sawah banyuwangi

Setangkup Cerita Dari Banyuwangi

…  Lebih daripada itu semua, setiap kembali ke kota ini aku merasa kembali menemukan hidup kembali. – a random thought

banyuwangi_1

Pantai Cemara Banyuwangi

Banyuwangi. Nama kota kecil di ujung tenggara pulau Jawa ini begitu istimewa di hatiku. Bukan saja sebagai hometown, tempat aku lahir, tumbuh mendewasa dan selalu ingin kembali pulang kepadanya, kemanapun aku pergi.  Lebih daripada itu semua, setiap kembali ke kota ini aku merasa kembali menemukan hidup kembali.

banyuwangi_p_merah

Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Masih seperti dulu, kota ku ini tetap bersahaja. Bahkan jalan di depan rumahku, sejak aku lahir hingga sekarang yang sudah separuh usia menuju senja pun, masih istiqomah seperti dahulu. Jalan makadam yang bergelombang dan bergeronjal. Kalau sampean naik mobil, siap-siaplah begoyang-goyang sepanjang perjalanan. Orang-orangnya pun masih peramah dan pemurah seperti dulu. Dan sawah dan ladang masih sepermai dahulu.

banyuwangi_sawah

Sawah, Banyuwangi

Hanya saja, kampungku tentu saja tak luput dari gempuran konsumerisme. Orang-orang kampung yang sukses bekerja di luar negeri, rumahnya menjadi magrong-magrong, tak kalah dengan rumah-rumah yang sering dipamerkan di sinetron-sinetron. Jumlah toko pun meningkat luar biasa jumlahnya, meskipun jumlah rumah kayaknya tak jauh berbeda. Katanya, orang-orang yang pada mulai malas bertani berebut alih profesi menjadi pedagang dan penoko. Tinggal duduk-duduk manis di rumah, uang datang sendiri.

banyuwangi_kambing

Kambing di Kampung

Para generasi tua masih setia bertani, hanya saja yang ditanam tidak lagi sama. Dulu sawah-sawah di Banyuwangi hanya digilir dengan tanaman padi, kedelai, dan jagung atau palawija lainya. Sekarang sebagian besar sawah ditanami dengan buah jeruk dan buah naga. Lebih menguntungkan katanya. Sejak pemerintah rajin impor beras, kedelai, dan jagung. Bertanam tiga tanaman itu, bukan saja untung sedikit, tapi malah tekor. Bahkan pengusaha tahu dan tempe di kampung saja tidak mau pakai kedelai lokal, kedelai impor lebih menguntungkan katanya.

banyuwangi_p_cemara

Pantai Cemara

Yang selalu aku rindukan dari desa adalah orang-orang dan alamnya. Berbeda dengan manusia-manusia modern di kota yang semakin mekanistis, di desa aku masih menemukan sebenar-benarnya manusia. Ketulusan, kepolosoan, dan kebersahajaan dalam tata pergaulan dengan orang-orang desa adalah sebuah kemewahan. Kemewahan diantara jamak tata pergaulan orang-orang modern yang penuh gimmick, politis, beragenda, dan atas dasar kepentingan. Kepentingan duit, di ujung-ujungnya.

banyuwangi_sawah_2

Alam Desa

Alam desa yang alamiah adalah penglipur syurgawi dari suasana kota yang sumpek. Peradaban gedung-gedung tinggi dan pendingin buatan, keramaian dan kesemrawutan kota sering kali teramat melelahkan jiwa.

Industri pariwisata sedang bergeliat di Banyuwangi. Entah berapa anggaran telah dikucurkan untuk media, sehingga membuat Banyuwangi naik daun. Walaupun sebagai orang Banyuwangi asli, sebenarnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja, banyak tempat wisata yang dulu menyimpan keindahan alamiah, sekarang banyak yang di dandani. Buatku itu malah seperti gadis desa yang di dandani menor. Bukanya tambah cantik, tapi malah norak. Aku lebih jatuh cinta dengan kecantikan alamiah gadis-gadis desa, eh maksudku tempat wisata desa itu.

banyuwangi_desa

Sudut Desa

Diantara yang paling istimewa adalah pantai pulau merah di garis pantai selatan Banyuwangi. Tidak ada pulau merah nya sebenarnya. Hanya seonggok pulau kecil yang di kala senja terlihat kemerah-merahan. Pantainya bersih, pasirnya coklat, dan yang paling memesona adalah airnya yang jernih berwarna biru, kehijau-hijauan alamiah (baca: turquoise).

Terlepas dari tempat-tempat wisata di Banyuwangi yang sedang naik daun. Di Banyuwangi yang paling istimewa adalah ibu.  Ibu yang selalu membawa kedamaian dan kesejukan. Ibu yang masakanya selalu istimewa. Ibu yang luar biasa. Aku bisa betah berlama-lama di rumah saja. Karena Ibu adalah rumah yang sebenarnya itu.

Advertisements