Ada Yang …

wayang_arjuna

Wayang Arjuna: Museum Wayang, Jakarta

Ada yang hanya lulusan SD,
tetapi hidupnya bergelimang harta.
Ada yang seorang profesor,
tetapi hidupnya sangat sederhana.

Ada yang dihimpit kemiskinan dan kesempitan,
hingga makna kebahagiaan pun sangat sederhana.
Bisa kenyang hari ini saja,
sudah menjadi kebahagiaan yang tak terkira.

Ada yang dipeluk kekayaan dan kemurahan,
hingga makna kebahagiaan pun menjadi sangat rumit.
Liburan mewah di pulau Maladewa pun,
sering tak mampu meniup gelembung-gelembung kebahagiaan
di hati mereka.

Ada yang diperbudak oleh kesibukan,
hingga satu detik pun terasa sangat berharga.
Tetapi ada yang mencari-mencari kesibukan,
untuk membunuh waktu yang bergulir.

Tidak ada yang salah dengan mereka,
Karena hidup adalah tentang keberanian membuat pilihan,
atau dipilihkan.
Karena hidup adalah sekedar menjadi wayang,
dari sang dalang kehidupan.

Nottingham, 20/09/2015

Ilyas : Catatan Empat Tahun Usia mu

” Ilyas, am I your best friend? ” – Ayah
” YES, you are my best best friend ever, ayah !” – Ilyas

ilyas_4_yo_of

Ilyas is running. At a Random Place, Derbishire, UK

Empat tahun sudah Ilyas usiamu saat ayah menulis catatan ini. Empat tahun engkau mengisi hari-hari ayah dan bunda mu. Hari-hari yang tak pernah sehari pun, ayah lewati dengan penyesalan. Kehadiran mu, bagaikan taman indah yang tumbuh subur di hati ayah. Memang, kadang ayah jengkel dengan kenakalan tingkah laku mu. Tetapi itu, tak lebih dari sebuah tarbiyah yang mengajarkan ayah arti kesabaran.

Minggu yang lalu, kamu mendapatkan buku catatan akhir sekolah dari Nursery School (i.e. Nottingham Nursery Scool mu) mu. Sekolah yang kau sebut dengan, The brown school. Kamu selalu menangis tidak terima, jika ayah bercanda menyebutnya, the bad school. Catatan akhir itu adalah sebuah pertanda bahwa kamu akan meninggalkan sekolah ini untuk selamanya, dan setelah liburan musim panas ini kamu akan memasuki gerbang sekolah baru, primary school. Di sekolah nursery ini kamu selalu tampak bahagia. Tampak jelas, dari foto-foto yang didokumentasikan secara khusus untuk kamu di catatan akhir itu, kamu begitu menikmati setiap detik waktu mu di sekolah. Pantas saja, kau setiap selalu bersemangat pergi ke sekolah. Bahkan jikalau sekolah masih buka di hari libur, kamu pun penuh antusias untuk bergegas akan pergi ke sekolah.

ilyas_running

Ilyas is running even faster, Derbishire, UK, 2015

Di sekolah kamu punya teman dekat, best friend, Rafifa namanya. Tapi kamu memanggilnya, khafifah. Bocah cantik berparas ayu bak cinderela itu kebetulan anak dari teman dekat ayah di kota Nottingham ini. Dan bundanya juga berteman sangat baik dengan bunda kamu. Setiap pulang sekolah kamu selalu bercerita tentang khafifah. Bahkan dalam tidur pun, kau sepertinya sering bermimpi bermain bersamanya. Setiap acara kumpul-kumpul, kamu selalu dekat denganya. Meskipun kalian sama-sama berdarah Jawa dan berbahasa Ibu Bahasa Indonesia, obrolan kalian tak ubahnya obrolan dua orang anak British.

Semenjak sekolah, perkembangan bahasa mu sunggu luar biasa. Kamu sudah bisa bicara dalam bahasa Inggris sangat alamiah, dengan logat seperti layaknya anak-anak orang British kebanyakan. Meskipun lidah mu tetaplah lidah Jawa. Kosakatamu juga sudah sangat kaya. Bahkan ayah pun, sering mendapat kosakata baru dari kamu. Di rumah, kamu lebih sering berbahasa Inggris dengan ayah dan bunda. Kamu pandai menggambar, terutama menggambar kereta api. Kau pun sudah pandai menulis huruf dan angka, dan cukup pandai berhitung. Logika berfikir mu pun sudah sangat hebat untuk anak seusia mu. Kau hampir bisa menjawab dengan sangat baik, setiap pertanyaan logika yang ayah tanyakan setiap membacakan buku dongeng untuk mu.

ilyas_n_khafifa

Ilyas and His Best Friend, Khafifa, a random place at Lincoln, UK, 2015

Kamu punya segudang mainan di rumah. Hampir semua permainan anak-anak sudah kamu miliki. Tetepi, layaknya anak-anak seusia mu, kamu mudah sekali bosan dan selalu menginginkan mainan baru. Tetapi, ada mainan kesayangan kamu dari dulu hingga sekarang. Sebuah kereta api dari bahan metal berwarna hijau. Kamu tidak bisa tidur tanpa mainan kereta itu di genggaman mu. Ketika terbangun pun, mainan itu yang pertama kali kamu cari. Kamu pun akan menangis tanpa henti, jika green train itu, terselip entah dimana. Sampai sekarang pun, ayah masih heran dengan kegandrungan mu dengan kereta api yang terlalu berlebihan.

Ilyas, ayah merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia, saat diusia mu itu, kamu telah menjadi sahabat diskusi ayah yang hebat. Saat kau mulai pandai berlogika dan berkelit dengan pertanyaan ‘Why’ ayah. Dan kaupun, mulai terlatih membalas dengan lebih banyak bertanya ‘why’ daripada ‘what’ kepada ayah. Meskipun, pertanyaan dan jawaban mu terkadang teramat lucu dan menggelikan.

nott_nur_school_bye

Ilyas: Kesedihan Meninggalkan Gerbang Sekolah

Ilyas anak ku. Semoga kamu sehat selalu! Rajin belajar dan berlatih selalu ! Berlarilah yang kencang, mengejar takdir hidup mu. Semagat selalu menjalani setiap detik perjalanan hidup mu! Be a good boy forever ! Selamat berliburan musim panas. Gerbang sekolah yang baru, sedang menunggu mu ! Sukses buat mu selalu ! Semoga Allah senantiasa memberkati setiap jengkal langkah kecil mu ! Hati ku akan selalu ada untuk mu, meskipun kelak jika kau beranjak dewasa, kamu akan meninggalkan aku dan lebih menikmati dunia bersama teman-teman mu. Tetaplah, menjadi sahabat diskusi ayah yang terbaik! Jangan pernah berhenti berfikir ! Tapi, jangan lupakan senantiasa berdzikir ! Jangan mudah lelah dan menyerah, sebelum kau ambilkan gemintang yang berkelap-kelip itu, di kala hari perlahan beranjak dalam kegelapan, untuk orang-orang yang takut akan kegelapan. Dan untuk menjawab sejumlah tanya yang kau simpan, seperti, syair lagu yang sering kau nyanyikan : “Twinkle-Twinkle Little stars, how I wonder, what you are ?

Pertemuan dan Puncak-Puncak Kebahagian

pertemanan

Tuhan menjadikan episode pertemuan dan perpisahan dalam kehidupan manusia. Karena seseorang, Tuhan menjadikan diantara pertemuan dan perpisahan itu menjadi puncak-puncak kebahagian dan puncak-puncak kesedihan. Pertemuan yang ditunggu-tunggu selalu menjadi puncak-puncak kebahagiaan.

Seperti pertemuan seorang bayi dengan Ibu yang melahirkan nya.
Seperti pertemuan seorang anak kecil dengan teman dekatnya.
Seperti pertemuan seorang anak remaja dengan kekasih hati yang dirindukannya.
Seperti pertemuan seorang sahabat dengan sahabat karib nya.
Seperti pertemuan seorang suami dengan istri yang ditinggalkanya.
Seperti pertemuan seorang ayah dengan anak yang telah lama dirindukanya.

Dan…
puncak diantara puncak-puncak kebahagian itu adalah,
ketika seorang hamba bertemu dengan Tuhan yang menciptakan nya.

Ada lara di setiap kerinduan yang tersimpan, tetapi rindu selalu menyimpan puncak-puncak kebahagiaan.
Tuhan, sungguh kami rindu pertemuan dengan Mu suatu saat nanti.

Hidup, Mimpi, dan Angan-Angan

uon_lake
*) University Park, Universitas Nottingham

Dahulu, aku pernah berangan, untuk disini bersamamu melukis seribu kenangan.
Membingkai mimpi, saat datangnya keajaiban hidup sedang kutunggui.
Menatap biru langit mu nan indah, dipeluk awan, di cakrawala mu yang luas tanpa batas.
Menelanjangi hijau daun-daun pepohonanmu yang rimbun.
Menciumi wangi dari setiap kelopak bunga mu yang berwarna-warni.
Memerciki muka ku dengan air mu yang jernih.

Mengagumi bangunan mu yang kokoh nan menawan.
Menyapa orang-orang mu yang ramah nan santun.
Menapaki setiap jengkal jalan-jalan mu.
Menebar benih-benih harapan.
Dan di ujung menara itu, akhirnya himmah ku titipkan.

uon_lake_2

Dan perlahan mimpi-mimpi pun jadi kenyataan,
bersama datangnya kesadaran betapa ajaibnya hidup ini.

Sekarang, aku pun berangan
Segera meninggalkan mu atas keberhasilan
Bukan kegagalan, bukan pula keputusasaan
Untuk membentang deretan mimpi-mimpi yang lain.

Argh, beginikah hidup ini?
Bersandar pada angan ke angan yang lain.
Berlabuh dari mimpi ke mimpi yang lain.
Entahlah, sampai  kapan dia akan menepi?

Akan kah, dia akan tertambat pada pelabuhan ketenagan hati?
Bukankah hidup adalah tentang bagaimana menikmati? bukan mencari dan terus mencari?

Nottingham, 1 Mei 2014 (Yang Sudah Pengen Lulus Kuliah PhD)

Nerimo Ing Pandum : Berdamai dengan Ketidaksempurnaan Hidup

… tak perlu silau apalagi risau dengan kesuksesan dan kejayaan orang lain. Setelah yakin telah melakukan yang terbaik, terkadang kita hanya perlu berdamai dengan diri sendiri. Ikhlas dan ridho dengan ketetapan Yang Maha Menetapkan. Nerimo Ing Pandum kata orang Jawa. Karena itulah kunci pintu-pintu kebahagiaan, ketentraman, dan keberkahan  hidup. – a random thought.

nerimo_ing_pandum

**

Silaturrahim dengan orang yang sudah sepuh selalu menyenangkan bagi saya. Buat saya, mereka yang sedang menikmati hari tua selalu menjadi pemercik pelajaran tentang kebajikan dan kebijakan hidup yang selalu menyejukkan jiwa. Mungkin karena mereka sudah pernah merasakan muda, sementara kita yang muda belum pernah merasakan berproses hingga menjadi tua. Mereka seolah begitu arif dan bijak dalam memaknai hidup dan kehidupan ini. Memang menjadi tua tak selalu menjadi bijak, tetapi untuk menjadi bijak ada jalan panjang nan berliku yang harus ditempuh, kawan!

Seperti pagi itu, saya bersama istri dan anak semata wayang saya berkunjung ke rumah mbok Darmi. Mbok Darmi, bukan nama sebenarnya :p, dengan senyum dan air muka tulusnya yang tidak dibuat-buat seperti senyum karyawati  Alfa Mart, membukakan pintu rumahnya untuk kami. Beliau mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah joglo yang sederhana dan tidak terlalu besar itu, bahkan kecil untuk ukuran rumah di pedesaan. Beliau menggelar tikar mendong di tengah ruangan rumah yang masih berlantai tanah itu, kemudian mempersilahkan kami duduk dengan rumah. Berkali-kali beliau minta maaf atas keadaan rumahnya yang jikalau mungkin kurang berkenan buat kami. Dia juga maaf atas cucu lelakinya yang sudah remaja yang pagi itu masih tertidur pulas tengkurap di atas dipan kecil dari bambu yang juga berada di ruangan tengah rumah itu. Mata saya menyapu setiap sudut rumah sederhana itu, hanya ada satu kamar tidur kecil, ruang tengah, dapur dan kandang ayam. Bukan rumah mewah gedongan memang, tetapi entah kenapa sejak memasuki rumah itu ada kedamaian yang menyelinap dalam hati, sebuah keadaan yang justru jarang saya rasakan ketika memasuki rumah gedong yang mewah. Ingin rasanya berlama-lama berada dalam rumah itu, sambil mendengar simbok bercerita tentang hidup yang dia pahami.

Sebenarnya, maksud kedatangan kami adalah untuk memijatkan anak lelaki saya yang berumur dua tahun. Seperti anak desa pada umumnya, anak saya ini minimal satu kali dalam sebulan harus dipijit. Apalagi kalau sudah terlihat bawaanya rewel, Ajaib setelah dipijit rewelnya langsung hilang dan berganti dengan keceriaan, gelak dan tawa. Sambil, memijit perlahan tubuh anak saya yang terlihat sangat menikamati, mbok Darmi bercerita tentang hidup. Si mbok yang sudah berumur 90 tahunan tapi masih terlihat sehat ini, memulai kisahnya tentang anak-anaknya. Dengan tutur bahasanya yang halus, rendah hati, dan perlahan itu  Si mbok mengungkapkan rasa bangganya atas keputusan yang baru saja diambil oleh si ragil. Anak terakhir perempuanya itu baru saja memutuskan keluar dari kerja, dan memilih merawat anak dan mengabdi sama suaminya. Meski beliau yang banyak bercerita, tetapi si mbok sekali-kali menanyakan keberadaan kami. Sanjungan dan doa-doa tulus selalu keluar di antara tutur katanya yang menyejukkan itu. ” Cah bagus, Cah ayu, sing rukun, sing sabar, sehat, ayem, tentrem, gampang rejeki”  adalah di antara kata-kata yang keluar dari bibirnya.

Meskipun mungkin bagi pandangan orang pada umumnya, hidup mbok Darmi kekurangan. Tetapi saya menangkap kesan yang berbeda dari si mbok yang selalu memakai jarit dan baju kemben, pakaian khas perempuan-perempuan jawa jaman dulu itu. Beliau begitu ikhlas dan nrimo terhadap semua cerita hidup yang dia alami. Tak sedikitpun, beliau terlihat mengeluh apalagi menyesali atas kehidupanya. Sebaliknya, air mukanya memancarkan aura kesyukuran tanpa batas.

Setelah anak saya dipijit, kami pun pamit mohon undur diri. Sambil salaman, istri saya menyelipkan selembar uang untuk si Mbok. Dengan air muka tenang, si mbok berkata. Iya ini saya terima dengan penuh syukur, terima kasih sebanyak-banyaknya, mugi Gusti Allah sing mbales. Tapi ijinkan saya, sekali saja untuk memakai uang ini untuk nyangoni cucu saya yang satu ini. Uang itu pun diberikan kepada anak saya, yang sudah menggunakan jasanya. Saya pun meninggalkan rumah itu dengan hati menggantung dan penuh tanda tanya.

***

Senja itu kami sedang jogging lari-lari kecil menyusuri jogging track yang meliuk-meliuk bak ular memutari danau buatan di dekat gerbang pintu utama masuk ke area kampus kami. Sinar matahari yang hendak terbenam diufuk barat dan ikan-ikan yang berenang di dalam air danau serta rumput hijau yang terhampar luas membuat sore itu terasa indah apalagi sehabis seharian beraktivitas seharian di depan komputer di Lab. Setelah, satu kali putran, kami memperlambat kecepatan kaki kami, berjalan perlahan sambil memperhatikan ikan-ikan yang sedang berpesta dengan potongan roti tawar yang kami lempar ke danau.

Disamping saya, seorang anak muda berperawakan tegap, tinggi besar, dan berambut pendek. Kulitnya putih langsat dan wajahnya tampan. Sebuah tampilan fisik yang sangat sempurna mungkin buat anak-anak gadis remaja. Sebentar lagi, dia akan diwisuda dan mendapat berbagai penghargaan sangat bergengsi sebagai lulusan dengan capaian terbaik baik dalam akademik maupun non akademik. Menariknya, penghargaan itu akan diberikan langsung oleh seorang Mantan Perdana Menteri yang sangat dihormati di negara itu. Dalam hati saya berbisik,  luar biasa dan beruntung sekali anak Indonesia lulusan sekolah islam di bilangan Serpong, Jawa Barat ini. Mungkin semua orang maklum dengan penghargaan itu, karena tidak saja prestasi akademik di Jurusan gabungan ilmu Bisnis dan Ilmu Komputer nya yang luar biasa, dia juga mantan ketua perhimpunan mahasiswa internasional di kampus kami.

Sambil kami terus berjalan, sesaat dia bercerita tentang rencana kedepan setelah dia lulus. Menurutnya, ada tiga hal yang harus dia capai dalam hidupnya. Yang pertama pendidikan setinggi-setingginya. Oleh karenanya, dia akan berjuang kembali mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri demi gelar masternya. Dia memang mendapatkan beasiswa penuh untuk gelar sarjananya. Yang kedua, financially growth, dia harus mandiri secara finansial. Oleh karenanya, suatu saat dia akan memilih menjadi pengusaha seperti keluarganya pada umumnya. Yang ketiga, socially contributed, dia harus juga berkontribusi terhadap lingkungan sosialnya termasuk terhadap agamanya. Dengan air muka sangat optimis dan ambisius, dia terlihat sangat yakin akan mampu mewujudkan semua mimpi-mimpinya itu. Hanya rasa kagum yang berlanjut dengan perasaan inferior yang menyelinap di dalam hati saya ketika berada di samping kawan saya yang luar biasa ini.

Belakangan saya tahu, di hari wisuda yang dinantinya itu  sang Perdana Menteri  berbisik kepadanya, ” You have every thing, just make it happen, Good Luck!” Dan belakangan saya juga tahu, kawan saya ini berhasil mewujudkan semua mimpi-mimpinya. Setelah gelar master berhasil dia dapatkan dengan beasiswa dan sederet penghargaan dari sebuah negara kaya raya di Timur Tengah. Tidak hanya sukses sebagai pengusaha, dia juga terkenal sebagai motivator dan penulis buku-buku national best seller . Bangga rasanya, tahu bahwa buku-buku best seller yang terpajang di toko buku itu penulisnya adalah orang yang saya kenal. Begitu juga ketika dia diundang sebagai pembicara oleh mahasiswa-mahasiswa di kampus saya mengajar, bangga rasanya kalau si pembicara itu adalah pernah jadi teman mbolang saya. Dia pun dikaruniai istri yang sangat cantik dan cerdas yang kebetulan juga saya kenal. Kebahagian itu bertambah sempurna dengan kehadiran buah hati mereka. Beruntung sekali kawan saya satu ini, diusianya yang lebih muda dari saya, dia sudah mendapatkan apa yang diimpikan oleh banyak orang. Dan saya pun hanya bisa mengagumi dan mendoakannya dari jauh.

****

Argh… kawan! itulah sawang -sinawang hidup. Setiap kita memiliki kenyataan hidup yang berbeda. Dan kita hanya melihat semuanya dengan seolah-olah. Padahal, pandangan seolah-seolah itu sering kali menipu. Seorang yang terlihat sangat kuat, sering kali kita tahu ternyata kenyataanya begitu rapuh dan lemah. Begitu juga sebaliknya, seorang yang kita pandang sebelah mata terlihat rapuh, tetapi sebenarnya sangat kuat dan luar biasa!

Kawan! sering kali kita hidup terjebak diantara bayang-bayang ambisi, keinginan, mimpi dan angan-angan kita. Seringkali, itu membuat kita lupa bahwa disana ada yang mengatur dan mengendalikan hidup kita. Jika ternyata ambisi, keinginan, mimpi, dan angan-angan kita terbentur dengan kenyataan yang ada. Janganlah frustasi, mengeluh, apalagi berputus asa. Sekuat tenaga kita berusaha, kita tetap tidak wajib untuk berhasil. DIA lah yang maha menentukan.  Jika kita sudah yakin telah melakukan yang terbaik, terkadang kita hanya perlu berdamai dengan diri sendiri. Ikhlas dan ridholah dengan ketetapan Yang Maha Menetapkan. Nerimo Ing Pandum kata orang Jawa. Qanaah kata orang Arab. Karena itulah kunci pintu-pintu kebahagiaan, ketentraman, dan keberkahan  hidup.

Semoga Tuhan menganugerahi kita keberkahan hidup senantiasa selalu, di dunia dan kehidupan setelah dunia ini berakhir, Ammiin!!