… datang tak diundang, pulang ngacir sendiri, itu jailangkung bukan teman – a random thought

tanjung_aan_3
a random illustration

Pola interaksi sosial antar manusia kadang memang lucu, salah satunya adalah dalam interaksi pertemanan. Ada teman dekat, yah teman karena secara fisik berdekatan dengan kita. Ada teman say hello, teman yang sekedar kenal nama dan tahu tempat tinggal/kerja doang tak pernah ngobrol heart to heart. Ada teman sejati, teman yang awet terus, tahan lama, meski sudah punya kehidupan sendiri-sendiri masih saja keep in touch. Yang ini berteman ya sekedar berteman saja tanpa ada niat yang lain. Ada teman bitonah, alias teman penjilat. Yang satu ini nih, berteman with purpose. Elu kudu ati-ati!

Belakangan ada lagi varian baru, namanya teman jailangkung.  Dia tidak masuk varian teman di atas. Tidak termasuk juga bitonah. Teman tipe ini suka muncul tiba-tiba dan menghilang tanpa jejak tiba-tiba juga. Eh, setelah jangka waktu yang lama kemudian muncul kembali secara tiba-tiba, dan menghilang lagi dan repeat! Jelas teman tipe ini tidak merugikan, tapi lucu sekali macam Jailangkung.

Jika sedang muncul, kita dibuat merasa orang paling penting banget buat dia. Eh, begitu kita sambut hangat, akan segera menghilang tanpa pesan, meninggalkan setumpuk tanda tanya. Membuat jengkel sih, eh tapi kok juga ngangenin haha. Benar-benar varian teman yang lucu.

Ada yang punya teman varian ini?

Advertisements

…. aku hanya ingin berteman, berteman saja, titik. – a random thought

 

berteman
Ilustrasi : berteman

 

Banyak yang bilang, pola hubungan orang-orang modern di jaman sekarang, tak ubahnya hubungan para politisi di senayan. Tidak ada teman dan lawan sejati, yang ada  hanyalah kepentingan sejati.

Kita berteman semata karena ada sebuah kepentingan, ketika kepentingan berlalu, pertemenan pun berlalu saja.

Kita berteman hanya karena kebetulan kita berada di lini ruang dan waktu yang berhimpitan, begitu lini itu berjauhan, pertemenan pun menjauh begitu saja, usang
dimakan waktu.

Tetapi, hidup selalu menyimpan pengecualian-pengecualian. Aku kadang merasa sangat bersyukur, ditakdirkan masih memiliki beberapa teman atau lebih tepatnya sahabat yang berteman ya karena berteman saja. Walaupun jumlahnya lebih sedikit dari jumlah jari dalam satu telapak tangan.

Berteman karena sekedar berteman saja,  hubungan kami tak terjebak dalam ruang kepentingan yang sempit. Tak lekang dimakan waktu yang terus berjalan. Tak berubah walau terpisah ruang yang berjauh-jauhan. Kami berteman dari anak-anak tumbuh remaja, mendewasa hingga kini mulai menua.

Sebenarnya, aku bukanlah pribadi yang suka berteman. Aku bukanlah pribadi yang baik hati, supel dan pandai bergaul, bahkan sebaliknya aku lebih asyik dengan diriku sendiri. Karenanya, aku sering merenung, bertanya-tanya mengapa mereka ditakdirkan Tuhan di sekelilingku?

Pada teman ku itu belajar banyak hal tentang kehidupan, yang tidak banyak ku temukan pada manusia-manusia kebanyakan di Jaman sekarang. Menurut ku, teman-teman  ku itu makhluk langka di jaman ini.

Saat orang-orang berlomba-lomba merengkuh keunggulan diri, mereka malah memilih menempuh jalan sunyi, menebar kejujuran dan ketulusan hati. Ijazah kampus ternama pun disimpan rapi di dalam lemari.

Saat orang-orang sikut-sikutan berebut menjadi yang terdepan, teman-teman ku lebih asyik bekerja sangat-sangat keras di belakang layar.

Saat orang-orang memuja gengsi, menuhankan kemewahan materi, teman-teman ku lebih memilih kesederhanaan dan kebersahajaan hidup. Bergaul dengan orang-orang biasa di dalam gerbong kereta dan bus ekonomi lebih membahagiakan mereka daripada duduk nyaman sambil selfie di mobil mewah sendirian.

Berdiskusi dengan para petani dengan bau keringatnya yang menyengat lebih menggairahkan mereka daripada berdiskusi dengan para manajer dan direktur perusahaan dengan dasi nya rapi dan wangi.

Sekali lagi, sungguh aku beruntung berteman dengan mereka. Karena mereka, aku mampu melihat dunia dengan cara yang berbeda. Semoga pertemenan kita tetap apa adanya selamanya!