Advertisements

Tag Archives: tahlilan

Selametan dan Politik Pergaulan Ala Orang Jawa

… saya pikir tradisi selametan, kendurenan, atau apalah namanya tidak sekedar ritual mencari keselamatan yang pada akhirnya mendapat legitimasi agama, tetapi juga sebuah politik pergaulan untuk menjaga hubungan sesama manusia tetap harmonis, rukun, tanpa syak wasangka. – A Random Thought.

kenduren

Orang Desa Sedang Kenduren (Dok. Pribadi)

Setiap kali pulang ke Wonoasri, kabupaten Madiun, tempat ndalem mertua saya, ada satu hal yang saya tunggu-tunggu, yaitu kendurenan. Tak lama selepas sholat maghrib usai, bapak mertua saya biasanya, tunuk-tunuk masuk rumah sambil membawa tas keresek berisi wakul nasi. Wakul itulah yang namanya berkat atau brokohan yang merupakan penyesuaian lidah orang Jawa untuk bahasa Arab Baarokah . Selalu, Bapak  menyerahkan berkat spesial untuk saya dan istri saya. ” Ndang kono gek ndang dipangan, entekno dewe kambek bojo mu “.  Sejurus kemudian, saya pun langsung ndeprok nang jogan menyantap lahap berkat itu dengan tangan telanjang, tidak pakek sendok bersama istri saya. Beuh, sungguh nikmatnya ndak ada tandinganya. Semua masakan di restoran-restoran mahal di kota Surabaya pun lewat. Kata emak saya, karena mambu dungo lah yang membuat berkat itu nikmatnya menjadi berlipat-lipat. Patutlah, dinamakan berkat, yang dalam bahasa Arab (baarokah) artinya bertambahnya kebaikan, bertambahnya energi positif.

Apalagi, buat cah balungan ndeso yang kebetulan hidup sehari-hari di tengah masyarakat urban seperti saya ini. Westalah pokoknya masakan ndeso tetep yang nomer satu. Ada dua menu yang selalu ada dalam setiap berkat, yaitu ingkung dan urap-urap. Ingkung itu ayam kampung utuh yang dimasak dengan cara dipanggang atau dibakar, sedangkan urap-urap itu ya sayur-sayuran yang direbus, kemudian dicampur dengan sambal yang diuleg dengan parutan kelapa muda. Terus dimakan dengan nasi yang pulen nomor 1, wuih sempurnalah sudah kenikmatan ritual makan malam saya.

 

kenduren_infkung

Ingkung, ayam kampung bakar atau panggang (Dok. Pribadi)

Yang saya heran, berbeda dengan kampung saya di Banyuwangi, di Madiun yang namanya selametan ini hampir ada setiap hari. Ada saja yang punya hajatan. Ada yang sekedar syukuran, ada yang karena mau membangun rumah, telonan (hamil 3 bulan), tingkepan (hamil 7 bulan), kelahiran bayi, sepasaran (bayi umur 5 hari), aqiqahan, selapanan (bayi umur 40 hari), tidak sinten (bayi umur 7 bulan), pernikahan, karena habis membeli sepeda motor atau mobil baru dan hal-hal berbalut kebahagiaan lainya. Tak hanya karena kebahagiaan, selametan pun juga diadakan karena kedukaan. Selametan pada  hari h, ketika salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia, dan pada  7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun, dua tahun, hingga seribu hari setelahnya. Bahkan, ada yang mengadakan khoul setiap tahunya, yaitu setiap hari ulang tahun kematian. Tetapi, khoul ini biasanya hanya untuk orang-orang tertentu saja, kyai atau orang-orang yang dituakan di kampung. Begitu tumpah ruah nya ritual selametan ini pada tradisi orang jawa di kampung.

Selametan dan Legitimasi Teks Agama

Lalu, bagaimana hukum selametan menurut Islam? Bagi mereka yang belajar agama hanya dari kegiatan Rohis sekolah atau kegiatan lembaga dakwah kampus di masjid sekolah atau kampus saja, apalagi mereka yang hanya nyantri ke Mbah Kiai Google pasti akan mengatakan segala macam bentuk selametan itu sebagai bentuk Bid’ah dan setiap pelaku Bid’ah itu pasti masuk neraka, dengan dalil mereka yang selalu diucapkan berulang-ulang setiap khutbah jumat:

Kullu bid’ah dholalah. Wakullu dollalah Fin Nar ( Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap pelaku kesesatan itu di Neraka)

Kuping saya langsung terasa panas, setiap kali mendengar khutbah di masjid yang telah dikuasai oleh kelompok itu. Untungnya, para wali dan kiai yang menyebarkan Islam di tanah Jawa itu bukanlah ulama karbitan yang hanya nyantri dari mbah kiai Google. Sehingga mereka bisa memahami Islam secara komperehen. Para wali dan kiai itu bisa membedakan mana yang isi dan mana yang bungkus. Bisa membedakan mana yang esensi agama dan mana yang hanya persoalan budaya. Makanya, para kiai itu, meskipun berpuluh-puluh tahun nyantri langsung ke syaikh besar langsung di Arab dan Madinah, begitu pulang ke Indonesia tetap menjadi orang Indonesia. Yang lebih senang memakai sarung dan peci, ketimbang jubah hitam dan syurban ala orang Arab.

Memang benar bahwasanya budaya selametan itu adalah tradisi orang Jawa yang sebelumnya memeluk Agama hindu. Tetapi kemudian Islam datang memaknai secara berbeda. Bungkusnya boleh jadi sama, tetapi isinya sudah berbeda. Perihal selametan misalnya, di masyarakat muslim Jawa, selametan bukan lagi persembahan untuk roh atau dewa-dewi, selametan itu dimaknai ulang sebagai kegiatan memberi sedekah atau hadiah. Jika kepada orang yang tak berpunya, bisa berarti sedekah. Jika kepada yang lebih berpunya bisa diartikan hadiah.

Jelas, dalam teks agama, dengan mudah bisa ditemukan dalil tentang betapa dianjurkanya sedekah dan memberi hadiah ini. Untuk sedekah ada dalil (Hadis):

Assodaqatu Daf’ul Bala’ (Sedekah itu bisa menolak balak)

Ini kan sangat relevan dengan kata selametan. Dari dalil di atas kita bisa memahami, jika ingin terhindar dari bala’, alias selamat, ya kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Tidak salah dong kalau kegiatan memberi sedekah ini, jika pada akhirnya dimaknai selametan alias mencari selamat.

Perihal anjuran saling memberi hadiah pun, mudah sekali ditemukan legitimasi teks agamanya. Sebagai contoh, ada hadis yang mengatakan:

Tahaduu Tahaabu (Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai . HR. Bukhori)

Siapa sih, orang kaya pun, yang tidak senang diberi hadiah? Siapa sih, yang tidak senang ditraktir makan? Betapa ya, seorang kanjeng nabi itu seorang yang sangat humanis. Sangat mengerti setiap inchi sudut sisi-sisi kemanusiaan kita.

Jadi, selametan itu nothing to do with ritual keagamaan, Jadi tidak bisa dipahami dengan kacamata fiqih ibadah. Tetapi harus dilihat dari kaca mata fiqih sosial, dimana tradisi selametan ini, dimaknai ulang sebagai implementasi dua hadis nabi di atas. Jadi ndak perlu merasa kebakaran jenggot sampean yang panjang Pak De, jika kami mempertahankan tradisi kami. Biarlah kami memahami agama yang berbeda dengan yang sampean pahami !

Selametan dan Politik Pergaulan

ilyas_dan_azza

Ilustasi : Dua Bersahabat, Azza dan Ilyas (Dok. Pribadi)

 

Terlepas dari sudut pandang agama, dari sudut sisi-sisi kemanusiaan dasar manusia. Saya melihat ada kearifan lokal dibalik tradisi selametan ini. Setiap menelan satu puluk berkat dari selametan tetangga, saya membatin betapa bahagianya keluarga tukang becak malam ini, yang pulang tanpa selembar rupiah karena sepi penumpang, tetapi malam ini, keluarga tukang becak masih bisa kenyang dengan hidangan yang nikmat, ingkung ayam kampung bakar ditambah rasa lapar yang sangat, pasti akan membuat kenikmatan berkat itu menjadi berlipat-lipat. Betapa bahagianya juga, keluarga si Juragan Minyak malam ini, rasa kangen akan makanan ndeso terobati sudah.

Disini, kita bisa melihat, bagaimana tradisi selametan ini memainkan politik penting dalam menjaga keharmonisan dalam pergaulan. Kita tahu, dimana pun berada, hidup bersinggungan dengan orang lain itu tidaklah mudah. Hidup bertetangga, hidup dengan sesama teman sekantor, sering kali timbul gesekan, perang dingin, maupun perasaan iri dengki, perasaan tidak suka dalam hati. Bukan rahasia lagi, sering kali kita melihat orang yang tidak akur dengan tetangganya. Sering kali, di kantor kita melihat persaingan yang sering kali tidak sehat untuk berebut jabatan. Sering kali, dalam dunia usaha, kita melihat praktik-praktik persaingan tidak sihat.

Memang, katanya, pada dasarnya Manusia itu tidak bahagia melihat orang lain bahagia. Disinilah, politik pergaulan ini penting untuk diterapkan. Ya, tidak harus dengan mengadakan selametan tentunya. Tapi, esensi dari selametan yaitu sedekah dan hadiah. Terhadap orang yang kurang beruntung, sudah sepantasnya kita memberi sedekah dalam artian memperhatikan nasibnya. Jangan hanya memikirkan gaji kita sendiri yang maunya naik sendiri, tetapi tidak peduli dengan gaji bawahan kita. Terhadap yang setara, alangkah indahnya, jika kita sering-sering saling memberi hadiah, saling mentraktir.

Saya jadi ingat salah seorang Ustadz saya di pesantren. Setiap makan bersama di kantin, sesama teman satu asrama, daripada bayar dewe-dewe, kita dianjurkan untuk saling mentraktir. Misal kalau pas makan pagi Si A mbayari Si B, nanti pas makan malam gantian Si B mbayari Si A. Walaupun ujung-ujung nya sama-sama impas, tapi jelas nilainya berbeda. Ada kebagiaan tersendiri, ada tumbuh perasaan saling mengasihi, ketika kita saling mbayari tersebut. Dan itulah, penghapus perasaan iri hati, dengki, srengki dan berbagai penyakit hati lainya. Yang pada akhirnya akan membuat pergaulan kita  dengan sesama menjadi penuh harmoni.

Hayo, siapa sekarang yang mau memberi hadiah dan mentraktir saya? Ane siap Gian !

Advertisements

Presentation Rehearsal and Tahlilan

my_ppt

It was Sunday (23/06/2013). It was a quite sunny day. And the big thing was that it was a day before the day of my first year review Viva. In the morning I lay down my body to my bed while reading my report and checking my presentation file. I added some notes on my presentation slides to help my self  finding the clue what I should say during the presentation.

In the afternoon, I went to the campus, at the University building along with Arif and Pak Isa. We went to Portland building for making Dhuhur prayer jamaah. As usual, at weekends the mosque is so quiet, there were few brothers came to the mosque. After Duhur prayer, we went to Hallward library. I managed to carried out rehearsal for my presentation tomorrow. It  was not my habit, indeed. I am not perfectionist willing to perfection for everything. I much prefer spontaneous on what  everything I did, and I really enjoyed it. However, I just read a quote.

It will never work completely for the first time. Trust Me !

that changed my mind to at least make a preparation for the Viva. Really, it was one of the most important point of my long PhD journey that will confirmed my PhD student status. If I am FAILED, my PhD studies will be terminated and I will be kicked out from the University. It will be very embarrassing me, isn’t it?

In the library, I we met Mas Walid looking for some referential books for his Master dissertation. Luckily, he agreed to see my presentation. I was so happy then. I booked a discussion room at the ground level of the library.  It was well-equipped discussion room. a PC with Wide-screen LCD  monitor, electronic color marker, and cozy tables. So, I had three audiences at the moment. Arif recorded video of my presentation and Mas Walid kept the time. The actual presentation will be 15 minutes only. So, I must manage my time wisely in order to keep my presentation material delivered thoroughly well.

Then, I started my presentation seriously. I pretended that I was in the real examinations. Mas Walid, Arif, and Pak Isa also looked serious pretending that they are my real examiners. As usual, at the beginning of my presentation I felt very nervous. Although it was simply rehearsal, but I still felt quite nervous. It made me have some language barriers. I wanted to say something, but I did not find words to say. It made my presentation rather annoying. But, after five minutes, I felt comfort and confident delivering my presentation.

rehearsal

After the presentation, I got valuable feedback from mas walid, arif, and pak Isa. They enthusiastically gave me encouraging comments and feedback. They said I told too much at the beginning that make the presentation boring. But, overall the presentation was quite clear. I spent 28 minutes to finish my presentation, whereas I should spend not more than 15 minutes. All in All, I should deliver the presentation more concisely by skipping unimportant part of my slide. Arif suggested to reduce the number of my presentation slides. Thanks dude. I felt very lucky to have them.

After the presentation rehearsal, we went home. We would held “tahlilan” and “istigotsah” in Arif ‘ house after Ashar. So, we prepared the food for it. I and arif cooked Mie ayam aka Chicken Noodle, Mas Walid cooked pisang goreng aka fried banana, and Pak Isa prepared Telo goreng aka fried cassava and sweet potatoes. It was so amazing that all the chef were men. Somehow, sometime cooking is enjoyable.

By the way, it was our first experience to cook chicken noodle. We had no experience before how to make it. Luckily, Arif got the algorithm (we called it instead of recipe) from his lovely wife.  We just follow, step by step instruction we had written on a piece of white paper. But, we did not follow exactly how much the proportion of the ingredient suppose to put in. We just followed our instinct.

The secret behind the chicken noodle was the truly Indonesian ingredients such as Kunyit aka Turmeric , Jahe (ginger), and Laos (galingle).  Those make distinction on the food we made.

After everything was ready at 5 PM. Thanks God, Pak Hadi Susanto also came on time. He is Indonesian who become  a lecturer in Mathematical Science department in the University of Nottingham. We are proud of him. He came with his oldest son. Other Indonesian friends i.e.   Pak Sukirno and Pak Abdurrahman also came to Arif house. We started with Ashar Prayer jamaah, and eat together. and it was our master piece the “Mie Ayam” aka chicken noodle with ABC soy sauce, the top brand soy sauce in Indonesia.

Finishing the food, we start the main “course” Tahlilan. It was the first time we held Tahlilan in Nottingham. In Indonesia, especially in rural area, Tahlilan was regularly held in weekly basis on every Thursday night.  After Tahlilan, Pak Hadi delivered his encouraging speech as we requested for. He shared his experience when he studied for his master and doctoral degree in TU Delf, in Holland. Living in the country so far away from home land, He strongly encouraged us to frequently get together with Indonesian friends in order to encourage each other, to advise and remind each other. Because living far away from family is not easy thing and the passion of studying in the University is sometime up and down.  Again, like in other live, it is not problem-free life. Thus, we need some one else to share with. He also reminded to build networking with people from other countries by socializing with them. It would be worthy to do and fruitful in the future.

He also shared  his experience dealing with PhD students as well as How to succeed as PhD student in the University. He gave some example of students who failed their PhD. He explained in detail Why some students failed their PhD either in their annual review or in the final Viva foce. It was so beneficial us as PhD students in the University. Thanks a lot Pak Hadi.

To be remembered in the future time, here we were:

weare

From left to right : Pak Abdurahman (Phd Student at School of Biology, The University of Nottingham), Pak Isa (Phd Student at School of Media and Communication, The University of Hul), Pak Hadi Susanto (Lecturer  at School of Mathematical Sciences, The University of Nottingham), Mas Walid Ishom (M.A Student at School of School of Sociology and Social Policy, The University of Nottingham), M. Ziaul Arif (M.Sc. Student at School of Mathematical Sciences, The University of Nottingham), Pak Sukirno (Ph.D. Student at School of Animal Sciences, The University of Nottingham), Mas Alaudin (Ph.D. Student at School of Chemistry, The University of Nottingham), and Me (Ph.D. Student at School of Computer Sciences, The University of Nottingham).

We had the same background, we were the members of Nahdlatul Ulama (NU)-the largest Islamic mass organisation in Indonesia, UK chapter. We would held Tahlilan regularly in monthly basis.

Thanks God, for the day.