Tag Archives: santri

Cerita Sedih di Pondok ku Bila Tanggal Mulai Menua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

…. ini kisah tanggal tua ku. Ini bukan Budi !- Cak Shon

jaman_mondok_jadul

Ilustrasi: Teman dari Satu Bilik Pesantren

Cerita tanggal tua? Wah, saya jadi teringat cerita-cerita ngenes binti menyedihkan saat masih jadi santri pondok pesantren Darul Ulum Jombang, sekitar 17 tahun silam. Umumnya, di sebuah pesantren, dalam satu bilik asrama, kami tinggal bersama dengan sekitar 15 santri yang semuanya berasal dari luar Jombang. Kami ada yang berasal dari Medan, Jambi, Bandung, Cianjur, Majalengka, Tuban, Banyuwangi, Lombok, hingga Papua.

Karena hidup di perantauan, kami memiliki nasib yang sama, yaitu bertahan hidup hanya dengan mengandalkan kiriman bulanan dari orang tua.Tentu saja uang bulanan orang tua kami pas-pasan. Karena di pondok, kita memang dilatih untuk hidup prihatin, ditempa untuk belajar hidup dalam kesederhanaan dan kebersahajaan.

Argh, tapi dasar namanya darah muda, sering kali kami tidak bijak dalam pemakaian uang. Senang sedikit berhura-hura, suka membeli yang tidak perlu, di awal bulan. Akibatnya, ketika tanggal tua tiba, kami selalu akrab dengan kesusahan dan penderitaan.

Nuansa tanggal tua itu selalu terpancar dari aura wajah dan gaya hidup para penghuni di bilik asrama kami. Menjelang akhir bulan, wajah-wajah ceria kami di awal bulan, berangsur-angsur berubah jadi sendu. Do’a-do’a dan sujud kami setelah sholat jamaah di masjid perlahan menjadi lebih panjang, bahkan sangat panjang sambil berurai air mata. Padahal kalau tanggal muda do’anya super kilat, cukup do’a sapu jagat saja.

Makan yang biasanya lauknya ayam goreng, atau telur ceplok, berubah hanya dengan tempe dan tahu saja. Minum yang biasnya Es buah berubah jadi air es saja, itu lho, es batu yang dicampur air putih. Atau kadang cukup ‘ngedrop‘, makan bareng, nasi satu bungkus dimakan rame-rame. Hehe.

Perubahan tidak hanya pada pola makan, tapi juga pada tingkat kesolehan. Yang biasanya malas puasa sunah, mendadak pada rajin puasa senin dan kamis. Yang biasanya tak pernah ziarah di makam pendiri pondok, tiba-tiba jadi rajin ziarah.

Untuk tingkat yang lebih ekstrim, tak jarang untuk urusan makan kami harus pakai kode 007 nya  James Bond alias ngebon alias ngutang sama Emak kantin. Si Emak di kantin, sudah nyiapin buku bon panjang dan tebal sekali. Habis makan, kalau pas tidak ada duit, tinggal nyengir sambil bilang: “nyatet ya mak? belum kiriman ” Yang dijawab suara medok berat dan ekspresi datar, mata setengah melotot si emak: “ Iyyo ! “.

Tak jarang, bila kiriaman terlambat,  kami pun harus ngutang ke teman. Beruntung, kami sudah seperti saudara sendiri, jadi tak perlu sungkan ngutang duit ke teman.

Harapan dan do’a kami setiap tanggal tua adalah kiriman bulanan segera datang dan tidak terlambat. Saya ingat betul bagaimana ngenesnya suasana hati kami yang penuh harap-harap cemas di hari-hari tanggal tua hingga awal bulan.

Waktu itu di pondok kami belum ada ATM. Satu-satunya bank di dalam pondok yang menjadi satu-satunya bank pilihan orang tua untuk mengirim uang bulanan kami waktu itu adalah Bank BR* yang saat itu belum online, masih manual. Masih ditulis tangan.

Untuk mengecek kiriman bulanan, kami harus antri berdesak-desakan panjang sekali, maklum pondok kami santrinya 7000-an dan hanya ada bank itu satu-satunya. Setelah dapat giliran, kami harus memeriksa sendiri, tumpukan kertas putih berstaples dalam sebuah kotak, berisi berita transfer uang yang masih ditulis dengan mesin ketik itu. Saat memeriksa satu persatu tumpukan kertas itu, biyuh ‘dag-dig-dug-der’ jantung rasanya mau copot.

Kalau ketemu kertas dengan nama kita, duh rasanya langsung bahagia setengah mati. Rona wajah langsung berubah berseri-seri bak mendapatkan durian merah banyuwangi jatuh, yang nikmatnya mak gelender itu.

Tetapi, jika sampai tumpukan kertas terakhir, bahkan sampai diulang tiga kali pun tidak ada juga, bonus omelan dari santri yang sudah tidak sabar ngantri di belakang, dan sialnya nama kami tak muncul juga, rasanya super duper ngenes, pengen nangis darah. Keluar dari bank dengan wajah tertunduk, wajah pucat, bagai kehilangan gairah hidup.

Setahun kemudian, kami akhirnya pindah dari Bank BR* yang jadul itu ke Bank BC* yang sudah online. Tetapi, sama saja di dalam pondok tidak ada ATM. Untuk, ke ATM terdekat, kami harus naik angkot ke kota Jombang. Cara paling efektif untuk mengecek transferan adalah lewat telpon ke customer service kantor cabang bank, lewat wartel depan pondok.

CS: “ Halo dengan Cindy, ada yang bisa saya bantu pak ?” suara lembut itu terdengar di ujung telepon.
Santri: ” Mbak, bisa dilihatkan saldo terakahir no. rek. XXXXX atas nama XXXX “.
CS : ” Baik, ditunggu sebentar ya.
Santri : *dag-dig-dug , jantung mau copot.”
CS : ” Saldo terakhir bapak adalah 25.010 rupiah pak. Ada lainya yang bisa dibantu pak?
CS: *TUT TUT TUT TUT*

Itu kami lakukan setiap hari sampai kiriman bulanan kami benar-benar telah sampai di rekening kami. Dan sujud dan do’a-do’a kami sehabis sholat semakin panjang saja. Dari semula yang meminta kiriman segera tiba. Sekarang ada tambahan  lagi:

“Ya Allah, berilah kemurahan rejeki yang melimpah kepada orang tua kami, sehingga kiriman kami tidak telat ya Allah”.

Andai saja, waktu itu sudah ada MatahariMall, yang memberi “Tanggal Tua SURPRISE (TTS)” seperti pada kisah Budi #JadilahSepertiBudi pada video di bawah ini.

Mungkin, do’a kami akan bertambah panjang lagi dengan tambahan doa:

“…..  Ya, Allah, berilah kami rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka ya Allah. Takdirkan kami dapat kejutan TTS dari Matahari Mall Ya Allah. Ya Allah, sesunggunya Engkau maha berkuasa atas segala sesuatu”.

Alhamdulilah sekarang berkat barokah ilmu dari pondok, dan rahmat Allah yang maha kuasa semata, hidup kami berkecukupan. Tanggal muda maupun tanggal tua pun nyaris tidak ada bedanya.


Santri di Persimpangan Zaman Edan

… jamane jaman edan,sing ora edan ora kuat melu edan. Jamane jaman edan mangan lemper dibeset metu setan -Syair Jaman Edan Cak Nun

jaman_mondok_jadul

Santri Pondok (Asrama Cordova, Pondok Induk, PP Darul Ulum Jombang, 2000)

Beberapa hari belakangan ini kata “santri” menjadi ngehits jadi wacana nasional, di media sosial khususnya. Kata ini mendadak naik kelas, dari wacana senyap orang-orang pinggiran di pelosok-pelosok desa, menjadi wacana orang-orang perkotaan. Saya yakin, ada anak-anak di kota yang bertanya-bertanya kepada bapaknya: “Santri itu apa, Pa?”. Atau kalau tidak, mereka bertanya kepada si Mbah Google. Yah, ini semua karena tanggal 22 Oktober kemaren, ditetapkan sebagai hari santri nasional.

Di dunia akademik, kata santri ini dipopulerkan oleh seorang Antropolog alumni Harvard, Clifford Geertz, dalam buku klasiknya “The Religion of Java” yang melakukan trikotomi masyarakat menjadi tiga golongan: Abangan, Santri, dan Priyayi (bisa dibaca :disini). Santri dalam interpretasi Geertz, adalah masyarakat Jawa yang keislamanya murni, taat, sesuai syariat Islam, sebaliknya abangan adalah orang yang islamnya masih ala kadarnya, e.g. tidak pernah sholat, serta keimananya masih bercampur dengan ajaran Hindu.

Tentu saja, sebagaimana nature ilmu sosial itu sendiri, dalam konteks sekarang, interpretasi Geertz ini bisa jadi sangat tidak tepat dan tidak relevan kembali. Termasuk definisi santri itu sendiri. Dalam konteks sekarang, kata santri mungkin lebih banyak digunakan untuk menyebut para pelajar yang sedang belajar di Pondok Pesantren, pesantren NU khususnya.

Apa Esensi Hari Santri Nasional?

Menurut pemahaman saya yang ala kadarnya, fakta sejarahnya, penetapan hari santri nasional ini adalah tidak lebih dari produk politik, alias sekedar alat untuk meraih kuasa. Kita pastinya belum lupa, bahwa penetapan hari santri nasional ini adalah janji politik JOKOWI waktu kampanye di Jawa Timur, untuk menarik dukungan dari pesantren-pesantren, yang berpengaruh sangat kuat pada masyarakat grass root di Jawa Timur.

Kemudian oleh PBNU ditagih, dan akhirnya ditetapkanlah tanggal 22 Oktober sebagi hari santri nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih untuk mengingat peristiwa penting yaitu resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim As’ary. Dalam resolusi itu, sang kyai mamfatwakan bahwa melawan penjajah hukumnya adalah wajib, dan jika mati karena melawan penjajah itu akan dikategorikan sebagai mati syahid. Peristiwa resolusi jihad ini digambarkan dengan apik di Film sang Kyai (bis dilihat : disini). Hal ini jelas melukiskan bagaimana peran para kyai dan santrinya dalam perang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan Indonesia yang sangat luar biasa besar kontribusinya. Namun, belakangan setelah Indonesia merdeka, khususnya jaman sekarang, peran santri seolah terpinggirkan. Itulah sebabnya, momentum penetapan hari santri ini disambut penuh suka cita oleh para santri. Terlepas, hal-hal seperti ini memang tidak bisa lepas dari nuansa kepentingan-kepentingan politis.

Tetapi, setelah ditetapkan sebagai hari santri nasional so what? Apakah serta merta menaikkan martabat para Santri?

Santri di Persimpangan Jaman Edan

Memilih menjadi santri di Pesantren di jaman edan sekarang seperti saat ini memang tidaklah mudah.  Awalnya, pesantren adalah tempat mengaji ilmu agama di bawah bimbingan seorang kyai. Yang dipelajari hampir 100% ilmu akhirat. Referensi yang dijadikan rujukan biasanya adalah kitab-kitab klasik, yang di pesantren biasanya dikenal dengan Kitab Kuning. Genre kitab itu pun bermacam-macam, mulai dari tafsir Alquran, hadist, ilmu fiqih, tauhid,  hingga ilmu tasawuf. Awalnya, sistem yang digunakan adalah sistem bandongan, kyai membaca kitab yang ditulis dalam bahasa dan tulisan Arab gundul (tanpa harokat) , sementara para santri  menyimak kitab yang sama, sambil memberi makna/arti dari setiap kata kitab gundul tersebut. Atau metode sorogan, dimana setiap santri dibimbing satu persatu untuk membaca kitab. Tempat bandongan dan sorogan ini biasanya di masjid atau asrama pesantren. Lulusan dari model pesantren ini, tentu saja tidak memperoleh ijazah.

Kemudian pesantren berkembang dengan membuka sistem madrasah, yang kemudian dikenal dengan Madrasah Diniyah (Catatan: Madrasah ini berbeda dengan MI, MTs, dan MA, di bawah DEPAG). Di madrasah ini, santri belajar di kelas-kelas layaknya sekolah pada umumnya. Ada beberapa tingkatan, mulai tingkat Ula (setara SD), Wustho (setara SMP), dan ‘Ulya (setara SMA). Masing-masing tingkatan dibagi lagi menjadi level. Misalnya di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Tingkat Ula terdiri dari 4 tingkatan (kelas 1 – 4), Tingkat Wustho terdiri dari 2 tingkatan (kelas 1-2), dan kelas ‘Ulya (kelas 1-2). Di sistem madrasah ini, ilmu yang dipelajari selain ilmu sebagaimana genre kitab-kitab yang dipelajari dengan sistem klasikal (bandongan dan sorogan), juga dipelajari ilmu alat atau ilmu grammatika bahasa Arab, seperti nahwu, shorof, balagoh, mantiq. Disebut ilmu alat, karena ilmu ini adalah ilmu untuk bisa membaca dan memahami kitab-kitab klasik yang ditulis dengan bahasa Arab gundul tadi. Juga ilmu falaq. Sistem pengajaran yang digunakan kebanyakan adalah dengan perulangan (di pesantren dikenal dengan Taqrar) dan hafalan (di pesantren dikenal dengan Muhafadzoh atau lalaran) atau istilah modernya disebut  ‘Rote Learning System’. Salah satu kitab yang terkenal di pesantren dan wajib di hafal adalah kitab Alfiyah Karya Ibnu Malik. Kitab ini terdiri dari 1000 nadzom (atau baris syair) yang merupakan rule grammar bahasa Arab.

Dari Madrasah Diniyah ini, santri memperoleh ijazah. Hanya saja tentu saja ijazahnya tidak diakui oleh sistem pendidikan nasional. Padahal untuk memperoleh ijazah sampai level Ula tadi misalnya, dibutuhkan waktu setidaknya 8 tahun. Dan pesantren, karena memang orientasinya akhirat, tidak pernah protes dengan masalah tidak diakuinya ijazah itu. Pengecualian, untuk beberapa pesantren, seperti pondok pesantren Gontor,  Ponorogo, ijazahnya sudah diakui setara SMA. Karena ijazahnya tidak diakui, para santri yang biasanya ijazah formalnya hanya sampai tingkat SD itu, sulit untuk mendapatkan pekerjaan formal, atau melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Lulusan dari pesantren dengan metode klasikal dan madrasah diniyah ini pada akhirnya yang beruntung akan menjadi kyai yang sukses mendirikan pondok pesantren baru, hanya saja jumlah sangat-sangat sedikit, mungkin hanya 1:1000. Kebanyakan, ya menjadi kyai kampung atau menjadi orang biasa dan bekerja di sektor-sektor informal.

Seiring jaman yang semakin materialistis, pada akhirnya membuat banyak pesantren membuka diri untuk membuka sekolah-sekolah umum, bahkan perguruan tinggi di dalam pesantren, baik yang berafilisiasi dengan Depag (misal: MI, MTs, MA, STAI), maupun Dikbud (SD, SMP, SMA/K, Universitas). Sehingga selain mengikuti sistem klasikal, dan Madrasah Diniyah, santri juga bersekolah layaknya sekolah-sekolah di luar pesantren. Dan berhak mendapatkan ijazah yang diakui oleh pemerintah. Keberadaan sekolah-sekolah umum di pesantren ini bukanya tanpa resiko. Satu sisi, bagus karena santri tidak hanya belajar ilmu agama saja, tetapi juga ilmu umum, dan setelah lulus mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah, dan pada akhirnya bisa bekerja di sektor-sektor formal. Tetapi disisi lain, hal ini membuat santri tidak fokus belajar agama. Bahkan di beberapa pesantren, keberadaan kajian kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren itu, menjadi terpinggirkan. Sehingga jangan heran jika ada lulusan pesantren yang tidak bisa bahasa Arab, dan tidak bisa membaca kitab kuning.

Keberadaan sekolah umum di pesantren ini juga membuat Pesantren melakukan trade-off antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Idealnya, ya sama-sama kuat, atau dalam operation research dikenal dengan istilah Pareto Optimal. Gus Dur, mungkin adalah contoh santri yang paling ideal. Ilmu keagamaanya top, beliau bisa berbahasa Arab dan bisa memahami kitab kuning klasik, tetapi juga wawasan ilmu umumnya tak diragukan, bahkan akademisi barat pun sangat mengakui keilmuanya. Kita bisa saja mengatakan, kita tidak boleh mendikotomi ilmu agama dan umum, keduanya penting. Tetapi pada kenyataanya sangat tidak mudah.   Pesantren yang tradisinya kuat ( ngaji kitab dan madrasah diniyah nya bagus), biasanya kualitas sekolah umumnya juga ala kadarnya.  Sebaliknya, pesantren yang sekolah dan Universitas umumnya bagus, tradisi ngaji pesantrenya menjadi ala kadarnya.

Bagi santri sendiri, keberadaan sekolah/universitas umum di pesantren ini juga membuat santri tidak mudah memahami dan menghayati dua perspektif ilmu tersebut pada saat yang sama. Ilmu agama cenderung berisi kebenaran deduktif yang dogmatis. Sementara ilmu umum, adalah kebenaran empiris, berdasarkan bukti ilmiah, yang bersifat induktif. Kitab tasawuf yang umum dijadikan rujukan di pesantren seperti kitab Alhikam, dan Ihya Ulumidin, misalnya mengajarkan santri untuk ‘membenci’ dunia, memilih untuk zuhud, tidak serakah, hidup bersahaja, dan mengutamakan akhirat. Sementara ilmu umum, e.g. ilmu bisnis misalnya, mengajarkan untuk mencintai dunia, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Demikian juga tentang relasi hubungan antara lelaki dan perempuan atau suami istri, pada kitab-kitab yang dijadikan rujukan utama di pesantren-pesantren seperti: Qurrotul ‘Uyun, dan ‘Uqud dilijain, perempuan/istri seolah menjadi subordinat lelaki atau suami. Bisa jadi apa yang menurut kitab tersebut wujud dari istri solehah, justru dianggap merendahkan kaum perempuan pada wacana keilmuan barat. Demikian juga masalah homoseksual. Jelas ini akan membuat santri yang juga mengenyam dunia Barat, seperti Ulil Absar Abdala misalnya, berada pada posisi yang dilematis.

Indeed, terkadang susah menemukan kedua kutub ilmu tersebut. Tetapi, bisa saja kita menempatkan kedua ilmu itu pada tempatnya, sesuai dawuh kanjeng nabi:

… bekerjalah untuk dunia mu seakan engkau hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhirat mu sekan esok hari engkau tiada.

Tentu saja ini tidak mudah, disinilah tantangan pesantren untuk mendamaikan keduanya, yang tentunya tidak mudah.

Keberadaan sekolah umum di pesantren-pesantren juga berdampak pada biaya di pesantren. Sebagaimana kita tahu, pesantren ini tidak dibiayai oleh pemerintah. Jika ngaji di pesantren tradisional bisa dijangkau hampir semua lapisan masyarakat akar rumput. Pesantren yang ada sekolah umumnya menjadi kian tidak terjangkau. Semakin bagus sekolah umumnya (lulusanya banyak yang diterima di PTN favorit misalnya), biasanya biayanya juga semakin mahal. Tidak heran, jika masuk pesantren sekarang juga harus mengeluarkan puluhan juta rupiah. Pada akhirnya pesantren-pesantren itu memiliki segmentasi pasar sendiri-sendiri. Tak ubahnya apa yang terjadi di bisnis, ada pesantren kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

Keputusan untuk membuka atau tidak membuka sekolah umum di jaman edan sekarang ini juga tidak mudah bagi pesantren. Pesantren yang ingin murni menjaga tradisi misalnya, dengan tidak mau membuka sekolah umum. Akan berada di posisi tidak mudah. Jika tidak membuka sekolah umum, untuk ngemani fokus mempelajari ilmu agama yang kuat, bisa berdampak kehilangan calon santri dari masyarakat yang semakin materialistis. Masyarakat yang takut, jika anaknya hanya ngaji tidak sekolah, setelah lulus mau kerja jadi apa, pasti akan berfikir berkali-kali lipat untuk memasukkan anaknya ke pesantren tradisional, atau dikenal dengan pesantren Syalaf ini.  Sebaliknya, kalau ingin memasukkan anaknya di pesantren yang sekolah umumnya bagus, orang tua harus memikirkan biaya pendidikan yang berkali-kali lipat.

Alhamdulilah meskipun pesantren murni syalaf semakin langka keberadaanya, karena calon santri yang semakin materialistis. Masih ada pesantren-pesantren besar yang hingga sampai sekarang masih bertahan dengan tradisi murni salafnya, seperti pondok pesantren sidogiri Pasuruan, dan pondok pesantren Lirboyo Kediri. Yah, memang bukanya kita percaya rejeki sudah ada yang ngatur? Rejeki tidak ditentukan oleh sekolah kita, tetapi oleh Gusti Allah ta’ala.

Santri Memaknai Jihad di Jama Sekarang

Jikalau jihad di jaman Mbah Hasyim dimaknai, perang angkat senjata melawan penjajah. Jihad dalam konteks kekinian bisa dimaknai dengan jihad melawan kebodohan, ketertinggalan, dan kebobrokan akhlak. Para santri harus giat menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Santri juga harus bangkit mengejar ketertinggalan dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang harus diakui saat ini kita sangat tertinggal dengan dunia barat. Padahal spirit untuk melakukan research itu ada pada ayat-ayat Alquran. Padahal tradisi akademik itu ada pada para ulama-ulama penulis kitab-kitab klasik yang kita pelajari di pesantren selama ini. Santri juga harus berjihad melawan kebobrokan akhlak para pemimpim kita saat ini yang kronis dihinggapi penyakit keserakahan, kemunafikan, dan hidup bermewah-mewahan, dengan semangat kesederhanaan, keikhlasan, dan spirit untuk berbagi, bukan untuk menang sendiri.  Spirit untuk berlomba-lomba untuk kebaikan bersama, bukan berlomba-lomba untuk keunggulan diri sendiri. Pada akhirnya santri dan pesantren ditunggu kontribusinya untuk menciptakan peradaban dunia yang lebih baik.

Selamat hari santri nasional !

Related Post:


Menuju Universitas Kelas Dunia: Belajar Dari Tradisi Pesantren dan Oxford-Cambridge

Almuhafadzu ‘ala qadimissolih, wal akhdu biljadidil aslah – melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih baik – Maqalah

mhs_cambridge_edit

Ilustrasi : Mahasiswi Oxford Dengan Seragam Akademik ‘Subfusc’

Sepuluh tahun belakangan kampus-kampus di Indonesia, berlomba-lomba mengklaim dirinya sudah atau sedang menuju ‘World-class Research University’. Klaim ini bukan tanpa alasan, berdasarkan berbagai macam pemeringkatan kampus terbaik dunia, kampus-kampus terbaik kita di tanah air ternyata berada pada posisi buncit. Tidak usah jauh-jauh membandingkan kampus kita dengan kampus-kampus di US dan UK, di lingkungan regional saja kampus-kampus kita keok telak dengan kampus-kampus di Singapura, Thailand, dan Malaysia. Karenanya, kampus-kampus kita merasa tertampar. Bagaimana tidak, lahwong, umur kampus-kampus kita itu lebih tua dari kampus-kampus di tiga negara tersebut. Sejarah pun mencatat, para founding fathers kampus-kampus di Malaysia adalah dosen-dosen dari kampus di Indonesia.

Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan kampus-kampus kita untuk merangkak mengejar ketertinggalan. Diantaranya adalah dengan mendorong para dosen untuk lebih rajin menulis publikasi ilmiah di Jurnal internasioanl. Karena, berdasarkan poin-poin pemeringkatan, yang paling kurang dari kampus-kampus kita adalah kuantitas dan kualitas publikasi jurnal internasional. Cara umum dan paling mudah yang dilakukan kampus-kampus kita untuk mendorong jumlah publikasi ini adalah dengan memberi intensif, uang tambahan, kepada dosen yang berhasil mempublikasikan karyanya di jurnal internasional. Sebagai ilustrasi, ada sebuah kampus yang memberi uang tunai Rp. 10.000.000 untuk setiap makalah yang berhasil diterbitkan. Tidak hanya itu, tunjangan khusus untuk guru besar pun fantastis (konon diatas 10 juta per bulan), belum lagi uang tunjangan sertifikasi dan renumerasi. Dana hibah penelitian pun lebih royal dikucurkan. Semuanya itu berdasarkan nalar bahwa dosen kita tidak produk karena dosen kita miskin.

Tetapi, berhasilkah cara iming-iming tambahan materi ini? berdasarkan pemeringkatan terbaru oleh QS University Rangking: Asia tahun 2015 (ref: disini), tak satupun kampus kita yang berhasil masuk 100 kampus terbaik di Asia. Sementara, Singapore berhasil menempatkan dua kampusnya pada peringkat 1 dan 4; Thailand menempatkan tiga kampusnya pada peringkat 44, 53, dan 99; Malaysia menempatkan 5 kampusnya pada peringkat 29, 49, 56, 61, 66; sementara Indonesia hanya diwakili oleh UI yang berada pada posisi ke 79.  Dengan fakta ini, kembali harus diakui kampus-kampus kita masih keok dengan kampus-kampus negara tetangga terdekat kita. Memalukan sekali, bahkan kampus terbaik di Indonesia pun peringkatnya masih dibawah 5 kampus di Malaysia.

Lalu, apa kira-kira yang salah?

Menurut hemat saya, upaya mendorong dosen rajin menulis di Jurnal internasional dengan iming-iming materi adalah strategi yang paling rendahan. Tak lebih dari memberi iming-iming ice cream kepada anak kecil. Seharusnya kita semua sudah tahu bahwa luaran yang bagus itu hanya karena proses yang bagus. Begitu juga dengan luaran berupa jumlah dan kualitas publikasi internasional yang bagus, tentunya pasti karena proses akademik yang bagus. Kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana sebuah Universitas bisa melahirkan ilmuwan sekaliber Newton, Darwin, Stephen Hawkin, Enstein?

Karena itu, tidak ada salahnya, jika mengintip sistem akademik, atau lebih tepatnya tradisi akademik di dua universitas tertua dan terbaik di Inggris, yang telah banyak melahirkan para peraih nobel dunia, yaitu Universitas Oxford dan Cambridge. Yang ternyata, seperti pada tulisan saya sebelumnya (ref: disini), mirip sekali dengan tradisi keilmuwan di pondok pesantren. Bahkan, Dr Afifi Alkity, orang Melayu alumni pesantren di Indonesia yang menjadi dosen di Oxford Centre of Islamic Studies, mengatakan:

” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok”

Seperti apa kemiripan pesantren dan sistem pendidikan di Universitas Oxford dan Cambridge (Oxbridge)? Menurut, Dr Afifi, ada 4 hal utama yang menjadi ciri khas Oxbridge yang juga tidak lain dan tidak bukan ciri khas pondok pesantren di Indonesia. Berikut penjelasanya:

(a) Respect for tradition and traditional ritual

Sebelum melihat langsung ke Oxbridge, saya pernah berimajinasi bahwa sebagai salah satu kampus terbaik didunia, pastinya Oxbridge memiliki gedung-gedung ultra-modern dengan arsitektur kekinian. Rupanya malah sebaliknya, bangunan kampus Oxbridge adalah bangunan-bangunan kuno yang dibangun sekitar abad 10, yang sampai sekarang masih dipertahankan keaslianya. Ini mengingatkan saya pada masjid-masjid kuno di pesantren yang sengaja dipertahankan keaslianya. Tidak hanya mempertahankan bangunan fisik, ritual tradisional pun masih dipertahankan sampai sekarang. Diantarnya adalah tradisi makan bersama di dining room, kwajiban memakai pakain khas Oxford (i.e. Subfusc) bagi mahasiswa ketika mengikuti ujian. Oxbridge ternyata sangat kuat mempertahankan tradisi yang berumur ribuan tahun ini. Hal ini sangat relevan sekali dengan jargon yang dijadikan pegangan pesantren-pesantren NU, yaitu:
Almuhafadzu ‘ala qadimissolih, wal akhdu biljadidil aslah – melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih baik
Menariknya, motto Universitas Oxford, “Dominus Illuminatio Mea” itu ternyata terjemahan dari bahasa Arab “Rabbi Zidni ‘Ilma” – Ya Tuhan ku, Beri aku tambahan ilmu. Yang merupakan do’a yang selalu diucapkan santri di pesantren sebelum memulai belajar.

(b) Academic Excelence

Yang membedakan Oxbridge dengan kampus-kampus lain di dunia adalah sistem College. Oxbridge ini adalah sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa College. Di Oxford sendiri, kurang lebih terdiri dari 31 College. College ini bukan sekedar asrama mahasiswa yang berfungsi sebagai tempat akomodasi. College juga bukan sekedar fakultas yang menaungi berbagai jurusan sebagaimana yang kita tahu seperti di kampus-kampus di Indonesia. College adalah tempat dimana terjadi tradisi pendidikan utama Oxbridge terjadi antara mahasiswa dan para tutor yang tak lain adalah para dosen dan professor dari hampir semua bidang ilmu di Oxbridge. pada setiap College umumnya terdapat, sebuah kapel/gereja sebagai tempat ibadah, student hall, sebagai tempat tidur mahasiswa, dining room tempat makan malam bersama, common room, dan lecture/tutorial room.

Tradisi pendidikan di masing-masing college ini terdiri dari:

Pertama adalah tradisi Tutorial System, dimana para Tutor memberikan tutorial kepada mahasiswa secara Individu, atau kelompok yang kecil (terdiri dari 2-5 orang). Sehingga masing-masing mahasiswa mendapat perhatian yang unik dan intensif dari tutornya masing-masing dalam menyerap kelimuwan yang diajarkan. Di pesantren salaf, sistem tutorial ini tak lain adalah apa yang disebut sistem sorogan (bahasa Arab: Talaki) dimana masing-masing santri mengkaji kitab kuning halaman demi halaman secara private , individual, dengan para ustad atau kyainya. Sistem tutorial ini, diakui oleh Oxford sebagai kunci keberhasilan sistem pendidikan di Oxford. Selain tutorial ini, mahasiswa juga mengikuti kuliah di departemen, layaknya kuliah di Indonesia. Di pesantren, kuliah dengan banyak mahasiswa ini dikenal dengan sistem bandongan.

Kedua adalah adanya Moral Tutor, yang bertugas mengawasi aspek non-akademis masing-masing mahasiswa. Sebagaimana namanya, moral tutor ini bertanggung jawab mengawasi moral mahasiswa. Moral Tutor ini biasanya adalah mahasiswa senior. Nah kalau di pesantren, peran ini biasanya dilakukan oleh lurah pondok, atau pembina asrama.

Ketiga adalah adanya tradisi debat. Di masing-masing college, biasnya seminggu sekali diadakan semacam seminar untuk membahas sebuah permasalahan atau isu yang telah ditentukan. Dalam seminar inilah terjadi debat antar mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, mengutarakan pandanganya dari latar belakang keilmuanya yang berbeda-beda. Ini adalah ajang untuk melatih kemampuan analisis dan sintesis mahasiswa. Lagi-lagi tradisi ini juga sama dengan tradisi di pesantren yang disebut dengan syawir dan bahtsul matsail untuk memecahkan berbagai persoalan agama di Masyarakat.

(c) Completely Independence

Keberadaan Oxbridge ini sangat-sangat Independence dari campur tangan pemerintah. Pemerintah atau kerajaan tidak berhak ikut campur terhadap kebijakan maupun kurikulumnya. Bahkan konon katanya pada tahun 2002, naknya PM Tony Blaire nya saja tidak diterima di Oxford. Hal ini disebabkan karena keuangan Oxbridge tidak berasal dari kerajaan. Tetapi berasal dari dana Wakaf atau Endownment yang. jumlahnya sangat fantastis. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan PTN di Indonesia yang kebijakanya banyak diatur oleh pemerintah, termasuk masalah kurikulum, aturan pembentukan Jurusan baru, bahkan pemilihan Rektor. Ini juga tradisi pesantren, dimana dari dulu, sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, pesantren berdikari tanpa dibiayai pemerintah, pesantren pun memiliki kurikulum sendiri yang tidak mengikuti kurikulum pemerintah.

(d) Continuing Education.

Terakhir ciri khas Oxbride adalah adaya pendidikan berkelanjutan. Masyarakat tak pandang usia bisa mengakses pendidikan di Oxbridge, melalui kuliah seminggu sekali, short course, maupun sekolah musim panas. Intinya, pendidikan di Oxbridge tidak hanya bisa diakses oleh mahasiswa mereka sendiri tetapi juga bisa diakses oleh masyarakat. Continuing Education ini juga sudah menjadi tradisi pesantren di Indonesia. Di Pondok pesantren Darul Ulum Jombang misalnya, setiap kamis ada pengajian yang diperuntukkan untuk masyarakat dari berbagai usia (dikenal dengan pengajian kemisan), ada pengajian sewelasan, setiap 4 bulan sekali. Di pesantren lain, ada yang disebut tradisi pengajian wetonan (40 hari sekali), di Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi misalnya, ada pengajian setiap Ahad Legi yang terbuka untuk masyarakat umum. Termasuk pengajian khusus di bulan Ramadlan yang juga terbuka untuk masyarakat umum.

Ilustrasi : Santriwati PP Darul Ulum Jombang, Jawa Timur

 Saya merasa so amazed, bagaimana sistem pendidikan pesantren yang selama ini di Indonesia dianggap udik, ternyata memiliki filosofi pendidikan yang sama dengan Universitas terbaik di dunia, sekaliber Oxford dan Cambridge.
Mungkin sudah saatnya,  kampus-kampus kita hendaknya bisa belajar dari tradisi oxford dan cambridge yang tidak lain adalah tradisi pesantren. Jika pesantren sudah terbukti menghasilkan para Ulama bidang agama yang mumpuni, bukan tidak mungkin sistem pesantren menghasilkan ulama di bidang ilmu lain yang mumpuni dan hebat. Sebagaimana sudah dibuktikan di Oxbridge. Bukankah Oxbridge awalnya dulu juga kampus calon para ulama kristen/katolik?

Ketika Universitas Oxford dan Cambridge Pun ‘Meniru’ Sistem Pendidikan Pondok Pesantren?

“… pesantren itu selama ini disebut pendidikan tradisional, iku kurang ajar tenan. Terus sing tradisional ki dianggep luweh rendah timbangane sekolah modern. Aku kepengen ngomong, eh tak kandani yo, pesantren itu mulai ditiru wong sak donyo saiki. Besok sak donyo ki pesantren kabeh ” – Cak Nun

” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok” Dr Afifi Al-Akiti (Dosen Studi Islam, Universitas Oxford, Inggris; Alumni Pondok Pesantren Kencong Jember Jawa Timur)

gerakan_ayo_mondok

Ilustrasi: Gerakan Ayo Mondok

Ketika banyak orang dengan bangga mengatakan ‘saya alumni ITB, ITS, UI, UGM, UB’ atau ‘saya alumni kampus luar negeri’, entah mengapa, meskipun saya alumni salah satu kampus tersebut, saya jauh lebih bangga mengatakan ‘saya alumni pondok pesantren’. Buat saya, pesantrenlah yang telah banyak mendefinisikan bagaimana saya memandang dan menjalani hidup dan kehidupan ini. Buat saya, pesantren bukanlah sekedar sekolah biasa. Buat saya, mondok di pesantren adalah masuk kawah candra dimuka sekolah kehidupan. Dari bilik-bilik sederhana di pesantren itulah, saya temukan nilai-nilai kebajikan hidup yang terus jadi pegangan hidup hingga saat ini. Dari wajah-wajah yang sejuk dipandang dari para kiai itulah, saya temukan inspirasi hidup bak lentera yang tak pernah padam di dalam jiwa. Dari do’a-do’a tulus para ustad, ustadzah, pak yai, dan bu nyai itulah, saya rasakan kebarokahan hidup hingga saat ini.

darul_ulum_jombang_edit

Salah Satu Sudut Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Di jaman ketika semua ada label harganya. Di jaman ketika rupa dan angka dipuja. Miris rasanya, merenungi sekolah dan universitas tak ubahnya seperti pabrik-pabrik yang memproduksi produk masal. Mencetak manusia-manusia setengah robot yang nyaris kehilangan sisi-sisi kemanusianya, yang nyaris mati sisi-sisi spiritual nya. Manusia-manusia yang dituntut seragam kompetensinya, dan sesuai standard kebutuhan industri-industri pengeruk keuntungan materialistis. Manusia-manusia yang pada akhirnya menuhankan makhluk bernama Uang. Sehingga rela menyerahkan apapun, termasuk kehormatan dan harga dirinya hanya untuk Uang. Argh, sungguh, pendidikan sudah kehilangan ruh pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia. Disitulah, saya merasa orang paling beruntung di dunia, karena pernah mondok di pesantren.

kampus_cambridge_edit

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Universitas Cambridge, UK

Kebanggan saya akan pesantren makin bertambah, justru ketika saya mengenyam pendidikan di Inggris. Betapa kagetnya saya ketika saya tahu ainul yaqin bahwa ternyata dua kampus terbaik di Inggris, dan terbaik di dunia, Universitas Oxford dan Universitas Cambridge ternyata sistem pendidikanya sama persis dengan sistem pendidikan di pesantren. Memasuki kompleks dua kampus ini tak ubahnya memasuki kompleks pesantren, kebetulan saya pernah berkesempatan nyantri kilat, sekolah musim panas selama seminggu di Universitas Cambridge dan pernah berkunjung di Universitas Oxford. Jangan kira, sampean akan menemukan tulisan besar University of Cambridge atau University of Oxford seperti kampus-kampus di Indonesia. Di komplek dua kampus ini, sampean akan menemukan kumpulan college-college yang tak ubahnya asrama-asrama di pesantren. Di setiap college, terdapat sebuah gereja, lecture hall, dining room, dan asrama yang diketuai seorang profesor yang paling berpengaruh di college tersebut. Yang tak jauh bedanya dengan asrama santri dengan masjid, tempat mengaji, pemondokan, kantin yang diasuh oleh kyai. Tak hanya penampakan fisik, sistem pendidikanya pun tak ubah sistem sorogan dan bandongan di pesantren.

santri_darul_ulum_edit

Ilustrasi: Senyum Santri Putri Darul Ulum Jombang

Semula saya pikir saya adalah satu-satunya yang mengklaim kesamaan antara sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan di OxBridge (Oxford dan Cambridge). Hingga suatu ketika, saya bertemu dengan seorang teman, mahasiswa Malaysia di Universitas Korowin (Universitas Tertua di Dunia), Maroko, pada suatu kesempatan di Den Haag, Belanda. Saya terkejut ketika dia yang alumni pesantren di Kediri, Jawa timur dan sering berkunjung ke Oxford, dimana salah seorang pamanya mengajar islamic studies disana, berkata: ‘ yah sistem pendidikan Oxford dan Cambridge itu ya sama persis dengan sistem pendidikan pesantren’. Rupa-rupanya, tanpa janjian, we shared the same opinion.

Kadang kita memang sering merasa inferior melihat punya orang lain, padahal kita telah memiliki sesuatu yang lebih baik. Kata pepatah Jawa, golek uceng kelangan delek. Kejadian serupa, ketika berada di stasiun kereta Api Rotterdam Central, Belanda, saya tidak sengaja bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar seni musik di salah satu kampus di Rotterdam. Seorang kawan tadi bilang: ” Waduh mas, tahu ndak Gamelan itu diakui dunia sebagai alat musik paling intuitive di dunia, karenanya gamelan adalah ‘mainan’ baru yang sangat menarik bagi para ilmuwan seni musik, ketika mereka sudah mencapai titik jenuh, stagnansi dengan seni musik modern barat.

Argh, ternyata benar seperti yang dibilang Cak Nun, ternyata pesantren adalah sistem pendidikan asli Indonesia yang luar biasa. Sistem pendidikan terbaik yang bahkan Oxford dan Cambridge pun menirunya. Sayang, di negeri sendiri, pesantren malah dimarginalkan. Sama halnya, gamelan yang dianggap tradisional dan terpinggirkan di negeri sendiri. Padahal, di seluruh dunia orang-orang berbondong-bondong belajar musik gamelan. Entahlah. Terkadang saya susah untuk mengerti.

Sudah saatnya kita sadar dan bangga dengan milik kita sendiri, bangga mewarisi kearifan para leluhur kita. Sudah saatnya kita berhenti menjadi bebek yang selalu ikut kemana arus dunia berjalan. Karenanya, untuk adik-adik muda, dan para orang tua yang tak ingin sekedar pemuja rupa dan angka, cukup hanya dua kata: Ayo Mondok !

Catatan Pinggir:  ‘Meniru’ (judul) bahasa marketing saya untuk menunjukkan kemiripan. Bisa jadi jangan-jangan Oxford Cambridge meniru sistem pesantren, atau sebaliknya. Bisa jadi sekedar kebetulan. Bisa jadi keduanya meniru sistem yang sama dari model sebelumnya yang lain. Please refer to youtube video below for similar opinion.

Related Post:

Related Video:


Suatu Saat Di Pesantren Darul Ulum Jombang : Sebuah Novel Sederhana

novel darul ulum

Sebuah cerita singkat nan sederhana yang menjadi kekuatan dari Novel ini yang diangkat dari dari kisah nyata perjalanan di sebuah pesantren di desa Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Cerita ini memotret sepenggal kisah sistem pendidikan dan kehidupan kaum santri di pesantren Darul Ulum Jombang.

Bagaimana kehidupan kaum bersarung yang sering dianggap udik, ketinggalan jaman, dan selalu terpinggirkan ini dilukiskan secara sederhana dalam novel ini.

Benarkah, sistem pendidikan di lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini seburuk yang disangkakan banyak orang itu, ataukah justru kita menemukan kearifan lokal disana, yang mendefinisikan secara benar arti sebuah pendidikan bagi sebuah peradaban besar, dalam perahu bangsa besar bernama Indonesia.

Temukan jawabanya dan ikuti petualanagn ceritanya hanya di Novel ini.

Selamat Membaca!

Semoga Novel yang ditulis secara sangat sederhana ini, dapat memberikan setetes air manfaat, dan seberkas cahaya inspirasi buat kita semua.

Judul Novel : Suatu Saat di Pesantren Darul Ulum : a humble story
Penulis : Cak Shon (Ahmad Muklason)
Tahun : 2008
J. Halaman : 71 Halaman
Harga : Rp. 0 (gratis dalam bentuk ebook)

Mau membaca? Silahkan  didownload DISINI

Terima kasih 🙂