Advertisements

Tag Archives: sederhana

Filosofi Hidup Sederhana dalam Sepiring Nasi Lemak

… ribet dan sibuk begitu rasanya tabiat manusia modern dalam menyelenggarakan kehidupanya. Untuk apa? untuk tujuan bahagia juga? – a random thought

nasi_lemak_1

Nasi Lemak

Di Jakarta, ada sebuah tempat makan favorit aku yang nomor satu. Warteg? Haha, jawab jujur ndak ya? Lupakan warteg untuk sejenak dulu lah. Tempat makan itu tepatnya adalah Bangi Kopitiam, di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.  Jika ada ruang dan waktu bertemu mewujud dalam sebuah momentum yang tepat, aku akan memilih nongkrong di tempat ini.

Awalnya, tahu tempat ini dari seorang teman lama. Jalan cerita hidup kami pernah bersinggungan di ruang dan waktu yang sama, satu sampai dua tahun saja. Waktu kami sama-sama sekolah program master by research, di Universiti Teknologi Petronas, Malaysia. Sebuah kampus yang fully funded by Petronas, dan berlokasi di desa Tronoh, sebuah desa di atas bukit bekas lokasi penambangan timah yang tenang, di wilayah kerajaan Perak Darul Ridzuan. Sungguh, tempat yang penuh kenangan.

Dipertemukan kembali dengan teman lama setelah lama tak bersua adalah salah satu momentum paling membahagiakan dalam hidup. Menertawakan bersama cerita hidup yang sudah lewat. Cerita yang dulu kadang rasanya berat dan penuh dibayang-bayangi kekhawatiran oleh segala bentuk ketidakpastian  dalam hidup yang kini rasanya hanya menjelma bak lelucon hidup belaka.

Jadilah Bangi kopitiam ini serasa menjadi tempat paling tepat dalam momentum pertemuan kami kembali saat itu. Ada banyak menu makanan di tempat ini, yang tentu saja bukan hanya makanan Malaysia saja. Tetapi tentu nasi lemak menjadi menu pilihan. Ini adalah menu sarapan paling murah dan legendaris waktu di Malaysia.

Nasi lemak adalah makanan yang sederhana saja (walaupun disini harganya tidak sederhana ya :p ). Sekepal nasi gurih, ikan bilis (sebutan ikan teri di Malaysia), kacang goreng, separuh telur rebus yang dilengkapi dengan seiris mentimun dan seonggok sambal hijau. Lalu dimakan dengan tangan telanjang tanpa sendok, sebagaimana lazim orang-orang disana makan. Aromanya khas. Apalagi sambal hijaunya yang memiliki cita rasa klasik. Lalu ditutup dengan menyeruput secangkir kopitiam yang masih panas.

nasi_lemak_2_update

Desain Interior

Desain interior restoran yang klasik, membuat kami betah ngobrol berlama-lama di tempat ini. Kami berasa terbawa dalam lorong waktu yang membawa kami dalam kenangan beberapa tahun silam.

Rasanya, kesederhanaan nasi lemak ini merupakan anti-tesa kota Jakarta. Kota yang selalu sibuk, dipenuhi oleh orang-orang yang terburu-buru dikejar oleh entah apa. Waktu kah? Targetkah? Atau angka-angka lainya. Yang jelas semakin banyak orang yang menambatkan harga dirinya pada sejumlah angka-angka. Setidaknya angka-angka pada rekening tabungan mereka.

Di jaman yang kabarnya semakin sophisticated ini, semuanya harus bisa diukur dengan angka-angka. Bahkan hubungan transendental yang seharusnya sangat privat antara seorang hamba dengan Tuhanya pun harus terukur dengan angka-angka: seberapa lebar hijabnya, seberapa panjang jenggotnya, berapa juz hafalanya, dan sebagai-sebagainya.

Melihat riuhnya cara orang Jakarta menyelenggarakan hidup, diam-diam hatiku bertanya-tanya: bahagiakah mereka? jika sudah bahagia apalagi yang mereka kejar? atau jangan-jangan malah sebaliknya? Apakah bahagia sudah menjelma menjadi angka-angka yang terus harus dikejar. Bertambah dan terus bertambah, yang memang kita tidak akan pernah menemukan angka berapa yang terbesar.

Sepiring nasi lemak ini mengingatkan ku bahwa sebenarnya kunci kebahagian sesungguhnya adalah hidup sederhana saja. Gaya hidup para Nabi yang teorinya adalah panutan hampir seluruh milyaran manusia di dunia. Nyatanya ini bukan sekedar dogma. Sebuah riset akademik di bidang psikologi yang dipublikasikan Desember 2018 di bbc, menyimpulkan bahwa semakin keras kita berjuang untuk mencapai kebahagiaan, justru semakin kecil peluang kita untuk mencapai kebahagiaan itu. Jadi, the quickest way to happiness may be do nothing.

Jadi, mau hidup bahagia atau sekedar mengumpulkan angka-angka? Jika ingin pilihan yang pertama: hidup sederhana saja. Seperti falsafah hidup orang Jawa: hidup sing prasojo. Mangan ora mangan sing penting ngumpul. Barangkali itulah mengapa orang Jawa dahulu adalah salah satu bangsa yang paling bahagia di dunia, meskipun kalah dalam angka-angka.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Advertisements

Hidup Sederhana (Saja)

… banyak orang yang menghidupi hidup yang sejatinya bukan seperti nurani kecil mereka inginkan, tetapi hidup yang seperti apa orang lain ingin memandang – a random thought

snow_nott

Ilustrasi: Hidup yang terlihat

Kala sedang melihat kehidupan orang-orang yang menurut orang modern adalah terbelakang, ketinggalan jaman, seperti orang baduy, tengger, atau suku di pedalaman nusa tenggara sana, ataupun orang-orang desa aku sering bertanya-tanya. Betapa hidup itu begitu sederhana saja sebenarnya. Betapa semua kebutuhan hidup tersedia oleh alam. Dan mereka mengambil dari alam sebutuhnya saja.

Bukankah hidup sebenarnya sederhana saja? kita makan pun tak lebih 3 piring saja bukan? Sayang orang modern begitu serakah. Ingin menumpuk-numpuk kekayaan sendiri sebanyak-banyaknya. Untuk hidup selama-lamanya di dunia? Nyatanya tak seorangpun mampu bertahan hidup lebih dari dua ratus tahun, bukan? Diatas 60 tahun saja, hidup mu sudah sakit-sakitan?

Pun kebahagiaan, begitu sederhana juga bukan? Sesederhana seorang bocah mengumbar seulas senyum selepas mencium sekuntum melati mekar di taman di depan rumah di sore hari.

Hanya saja, kehidupan dibuat-buat semakin kompleks. Kebutuhan pun dibuat-dibuat. Orang-orang menghidupi hidup yang sejatinya, tak seperti nurani kecil mereka inginkan. Tetapi menghidupi hidup yang orang lain ingin melihat.

Orang-orang ingin menghidupi hidup seperti yang diinginkan para penjual gaya hidup. Penjual mobil, penjual rumah, penjual gadget, penjual hiburan, penjual syahwat. Para penjual pemilik keserakahan hidup. Sungguh hidup yang begitu menyebalkan dan menyesakkan. Hidup yang penuh kebutuhan yang terus dan terus bertambah. Disaat yang sama kulihat ketimpangan hidup yang semakin menganga. Kulihat kerusakan alam yang semakin memiriskan dada.

Setiap hari, kulihat banyak orang-orang memamerkan kebahagian, tetapi diam-diam hatinya menyimpan duka kesedihan yang dalam. Kulihat banyak orang memamerkan kesempurnaan hidup, tetapi diam-diam hatinya menyembunyikan kemunafikan yang menjijikkan.

Haruskah hidup penuh kepura-puraan ini kita lanjutkan? Jika ia, entah seperti apa pada akhirnya jadinya? Kalau aku bisa memilih, akan kupilih hidup sederhana saja. Bahagia yang sederhana saja. Tetapi memilih hidup sederhana di jaman ini justru tidaklah sederhana.