Bila Ku Ceritakan*)

” … emangnya lu saja yang punya masalah? ” – a random thought

 

aku

Aku

 

Bila ku ceritakan sedihku pada langit,
Langit pasti akan mendadak mendung dan menitikkan hujan.

Bila ku ceritakan nasib buruk ku pada matahari,
Matahari pasti meredupkan sinarnya.

Bila ku ceritakan duka lara ku pada bulan,
Bulan pasti bersembunyi di balik awan.

Bila ku ceritakan kegelisahan ku pada bintang,
Bintang pasti tak mau lagi menari.

Bila ku ceritakan nestapa ku pada burung,
Burung pasti tak mau lagi bernyanyi.

Bila ku ceritakan kegagalan ku pada gunung,
Gunung pasti menyebulkan wedus gembel.

Bila ku ceritakan kemalasan ku pada sungai.
Sungai pasti mengalirkan lahar panas.

Bila ku ceritakan umpatan-umpatan kotor dari mulut ku kepada angin,
Angin pasti mengundang puting beliung.

Bila ku ceritakan iri, dengki, dendam, kesumat hati ku kepada senja,
Senja pasti segera memanggil hujan dan halilintar.

Bila ku ceritakan dosa-dosa ku pada keheningan malam,
Malam pasti menabuh lolongan anjing hutan.

Hanya saja,
Selalu kuceritakan kabar baik saja kepada mu,
Agar kau berfikir, segala keberuntungan hidup berpihak kepada ku.

Hanya saja,
Selalu kupamerkan keberhasilan-keberhasilan ku saja kepada mu,
Agar kau berfikir, aku adalah makhluk Tuhan yang paling hebat.

Hanya saja,
Selalu kupajangkan foto-foto penuh tawa dan senyum bahagia saja kepada mu,
Agar kau berfikir, aku adalah orang yang paling berbahagia di dunia.

Hanya saja,
Selalu kutuliskan kata-kaja toyibah saja kepada mu,
Agar kau berfikir, aku adalah hamba Tuhan yang paling dekat kepada Nya.

Hanya saja,
Selalu kuucapkan do’a-do’a kebaikan saja kepada mu,
Agar kau berfikir, aku adalah sahabat baik yang paling setia kepada mu.

Hanya saja,
Selalu kubagikan inspirasi semangat hidup saja kepada mu,
Agar aku berfikir, aku adalah pribadi hebat yang luar biasa.

Padahal,
Hidup ku pun tak sepi dari linangan air mata.
Kegagalan, keterpurukan, kekecewaan, kehinaan, dan kerapuhan adalah teman-teman
dekat ku juga.

Padahal,
Bila kuceritakan hidup ku yang sebenarnya kepada mu,
Kamu pasti akan lebih menghargai kehidupan mu sendiri.

Terkadang,
Aku berpura-pura menertawakan kebodohan atau kekurangan ku sendiri,
Padahal aku hanya ingin agar kau berfikir akulah sosok yang paling rendah hati,
untuk menyembunyikan ketinggian hati ku.

Saat ku tampakkan topeng muka ku kepada mu,
Pada saat yang sama, Aku sembunyikan rapat-rapat pantat ku.

Argh, apalah aku?

Nottingham, 20/05/2016

*)Terinspirasi Puisi ‘Bila Ku Titipkan’ oleh Gus Mus

Dibalik Topeng Kehidupan Kita

dibalik_topeng_kita_edit

Ilustrasi: Tari Topeng, Nottingham 2014

Kawan, di jaman wis akhir seperti saat sekarang ini semakin sulit membedakan antara orang yang baik dan pura-pura baik. Di jaman ketika angka dan rupa dipuja, tidak mudah bagi kita untuk bisa menghargai apa dibalik yang tampak dan yang ada label harganya itu. Kita pun, sering terjebak dalam budaya kepura-puraan, memakai topeng kehidupan untuk menyembunyikan wajah asli kita. Bahkan kita pun berani membohongi nurani diri sendiri, asalkan mendapatkan rupa dan harga yang lebih di hadapan wajah-wajah manusia di sekitar kita.

Karenanya, janganlah melihat kepribadian seseorang ketika berada di tengah-tengah pesta. Banyak topeng-topeng kehidupan disana. Jika kita ingin melihat kepribadian asli seseorang, lihatlah dia ketika dirundung masalah yang pelik, duka yang dalam dan keadaan yang tidak menyenangkan. Lihatlah pribadi ‘telanjang’ sahabat mu, saat kau bersama-sama kelelahan mendaki gunung, dengan medan yang berat, bekal terbatas, dan perjalanan masih panjang.

Hidup memang sering kali hanya sawang sinawang. Tetapi tak bijak rasanya, jika hidup kita didekte oleh apa yang dilihat orang pada diri kita. Bukankah, hidup kita ini kita sendiri yang merasakan dengan hati kita. Tak perlu risau, jika orang lain terlihat lebih dari kita. Percayalah hidup mereka pun tak seindah yang mereka pamerkan di facebook, instagram, twitter. Percayalah, kisah hidup mereka tak seindah seperti yang mereka ceritakan di novel, blog, atau cerita perjalanan yang mereka tulis. Seringkali hidup ini tak seindah yang diceritakan, indah diceritakan tapi berat dilakoni.

Kawan, sampai kapan kita akan terus bersembunyi di balik topeng kehidupan kita? Kapan, kita akan berani membuka topeng-topeng kehidupan kita? Kapan kita berani benar-benar ‘telanjang’, Kembali menjadi diri kita yang sebenarnya, apa adanya. Karena Tuhan hanya akan melihat apa yang ada pada hati-hati kita.

Kita dan Topeng Kehidupan Kita

Tapi buka dulu topengmu. Buka dulu topengmu. Biar ku lihat warnamu. Kan kulihat warnamu – Ariel Peterpan

topeng_didi_nini_towok

Didi Nini Towok (Source: Flickr.com /Jan M.C. van der Meer )

Saya mungkin adalah sedikit anak muda (wuih, emang masih muda?) di jaman post-modern ini  yang menikmati seni tari tradisional Indonesia. Di tengah gencarnya serbuan budaya modern dance atau apalah namanya itu (dengan style yang macam-macam itu),  yang digandrungi dan ditiru anak-anak muda jaman sekarang, buat saya hanya seni tradisional Indonesia yang bisa saya nikmati. Buat saya, seni tari bukan sekedar hiburan tanpa makna. Lebih dari sekedar hiburan, bila kita mau melihat lebih dekat, sebnarnya sebuah tarian itu menyampaikan filsafat hidup yang ingin disampaikan oleh koregrafernya.

Satu-satunya penari Indonesia yang saya kenal adalah mas Didi Nini Thowok. Siapa sih yang tidak kenal beliau ini? Penari cross-gender ini barangkali malah lebih terkenal dan dihargai di luar negeri, ketimbang di negerinya sendiri. Sulit rasanya, mencari generasi jaman sekarang yang berani mengabdikan diri hidupnya, sepenuhnya  untuk melestarikan tari-tari tradisional.

Salah satu ciri khas mas Didi adalah koleksi topeng nya yang banyak sekali jumlahnya. Seringkali, dalam tarianya dia memerankan sesorang dengan dua wajah topeng depan dan belakang. Buat saya pribadi, topeng-topeng itu bukan sekedar lucu-lucuan. Memang lucu sih, bahkan sepertinya topeng itu sengaja dibuat agar penonton tertawa dengan ekspresi wajah topeng.

Jika bukan sekedar lucu-lucuan, lalu apa? buat saya yang sok arif dan bijaksana dalam menjalani hidup dan memaknai kehidupan ini, tari topeng itu adalah sindiran buat kita dalam kehidupan sehari-hari. Betapa, sebenarnya secara tidak sadar kita setiap hari memakai topeng kehidupan kita. Tentang bagaimana sikap kita bisa sangat berbeda ketika berada di hadapan Bos dan ketika berada di tengah-tengah kolega kita. Tentang bagaimana sikap kita bisa sangat berbeda ketika di luar rumah dan di dalam rumah. Tentang bagaimana sikap kita yang penuh dengan kepura-puraan ketika di depan orang lain. Tentang bagaimana kita sering berbicara dan bersikap baik di depan, tetapi mengumpat dan menghardik di belakang. Jarang dari kita yang berani bloko suto tampil apa adanya.

Apalagi di jaman yang semuanya dilihat dan dinilai dari bungkus seperti saat ini. Seseorang yang terlihat kaya, belum tentu kaya, karena bisa jadi dia hanya seorang salesman. Seseorang yang terlihat sangat sabar dan baik hati, bisa jadi sebenarnya dia pemarah dan mudah sekali tersinggung. Bisa jadi seseorang terlihat begitu religius, padahal sebenarnya dia sangat Jauh dari Tuhan nya. Begitu pun sebaliknya. Karena ternyata semua hanyalah topeng-topeng yang menyembunyikan sifat asli kita. Jaman sekarang ini, sangat berbahaya bila kita terlalu percaya dengan kesan. Terlalu bodoh, jika kita mudah tertipu oleh kesan.

Tapi, adakalanya kita akan terlihat wajah asli kita. Di saat sendiri , kita akan tahu siapa sebenarnya kita. Di saat menikah dan berumah tangga, kita akan tahu siapa dan seperti apa sebenarnya pasangan kita. Di saat dibenturkan dengan permasalahan yang rumit dan terjepit, kita akan tahu siapa kita dan orang-orang di sekitar kita sebenarnya. Di saat kelelahan dan kehabisan bekal dalam mendaki gunung , kita akan tahu seperti apa sebenarnya teman perjalanan kita.

Semoga kita berani melepas topeng-topeng kehidupan kita !