suasana desa

Galengan Sawah Bercerita: Desa Mencari Makna

…. tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan? – a random thought

desaku_1

Tengah Sawah, Dusun Ringinpitu, Plampangrejo, Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur

Jejak langkah.

Pernahkah merenung sudah seberapa jauh kaki melangkah menapaki jalan kehidupan kita? Pernahkan bertanya kemana langkah kaki menuju dan apakah kita melangkah ke jalan yang benar? Ada ribuan tanya mengiringi setiap gerak langkah perjalanan, saat kita berusaha memaknai.

Jalan hidup defaultnya terasa lempeng-lempeng dan lurus-lurus saja. Hanya sesekali terasa mendaki atau tak sadar kita telah jauh melangkah menurun. Terkadang terjal dan berliku. Ada kalanya kita sampai pada persimpangan, banyak jalan yang tebentang di hadapan dan kita dituntut untuk membuat sebuah keputusan: memilih. Tanpa tahu dengan pasti, bagaimana dan dimana jalan yang kita pilih akan berujung.

Ada yang menapaki perjalanan sebagai langkah-langkah keniscayaan yang tak bisa ditawar. Ada yang menapaki perjalanan penuh dengan strategi dan perhitungan untuk sebuah kata kunci: menjadi pemenang kehidupan. Ada yang sekedar mengikuti kata hati, kemana nurani bicara disanalah dia akan pergi. Adapula yang berfikir bahwa setiap peristiwa kehidupan tak ubahnya bilangan random yang tak perlu disiati, karena itulah inti dari seninya perjalanan hidup. Tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan?

Menyusur Jejak Langkah

Peristiwa mudik, pulang kampung kembali ke desa, ke dusun tempat kita lahir dan tumbuh, buatku adalah peristiwa sakral yang selalu istimewa. Disinilah, titik nol langkah perjalanan hidup kita dimulai. Dan menyusurinya kembali adalah peristiwa transendental yang mengingatkan kita untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita tempuh: are we on the right track?

Adalah jalan setapak, galengan sawah, jalanan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang diantara petak-petak sawah yang dahulu pernah, selama tak kurang dari enam tahun aku menyusurinya pulang pergi. Jalan terpendek dari rumah menuju SD ‘Inpres’ Negeri, yang terletak di pinggir sawah di dusun kami. Saat itu ada lima SD Negeri dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa kami, desa Plampangrejo. SD Negeri Plampangrejo 3 adalah satu-satunya sekolah di dusun kami, dusun Ringinpitu. Sebelum akhirnya kesuksesan program KB di era orde baru yang berakibat menurunya jumlah anak-anak membuat salah satu sekolah harus ditutup, kekurangan murid. Dan sekolah ku berubah nama menjadi SDN Plampangrejo 2. Dan hari itu, kami menyusuri galengan sawah itu kembali.

Galengan Sawah Bercerita

Bagiku, menapaki kembali jalan galengan sawah itu seperti membuka dan membaca kembali buku cerita lama. Bayangkan sedikitnya enam tahun aku menyusuri jalan yang sama, sepanjang hampir 2 km itu, setiap hari.

Secara fisik, meski puluhan tahun berlalu tak banyak yang berubah. Ceritanya yang berganti. Dahulu, di jalan itu, setiap pagi dan siang hari, ramai anak-anak berseragam merah putih, berjalan, meniti (jembatan papan kayu), dan melompat (kalen, saluran irigasi), menyusur setapak dan demi setapak dengan riang hati. Bila musim hujan tiba, daun pisang menjadi payung, tas dan sepatu harus dibungkus keresek. Seringkali kami harus menempuh jalur yang lebih panjang karena jembatan papan kayu hanyut oleh deras arus air kalen. Sepeda Ontel dan Payung adalah sebuah kemewahan buat kami saat itu.

Kini, yang ada hanyalah hening dan sunyi. Tak ada lagi anak-anak berjalan kaki menuju sekolah. Yang bersepeda ontel pun nyaris tidak ada. Kemajuan zaman membuat manusia semakin merasa nyaman, anak-anak dusun pun diuntungkan, antar jemput pakai sepeda motor dan mobil menjadi kebiasaan. Hidup boleh di desa, tetapi gaya hidup tak boleh kalah dengan orang kota- imajinasi kesuksesan hidup yang selalu mereka bayangkan lewat tayangan sinetron di TV.

Di jalan itu banyak cerita. Di bawah rumpun pohon bambu, ada rumah Lek Man Gun dan Bek Saudah. Keduanya kini telah tiada, Allahu yarhamhum. Pasangan suami istri ini selalu terlihat bekerja keras sebagai pengrajin alat-alat dapur dan pertanian dari bahan dasar bambu yang melimpah ruah di dusun kami. Ada tampah, tompo, dan banyak lagi yang bahkan aku sudah tak mampu mengingat namanya. Sebelum akhirnya alat-alat dapur dari bambu itu tergantikan oleh peralatan plastik made in negeri tirai bambu yang serba murah. Peralatan plastik itu menggempur pasar desa, dan kehidupan Lek Man Gun dan Bek Saudah pun kian merana. Barang-barang hasil tanganya yang terampil itu tak lagi laku di pasar desa.

Lek Man Gun adalah leleki gagah, tinggi besar, dan kulitnya kuning langsat. Begitun Bek Saudah, kulitnya kuning langsat tak seperti kebanyakan orang-orang desa kebanyakan yang kulitnya buluk kusam. Sayang kesempurnaan fisik mereka tak seindah cerita hidup yang menyertainya, setidaknya menurut ukuran kesuksesan hidup orang modern jaman sekarang. Kami masih ingat betul senyum tulus khas keduanya. Meski tengah sibuk berkarya, sapaan hangatnya tak pernah alpa menyapa kami yang melintas di depanya. Merekalah saksi hidup kami, yang mengamati kami tumbuh dari anak-anak hingga tumbuh menjadi remaja hari demi hari. Kini, di tempat yang sama yang ada hanyalah sunyi.

Selain rimbunan pohon bambu, tegalan pekarangan rumah Lek Man Gun juga dikelilingi oleh pagar hidup dari tanaman waribang, alias bunga sepatu. Bunga yang belakangan kutahu adalah bunga kebangsaan negara Malaysia. Bunganya indah berwarna merah, meski tidak pernah berubah jadi buah, yang sering diminta bawa oleh Guru kami di kelas untuk menerangkan alat reproduksi tumbuhan: Benang sari dan Putik. Ada juga bunga sejenis, berwarna merah lebih muda, tetapi tidak pernah mekar, dan jika dipetik dan dihisap pangkalnya, ada cairan yang manis sekali, semanis madu. Jika dulu tegalan itu hanya ditanami pohon pisang, kini tegalan itu jadi perkebunan buah naga.

Beberapa puluh langkah kemudian, pemandangan berikutnya adalah rimbunan pohon kelapa. Dahulu, di antara pohon kelapa itu adalah tanaman singkong. Yang merupakan bahan pokok industri panganan getuk lindri. Zaman berubah, selera cita rasa makanan orang-orang desa pun ikut berubah. Getuk warna-warni dengan taburan parutan kelapa diatasnya telah tergantikan cake warna-warni berbahan terigu dengan parutan keju di atasnya. Wajarlah, jika orang-orang desa mulai malas menanam singkong yang tidak ada harganya. Tegalan singkong pun kini berubah jadi hamparan tanaman padi, dengan pohon kelapa di pinggir-pinggirnya.

Jejak langkah kami terhenti, ketika kami sampai pada tempat jembatan papan kayu dulu itu berada. Jembatan itu benar-benar telah tiada, dan kalen saluran irigasi itu terlalu lebar buat kami untuk dapat meloncatinya. Dari kejauhan kulihat galengan-galengan sawah lebakan dengan tanaman mendong yang legendaris itu benar-benar telah raib. Tergantikan oleh rerimbunan pohon kelapa berpagar yang tak bisa lagi terlewati oleh pejalan kaki.

Tanaman mendong atau mensiang, bahan baku tikar kini pun telah tiada. Dahulu saat masih banyak ibu-ibu rumah tangga menganyam tikar mendong, tanaman ini adalah komoditas yang menjanjikan. Lagi-lagi, kondisi pasar desa tak lagi bersahabat saat tikar berbahan plastik sintesis dari pabrik menyerbu pasar desa. Lagian, sudah tak jaman, hari gini tidur di atas dipan beralaskan tikar. Spring Bed sudah terbeli oleh orang-orang desa.

Karena langkah terhenti, pagi itu, kami hanya bisa duduk-duduk di galengan-pematang sawah. Merenung, menyatu dengan alam. Pemandangan yang hijau, udara yang segar, hawa yang sejuk, suasana yang hening, hanya terdengar orkestra nyanyian kodok, jangkrik dan burung truwok yang hendak bertelur. Bukankah itu kemewahan bagi orang-orang kota?

Di pematang sawah, jangkar alam fikiranku terbawa pada cerita-cerita masa lalu. Tentang ikan kutuk alias gabus besar-besar dan belut yang dulu begitu melimpah di tempat ini, tentang burung gemak alias puyuh dan burung pitik-pitikan yang wujudnya mirip dengan ayam. Dulu kami, sering mengejar dan memburunya. Sarang dan telurnya mudah kami temukan di antara rimbun tanaman mendong. Belum lagi tentang burung emprit, kutilang, prenjak, srikatan, waakhowatuha. Entah dimana mereka kini rimbanya. Hilang tanpa meninggalkan pesan. Belakangan aku tahu, burung yang kami sebut burung pitik-pitikan itu hidup bebas berdampingan dengan manusia di kampusku, Universitas Nottingham, Inggris. Tak seorang pun berani menangkapnya. Terbesit rasa sesal, kenapa dulu kami begitu kejam memburunya.

Di pematang sawah itu rasa keprihatinanku menyergap. Cerita klasik ekonomi pedesaan yang bak lingkaran setan, sangat tidak menguntungkan dalam rantai sistem ekonomi. Terus berulang, entah dimana juntrungnya. Tentang harga benih, pupuk, dan obat hama yang mahal di masa tanam, kemudian harga jual yang tiba-tiba anjlok saat panen tiba. Panen raya saja merugi, apalagi jika gagal panen? Juga tentang komoditas pertanian lainya yang tak ada harganya di pasar. Aku sangat awam dengan ilmu ekonomi, kalaupun aku seorang Profesor di bidang ekonomi pun, aku tak yakin bisa mengatasi keadaan. Benar, keadaan sistemik yang tidak menguntungkan.

Masa depan ekonomi pertanian di pedesaan rasanya begitu suram. Lebih-lebih arah pembangunan pemerintah yang tidak pernah memihak. Ironi saat puncak kekuasaan dikuasai partai yang sloganya partainya wong cilik. Ironi di negeri agraris dan maritim yang arah pembangunan negerinya tak berpihak untuk bidang keduanya. Alangkah lucunya, masya alloh di negeri yang garis pantainya terluas di dunia, garam saja harus impor. Di hamparan tanah yang subur, tongkat dilempar jadi tanaman saja, bahan pangan masih harus impor.

Tak heran, jika tak seorang pun, dari pemuda-pemudi desa yang berminat jadi petani muda, harapan masa depan. Kecuali petani muda sloganistik, yang biasanya hanya abang-abang lambe. Hanya kamuflase, yang sebentar saja tak ada rimbanya. Buat muda-mudi desa, memilih menjadi petani itu tak ubahnya memperpanjang rantai kemiskinan yang turun temurun.

Untuk memutus rantai kemiskinan itu, yang beruntung, punya otak agak encer, menempuh pendidikan tinggi, untuk kemudian menjadi priyayi di kota. Yang kurang beruntung di bidang akademik, dan orang tua punya modal yang cukup memilih bekerja di luar negeri, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang agak kurang beruntung lagi, yah merantau di kota-kota dimana uang banyak beredar, Denpasar salah satu tujuan utamanya. Yang tidak punya pilihan, kerja serabutan di desa, dengan konsekuensi menerima apa pun yang diberikan oleh hidup di desa. Masih adakah anak muda yang menggenggam asa untuk membangun desanya?

Dari sudut pandang uang saja, apalah yang bisa diharapkan dari desa? Tetapi, dari sudut pandang kehidupan keseluruhanya, kita perlu belajar kembali dari desa. Tentang ketulusan, kepolosan, kesederhanaan, kepasrahan, dan mendefinisikan kembali: apa yang kita cari dalam hidup. Desa adalah tempat untuk meraba-meraba kembali kemanusian kita, yang secara tak sadar, kesibukan telah menjadikan kita tak ubahnya mur baut mesin industri pencipta uang. Desa kembali mengingatkan kita kembali bahwa ada hal-hal lain dalam hidup yang lebih penting dari sekedar uang.

Advertisements

Sego Berkat

…. tidak sekedar bumbu-bumbu desa yang alami yang menjadikan istimewa, tetapi bumbu kesabaran, ketulusan dan keikhlasan yang  yang menjadikanya lezat tak terkira – a random thought

blog_sego_berkat

Sego Berkat

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan selalu menjadi hari-hari istimewa di kampung halaman istriku di Madiun. Bukan saja karena wasiat langit yang mengistimewakan hari-hari iu untuk khusuk khusuk mendekatkan diri ke sang pemberi kehidupan, tetapi kearifan sosial orang-orang di kampung itu.

Di hari-hari inilah, orang-orang di kampung ku sejak dahulu kala saling berbagi makanan. Weweh dan gendurean namanya. Weweh itu mengantarkan serantang makanan ke tetangga atau saudara, yang kemudian dibalas dengan memberikan selembar dua lembar uang di rantang yang telah kosong. Gendurenan itu mengundang beberapa tetangga terdekat dan pak modin, berdoa bersama untuk kebaikan yang dipimpin pak modin, lalu ditutup dengan membagi makanan, setelah dibagi, nasi bagian kita dibungkus dengan daun pisang untuk dibawa pulang. Sebungkus nasi itulah sego berkat namanya.

Buatku sego berkat inilah makanan paling enak sedunia.  Sego gureh atau nasi kuning yang punel, sayurnya urap-urap, serondeng, rempeyek, dan ayam kampung panggung, subhanallah rasanya begitu istimewa dan melegenda. Sebenarnya, makanan ala-ala ndeso seperti ini sudah gampang dipesan secara instan di kota-kota, seperti Surabaya. Tapi entahlah, meski serupa tapi tak pernah sama. Rasanya ada yang lain.

Aku pikir karena di sego berkat dikampung ini ada proses panjang yang mengiringinya. Ada kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan yang menyertainya. Bayangkan, sego berkat itu dimasak sendiri oleh sohibul hajat, dari pagi hingga petang hari. Nasinya dari padi yang ditanam, dirawat, dan dipanen dengan tangan mereka sendiri, berbulan-bulan lamanya dari mulai menyemai benih, menuai hingga diselep jadi beras. Sayurnya, dari sayur-sayuran yang ditanam, dirawat, dan dipetik dari sawah-ladang sendiri. Pun demikian dengankelapa dan bumbu-bumbunya, hampir semuanya dari sawah-ladang sendiri. Ayamnya pun disembelih sendiri dari ayam super bahagia, yang dipelihara sendiri, hidup bebas berkeliaran di kebun, memakan apa saja dari cacing, jagung, serangga, padi, bungkil kelapa, dan sebagainya. Bukan ayam-ayam terpenjara dalam kerangkeng kawat di industri ternak ayam.

Jadi amat maklum jika sego berkat ini nikmatnya luar biasa. Apalagi sego berkat ini habis dirapal dengan bacaan doa-doa dan nasi bungkus daun pisang itu dimakan keroyokan bersama-sama. Dan yang paling penting, gratis lagi. Ada bumbu keikhlasan dan ketulusan dari sohibul hajat yang membuat nya teramat istimewa. Sementara, di kota, sego ala ndeso, meski serupa tapi tak pernah sama. Karena sudah nyampur dengan proses industri dan ada transaksi bisnis yang meliputinya. Dan apalagi harganya cukup mahal.

Semoga kearifan sosial di kampung halaman ini akan terus bertahan di tengah arus ekspansi dajjal globalisasi, dimana semunya ada ukuran uangnya. Bahkan harga diri pun sudah dititipkan pada materi dan uang. Salam dari kampung!

Salam dari Desa Ku

… jika ada tempat yang nyaris tak pernah kita dengar atau lihat di media, tetapi senantiasa singgah menyebul gelembung rindu di hati, itulah desa, kampung halaman kita. Tempat yang senantiasa bercerita tanpa kata-kata di jalan sunyi – a random though

desa_penjual_jamu

Seorang Penjual Jamu Di Dusun

Jika ada tempat yang aku rindukan setiba di tanah air setelah lama pergi merantau, pastilah rindu itu tak sebesar rinduku pada kampung, desa, dusun halaman. Tempat orang-orang bersahaja menghidupi hidup dalam tarikan nafas kesederhanaan. Sesederhana angin yang berhembus saat hari menjamah malam. Tempat dimana kebahagian begitu melimpah ruah, dan senyum-senyum pun begitu murah terpancar dari wajah-wajah yang tulus.

desa_bebek

Pak Tani Menggiring Bebek Peliharaanya

Wajah dusun ku tak banyak yang berubah. Sedikit saja yang berubah. Dimana-mana semakin banyak warung atau toko menjual kebutuhan atau lebih tepatnya gaya hidup. Rupanya, racun konsumerisme mengganas sampai ke ujung-ujung dusun. Mobil-mobil mulus pun makin sering berseliweran menderu di jalan-jalan dusun yang sempit.

desa_ontel

Sepeda Ontel Di Tengah Sawah

Selebihnya tak banyak yang berubah. Rumah-rumah masih sesederhana yang dahulu. Orang-orang pun sebagian masih berprofesi seperti dahulu. Bertani di sawah, mengais rejeki di alas (hutan) yang sudah dikuasai pemerintah, beternak sapi dan domba, atau sekedar berjualan ala kadarnya seperti jamu atau kebutuhan sehari-hari. Kecuali sebagian besar para generasi mudanya, yang enggan atau lebih tepatnya gengsi untuk terjun ke sawah atau ke hutan, seperti leluhurnya. Mereka memilih bekerja di kota, walaupun hanya menjadi pembantu rumah orang-orang kaya atau menjadi buruh pabrik. Atau jika tidak, pergi sekalian ke luar negeri, ke hongkong, korea, saudi, atau ke malaysia.

desa_pergi_kesawah

Pergi Ke Sawah

Suara riuh ayam kampung, auman sapi dan embik kambing atau domba, serta cici cuit burung, masih terdengar seperti dahulu. Aku keluar dari rumah, mengayuh sepeda ontel warna merahku, perlahan menyusuri jalanan dusun yang membelah sawah-sawah luas yang terbentang di kiri dan kanan jalan.

desa_ngarit

Ngarit

Di tengah perjalanan, aku berseberangan dengan seorang pak tani yang menggiring ratusan bebek miliknya dari sawah menuju kandangnya. Kwek-kwek, riuh benar suara bebek-bebek itu. Lalu, di persimpangan jalan yang menuju hutan wonoasri itu aku berhenti. Kujagang sepeda ku, aku duduk di pinggir sawah. Mataku nanar menanap bentangan sawah sejauh mata memandang. Di sudut pandangan mata sana kulihat seorang petani sedang sibuk bekerja.

Lubuk hatiku ingin menyapa: apa kabar wahai dusun ku? Sawah-sawah itu seolah ingin bercerita kepada ku, tentang keluh kesah nasib para petani yang begitu-begitu saja. Nasib yang tak kunjung mentas dari kubangan kemiskinan. Tentang para penguasa negeri yang selalu luput dan alpa dalam menegakkan keadilan sosial.

Di pinggir jalanan desa itu ku dengar derit-derit sepeda ontel yang sudah renta. Seolah mendendangkan lagu-lagu penderitaan orang-orang dusun yang giat bekerja mencari kayu bakar atau rumput dari hutan di sebelah ujung sawah sana. Tetapi mungkin aku yang salah. Buktinya, senyum tulus dan ramah senantiasa tersungging di wajah-wajah polos dan tulus mereka. Wajah-wajah yang begitu ikhlas menerima apa saja yang hidup beri, tanpa perlu berkeluh kesah.

[bersambung]

Aku Rindu Suara Itu

rindu_adzan

Lukisan Senja (Crtsy: Youtube)

Aku rindu suara itu …
Kokok ayam jago bersahutan, menyambut setiap datangnya sang fajar.

Aku rindu suara itu …
Adzan subuh menabuh jiwa-jiwa yang bersih
Mengarak wajah-wajah bersahaja ke pintu masjid dan langgar
Bersujud memasrahkan segala takdir hidup pada yang Maha Perkasa

Aku rindu suara itu …
Kotek  ayam babon menggiring 12 anaknya keluar kombong
Mengais jatah rejeki di antara sampah daun-daun membusuk di kebonan
Berpacu dengan lelaki-lelaki perkasa mruput ke sawah

Aku rindu suara itu …
Nyanyian riang kawanan kepodang
dari balik rimbunya daun pohon jambu dan rambutan
Menggiring wajah-wajah polos menghentak langkah-langkah kecil pada galengan sawah
menuju gerbang sekolah.

Aku rindu suara itu …
Adzan maghrib menutup hari
Mengundang wajah-wajah tertunduk di atas hamparan sajadah
Meratapi dosa-dosa.
Tangan-tangan terangkat mengharap hidup berkah.

Aku rindu suara itu …
Anak-anak melafal ayat-ayat Alquran,
Duduk bersila menghadap dampar tua berbentuk persegi panjang
diterangi temaramnya dimar ublik 
Di sudut-sudut serambi langgar dan masjid

Aku rindu suara itu …
nyanyian tokek dan burung bence
Menggagahi heningnya malam.

Di negeri Kafir, Nottingham.
19/12/2014