Tag Archives: tips beasiswa ke luar negeri

Tips Mempersiapkan Beasiswa Ke Luar Negeri

… kuliah di luar negeri, wah siapa sih yang tidak kepengen? Merasakan pendidikan kelas dunia, sambil menjadi bagian dari kehidupan orang-orang Inggris, Belanda, US, Australia, Jerman, Jepang, Perancis tentu akan menjadi pengalaman hidup sangat berharga dan tak terlupakan hingga hari tua nanti. Sayangnya, banyak orang yang kepengen dan berhenti disitu, tidak mempersiapkan diri untuk mendapatkanya. Berikut tips, pengalaman saya untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Mengayuh Sepeda, TU Eindhoven Campus, Netherland

Mengayuh Sepeda, TU Eindhoven Campus, Netherland

Jika ada yang bilang sukses itu adalah titik temu antara persiapan dan kesempatan, saya 90% percaya. Yah, sebagai manusia biasa, bukan manusia setengah dewa, jalan ikhtiar adalah jalan wajib yang harus di lalui untuk mencapai cita-cita kita. No pain No Gain, kata bule Amerika. Jer Basuki Mawa Bea, kata embah saya. Wa-an laysa lil-insaani illaa maa sa’aa, – “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS An Najm [53]:39) kata Ustadz saya. Walaupun ada pengecualian-pengecualian, pengalaman hidup saya juga mengajari saya seperti itu. Kecuali, jika sampean merasa sebagai manusia setengah dewa, tentu ikhtiar-ikhtiar semacam ini tidak berlaku buat sampean.

Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, ketika saya lulus S1, walaupun ada, kesempatan untuk mendapatkan beasiswa itu kuotanya sangat terbatas. Kita hanya bisa mengandalkan beasiswa dari kampus yang kita tuju, atau dari sponsor-sponsor luar negeri yang syarat dengan kepentingan mereka masing-masing , dan tentu saja ada political will di balik beasiswa itu, seperti beasiswa ADS, ALA, Chevening, AMINEF, Neso, Ford Fooundation, Fullbright, dan sebagainya. Beruntung, atas saran dari mantan menteri keuangan Sri Mulyani, pemerintah menggunakan dana abadi (sisa APBN tak terpakai , jika saya tidak salah), untuk beasiswa ke luar negeri, yang sekarang disebut beasiswa LPDP. Tujuanya satu untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Terutama anak-anak muda calon pemimpin-pemimpin bangsa ini. Begitulah seharusnya pendidikan, tidak sekedar memproduksi para future workers, tetapi untuk melahirkan para future leader.

Luar biasa, trilyunan rupiah digelontarkan untuk program beasiswa ini. Bahkan sampai setahun dibuka tiga kali pendaftaran. Dikti, dan Menkominfo pun tak mau ketinggalan dengan program beasiswa ke luar negeri nya dengan hanya satu syarat harus kembali ke Indonesia setelah lulus. Sayang, belum banyak yang mengambil kesempatan emas ini. dengan alasan belum siap.

Karenanya, berikut adalah tips untuk persiapan mendapatkan beasiswa-beasiswa tersebut:

  1. Niat dan tekad yang kuat. Tanpa niat dan tekad yang kuat, keinginan hanya akan seperti angin lalu saja.
  2. Tetapkan negara dan Universitas tujuan sampean. Sampean pasti punya alasan sendiri-sendiri memilih negara mana yang anda tuju, termasuk Universitas. Sebagai salah satu panduan memilih universitas, sampean bisa merujuk ke lembaga pemeringkatan Universitas seperti QS Work Rangking.
  3. Setelah menetapkan kampus tujuan, pilih jurusan pilihan anda dengan melayari website universitas dan jurusan yang sampean pilih. Lihat kurikulum nya secara detail untuk mengetahui apa yang akan dipelajari di kampus impian sampean.
  4. Setelah mantap dengan kampus dan jurusan yang dipilih, langkah selanjutnya adalah melamar untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) / Letter of Offer. Hampir semua perguruan tinggi terbaik dunia, menyediakan layanan aplikasi online. Kampus di luar negeri biasanya tidak menyelenggarakan tes tertulis seperti SNMPTN, mereka biasanya hanya melakukan seleksi berdasarkan dokumen, seperti ijasah dan transkrip nilai level pendidikan sebelumnya, dan surat rekomendasi dari dosen di level pendidikan sebelumnya atau dari atasan tempat sampean bekerja. Syarat wajib lainya adalah sertifikat yang menunjukkan kemampuan bahasa Inggris, seperti IELTS atau TOEFL IBT (Bukan TOEFL ITP, atau TOEFL lokal  lowh ya !).
  5. Selain aplikasi online, cara lain untuk aplikasi adalah bisa melalui Agen atau pas pameran pendidikan. Datanglah ke pameran-pameran pendidikan, mereka biasanya akan dengan senang hati membantu sampean menyiapkan aplikasi secara gratis.
  6. Percayalah, jika anda lulusan kampus-kampus ternama di Indonesia, e.g. ITS, Unair, UGM, ITB, UI, dsb. untuk mendapatkan LOA bukanlah hal sulit. Tidak harus ber IPK diatas 3.5, asal masih di atas 3.00 saya yakin gampang sekali mendapatkan LOA. Pun, jika sampean dari kampus swasta tidak terkenal, bukan berarti peluang sampean tertutup rapat. Asal, sampean punya prestasi akademik yang bagus pintu masih terbuka lebar. Ada banyak teman saya dari kampus swasta tidak terkenal di kota kecil Jombang, tapi bisa diterima di kampus-kampus beken di Eropa.
  7. Syarat paling berat yang biasa dihadapi mahasiswa Indonesia biasanya adalah persyaratan IELTS atau TOEFL ibt, biasanya mereka mensyaratkan score IELTS minimum 6.5 (beberapa jurusan seperti Engineering di Inggris biasanya masih menerima score 6.00) , sehingga biasanya mereka mendapatkan Conditional LOA. Untuk merubah menjadi unconditional, harus menunjukkan score IELTS atau TOEFL IBT yang dipersyaratkan.
  8. Jadi sebenarnya, persiapan terberat untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri sebenarnya adalah mendapatkan score IELTS 6.5 yang tidak hanya menguju kemampuan, listening, reading, dan grammar saja. Tetapi juga, kemempuan academic writing dan speaking.
  9. Tidak ada cara instant untuk mendapatkan score IELTS yang bagus, butuh proses yang tidak sebentar. Tetapi, percayalah kemampuan bahasa inggris ini benar-benar dibutuhkan ketika sampean menjalani proses perkuliahan yang sebenarnya kelak.
  10. Untuk mendapatkan score IELTS yang bagus, anda tidak harus kursus IELTS di IALF yang mahal banget. Sampean bisa belajar sendiri dari online resources yang bertebaran di Internet.
  11. Atau jika sampean bukan tipe pembelajar mandiri yang baik, sampean bisa kursus IELTS murah meriah di kampung bahasa, di kota Pare di Kediri. Datanglah kesana, untuk mengisi liburan kuliah jika sampean masih di bangku kuliah.
  12. Jika sampean berniat langsung melanjutkan kuliah setelah lulus S1, belajarlah IELTS sejak dari semester satu di sela-sela kesibukan sampean mengerjakan tugas-tugas kuliah. Jadi, begitu di semester akhir sampean sudah bisa mendapatkan score IELTS 6.5. Ingat, tidak ada cara instant untuk belajar bahasa !
  13. Jika unconditional LOA sudah ditangan, saya yakin kesempatan mendapatkan beasiswa ke luar negeri sudah di depan mata.
  14. Gunakan unconditional LOA sampean untuk melamar beasiswa dari Sponsor seperti LPDP, Menkominfo, DIKTI, Islamic Development Bank, Fullbright, Stuned, Spirit, dsb. Lihat list sponsor beasiswa disini !
  15. Bergabunglah dengan milis beasiswa : beasiswa@yahoogroups.com, atau website tentang beasiswa seperti motivasibeasiswa.org, untuk mendapatkan update terbaru mengenai informasi beasiswa.
  16. Terakhir, tinggal meyakinkan pewawancara beasiswa bahwa sampean layak mendapatkan beasiswa tersebut.
  17. Berdo’alah. Ingatlah, di atas semua ikhtiar manusia, ada Tuhan yang Maha Kuasa di atas segalanya.

Ayo, tunggu apalagi, persiapkan sekarang juga ! Pesawat yang akan membawa mu terbang ke negeri impian sudah menunggu mu di Bandara ! Selamat Berjuang !

***) p.s. Karena filenya besar sekali, dan alasan copyright violation, file akan saya upload secara perlahan, gradually thanks.

Tips Lain-Lain

Untuk yang punya duit Banyak dan berlebih, mempersiapkan kuliah ke luar negeri , dengan mempersiapkan bahasa inggris, di lembaga-lembaga profit oriented seperti : IALF, dan EF mungkin sangat membantu. Bahkan EF katanya (saya di kontak personally sama orang EF, *pesan sponsor ;p* ) punya program yang menjamin diterima kuliah di kampus-kampus top yang menjadi rekanan (Oxford, Cambridge, Nottingham diantaranya) di Inggris.  Informasi lebih lanjut bisa dicek disini , halaman facebook EF Jakarta: http://www.facebook.com/EFIndonesia , Telp. EF Jakarta: +6221 520-3655 atau email ke mbak (Ilse Latifa) yang mengontak saya langsung disini.

Untuk mendapatkan LOA, ada beberapa agen di Indonesia yang membantu mulai proses pendaftaran hingga mendapatkan LOA. Untuk ke Inggris, bisa menggunakan jasa yang ditawarkan oleh IBEC  atau agen-agen yang lain seperti IDP (Australia), NESO (Belanda), AMINEF (US), DAAD (Jerman) atau agen-agen swasta lainya bisa dilihat disini. Lembaga-lembaga ini juga sering mengadakan pameran-pameran pendidikan di kota-kota besar di Indonesia. Selain membantu mendapatkan LOA mereka juga membantu mendapatkan beasiswa dari pemerintah negara-negara tersebut.

Belajar Dari Pengalam Orang Lain

Satu hal lagi, yang mungkin sangat membantu adalah dengan belajar dari Pengalaman orang lain: Misal untuk Beasiswa LPDP, sampean bisa belajar dari Pengalaman teman saya satu ini: disini., Bahkan masnya bersedia berbagi contoh surat: Contoh Esai,Contoh Rencana Studi,Contoh Draf Surat Rekomendasi,Contoh Draf Surat Pernyataan,Contoh Draf Surat Permohonan Perubahan Universitas Tujuan,Contoh Draf Surat Permohonan Pembaruan Letter Of Guarantee, untuk beasiswa LPDP. Untuk beasiswa Fullbright, bisa belajar dari pengalaman dari seorang teman disini. Untuk beasiswa Menkominfo, sampean bisa belajar dari pengalaman teman saya satunya lagi : disini.

Oke, Semoga Sukses, Kawan !

Tunggu, Sampean harus baca juga:


Ayo Rek, Sekolahlah di Luar Negeri ! dan Lihatlah dunia akan terlihat begitu berbeda

… saya termasuk yang percaya bahwa, hanya pendidikan tinggi yang bagus yang bisa memutus rantai kemiskinan, memutus lingkaran keterbelakangan dan keterpurukan. Hanya pendidikan yang bisa merubah pola pikir dan cara pandang seseorang dalam melihat dunia ini. Bisa jadi, setahun belajar di luar negeri, akan menjadi inspirasi sepanjang hidup hingga akhir hayat nanti.

mhs_indonesia_UoB

Mhs. Indonesia di Univ. Birmingham, Inggris (Courtest Alicia )

Suatu siang di akhir musim panas itu saya baru saja selesai menunaikan sholat jumat di prayer room di Jubilee Campus, Universitas Nottingham. Dalam perjalanan pulang ke rumah, bersama saya seorang pemuda tanggung (baca: ABG), yang kebetulan juga sedang menuju rumahnya  yang satu arah jalan dengan rumah saya. Pemuda tanggung muslim, berkulit putih, berambut keriting, asal Aljazair kelahiran Inggris, dan telah lama menetap dan menjadi warga negara Inggris. Dia adalah mahasiswa S1 tahun terakhir Jurusan Arsitektur di kampus ini. Sepanjang perjalanan jalan kaki selama 25 menit itu, dia (D) sedikit curhat sama saya (S).

[Terjemahan Bebas dan agak Ngawur]

…..

D : Kang, aku sekarang ini merasa sangat benci belajar.

S : Lowh, kenapa dul? (dengan mimik pura-pura penuh empati)

D :  Entahlah, seperti nya aku sudah bosan level akut. Bayangkan tiap hari sejak umur 3 tahun, aku harus terus belajar tiada henti. aku bosan. aku ingin segera tutup buku dan merasakan dunia baru. aku ingin segera bekerja.

S :  *nyengir dan berusaha sok bijaksana* Oh, itu normal Dul. Itu sama persis dengan apa yang aku rasakan ketika aku berada di posisi seperti sampean dulu. Aku ingin sekali segera bekerja di perusahaan.  Merasakan dunia baru, dan segera menghasilkan duit sebanyak-banyaknya. Tetapi, hanya beberapa bulan setelah mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang aku impi-impikan, aku sudah rindu kembali suasana bangku kuliah. Akhirnya aku memutuskan, untuk resign dan sekolah lagi, ketika kesempatan beasiswa menghampiri ku.

D :  *ekspresi dingin*

S :  @$$$$@

…..

***

Sudahlah, lupakan dialog tidak penting di atas *sudah mulai kehilangan fokus*. Oh tidak, sebenarnya saya hanya ingin menulis uneg-uneg saya dari dahulu. Kenapa sih, mahasiswa lulusan S1 dari kampus saya dan kampus daerah lainya minatnya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri masih sangat minim. Ya, sejak kuliah S2 dulu, teman-teman yang kuliah di luar negeri hampir semuanya berasal dari Jakarta dan Bandung. Bahkan ketika sekarang pemerintah membuka keran peluang sekolah ke luar negeri selebar-lebarnya, melalui beasiswa LPDP, kemaren sempat ngobrol dengan salah seorang penerima beasiswa tersebut, benar sekali 90% penerimanya adalah arek-arek Jakarta/Bandung. Apalagi beasiswa itu ternyata banyak diambil orang-orang yang sebenarnya mampu membiayai kuliah dengan duit mereka sendiri, seperti Gita Gutawa. Kemana arek-arek Suroboyo, Malang, Jember? yang dulu selalu beralasan ndak punya duit untuk sekolah ke luar negeri.

Sejak saya kuliah S2 ini, saya merasa, memang ada perbedaan pola pikir antara lulusan S1 JB: Jakarta/Bandung (anak UI, ITB, dsb.) dan lulusan S1 SM: Surabaya/Malang (anak ITS, Unair, UB, dsb.) . IMHO, anak-anak JB sudah berfikir global, kuliah di luar negeri sangat penting buat karir mereka, mereka ingin sekali sekolah S2/S3 di luar negeri, kemudian berkarir di luar negeri atau setidaknya berkarir di dalam negeri dengan gaji luar negeri.

Sementara, arek-arek SM masih berfikir tradisional. Kurang lebih sama dengan cerita saya dengan anak Aljazair di atas. Sudah bosan belajar, ingin segera memasuki dunia baru yang katanya lebih menantang, dunia kerja. S2/S3 di luar negeri itu tidak begitu penting, S1 saja sudah cukup untuk memulai karir jadi karyawan di BUMN atau menjadi PNS. Lanjut S2/S3 di luar negeri itu hanya cocok buat mereka yang berminat jadi dosen, profesi tidak menarik bergaji kecil itu. Toh, melanjutkan S2/S3 bisa juga nanti ketika sudah bekerja di perusahaan.

Baiklah, ketika mereka punya alasan untuk tidak melanjutkan sekolah S2/S3 ke luar negeri, berikut saya memberi alasan-alasan kenapa lulusan S1 harus segera melanjutkan S2/S3 ke luar negeri.

  1. Jika ada yang beralasan segera bekerja ingin segera berpenghasilan, jangan salah, dengan manajemen keuangan yang cerdas, sisa uang saku beasiswa kamu bisa lebih besar dari gaji fresh graduate di BUMN. Sebagai gambaran, ketika masih sendiri, saya bisa menabung sedikitnya 400 GBP perbulan (setara dengan Rp. 8 juta).
  2. Jika ada yang beranggapan S2/S3 di luar negeri tidak penting, ingatlah dunia semakin mengglobal sudah di depan mata (misal pasar bebas ASEAN, i.e. MEA per 2015), kemampuan untuk berkomunikasi bisnis internasional dan berwawasan global adalah sebuah keharusan, jika tidak mau tertinggal di belakang.
  3. Jika ada yang bosan dengan belajar, percayalah pengalaman hidup di luar negeri di samping belajar adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.
  4. Jika ada yang takut sudah terlalu tua untuk sekolah, halah paling-paling sampean juga baru umur awal dua puluhan, kuliah S2 di luar negeri itu hanya 2 tahun, bahkan di Inggris hanya cukup 1 tahun.
  5. Jika ada yang beralasan kuliah S2/S3 itu tidak penting , percayalah negara ini membutuhkan mu untuk bisa ‘bersaing’ di level global. Lihatlah negara tetangga kita Malaysia yang sudah berpuluh-puluh tahun meningkatkan daya saing sumber daya manusianya dengan mengirim puluhan ribuan anak mudanya untuk belajar ke luar negeri (baca: disini). Jangan sampai menjadi katak di dalam tempurung.
  6. Jika ada yang berfikir, S2/S3 hanya untuk calon dosen, endak kok, banyak program S2/S3 untuk profesional.
  7. Jika ada yang berfikir belajar kan bisa dimana dan kapan saja, bisa dari internet. Percayalah, melihat dari balik jendela tidaklah sama dengan menjadi bagian langsung dari yang kita lihat dari balik jendela itu.
  8. Jika ada yang bilang belum ada kesempatan, jangan salah, sekarang ada beasiswa LPDP yang dibuka lebar-lebar dan dibuka pendaftaran setahun tiga kali. Siapa yang bisa menjamin, beasiswa ini akan tetap dibuka, jika sampeyan masih menunggu waktu yang tepat. Beasiswa ini dari duit rakyat, sampeyan sebagai bagian dari rakyat ambilah bagian sampean.
  9. Jika ada yang merasa tidak qualified, mungkin karena sampean belum berusaha mempersiap kanya.

Diatas semua alasan tadi, yang paling penting kenapa sampean harus sekolah ke luar negeri adalah karena sekolah ke luar negeri akan merubah pola pikir mu. Kuliah lah, ke luar negeri, dan dunia akan terlihat begitu berbeda di mata mu. Jangan berfikir, dengan sekolah di luar negeri, kita akan’ memuja’ dan  ‘menyembah-nyembah’ negara luar negeri tersebut. Justru sebaliknya, nasionalisme, kecintaan kepada negeri, akan tumbuh ketika kita berada di luar. Kepercayaan diri, jati diri, dan kebanggaan diri, justru akan tumbuh ketika kita berada di luar negeri. Selain bisa belajar tidak hanya materi kuliah tetapi belajar kehidupan dengan menjadi bagian langsung dari kehidupan di negara maju, setidaknya kita akan sadar, negara maju itu tidak se ‘wah’ yang kita bayangkan. Setidaknya, kita akan sadar, bahwa kita tidak seburuk yang kita sangka. Setidaknya, kita akan sadar, bahwa kita ini sebenarnya korban keserakahan dan dibodohi oleh negara-negara maju tersebut.

Sudahlah, segera siapkan niat dan tekat mu, siap kan koper mu, ayo segera pergi belajar ke luar negeri !

Baca Juga :

 


Cerita Pelajar Negeri Tetangga di Tanah Sebrang

… masa depan sebuah bangsa, bisa dilihat dari bagaimana bangsa tersebut mempersiapkan generasi mudanya. Terlepas dari takdir Tuhan yang Maha Kuasa, rasanya memang benar adanya karena anak-manak muda saat inilah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Di pundak-pundak merekalah, nasib bangsa ini dibebankan. Salah satu ikhtiar mempersiapkan pemimpin masa depan itu adalah dengan investasi pendidikan yang terbaik untuk para generasi muda, seperti yang telah dan sedang dilakukan oleh negara tetangga kita, Malaysia, bangsa serumpun dengan kita, yang telah berpuluh-puluh tahun mengirim ratusan ribu anak mudanya untuk belajar di kampus-kampus terbaik di dunia. Bagaimana dengan bangsa kita?

mhs_malay

Ilustrasi: Mahasiwa Malay di UoN (Coursey Akmal)

Suatu pagi di musim gugur itu, aku lari tergopoh-gopoh binti ngos-ngosan dari rumah kos-kosan ku di wilayah Dunkirk ke Bus Stop (baca: stopan bis rek) Art Centre, di University Park Campus, Universitas Nottingham. Beruntung, ketika aku sampai hopper bus – bus gratis jurusan University Park Campus – Jubilee Campus PP, tepat kurang beberapa detik berangkat. Artinya, aku tidak terlambat untuk ikut seat in jadwal kuliah paling pagi, pukul 09.00 pagi. Bukan kuliah serius sih, karena sebagai mahasiswa PhD, aku tidak ada kwajiban untuk mengikuti kuliah, hanya datang, duduk, dan mendengarkan saja (istilah englishnya: seat in ).

Karena menjelang jadwal kuliah dimulai, bus pagi yang datang setiap 15 menit sekali itu, sangat penuh sesak. Aku pun hanya bisa berdiri terhimpit berpegangan tiang besi di tengah bus, tak kebagian tempat duduk. Tidak hanya penuh sesak, bus ini juga crowded (baca: umyek dewe, rek ) sekali seperti suasana di pasar malam tiap hari rabu di taman maju, bandar U, dekat kampus UTP Malaysia. Bukanya kenapa-kenapa, tapi karena memang 90% penumpang bus pagi itu adalah mahasiswi-mahasiswi Malaysia yang sedang asyik ngobrol dengan bahasa nasional mereka. Sebagai pelajar yang pernah tinggal di negara jiran (baca: tetangga, rek ! ), saya sangat familiar dengan bahasa mereka.

Melihat mbak-mbak Malaysia yang berjilbab dan berbaju kurung menenteng buku-buku tebal itu pikiran dan perasaanku campur aduk menemani diamku sambil sesekali menguatkan genggaman tanganku pada tiang besi ketika bus menyusuri jalan berliku.

Ada perasaan iri, kenapa aku dulu ketika seusia mereka tidak memiliki kesempatan yang sama, menikmati pendidikan berkualitas gratis di kampus-kampus terbaik dunia. Iya, mereka adalah diantara tidak kurang 400 mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di berbagai fakultas, termasuk fakultas kodekteran di Universitas Nottingham ini. Mereka adalah diantara ribuan mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di kampus-kampus terbaik di Inggris. Mereka adalah diantara puluhan ribu mahasiswa Malaysia yang sedang disekolahkan oleh kerajaan mereka di kampus-kampus terbaik di dunia, di Eropa, US, Australia dan belahan dunia lainya. Mereka sebagian besar (90%) adalah mahasiswa  level undergraduate (S1), dengan beasiswa kerajaan Malaysia. Beasiswa yang kata mereka diprioritaskan untuk warga pribumi Malaysia, orang Melayu, bukan orang keturunan Cina atau pun India , yang merupakan komposisi terbesar kedua dan ketiga di Malaysia. Sedangkan mahasiswa dari Indonesia di kampus ini hanya sekitar 40-an mahasiswa, sebagian besar mahasiswa S1 keturunan Tionghoa dari Jakarta dengan biaya dari orang tua mereka sendiri, dan segelintir orang saja mahasiswa master dan PhD dengan beasiswa dari berbagai sponsor. Selalu ada tanda tanya sangat besar sekali, Indonesia yang sumber daya alam nya jauh lebih melimpah dari Malaysia itu, belum mampu menyekolahkan anak-anak mudanya ke luar negeri. Jangankan menikmati pendidikan tinggi di luar negeri, sekedar pendidikan dasar yang layak di negeri sendiri saja masih menjadi barang sangat mewah buat sebagian besar rakyat kecil di negeri kami.

Ada perasaan rindu pada masa lalu, di abad pertengahan. Ketika umat Islam berada di jaman keemasan. Ketika pelajar-pelajar Eropa masih berusaha keluar dari jaman kegelapan, dark ages, berduyun-duyun pergi ke kota Baghdad, di Irak, ke kota Cordova di Spanyol, belajar pada ilmuwan-ilmuwan muslim pada berbagai bidang ilmu yang sangat disegani pada jaman nya. Tetapi, sekarang keadaan terbalik. Aku hanya bisa menerka-nerka rahasia Tuhan dibalik mempergilirkan kejayaan dari bangsa satu ke bangsa lain, seiring bergulirnya abad demi abad perjalanan waktu. Aku hanya berani memendam harapan, suatu saat umat Islam akan memimpin puncak peradaban dunia kembali.

Ada perasaan bangga, melihat saudara sesama muslim yang begitu terlihat begitu bersemangat menuntut ilmu, meninggalkan kehangatan dekapan keluarga, untuk merantau ke negeri jauh. luru ilmu (baca: mencari ilmu) untuk kemudian kembali membangun negeri.

Ada perasaan penuh harap, suatu saat nanti, anak cucu ku bisa menjadi seperti mereka. Bisa mencicipi nikmatnya pendidikan berkualitas di kampus-kampus terbaik di dunia. Untuk kemudian membangun negeri menjadi lebih baik. Yah, hanya sebuah harap, suatu saat nanti …