Advertisements

Tag Archives: sungai di inggris

Merayakan Kemerdekan di Desa Kelahiran Shakespeare

… merdeka berarti harus membangun, bukan untuk pribadi atau golongan, makmur untuk semua, adil untuk semua,hukum pun berlaku untuk semua. – Nasida Ria

Keceraan Anak2

Kecerian Anak-Anak Indonesia (Startford-Upon-Avon, UK)

Beberapa hari yang lalu, ketika ‘on the phone’ sama Emak, Si Emak bertanya kepada saya: ” nang kono yo opo ono Karnapal, le?“. Dalam hati saya membatin: “emange, iki negorone sopo emak mak, kok ono karnaval 17an”. Yah, ceritanya si Emak lagi menceritakan kegiranganya karena Karnaval tingkat kecamatan ini sangat meriah. Ada tiga kecamatan terdekat dari desa kami, kecamatan tegal dlimo, purwoharjo, dan Cluring. Dan karnaval di ketiga kecamatan di Banyuwangi itu, tahun ini jauh lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

startford_14

Ibu-ibu dengan Tongkat Narsis nya

Bulan Agustus memang selalu membawa keceriaan sendiri. Di bulan ulang tahun kemerdekaan Indonesia ini, banyak festival yang banyak mengundang kebahagiaan. Ada karnaval, gerak jalan, dan lomba-lomba tujuh belasan lainya. Dan buat rakyat akar rumput semacam kami ini, itulah arti kemerdekaan itu dari tahun-tahun. Ada festival, yang bisa melupakan sejenak beratnya beban hidup. Beban hidup, yang semakin berat dari tahun ketahun. Selain, ajakan Pak Modin untuk mensyukuri kemerdekaan dengan membuat ‘ambengan’ selepas maghrib di masjid dan langgar di malam tanggal 17 Agustus.
***

startford_07

Sekilas tentang kota Stratford-Upon-Avon

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menyaksikan kegembiraan, euforia tujuhbelasan itu. Bahkan, saya sudah lupa kapan terakhir mengikuti upacara bendera. Singat saya ya waktu masih di pesantren dulu, yang artinya sudah lebih sepuluh tahun yang lalu. Apalagi, dalam posisi berada di negara orang seperti saat ini, jelas tidak bisa sembarangan mengibarkan bendera merah putih.

startford_09

Rumah Kelahiran William Shakespeare

Walapun demikian, setiap orang berhak mengekspresikan euforia dan memaknai hari kemerdekaan itu dengan cara mereka sendiri. Seperti yang kami lakukan, sebagian warga Indonesia yang berada di Nottingham.

startford_12

Permainan Bola Voli Tim Bapak-Bapak

Untuk membunuh kejenuhan karena liburan sekolah musim panas yang terlalu panjang, saya bersama ‘geng’ pengajian mengadakan piknik bersama keluar kota yang biasa kami adakan setahun sekali. Kami, yang sebagian besar, sudah berkeluarga dan beranak itu, dengan menyewa 1 bus besar, mengadakan piknik ke Stratford-Upon-Avon (wuih, belibet banget yak namanya). Kota kecil ini dipercaya sebagai kota tempat kelahiran William Shakespeare. Siapa sih yang tidak kenal penulis, pujangga, penulis drama Inggris yang paling tersohor dan legendaris di dunia ini?

startford_03

Tarik Tambak : Tim Boys

Sampai di kota kelahiran Shakespeare yang nyaman ini kami mengadakan family day, di sebuah lapangan rumput yang sangat luas di pinggiran sungai yang airnya sangat jernih. Acara family day kali ini, kami isi dengan permainan-permainan, termasuk permainan tradisional Indonesia.

startford_02

Tarik Tambang : Tim Girls

Ada permainan bola voli, tarik tambang, balap kelereng, dan balap karung. Pertama, bapak-bapak nya main voli, sementara ibu-ibu asyik dengan permainan mereka sendiri. Dan anak-anak asyik bermain balon, layang-layang, atau sekedar kejar-kejaran di lapangan rumput yang hijau itu.

startford_13

Tarik Tambang : Tim Men

Untuk tarik tambang, semuanya terlibat. Bapak-bapak,ibu-ibu,dan anak-anak semua ikut ambil bagian. Tim boys melawan tim girls. Dan Tim Men melawan Tim Women.  Sementara untuk permainan balap karung, dan balap kelereng, khususon, untuk anak-anak. Yang tua, sebagai penggembira dan bagian yang tertawa hahaha, hihihi.

startford_05

Tarik Tambang: Tim Women

Menjalang duhur, permaianan kami sudahi. Berlanjut dengan menggelar tikar, untuk makan bersama. Yang kemudian dilanjut dengan sholat duhur berjamaah di atas rumput. Hehe, namanya geng pengajian, jadi pikniknya pun harus piknik syariah. Hehehehehe. Alias, tidak boleh meninggalkan sholat berjamaah.

startford_04

Lomba Balap Kelereng

Di lapangan rumput itu kami tidak sendiri (ya, eyalah). Kebetulan hari itu sangat cerah, sehingga ada ratusan atau mungkin ribuan orang juga berlalu lalang di sekitar kami. Namanya juga salah satu kota wisata, banyak rombongan orang berdatangan di tempat ini. Tetapi, tidak ada yang mampu menandingi kehebohan kami tentunya.

startford_06

Menu Piknik Kami

Saking hebohnya, ada wartawan BBC yang terkesima dan mewawancarai ketua rombongan kami. Sekedar bertanya dan penasaran, sedang ngapain sih kami ini. Kok, heboh banget. Yah, maklum di negara yang memiliki musim dingin konon membuat orangnya juga dingin-dingin, alias cuek. Sehingga, kehangatan, kebersamaan, orang-orang yang terlahir di daerah tropis ini, buat mereka menjadi sebuah kenggumunan.

***

startford_08

Ini rumah Pendiri Universitas Harvard, US

Setelah acara family day, selanjutnya adalah jalan-jalan menyusuri jalanan yang hanya boleh dilalui pejalan kaki menuju sudut-sudut kota kecil ini. Apa saja sih yang menarik dari kota kecil ini?

startford_10

Hotel dalam Arsitektur Rumah Tua

Overall, branding dari jualan kota wisata ini ya tidak lain dan tidak bukan Si Mbah William Shakespeare tadi. Tempat, yang dipercaya sebagai tempat kelahiran si penulis paling terkenal di dunia itu. Dalam hati kecil saya bertanya, lah emang apa istimewa nya dengan tempat kelahiran penulis itu?

startford_15

Salah Satu Sudut Kota Stratford-Upon-Avon

Toh dia hanya manusia biasa. Bukan nabi, atau wali. Ya kalau nabi atau wali, masih masuk akal lah kalau banyak orang yang tabarrukan, ngalap berkah di tempat kelahiran orang yang dianggap suci itu. Apalagi setelah sampai di depan rumah tua yang dipercaya sebagi tempat kelahiran nya itu, hanyalah rumah tua sederhaana. Yang untuk masuk harus bayar cukup mahal. Parahnya lagi, tidak boleh foto-foto.

startford_16

Sungai, Jembatan, dan Perahu

Buat orang Indonesia yang ketika jalan-jalan yang terpenting adalah foto-foto, tentu saja rumah itu sangat tidak menarik sekali. Hehehe. Alhasil, kami hanya jalan-jalan sebenar-benarnya jalan. Menikmati susana setting kota kuno. Rumah-rumah tua sengaja dibiarkan dengan ketuanya. Bahkan rumah doyong yang mau roboh pun sengaja dibiarkan kedoyonganya. Mungkin, orang-orang yang berduyun-duyun pergi ke kota ini sekedar mencari inspirasi, bagaimana menjadi seorang penulis besar selevel Shakespeare itu.

startford_18

Sungai dan Kapal Bersandar

Sepertinya, kota ini cocok buat orang-orang pecinta masa lalu. Atau buat orang-orang tua yang ingin bernostalgia dengan suasana jaman dahulu. Ada barang-barang antik, seperti perangko jadul yang dijual dengan harga sangat-sangat mahal.

startford_17

Pengamen Jalanan Yang Bikin Melting Suasana Hati

Selaian suasana kota tua, yang menarik dari kota ini adalah suasana alamnya. Ada sungai yang cantik dengan airnya yang jernih. Sekilas, seperti suasana di kota-kota di Belanda atau Italia. Kanal dengan kapal dan perahu-perahunya yang bersandar.

startford_11

Pesan Sponsor 😀

Setelah kaki kemeng jalan-jalan, kami duduk-duku di bangku panjang di pinggir jalan. Mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Ada seorang pengamen yang suaranya aduhai indah sekali. Lagu-lagunya yang slow, bisa membikin suasana hati jadi melting. Dan hari pun beranjak senja, saatny kami segera bergegas untuk pulang.

Begitulah mungkin kehidupan ini, tidak sebentar, mung mampir ngombe, mung mampir ngguyu. Dan jika senja datang, kita harus pulang. Karena itu, tak baik jika terlena dengan jebakan-jebakan kehidupan ini. Karena itu, Keep Dzikrullah, sing eleng tur waspodo, eleng marang sangkan paraning dumadi. Ingat selalu dari mana kita berasal, dan akan kembali. Tidak lain dan tidak bukan, ya kita akan kembali kepada Tuhan.

***
Kembali ke memaknai kemerdekaan, di ulang tahun yang ke 70 ini, dimana pemerintah punya tagline yang paling sederhana sepanjang sejarah: Ayo Kerja ! yang mengisyaratkan ajakan untuk bekerja keras. Bagi saya pribadi, kemerdekaan yang sesungguhnya itu ketika: everyone has equal opportunity to work hard to secure a better future. Senada dengan penggalan lagu qasidah yang saya kutip di atas. Kita benar-benar merdeka,ketika anak-anak di desa memiliki fasilitas sekolah sama bagusnya dengan sekolah-sekolah di Jakarta. Memiliki guru-guru yang sama hebatnya dengan guru-guru di Yogyakarta. Memiliki Akses informasi yang sama mudahnya dengan anak-anak di Surabaya. Semua diberi kesempatan yang sama, untuk merubah nasibnya, apapun latar belakang ekonomi keluarganya.

Selamat Dirgahayu ke 70 negeri ku. Benar, segera, kami akan kembali, mengabdi ke pangkuan ibu pertiwi ku!

Advertisements

Pesona Alam Desa ‘Country-side’ di East Midland, Inggris, UK

… kalau orang kelas ekonomi menengah ke bawah tempat hiburanya adalah tempat-tempat yang ramai, kalau rang kelas ekonomi atas tempat hiburanya adalah tempat-tempat yang sepi – Abdullah Azwar Anas (Bupati Kab. Banyuwangi)

matlock_country_side

Pemandangan Country-Side, sekitar Matlock, East Midland UK

Kawan, jika sampean masih memiliki waktu dan uang untuk sekedar menikmati liburan bersama keluarga atau teman bersyukurlah, dan ceritakanlah sebagai ucapan rasa syukur (tahaddus bini’mah). Karena Tuhan suka pada hambanya yang menyebut-nyebut nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya (lihat ayat terakhir: QS Adduha). Disana juga masih banyak saudara kita yang tak memiliki uang, tak memiliki waktu, sekedar untuk iburan. Liburan tidak ada salahnya,asal tidak berlebihan dan tujuanya untuk foya-foya. Walaupun, sering kali dalam hati kecil hati saya, merasa bersalah, feel guilty, saya ini kok hidupnya memikirkan kesenangan dirisendiri, paling banter mimikirkan kesenangandan kebahagiaan keluarga sendiri. Apalagi, kalau terbayang keluarga para aktivis, yang rela menghabiskan waktunya, mengorbankan waktu kebersamaan bersama keluarganya, untuk mengabdi dengan tulus, memperjuangkan hak-hak kaum yang dilemahkan (Saya tidak sedang menyebut politisi yang memakan ratusan juta uang rakyat itu lo ya). Jian, kalau ingat mereka, saya merasa saya ini seperti sampah kehidupan saja.

Sudah, lupakan sejenak rasa bersalah itu. Toh, meskipun kuliah saya di Inggris ini dibayari negara, yang tidak lain uang rakyat, tetapi saya membiayai sendiri biaya anak istri saya selama hidup di Inggris, termasuk untuk jalan-jalan seperti ini, dari hasil memeras keringat ngosek WC setiap pagi buta itu lo,bhahaha. Serius! Karena uang beasiswa saya itu anya untuk bayar SPP dan biaya hidup saya seorang sendiri. So, wajar dong, kalau sekali-sekali saya ngasih reward pada diri saya sendiri.

Pada liburan sekolah anak-anak bulan April kali ini, atau lebih dikenal liburan Easter, saya jalan-jalan bersama keluarga ke kota Hull, ke rumah salah seorang teman dan jalan-jalan berjamaah ke Matlock, sebuah kawasan desa kecil sekitar 1 jam perjalanan dengan kereta api. Untuk cerita perjalanan ke kota Hull, insha Allah akan saya ceritakan di kesempatan yang lain (eit, kayak banyak yang nunggu saja :p), kali ini saya sedang ingin berbagi cerita perjalan saya dan jamaah ke sebuah kawasan desa, atau country side bernama Matlock.

matlock_On_The_way

Jamaah Piknikiyah Nottinghamiyah Berjalan Menuju Desa Ashford

Buat sampean yang pernah baca sequel novel: Laskar Pelangi nya Andrea Hirata, pasti sudah mengenal nama desa Edensor (Baca: Ensor). Saya sih belum baca novelnya, tapi sudah dua kali ke Edensor. Nah, Edensor ini adalah salah satu desa cantik di sekitar Matlock ini. Sebenarnya, masih banyak desa lain yang lebih cantik di sekitar Matlock ini,salah satunya adalah tiga desa yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini. Namanya, desa Ashford, Backwell, dan Matlock Bath. Untuk mencapai desa-desa cantik ini (termasuk Edensor), dari Nottingham bisa menggunakan kereta api tujuan Matlock (Matlock tujuan terakhir). Kereta nya 1 jam sekali, dan harganya hanya sekitar 6 poundsterling PP, tiket off-peak return, artinya sampean bisa pergi dan pulang jam berapa saja, dalam rentang waktu 1 bulan. Dari stasiun kereta api Matlock, bisa jalan kaki, atau sambung naik Bus menuju desa-desa cantik ini.

Menyusuri_Pinggiran_Sawah

Menyusri Pinggiran Sawah Bertembok Batu

Sepanjang menuju desa-desa cantik ini, mata sampean akan dimanjakan oleh pemandangan yang menyejukkan mata. Padang rumput hijau nan tertata rapi terbentang sangat luas sejauh mata memandang, sungai-sungai yang airnya jernih dan bergemiricik, rumah-rumah desa yang arsitekturnya khas, kebun bunga beraneka warna warni, segerombolan kawanan domba dan kuda, serta suasana yang tenang dan menenangkan.

matlock_dari_atas_tebing

Pemandangan Dari Atas Tebing Ashford Dale

Bak Menyusuri Tembok Besar Cina di Ashford 

matlock_ashford_dale_signboard

Menyusuri Tebing Ashford Monsale Dale

Tujuan kami yang pertama adalah Asford Monsale Dale. Di desa ini, ada sebuah tebing yang cukup curam. Medanya, sekilas seperti tembok besar Cina (sok tahu banget ini, padahal saya belum pernah kesana). Dibawahnya ada sungai, jembatan kuno, dan sebuah terowongan tua. Kami menyusuri tebing itu, dari atas ke bawah, menuju bibir sungai yang terdapat padang rumput yang cukup luas.

matlock_ashford_dale_dari_atas

Jamaah Piknikiyah Nottinghamiyah Full Team dari atas tebing Ashford

Di pinggiran sungai ini, anak-anak bermain riang. Bapak-bapak bermain bola. Ibu-ibu menggelar tenda dan karpet piknik. Dan saya menghayati air sungai yang mengalir, airnya jernih, menenangkan. Mendengarkan suara burung yang bernyanyi di tengah kesunyian alam. Dan mendengar suara anak-anak yang tertawa riang, pecah bertumpah ruah di pinggir sungai itu.

matlock_terowongan_tua

Terowongan Tua di bawah Tebing

Bukan orang Indenesia namanya, kalau pas ngumpul-ngumpul tapi tidak makan-makan dan foto-foto. Hehe, di pinggir sungai itu juga kami membuka bekal, makan bareng. Beralas rumput, sambil mengamati pergerakan air sungai. Seperti biasa, acara pul kumpul, kan makan bareng ini selalu mengundang kenggumunan orang bule yang berlalu lalang.

Matlock_Piknik

Nikmatnya Piknik Berjamaah Di Pinggir Sungai

Setiap melewati kami, mereka melongok, tersenyum lebar, tertawa kecil, dan berkata : Enjoy! Maklumlah, dalam budaya mereka. Jarang nemu yang kayak ginian. Umumnya mereka pul kumpul dan num minum bir atau anggur dan mabuk berjamaah di Bar setiap malam minggu.

matlock_sungai_yang_jernih

Sungai Yang Airnya Super Jernih Itu

Dari Ashford Mansale Dale, kami naik bus menuju desa cantik lain namanya, desa Backwell. Karena sepi, satu bus itu isinya hanya orang Indonesia, kecuali supirnya. Sepanjang perjalanan kami dipinggir jalan kami bertemu kembali dengan gerombolan pria yang dress up dengan kostum berbagai jenis binatang dan berbagai putri dalam negeri dongeng (baca: macak bencong) yang kami temui di Ashford Dale. Kebetulan, bus kami pas berhenti. Mereka tertawai menyapa ha haai, dan melambaikan tangan-tangan mereka dengan ramah. Dan kami balas dengan lambaian tangan dan senyum tawa yang tak kalah meriah. Rupanya mereka akan num minum di sebuah bar di pinggir jalan desa. Memang dimana-dimana orang desa selalu lebih ramah dari orang kota.

jembatan_tua_dipinggir_sungai

Full Team di Bawah Jembatan

Gembok Cinta di Jembatan Sungai Backwell

matlock_blackwell_flowers

Bunga 7 Warna Di Taman Desa Back Well

Bus berhenti tepat di depan taman desa Bakwell dengan yang dipenuhi bunga-bunga yang mekar merekah sempurna berwarna wani di musim semi yang cerah di sore itu. Taman itu menawan hati setiap orang yang sekedar duduk-duduk di bangku-bangku kosong yang disediakan khusus untuk duduk-duduk di sekitar taman desa. Juga menjadi mood boaster anak-anak kecil yang bermain, bekejar-kejaran, berlarian di sekitar taman desa.

matlock_taman_kota_bunga

Taman Bunga Yang Mengundang Keceriaan

Tak jauh dari taman desa itu ada sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sungai yang begitu besar. Airnya bersih dan jernih, hingga terlihat jelas dasar sungai itu. Di sekitar jembatan itu ada ratusan burung camar, bebek, angsa, dan ikan sungai yang besar-besar.

matlock_sungai_burung_bebek_angsa

Burung-burung Bergembira di Tepi Sungai

Sementara, dipinggir sungai itu ada jalan khusus pejalan kaki yang lebar dan bersih. Berderet kursi-kursi panjang dipinggirnya, tempat kebanyakan mbah-mbah yang sudah sepuh duduk-duduk menikmati suasana sore yang cerah dan hangat sambil memperhatikan bocah-bocah kecil yang tertawa riang mengejar puluhan burung merpati dan camar di pinggir sungai itu. Cuaca yang cerah di sore yang panjang menjelang musim panas itu menambah sempurna pemandangan di pinggir sungai.

gembok_cinta_e

Gembok Cinta di Tepi Jembatan

Saat saya sedang asyik jeprat-jepret keindahan sungai itu, seorang kakek yang sedang duduk berduan dengan istrinya di bangku pinggir sungai itu, tiba-tiba melambaikan tanganya ke arah saya. Saya pun mendekat, mak tratap saya tiba-tiba merasa seolah berada di depan almarhum dan almarhumah kakek dan nenek saya.

ikan_nya_banyak_e

Ikan di sungai iti banyak dan besar-besar

Ku tatap kedua matanya yang sudah rapuh itu, kulit wajahnya yang sudah sangat keriput, dan rambutnya yang sudah memutih. Dengan suaranya yang sudah berat, dan lemah dia mengajak ngobrol saya, saya berdiri merunduk di hadapanya.

kakek_nenek_e

Kakek dan Nenek Menghabiskan Waktu Sore

**

Kakek : Hai anak muda, kamu mahasiswa Universitas Sheffield ya?
Saya : Oh bukan, saya Mahasiswa Universitas Nottingham.
Kakek : Ooo, saya tahu. Pada bidang apa kamu belajar di Universitas Nottingham?
Saya : Ilmu Komputer.
Kakek :Wah luar biasa.Ngomong-ngomong kamu aslinya dari negara mana? Dari Hongkong ya?
Saya : *dalam hati saya mbatin, masak item gini dari Hongkong sih, tapi dia bukan orang pertama yang mengira saya dari Hongkong* Oh, bukan. Saya dari Indonesia.
Kakek: Saya tahu banyak sekali Mahasiswa Cina di Universitas Sheffield bagaimana dengan Nottingham.
Saya : Iya sama saja. Saya kira mahasiswa Cina mendominasi dimana-mana. Hampir semua mahasiswa internasional di kampus-kampus di Inggris, sebagian besar Orang Cina.
Kakek : Ada berapa orang Indonesia di Nottingham?
Saya : sekitar 100 orang kek.
Kakek : Lumayan banyak. Ngomong-ngomong, kamu seorang muslim ya?
Saya : Iya.
Kakek : *Mengulurkan tanganya, dan menyalami saya* Assalamu’alaikum!
Saya : Waalaikumsalam wr wbt. Lowh, emangnya kakek Muslim juga to?
Kakek : Oh bukan. Tapi saya sudah pernah tinggal di banyak negara, terakhir saya bekerja lama di Jerman, sebelum akhirnya pensiun, dan akhirnya menghabiskan masa tua saya kembali ke tanah kelahiran di Inggris ini.
Saya : Wah luar biasa !
Kakek : Anak saya lebih hebat lagi. Dia pernah tinggal di banyak negara di hampir semua benua, termasuk India, Khatmandu, dan Cina. Terakhir, sekarang dia sedang bekerja di Singapura.
Saya: Awesome.
Kakek : Mereka itu anak kamu ya? (sambil menunjuk anak saya dan anak teman saya yang sedang asyik memberi makan ikan dan bebek di pinggir sungai)
Saya : Iya, satu di antara mereka.
Kakek: Lovely. Baik, terima kasih banyak sudah mengobrol dengan saya. Silahkan dilanjutkan apa yang mau kamu lakukan.
Saya: (aku mbatin kakek ini pasti sangat merindukan kehadiran cucu) Iya kek, sama-sama. btw: Nama kakek siapa?
Kakek : Saya William, dan kamu?
Saya: Saya Ahmad kek.
Kakek: Senang bertemu dengan kamu, Ahmad!
Saya : Saya juga kek.

**

Si Nenek di sebelahnya, hanya senyum-senyum manis ketika kami berdua asyik mengobrol. Tak lama kemudian, saya perhatikan keduanya berjalan meninggalkan bangku itu, ke arah membelakangi saya menyusuri pinggiran. Terima kasih Kakek untuk momentum langka sore itu, sampean benar-benar mengobati kerinduan saya akan figur seorang kakek dan nenek, yang sudah lama sekali berpulang.

memberi_makan_ikan_e

Mengejar Burung Dan Bebek

Ohya, ada yang menarik pada jembatan di atas sungai itu. Mungkin jembatan itu namanya jembatan cinta. Kenapa? Karena di kedua sisi jembatan itu banyak sekali gembok cinta, lock of love. Ada ribuan mungkin jumlahnya, pada setiap gembok itu tertulis dua buah nama. Entahlah, apa tujuanya. Mungkin ada sebuah mitos, cinta keduanya akan langgeng abadi dengan gembok cinta itu. Sungguh, ini sebuah ironi di negara yang sangat ‘menuhankan’ ilmu pengetahuan.

gembok_cinta_detail_e

Mitos Gembok Cinta Itu

Jika ingin merasakan nikmatnya ikan sungai yang besar-besar dengan warna kulit seperti macan tutul dan kelihatanya gurih sekali jika digoreng itu. Tidak jauh dari sungai banyak sekali kedai makan yang menjual fish and chips alias kentang goreng dan ikan goreng tepung yang renyah. Walaupun saya kurang yakin, apakah ikan nya benar-benar diambil dari sungai itu atau dari tempat yang lain. Anggap saja, dan bayangkan saja itu ikan yang ditangkap dari sungai itu.Hehehe…

Matlock Bath,Swisnya Inggris di East Midland

Dari Backwell, sebelum bertolak balik ke Nottingham, kami meluncur ke desa lainya namanya Matlock Bath. Konon, tempat ini dikenal sebagai Swissnya Inggris di kawasan East Midland. Kondisi geografisnya yang berbukit-bukit, dan hutan subtropis yang masih alami membuat kawasan ini sangat memesona jika dinikmati dari ketinggian. Sampean bisa naik cable car yang disewakan untuk menikmati keindahan alam itu. Sayang, hari itu sudah terlalu sore untuk naik cable car. Kami hanya menikmati jalan-jalan sore, lagi-lagi di pinggir sungai yang membelah desa Matlock Bath.

jubilee_bridge_e

The Jubilee Bridge

Ada jembatan tua yang dibangun pada tahun 1881 di atas sungai kecil itu. Di pinggiran sungai ada museum desa, tugu pahlawan dan play ground. Kami menyusuri jalan setapak sepanjang sungai yang disebut ‘lover walk’, dan duduk-duduk di bangku panjang yang menghadap sungai sambil mengamati kecerian anak-anak yang bermain di Play ground.

lover_walks_e

The Lover Walk

Di sisi lain sungai, di samping luar pedestrian terdapat jalan untuk bus dan mobil. Di pinggir sebelah nya lagi terdapat deretan bangunan pusat ekonomi rakyat. Ada pasar indoor yang menjual berbagai kerjianan tangan, kedai makan, bar. dan tempat hiburan. Deretan bangunan itu seperti menempel di kaki bukit yang terlihat tinggi di belakangnya.

Khas suasana alam pedesaan, saya selalu jatuh cinta merasai suasana tenang dan damai nya itu.

Apa yang bisa kita pelajari?

Membandingkan kondisi sungai di desa ini dengan kondisi sungai di Indonesia yang sudah tercemar, saya jadi bertanya-tanya, apa iya ya orang British ini punya kesadaran yang tinggi menjaga habitat sungai seperti itu sejak mereka terlahir dan sungai itu ada. Atau mereka sebenarnya juga butuh proses panjang, dalam artian sungai-sungai itu dulunya juga pernah tercemar, penuh sampah, seperti kondisi sungai-sungai di pulau Jawa. Dan kemudian mereka belajar, sadar, pentingnya menjaga habitat sungai, sehingga sungai itu menjadi bersih bening alami seperti sedia kala. Mas Wisnu, teman ngobrol saya bilang sepertinya mereka juga butuh proses, lahwong untuk membuat mereka tertib di jalan saja butuh waktu yang sangat lama. Saya jadi ingat catatan sejarah di Nottingham castle yang menceritakan kondisi kota Nottingham sekitar abad 18, disitu tercatat bahwa kota Nottingham saat itu adalah kota paling kumuh di Inggris, sama kumuhnya dengan kota-kota kumuh di India.

Ya, memang manusia yang bijak adalah manusia yang mau belajar dari sejarah mereka. Saya sekarang jadi paham, kenapa pendidikan dasar di Inggris lebih menekankan pendidikan karakter. Saya jadi lebih paham kenapa filosofi pendidikan mereka adalah bahwa mereka merasa gagal jika anak didik mereka belum terbiasa antri, tidak terbiasa membuang sampah pada tempatnya, dan mereka tidak begitu khawatir jika anak didik mereka ada yang belum bisa membaca dan menulis, ataupun tidak bisa matematika. Yah, memang karakter yang mulia atau akhlaqul karimah butuh waktu dan proses yang panjang.

Dari Mas Wisnu, yang doktor di bidang planologi itu, saya juga jadi mengerti. Bahwa adanya taman kota, play ground, dan open public places lainya, dari kaca mata antropologi arsitektur itu ternyata memiliki lebih dari sekedar yang terlihat. Bukan sekedar buat mempercantik kota. Bahkan satu pohon bunga di pinggir kota itu pun memiliki makna sendiri. Ternya keberadaan taman bunga, taman kota, dan open public places itu memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Disanalah, si miskin dan si kaya bisa duduk dan berkomunikasi bersama. Yang pada akhirnya dapat menimbulkan rasa tentram, rasa aman dan nyaman di hati masyarakat. Yang pada akhirnya berdampak pada berkurangnya tingkat kriminalitas, dan yang lebih penting meningkatnya indek kebahagiaan masyarakat. Saya jadi paham, kenapa Bu Risma, walikota Surabaya itu begitu gila membangun taman-taman kota. Ternyata, setiap kelopak bunga yang mekar, dan air yang mancur di taman itu memiliki arti lebih dari yang terlihat.

Semoga, bangsa kita, terus dan terus mau belajar !


Mengintip Peradaban Sebuah Kota dari Sungainya

… bengawan Solo, riwayat mu ini. Sedari dulu jadi perhatian insani. Di musim kemarau, tak seberapa air mu. Di musim hujan … -Gesang.

Jembatan Sungai Trent, Nottingam

Jembatan, Bebek di Sungai Trent, Nottingam, UK (Dok. Pribadi)

Tidak berlebihan rasanya jika sungai atau kali (bahasa jawa) dikatakan banyak menyimpan sejarah peradaban manusia dari jaman ke jaman. Ibarat pembuluh darah dalam tubuh manusia, sungai memiliki peran penting dalam menyokong kehidupan umat manusia. Mengalirkan air kehidupan, membawa kesuburan, menawarkan sumber penghidupan dan keberkahan yang melimpah ruah, tetapi terkadang juga menjadi sumber petaka.

Ketika masyarakat masih hidup sederhana, daerah sekitar aliran sungai selalu menjadi daerah padat penduduk. Kerajaan-kerajaan dan pesantren-pesantren di tanah Jawa misalnya, biasanya mereka berada  di pinggir aliran sungai.

Rasanya, lagu mbah Gesang, Bengawan Solo, yang legendaris dan saya yakin akan selalu hidup itu, cukup indah melukis betapa pentingnya sungai di tengah-tengah peradaban umat manusia. Setiap sungai menyimpan riwayat cerita sendiri bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya.

Kali Setail, Riwayat mu Dulu dan Sekarang

kali_setail_jemb_gantung_updated

Kiri: Sungai (Kali) Setail, Desa Plampangrejo. Kanan: Jembatan Bambu (Sesek Pring) Sungai setail (source: http://www.awedionline.com)

Buat saya pribadi, satu-satu nya sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari riwayat hidup saya adalah sungai setail, di dusun ringin pitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Sumber air sungai ini berasal dari gunung Raung, mengalir ke wilayah selatan kemudian ke wilayah timur kabupaten banyuwangi, dan bermuara di selat bali atau samudera hindia. Di pinggir sungai inilah mbah saya, mbah H. Abdul Fatah, memulai cerita kehidupan di tanah rantau, tanah osing Banyuwangi, setelah meninggalkan kampung halamanya di kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dan bertekad untuk tidak kembali lagi hingga akhir hayatnya. Bahkan, anak cucu nya pun tidak pernah diperkenankan tahu menahu dimana tepatnya kampung halaman beliau. Hanya karena sebuah alasan harga diri, tidak mau pulang kampung karena tidak mau dianggap meminta bagian harta warisan jika pulang ke kampung halaman.

Masa kecil saya menyaksikan sendiri bagaimana kali setail menjadi bagian kehidupan orang-orang di kampung kami. Kali setail yang airnya yang jernih dan segar, dengan pasir dan batu kerikil dari gunung raung yang melimpah, yang menjadi tempat mandi, cuci dan toilet terbuka untuk semua warga. Lelaki, perempuan, anak-anak, dewasa menjadi satu. Bahkan juga untuk sapi dan kerbau. Kali setail juga menjadi kolam renang gratis untuk anak-anak kampung. Lumban adalah istilah untuk berlama-lama berenang dan menyelam dalam air sungai. Argh, sungguh kenangan masa kecil yang teramat indah. Dan kenangan itu sekarang sudah benar-benar mati.

Saat itu, kali setail juga sumber kehidupan yang barokah. Ada puluhan jenis ikan sungai yang melimpah. Ada ikan tombro, tawes, wader, uceng, udang, empet, remis, lele, sepat, kocolan, dan ikan-ikan yang saya tak mampu lagi saya mengingatnya. Ikan-ikan itu begitu mudahnya didapat dengan dijala, dijaring, diseser, atau dijebak dengan besangan alias jebakan ikan yang dibuat dari lidi kayu bambu. Atau ketika kaline dilontor, yaitu ketika pintu air Dam/bendungan air untuk irigasi dibuka 3 bulan sekali, mengalirkan air warna kecoklatan. Ratusan warga desa berbondong-bondong pergi ke sungai, beramai-ramai, bersorak riang, menangkapi ikan-ikan sungai yang semaput minggir di bibir sungai dengan seser dan jaring. Duh, saya jadi kangen menikmati renyah dan nikmatnya rempeyek udang kali setail.

Pinggir kali setail juga tempat bermain yang indah. Gundukan pasir lembut bercampur debu adalah tempat yang sempurna untuk bermain perang-perangan. Dikelilingi rerimbunan tananman kerangkong yang bunganya berbentuk seperti terompet, berwarana putih keungu-unguan, dikerumuni seranga lady bug yang sayapnya indah berwarna-warni. Dan juga buah ceplukan yang rasa buahnya aduhai manis sekali. Serta pohon bendo, yang menjatuhkan biji-bijian yang kalau digoreng kereweng (penggorengan dari tanah liat, tanpa minyak) rasanya paling nikmat sedunia. Ada juga sasak gantung, jembatan gantung dari bambu di atas kali setail , penghubung desa lor kali dan kidul kali yang menjadi tempat bermain pemacu adrenalin paling menantang, yang tidak kalah dengan roller coaster.

Sekarang, setiap kali pulang kampung, aku biasa pergi duduk di pinggir sungai setail, sambil mengenang betapa indahnya masa kecil saya. Memandang aliran kali setail yang sedang sekarat dan kesepian. Mengenang ribuan kenangan-kenangan masa kecil yang telah mati. Air sungai yang dulu airnya jernih dan mengalir, kini tak ubahnya bak kubangan kerbau, tercemar dan kotor. Bebatuan dan pasir sungai yang dulu melimpah sudah habis dijual warga ditukar dengan lembaran rupiah-rupiah. Jangan tanya akan ikan, udang, empet dan remis ! Mereka semua sudah musnah, sejak sebagian warga ada yang serakah membunuh seluruh penghuni alami sungai dan bayi-bayi nya dengan obat kimia pembunuh serangga.

Jangan tanya pula gerombolan anak-anak yang dulu bermain riang di pinggir sungai. lumban berjam-jam di tengah aliran sungai yang mengalir deras. Yang ada hanyalah sepi. Sungai yang sudah sekarat hampir mati, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Warga pun yang dulu selalu mandi bersama, sekarang sudah punya kamar mandi keluarga. Pun, anak-anak yang dulu selalau bermain bersama, sekarang mereka asyik di depan TV keluarga. Keluarga sudah menjadi penjara-penjara kecil bagi warga desa, yang dulu seolah-seolah mereka adalah satu keluarga.

Inikah yang namanya kemajuan jaman yang menjanjikan segala kemudahan dan perbaikan itu? Tapi, entahlah hati saya selalu seperti merasa kehilangan yang teramat dalam. Kehilangan suasana masa lalu yang selalu saya rindukan setiap pulang ke kampung halaman.

Pesona Sungai Trent, Nottingham

Di salah satu akhir pekan pada musim panas kemaren, untuk mengobati kangen akan kampung halaman, saya bersama keluarga bermain menyusuri Sungai Trent yang berada di pinggir kota Nottingham. Lokasinya, tidak jauh dari city centre, naik bus nomor 1-10, hanya butuh waktu sekitar 10 menit. Turun di Jembatan Trent, yang lokasinya berdekatan dengan stadion Nottingham Forest, klub sepak bola kebanggaan warga Nottingham. Entahlah, ketika menyusuri sungai ini, kenangan indah masa kecil saya terasa hidup kembali.

Sungainya sangat well-developed , sepertinya dibangun dengan penerepan hydrology yang mutakhir. Airnya jernih seperti kaca, airnya melimpah, mengalir mengelilingi kota Nottingham. Ada rerimbunan pohon dan rerumputan hijau yang terawat rapi menghadirkan suasana pedesaan , memanjakan mata memandang . Suasananya tenang, hawanya teduh, udaranya segar.

Main di Pinggir Sungai

Main di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Di sisi kiri dan kanan sepanjang aliran sungai ada jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang cukup lebar. Lengkap dengan kursi-kursi kenangan yang menghadap ke sungai. Di akhir pekan itu, saya melihat banyak orang, tua, muda, anak-anak, berlalu lalang menyusuri pinggiran sungai dengan berjalan kaki atau bersepeda. Ada juga yang memancing ikan, atau sekedar duduk manis di kursi-kursi kenangan sambil membaca buku sendirian, menghadap aliran sungai.

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda Yang Luas (Dok. Pribadi)

Dalam airnya yang jernih, masih terlihat tanda-tanda kehidupan ikan. Gerombolan burung pelikan, camar, bebek, dan angsa pun ikut meramaikan suasana sungai yang indah dan hangat di musim panas itu. Mereka seolah hidup damai berdampingan menciptakan sebuah harmoni alam.

Sepedahan di Pinggir Sungai

Sepedahan, Mancing, di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Ada Jembatan cantik di atas sungai, yang menarik dijadikan latar belakang foto pre-wedding. Ada juga perahu-perahu bersandar di tepi sungai, dan boat trip mengelilingi kota nottingham via jalur sungai yang juga background foto-foto yang indah. Di sekitar pinggiran sungai itu juga terdapat lapangan olah raga yang luas, taman bermain anak-anak dengan berbagai jenis permainan lengkap dengan kolam renang gratis. Puluhan bahkan mungkin ratusan anak-anak berkumpul, bermain gembira, betah berjam-jam disana. Sungguh, bak syurganya anak-anak.

Boat trip di Sungai

Boat trip di Sungai (Dok. Pribadi)

Di tempat ini, di pinggir sungai ini, kenangan masa kecil ku yang telah mati seolah hidup kembali dan hadir kembali. Sungai yang hidup, alam yang harmoni, dan tawa ceria anak-anak di pinggir sungai itu seolah menghadirkan masa kecil saya kembali. Ratusan bahkan ribuan supporter sepak bola yang berjalan berduyun-duyun sepanjang pinggir sungai menuju stadion Nottingham forest itu mengingatkan ku pada menjelang ritual sepei di kali setail.

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Argh ternyata, kemajuan jaman tak harus membunuh kenangan. Ternyata, kemajuan jaman tak harus membinasakan harmoni sang alam. Bahkan justru melestariakan. Tiba-tiba, saya bermimpi, suatu saat kali setail saya yang sekarat hampir mati, suatu saat akan hidup kembali seperti sungai Trent Nottingham ini. Tapi, entah kapan?