Advertisements

Tag Archives: sahabat

Sekedar Berteman Saja

…. aku hanya ingin berteman, berteman saja, titik. – a random thought

 

berteman

Ilustrasi : berteman

 

Banyak yang bilang, pola hubungan orang-orang modern di jaman sekarang, tak ubahnya hubungan para politisi di senayan. Tidak ada teman dan lawan sejati, yang ada  hanyalah kepentingan sejati.

Kita berteman semata karena ada sebuah kepentingan, ketika kepentingan berlalu, pertemenan pun berlalu saja.

Kita berteman hanya karena kebetulan kita berada di lini ruang dan waktu yang berhimpitan, begitu lini itu berjauhan, pertemenan pun menjauh begitu saja, usang
dimakan waktu.

Tetapi, hidup selalu menyimpan pengecualian-pengecualian. Aku kadang merasa sangat bersyukur, ditakdirkan masih memiliki beberapa teman atau lebih tepatnya sahabat yang berteman ya karena berteman saja. Walaupun jumlahnya lebih sedikit dari jumlah jari dalam satu telapak tangan.

Berteman karena sekedar berteman saja,  hubungan kami tak terjebak dalam ruang kepentingan yang sempit. Tak lekang dimakan waktu yang terus berjalan. Tak berubah walau terpisah ruang yang berjauh-jauhan. Kami berteman dari anak-anak tumbuh remaja, mendewasa hingga kini mulai menua.

Sebenarnya, aku bukanlah pribadi yang suka berteman. Aku bukanlah pribadi yang baik hati, supel dan pandai bergaul, bahkan sebaliknya aku lebih asyik dengan diriku sendiri. Karenanya, aku sering merenung, bertanya-tanya mengapa mereka ditakdirkan Tuhan di sekelilingku?

Pada teman ku itu belajar banyak hal tentang kehidupan, yang tidak banyak ku temukan pada manusia-manusia kebanyakan di Jaman sekarang. Menurut ku, teman-teman  ku itu makhluk langka di jaman ini.

Saat orang-orang berlomba-lomba merengkuh keunggulan diri, mereka malah memilih menempuh jalan sunyi, menebar kejujuran dan ketulusan hati. Ijazah kampus ternama pun disimpan rapi di dalam lemari.

Saat orang-orang sikut-sikutan berebut menjadi yang terdepan, teman-teman ku lebih asyik bekerja sangat-sangat keras di belakang layar.

Saat orang-orang memuja gengsi, menuhankan kemewahan materi, teman-teman ku lebih memilih kesederhanaan dan kebersahajaan hidup. Bergaul dengan orang-orang biasa di dalam gerbong kereta dan bus ekonomi lebih membahagiakan mereka daripada duduk nyaman sambil selfie di mobil mewah sendirian.

Berdiskusi dengan para petani dengan bau keringatnya yang menyengat lebih menggairahkan mereka daripada berdiskusi dengan para manajer dan direktur perusahaan dengan dasi nya rapi dan wangi.

Sekali lagi, sungguh aku beruntung berteman dengan mereka. Karena mereka, aku mampu melihat dunia dengan cara yang berbeda. Semoga pertemenan kita tetap apa adanya selamanya!

Advertisements

Ammiin… Ya Rabb!! : epik di penghujung senja tentang kekuatan sebuah Do’a

kekuatan_doa

Apa salah satu momen paling indah dalam hidup kita? Pernikahan, Percintaan, Persahabatan? Kita berhak mendefinisikan sendiri apa momen yang paling indah dalam hidup kita. Buat saya, salah satu momen terindah dalam hidup ini adalah ketika bertemu dengan sahabat dekat yang sudah lama tidak bertemu, kemudian ditakdirkan kembali bertemu, dan keduanya saling mendokan untuk kebaikan masing-masing. Seperti sekuel pertemuan antara Azam dan Furqan dalam salah satu salah satu sekuel dari  film Ketika Cinta Bertasbih 1.  Keduanya dipertemukan dalam sebuah kesempatan yang terduga, dalam sangat suka cita mereka kemudian saling menanyakan kabar, saling memuji, dan saling mendokan. Azam mendokan Furqan untuk kesuksesan ujian Munaqasah thesis Master nya, sementara Furqan mendokan Azam untuk menjadi pengusaha sukses. Kemudian keduanya “berteriak” lantang : Ammiin…Ya Rab !!

Sungguh sebuah ilustrasi persahabatan yang sangat indah. Sebuah  persahabatan yang saling menguatkan, mendoakan, dan mengingatkan dalam kebaikan. Entah kenapa, saya selalu lebih terharu membaca cerita romantika persahabatan yang sangat “manusia” ketimbang cerita romantika percintaan yang mengharu biru. Mungkin karena Cinta yang selalu didistorsi maknanya dengan selalu dikaitkan dengan hasrat untuk melakukan hubungan seksual. Seperti saya saya mencintai masntan pacar saya atau istri saya yang pada akhirnya berujung pada keinginanan untuk melakukan hubungan seksual. Padahal cinta adalah sesuatu yang sangat Universal dan sangat manusia. Cinta tidak ada hubungan nya dengan hasrat untuk melakukan hubungan seksual. Seperti saya mencintai anak laki-laki saya atau cinta saya kepada adik-adik  saya. Yang tak pernah sedikit pun ada hasrat seksual di dalamnya. Cinta itu tidak  berkelamin.

Cerita Azam dan Furqan barangkali hanya cerita hayalan dalam sebuah karya seni berwujud film. Tetapi adakah persabatan yang penuh keihklasan, persahabatan yang bersih dari atribut-atribut kepentingan, persahabatan yang begitu manusia seperti itu masih ada di dunia nyata yang penuh kepentingan ini? Pasti tentunya ada, walaupun mungkin sangat langka.

Terus terang saya diam-diam merasa sangat iri dengan cerita persahabatan seorang Gus Dur dan Gus Mus yang begitu akrab dan romantis, yang terjalin dalam kurun waktu yang sangat lama lama. Dari ketika keduanya masih muda, ketika sama-sama menuntut Ilmu di Al-Azhar Kairo Mesir,  yang terus berlanjut hingga di penghujung usia. Dari keduanya masih manusia-manusia biasa, hingga keduanya menjadi orang-orang penting dengan segala atribut-atribut keduniawian di negeri ini. Bahkan, hingga kini ketika Gus Dur sudah tiada, persahabatan yang akrab layaknya sesaudara itu masih dilanjutkan oleh putra-putri beliau.

Keakraban Gus Mus dengan Gus Dur  itu tercermin dari Surat yang ditulis oleh Gus Mus untuk sahabatnya, Gus Dur. Surat yang ditulis oleh Gus Mus, ketika beliau mulai merasa kehilangan sahabatnya, saking sibuknya Gus Dur. Sebuah surat yang sangat indah dan sangat romantis. Sebuah surat yang membuat saya tidak pernah bosan, meskipun sudah berkali-kali membacanya. Sebuah surat  yang sangat penuh makna. Sebuah surat yang mungkin lebih melankolis dari surat cinta terindah yang pernah ditulis oleh seseorang yang sedang jatuh cinta kepada kekasihnya. Keakraban keduanya juga  pernah diceritakan disini.

Gus Dur, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berkomunikasi laiknya sesaudara. Benar seperti yang pernah Sampeyan ramalkan, masing-masing kita akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri dan kesempatan ngobrol ngalor-ngidul seperti dulu sudah semakin sulit didapat. Dulu kita masih surat-suratan, lalu ketika semakin sibuk, kita hanya –tapi alhamdulillah masih— telepon-teleponan. Kemudian telepon-teleponan pun menjadi kian jarang.

Untunglah Sampeyan termasuk figure publik yang gerak-gerik dan ucapan-ucapannya selalu diberitakan, sehingga saya pun selalu dapat mengikuti kegiatan Sampeyan. Seingat saya sejak Sampeyan menjadi ketua umum jam’iyah NU, hubungan kita sudah berubah menjadi agak “formal”. Sampeyan yang biasa memanggil saya njangkar, “Mus” saja, sudah berubah memanggil dengan “Gus Mus”. Sementara itu saya sendiri semula masih mempertahankan panggilan “Mas Dur” terhadap Sampeyan; tapi akhirnya, entah mengapa, merasa tak enak sendiri dan —mengikuti orang-orang— memanggil Sampeyan “Gus Dur”.

Pembicaraan antara kita pun sudah berubah, tidak pernah lagi fokus dan tuntas. Sejak itu saya sudah merasa mulai “ada jarak” antara kita. Kemudian Sampeyan menjadi semakin penting di negeri ini. Sampeyan menjadi pusat perhatian dan tumpuan banyak orang. Di mana-mana dielu-elukan. Saya ikut bangga, meski diam-diam saya merasa semakin kehilangan Sampeyan. Apalagi saat Sampeyan menjadi orang paling penting, menjadi presiden republik ini, saya benar-benar harus menerima “kepergian” Sampeyan. Sampeyan mestinya masih ingat, ketika para kiai –orang-orang pertama yang Sampeyan undang ke istana—menyampaikan selamat, saya sendiri menyampaikan “belasungkawa”. Waktu itu —masih ingat?— saya membisiki Sampeyan agar berhati-hati terhadap bithaanah, orang-orang yang pasti akan ngrubung Sampeyan untuk dijadikan “orang-orang dekat” Sampeyan (Menjadi ketua NU saja banyak yang ngrubung, apalagi presiden). Bukan saya tidak percaya kepada Sampeyan, tapi saya melihat rata-rata mulai Firaun, Heraclius, hingga Soeharto, bithaanah-lah yang menjadi biang keladi kejatuhannya.

Gus Dur, mungkin Sampeyan akan mengatakan saya terlalu romantis, tapi sungguh, saya sangat merindukan keakraban seperti dulu, di mana masing-masing kita masih hanya manusia-manusia yang tak terkalungi atribut-atribut. Sampeyan bebas menegur saya dan saya tak merasa sungkan menegur Sampeyan. Karena keikhlasan lebih kuat dari pada rasa rikuh dan sungkan. Dan ternyata keikhlasan persahabat pun dapat dikalahkan oleh keperkasaan waktu. Sejak Sampeyan dikhianati oleh orang-orang yang dulu Sampeyan percayai mendukung Sampeyan (bahkan waktu saya peringatkan, Sampeyan malah menasehati agar saya jangan su-uddzan kepada orang) dan akhirnya melalui mereka, Allah membebaskan Sampeyan dari beban berat yang Sampeyan pikul sendirian, saya sebenarnya sudah berharap masa keakraban itu akan kembali.

Namun ternyata harapan itu justru terasa semakin jauh. Kini saya bahkan seperti tak mengenali Sampeyan lagi. Mas Dur yang demokrat sejati, Mas Dur yang berpikiran jauh ke depan, Mas Dur yang tak peduli terhadap jabatan, Mas Dur yang mencintai sesama, Mas Dur yang begitu perhatian terhadap umat, Mas Dur yang terbuka, Mas Dur yang penuh pengertian, Mas Dur yang ngayomi, Mas Dur yang akrab dengan semua orang, Mas Dur yang menebarkan kasih-sayang, Mas Dur yang … Ke manakah gerangan sosok itu kini? Saya kini kok malah hanya melihat Gus Dur yang menguasai partai yang kacau. Gus Dur yang mengurusi urusan-urusan tetek-bengek yang tak ada sangkut pautnya dengan kepentingan umat secara langsung. Gus Dur yang terus membuat sensasi politik yang tak jelas maksud tujuannya. Gus Dur yang membuat kubu-kubu dalam tubuh partainya sendiri. Gus Dur yang alergi terhadap kritik. Gus Dur yang dikelilingi pakturut-pakturut yang tak takut kepada Allah dan tak mempunyai belas kasihan kepada umat, Gus Dur yang tak lagi memperlakukan para kiai sebagai kawan-kawan bermusyawarah tapi membiarkan pakturut-pakturutnya memperlakukan mereka sekedar alat meraih kepentingan sepele, Gus Dur yang …

Maaf Gus Dur, mungkin saya memang sudah terjebak dalam romantisme kampungan. Tapi sungguh saya tidak mengerti. Kecuali pemikiran dan kegiatan-kegiatan luhur berskala makro Sampeyan, saya tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang Sampeyan lakukan sekarang dengan atau bagi partai Sampeyan, PKB, dan jam’iyah Sampeyan Nahdlatul Ulama. Apakah dalam hal ini, Sampeyan –seperti biasa—mempunyai maksud-maksud tersembunyi di balik langkah-langkah Sampeyan yang membingungkan umat? Misalnya apakah Sampeyan sedang melakukan semacam shock therapy untuk secara ekstrem menggiring warga menjauhi sikap kultus individu dan kehidupan politik. Artinya Sampeyan ingin mengatakan dengan bukti kasat mata kepada mereka bahwa kultus individu itu tidak sehat dan bahwa orang NU memang tak becus berpolitik?
Bagaimana pun, Gus Dur, kalau boleh, saya masih ingin kembali memanggil Sampeyan “Mas Dur”. Semoga Allah melindungi dan melimpahkan taufiq-hidayah-Nya kepada Sampeyan. Amin. **)

***
Mengenai tentang sahabat, saya merasa sangat bersyukur, di tengah jalan sunyi perjalanan panjang studi S3 saya di negeri antah berantah ini, selain keluarga, saya masih dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang senantiasa mendukung dan mendokan saya. Sahabat-sahabat lama di Indonesia dan di belahan dunia lain pun masih sering berkirim email, message di FB, Whatsapp, Blog, dll. sekedar untuk menanyakan kabar, memberi dukungan, dan mendoakan. Buat saya, mahasiswa bodoh dengan otak pas-pasan yang hanya mengandalkan pada kekuatan doa-doa ini, doa-doa itu adalah sumber semangat dan kekuatan tersendiri untuk terus melangkah. Ibarat baterai-baterai baru, ketika cahaya semangat saya semakin redup di antara hari-hari yang begitu jengah dan melelahkan. Ada yang mendoakan kelancaran studi saya, ada yang mendoakan saya jadi Profesor, ada yang mendokan saya jadi Penulis Novel terkenal, bahkan ada yang mendoakan saya jadi menteri akhir-akhir ini. Hanya hanya bisa berteriak dalam hati, “Ammiin…. ya Rab!!” Semoga do’a-do’a kebaikan itu kembali juga pada orang-orang yang mendokan.

Bersahabat dan saling mendokan dalam kebaikan selalu menjadi di antara momen-momen terindah dalam hidup ini. Terima kasih sahabat!. Terima kasih ya Allah karena disana masih ada hati-hati yang tulus mendoakan untuk kesuksesan saya.

Saya,
YangSeringKaliRapuhDanInginBerputusAsa

*) pictures are courtesy of :

**) Reference :  http://www.gusmus.net


Remarks On : 4 sahabat ‘dekat’ yang tersisa di Surabaya

“…You just call out my name, and you know whereever I am
Ill come running, oh yeah friend, to see you again.Winter, spring, summer, or fall,All you have to do is call.And Ill be there.You’ve got a friend”.

Kembali, setelah 2.5 Tahun meninggalkan kota ‘bajul’, kota ‘pahlawan’ Surabaya. Ternyata telah banyak perubahan, yah.. perubahan yang kata adagium:

“Di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya past berubah, kecuali perubahan itu sendiri”

Dan diantara perubahan-perubahan itu adalah perubahan pada teman-teman,kawan-kawan, dan sahabat-sahabat dengan siapa saya bergaul 2.5-6.5 tahun silam di kota, yang kata orang adalah kota terhangat di negeri endonesiah tercintah [ndak pakek mendesah, :p] ini.

Tidak banyak teman-teman yang masih tinggal di kota ini, 90 persen diantara teman-teman saya, setelah lulus kuliah di kampus perjuangan dari kota ini, pada berhijrah ke berbagai belahan dunia yang lain. “Jakarta”, tetep saja belum kehilangan pamornya sebagai kota simbol kesuksesan, kejayaan, dan impian semua orang. Di ibukota itulah sebagian besar teman saya mencoba menggapai mimpi-mimpi karir nya. Bahkan, saya sendiri pernah terjebak di kota itu, sebagai ‘buruh’ orang korea di sebuah perusahaan elektronik besar yang menguasai sebagian besar pasar di dunia. Namanya sih keren sebagai ‘R and D Engineer’ tapi rasanya itu hanya kamuflase jabatan sebenarnya bernama ‘buruh’ hue he…

Dan diantara sedikit teman-teman yang masih tinggal, atau terpaksa tertinggal di kota ini, tidak semuanya ‘sama’ seperti dahulu. tidak semuanya bersedia, tidak semuanya berani meluangkan waktu,  untuk sekedar diajak ngobrol ngalur ngidul berjam-jam tidak jelas  seperti dahulu. Sebagian besar dari mereka merasa terjepit oleh kesibukan masing-masing. Sedikit teman yang bersedia dan berani itulah yang saya sebut sebagai ‘sahabat dekat’.

Mungkin quote lirik sebuah lagu, di awal tulisan ini, tepat sekali melukiskan apa yang saya maksud dengan “sahabat dekat”. Sahabat yang membuat saya merasa ‘plong’ berada di dekatnya, sahabat yang mungkin kata psikolog, wilayah hitam dan abu2 diantara kami nyaris tidak ada. Dan jumlahnya hanya ada 4. Dan tak satu pun diantara mereka yang pernah kuliah satu jurusan dengan saya. Saya jadi bertanya-tanya kepada keempat sahabat dekat saya, yang sangat luar biasa di mata saya ini, tidak banyak yang seperti mereka. Tiga minggu di kota ini, serasa banyak waktu telah saya habiskan bersama mereka.

Setelah kuamat-amati dan renungkan, ternyata ada beberapa kesamaan diantara 4 sahabat dekat saya yang tersisa itu:

1. NU banget.
Tau NU kan? Merk minuman kemasan berwarna hijau itu to? Iya benar, tetapi bukan itu yang sedang saya maksudkan, hue he… yang saya maksudkan adalah ‘Nahdlatul Ulama’ ormas Islam terbesar di dunia yang didirikan oleh KH. Hasyim As’ary itu lowh. Seakan tidak ada habisnya kami ngomongin masalah NU, ya tentang komoderatanya, suka ziarah kubur-tahlil-yasin-istigotsahnya, thariqah nya, ulama-ulama dan kyai-kyai nya, pesantren-pesantren nya, pemikiran-pemikiran nya, keterbelakanga konstituen nya, dan sebagainya dan sebagainya. Pokoknya sumber obrolan yang tidak pernah kering buat kita.

2. Mengaku punya nasab yang nyambung dengan kanjeng nabi Muhammad S.A.W.
Entah kenapa, tidak pernah saya sengaja, tapi keempat sahabat dekat saya itu pernah keceplosan ngomong kalau mereka punya nasab orang-orang shaleh,  yang nyambung sampek Nabi Muhammad SAW. [punya darah biru negh ceritanya, kalo saya mungkin nyambung sampek Abu Jahal kalee ye…hua ha…Upss].

3. Aneh bin ‘nyentrik’ banget.
Pokoknya mereka itu ndak seperti orang kebanyakan dech, mereka bukanlah ‘mass production’ ciptaan Tuhan pada umumnya. Tapi mereka adalah produk ‘limited edition’ dari Tuhan [hue he… ayak2 wae].  Pola fikir dan “way of life” mereka tidaklah seperti orang2 kebanyakan. Punya hobi yang aneh dan nyentrik. Adayang hobinya kemana-mana pakek sepeda ontel. Tiga diantaranya 14 semester belum lulus kuliah S1, bukan karena mereka bodoh lowh, IP nya saja diatas 3. Tapi ya karena orang nya aneh jadi ya… karena “ada dech”…alasan yang tidak bisa diterima oleh orang kebanyakan. Terus, 3 diantara mereka mengaku sampek usia hampir 1/4 abad ini belum pernah ‘in relationship’ dengan lawan jenis. Mereka bukanlah homo/lesbi, tapi ya karena alasan yang ‘ada dech….’ namanya juga makhluk ‘limited edition’ susah kali yak, nyarik pasangan yang cocok untuk mereka. Ha ha ha…

To All My Friend, many thanks you very much ! You Make My Life More Life 🙂
I Learn Much Manything from you, Fren! May Allah keep our brotherhood now, and for ever, Insya Allah.


what I called it : “The Romanticism Of Brotherhood”.

“………., mungkin Sampeyan akan mengatakan saya terlalu romantis, tapi sungguh, saya sangat merindukan keakraban seperti dulu, di mana masing-masing kita masih hanya manusia-manusia yang tak terkalungi atribut-atribut. Sampeyan bebas menegur saya dan saya tak merasa sungkan menegur Sampeyan. Karena keikhlasan lebih kuat dari pada rasa rikuh dan sungkan. Dan ternyata keikhlasan persahabat pun dapat dikalahkan oleh keperkasaan waktu. Sejak Sampeyan dikhianati oleh orang-orang yang dulu Sampeyan percayai mendukung Sampeyan (bahkan waktu saya peringatkan, Sampeyan malah menasehati agar saya jangan su-uddzan kepada orang) dan akhirnya melalui mereka, Allah membebaskan Sampeyan dari beban berat yang Sampeyan pikul sendirian, saya sebenarnya sudah berharap masa keakraban itu akan kembali.

Namun ternyata harapan itu justru terasa semakin jauh. Kini saya bahkan seperti tak mengenali Sampeyan lagi…………………………………………”

bait diatas adalah penggalan surat dari seorang sahabat kepada sahabatnya yang sangat dirindukanya. yang karena kesibukan nya masing-masing mereka sudah lama sekali tidak bisa saling ketemu.

surat itu ditulis oleh Gus Mus  aka KH Mustofa Bisri kepada sahabat lamanya Gus Dur
aka KH Abdurahman Wahid. dengan maksud merindukan sosok yang dianggap selalu demokrat, egalitarian, dan romantis yang dibangun sejak kuliah dimesir, berubah legal-formal lantaran jarak kekuasan, yang menurutnya mengurangi keakraban antara keduanya. Dengan sangat indah ia menulis kata-kata, layak orang kasmaran dan tak lupa diselah-selah kalimat romantisnya menyelipkan pesan agar orang disayangi itu tidak terjebak pada bithanaah lantaran ia berpandangan tokoh sebesar Gus Dur pasti akan dikerumuni banyak orang yang mempunyai kepentingan untuk diri sendiri.

surat tersebut dibukukan dalam salah satu bukunya Gus Mus: GUSDUR GARIS MIRING PKB. yang sempet saya baca dari halaman awal sampek terakhir di toko buku gramedia MATOS Malang bareng my brother tanpa harus membeli, …yang karena males keluar duit juga karena bukunya ndak tebel -cuman seratus halaman ++ – beberapa bulan yang lalu.

Dulu saya merasa aneh, kenapa yach.. saya terkadang kangen banget dengan beberapa sahabat saya, dan kalau ketemu itu kayak saudara sendiri. sangat akrab bahkan terkadang lebih dari saudara sendiri. Saudara yang akan mengingatkan jika saudaranya lupa… Saudara yang akan meluruskan kembali jika saudaranya salah…. Saudara yang tetap mesra dan romantis meski sering berbeda pandangan dan pendapat.

“Mesra dan Romantis” antara sahabat dengan sahabat. antara lelaki dengan lekaki.
mungkin bagi beberapa orang adalah sesuatu yang “WEIRD”.

Tapi ternyata seorang tokoh sekaliber Gus Mus pun pernah merasakan what i called it :
“The Romantism Of Brotherhood”.

^_^