sekolah anak di inggris

Kelas Baru Anak Lanang

…sekolah disini, tidak ada yang istimewa dalam setiap pergantian tahun ajaran baru . Semua biasa saja. Tidak perlu seragam baru, sepatu, atau tas baru. Biaya pendaftaran atau daftar ulang pun tidak ada. Bahkan buku baru pun tidak perlu, karena semuanya sudah disediakan gratis oleh sekolah. – a random thought

20160902_084950

A Year 1 Primary School Student

Rupanya, liburan musim panas sekolah yang panjang, satu setengah bulan lamanya, berlalu begitu saja. Selama itu, anak lanang hanya berkutat di rumah saja. Tidak ada acara liburan, tidak ada acara jalan-jalan. Masing pusing dengan disertasi yang tidak kunjung usai dijadikan alibi oleh bapak si anak lanang. Padahal sejatinya, tidak ada anggaran untuk jalan-jalan. Hehe.

Untuk mengusir kebosanan selama liburan, hanya beberapa hari tertentu dalam seminggu, sang bapak mengajak si anak lanang mengunjungi perpustakaan komunitas terdekat, yang hanya berjarak sekira dua ratus meter dari rumah. Duduk-duduk sebentar di sofa yang nyaman, sambil si anak lanang memilih buku-buku kesayangan dan sejenak bermain dengan sejumlah maianan di perpustakaan. Sebelum keduanya asyik dengan dunia nya sendiri-sendiri.

Hari ini, 1 September 2016, hari sekolah pertama anak lanang di kelas yang baru. Year 1 Primary School alias kelas satu sekolah dasar. Masih di sekolah yang sama, Berridge primary and nursury school, dengan kelas reception setahun sebelumnya, yang harus ditempuh selama 20 menit dengan ngontel sepeda.

Pagi itu, beberapa murid yang didampingi orang tuanya masing-masing, sudah berbaris rapi di depan kelas. Pintu kelas bernama Birch yang di depanya tumbuh bunga matahari itu masih tertutup rapat. Murid-murid sudah tak sabar menunggu kelas dibuka.

Beberapa jenak kemudian, seorang pak guru yang terlihat gagah dengan jas dan dasi yang dikenakanya, dan berwibawa dengan jenggot, kumis, jambang dan rambutnya yang mulai memutih, muncul membuka pintu kelas dengan menebar senyum dan aura wajah yang penuh kesabaran. Menyapa dengan ramah semua calon murid barunya: Good morning everyone! Sesaat kemudian, seorang ibu guru yang cantik dan sabar keluar membawa papan pengumuman kecil , meletakkanya tepat di depan kelas.

Di papan pengumuman itu tertulis himbauan kepada semua orang tua, agar setidaknya dua kali dalam seminggu menyempatkan diri membaca buku bersama dengan anak-anak mereka. Satu per satu, bocah-bocah umur lima tahun itu, memasuki ruangan. Pak guru menyebut satu per satu nama murid-murid barunya itu. Luar biasa, di hari pertama pun, pak guru sudah hafal nama-nama muridnya.

Keadaan yang hening dan tertib tiba-tiba berubah, saat seorang bocah tak mau turun dari gendongan ibunya. Menangis, meraung-meraung, tidak mau ditinggal sendirian oleh ibunya. Dengan sigap dan tenang, pak guru yang gagah merebut si bocah dari gendongan sang ibu. Tangan si bocah memegang erat baju sang ibu, tetapi akhirnya lepas juga. Tangis si bocah semakin menjadi-jadi, meronta ingin turun dari gendongan pak guru. Tanganya memegang erat sisi pintu kelas, saat pak guru membawanya masuk kelas. Dengan lembut, bu guru membantu melepas tangan si bocah. Kelas pun ditutup rapat-rapat, dan sang ibu yang berbadan tegap atletis itu pun pergi meninggalkan halaman sekolah.

Tidak ada yang istimewa di pergantian tahun baru, semua biasa-biasa saja. Tidak ada biaya ini dan itu, tidak perlu mengurus administrasi yang ini dan lain itu. Pun tidak ada biaya membeli buku baru. Semua buku disediadakan gratis oleh sekolah. Bahkan makan siang pun disediakan dengan percuma oleh pemerintah kota. Anak-anak belajar dengan tenang dan senang, dari pagi hingga petang. Tidak pernah ada PR yang memberatkan, hanya buku diary daftar buku yang harus dibaca di rumah. Alangkah menyenangkan sekolah disini.

Bukankah seharusnya begitu pendidikan? jika pendidikan dipercaya sebagai alat transformasi kehidupan di masa depan, setiap anak yang lahir sudah seharusnya mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama baiknya untuk meraih masa depan terbaiknya, seburuk apa pun latar belakang ekonomi keluarganya. Bukankah seperti itu seharus pendidikan? Pendidikan itu memanusiakan, bukan memenjarakan.

Selamat belajar anak lanang!

 

Advertisements

Sains dan Bocah-bocah Itu

Lalu, apa kabar nanti dengan bangsa yang tidak begitu peduli dengan bocah-bocah, para calon generasi penerus bangsa itu? – a random thought

sains_day_2

Anak Lanang dan Mobil Bertenaga Air Garam

Sore itu jarum jam dinding di dalam gedung sekolah hampir merapat sempurna menunjuk pukul 3.30. Para orangtua berbaris rapi di depan pintu keluar masing-masing kelas anaknya masing-masing. Aku salah satu diantara para orang tua itu, berdiri mengantri di urutan nomor dua di depan pintu keluar kelas Holy yang catnya berwarna jingga. Di depan ku ada seorang perempuan Pakistan berkerudung panjang berwarna putih. Perempuan berkulit kuning agak gelap, berhidung mancung itu membiarkan rambut bagian depanya yang sudah banyak beruban itu terbuai oleh angin yang bertiup agak kencang dan membelitkan sekenanya kedua ujung kerudung yang panjangnya bisa sampai menyentuh tanah itu dilehernya. Tepat di belakang ku, seorang lelaki berkulit hitam legam, tinggi kurus, rambutnya keriting keribo, yang terlihat sangat sibuk.

Satu, dua, tiga jenak kemudian, seorang Ibu guru muda keturunan India yang wajahnya manis sekali, keluar membuka pintu kelas, mengumbar senyumnya lalu berdiri di depan pintu kelas yang telah terbuka. Ibu guru itu, memandangi satu-persatu wajah kami para orang tua yang tertib mengantri, lalu memanggil anak kami satu-persatu. Bocah-bocah berumur 4-5 tahun itu keluar satu demi satu dari kelas berdasarkan urutan antrian kami para orang tua yang berbaris rapi di depan kelas. Bu guru itu sudah hapal betul siapa orang tua dari setiap anak didiknya.

Anak lanang keluar dari kelas dengan wajah super `excited’, tangan kirinya menenteng tas dan jaket, sementara tangan kananya memegang selembar kertas berwarna kuning. Sebuah kertas lagi juga berwarna kuning tergantung dilehernya dengan pita yang juga berwarna kuning. Di kertas yang menggantung di leher itu ada gambar Albert Enstein, tulisan ‘ I am Scientist …‘, dan tulisan nama anak lanang. Sementar selembar kertas di tangan kananya itu sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa hari anak lanang telah berhasil membuat buble.

Di dalam perjalanan pulang ke rumah dengan sepeda ontel, anak lanang dengan penuh semangat bercerita bahwa hari ini di kelasnya ada ‘Science Fair’. Bocah-bocah itu diperkenalkan dengan sains dengan melakukan eksperimen dengan hal-hal yang dekat dalam kehidupan sehari-hari. Mulai belajar listrik statis dengan mengosok-gosokkan balon dengan rambut, lalu ternyata balon itu bisa menembel di tembok atu dengan membuat Buble dengan sabun. Sederhana memang, tapi yang membuat saya takjub adalah bagaimana bisa membuat bocah-bocah itu begitu takjub luar biasa dengan ‘keajaiban’ sains itu. Sesampai di rumah, anak lanang tak henti-hentinya menceritakan ekperimenya di sekolah kepada emaknya.

Keesokan harinya, anak lanang ndilalah kok ya mendapatkan hadiah mobil mainan bertenaga air garam dari Bude Didin, istri Pakde Dani yang dosen Teknik Mesin di Universitas Derby itu. Di akhir pekan, bersama sang Bapak, anak lanang begitu excited merakit mobil-mobilan itu, satu komponen demi komponen, dari memasang roda hingga memasang mesin penggerak roda. Kemudian juga membuat bahan bakarnya dari air dicampur dengan garam dapur. Dan viola, hanya dengan tiga tetes air garam mobil-mobilan itu bisa berlari kencang sendiri. Karuan saja, si Anak lanang tertawa kegirangan dengan mainan barunya itu. Sampai dikelonin ketika tidur, bahkan mungkin sampai terbawa ke alam mimpinya.

sains_day

Ilustrasi: I am Scientist Ilyas

***

Setiap bangsa memiliki kiat sendiri untuk mempersiapkan para generasi penerusnya, untuk melanjutkan estafet kejayaan dan kepemimpinan bangsanya di masa depan. Pada bocah-bocah itulah, maju mundur sebuah bangsa akan ditentukan. Di negara ini, selain budaya membaca, menulis, berhitung, berimajinasi, dan berkreasi yang sudah begitu tanamkan sejak umur 3 tahun, budaya mencintai sains pun diperkenalkan sejak dini. Tentu dengan cara-cara yang menarik sesuai perkembangan usia anak masing-masing. Lalu, apa kabar nanti dengan bangsa yang tidak begitu peduli dengan bocah-bocah, para calon generasi penerus bangsa itu? Wallau a’lam bisshowab.

Catatan Pinggir:
1. Eksperimen sains sederhana untuk anak-anak bisa dilihat disini.
2. Eksperimen Mobil-mobilan tenaga air garam bisa dilihat disini.

Tularkan Sedikit Semangat mu Nang !

Selamat belajar nak penuh semangat. Rajinlah selalu tentu kau dapat. Hormati gurumu sayangi teman. Itulah tandanya kau murid budiman – Lirik lagu Pergi Belajar

ayah_dan_anak_lelakinya

ILustarasi : Father and His Son (Edinburgh, Skotlandia)

Di setiap pagi yang selalu kurindukan, aku melihat binar cahaya mata yang terang benderang. Di setiap pagi yang selalu ku nantikan, ku saksikan kecerian dan kebahagian yang melimpah ruah. Di setiap pagi yang ku tunggu, ku lihat derai semangat yang menggebu-gebu. Pagi yang selalu menjadi pagi terindah mu. Pagi, menjelang berangkat ke sekolah mu.

Argh, nang, anak lanang ku ! Aku tak pernah tahu pasti apa yang terjadi di sekolah mu. Tetapi semangat dan keceriaan mu itu telah melukiskan bahwa sekolah mu adalah adalah taman syurga terindah yang selalu kau rindukan. Syurga yang tak pernah sejenak pun rela kau lewatkan.

Argh, andai saja kau tularkan semangat mu itu. Kau pinjamkan keceriaan mu itu. Aku tak perlu menekuk muka, hatiku pun tak perlu menahan lara pada setiap langkah-langkah kaki ku ke kampus. Kampus yang kadang membuatku merasa setengah gila.

Tetapi, setidaknya ada semangat mu yang selalu mengingatkan ku. Semangatlah belajar selalu ! Jadikanlah sekolah menjadi syurga mu selamanya. Meski di sekolah tanpa jendela. Oh dear, just shed your own light !