Tag Archives: Universitas Nottingham

Tips Menulis Personal Statement Untuk Aplikasi Universitas di Luar Negeri

2013-09-08_1378667293

Ilustrasi: Universitas Nottingham, UK

Buat teman-teman yang berencana kuliah di luar negeri, pastinya ingin diterima di salah satu kampus terbaik di dunia kan ya. Di Oxford, Cambridge, MIT, Harvard, atau Nottingham  :p? Nah, pastinya kampus-kampus terbaik tersebut, juga sangat selektif dalam memilih calon mahasiswanya.

Selain prestasi akademik yang bagus yang dibuktikan dengan nilai IPK atau raport di jenjang pendidikan sebelumnya, salah satu faktor penting yang menjadi pertimbangan diterima tidaknya adalah Personal Statement. Persyaratan membuat personal statement ini sepertinya tidak lazim di Indonesia, tetapi menjadi persyaratan standard aplikasi di Universitas di luar negeri, di Eropa khususnya, lebih khusus lagi di Inggris.

Intinya, personal statement ini adalah sebuah esai yang harus sampean tulis untuk menjelaskan kenapa sampean  ingin mendaftar di universitas dan jurusan yang dituju, dan seberapa pantas sampean layak diterima di universitas dan jurusan tersebut.

Hal paling mudah dilakukan adalah dengan bertanya kepada mbah Google. Mencari contoh personal statement yang bagus yang bertebaran di jagad internet. Di modifikasi sedikit ala kadarnya, selesai.

Untuk aplikasi di universitas luar negeri yang biasa-biasa saja, barang kali cara di atas akan berhasil. Tetapi, janganlah berharap banyak untuk berhasil diterima di Universitas selevel Oxford dan Cambridge.

Dimana letak masalahnya? Dengan cara ala kadarnya di atas hanya akan menghasilkan personal statement dengan kalimat-kalimat klise, yang sudah sangat umum digunakan oleh jutaan calon mahasiswa lainya. Sementara, Universitas pastinya mencari mahasiswa yang stand out, yang menonjol, yang khususon, yang unik dibanding calon mahasiswa lainya.

Pernyataan seperti: saya punya motivasi yang tinggi, mimpi, passion di bidang tertentu adalah contoh kalimat-kalimat klise tersebut. Nah, lalu bagaimana seharusnya?

Sesuai dengan namanya, personal, personal statement ini seharusnya juga sangat pribadi sekali. Ditulis dengan hati sampean masing-masing. Hanya tulisan yang ditulis dengan sepenuh hati, yang bisa menyentuh hati orang lain.

Ceritakanlah, hal-hal, pengalaman-pengalaman yang pastinya hanya terjadi dalam hidup sampean sendiri . Misal, ceritakan bagaimana perjuangan mendapatkan score IELTS yang bagus: harus berpuasa, nabung uang berbulan-bulan demi bisa ikut test ielts, berkali-kali gagal mendapatkan nilai yang memenuhi persyaratan, tapi tak pernah pupus semangat. Atau berkali-kali ditolak aplikasi di Universitas luar negeri, tetapi tetap yakin pasti diterima di universitas yang tepat dan terbaik. Dan hal-hal pengalaman pribadi lainya.

Jadi intinya, boleh-boleh saja mengambil contoh dari internet. Tapi, please take your time, take it seriously, untuk menjadikanya very-very personal. Jangan dirubah hanya ala kadarnya saja. Lebih detail mengenai tips membuat personal statement ini, bisa dilihat disini. Demikian, semoga bermanfaat, dan sukses aplikasi di Universitas luar negeri impian sampean ya.

Baca Juga :

  1. Tips Mempersiapkan Beasiswa Ke Luar Negeri

 


Cerita Pelajar Negeri Tetangga di Tanah Sebrang

… masa depan sebuah bangsa, bisa dilihat dari bagaimana bangsa tersebut mempersiapkan generasi mudanya. Terlepas dari takdir Tuhan yang Maha Kuasa, rasanya memang benar adanya karena anak-manak muda saat inilah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Di pundak-pundak merekalah, nasib bangsa ini dibebankan. Salah satu ikhtiar mempersiapkan pemimpin masa depan itu adalah dengan investasi pendidikan yang terbaik untuk para generasi muda, seperti yang telah dan sedang dilakukan oleh negara tetangga kita, Malaysia, bangsa serumpun dengan kita, yang telah berpuluh-puluh tahun mengirim ratusan ribu anak mudanya untuk belajar di kampus-kampus terbaik di dunia. Bagaimana dengan bangsa kita?

mhs_malay

Ilustrasi: Mahasiwa Malay di UoN (Coursey Akmal)

Suatu pagi di musim gugur itu, aku lari tergopoh-gopoh binti ngos-ngosan dari rumah kos-kosan ku di wilayah Dunkirk ke Bus Stop (baca: stopan bis rek) Art Centre, di University Park Campus, Universitas Nottingham. Beruntung, ketika aku sampai hopper bus – bus gratis jurusan University Park Campus – Jubilee Campus PP, tepat kurang beberapa detik berangkat. Artinya, aku tidak terlambat untuk ikut seat in jadwal kuliah paling pagi, pukul 09.00 pagi. Bukan kuliah serius sih, karena sebagai mahasiswa PhD, aku tidak ada kwajiban untuk mengikuti kuliah, hanya datang, duduk, dan mendengarkan saja (istilah englishnya: seat in ).

Karena menjelang jadwal kuliah dimulai, bus pagi yang datang setiap 15 menit sekali itu, sangat penuh sesak. Aku pun hanya bisa berdiri terhimpit berpegangan tiang besi di tengah bus, tak kebagian tempat duduk. Tidak hanya penuh sesak, bus ini juga crowded (baca: umyek dewe, rek ) sekali seperti suasana di pasar malam tiap hari rabu di taman maju, bandar U, dekat kampus UTP Malaysia. Bukanya kenapa-kenapa, tapi karena memang 90% penumpang bus pagi itu adalah mahasiswi-mahasiswi Malaysia yang sedang asyik ngobrol dengan bahasa nasional mereka. Sebagai pelajar yang pernah tinggal di negara jiran (baca: tetangga, rek ! ), saya sangat familiar dengan bahasa mereka.

Melihat mbak-mbak Malaysia yang berjilbab dan berbaju kurung menenteng buku-buku tebal itu pikiran dan perasaanku campur aduk menemani diamku sambil sesekali menguatkan genggaman tanganku pada tiang besi ketika bus menyusuri jalan berliku.

Ada perasaan iri, kenapa aku dulu ketika seusia mereka tidak memiliki kesempatan yang sama, menikmati pendidikan berkualitas gratis di kampus-kampus terbaik dunia. Iya, mereka adalah diantara tidak kurang 400 mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di berbagai fakultas, termasuk fakultas kodekteran di Universitas Nottingham ini. Mereka adalah diantara ribuan mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di kampus-kampus terbaik di Inggris. Mereka adalah diantara puluhan ribu mahasiswa Malaysia yang sedang disekolahkan oleh kerajaan mereka di kampus-kampus terbaik di dunia, di Eropa, US, Australia dan belahan dunia lainya. Mereka sebagian besar (90%) adalah mahasiswa  level undergraduate (S1), dengan beasiswa kerajaan Malaysia. Beasiswa yang kata mereka diprioritaskan untuk warga pribumi Malaysia, orang Melayu, bukan orang keturunan Cina atau pun India , yang merupakan komposisi terbesar kedua dan ketiga di Malaysia. Sedangkan mahasiswa dari Indonesia di kampus ini hanya sekitar 40-an mahasiswa, sebagian besar mahasiswa S1 keturunan Tionghoa dari Jakarta dengan biaya dari orang tua mereka sendiri, dan segelintir orang saja mahasiswa master dan PhD dengan beasiswa dari berbagai sponsor. Selalu ada tanda tanya sangat besar sekali, Indonesia yang sumber daya alam nya jauh lebih melimpah dari Malaysia itu, belum mampu menyekolahkan anak-anak mudanya ke luar negeri. Jangankan menikmati pendidikan tinggi di luar negeri, sekedar pendidikan dasar yang layak di negeri sendiri saja masih menjadi barang sangat mewah buat sebagian besar rakyat kecil di negeri kami.

Ada perasaan rindu pada masa lalu, di abad pertengahan. Ketika umat Islam berada di jaman keemasan. Ketika pelajar-pelajar Eropa masih berusaha keluar dari jaman kegelapan, dark ages, berduyun-duyun pergi ke kota Baghdad, di Irak, ke kota Cordova di Spanyol, belajar pada ilmuwan-ilmuwan muslim pada berbagai bidang ilmu yang sangat disegani pada jaman nya. Tetapi, sekarang keadaan terbalik. Aku hanya bisa menerka-nerka rahasia Tuhan dibalik mempergilirkan kejayaan dari bangsa satu ke bangsa lain, seiring bergulirnya abad demi abad perjalanan waktu. Aku hanya berani memendam harapan, suatu saat umat Islam akan memimpin puncak peradaban dunia kembali.

Ada perasaan bangga, melihat saudara sesama muslim yang begitu terlihat begitu bersemangat menuntut ilmu, meninggalkan kehangatan dekapan keluarga, untuk merantau ke negeri jauh. luru ilmu (baca: mencari ilmu) untuk kemudian kembali membangun negeri.

Ada perasaan penuh harap, suatu saat nanti, anak cucu ku bisa menjadi seperti mereka. Bisa mencicipi nikmatnya pendidikan berkualitas di kampus-kampus terbaik di dunia. Untuk kemudian membangun negeri menjadi lebih baik. Yah, hanya sebuah harap, suatu saat nanti …


Hidup, Mimpi, dan Angan-Angan

uon_lake
*) University Park, Universitas Nottingham

Dahulu, aku pernah berangan, untuk disini bersamamu melukis seribu kenangan.
Membingkai mimpi, saat datangnya keajaiban hidup sedang kutunggui.
Menatap biru langit mu nan indah, dipeluk awan, di cakrawala mu yang luas tanpa batas.
Menelanjangi hijau daun-daun pepohonanmu yang rimbun.
Menciumi wangi dari setiap kelopak bunga mu yang berwarna-warni.
Memerciki muka ku dengan air mu yang jernih.

Mengagumi bangunan mu yang kokoh nan menawan.
Menyapa orang-orang mu yang ramah nan santun.
Menapaki setiap jengkal jalan-jalan mu.
Menebar benih-benih harapan.
Dan di ujung menara itu, akhirnya himmah ku titipkan.

uon_lake_2

Dan perlahan mimpi-mimpi pun jadi kenyataan,
bersama datangnya kesadaran betapa ajaibnya hidup ini.

Sekarang, aku pun berangan
Segera meninggalkan mu atas keberhasilan
Bukan kegagalan, bukan pula keputusasaan
Untuk membentang deretan mimpi-mimpi yang lain.

Argh, beginikah hidup ini?
Bersandar pada angan ke angan yang lain.
Berlabuh dari mimpi ke mimpi yang lain.
Entahlah, sampai  kapan dia akan menepi?

Akan kah, dia akan tertambat pada pelabuhan ketenagan hati?
Bukankah hidup adalah tentang bagaimana menikmati? bukan mencari dan terus mencari?

Nottingham, 1 Mei 2014 (Yang Sudah Pengen Lulus Kuliah PhD)


belajar kearifan hidup dari perempuan berkaki palsu

disable
*)Ilustrasi

Pelajaran kearifan hidup bisa datang dimana, kapan dan dari siapa saja. Seperti hari ini, hikmah kearifan hidup datang bersama dua perempuan muda luar biasa yang secara tidak sengaja menurut nalar saya-dan tentu saja sangat disengaja oleh takdir Tuhan-yang dipertemukan kepada ku.

Hari ini langit begitu sumringah, membiru tanpa segumpal awal pun menghalangi sinar mentari pagi yang menerobos di antara daun-daun maple yang menguning dan mulai berguguran di pertengahan musim gugur di Eropa ini. Mentari yang senantiasa setia menjalankan titah takdir Tuhan, agar kehidupan di atas bumi ini tetap berlangsung. Menghangatkan dan memberi energi kehidupan. Walaupun demikian, udara masih terasa sangat dingin, 4 derajat celcius, yang membuat aku masih merasa seperti di dalam kulkas.

Pagi ini, dari rumah aku langsung menuju perpustakaan Sir Henry & Djanogly Learning Resource Centre di Jubilee Campus, Universitas Nottingham. Seperti biasa aku berjalan menyusuri jalur khusus pejalan kaki di pinggiran danau buatan yang indah itu. Daun-daun pepohonon yang mulai menguning dan memerah, sekawanan burung camar, angsa, dan bebek seolah mengabarkan betapa romantisnya suasana musim gugur. Ah, tapi sayang hati ku terlalu penuh untuk bisa merasakan romantisme itu, karena seseorang yang ku sebut sayang sedang mengisi ruang hati ku yang sedang sunyi sepi.


*) Sir Henry & Djanogly Learning Resource Centre, Jubilee Campus, Universitas Nottingham

Dalam kesunyian hati dan kekalutan pikiran karena lara PhD itu, aku berdiskusi dengan pikiran ku sendiri dan pura-pura berdialog dengan Tuhan. Tuhan, seandainya pada waktu itu aku  bisa memilih, ingin rasanya aku memilih dilahirkan di dunia ini sebagai adik kandung Agus Herimurti Yudoyono. Jika demikian, pastinya semua atribut kesempurnaan hidup ada pada diriku. Ganteng dan gagah, pintar dan cerdas, kaya raya, terhormat, punya kedudukan, populer, punya garis keturunan keluarga dan jaringan orang-orang hebat dan sebagainya dan sebagainya. Dengan segala atribut kesempurnaan itu, tentunya semua capaian kesuksesan hidup baik untuk sendiri maupun orang banyak akan sangat mudah diraih. Ibarat kata, kalau meminjam istilahnya mbak Yenny Wahid, semua privilege; atau istilah sederhana Bapak ku ondo (tangga, red)  untuk meraih kesuksesan hidup sudah ada di hadapan mata. Tinggal mau menggunakan atau tidak.

Itu seandainya kalau bisa aku memilih, hanya saja sayangnya sudah menjadi kenyataan hidup bahwa aku ini bukan siapa-siapa dan jauh dari semua atribut kesempurnaan hidup itu. Ganteng dan gagah endak, kaya juga endak, punya keturunan keluarga dan jaringan orang hebat apa lagi? muke lu jauh …. haha. Pokoknya, Jauh banget deh. Katanya Bapak ku dulu suatu waktu, pada saat aku masih SMA,  begini: Koe ki ora nduwe opo-opo, ibarate arep munggah nang nduwur, tapi awak mu ki ora nduwe ondo. Yen tetep pengen munggah nang nduwur, koe kudu wani rekoso (Kamu ini ndak punya apa-apa, perumpamaan nya, kamu ini ingin naik ke atas, tapi kamu ini ndak punya tangga. Kalau kamu ingin tetap naik ke atas, kamu harus berani menderita). 

Begitulah, sampai hidup sudah sejauh ini, masih saja sering kali aku masih belum bisa memahami arti keadilan Tuhan yang maha adil dan bijaksana. Masih saja, aku sering mengeluh, dan terhanyut dalam pusaran “sawang-sinawange urip”  (rumput tetangga lebih hijau). Yang sering kali membuat aku sering kali tidak semangat dalam menjalani hidup. Membiarkan hidup mengalir seperti air, dan membiarkan apa yang akan terjadi terjadilah begitu adanya. Yang sering kali membuat raut muka ini, seperti langit yang diselimuti awan. Kemudian hati kecilku bermunajat: Tuhan, ajari aku memahami kemahaadilan dan kebijaksanaan Mu.

Lamunan ku tiba-tiba buyar, dan hati sepi ku tiba-tiba berderit-derit. Ketika dari kejauhan, ku lihat seorang perempuan muda berambut pirang sedang berjalan sendirian menuju arah yang berlawanan dengan ku. Dia berjalan dengan sangat tertatih, karena keadaan dua kakinya yang tidak sempurna. Semakin mendekat pada ku, aku semakin tahu kalau perempuan muda itu memang sejak lahir terlahir dalam keadaan dua kaki yang cacat. Dia tersenyum ramah pada ku, dan sorot matanya begitu tajam memancarkan energi semangat hidup yang luar biasa. Sangking tajamnya, seolah sinar mata itu menerobos kedua belah mata ku, lalu menghujam dalam hati ku dan meninggalkan pesan: lihatlah, kaki ku mungkin tak sesempurna kaki mu, tapi aku tidak pernah mengeluh.


*)Gedung Amenities Building, Jubilee Campus, Universitas Nottingham.

Tidak berhenti disitu,  menjelang waktu Maghrib di gedung Amenities Building lantai dua, Tuhan mempertemukan aku kembali dengan sosok perempuan luar biasa. Tepat di hadapan ku, seorang perempuan muda berambut hitam kelam, sedang tertatih keluar dari scooter listrik yang biasa dipakai jalan-jalan orang tua yang sudah lanjut usia. Di depan sebuah ruang kelas, dia berusaha keluar dari scooter listriknya, dan mencoba berdiri dengan kedua kruk penyangga tubuhnya dan berjalan memasuki pintu ruang kelas itu. Aku begitu terperanjat, ketika aku baru menyadari kalau kedua kaki  nya itu berupa kaki palsu dari besi. Seorang dosen yang menyadari kehadiran perempuan malang itu, keluar dari ruang kelas dan mencoba membantu nya : are you all right ? Perempuan itu dengan nada tegas dan penuh semangat hidup, seolah menolak untuk diberi bantuan menjawab: Yes, I am all right !

Yah begitulah hidup ini, terkadang kita terlalu sibuk untuk mengandai-andaikan apa yang tidak ada di hadapan kita. Sementara, apa yang sudah ada digenggaman kita sering kali tidak kita syukuri. Falsafah hidup orang jawa mengajarkan bahwa hidup ini hanya “wang sinawang”. Kita sering kali menganggap bahwa kehidupan orang lain begitu sempurna, dan kita begitu menginginkan kehidupan orang lain itu. Padahal, belum tentu kehidupan orang lain itu sesempurna yang kita bayangkan, dan juga belum tentu baik buat kita. Dua orang perempuan muda luar biasa hari ini kembali mengingatkan kepada ku bahwa seperti apa pun kehidupan kita adalah sesuatu yang harus disyukuri, dan terlalu indah untuk disesalkan. Dan bahwa, apa yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik sesuai dengan ukuran takaran hidup kita masing-masing. Mengingatkan ku kembali untuk selalu belajar bersyukur dan selalu melakukan yang terbaik sebagai tanda kesyukuran itu.


jadi asisten dosen dengan kemampuan pas-pasan :D

… dalam hidup kadang kita perlu memaksakan diri, meskipun sebenarnya kita masih merasa jauh dari ideal. Dengan memaksakan diri kita akan dihadapkan pada situasi “the show must go on”, yang akan memaksa kita bisa ndak bisa harus bisa, kita bisa menyebutnya dengan “the power of kepepet”. dalam situasi tersebut, kita akan dengan terpaksa mengeluarkan kemampuan kita yang tidak akan pernah muncul jika kita tidak memaksakan diri .

Ahmad Muklason

Selain ingin menjadi mahasiswa Phd yang baik dan rajin menabung :p, sebelum datang ke Inggris saya berangan-angan pengen sekali menjadi Teaching Assistant, tentunya jika ada kesempatan. Alasanya sangat klasik, yaitu ingin mengenal langsung sistem pendidikan di  Inggris, khususnya sistem pendidikan tinggi di negeri ini yang tentu sedikit banyak berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia. Tetapi sebenarnya alasan jujurnya adalah kepengen dapet duit tambahan, dengan cara yang sangat  terhormat  dan terpuji :D.

Semester 1 (autumn 2012)

Ternyata, kesempatan itu datang begitu cepat. Dua minggu pertama berada di Sekolah Ilmu Komputer, Universitas Nottingham, saya dapet email dari dosen pembimbing. Intinya dia cerita, kalau beliau saat ini memiliki mahasiswa S1 banyak sekali di mata kuliah Perancangan dan Analisa Algoritma & Struktur Data, dan dia menanyakan apakah saya bersedia menjadi asisten beliau untuk Lab. Gila, dengar nama mata kuliah itu saja saya sudah keder. Bukan hanya karena saya belum pernah mengajar mata kuliah itu, tetapi mengambil mata kuliah itu saja belum pernah. Di bangku S1 dulu, karena jurusan saya adalah sistem informasi bukan teknik informatika/ilmu komputer, kami hanya diajarkan algoritma dan struktur data saja, tidak sampai merancang dan menganalisa.  Apalagi, mata kuliah itu sudah terkenal sebagai mata kuliah paling sulit di Jurusan ilmu komputer /Teknik informatika. Keberatan yang kedua adalah, to be honest, ” my English is so terrible”. Emang sih, score IELTS diatas kertas saya ndak jelek-jelek banget (7.0), tetapi “the fact” bahasa inggris saya mah sangat memalukan. Belum lagi, membayangkan “dealing with” mahasiswa-mahasiswa lokal dengan bahasa inggris aksen Britis nya yang sangat kental, yang pada saat itu masih terdengar sangat aneh di telinga saya di awal-awal kedatangan saya di Inggris. Maka dengan segala pertimbangan itu, dengan sangat halus, akhirnya saya tolak tawaran itu. Walaupun itu sebenarnya kesempatan emas yang saya harapkan sebelumnya, saya tentunya tidak mau dong mempertontonkan kebodohan diri di depan umum, apa kata dunia persilatan? haha…

Tetapi, akhirnya insiden itu pun terjadi, 2 jam menjelang praktikum di Lab, tiba-tiba dosen pembimbing datang ke kantor di lab saya. Yang intinya adalah memaksa saya untuk menjadi aisten dia di Lab. Dia bilang,  “it only takes two hours of your time” . Akhirnya, dia memperkenalkan saya bersama 2 orang asisten lainya di hadapan ratusan mahasiswanya. Dag dig dug hati saya bercampur dengan perasaan bodoh yang menghantui saat melihat ratusan mahasiswa dari berbagai belahan dunia itu, apalagi konon katanya mahasiswa disini sangat berbeda dengan mahasiswa Indonesia yang lugu, baik dan tidak sombong. Mahasiswa di Inggris, terkenal sangat kritis dan pintar.

Praktikum di Lab disini lebih dikenal dengan istilah “course work”. Mahasiswa diberi sebuah permasalah tertulis dengan beberapa pertanyaan yang open-ended, yang sengaja dibuat multi tafsir. Kemudian, mahasiswa diberi kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara mandiri berdasarkan interprestasi masing-masing. Selama dua jam setiap minggunya, di sebuah lab , mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi dengan dosen pengampu dan beberapa asisten yang disediakan. Tentu saja, tidak untuk menanyakan jawaban yang benar dari permasalahan yang diberikan. Karena jawaban benar dari permasalahan itu jamak, tidak tunggal. Untuk setiap course work, dimana setiap mata kuliah biasanya memiliki 2-6 course work, mahasiswa diberi waktu antara 1-3 mingu. Di akhir due date, mahasiswa diwajibkan mengumpulkan sebuah report dari course work tersebut secara Individu. Penilaian selnjutnya akan berdasarkan report ini.

Hari pertama course work di lab. mata kuliah ini berhasil untuk tidak memalukan saya. Barangkali karena saya kelihatan bodoh, saya dapat mahasiswa yang menanyakan pertanyaan yang tidak sulit hehe. Ternyata ada saja mahasiswa yang bahkan untuk menulis sebuah program Java saja masih kebingungan, padahal mata kuliah ini untuk mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pemrograman sebelumnya. Biasanya yang menanyakan pertanyaan sederhana ini adalah cewek-cewek kulit item (bukan maksud rasis). Minggu kedua, ketiga dan seterusnya ketika permasalahan coursework semakin sulit, alhamdulilah ternyata juga relatif aman dari insiden memalukan saya. Tetapi pernah satu, dua waktu, ada mahasiswa  biasanya dari India dan Cina, yang sangat kritis dan sangat cerdas, menanyakan sesuatu yang benar-benar tidak bisa aku jawab at first glance. Saya, benar-benar ndak bisa menjawab pertanyaan mahasiswa tersebut pada saat pertanyaan pertanyaan tersebut ditanyakan. Untungnya secara reflek, pada saat otak saya nge-blank, mulut saya berkata: “Well, let me see your code ….” . Dan sejurus kemudian, dengan melihat code-code program yang ditulis mahasiswa cerdas dan kritis tersebut, gila…. karena yang nulis mahasiwa cerdas, baris-baris kode programnya very-very complicated. Saya terdiam untuk beberapa saat, sambil berpura-pura berfikir. Oh God, ndak tau dari mana datangnya wangsit saya, akhirnya aku bisa menjawab pertanyaan itu. Dan mahasiswa tersebut puas (atau mungkin terpaksa puas kali ya..), dan bilang “thank you very much”.

Dan akhirnya satu semester pun berakhir.

Semester 2 (Spring 2013)

Satu semester berlalu begitu cepat, kini sudah minggu ketiga semester Spring (Musim Semi) 2013. Alhamdulilah, saya diberi kesempatan untuk menjadi asisten dosen lagi untuk mata kuliah yang berbeda, Sistem Basis Data. Tetapi, ini ceritanya sangat berbeda dengan yang pertama. Kalau yang pertama, saya ditunjuk langsung sama supervisor, kalau yang ini pakek tes segala.

Ceritanya, satu bulan sebelum Semster 2 dimulai, ada satu orang dosen posting di Milis phd student di sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham. Dia mencari tiga asisten dosen untuk mata kuliah Sistem basis Data. syaratnya adalah mahir merancang basis data, familiar dengan DBMS dan bahasa pemrgraman PHP.  Wah menarik sekali saya pikir, karena ini mata kuliah lebih aplikatif ketimbang konseptual. Apalagi terbayang dengan duit £20.60 per minggu nya (padahal belanja mingguan buat makan saya cuman £15 :p), mata saya langsung hijau. Saya langsung email itu dosen dengan penuh harap. Ternyata dua hari kemudian dapat email balasan, yang bilang bahwa dia tidak menyangka yang apply banyak sekali. Oleh karena itu, kemudian dia memberi persyaratan satu lagi, ada ijin tertulis dari dosen pembimbing masing-masing dan diminta untuk datang ke ruangan dia untuk melaksanakan tes. Yah, nyaliku langsung ciut, ditambah lagi pakek ribet minta ijin tertulis dosen pembimbing, saya langsung membatalkan niat saya untuk lanjut apply. Belum rejekinya mungkin saya pikir. Eh, ternyata beberapa hari kemudian saya dapat email dari dosen tersebut yang isinya: jika kamu masih tertarik untuk jadi asisten dan mengasumsikan bahwa dosen pembimbing kamu bahagia jika kamu jadi asisten saya, silahkan datang sore ini di ruangan saya.

Akhirnya, saya datang juga ke ruangan nya. Dia memberi secarik kertas, isinya adalah 3 buah tabel dan satu buah report. Pertanyaanya adalah tuliskan SQL untuk mengenerate report tersebut dan terangkan ke Mahasiswa semester 2 dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mereka.

Ku pandang-pandang secarik kertas itu. Kelihatan simple, dan stright forward ternyata  sangat tricky , kurang ajar sekali aku pikir. Aku oret-oret kertas itu dengan kode-kode SQL. Saya pakek nested SQL, tapi saya yakin itu salah. Akhirnya aku coret lagi SQL itu, dan otak saya masih juga blank .  Aku terdiam beberapa saat. Sampek si Dosen itu bilang, ” are you OK?”. Akhirnya, saya pakai jurus ngawur, dengan baris SQL yang sangat sederhana, tidak pakek nested select * 😀 dan aku kasihkan ke Dosen tersebut. Tidak ku sangka, setelah dia melihat sebentar dia bilang begini : ” wo… ini jawaban terbaik dari kandidat2 sebelumnya, ini hampir sempurna. Terima kasih”. Dan lucunya, cuman begitu saja, saya tidak disuruh menerangkan sama sekali jawaban saya. Kemudian saya dipersilahkan meninggalkan ruanganya sambil berpesan bahwa 2 hari baru akan diumumkan hasilnya.

Dua hari berlalu, saya tidak dapat email dari dosen itu. Yah ini artinya sepertinya saya tidak diterima. Nothing to loose sama sekali buat saya. Eh, ndak tahunya, hari berikutnya saya dapat email kalau saya bersama dua teman Phd student lainya yang diterima. Alhamdulilah, benar-benar tidak disangka-sangka sebelumya.

Well, mudah-mudahan semester ini saya bisa menjadi asisten yang lebih baik dari sebelumnya. Dan tentunya, akan menjadi pengalaman dan kesempatan yang sangat berharga nantinya. Sebenarnya, waktu jaman S2,  di Universitas Teknologi Petronas, Malaysia. saya sebenarnya sudah terbiasa jadi asisten dosen, karena skim beasiswa saya mewajibkan untuk itu. Tetapi tentunya pengalaman jadi asisten dosen di salah satu 75 kampus terbaik di dunia ini akan sangat berbeda *hehe…*. Intinya, dari cerita saya ini adalah jangan takut memaksa diri kita di atas hal-hal yang seolah di atas kemampuan kita, beyonds the limit. Insya Allah, justru jepitan keterpaksaan itu akan mendorong kita untuk terus maju *hahay lebay*. Terima kasih Tuhan atas kesempatan ini.