… apa yang aku yakini sebagai sebuah kebenaran, kebaikan, kehebatan, dan keindahan di masa lalu, amat sangat belum tentu menjadi sebuah kebenaran, kebaikan, kehebatan, dan keindahan pula di masa kini dan yang akan datang. – a random thought

metamorfosis
Ilustrasi : Metamorfosis ( santigracia.net )

Ada saja jebakan untuk berpaling dari melakukan hal-hal yang serius, untuk melakukan hal yang tidak serius. Seperti hari ini, aku terjebak pada nostalgia masa lalu. Aku menemukan sebuah arsip digital yang berserakan di antara sampah-sampah elektronik di ‘kantong sampah’ google, yang berumur sudah lebih sepuluh tahun yang lalu tapi kok ndilalah belum dibuang oleh mbah Google.

Diarsip media sosial digital itu, jauh sebelum booming aplikasi medsos: facebook, twitter, whatsapp seperti sekarang, aku seperti melihat diriku sendiri diantara orang lain, tetapi pada dimensi ruang dan waktu yang sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Membuka arsip digital itu, rasanya malu sekali dan ada perasaan ‘denial‘ yang kuat: ‘it was not me`.

Tetapi, itulah fakta kehidupan. Bahwa aku tak akan pernah bisa lepas dari rentetan deret waktu di masa lalu, saat ini, dan masa depan yang saling mengait. Dari sampah digital itu, aku merasa belajar sedikit tentang hidup.

Pertama, ada kesadaran bahwa hidup itu adalah sebuah proses metamorfosis panjang yang belum usai. Dari ulat yang menjijikan keluar dari telur, menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu dengan sayap yang indah yang akan meletakkan telur-telur kembali dan berakhir pada ketiadaan kembali.

Apa yang aku yakini sebagai sebuah kebenaran, kebaikan, kehebatan, dan keindahan di masa lalu, amat sangat belum tentu menjadi sebuah kebenaran, kebaikan, kehebatan, dan keindahan pula di masa kini dan yang akan datang. Sayangnya, kebanyakan dari kita banyak yang sering lupa bahwa kita semua sedang berproses. Bahwa kita bukanlah seonggok fakta yang jumud.

Dalam bermetamorfosis itu, menurutku ada dua hal yang harus selalu jadi pegagangan, agar kelak tidak terjadi penyesalan: senantiasa bersabar dalam setiap berproses, dan rendah hati selalu.

Tadi, di jalan ketemu dengan ndoro dosen. Beliau bercerita, bahwa beliau kemaren baru saja menghadiri pelatihan bagaimana menjadi dosen pembimbing mahasiswa PhD yang baik.
Seorang profesor terkenal, yang menjadi pembicara dalam pelatihan itu bercerita bahwa dulu ketika profesor itu menjadi mahasiswa PhD, supervisornya selalu menyuruh menulis ulang setiap kalimat yang dia tulis dalam disertasinya. Dan itu membutuhkan proses yang ‘teramat menyakitkan’ selama lebih dua tahun untuk menyelesaikan menulis disertasinya. Karena bersabar berproses, akhirnya beliau pun berhasil bermetamorfosis dari mahasiswa yang nyaris putus asa menjadi seorang Profesor yang ternama.

Kedua, ada kesadaran bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tak sehelai daun kering pun yang jatuh ke tanah, kecuali telah didesain seperti itu oleh Dzat Yang Maha Merencanakan kehidupan ini. Tadi kulihat ada dua pasang nama yang ndilalah tepat berurutan. Dan dikemudian hari, kok ya berjodoh menjadi pasangan suami istri. Sudahlah, yang kedua ini agak tidak penting.

Advertisements

” … seberat apapun tantangan hidup, jangan pernah biarkan kesedihan, amarah, dan keputusasaan merundung terlalu lama” – M. Anita

ilyas_4_yo
Ilustrasi: Terus Melangkah

Dalam hidup ini, ada tiga ilmu yang sering kali dituturkan, mudah sekali diajarkan, gampang sekali dinasehatkan, tetapi saking sulitnya perlu seumur hidup untuk memahaminya, perlu sepanjang hayat untuk menghayatinya. Ilmu ini tidak diajarkan di universitas manapun, kecuali ya di Universitas Kehidupan. Ketiga ilmu tersebut adalah ilmu sabar, ikhlas, dan syukur.   “Sing sabar yo nang”, “sing ikhlas yo kang lan mbak yu, iku ngunu wes kersane Pengeran”, “ sing penting, awak dewe kudu syukur“. Betapa sering sekali kita mendengarnya bukan?

Sabar

Ada pitutur Jawa yang menyebutkan bahwa sabar itu subur. Tapi, masak iya sih? bukanya, bertahan dalam perih dan pedihnya kesabaran itu membuat jiwa dan raga menjadi kering kerontang? Argh, entahlah saya selalu gagal memahaminya.

Perjalanan hidup, semakin menua rasanya semakin tidak mudah. Pantaslah, orang yang sudah sepuh sering disebut orang yang sudah banyak makan garam kehidupan, bukanya gula kehidupan. Yah, karena kehidupan ini tidaklah semanis gula-gula. Kehidupan bukanlah cerita roman picisan, bukanlah dongeng dari  negeri kayangan, bukanlah seperti yang dipamerkan orang-orang di TV maupun di media jejaring sosial yang penuh dengan gula-gula yang manis. Kehidupan tak pernah luput dari jebakan ujian yang satu ke jebakan ujian yang lain.

Serial kehidupan kita rasanya tak lengkap tanpa momen pahit dan menyakitkan. Dikhianati, dihina, diremehkan, diabaikan, disepelekan, atau bahkan keberadaan kita tidak dianggap sama sekali. Kegagalan, kebangkrutan, kejatuhan, dan keterpurukan pun tidak enggan menyapa dalam kehidupan kita. Semuanya, sering menguras segenap rasa kepahitan dan pilunya air mata.

Dalam menapaki jalan yang lurus, dan mencoba menghindar dari  belokan-belokan pun penuh dengan jebakan ujian.  Betapa banyak orang yang rajin bersujud di rumah-rumah  Tuhan, rupanya tak tahan dengan godaan perselingkuhan ataupun terlibat dalam persengkokolan penggelapan uang. Lihatlah, tidak sedikit para generasi muda yang seharusnya tekun dan rajin belajar itu, terperosok dalam kubangan lumpur kemalasan, jebakan pergaulan kumpul kebo dan obat-obat terlarang.

Lulus dari setiap jebakan ujian itu seperti menapaki serangkaian anak-anak tangga untuk merengkuh kematangan jiwa yang paripurna di penghujungnya. Sayang, tidak banyak yang lulus jebakan ujian itu, hingga jatuh terjerembab kembali karena terkikisnya cadangan kesabaran dimiliki. Apalagi di jaman sekarang, ketika semua orang menghendaki  segala yang diinginkan bisa diraih dengan serba instant. Tak sudi bersabar dalam berproses.

Ikhlas

Meskipun katanya Tuhan Maha Adil, kenyataan hidup kadang terasa tak adil karena manusia sering kali belum mampu memahami kemahaadilan Tuhan. Manusia terlahir di dunia, tanpa mampu memilih di belahan dunia yang mana ia dilahirkan. Di gubuk reot nan kumuh di pedalaman Papua, ataukah di istana Buckingham yang penuh kemewahan hidup di London, sungguh manusia tidak bisa memilihnya sebelum dilahirkan. Ada yang terlahir cantik dan tampan sempurna, ada yang terlahir dengan kaki dan tangan yang tak sempurna.

Perjalanan hidup manusia pun berbeda-beda. Ada yang terlihat selalu diselimuti keberuntungan demi keberuntungan. Sebaliknya ada yang merasa selalu dirundung malang. Yang bekerja keras sekuat tenaga tak selalau seberuntung bahkan sering kali kalah oleh mereka yang santai dan berleha-leha saja. Yang baik malah seringkali tersingkir oleh mereka yang penuh muslihat dan tipu daya. Yang berjasa dan tulus mengabdi dilupakan, yang penjilat malah dipuja-puja.

Semua itu kadang sering menyesakkan dada. Tetapi, bukankah hidup tak lebih dari menjalani skenario Tuhan? Bukankah, Tuhan suka dengan hambanya yang ridho dan ikhlas menjalani lakon hidup yang harus dilakoninya?

Jika ilmu ikhlas sudah bersemayam di hati, segala hinaan dan caci maki, segenap sanjung dan puji, kesenangan dan kegembiraan, kesusahan dan kedukaan, kegagalan dan kemalangan, keberhasilan dan keberuntungan akan terasa tidak ada bedanya. Semua hanyalah gerak hidup alamiah yang tidak perlu ditangisi dan disesali maupun dibangga-banggakan.

Syukur

Di dalam hati, di rumah, di jalan, di kantor, di sekolah, di kampus, betapa terlalu banyak kita mendengar suara keluhan.  Kurang inilah, kurang itulah.  Yah manusia memang kodratnya suka mengeluh. Yang di genggaman sering dilupakan, yang tidak ada selalu dicari-cari dan dikeluhkan. Satu sudah didapat, masih mengeluhkan yang kedua. Kedua sudah diraih, masih mengeluhkan yang ketiga. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Padahal, jika kita mau berhenti mengeluh sejenak dan menghargai apa yang sudah melekat pada diri kita, betapa hidup terasa lebih nikmat. Padahal, jika mau menghitung, tak sanggup kita menjumlah berapa banyak nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita.

Kawan, seberat apapun tantangan hidup kita, jadikanlah ilmu sabar, ikhlas, dan syukur sebagai teman perjalanan paling setia mu. Walaupun setia bersamanya, tidak pernah mudah. Jangan pernah  biarkan kesedihan, amarah, dan keputusasaan merundung mu terlalu lama. Tak perlu takut dengan serial hidup yang menantang dan sulit, karena laut yang  kalem tidak pernah melahirkan para pelaut yang tangguh. Terus melangkah, dan titilah tanga-tangga kehidupan mu dengan penuh kehatia-hatian. Nikmati dan hayati perjalanan mu sepenuh hati, semoga kelak tak ada penyesalan di penghujung perjalanan kehidupan kita nanti.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Dalam sabar,
Ada kepedihan dan keperihan yang disembunyikan.
Ada pahit, harus ditelan perlahan.
Ada gejolak yang diredamkan.
Ada ego yang diturunkan.
Ada amarah yang tertahan.

Dalam sabar,
Ada penantian yang kadang terasa berkepanjangan.
Ada pendirian yang harus selalu diteguhkan.
Ada keputusasaan yang selalu ditunda.

Dalam sabar,
Ada peluh yang merembes,
Ada air mata yang menetes.

Dalam sabar,
Kita perlu merunduk, diam, dan tersenyum.

Dalam sabar,
Ada ketenangan jiwa yang memanggil,
Ada ketentraman hati yang bersenandung lirih,
Ada keindahan rasa, saat yang kita tunggu datang di saat yang paling tepat.

Dalam sabar,
Ada bisik syukur tanpa jeda.

Duh Gusti,
Karuniakan kami kekuatan, kesabaran, dan kesyukuran yang indah.
Dalam setiap langkah dalam titian takdir yang telah kau tetapkan.

… tak perlu silau apalagi risau dengan kesuksesan dan kejayaan orang lain. Setelah yakin telah melakukan yang terbaik, terkadang kita hanya perlu berdamai dengan diri sendiri. Ikhlas dan ridho dengan ketetapan Yang Maha Menetapkan. Nerimo Ing Pandum kata orang Jawa. Karena itulah kunci pintu-pintu kebahagiaan, ketentraman, dan keberkahan  hidup. – a random thought.

nerimo_ing_pandum

**

Silaturrahim dengan orang yang sudah sepuh selalu menyenangkan bagi saya. Buat saya, mereka yang sedang menikmati hari tua selalu menjadi pemercik pelajaran tentang kebajikan dan kebijakan hidup yang selalu menyejukkan jiwa. Mungkin karena mereka sudah pernah merasakan muda, sementara kita yang muda belum pernah merasakan berproses hingga menjadi tua. Mereka seolah begitu arif dan bijak dalam memaknai hidup dan kehidupan ini. Memang menjadi tua tak selalu menjadi bijak, tetapi untuk menjadi bijak ada jalan panjang nan berliku yang harus ditempuh, kawan!

Seperti pagi itu, saya bersama istri dan anak semata wayang saya berkunjung ke rumah mbok Darmi. Mbok Darmi, bukan nama sebenarnya :p, dengan senyum dan air muka tulusnya yang tidak dibuat-buat seperti senyum karyawati  Alfa Mart, membukakan pintu rumahnya untuk kami. Beliau mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah joglo yang sederhana dan tidak terlalu besar itu, bahkan kecil untuk ukuran rumah di pedesaan. Beliau menggelar tikar mendong di tengah ruangan rumah yang masih berlantai tanah itu, kemudian mempersilahkan kami duduk dengan rumah. Berkali-kali beliau minta maaf atas keadaan rumahnya yang jikalau mungkin kurang berkenan buat kami. Dia juga maaf atas cucu lelakinya yang sudah remaja yang pagi itu masih tertidur pulas tengkurap di atas dipan kecil dari bambu yang juga berada di ruangan tengah rumah itu. Mata saya menyapu setiap sudut rumah sederhana itu, hanya ada satu kamar tidur kecil, ruang tengah, dapur dan kandang ayam. Bukan rumah mewah gedongan memang, tetapi entah kenapa sejak memasuki rumah itu ada kedamaian yang menyelinap dalam hati, sebuah keadaan yang justru jarang saya rasakan ketika memasuki rumah gedong yang mewah. Ingin rasanya berlama-lama berada dalam rumah itu, sambil mendengar simbok bercerita tentang hidup yang dia pahami.

Sebenarnya, maksud kedatangan kami adalah untuk memijatkan anak lelaki saya yang berumur dua tahun. Seperti anak desa pada umumnya, anak saya ini minimal satu kali dalam sebulan harus dipijit. Apalagi kalau sudah terlihat bawaanya rewel, Ajaib setelah dipijit rewelnya langsung hilang dan berganti dengan keceriaan, gelak dan tawa. Sambil, memijit perlahan tubuh anak saya yang terlihat sangat menikamati, mbok Darmi bercerita tentang hidup. Si mbok yang sudah berumur 90 tahunan tapi masih terlihat sehat ini, memulai kisahnya tentang anak-anaknya. Dengan tutur bahasanya yang halus, rendah hati, dan perlahan itu  Si mbok mengungkapkan rasa bangganya atas keputusan yang baru saja diambil oleh si ragil. Anak terakhir perempuanya itu baru saja memutuskan keluar dari kerja, dan memilih merawat anak dan mengabdi sama suaminya. Meski beliau yang banyak bercerita, tetapi si mbok sekali-kali menanyakan keberadaan kami. Sanjungan dan doa-doa tulus selalu keluar di antara tutur katanya yang menyejukkan itu. ” Cah bagus, Cah ayu, sing rukun, sing sabar, sehat, ayem, tentrem, gampang rejeki”  adalah di antara kata-kata yang keluar dari bibirnya.

Meskipun mungkin bagi pandangan orang pada umumnya, hidup mbok Darmi kekurangan. Tetapi saya menangkap kesan yang berbeda dari si mbok yang selalu memakai jarit dan baju kemben, pakaian khas perempuan-perempuan jawa jaman dulu itu. Beliau begitu ikhlas dan nrimo terhadap semua cerita hidup yang dia alami. Tak sedikitpun, beliau terlihat mengeluh apalagi menyesali atas kehidupanya. Sebaliknya, air mukanya memancarkan aura kesyukuran tanpa batas.

Setelah anak saya dipijit, kami pun pamit mohon undur diri. Sambil salaman, istri saya menyelipkan selembar uang untuk si Mbok. Dengan air muka tenang, si mbok berkata. Iya ini saya terima dengan penuh syukur, terima kasih sebanyak-banyaknya, mugi Gusti Allah sing mbales. Tapi ijinkan saya, sekali saja untuk memakai uang ini untuk nyangoni cucu saya yang satu ini. Uang itu pun diberikan kepada anak saya, yang sudah menggunakan jasanya. Saya pun meninggalkan rumah itu dengan hati menggantung dan penuh tanda tanya.

***

Senja itu kami sedang jogging lari-lari kecil menyusuri jogging track yang meliuk-meliuk bak ular memutari danau buatan di dekat gerbang pintu utama masuk ke area kampus kami. Sinar matahari yang hendak terbenam diufuk barat dan ikan-ikan yang berenang di dalam air danau serta rumput hijau yang terhampar luas membuat sore itu terasa indah apalagi sehabis seharian beraktivitas seharian di depan komputer di Lab. Setelah, satu kali putran, kami memperlambat kecepatan kaki kami, berjalan perlahan sambil memperhatikan ikan-ikan yang sedang berpesta dengan potongan roti tawar yang kami lempar ke danau.

Disamping saya, seorang anak muda berperawakan tegap, tinggi besar, dan berambut pendek. Kulitnya putih langsat dan wajahnya tampan. Sebuah tampilan fisik yang sangat sempurna mungkin buat anak-anak gadis remaja. Sebentar lagi, dia akan diwisuda dan mendapat berbagai penghargaan sangat bergengsi sebagai lulusan dengan capaian terbaik baik dalam akademik maupun non akademik. Menariknya, penghargaan itu akan diberikan langsung oleh seorang Mantan Perdana Menteri yang sangat dihormati di negara itu. Dalam hati saya berbisik,  luar biasa dan beruntung sekali anak Indonesia lulusan sekolah islam di bilangan Serpong, Jawa Barat ini. Mungkin semua orang maklum dengan penghargaan itu, karena tidak saja prestasi akademik di Jurusan gabungan ilmu Bisnis dan Ilmu Komputer nya yang luar biasa, dia juga mantan ketua perhimpunan mahasiswa internasional di kampus kami.

Sambil kami terus berjalan, sesaat dia bercerita tentang rencana kedepan setelah dia lulus. Menurutnya, ada tiga hal yang harus dia capai dalam hidupnya. Yang pertama pendidikan setinggi-setingginya. Oleh karenanya, dia akan berjuang kembali mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri demi gelar masternya. Dia memang mendapatkan beasiswa penuh untuk gelar sarjananya. Yang kedua, financially growth, dia harus mandiri secara finansial. Oleh karenanya, suatu saat dia akan memilih menjadi pengusaha seperti keluarganya pada umumnya. Yang ketiga, socially contributed, dia harus juga berkontribusi terhadap lingkungan sosialnya termasuk terhadap agamanya. Dengan air muka sangat optimis dan ambisius, dia terlihat sangat yakin akan mampu mewujudkan semua mimpi-mimpinya itu. Hanya rasa kagum yang berlanjut dengan perasaan inferior yang menyelinap di dalam hati saya ketika berada di samping kawan saya yang luar biasa ini.

Belakangan saya tahu, di hari wisuda yang dinantinya itu  sang Perdana Menteri  berbisik kepadanya, ” You have every thing, just make it happen, Good Luck!” Dan belakangan saya juga tahu, kawan saya ini berhasil mewujudkan semua mimpi-mimpinya. Setelah gelar master berhasil dia dapatkan dengan beasiswa dan sederet penghargaan dari sebuah negara kaya raya di Timur Tengah. Tidak hanya sukses sebagai pengusaha, dia juga terkenal sebagai motivator dan penulis buku-buku national best seller . Bangga rasanya, tahu bahwa buku-buku best seller yang terpajang di toko buku itu penulisnya adalah orang yang saya kenal. Begitu juga ketika dia diundang sebagai pembicara oleh mahasiswa-mahasiswa di kampus saya mengajar, bangga rasanya kalau si pembicara itu adalah pernah jadi teman mbolang saya. Dia pun dikaruniai istri yang sangat cantik dan cerdas yang kebetulan juga saya kenal. Kebahagian itu bertambah sempurna dengan kehadiran buah hati mereka. Beruntung sekali kawan saya satu ini, diusianya yang lebih muda dari saya, dia sudah mendapatkan apa yang diimpikan oleh banyak orang. Dan saya pun hanya bisa mengagumi dan mendoakannya dari jauh.

****

Argh… kawan! itulah sawang -sinawang hidup. Setiap kita memiliki kenyataan hidup yang berbeda. Dan kita hanya melihat semuanya dengan seolah-olah. Padahal, pandangan seolah-seolah itu sering kali menipu. Seorang yang terlihat sangat kuat, sering kali kita tahu ternyata kenyataanya begitu rapuh dan lemah. Begitu juga sebaliknya, seorang yang kita pandang sebelah mata terlihat rapuh, tetapi sebenarnya sangat kuat dan luar biasa!

Kawan! sering kali kita hidup terjebak diantara bayang-bayang ambisi, keinginan, mimpi dan angan-angan kita. Seringkali, itu membuat kita lupa bahwa disana ada yang mengatur dan mengendalikan hidup kita. Jika ternyata ambisi, keinginan, mimpi, dan angan-angan kita terbentur dengan kenyataan yang ada. Janganlah frustasi, mengeluh, apalagi berputus asa. Sekuat tenaga kita berusaha, kita tetap tidak wajib untuk berhasil. DIA lah yang maha menentukan.  Jika kita sudah yakin telah melakukan yang terbaik, terkadang kita hanya perlu berdamai dengan diri sendiri. Ikhlas dan ridholah dengan ketetapan Yang Maha Menetapkan. Nerimo Ing Pandum kata orang Jawa. Qanaah kata orang Arab. Karena itulah kunci pintu-pintu kebahagiaan, ketentraman, dan keberkahan  hidup.

Semoga Tuhan menganugerahi kita keberkahan hidup senantiasa selalu, di dunia dan kehidupan setelah dunia ini berakhir, Ammiin!!