Tanjung Ann

Tanjung Aan: Sepotong Cerita

… bukankah hidup hanya sekedar senda gurau dan sebuah permainan belaka? – a random thought

tanjung_aan_1

Tanjung Ann: Bandulan

Lombok, apa yang terlintas di benakmu kawan jika melafalkan satu kata ini? Pedas, syurga, duka, ataukah lainya?

Pedas bisa jadi terlintas jika sampean pecinta kuliner dengan bumbu lombok yang berkasta-kasta ituh. Syurga, jika sampean pernah menikmati keindahan alam pulau Lombok. Duka yang mendalam, jika kita mendengar kabar bencana gempa yang belakangan bertubi-tubi menimpa pulau ini. Allahu yarhamhum, Semoga Tuhan merahmati sauadara-saudara kita disana yang sedang dirundung duka.

tanjung_aan_2

Tanjung Ann: Perahu Nelayan

Kota seribu satu masjid begitu orang-orang sering menjulukinya. Mungkin orang-orang membandingkan dengan Pulau Sebelah, Bali. Pulau Dewata, Pulau seribu satu pura. Yang jelas kedua pulau ini sama-sama di anugerahi keindahan pantai yang luar biasa. Sama-sama pulau seribu satu pantai yang cantik.

Selama beberapa hari berkunjung di Pulau ini, ada dua masjid dan dua pantai yang aku kunjungi.

tanjung_aan_3

Anak-anak Pantai: Tukang Foto

Masjid pertama yang aku kunjungi adalah masjid kota Praya. Seorang alumni kampus tempat ku mengajar, yang berasal dari kota ini, mengantar kami jalan-jalan keliling kota Mataram dan sekitarnya. Di kota ini, ingatanku langsung tertuju pada sosok seniorku dulu di pesantren, yang terkenal paling pintar dan paling tekun belajar. Yah, sang senior yang kegigihanya ‘nggegiri’ dan sangat menginspirasi itu lahir di kota Praya ini. Kami terakhir ketemu di Kota Luven, Belgia, akhir Agustus 2013. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan hidup kepadanya dan sekeluarganya.

tanjung_aan_5

Anak-anak Penjual Manik-manik

Masjid yang kedua yang kami kunjungi adalah Masjid Islamic Centre di Pusat Kota Mataram. Masjid yang begitu buesar, megah dan indah itu berdiri gagah memesona di jantung kota. Seolah menjadi landmark, pertanda kejayaan islamnya masyarakat di kota ini. Jangkar ingatanku tiba-tiba tertambat pada masjid jamik Kota Pekanbaru, Riau, yang kemegahanya 11-12 dengan masjid ini.

tanjung_aan_4

Pantai Kuta Mandalika

Dari masjid dan pusat oleh-oleh, kami menyusur pantai-pantai di Pulau ini. Tanjung Aan, menjadi pantai pertama yang kami susuri. Sekilas namanya ke eropa-eropaan. Atau kejawa-jawaan, jika dua hurufnya dibaca dengan jeda: a-an.

Pasirnya putih bersih, airnya kehijau-hijauan, dengan panorama bukit-bukit di ujung-ujung penglihatan. Layaknya penikmat pantai pada umumnya, orang-orang berenang, bermain kejar-kejaran dengan ombak, atau sekedar membuat kastil pasir di pinggir pantai. Yang tak pernah luput: foto-foto untuk dipamerkan di media sosial. Biar seolah-olah terlihat bahagia hidupnya, tidak kurang piknik. Hehe, buat kita orang Indonesia, justru itu yang lebih penting daripada menikmati keindahan pantainya bukan?

Lain cerita dengan bule-bule yang begitu khusuk menikmati alam. Seolah bule-bule itu ingin menyatu dengan alam. Membiarkan tubuhnya terlentang beralaskan pasir pantai, tersengat matahari, dan terhempas ombak di bibir pantai. Aku jadi paham mengapa pantai-pantai di Lombok belakangan kabarnya lebih menarik peminat daripada Bali. Pertama, mungkin sudah pada bosan dengan Bali. Kedua, pantai-pantai di Pulau ini, setidaknya Tanjung Ann, belum over-industrialised. Belum banyak di ‘make over’. Kecantikanya masih alami. Beberapa perahu nelayan, bersandar di bibir-bibir pantai. Belum ada hotel atau restoran di sekitar pantai.

Yang paling menarik perhatianku adalah anak-anak lokal yang mencoba peruntungan di pantai ini. Anak-anak usia sekolah itu mencoba berebut uang dari para pengunjung pantai. Ada banyak caranya. Ada yang berprofesi sebagai fotografer. Anak-anak itu menawarkan jasa memfotokan pengunjung dengan kamera smartphone pengunjung. Bukan sekedar asal jepret. Meski anak-anak itu tak memiliki smartphone, tetapi anak-anak itu sangat lihai membuat efek foto yang lebih epic dan dramatic. Jika sampean puas, anda cukup membayar mereka dengan imbalan uang seikhlasnya.

Ada juga anak-anak, khususnya anak-anak perempuan, yang jualan manik-manik. Manik-manik dalam bentuk gelang tangan, kalung, atau lainya. Mereka akan mengejar-ngejar pengunjung, hingga sang pengunjung pun mengalah untuk terpaksa membeli barang-barang mereka. Buatku, anak-anak itu luar biasa. Anak-anak pantai yang gosong eksotik kulitnya dan menguning rambutnya itu begitu gigih. Aku juga suka kepolosan dan senyum-senyum manis mereka yang alamiah. Dan mereka menjalani kegiatan jualanya itu tanpa beban, seolah tak lebih dari sekedar main-main saja. Bukankah hidup hanya sekedar senda gurau dan sebuah permainan belaka?

Di pantai Kuta Mandalika pun kurang lebih sama. Anak-anak pantai yang berjualan manik-manik, dan emak-emak yang berebut pengunjung untuk menawarkan kain sarungnya. Berbeda dengan anak-anak, pada emak-emak ini kulihat sendu di wajahnya. Guratan wajahnya seolah pertanda betapa beratnya ketidakpastian hidup yang harus mereka jalani. Bahkan ketidakpastian: sekdar besok makan apa tidak?

Sayang, Pantai Kuta Mandalika di petang hari yang sudah surut airnya, kurang dapat dinikmati keindahanya. Tetapi kenangan kecerian dealing with anak-anak dan emak-emak yang berburu rejeki di pantai itu, begitu melekat di dalam hati.

Advertisements