Viva PhD di UK

Hari-hari yang Mendefinisikan

… kadang kita hanya perlu bersabar, menuggu peristiwa kehidupan terjadi di saat yang paling tepat – a random thought

img_20161130_171350

Anak Lanang dan Anak Wedok

Sudah terlalu lama rasanya tidak menceritakan alam pikiran dan suasana hati dalam tulisan. Bukan sedang dalam kedukaan yang dalam. Hehe, alhamdulilah, wasyukurillah justru banyak peristiwa kehidupan belakangan yang layak untuk disyukuri, walau mungkin tak perlu dirayakan, apalagi secara berlebihan.

Daripada menulis keluhan, lewat tulisan saya kali ini, saya sekedar ingin tahaddus binni’mah menceritakan kenikamatan, anugerah kehidupan yang telah diberikan kepada saya. Indeed, beberapa belakangan ini ada hari-hari penting, hari-hari yang begitu mendefinisikan, yang pastinya tidak akan mudah terlupakan begitu saja di kemudian hari.

19-11-2016

Sabtu pagi hari yang dingin, pukul 10.22, di sebuah bilik rumah sakit Queen Medical Centre, rumah sakit sekolah kedokteran, Universitas Nottingham, telah lahir anak kedua kami. Seorang bayi perempuan yang begitu ayu wajahnya. What a lovely baby girl. Lewat persalinan normal yang alhamdulilah sangat lancar.

Bayi perempuan itu, saya beri nama Alisa Fadilahaya Wulandari. Kupilih nama Alisa untuk mengenang Bidan Alice, bidan cantik jelita, yang aduhai teramat baik sekali hatinya. Yang sepenuh jiwa mengawasi si jabang bayi dari umur beberapa bulan di dalam kandungan. Fadilahaya dari bahasa Arab artinya keutamaan kehidupan, dan wulandari itu bahasa Jawa yang artinya bulan purnama. Sengaja kuselipkan nama jawa biar selalu ingat, asal usulnya leluhurnya sebagai perempuan Jawa. Sebenarnya juga, nama ini sebenarnya nama gabungan dari putri-putri Gus Dur dan Cak Nun. Dua tokoh yang banyak mendefinisikan alam pikiran saya saat ini.

Sejak kehadiran nya, Masya Allah, getar-getar kebahagian melimpah ruah memenuhi rongga jiwa. Ku sangat senang memandangi dalam-dalam ayu wajahnya. Menatap binar matanya. Menggendongnya, menciumi aroma wangi khas tubuhnya. Rasanya semangat hidup ku bertambah berkali-kali lipat.

Thank God! Bimbing kami, semoga kami bisa menjaga dan mendidik titipan Mu ini dengan sebaik-baiknya.

12-12-2016

Hari Senin, tanggal 12 bulan 12 tahun 2016. Tanggal yang cantik. Bertepatan dengan 12 Robiul Awal 1437 H. Hari ulang tahun kanjeng nabi Muhammad SAW. Yang dulu kelahiran beliau juga tercatat pas hari Senin. Lebih tepatnya lagi, menurut penanggalan Jawa, 1212, ini adalah Senin legi. Neton ku, hari kelahiran saya, kata emak ku.

Alhamdulilah, di tanggal ini, akhirnya aku lulus ujian disertasi doktor ku. Tentu tidak semudah membalik halaman kertas ujianya, tetapi overall lancar sekali. Aku percaya ini karena barokah doa-doa teman-teman dan orang-orang yang turut mendoakan ku. Banyak pertanyaan berat, kritikan-kritikan pedas terhadap disertasi ku, tapi rasanya aku cukup puas bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pengujiku itu dan mereka pun kelihatanya cukup puas dengan jawabanku.

Sempat ngeri dan jengah di awal ujian, karena setiap paragrap yang aku tulis mulai dari bab pendahuluan mengundang banyak kritikan dan pertanyaan dari penguji. 2.5 jam berlalu baru selesai 5 bab dari 10 bab disertasiku. Aku pun minta istirahat sebentar, 15 menit untuk wudlu dan sholat Duhur. Alhamdulilah, setelah sholat duhur, ujian sisa 5 bab sangat lancar seperti air yang mengalir. Tidak banyak lagi pertanyaan. Dan akhirnya, kurang dari 1 jam ujian pun berakhir. Aku disuruh keluar sebentar. Aku gunakan untuk sholat ashar, baru dapat dua rakaat, penguji disertasi ku datang menemuiku. Terpaksa aku batalkan sholat ku.

Aku masuk kembali ke ruang ujian, untuk mendengar hasil ujian. Dag dig dug der, mau copot rasanya jantung ku. Takut kalau-kalau failed atau dapat major correction. Mimpi buruk setiap mahasiswa PhD. Alhamdulilah, kedua penguji ku bilang: Great Job, Well Done! aku dinyatakan lulus PhD dengan minor correction. Hati ku girang bukan kepalang. Aku langsung berlari ke ruang ndoro dosen pembimbingku, yang kebetulan pintunya sedang terbuka sedikit. Ku ceritakan bahwa aku lulus. Ndoro dosen pun mengucapkan Congratulation, sambil mengacungkan dua jari jempolnya kepada ku. Aku sekedar mengucapkan terima kasih.

Segera aku kembali ke office ku, menggelar sajadah, melanjutkan sholat ashar yang sempat terputus. Usai sholat ashar langsung ku telpon emak ku di kampung. Mengucapkan terima kasih atas doa-doa yang telah lama dan selalu beliau panjatkan untuk ku. Selepas itu, aku segera keluar gedung kuliah ku. Berjalan setengah berlari dibawah hujan gerimis sore yang tak ku hiraukan, sambil menggenggam erat binder jumbo berwarna merah. Kembali ke rumah ku. Kubawa kabar bahagia untuk istri, Alisa, dan Ilyas. Sungguh, sore itu adalah sore dengan hujan gerimis terindah dalam hidupku.

Alhamdulilah Ya Allah. Ketakutan-ketakutan ku selama ini hilang sudah. Perjalanan perjuangan panjang PhD life penuh luka dan liku, selama 4 tahun penuh di kampus ini terbayar sudah rasanya. Tidak ada prestasi yang membanggakan sebernanya dari perjalanan PhD ku ini sebenarnya. Jangan tanya kualitasi disertasi ku seperti apa. Tetapi setidaknya, kelak aku bisa bercerita ke anak cucuku, aku tidak pernah berhenti untuk menyerah seberat apa pun tantangan dan seperih apa pun luka dari perjuangan ini.

Dan pada akhirnya, aku pun bisa meraihnya. Akan segera kutinggalkan Sekolah Ilmu Komputer Universitas Nottingham ini dengan akhir yang baik, husnul khatimah! Terima kasih teman-teman atas doa-doa dan supportnya. Khususon buat Mas Udin, yang dengan tulus hati menemani ku berjalan dari rumah hingga masuk ruang ujian, menemani ku latihan sebentar sebelum penguji datang, dan menungguiku di luar ruang ujian selama aku ujian. Jazakallah mas!

Buat teman-teman yang masih sedang berjuang ! Sabar, sabar, dan sabar saja pesan ku! Terus berjalan, jangan mudah mutung di tengah jalan, seberat apa pun cobaanya! Bittaufiq wannajah, kawan!

Alhamdulilah ya Allah! Bimbing diriku, dengan sedikit tambahan ilmu yang kau titipkan kepada ku, bisa manfaat dan barokah untuk kebaikan.

 

 

Advertisements