasa sukses merantau di negeri seberang. Atau karena mereka merasa harga diri mereka ada pada benda bergerak penyebar polusi itu? dan seolah penduduk kampung pun mengamini bahwa merekalah yang mobilnya paling bagus yang paling sukses hidupnya.

Kalau sudah begini, kemana saya harus mencari kedamaian kampung saya yang dulu lagi?

08_sepeda ontel di cambridge_01

Para Mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontelnya.

Sepeda Ontel dan Cambridge.

Di Cambrige, sepeda ontel adalah moda transportasi mainstream. Di kampus Universitas Cambridge misalnya, mayoritas mahasiswa menggunakan sepeda ontel untuk mobilitas mereka di sekitar kampus yang sangat luas. Sebenarnya ada layanan Bus murah khusus mahasiswa cambridge yang mengelilingi kampus dan city center. Tetapi sepertinya layanan Bus ini kurang dinikmati. Mungkin karena tidak gratis dan kurang fleksibel, karena bus hanya lewat setiap 10 menit sekali. Waktu 10 menit menunggu mungkin sangat berharga bugi para mahasiswa Cambridge.

08_sepeda ontel di cambridge_02

Sepeda Ontel di salah satu gedung perkuliahan di Universitas Cambridge

Tidak hanya dalam lingkungan kampus dan mahasiswa, sepeda ontel juga sangat populer di antara masyarakat pada umumnya di Cambridge. Di pusat kota Cambridge misalnya, anda bisa menyaksikan pengguna sepeda Ontel yang sangat banyak. Demikian juga sepeda-sepeda ontel yang diparkir di sepanjang jalan. Di Cambridge, dan di Inggris pada umumnya, parkir untuk mobil sangat mahal, hampir £1 pound (Rp.15.000) per jam. Tetapi tidak halnya dengan parkir sepeda ontel, anda bisa parkir di tempat-tempat parkir sepeda yang disediakan dengan gratis.

Sepeda Ontel di Pusat Kota Cambridge

Selain di pusat kota, sepeda ontel juga banyak digunakan para pemakai mass public transport seperti kereta api. Umumnya, mereka menggunakan sepeda dari rumah ke stasiun kereta api. Tetapi, banyak juga yang membawa sepedanya masuk ke dalam kereta api dan ini sangat diperbolehkan di Inggris. Mereka biasanya menggunakan tipe sepeda lipat yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas dan dibawa masuk ke dalam kereta. Kalaupun tidak memiliki sepeda lipat, di dalam kereta api juga terdapat tempat khusus para penumpang dengan sepedanya, yang terletak di antara sambungan gerbong.

Sepeda Ontel di Salah satu stasiun kereta Api

Berbagai Rupa Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin anda berfikir bahwa sepeda Ontel di Cambridge adalah sepeda ontel modern mahal berharga puluhan juta rupiah seperti sepeda Ontel kalangan berada di kota-kota besar di Indonesia. Sepeda-sepeda  ontel di Cambridge adalah sepeda ontel bersahaja yang mengingatkan saya pada sepeda ontel -sepeda ontel di kampung saya pada era 90-an. Berikut beberapa foto yang berhasil saya abadikan.

Seorang mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontel bersahaja nya

Kira-kira masih ada ndak ya saat ini mahasiswa/i di salah satu kampus di Indonesia yang masih mau berangkat ke kampus dengan sepeda bututnya seperti mahasiswi Cambridge di atas? di kampus saya di surabaya, sebuah PTN yang dulu dikenal sangat merakyat saja saat ini mahasiswa/i nya sudah pada berlomba-lomba dengan mobil-mobil nya. Yang merubah parkiran sepeda ontel dan motor butut menjadi layaknya sebuah show room mobil. Ironis memang, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru saya temukan di kampus di Inggris, negara maju yang kemakmuran dan pendapatan perkapitanya berpuluh-puluh kali lipat dengan Indonesia. Sementara, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru menjadi barang yang sangat langka di kampus di Indonesia yang katanya negara dunia ketiga yang ketinggalan secara ekonomi.

Sepeda Ontel lainya

Yang menjadi ciri khas sepeda ontel di Cambridge adalah sebuah keranjang berwarna coklat yang terbuat dari anyaman kayu serabut. Biasanya, keranjang ini digunakan untuk menaruh tas dan barang-barang bawaan lainya. Pemakai sepeda ontel di kota ini juga lintas profesi, lintas umur, dan lintas gender. Tidak hanya mahasiswa dan ibu rumah tangga, penyandang profesi lain pun ikut mengayuh sepeda.

Mahasiswi cambridge dan sepeda ontenya

Tidak hanya para remaja, anak-anak dan para lanjut usia pun bersepeda. Tidak hanya laki-laki, perempuan pun bersuka ria dengan sepeda-sepeda nya.

Lelaki dan sepeda ontelnya

Bahkan tidak hanya yang bertubuh normal, yang mengalami cacat fisik pun banyak yang menggunakan sepeda. Berikut berbagai pose masyarakat Cambridge dengan sepeda-sepeda ontel mereka.

Sepeda Ontel Kaki tiga

Sang putri dengan sepeda ontelnya

Si Bapak dan sepeda Ontel feminin nya

Si Kecil dan sepeda Ontelnya

Si manis dan sepeda ontelnya

Mahasiswi cerdas dan sepeda ontelnya

Si seksi dan sepeda ontel bututnya

Pak Tua dan sepeda Ontelnya

Sang professional dan sepeda ontelnya

Si modis dan sepeda Ontelnya

Si Gaul dan Sepeda Ontelnya

Yang unik dari Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin kita berfikir sepeda ontel tidak praktis dan memiliki keterbatasan untuk ukuran keluarga. Mungkin kita berfikir mobil adalah moda transportasi paling sempurna untuk sebuah keluarga. Dimana pasangan dan anak-anak kita bisa diangkut bersama. Tetapi, yang menarik di Inggris, sepeda ontel tak menghalangi kebersamaan keluarga. Bahkan, sepeda ontel bisa digunakan untuk membawa seorang bayi. Ya Mereka  menarik baby box dengan sepeda ontelnya.

Sepeda ontel dan Baby Box

Untuk membawa anak-anak yang sudah agak besar. Sepeda ontel bisa dilengkapi dengan boncengan seperti foto-foto di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Boncengan Anak nya

Sepeda Ontel untuk dua orang

Ayah, Anak, dan Sepeda Ontelnya

Sepeda Ontel dan Kenyamanan Kota

Dengan masyarakatnya yang mayoritas adalah pengguna sepeda ontel, Cambridge menjadi salah satu kota di Inggris yang sangat nyaman untuk disinggahi. Udara yang bersih, tidak ada kemacetan, tidak ada polusi, dan yang pasti sangat nyaman untuk dinikmati. Ritme kehidupan terasa berjalan dengan penuh kedamaian yang menentramkan hati dan menenangkan pikiran.  Tidak seperti kota-kota besar yang bersisik dan penuh dengan kepenatan dan hiruk pikuk kesibukan hidup. Cambridge, tidak salah jika kota ini adalah sumber inspirasi kesempurnaan sebuah peradaban umat manusia. Di kota inilah, telah lahir ilmuwan-ilmuwan kenamaan yang telah banyak merubah dan mempengaruhi dunia, seperti  Isaac Newton, Darwin dan sebagainya.

Suasana di depan Stasiun Kereta Api Cambridge

Suasana dalam salah satu kampus Universitas Cambridge

Untuk mengintip nyamanya kota Cambridge, yuk kita intip dua video di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Masa Depan nya di Indonesia

Melihat serunya bersepeda Ontel di Cambridge, dan Inggris pada umumnya. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa tidak di Indonesia ya? Bukankah sepeda Ontel itu moda transportasi yang murah? Mungkin banyak dari kita berfikir sangat nyaman bersepeda di Eropa karena udaranya yang sejuk dan nyaman, sementara di Indonesia sangat panas dan tidak nyaman untuk bersepeda.

Tetapi, menurut saya itu tidak sepenuhnya benar. Justru cuaca di Inggris jauh lebih complicated dengan cuaca di Indonesia. Di musim panas, Inggris suhunya bisa mencapai di atas 30 derajat dan tidak kalah sumuknya dengan kota Surabaya, toh mereka malah asyik berpanas-panasan dengan sepeda ontelnya. Di musim dingin suhu bisa di bawah 0 derajat celcius dan bersalju. Hujan bisa turun kapan saja  sepanjang tahun.

Jadi menurut saya, bersepeda ontel itu bukan karena keadaan dan ketidakberdayaan. Tetapi karena pilihan budaya hidup. Pilihan yang dipengaruhi oleh bagaimana pola pikir kita terhadap kehidupan dunia ini. Jika gaya hidup mewah dan pamer kakayaan hidup adalah pilihan mungkin sepeda ontel bukanlah pilihan yang tepat. Hal ini akan berbeda jika kesederhanaan dan keharmonian hidup dan alam menjadi pilihan.