Advertisements

Tag Archives: sistem

Budaya “lambrat… response” orang Indonesia: Whaz d briliant solution?

“..ternyata bukan masalah agama, bukan pula karena sistem yang buruk. Akan tetapi mentalitas bangsa ini yang perlu di ‘permak  dan di ‘reengineering’ ”

Hosh! 3 Minggu kembali hidup di bumi endonesah ini, setelah 2 tahun hidup di negara jiran [baca: tetangga], ternyata masih bikin geregetan “argh……”. Sebuah bangsa yang dari negara tetangga sana saya dengar di media banyak sekali perubahan ke arah perbaikan. Ternyata Oh ternyata ketika aku kembali masuk ke dalamnya, masih tetap saja seperti yang dulu.

“Perubahan” adalah kata yang terdengar sangat indah di telinga saya, tetapi perubahan yang lebih baik tentunya. Pertama kali menginjakkan kaki di JSi ITS aura perubahan itu benar-benar kentara, secara kasat mata tempat yang dulu “menyeramkan” itu sekarang menjadi tempat yang “menyenangkan”. Masuk ke kantor sekretariat Jurusan di sebuah kampus bersa bak memasuki kantor sebuah perusahaan kelas dunia [cie…], di depan sekretariat itu ada tanaman-tanaman hias yang tertata dengan sangat rapi dan cantik, tepat disamping pintu masuk terdapat poster bergambar beberapa mahasiswa yang berpose ceria, bertuliskan “Join Us”.

Begitu masuk pintu, ada poster lagi, dan “eng ing eng” anda akan menemukan pemandangan yang sangat indah, senyum seorang wanita muda cantik yang sangat rumah, kalau anda seorang wanita menolehlah ke arah kanan anda juga kan menemukan seorang pria muda ‘ganteng’ yang siap menyapa anda dengan sangat ramah. Dulu waktu jaman saya kuliah sekretariat jurusan itu cuman ada 2 biji, Mbak Nita dan Pak Kadir. Sekarang ada lebih dari 10 orang dan semuanya masih muda-muda, cantik-cantik, dan ganteng-ganteng.

Memasuki lorong ruangan dosen, yang dulu buat saya itu sangat menakutkan, saya masih inget sampek harus ‘ndelosor-ndelosor’ di lantai nunggu antrian diakses seorang dosen dan memang tidak disediakan tempat duduk disekitar lorong ruangan dosen itu. Suasana menakutkan itu kini berubah 180 derajat [ndak pakek celcius :p] di pangkal lorong ruangan dosen itu  ada TV LCD layar lebar, yang disebut dengan SiTV, TV lokal Jurusan Sistem Informasi ITS yang sebenarnya merupakan reinkarnasi Mading dan Papan Pengumuman yang dulu kurang sedap dipandang.

Sepanjang dinding lorong ruangan dosen itu  dipenuhi dengan poster-poster karya mahasiswa dalam bingkai kaca yang dikemas cukup cantik, bak etalase produk jualan hue he. Dari beberapa ruangan dosen itu ada 3 ruangan yang agak ‘nyeleneh’, yaitu 1 ruangan redaksi majalah Gengsi [Majalah jurusan Sistem Informasi ITS] dan 2 ruangan discussion room dimana banyak mahasiswa yang sedang asyik berdiskusi disitu, baik dengan dosen nya ato diantara mereka sendiri. Dan, satu lagi jangan khawatir harus ‘ndelosor-ndelosor melantai’ karena saat ini disediakan banyak sekali tempat duduk dan tanaman hias di lorong ruangan dosen itu.

Akhirnya, saya pun jadi bagian dari mereka. Semakin saya dapat membaca gerbong perubahan dari Jurusan ini. Sebuah unit institusi pendidikan yang dikelola dengan manajemen ‘modern organization’ berani meninggalkan gaya ‘manajemen kuno’ institusi pendidikan pada umumnya. Orang-orang baru di sekretariat JSi rupa-rupanya adalah orang-orang terpilih yang diplot oleh JSi untuk menjalankan peran pentingnya masing-masing. Ada Human Resource Manager yang salah satu programnya ngadakan senam aerobic jumat pagi, Management Support Manager, Corporate Relation Manager, Finance Manager, dan sebagainya dan sebagainya.

Bahkan ada salah satu staf yang kerjaanya khusus nganter dan ambil absen di kelas, buka-tutup pintu kelas, menghapus papan tulis, nyediain spidol dan penghapus, neken tombol power PC, LCD Projector dan AC yang sudah embedded di setiap kelas. Pokoknya ketika masuk ruangan kelas, tidak ada ceritanya papan tulis belum bersih, Spidolnya ndak ada, Absen nya belum ada, ato LCD nya belum nyala. Kalau itu terjadi staf yang bersangkutan bisa jadi tersangka hue he….

Sangat menyenangkan sekali hidup dalam gerbong kereta perubahan ini, Hidup berada di tengah-tengah teman seprofesi yang masih sangat muda-muda dan energik membuat hidup terasa indah, ringan tanpa beban. Hobi menulis saya pun tersalurkan dengan baik. Ada Jurnal Fakultas (JUTI) dan Jurnal Jurusan (SISFO) yang selalu merindukan tulisan saya setiap saat [Ciee… Prek !]. Ada duit dolar dari Jurusan yang siap mengantar saya ikutan Conference dimana pun, sampek ke ujung dunia. Ada dana penelitian dari LPPM ITS yang siap mendanai setiap ide riset yang ada di kepala saya. Dan yang lebih penting lagi ada seseorang yang meng ‘encourage’ meng ‘push-push’ saya untuk menulis dan melakukan penelitian.

Tetapi sayang nya, ternyata tidak semua orang merasa nyaman berada di gerbong perubahan kereta  ini. Ada beberapa orang yang dengan sengaja berusaha ‘menggembosi’ ban kereta. Tapi alhamdulilah karena ban roda kereta ini dari besi, jadi kereta pun tetap berjalan. Ada juga yang memaksa diri keluar dari gerbong kereta, bahkan ketika kereta ini sedang berjalan. Yah.. kalau itu sih pilihan mereka. Karena di gerbong perubahan kereta ini tidak pernah memaksa kehendak siapa pun.

Well, So Far So Good. Tetapi ada satu budaya buruk yang seharusnya dibasmi habis yang masih bercokol di gerbong perubahan JSi ITS ini. yaitu budaya “lambrat response”. Di ruangan kami, separoh saluran listriknya mati, kami sudah komplain ke staff yang berkwajiban berkali-kali, sejak 3 minggu yang lalau. Tapi sampai saat ini ‘a little problem’ itu belum juga teratasi, selalu saja ada alasan.

‘Ndak ada tangganya kek, apa kek’, parahnya lagi sering kali melimpahkan kwajiban nya ke orang lain. ‘yah itu seharusnya kerjaan pak B’. Eh ternyata setelah ditanya ke Pak B bilangnya itu bagian Pak A.
“Mbules terus ! tiada akhir…”
Sama halnya dengan galon air dispenser di ruangan kami, galon air itu sering kali kosong melompong berhari-hari, bahkan setelah di komplain ke yang bersangkutan. Sangking sebelnya kami pernah mau urunan langganan galon sendiri, hehe…

Padahal sistem di JSi ini sudah sangat bagus, semua punya job description yang jelas. Reward and Punishment pun sudah jelas. Bahkan orang nomor wahid di JSi ini sering kali menegur yang bersangkutan berulang kali. Mungkin ini permasalahan kecil di JSi, Akan tetapi saya sangat yakin bahwa permasalahan kecil – permasalahan kecil seperti inilah biang keladi permasalahan-permasalahan besar bangsa ini. Permasalahan ‘kecil’ di JSi sangat mungkin terjadi di tempat-tempat lain, yang akhirnya menumpuk-menumpuk menjadikan permasalahan besar bangsa ini. Sehingga jangankan untuk lari mengejar ketertinggalan, untuk maju selangkah ke depan saja Bangsa ini sangat tersendat-sendat.

Seringkali saya merenung, Whaz d real matter with this nation?Bukankah bangsa ini sebuah bangsa yang religius, dimana bangsa ini merupakan bangsa muslim terbesar di dunia, setiap saat ada orang yang menyebut Tuhan nya. Salahkah agama kita? Sistem negara ini, kurang bagus kah? Budaya bangsa ini, kurang ‘adi luhung’ kah budaya bangsa ini? Orang-orang nya, kurangakah orang-orang pintar dan cerdas di negara ini?

Menurut hemat saya, ada satu hal yang sering dilupakan oleh bangsa ini. Satu hal yang lebih penting dari sekedar menciptakan sistem yang bagus sekalipun. Yaitu, mengubah spirit mentalitas bangsa ini. Dari yang bermental UUD (Ujung Ujungnya Duit) ke mental pengabdian (devote). Mentalitas ini bisa diresapi dari budaya atau agama kita sendiri. Budaya Jawa misalkan punya adigium: “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” atau “Sepi ing pamrih rame ing gawe”. Agama Islam misalkan mengajarkan : “Khairunnas Anfauhum Linnasi” sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk manusia lainya.

Agama Kristen misalkan juga mengajarkan untuk hidup sebagai “Pelayan” Tuhan dalam hidupnya.Saya jadi teringat cerita seorang kawan yang pernah tinggal di Jepang. Konon katanya kantor-kantor pemerintah di Jepang, disana itu kinerjanya sangat luar biasa. Orang-orang nya bekerja dengan sangat cepat dan tepat bak semut. Sangat kontras sekali dengan kantor-kantor pemerintah di Indonesia. Ketika ditanya kenapa orang-orang jepang di kantor pemerintah bisa seperti itu? katanya adalah mereka merasa sangat bangga dan terhormat bisa menjadi abdi negara dan melayani masyarakat dengan baik. Saya juga jadi teringat seorang tukang sampah di Pesntren Darul Ulum Jombang, dia sangat rajin setiap pagi-pagi membersihkan sampah-sampah di halaman pesantren, dia sangat menikmati pekerjaan nya itu, dan selalu tersenyum ke setiap santri yang ia temui, dia bahkan sudah menjalani profesi nya itu berpuluh-puluh tahun, dengan tanpa gaji. Ketika saya bertanya kepada beliau apa spirit nya, beliau menjawab: beliau merasa bangga bisa mengabdikan sebagian hidupnya untuk pondok, terlebih yang menunjuk dia sebagai tukang sampah adalah KH Mustain Romly, Seorang kyai yang sangat dihormati pada masanya. Meskipun tanpa dibayar, beliau merasakan keberkahan hidup yang sangat luar biasa, bahkan satu diantara anak beliau lulusan PT Ternama dan Hafal Alquran. Itulah sebanya dia selalu menikmati setiap detik nafas hidupnya sebagai seorang tukang sampah. Saya juga jadi teringat seorang Tukang Parkir FMIPA ITS, yang selalu ramah terhadap mahasiswa, yang pernah rela bayar tarif lin untuk 15 penumpang [karena lin nya ndak mau jalan kalau belum penuh 15 orang penumpang] karena takut telat jaga parkiran di FMIPA ITS. Jawabanya sama beliau, yang lulusan D3 itu bangga bisa mengabdikan dirinya untuk ITS.

Mentalitas seperti orang jepang, tukang sampah, dan tukang parkir inilah yang saat ini sangat urgent dimiliki oleh bangsa ini. Sebuah bangsa yang tidak meletakkan ‘kekayaan’, ‘jabatan’, ‘gelar’  sebagi simbol kesuksesan tertinggi hidup. Tetapi sebuah bangsa yang merasa bangga dan terhormat mengabdikan sebagian atau seluruh hidupnya untuk melayani, memberikan kontribusi, orang-orang lain di sekitar mereka, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Sebuah bangsa yang memiliki jiwa ‘devote’ untuk orang lain, bukan untuk diri mereka sendiri semata.

Semoga gerbong kereta perubahan JSi dan bangsa ini dapat terus dan terus

berjalan !
Insyaa.. Allah.

Advertisements

Cara Cerdas Lestarikan Budaya Daerah : Presentasi Tugas Kuliah dengan Dress Code ‘Cak&Ning’ dan Bahasa Daerah

Disaat bumi yang kita tempati ini terasa semakin flat [baca: datar], karena transfer informasi dan knowledge [baca: pengetahuan :p] yang tanpa kelim dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang secara massive dan sporadis, mengakibatkan budaya umat manusia semakin menjadi ‘budaya global’, budaya one for all , satu untuk semua. Hal ini mengakibatkan keberadaan budaya dan ‘local heritage’ kearifan lokal  nyaris mati klepek-klepek , mengenaskan sekali.

Keadaan ini diperparah lagi dengan nalar salah kaprah dalam memaknai arti modernitas dan kemajuan [terjemahan dari : ‘advancement’] yang menghinggapi sebagian besar kepala bangsa kita [baca: Indonesiah :p] , terutama di kalangan anak muda. Dalam nalar salah kaprah ini, pokoknya segala yang berbau kebarat-baratan, keinggris-inggrisan, kebule-bulean itu dianggap Modern dan Maju. Sebaliknya, yang kedaerah-daerahan, kendeso-ndesoan itu dianggap KATROK dan ketinggalan jaman. Sehingga jangan heran kalo melihat mbak Tukiyem, ABG yang sukses jadi TKW di Malaysia itu, ketika balik kampung show off  dengan pakek hot pan, baby t-shirt, rambutnya dicat pirang -sangat kontras dengan warna kulitnya yang item mbulak :D, sambil sok sibuk facebookan dengan HP Nokia keluaran terbaru, berlenggak lenggok di sepanjang jalan kampung halamanya. Dan orang2 kampung pun hanya bisa memuji :

“Alhamdulilah nduk, sampean wes sugeh, wes sukses saiki . Tapi, Iku susu mu opo ndak loro to nggawe kaos koyok ngono kuwi” [baca: Alhamdulilah nak, kamu sudah kaya, sudas sukses sekarang. Tapi itu susu kamu apa ndak sakit pakek kaos seperti itu]

Permainan-permainan tradisional masa kecil saya seperti gedrik, gobak sodor, lot-lotan, mur-jamuran, dakon, pal-palan, cim-ciman, petak umpet, kelereng mungkin sekarang sudah tidak dikenal oleh anak-anak jaman sekarang bahkan di kampung sekalipun. Semua itu sekarang tinggal menjadi romantisme sejarah permainan anak-anak desa masa lalu yang sudah dikubur dalam-dalam oleh permainan-permainan baru ala PS (baca: Play Station).

Saya juga yakin sekali anak-anak sekarang banyak yang ndak ngerti, ndak pernah merasakan makanan macam botok sembukan, botok tawon, pelas teri, pepes, sambel korek, urap-urap, jenang sumsum, jenang grendul, jenang abang, dll. Semua makanan itu juga mengalami nasib yang sama, kini tinggal menjadi romantisme sejarah makanan tempoe doeloe mati ditindas oleh Pizza Hut, Burger, Spaghetti, Hoka-hoka Bento, dan makanan sejenis nya itu lah.

Lagu daerah juga, seperti ‘kodek ngorek’, ‘si kancil anak nakal’, ‘gotri ala gotri’, berikut dongeng-dongeng masa kecil kita seperti ‘Si Kabayan’, ‘Si Kancil’, ‘Dewi Sri’ , dll. Sekarang mungkin sudah di musiumkan di negeri antah berantah.

Bahasa juga mengalami nasib yang sama, bahasa indonesia saja dah keinggris-inggrisan, apalagi bahasa daerah. Jangan heran meskipun bapak nya asli Tulung Agung, Ibuk nya asli Wonogiri [terus ketemu di Jakarta] tetapi anak-anak nya ndak ada yang bisa bahasa Jawa. Jangankan Bahasa Jawa Kromo Inggil, Boso Jowo Ngoko kasar saja ndak bisa. Tidak hanya yang tinggal di kota saja, anak kampung di daerah pun saat ini sudah ndak PD dengan bahasa daerahnya. Suatu hari di satu kampung ndueso banget seorang nenek memuji kecantikan cucu nya yang ndak sekolah ke sekolah [SD,red].

“duh nduk… ayu tenan putu ku iki…!! [duh nak, cantik benar cucu ku yang satu ini] ” kata si nenek.
” Oh Mai Got…. si embah negh gimana sech. Ya eya lah mbah, plis deh…..secara anak abah dan umi gt, bukan anak si mbah, mbah ni dah jelek ndak gaul pisan…” kata si cucu.
” Oalah nduk sampean iki omong opo to, aku ora dong [oalah nak, kamu tu ngomong apa seh, aku ndak paham]” kata si Nenek.

[hua ha…..dasar anak jaman sekarang, ndak ngerti adat dan sopan santun].

Hoo ho…
kalo kita renungkan, bangsa ini memang sungguh keterlaluan. Lahwong, jelas-jelas budaya kita ini di jajah, mind set kita ini di jajah, makanan dan bahasa kita pun dijajah oleh budaya dan makanan asing,  tetapi  kita justru bangga dengan budaya dan segala yang datang dari asing. Kita jauh lebih bangga nongkrong di Star buck, Pizza Hut, Mc D, Hok. Ben, KFC, susi, dll. ketimbang di Warkop nya Mbok Darmi ato Ayam goreng nya Ny. Suharti.
Seharusnya kita baru merasa bangga, kalo ‘botok sembukan’ dan ‘pepes kadal’ kita mampu menembus pasar di Jepang, di Inggeris, Jerman, ato Amrik.

Nalar yang salah kaprah itulah yang semestinya harus kita ubah. Jangan sampai kita sebagai sebuah bangsa besar, akan tetapi kehilangan identitas dan jati dirinya. Sebuah bangsa yang bangga dan tetap berpegang teguh dengan budaya lokalnya pun terbukti mampu berjaya di pergaulan antar bangsa, Lihat saja Jepang !!

****
Ngomong-ngomong tentang budaya daerah, ada cara cerdas dan unik dari dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, agar mahasiswanya cinta, bangga, dan mau melestarikan daerah nya.

Adalah di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya. Di kampus teknik ini, untuk presentasi Tugas sebuah mata kuliah bernama Perancangan Kamar Mesin II (PKM II) semua mahasiswa nya diwajibkan memakai pakaian khas asli Surabaya ‘Cak dan Ning’. Dresscode ini harus dipakai lengkap saat presentasi,  yang cowok harus memakai  beskap, blangkon , dan aksesorisnya. Sedangkan yang cewek harus pakek pakain ‘neng’ surabaya lengkap dengan selendang nya. Tidak hanya memakai pakaian khas suroboyoan, Mahasiswa juga diminta mempresentasikan dalam bahasa daerah nya masing-masing seperti Bahasa Jawa dan Madura. Tetapi biar ndak terkesan anti-asing, sometime mahasiswa diminta presentasi dalam bahasa Inggeris. Lucunya, ternyata kebanyakan mahasiswa justru lebih lancar presentasi dalam bahasa Inggris ketimbang menggunakan Bahasa Daerah nya sendiri.
Ha ha……………….

Ayo Rek !! Kita Lestarikan Budaya Kita Sendiri, Kalau bukan kita siapa lagi?
“Monggo….. Tresno…. Budoyo……!!” [baca : Mari Cintai Budaya Kita]