Tag Archives: suwong

Rumah Suwong Mbokde

“… dari perjalanan  hidup mbok de yah, aku sedikit banyak belajar tentang runyam dan rumitnya melakoni bahtera rumah tangga yang tak semudah dan seindah yang kebanyakan dipamerkan di media sosial belakangan” – a random thought.

img_20190623_131841

Bahtera di Laut Selatan Pulau Jawa

Bulan lalu, paripurna sudah selamatan kepergian mbokde yah ke alam barzah. Seribu hari sudah mbok de yah meninggalkan alam dunia yang fana dan banyak kepalsuan ini untuk selama-lamanya. Semua anak-anak mbokde yah: Yu Siti, Kang Jon, Mbak Sur, Mbak Nurul semuanya datang berkumpul di rumah peninggalan almarhumah itu.  Satu-satu nya anak mbokde yang tidak hadir adalah Kang Malik, yang kebetulan satu-satunya anak ragil mbok de yang merantau di Larantuka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sepeninggal Pakde Sodir dan Mbokde yah, rumah yang tepat di sebelah rumah kanan rumah ku- rumah orang tua ku lebih tepatnya, itu menjadi suwung alias tidak berpenghuni. Sesekali digunakan untuk acara selamatan sekaligus reuni anak-anak mereka mulai selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, pendak 1, pendak 2, hingga 1000 hari dari kematian beliau berdua. Kini, setelah habisnya selamatan mbokde, rumah itu benar-benar suwung.

Sebenarnya, hak waris rumah ini jatuh ke tangan Kang Malik. Berhubung yang bersangkutan merantau, jadilah rumah itu suwung entah sampai kapan. Hari gini, semakin sedikit anak muda yang masih mau bertahan hidup di desa. Apalah yang bisa diandalkan dari ekonomi pedesaan selain bertani? menjadi petani? ah yang bener saja, mana ada anak muda jaman sekarang yang mau hidup sederhana?

Buat ku, rumah mbokde yah, yang tidak lain adalah kakak tertua bapak ku, menyimpan banyak kenangan. Aku ingat betul waktu rumah itu dibangun, aku masih kanak-kanak dan hampir tiap malam ketika rumah itu masih dalam proses pembangunan, kami jadikan untuk main jumpritan alias hide and seek.  Sebelum rumah itu dibangun, bentuknya melebar, dimana posisi dapur berada di samping kanan rumah. Sedangkan rumah yang baru bentuknya memanjang dengan dapur di belakang.

Karena rumah kami bersebelahan, banyak memori ingatan tentang pak de dan mbokde yang tertinggal di sudut kepala.

Seperti lazimnya orang-orang desa pada umumnya, mereka adalah pasangan petani. Yang sehari-hari, tanpa mengenal weekend dan hari libur, waktunya dihabiskan di sawah. Selain di sawah pakde juga memelihara kerbau yang gemuk-gemuk. Pakde terkenal berbakat memelihara hewan ternak. Meski tidak ada yang istimewa, tetapi entah mengapa ternaknya beranak pinak dengan cepatnya.

Jika musim bertanam padi tiba, kerbau itu digunakan untuk menyingkal dan menggaru tanah sebelum ditanami padai. Tidak hanya untuk sawahnya sendiri, pakde juga melayani jasa menyingkal dan menggaru milik orang lain. Memelihara kerbau pada saat itu lumayan menguntungkan, sebelum akhirnya tenaga kerbau itu tergantikan oleh mesin. Selain, berbakat beternak kerbau. Pak de juga berbakat menanam pisang. Tapi hanya untuk satu jenis pisang saja yaitu pisang hong.

Hal lain yang terkenang dari Pakde adalah keahlianya membuat wayang dari batang daun singkong. Di sela-sela ngarit, mencari rumput di ladang untuk ternaknya. Sambil leyeh-leyeh melepas lelah, di bawah pohon singkong yang rimbun di ladang, pakde lihai membuat berbagai wujud tokoh pewayangan lengkap dengan detailnya. Mulai dari tokoh janoko alias arjuno hingga tokoh semar. Andai saja waktu bisa diputar kembali, ingin sekali aku diajari.

Sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya, kehidupan rumah tangga pakde dan mbok de juga lumayan rumit. Beruntung aku bisa melihat kerumitan mengarungi bahtera rumah tangga itu secara langsung. Jaman sekarang, kita lebih sering melihat kepalsuan di media sosial.

Permasalahan umum kehidupan orang-orang desa. Mulai masalah ekonomi, kenakalan anak-anak, hingga masalah umum pasangan suami istri. Pertengkaran adalah hal lumrah yang terjadi, sebelum akhirnya rukun kembali. Sungguh perjalanan hidup yang runyam dan rumit tentunya.

Tetapi kini, pakde dan mbok de sudah melalui semua kerumitan dan kerunyaman hidup itu. Semoga tenang dan bahagia di alam keabadian di sana (allahu yarham huma, alfatihah..). Life is not always all about happiness like the sky that is not always bright. Hidup seperti permainan yang kadang tidak mudah untuk dimainkan. Karena dunia bukanlah surga, tetapi dunia adalah tempat ujian untuk menguji siapakah yang terbaik amalnya.