Dalam Menulis, Disitu Kadang Saya Merasa Ingin Menangis

Seperti kehidupan kita pada umumnya, dalam kehidupan mahasiswa PhD juga ada pasang surut nya. Ada jatuh bangun nya. Jika pasang-surut, dan jatuh-bangun adalah sesuatu yang wajar, tak perlu larut dalam kesedihan ketika kita merasa jatuh. Hanya satu yang perlu kita lakukan: Terus Berjalan – A Random Thought.

buku_tua

ILustrasi : Karya Ilmiah dalam Tulisan Tangan di Museum Of Science and Industry (MOSI), Manchester, UK, 2013

Kawan, Alhamdulilah, pelayaran panjang PhD yang penuh gempuran ombak dan badai ini semakin kian menepi. Kelap kelip lampu mercuar itu semakin jelas terlihat, pertanda dermaga pemberhentian semakin dekat di hadapan. Aku semakin yakin, biidznillah, dengan seijin Allah, bahwa aku akan mampu menggapai tempat bersandar perahu PhD ku ini, sebentar lagi.

Setelah jatuh bangun (eit, jadi ingat lagunya biduan dangdut, Tante Kristina) berjibaku dengan ‘the big problem’ riset, tibalah saya pada kursi pesakitan berikutnya, yaitu menulis. Aih, apa susahnya dengan menulis? Anak kelas 1 SD saja juga bisa nulis mas e !

Sayangnya ini bukan menulis biasa. Tetapi scientific writing yang bikin pening. Selain mulai menulis thesis, ndoro dosen pembimbing saya menyuruh saya menulis paper untuk dipublikasikan di Jurnal internasional, walaupun tidak menjadi persyaratan kelulusan PhD di UK. Kalau tahun pertama, dan tahun kedua cukup menulis paper untuk dipresentasikan di international conference, tahun ketiga ini tidak level lagi.

Dari rencana jurnal yang impact factornya cukup 1, sekarang menjadi jurnal yang impcat faktornya 4. Dari rencana satu paper jurnal, akhirnya beranak menjadi dua paper. Seumur hidup saya, baru kali ini saya mempunyai pengalaman menulis yang begitu lama, melelahkan, dan ‘menyakitkan’. Dulu waktu kuliah master, rasanya menulis itu tidak se ‘menyakitkan’ dan melelahkan seperti ini. Toh, saya bisa menulis 3 international conference paper, dan 1 international journal.

Mungkin, ini adalah resikonya kuliah di english-speaking country. Tetapi sepertinya, menulis ilmiah ini bukan sekedar masalah bahasa. Tetapi masalah bagaimana menuangkan ide dan mengkomunikasikan kontribusi keilmuan dengan baik yang bisa diterima sesuai dengan standard tinggi di dunia akademik.

Untuk menulis satu paper journal yang pertama ini saja, rasanya saya sudah mulai cegeh. Bayangkan, sudah lebih dari tiga bulan berjibaku dengan paper ini,  sudah revisi berkali-kali, dengan komentar-komentar pedes dari dua ndoro dosen pembimbing, dan satu external co-author yang kadang menyakitkan pun. Sampai detik saat ini pun belum kelar-kelar juga. Ketika hasil pekerjaan berminggu-minggu hingga larut malam itu hanya diganjar dengan kata-kata BAD dan RUBBISH dalam tulisan kapital besar-besar berwarna, biuh  rasanya sakitnya dijempol kaki (baca: pengen nginjak-nginjak). Disitu kadang-kadang saya rasanya pengen menangis (tapi tidak pernah bisa :p). Mungkin pengalaman kuliah S1 di kampus perjuangan yang lebih sadis kali ya, yang salah satu dosen terbaik saya suka membanting pintu dan menggebrak mejad di kelas. Sehingga, kalau cuman dikatain begitu ya ndak mempan. Thanks, Pak ! Sudah menyiapkan mental saya sejak saat itu.

bad_rubbish

Komentar Draft Paper saya : BAD dan RUBBISH

Padahal waktu tes IELTS dulu, writing score saya tidak jelek-jelek amat. Masih dapat score 7.0. Tapi sekali lagi menulis ini bukan sekedar masalah bahasa. Tetapi masalah standard yang sangat tinggi. Tahukah sampean sudah berapa kali saya revisi? ping suwidak jaran. Alias sudah berkali-kali yang sampai saya tidak bisa menghitung lagi. Bahkan SVN saya sudah menunjukkan revisi yang ke 394 kali.

update_svn

SVN Revision Yang Ke-394

Saya mungkin memang bukan mahasiswa PhD yang talented apalagi mahasiswa PhD yang briliant. Tetapi, pantang rasanya bagi saya untuk menyerah. Bagi saya, perahu yang mengantar saya datang sudah terbakar. Tidak ada pilihan lain selain harus terus maju kedepan. Saya selalu berusaha percaya bahwa  The most challenging ones, now is the most rewarding ones, later. Dan saya selalu berusaha menikmati semua proses yang kadang terasa menyakitkan dan melelahkan itu. Dan Alhamdulilah, setelah mendapat komentar yang menyakitkan, pada akhirnya, saya pun bisa mendapatkan komentar yang menyejukkan baik dari ndoro dosen pembimbing sendiri, maupun external co-author saya.

good_comment

Komentar Yang Sedikit Menyejukkan

Sekarang ketika saya membaca sebuah paper journal, saya menjadi lebih aware bahwa ada behind the paper story yang tak diceritakan. Bahwa ada proses panjang untuk menghasilkan karya tulis yang berkualiatas. Seperti wine yang berkualitas tinggi membutuhkan waktu yang lama untuk pematangan, begitu juga paper yang berkualitas, butuh waktu untuk pematangan. Saya sekarang menjadi paham, kenapa bahkan di paper pada journal yang high-ranking pun, kadang kala, saya masih menemukan beberapa kesalahan. Bagaimapana pun juga:

Kemampuan untuk mampu menulis dan mengekpresikan pemikiran dengan cara yang jelas adalah langkah penting pada jalan menuju menjadi orang yang berwawasan  luas dan berpendidikan.

Walaupun sulit, intinya, selama kita masih mau berjalan meski harus merayap sekalipun, pasti akan ada terang setelah kegelapan. Tenan, cah luru ilmu sing temenan iku, memang haru wani soro.

Doakan, saya cepat lulus ya Kawan ! Jian tenan, aku wes kangen tenan kambek rujak cingur suroboyo. Kangen sarapan cenil gulo abang. Kangen camilan kerupuk black berry. Buat teman-teman yang sedang berjuang, salam semangat yo!

Tips Menulis Untuk Mahasiswa Semester ‘Tuwek’

Al-istiqomatu khoirun min alfi karomah (Itiqomah itu lebih baik dari seribu karomah) ” – Hadist

tips_menulis

Ilustrasi : Buku di Cambridge University Press Boolshop, Cambridge, UK

Sampean mahasiswa tingkat akhir ingin cepat lulus atau harus cepat lulus tapi belum lulus-lulus, bahkan terancam DO? Well, mungkin tulisan ini ada manfaatnya buat sampean.

Tulisan ini sebenarnya untuk saya sendiri, mahasiswa semester terakhir (semester 6), kandidat Doktor pada bidang Teknologi Informasi, di Sekolah Ilmu Komputer, di sebuah kampus yang cantik di kota yang tenang dimana sang legenda Robin Hood berasal. Tetapi, kemudian saya berfikir, jika saya menuliskanya disini, menowo-menowo ada orang lain yang bisa mengambil manfaat dari tulisan ini.

Adalah sindrome di dunia perkuliahan bagi kebanyakan mahasiswa semester akhir, baik di level sarjana, master, maupun doktor, bahwa menulis skripsi/tugas akhir/tesis/disertasi adalah bagian yang paling menantang binti sulit sekali. Semakin tinggi levelnya, maka semakin tinggi tingkat kesulitanya.  Tak jarang kita mendengar cerita mahasiswa yang bertahun-tahun tidak lulus-lulus, bahkan akhirnya Drop Out (DO) hanya kecantol masalah menulis ini, terlepas bahwa untuk DO adalah pilihan buat mereka dan mungkin adalah takdir terbaik buat mereka.

Yah, menulis (ilmiah) memang berat dan akan selalu berat; menulis memang tidak menyenangkan dan akan selalu tidak menyenangkan. Sehingga menjadi concern, menjadikan ketakutan tersendiri buat mahasiswa semester terakhir, seperti yang saya rasakan sendiri saat ini. Tetapi setidaknya, kita bisa belajar baik dari pengalaman kita sebelumnya maupun dari pengalaman orang lain untuk membuat beban menulis ini menjadi sedikit lebih ringan.

Berikut adalah tips menulis efektif yang terinspirasi dari buku yang barusan saya baca, judulnya “How to Write a Lot” karya Paul J. Silvia. Buku ini, sangat efektif ngecharge baterai semangat menulis saya yang nyaris habis beberapa minggu terakhir ini.

Apakah harus smart untuk bisa menyelesaikan Skripsi/Tesis/Disertasi tepat waktu?

Jawabanya adalah Tidak. Yang dibutuhkan adalah komitmen, kesabaran, dan keuletan. Pengalaman saya waktu S1 dan S2 dulu, justru banyak teman-teman saya yang sebenarnya sangat Smart justru malah banyak yang kena DO karena kecantol masalah skripsi (mereka tidak butuh gelar kali ya? karena udah pintar :D) Bahkan saya tahu 3 di antaranya pas jaman SMA langganan juara olimpiade. Pangalaman waktu S2 juga begitu, lulusan sarjana cumlaude, 3.5 tahun, dari salah satu kampus terbaik di Indonesia, juga pada akhirnya DO.

Artinya sebenarnya, untuk bisa menyelesaikan skripsi/tesis/disertasi ini tidak haru Smart kok. Yang biasa-biasa saja, banyak yang lulus dan selesai tepat waktu. Asalkan punya komitmen dan tekad yang kuat selesai tidak selesai harus selesai. Kemudian sabar dan ulet. Yah, karena menulis adalah proses panjang. Sebelum menulis harus melakukan penelitian yang menguji kesabaran dan keuletan. Apalagi untuk level S3, dimana diharuskan menemukan novelty (keterbaruan) ilmiah,  hasil eksperimen yang dijalankan seringkali tidak sesuai yang diharapkan, terpaksa harus dicoba lagi, diulang lagi.  Belum lagi, harus menulis untuk publikasi jurnal ilmiah dan faktor-faktor lain di luar dugaan. Indeed, sebuah proses panjang yang butuh komitmen, kesabaran, dan keuletan.

Nah, untuk tahap menulis, tips berikut mungkin bisa membantu sampean.

1. Will Power

Akhirnya saya menemukan kata-kata ini, setelah lama saya mencari-cari kata yang pas untuk mengunkapkan perasaan yang saya rasakan belakangan ini. Perasaan merasa sebenarnya saya ini bisa menyelesaikan cepat, tapi kok rasanya masih belum kepengen, belum kemasukan ruh untuk menyelesaikan segera.  Ruh ini ternyata istilahnya Will Power. Jika ingin bisa selesai cepat, sampean harus punya will power ini.

Cukup susah ternyata, saya sudah berminggu-minggu  bahkan berbulan-bulan kali ya, menunggu datangnya ruh will power ini. Tapi, tidak datang-datang juga. Saya sampai rasanya ingin mengutuki diri saya sendiri. Tapi alhamdulilah, ajaib,  semalam sekitar jam 1 malam waktu Indonesia, secara tidak sengaja, anak saya maianan hp saya, dan tiba-tiba terhubung dengan emak saya di kampung. Saya jadinya curhat sama emak, tentang kondisi apa yang saya rasakan, rasanya kok belum kemasukan ruh semangat pengen cepat lulus, padahal saya bisa lulus cepat kalau mau. Dan minta didoakan.

Paginya, something different happens to me, saya yang biasnya malas-malasan. Entah kenapa, sejak pagi itu saya kembali menemukan semangat yang menggebu-gebu yang sempat hilang itu. Will Power itu seolah kembali lagi kepada diri saya. Inilah mungkin yang disebut barokah nya do’a orang tua. Padahal saya sudah mengamalkan, amalan dari alma’tsurat nya teman-teman anak masjid jaman kuliah dulu setiap habis sholat agar tidak malas, yaitu baca do’a :

doa_malas

Doa Agar Terhindar Dari Malas

Maupun amalan sholawat nariyah dari pesantren dulu:

sholawat_nariyah

Sholawat Nariyah

So, telpon ibu kamu sekarang juga geh ! siapa tahu besok pagi, kamu sudah menemukan Will Power itu.

2. Buat Jadwal Yang Kejam dan Taatilah

Setelah menemukan will power maupun  belum ketemu juga, langkah yang paling penting dan utama adalah alokasikan waktu khusus untuk menulis. Buatlah jadwal khusus untuk menulis yang ketat bin kejam dan taatilah. Tidak perlu lama, bisa mulai 4 jam sehari, dari jam 8-12 siang. Tapi harus rutin setiap hari kerja.

Jadwal yang kejam disini maksudnya adalah, kamu harus fokus 100% hanya untuk kegiatan menulis dan pendukungnya. Masuk ke dalam kamar khusus dan kunci pintunya, atau pergi ke silent study zone di perpustakaan. Matikan koneksi internet. Matikan Handphone. Uninstall Game kesayangan kamu, dan hal-hal lain yang kemungkinan bisa mengganggu konsentrasi kamu. Selagi tidak ada hal-hal yang bersifat emergency, jangan korbankan jadwal writing time ini untuk hal yang lain.

Jadwal yang kejam ini untuk menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk kamu, seperti:

Procrastination, alias menunda-menunda pekerjaan yang utama dengan yang mendahulukan hal-hal yang tidak penting. Baru 5 menit, buka word niat mau menulis, eh malah ngecek email dulu, buku facebook, twitter. Kembali menulis lagi 10 menit, eh tergoda membuka instagram dulu, baca sms dulu, negecek BB, WA, line, detik, youtube, googling, eh tahu-tahu waktu 6 jam sudah berlalu, nulisnya baru dapat 1 paragraph doang. Percayalah, bahwa sesungguhnya otak kita sebenarnya tidak bisa multi-tasking kayak processor intel.

Excuse keengganan keluar dari zona nyaman, misal kamu selalu bilang pada diri kamu sendiri:

aku ini orang nya suka spontanitas, ndak suka diatur-diatur, dengan jadwal yang kaku nanti kalau sudah on the mood, pasti semuanya beres juga kok, nyantai saja.

aku masih mencari waktu yang tepat neh, aku butuh mencari inspirasi dulu untuk bisa memulai dulu.

aku ini tipe orang yang suka memanfaatkan the power of kepepet. Ndak tahu kenapa, otak ku itu ajaib, bisa tiba-tiba encer kalau sudah mendekati deadline. aku kerjakan nanti-nanti saja deh kalau sudah mendekati deadline.

Please deh, jangan jadikan alasan kepribadian kamu untuk menutupi kemalasan kamu. Ini bukan untuk menulis lagu, cerpen, novel, atau puisi yang butuh inspirasi layaknya para seniman itu. Jangan ambil resiko mengerjakan sesuatu mendekati deadline, banyak hal di dunia yang terjadi di luar kendali kita. Siapa yang bisa jamin, badan kita dalam kondisi fit dan sehat ketika hari-hari mendekati deadline. Yang ada malah, stres, depresi, dan badan kita bonyok.

Ingat kawan, dunia ini kadang-kadang memang kejam. So, kejamlah pada diri kamu sendiri, untuk membuat dunia tidak kejam sama kamu. Keraslah sama kamu sendiri, agar dunia lunak sama kamu. Di luar writing time, kamu bisa kembali buka internet dan hanphone lagi. Ngopi bareng teman, atau menghabiskan makan malam bareng keluarga juga boleh kembali. Kamu tidak akan merasa bersalah, dan merasa belum menemukan waktu yang tepat, karena kamu sudah melakukan writing di jadwal writing time kamu. Dan karenanya hidup kamu, terasa lebih bahagia bukan?

3. Keep Being Motivated with Daily Goal setting and Monitoring

Menjaga agar selalu termotivasi adalah pekerjaan yang tidak mudah. Karenanya, setiap hari, sebelum masuk writing time, kamu harus punya target harian. Misal, hari ini harus mengerjakan X atau hari ini harus menyelesaikan 500 kata. Kemudian monitoring capaian kamu. Bikinlah file excel atau spss, dengan kolom-kolom misal: tanggal, target, jumlah kata yang sudah tercapai, tercapai target/tidak. Di akhir pekan, atau akhir bulan, kamu bisa generate grafik perkembangan capaian kamu. Pasti ada kebahagiaan tersendiri ketika kamu bisa mencapai semua target-target kamu, pun kalau belum tercapai kamu bisa termotivasi untuk mencapai target dari melihat grafik capaian kamu selama seminggu/sebulan lepas. Ini adalah cara agar kamu selalu termotivasi.

4. Jangan Perfeksionis : Write First, Revise Later

Sempurna itu baik, tapi bersikap perfeksionis itu sering kali malah menjadi masalah. Misal, ketika kamu baru memulai menulis,  dapat satu paragraph, kamu merasa tulisan kamu kurang  bagus, lalu terhenti berfikir gimana cara menyempurnakanya, akhirnya satu paragaraph itu dihapus lagi. Mulai satu paragraph lagi, dihapus lagi. Dan seterusnya. Malah ndak jadi-jadi itu tulisan karena kamu terlalu menuntut kesempurnaan.

Ingat, menuntut kesempurnaan itu justru melumpuhkan. Lebih baik kamu menulis apa adanya dulu, ala kadarnya dulu tidak apa-apa. Setelah selesai draft pertama. Ambil break beberapa hari, jangan buka draft pertama kamu. Kemudian baca kembali, dan revisi, revisi, revisi, revisi, revisi kembali. Menulis dan merivisi itu dua tahapan yang berbeda. Jangan dilakukan pada saat yang sama.

5. Jangan Sembunyi dari dosen pembimbing kamu.

Kebanyakan dari kita malu, merasa bersalah bertemu dengan dosen pembimbing kalau kamu merasa belum ada progress sama sekali. Terus kamu menghilang dari dari radar dosen pembimbing kamu. Ini kesalahan fatal, men ! Tidak masalah, kamu ada progress atau tidak, yang penting kamu harus punya jadwal rutin untuk bertemu dengan dosen pembimbing kamu. Ini akan menjaga kamu agar keep on the right track. Jangan berharap dosen pembimbing kamu yang mencari-cari kamu, ya ! Tidak semua dosen pembimbing, memiliki kebaikan dan kelonggaran waktu sekedar untuk memperhatikan satu daru puluhan anak pembimbing nya.

6. Berikan Penghargaan untuk diri kamu sendiri.

Namanya penghargaan itu tidak harus dari orang lain, tapi bisa dari diri kamu sendiri untuk kamu sendiri. Kamu punya hak untuk memanjakan tubuh kamu sendiri. Misal, setelah 5 hari kerja kamu bisa mencapai target kamu buat sendiri. Bisa meluangkan 5 jam tanpa ganggungan hanya untuk menulis. Di akhir pekan, kamu bisa memanjakan diri kamu misal dengan tidur seharian, pijet, buka facebook atau youtube seharian, balas dendam dari 5 hari dimana kamu harus menahan diri dari godaan-godaan mereka. Asal, reward nya jangan dengan tidak menulis pada writing time yang sudah kamu jadwalkan lowh ya. Ini sama saja, memberikan rokok, pada orang yang sedang latihan untuk berhenti rokok.

Jadi kawan,  kuncinya adalah istikomah. Tool untuk memaksa agar kamu istikomah adalah dengan membuat jadwal yang kejam. Percayalah, pada akhirnya, kamu akan merasa tidak percaya dengan capaian yang telah kamu raih. Kamu akan menyadari bahwa ternyata kamu jauh lebih hebat dari yang pernah kau pikirkan. Dan yang jelas, menulis tugas akhir, skripsi, tesis, atau disertasi tidak semenyeramkan seperti yang kamu kira. Pada akhirnya, kamu akan menyadari bahwa istikomah memang lebih baik dari seribu karomah (karomah itu semacam mukjizat yang diberikan kepada para wali Allah). Karakter kita adalah kebiasaan kita yang kita lakukan berulang-ulang.

Ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri ketika ketika bisa mencapai target yang kita buat sendiri. Kepuasan dan kebahagiaan ini tak mungkin diperoleh buat para mahasiswa yang suka menunda-menunda pekerjaan. Alih-alih menulis terasa menyenangkan, yang ada malah sebaliknya, menulis menjadi kegiatan menyeramkan seperti hantu gendruwo yang selalu mengintai kamu. Hidup mu menjadi tidak seimbang, penuh dengan perasaan cemas, merasa bersalah, depresi, dan tentunya sangat beresiko dengan kegagalan di hari-hari menjelang deadline.

Demikian. Semoga tips ini bermanfaat buat saya sendiri dan sampean-sampean semua. Semoga saya dan sampean-sampean semua segera selesai study nya dengan hasil yang sangat-sangat memuaskan ! Ilmunya barokah dan manfaat untuk kehidupan kita. Sekali lagi, semoga kita segera lulus secepatnya ! Allahumma Ammiiin.

Mengapa nulis, Mengapa ngeBlog?

 … ngeBlog itu menulis sejarah, melukis kenangan, mengikat ilmu, dan mewariskan kearifan hidup, – A Random Thought.

Buku, Produk Budaya Menulis (Dok. Pribadi)

Entah mengapa bulan November ini saya rajin sekali nulis blog, bahkan kalau dituruti seharian nulis blog pun rasanya betah. Mungkin karena bulan ini saya punya perintah agung, menulis dua paper untuk jurnal internasional yang impact factor nya tinggi dari ndoro dosen pembimbing saya, yang deadline satu minggu lagi. Ditambah kerjaan ngoreksi sak dos (baca: 1 box) tugas mahasiswa ndoro dosen saya juga. Lah kok malah ngeBlog? mbuh wes, saya ini terkadang orangnya somplak alias rodok gendeng sitik. Tapi, saya yakin insha Allah selesai kok. Kalau sudah kemasukkan roh moody+, beberapa jam saja juga selesai.

Kawan, bagi sebagian besar orang Indonesia kegiatan menulis itu (apalagi menulis paper jurnal) adalah pekerjaan yang tidak mudah dan painful. Setiap hari, bisa jadi entah berapa ratus atau bahkan berapa ribu  kata keluar dari mulut kita? Tetapi, kalau disuruh menulis ide dan gagasan kita secara terstruktur dalam sebuah tulisan, rasanya  otak kita tiba-tiba menjadi beku, jari-jari kita mendadak jadi keram. Hanya, sedikit orang yang menemukan kegiatan menulis ini, sebagai kegiatan yang menyenangkan. Belakangan, saya sadar bahwa siapa pun kita, kegiatan menulis itu, menulis apa pun, menulis blog misalnya, adalah kegiatan yang sangat penting dalam hidup kita. So, Mengapa ngeBlog?

Untuk Menumbuhkan Budaya Menulis

Sebagian besar dari kita mungkin berfikir seseorang itu menulis karena tuntutan pekerjaan; sebagai wartawan misalnya, atau karena menulis itu adalah hobi seseorang. Pandangan itu ada benarnya, tetapi menurut saya tidak sepenuhnya benar. Saya lebih cenderung memandang bahwa kegiatan menulis itu sebagai budaya. Tulisan adalah produk sebuah peradaban manusia literacy.

Suparto Brata, sastrawan senior penulis buku Pertempuran 10 November 1945, yang namanya tercatat dalam Five Thousand Personalities of The World ,  pernah mengatakan1:

Membaca dan menulis adalah tonggak kuat untuk memajukan bangsa. Orang yang membaca dan menulis  adalah orang yang maju mengikuti jaman.  Orang primitif tidak membaca dan menulis, tetapi hanya melihat dan mendengar.

Fakta sejarah pun menulis demikian, kejayaan Islam, kebangkitan Eropa, kebangkitan Jepang diawali dari budaya kegiatan baca dan tulis yang fenomenal dan heroik. Sistem pendidikan di negara-negara maju sekarang pun demikian. Sejak dini, siswa sudah dibudayakan untuk mengembangkan critical thinking mereka dengan tugas-tugas menulis. Bukan menghafal, seperti lazim nya sekolah di Indonsia. Di Inggris, banyak sekali program master (S2), dimana dari mulai masuk sampai lulus, penilainya 100% hanya dari menulis essay dan disertasi saja. Tanpa ada ujian, presentasi, apalagi defense disertasi. Jadi 100% dinilai dari karya tulisan mahasiswa.

Fakta sekarang pun demikian, konon katanya sebagai perbandingan, di Indonesia yang jumlah penduduknya, sekitar 240 juta jiwa, pertahunya hanya ada sekitar 5000 judul baru. Sementara negara tetangga kita Malaysia, dengan jumlah penduduk hanya 27 juta jiwa, ada sekitar 15.000 judul baru, dan di Inggris yang memiliki jumlah penduduk 60 juta jiwa, terdapat setidaknya 100.000 judul buku baru pertahunya 2. Belum lagi kalau kita bandingkan jumlah publikasi ilmiahnya, kita juga kalah jauh. Jadi jangankan orang awam, guru dan dosen kita saja tidak memiliki budaya nulis.

So, dengan ngeBlog, setidaknya kita bisa menumbuhkan budaya menulis pada diri kita sendiri.

Menulis Sejarah, Melukis Kenangan

Terkadang saya suka berandai-andai, seandainya ya para mbah, buyut dan leluhur saya dahulu menuliskan cerita hidupnya dalam sebuah buku, meskipun dalam tulisan tangan pun. Saya sebagai anak cucu mereka, pastinya akan sangat bangga membaca buku sejarah keluarga saya. Tidak hanya tahu dengan pasti fakta sejarah keluarga saya, tetapi juga saya bisa belajar kearifan hidup dari leluhur saja, yang tentunya akan menjadi inspirasi hidup terus menerus bagi kami anak cucu nya, dan generasi sesudah kami berikutnya. Nyatanya, saya hanya tahu siapa nama mbah saya saja. Siapa buyut saya, bagaimana perjuangan hidup mereka dahulu, tak seorang pun tahu. Memang, sejarah adalah apa yang tertulis atau yang terlupakan selama-lamanya.

Terkadang saya juga membayangkan suatu saat di hari tua nanti, ketika saya sudah mulai pikun, saya masih sempat mendongeng untuk cucu cicit saya. Tidak hanya tentang cerita di negeri awang-awang dan negeri dongeng, tetapi juga tentang belahan dunia lain yang pernah saya lihat sendiri. Tentang lembut dan putihnya salju di musim dingin. Megahnya bangunan peninggalan romawi kuno. Tentang pelajar cina yang rajinya tidak ketulungan dalam belajar. Menceritakan dongeng kehidupan saya sendiri. Semuanya, itu tentu hanya jika kita tulisan yang bisa dibukukan.

Mengikat Ilmu

Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kita memiliki daya ingatan, daya pikir yang terbatas. Apalagi ketika suatu saat usia kita sudah di penghujung senja. Dalam kitab ta’lim muta’alim, yang dipakai di pesantren, saya agak lupa apakah Imam Syafii atau Sayyidina Ali yang mengibaratkan ilmu itu seperti binatang tangkapan berburu kita, agar tidak lepas, maka kita harus mengikatnya. Cara mengikat ilmu adalah dengan menulis nya.

Kita diberi akal untuk memahami ilmu, untuk berfikir, berimajinasi, dan belajar dari pengalaman hidup. Kita juga dikaruniai hati untuk merasakan, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar pelajaran hidup. Dengan nya, setiap dari kita memiliki perspektif yang berbeda tentang bagaimana melihat dunia ini. Sayangnya, semua itu akan mudah menguap begitu saja, ketika kita lupa untuk menulis nya. Haruskah kita pasrah pada perspktif main stream?

Karenanya, blog bisa dijadikan sebagai personal knowledge management system, yang setidaknya bermanfaat buat diri kita sendiri. Syukur-syukur kalau manfaat itu menular kepada orang lain.

Mewariskan Kearifan Hidup

Kawan, jikalau gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya. Pernah ndak memikirkan, kalau sampean mati meninggalkan apa? Harta warisan yang tidak habis tujuh turunan? Sayangnya, tidak semua orang ditakdirkan kaya raya, dan harta warisan yang kita tinggalkan tak sedikit pun memberi manfaat pada kehidupan kita selanjutnya. Hanya anak sholeh, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat yang berguna untuk kehidupan kita selanjutnya.

Ketika seorang guru, kyai, ustadz, dosen, peneliti meninggal dunia? Bisa jadi, ilmun mereka tetap bermanfaat buat orang-orang yang pernah belajar kepada mereka. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang tidak pernah belajar kepada mereka?

Andai saja setiap guru, kyai, ustad, dosen, peneliti menuliskan ilmu nya , kearifan hidupnya, yang bermanfaat. Tentu selama tulisan itu masih ada, siapa pun orangnya, masih bisa ngalap manfaat ilmu yang mereka tulis.

Kawan, bayangkan, seandainya saja sampean menulis sesuatu yang bermanfaat dalam blog sampean. Kemudian, setiap hari ada seribu orang yang membaca blog sampean dan mereka terinspirasi, mengambil manfaat dari tulisan  sampean. Dalam setahun, sudah berapa ribu orang yang terinspirasi, mengambil manfaat? Di dunia nyata, rasanya berat sekali memberi kuliah kepada 1000 mahasiswa setiap hari, bukan? itulah sebabnya kita perlu menulis kawan!

Berbicara kepada Diri Sendiri

Berkomunikasi itu tidak harus berkomunikasi dengan orang lain (i.e. inter-personal). Tetapi, kita juga perlu berkomunikasi kepada diri sendiri (i.e. intra-personal). Buat saya, menulis blog itu seperti bicara kepada diri saya sendiri. Menulis blog juga menjadi media untuk menuangkan luapan emosi dan mengekspresikan keresahan jiwa saya. Serta tempat pelarian, kejumudan pikir dari hiruk pikuk rutinitas kita. Dan menurut hemat saya, itu semua baik buat kesehatan psikologis kita.

Itulah alasan-alasan saya mengapa saya ngeBlog? Saya yakin, setiap orang memiliki alasan yang berbeda untuk ngeBlog atau tidak ngeBlog. Lalu, bagaimana dengan sampean?

Tips Menulis Blog

Lalu, bagaimana tips memulai menulis blog? Bagaimana memunculkan ide tulisan untuk blog? Menurutnya, tipsnya hanya satu, shut up and write up ! tulis saja apa yang sampean pikirkan, rasakan, lihat, dan dengar dan teruslah menulis. Tak usah pedulikan seberapa buruk tulisan kita. Toh, kita tidak memaksa siapa yang akan membaca tulisan kita. Apa yang kita tulis, ya untuk kita, perspektif kita.

Buat saya, blog adalah sesuatu yang sangat personal. So, ora urus orang lain. Pemilihan kata, gaya penulisan ya ciri khas diri kita masing-masing. Kita bisa jadi, secara tidak sadar terinspirasi atau mengikuti orang lain. Tetapi, tidak perlu, secara sadar meniru gaya menulis orang lain. Seperti dalam kehidupan nyata sehari-hari, tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali ketika kita menjadi diri kita sendiri.

Semoga Menulis menjadi budaya kita semua, Ammiin!

Catatan Kaki:

  1. http://old.its.ac.id/berita.php?nomer=14335
  2. http://dmrosyid.wordpress.com/2007/08/20/indonesia-membaca-atau-bubar/