ringinpitu

Galengan Sawah Bercerita: Desa Mencari Makna

…. tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan? – a random thought

desaku_1

Tengah Sawah, Dusun Ringinpitu, Plampangrejo, Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur

Jejak langkah.

Pernahkah merenung sudah seberapa jauh kaki melangkah menapaki jalan kehidupan kita? Pernahkan bertanya kemana langkah kaki menuju dan apakah kita melangkah ke jalan yang benar? Ada ribuan tanya mengiringi setiap gerak langkah perjalanan, saat kita berusaha memaknai.

Jalan hidup defaultnya terasa lempeng-lempeng dan lurus-lurus saja. Hanya sesekali terasa mendaki atau tak sadar kita telah jauh melangkah menurun. Terkadang terjal dan berliku. Ada kalanya kita sampai pada persimpangan, banyak jalan yang tebentang di hadapan dan kita dituntut untuk membuat sebuah keputusan: memilih. Tanpa tahu dengan pasti, bagaimana dan dimana jalan yang kita pilih akan berujung.

Ada yang menapaki perjalanan sebagai langkah-langkah keniscayaan yang tak bisa ditawar. Ada yang menapaki perjalanan penuh dengan strategi dan perhitungan untuk sebuah kata kunci: menjadi pemenang kehidupan. Ada yang sekedar mengikuti kata hati, kemana nurani bicara disanalah dia akan pergi. Adapula yang berfikir bahwa setiap peristiwa kehidupan tak ubahnya bilangan random yang tak perlu disiati, karena itulah inti dari seninya perjalanan hidup. Tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan?

Menyusur Jejak Langkah

Peristiwa mudik, pulang kampung kembali ke desa, ke dusun tempat kita lahir dan tumbuh, buatku adalah peristiwa sakral yang selalu istimewa. Disinilah, titik nol langkah perjalanan hidup kita dimulai. Dan menyusurinya kembali adalah peristiwa transendental yang mengingatkan kita untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita tempuh: are we on the right track?

Adalah jalan setapak, galengan sawah, jalanan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang diantara petak-petak sawah yang dahulu pernah, selama tak kurang dari enam tahun aku menyusurinya pulang pergi. Jalan terpendek dari rumah menuju SD ‘Inpres’ Negeri, yang terletak di pinggir sawah di dusun kami. Saat itu ada lima SD Negeri dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa kami, desa Plampangrejo. SD Negeri Plampangrejo 3 adalah satu-satunya sekolah di dusun kami, dusun Ringinpitu. Sebelum akhirnya kesuksesan program KB di era orde baru yang berakibat menurunya jumlah anak-anak membuat salah satu sekolah harus ditutup, kekurangan murid. Dan sekolah ku berubah nama menjadi SDN Plampangrejo 2. Dan hari itu, kami menyusuri galengan sawah itu kembali.

Galengan Sawah Bercerita

Bagiku, menapaki kembali jalan galengan sawah itu seperti membuka dan membaca kembali buku cerita lama. Bayangkan sedikitnya enam tahun aku menyusuri jalan yang sama, sepanjang hampir 2 km itu, setiap hari.

Secara fisik, meski puluhan tahun berlalu tak banyak yang berubah. Ceritanya yang berganti. Dahulu, di jalan itu, setiap pagi dan siang hari, ramai anak-anak berseragam merah putih, berjalan, meniti (jembatan papan kayu), dan melompat (kalen, saluran irigasi), menyusur setapak dan demi setapak dengan riang hati. Bila musim hujan tiba, daun pisang menjadi payung, tas dan sepatu harus dibungkus keresek. Seringkali kami harus menempuh jalur yang lebih panjang karena jembatan papan kayu hanyut oleh deras arus air kalen. Sepeda Ontel dan Payung adalah sebuah kemewahan buat kami saat itu.

Kini, yang ada hanyalah hening dan sunyi. Tak ada lagi anak-anak berjalan kaki menuju sekolah. Yang bersepeda ontel pun nyaris tidak ada. Kemajuan zaman membuat manusia semakin merasa nyaman, anak-anak dusun pun diuntungkan, antar jemput pakai sepeda motor dan mobil menjadi kebiasaan. Hidup boleh di desa, tetapi gaya hidup tak boleh kalah dengan orang kota- imajinasi kesuksesan hidup yang selalu mereka bayangkan lewat tayangan sinetron di TV.

Di jalan itu banyak cerita. Di bawah rumpun pohon bambu, ada rumah Lek Man Gun dan Bek Saudah. Keduanya kini telah tiada, Allahu yarhamhum. Pasangan suami istri ini selalu terlihat bekerja keras sebagai pengrajin alat-alat dapur dan pertanian dari bahan dasar bambu yang melimpah ruah di dusun kami. Ada tampah, tompo, dan banyak lagi yang bahkan aku sudah tak mampu mengingat namanya. Sebelum akhirnya alat-alat dapur dari bambu itu tergantikan oleh peralatan plastik made in negeri tirai bambu yang serba murah. Peralatan plastik itu menggempur pasar desa, dan kehidupan Lek Man Gun dan Bek Saudah pun kian merana. Barang-barang hasil tanganya yang terampil itu tak lagi laku di pasar desa.

Lek Man Gun adalah leleki gagah, tinggi besar, dan kulitnya kuning langsat. Begitun Bek Saudah, kulitnya kuning langsat tak seperti kebanyakan orang-orang desa kebanyakan yang kulitnya buluk kusam. Sayang kesempurnaan fisik mereka tak seindah cerita hidup yang menyertainya, setidaknya menurut ukuran kesuksesan hidup orang modern jaman sekarang. Kami masih ingat betul senyum tulus khas keduanya. Meski tengah sibuk berkarya, sapaan hangatnya tak pernah alpa menyapa kami yang melintas di depanya. Merekalah saksi hidup kami, yang mengamati kami tumbuh dari anak-anak hingga tumbuh menjadi remaja hari demi hari. Kini, di tempat yang sama yang ada hanyalah sunyi.

Selain rimbunan pohon bambu, tegalan pekarangan rumah Lek Man Gun juga dikelilingi oleh pagar hidup dari tanaman waribang, alias bunga sepatu. Bunga yang belakangan kutahu adalah bunga kebangsaan negara Malaysia. Bunganya indah berwarna merah, meski tidak pernah berubah jadi buah, yang sering diminta bawa oleh Guru kami di kelas untuk menerangkan alat reproduksi tumbuhan: Benang sari dan Putik. Ada juga bunga sejenis, berwarna merah lebih muda, tetapi tidak pernah mekar, dan jika dipetik dan dihisap pangkalnya, ada cairan yang manis sekali, semanis madu. Jika dulu tegalan itu hanya ditanami pohon pisang, kini tegalan itu jadi perkebunan buah naga.

Beberapa puluh langkah kemudian, pemandangan berikutnya adalah rimbunan pohon kelapa. Dahulu, di antara pohon kelapa itu adalah tanaman singkong. Yang merupakan bahan pokok industri panganan getuk lindri. Zaman berubah, selera cita rasa makanan orang-orang desa pun ikut berubah. Getuk warna-warni dengan taburan parutan kelapa diatasnya telah tergantikan cake warna-warni berbahan terigu dengan parutan keju di atasnya. Wajarlah, jika orang-orang desa mulai malas menanam singkong yang tidak ada harganya. Tegalan singkong pun kini berubah jadi hamparan tanaman padi, dengan pohon kelapa di pinggir-pinggirnya.

Jejak langkah kami terhenti, ketika kami sampai pada tempat jembatan papan kayu dulu itu berada. Jembatan itu benar-benar telah tiada, dan kalen saluran irigasi itu terlalu lebar buat kami untuk dapat meloncatinya. Dari kejauhan kulihat galengan-galengan sawah lebakan dengan tanaman mendong yang legendaris itu benar-benar telah raib. Tergantikan oleh rerimbunan pohon kelapa berpagar yang tak bisa lagi terlewati oleh pejalan kaki.

Tanaman mendong atau mensiang, bahan baku tikar kini pun telah tiada. Dahulu saat masih banyak ibu-ibu rumah tangga menganyam tikar mendong, tanaman ini adalah komoditas yang menjanjikan. Lagi-lagi, kondisi pasar desa tak lagi bersahabat saat tikar berbahan plastik sintesis dari pabrik menyerbu pasar desa. Lagian, sudah tak jaman, hari gini tidur di atas dipan beralaskan tikar. Spring Bed sudah terbeli oleh orang-orang desa.

Karena langkah terhenti, pagi itu, kami hanya bisa duduk-duduk di galengan-pematang sawah. Merenung, menyatu dengan alam. Pemandangan yang hijau, udara yang segar, hawa yang sejuk, suasana yang hening, hanya terdengar orkestra nyanyian kodok, jangkrik dan burung truwok yang hendak bertelur. Bukankah itu kemewahan bagi orang-orang kota?

Di pematang sawah, jangkar alam fikiranku terbawa pada cerita-cerita masa lalu. Tentang ikan kutuk alias gabus besar-besar dan belut yang dulu begitu melimpah di tempat ini, tentang burung gemak alias puyuh dan burung pitik-pitikan yang wujudnya mirip dengan ayam. Dulu kami, sering mengejar dan memburunya. Sarang dan telurnya mudah kami temukan di antara rimbun tanaman mendong. Belum lagi tentang burung emprit, kutilang, prenjak, srikatan, waakhowatuha. Entah dimana mereka kini rimbanya. Hilang tanpa meninggalkan pesan. Belakangan aku tahu, burung yang kami sebut burung pitik-pitikan itu hidup bebas berdampingan dengan manusia di kampusku, Universitas Nottingham, Inggris. Tak seorang pun berani menangkapnya. Terbesit rasa sesal, kenapa dulu kami begitu kejam memburunya.

Di pematang sawah itu rasa keprihatinanku menyergap. Cerita klasik ekonomi pedesaan yang bak lingkaran setan, sangat tidak menguntungkan dalam rantai sistem ekonomi. Terus berulang, entah dimana juntrungnya. Tentang harga benih, pupuk, dan obat hama yang mahal di masa tanam, kemudian harga jual yang tiba-tiba anjlok saat panen tiba. Panen raya saja merugi, apalagi jika gagal panen? Juga tentang komoditas pertanian lainya yang tak ada harganya di pasar. Aku sangat awam dengan ilmu ekonomi, kalaupun aku seorang Profesor di bidang ekonomi pun, aku tak yakin bisa mengatasi keadaan. Benar, keadaan sistemik yang tidak menguntungkan.

Masa depan ekonomi pertanian di pedesaan rasanya begitu suram. Lebih-lebih arah pembangunan pemerintah yang tidak pernah memihak. Ironi saat puncak kekuasaan dikuasai partai yang sloganya partainya wong cilik. Ironi di negeri agraris dan maritim yang arah pembangunan negerinya tak berpihak untuk bidang keduanya. Alangkah lucunya, masya alloh di negeri yang garis pantainya terluas di dunia, garam saja harus impor. Di hamparan tanah yang subur, tongkat dilempar jadi tanaman saja, bahan pangan masih harus impor.

Tak heran, jika tak seorang pun, dari pemuda-pemudi desa yang berminat jadi petani muda, harapan masa depan. Kecuali petani muda sloganistik, yang biasanya hanya abang-abang lambe. Hanya kamuflase, yang sebentar saja tak ada rimbanya. Buat muda-mudi desa, memilih menjadi petani itu tak ubahnya memperpanjang rantai kemiskinan yang turun temurun.

Untuk memutus rantai kemiskinan itu, yang beruntung, punya otak agak encer, menempuh pendidikan tinggi, untuk kemudian menjadi priyayi di kota. Yang kurang beruntung di bidang akademik, dan orang tua punya modal yang cukup memilih bekerja di luar negeri, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang agak kurang beruntung lagi, yah merantau di kota-kota dimana uang banyak beredar, Denpasar salah satu tujuan utamanya. Yang tidak punya pilihan, kerja serabutan di desa, dengan konsekuensi menerima apa pun yang diberikan oleh hidup di desa. Masih adakah anak muda yang menggenggam asa untuk membangun desanya?

Dari sudut pandang uang saja, apalah yang bisa diharapkan dari desa? Tetapi, dari sudut pandang kehidupan keseluruhanya, kita perlu belajar kembali dari desa. Tentang ketulusan, kepolosan, kesederhanaan, kepasrahan, dan mendefinisikan kembali: apa yang kita cari dalam hidup. Desa adalah tempat untuk meraba-meraba kembali kemanusian kita, yang secara tak sadar, kesibukan telah menjadikan kita tak ubahnya mur baut mesin industri pencipta uang. Desa kembali mengingatkan kita kembali bahwa ada hal-hal lain dalam hidup yang lebih penting dari sekedar uang.

Advertisements

Takeran Rejeki *)

…. yang sewaktu-waktu pasti akan diambil kembali oleh sang pemilik titipan,  tanpa sempat kita bertanya mengapa dan untuk apa Tuhan menitipkanya kepada kita? – a random thought

 

dusun_lek_mardi

Ilustarasi : Suasana Dusun

 

Kang Gimin dan Lek Mardi adalah kakak beradik dari 10 bersaudara. Sepuluh  bersaudara itu hidup rukun, guyub, rumahnya berderet-deret di satu dusun. Maklum,  orang tua Kang Gimin dan Lek Mardi dulu adalah orang paling kaya dan terpandang di  dusun Ringinpitu. Salah satu orang yang pertama kali bisa naik haji ke mekah di  Desa Plampangrejo.

Kecerdasan otak Mbah Dugel, bapak Kang Gimin dan Lek Mardi,  dalam bertani, berdagang dan beternak diakui banyak orang. Tak heran, jika luas tegalan dan sawahnya berhektar-hektar luasnya. Sabuk Galengan, istilahnya, kata orang-orang dusun.

Tetapi, sepeninggal Mbah Dugel dan kedua istrinya, sawah dan tegalan itu harus  dibagi rata kepada ke sepuluh anaknya dan juga kepada anak-anak sambung dari istri  kedua Mbah Dugel. Akibatnya, Kang Gimin dan Lek Mardi hanya kebagian sepetak sawah, sepetak tegalan, dan sebidang tanah untuk membangun rumah sederhana yang kini mereka tempati.

Sebenarnya, hidup hanya dengan bersandarkan pada penghasilan dari sepetak sawah yang panen padi setahun dua kali dan panen kedelai setahun sekali itu, serta  sepetak tegalan yang hanya bisa ditanami telo itu, tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.

Tetapi falsafah hidup orang-orang Jawa mengajarkan ‘kudu nerimo ning pandum’ serta ‘mangan ora mangan sing penting kumpul’. Sebagai, manusia haruslah ridho menerima, seberapa pun  rizki yang telah dibagikan Gusti Allah dengan takaranya masing-masing.

Diatas materi, ada yang harus lebih diutamakan yaitu keguyuban, kebersamaan hidup dengan keluarga. Leluhur orang Jawa sangat percaya bahwa rejeki setiap orang  itu sudah ada takeran, takaranya sendiri-sendiri, punya jatahnya sendiri-sendiri, yang tidak akan pernah tertukar sama rejeki orang lain. Kalau sudah rejeki, tak akan lari kemana.

Karenanya, Kang Parno dan Lek Mardi bersama 8 saudara lainya, dan juga bersama  orang-orang dusun pada umumnya, memilih hidup sederhana di kampung. Bekerja keras, dari selepas sholat subuh sampai waktu duhur, berlanjut lagi selepas sholat duhur  hingga senja datang. Mengolah tanah-tanah peninggalan leluhur mereka dengan sepenuh hati, meskipun harus bermandikan peluh, di bawah terik sinar matahari.

Mereka tidak mengenal yang namanya hari libur akhir pekan apalagi yang namanya tanggal merah. Buat mereka, setiap hari-hari adalah sama. Mereka hanya makan dari makanan yang mereka tanam sendiri dan yang disediakan gratis oleh alam. Hidup guyub, orang sedusun  serasa seperti saudara kandung sendiri, saling asah asih dan asuh, dalam harmoni  alam pedesaan yang subur.

Walaupun jauh dari makhluk bernama kemewahan hidup, tetapi kebahagiaan begitu  melimpah ruah di dusun ringin pitu. Tak ada perasaan iri hati dengan tetangga, yang  ada adalah hasrat untuk saling membantu, saling meringankan beban sesama, gotong  royong memecahkan masalah bersama. Dimana-mana orang saling bertegur sapa, dengan keramahan yang otentik dari lubuk hati mereka yang terdalam, bagai kehidupan koloni
semut yang selalu saling bertegur sapa setiap berjumpa dengan siapa saja.

Kebahagiaan itu bertambah sempurna dengan suasana religius yang menggambarkan kedekatan warga dusun dengan Sang Pemilik Kehidupan. Lelaki, perempuan, bocah-bocah berduyun-duyun pergi ke masjid dan langgar setiap petang dan menjelang pagi hari untuk sholat jamaah maghrib, isyak dan Subuh.

Anak-anak yang mengaji di serambi masjid dan langgar di antara waktu maghrib dan Isyak. Belum lagi dengan berbagai  jenis kegiatan keagamaan lainya seperti jamaah fida’, tahlil dan yasinan, istigotsahan, berjanjen, manakiban, khataman alquran, serta pengajian-pengajian lainya seperti pengajian muslimat, ansor, pengajian umum setiap bulan Suro dan Rajab yang mengundang kyai dari pesantren pesantren.

***

Tetapi, keadaan yang ayem tentrem bagai pantulan cahaya surga itu berangsur-angsur berubah. Sejak, setiap rumah memiliki TV sendiri, pelan-pelan cara memandang kehidupan warga dusun pun berubah. Kalau dulu, kyai dan bu nyai pesantren adalah duta kebudayaan warga dusun, sekarang artis-artis sinetron dan penyanyi lah yang menjadi duta kebudayaan mereka.

Kalau dulu hidup itu mestilah sederhana dan bersahaja saja, yang penting bermanfaat sebanyak-banyaknya buat sesama. Toh, hidup mung sekedar mampir ngombe. Sekarang pandangan hidup itu pun bergeser, bahwa hidup itu harus sukses, dan sukses itu bila bisa tampil cantik dan ganteng dengan berpakaian bermerek, sambil menenteng tas seharga ratusan juta rupiah.

Mainanya gadged mahal keluaran terbaru, untuk selfie di dalam mobil super mewah. Rumahnya besar bertingkat, pagarnya tinggi, lengkap dengan perabotan-perobatan rumah super mahal.

Warga dusun yang dulu hidup qanaah, bisa hidup bahagia, ayem tentrem dengan bertani, kini tak bisa lagi. Takdir sebagai petani dipandang sebagai kesialan hidup yang harus dirubah sekuat tenaga. Belum lagi, hasil pertanian yang semakin tidak bisa diandalkan.

Orang dusun diajari, lebih tepatnya dibodohi menggunakan pupuk dan pestisida dari bahan kimia secara berlebihan, akibatnya tanah kehilangan kesuburan alaminya, dan hama malah semakin tak bisa dikendalikan. Bagai pecandu narkoba, para petani pun sulit lepas dari ketergantungan bahan kimia yang semakin mahal itu.

Akibatnya dari tahun ketahun, hasil panen bukanya naik tetapi malah semkin merosot tajam. Nasib buruk diperparah dengan permainan harga para tengkulak yang mengakibatkan harga selalu jatuh setiap musim panen tiba, serta kebijakan pemerintah yang tak pernah berpihak pada nasib petani.

Sungguh, sulit hidup sebagai petani di dusun, lebih sulit lagi hidup sebagai buruh tani yang tidak memiliki sawah garapan. Tanahnya semakin menyempit, jumlah penduduk semakin melangit, kehidupan pun semakin sulit. Warga dusun semakin yakin bahwa takdir sebagai petani adalah kesialan hidup yang harus segera dihentikan.

Beberapa orang masih sabar dengan keadaan yang semakin sulit itu. Sesulit apapun,  jika dijalani dengan ridho, perjalanan hidup akan terasa nikmat. Kalaupun, susah di  dunia, mereka masih punya harapan akan kehidupan di kampung akhirat, yang abadan abadin, abadi selama-lamanya.

Tetapi, tidak sedikit yang tidak sabar karena keadaan. Akhirnya memilih untuk  bekerja ke luar kabupaten ke kota-kota besar di Indonesia atau ke luar negeri sekalian. Ada yang berhasil, tapi tidak sedikit yang pulang hanya membawa malu. Yang berhasil bisa pulang membangun rumah besar magrong-magrong, lengkap dengan pagar tembok yang tinggi, dan setiap lebaran bisa pamer sedan mewah keluaran terbaru, yang akan dibawa bersama keluarga saat sholat ied di masjid dusun.

Tetapi, tidak sedikit pula yang bernasib mengenaskan. Banyak perempuan-perempun desa itu, pulang-pulang bawa cucu untuk emaknya tanpa jelas siapa bapaknya. Tidak sedikit pula yang pulang-pulang dalam kondisi sekarat, bahkan hanya tinggal nama.

Kang Gimin termasuk salah satu yang beruntung. Setelah menjual sepetak tanah satu-satunya dari warisan bapaknya itu, Kang Gimin memutuskan untuk menjadi TKI di Malaysia. Kang Gimin betekad tidak akan pulang sebelum sukses.

Pulang pertama, setelah 3 tahun, Kang Gimin bisa membangun rumahnya yang sederhana itu menjadi rumah mewah layaknya rumah para artis penyanyi yang sering dipamerkan di acara infotainmen. Untung membangun pagar rumahnya saja, menghabiskan ratusan juta rupiah.

Pulang kedua, setelah 6 tahun, Kang Gimin bisa membeli beberapa hektar tanah dan tegalan. Sepetak tanah yang dijualnya dulu, kini bisa dibelinya kembali, bahkan beranak pinak menjadi jauh lebih luas. Tanah-tanah beberapa hektar itu, digarap oleh saudara-saudara Kang Gimin termasuk Lek Mardi. Kang Gimin, tak meminta sedikit pun dari hasil sawahnya itu.

Terkahir, setalah 9 tahun di Malaysia, Kang Gimin untuk tidak kembali ke Malaysia lagi. Sebuah mobil seharga lebih setengah milyar kini sudah berkandang di garasi rumahnya. Sebuah toko, yang menjual segala kebutuhan hidup ala orang kota untuk warga dusun pun sudah berdiri di samping rumahnya. Lengkap dengan jasa isi ulang air galon dan isi pulsa.

Rupanya, warga dusun yang dulu cukup bersyukur dengan minum air kendi, sekarang setiap rumah sudah punya dispenser. Warga dusun yang dulu suka mandi berjamaah di sungai, sekarang sudah mandi pakai air PDAM yang sudah masuk dusun.

Tidak hanya punya rumah, mobil, sawah, dan toko, Kang Gimin dalam waktu dekat, tepatnya di bulan haji yang akan datang ini juga berangkat haji bersama Yu Marni istrinya. Setelah, beberapa waktu sebelumnya, berangkat umroh sekeluarga bersama ketiga anaknya. Sungguh, paripurna betul kehidupan Kang Gimin.

Lain halnya dengan nasib lek Mardi, adek kandung Kang Gimin. Melihat kesuksesan kakangnya, lek Mardi yang semula keukeuh ingin nerimo in pandum menjalani nasibnya sebagai petani di dusun, akhirnya kegi, kepincut juga. Di jual lah sepetak tanahnya itu, untuk modal keberangkatanya sebagai TKI di Malaysia, di agen yang sama dengan yang telah membantu Kang Gimin.

Sama dengan Kang Gimin, Lek Mardi pun bertekad tidak akan pulang sebelum sukses. Meskipun berat sekali rasanya meninggalkan Lastri, istrinya yang cantik yang amat dia cintai, dan Si Genduk Narti, anak semata wayang nya yang sedang lucu-lucunya itu.

Tetapi, ternyata bekerja sebagai buruh pabrik di Malaysia tak semudah dan seindah yang dibayangkan oleh Lek Mardi. Gajinya pas-pasan, hanya cukup untuk biaya hidup sendiri, dan sebagian dikirim tiap bulanya lewat Western Union, untuk biaya hidup Lastri dan Si Genduk Narti.

Lek Mardi jadi bertanya-tanya, kok nasibnya tak seindah nasib Kang Gimin. Kok ternyata mencari duit di Malaysia, tak semudah yang dia bayangkan seperti pada Kang Gimin, yang seolah duit di Malaysia itu tinggal nyawuk saja.

Lek Mardi mencoba menguatkan hatinya, untuk bersabar. Walaupun, berkali-kali Lek Mardi nyaris putus asa ingin pulang saja. Lahwong, habis bulan habis gaji. Tetapi, bayangan cemoohan tetangga jika pulang tidak membawa apa-apa, membuat dengan sangat terpaksa tetap bertahan. Lek Mardi, menyisihkan sedikit gajinya untuk ditabung, seringgit dua ringgit dimasukkanya dalam celengan.

Di akhir tahun ketiga, karena rindu yang tak tertahan, saat lebaran, Lek Mardi memutuskan untuk pulang kampung untuk kemudian kembali lagi ke Malaysia. Walaupun belum berhasil membangun rumah, setidaknya Lek Mardi mampu membeli sebuah motor
bebek keluaran terbaru masih gres dari toko dibayar kontan.

Setidaknya, lek Mardi tidak terlalu malu, jika dibanding-bandingkan dengan kesuksesasan Kang Gimin. Saat  ditanya tetangganya : ” Kapan ki, omahe dibangun? “, Lek Mardi masih bisa berkelit dengan menjawab: ” iyo sedilut engkas, insya Allah nyuwun dungane“.

Walaupun dalam hati Lek Mardi sebenarnya perih sekali, dibanding-bandingkan dengan kesuksesan Kang Gimin, kakangnya sendiri itu.

Entah mengapa, kini hubungan keluarga Lek Mardi dan Kang Gimin agak ada jarak.  Seolah ada perang dingin antara kedua keluarga yang dulu sangat guyub itu. Dulu, lek Mardi biasa keluar masuk rumahnya Kang Gimin layaknya rumah sendiri. Makan di dapur pun tak perlu disuruh, begitu juga sebaliknya. Entahlah, sejak rumah Kang Gimin ditembok tinggi, seolah rumah itu menjadi sangat menakutkan.

Buat Lek Mardi, rumah Kang Gimin sekarang tak senyaman yang dulu. Lek Mardi merasa hatinya panas sekali setiap kali memasuki rumah kakangnya itu.

Setelah lebaran ketupat usai, Lek Mardi akhirnya kembali lagi ke Malaysia. Kini Si Genduk Narti kalau sekolah tak lagi naik ontel sendiri, tetapi diantar jemput oleh Yu Lastri dengan motor bebek yang masih kinyis-kinyis itu. Kalau ke kota kecamatan,  ke kantor pos untuk mengambil kiriman uang Lek Mardi, Yu Lastri tak lagi meminjam sepeda motor tetangganya.

Begitu pula, saat ada kumpulan wali murid di sekolah Genduk Narti, kini Yu lastri tak perlu menekuk mukanya, tetapi sudah bisa mengangkat mukanya dan tersenyum lebar. Pokoknya, dengan sepeda motor baru itu,  kini Yu Lastri merasa level gengsi kehidupanya sudah naik beberapa derajat.

Hingga peristiwa yang naas itu terjadi. Yu lastri menagis mberok-mberok, sejadi- jadinya di parkiran motor Kantor Pos Kecamatan. Setelah mengambil uang kiriman dari suaminya, Yu Lastri kaget dan terpukul luar biasa, karena motor kesayanganya itu raib tanpa jejak. Seperti peristiwa yang sudah-sudah, setiap pencurian motor, harapan motor itu kembali hanya 0.001 persen.

Semenjak kehilangan motor itu, Yu lastri menjadi lunglai, nyaris kehilangan semangat hidup berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Kesedihan yang teramat dalam. Ngenes binti, melihat Genduk Narti harus ke sekolah ngontel kembali. Malu rasanya, kalau bepergian agak jauh, harus meminjam motor tetangganya kembali.

Lek Mardi mendengar kabar kehilangan motor itu pun sangat terpukul, ngelokro. Oalah direwangi, urip prihatin bertahun-tahun nang kene, cek supoyo iso tuku motor, eh motore diilangne, Oalah, nasib-nasib. Keluh Lek Mardi. Tetapi, kecintaan Lek Mardi pada Yu Lastri, segera memulihkan keadaan, apalagi setelah dapat kabar, Yu Lastri hamil muda. Hasil hubungan waktu pulang lebaran kemaren. Semangat lek Mardi jadi berkobar-kobar.

Demi mengumpulkan tabungan, Lek Mardi rela bekerja ngelembur. Siang dan malam,
sabtu dan minggu pun tetap semangat bekerja. Makan pun, ala kadarnya, asal perut
kenyang, yang penting uang tabungan semakin menumpuk. Lumayan, uang lemburan itu
membuat gaji buruh pabrik lek Mardi naik dua kali lipat. Ditabungkanya uang itu,
disisihkan sendiri dari uang bulanan yang harus lek Mardi kirim untuk Yu Lastri,
Genduk Narti, dan calon anak keduanya.

Bulan, berganti bulan, tahun berganti tahun, tak terasa sudah hampir lima tahun Lek Mardi menjadi TKI. Lek Mardi tersenyum bangga, melihat print out buku tabunganya. “Alhamdulilah, ini sudah lebih dari cukup untuk membangun sebuah rumah” batin Lek Mardi. Karenanya, lebaran yang tinggal sebulan lagi, Lek Mardi berencana pulang. Di hari lebaran nanti berencana membeli motor baru lagi, terus membongkar total rumahnya yang lama.

Hingga, malam-malam di bulan Ramadlan menjelang lebaran itu pun datang. Selama bulan Ramdalan, Lek Mardi, bahkan rela meninggalkan sholat taraweh, meninggalkan tadarussan demi mengejar lemburan. Parahnya lagi, Lek Mardi, pernah kepergok oleh temanya makan roti di siang hari. Perutnya kelewata lapar katanya.

Sehari menjelang lebaran, Lek Mardi sampai di dusun Ringinpitu. Betapa bahagianya lek Mardi bisa berkumpul kembali dengan keluarganya, apalagi dengan putra keduanya, Tole Bagus, yang baru pertama kalinya dia lihat langsung. Rasanya, kerja sangat kerasnya selama ini terbayar sudah.

Tetapi, nasib malang datang tanpa diundang. Saat Lek Mardi hendak mandi sholat hari raya, tubuhnya roboh di kamar mandi. Darah segar mengalir dari mulut lek Mardi. Yu Lastri girap-girap, panik tidak karuan. Kedua anaknya tetangisan. Kang Gimin, mengantarkan Lek Mardi ke Rumah Sakit di kecamatan, lalu dirujuk ke Rumah Sakit di Kabupaten.

Lek Mardi, divonis terkena kanker hati. Dan harus menjalani kemoterapi. Ludes sudah uang tabungan Lek Mardi yang sedianya mau digunakan untuk membeli motor baru dan membangun rumah itu. Oalah nasib mu, Lek-lek.

**

Alhamdulilah, akhirnya lek Mardi kembali pulih, berangsur-angsur tubuh Lek Mardi sehat kembali. Sebuah kebahagiaan yang tiada terkira, nikmat hidup sehat, meskipun tidak memiliki makhluk bernama kemewahan hidup.

Walaupun sudah terpuruk dua kali, Lek Mardi seolah tak merasa kapok untuk pergi kembali ke Malaysia. Sebenarnya, bukanya tidak kapok, tapi sungguh dia merasa tidak memiliki pilihan lain untuk memperbaiki nasib hidup. Dia teringat kata-kata  motivator di TV, bahwa setiap orang punya jatah gagal, maka habiskanlah jatah gagal  itu, untuk akhirnya meraih keberhasilan. Kata-kata motivator TV yang seperti sabda nabi itu, memulihkan semangat hidupnya.

Lek Mardi, kembali lagi menjadi TKI ke Malaysia. Kali ini mencoba peruntungan lain, di sektor pertanian yang katanya lebih menjanjikan. Lek Mardi, merasa menemukan kehidupanya kembali sebagai petani, karena setiap hari dia mengurus tanaman sayur-
sayuran, untuk komoditas ekspor.

Tapi, lagi-lagi nasib Malang menerpanya. Di tahun kedua Lek Mardi bekerja di sektor
pertanian itu, Lek Mardi tertangkap polisi Raja Diraja Malaysia, dengan tuduhan TKI
Ilegal. Lek Mardi tak bisa menunjukkan paspor dan visa yang ditahan oleh majikanya
yang kabur begitu saja. Sejak itu, tak terdengar lagi kabar Lek Mardi entah dimana,
tidak ada yang tahu. Nomor telponya pun tak bisa dihubungi.

Ketidakjelasan nasib Lek Mardi menjadi gunjingan warga dusun Ringinpitu. Yu Lastri
terpukul berat dengan kejadian itu. Yu Lastri berusaha menghindar setiap kali
bertemu dengan warga dusun yang lain.

Tetapi, hari itu warga dusun Ringinpitu menjadi gempar sekali. Oalah gusti, Yu
Lastri ketangkep selingkuh di rumahnya dengan salah seorang pegawai desa. Perselingkuhan itu tertangkap basah dan digerebek oleh warga. Berita hilangnya
kabar Lek Mardi, dan perselingkuhan Yu Lastri dengan pegawai desa itu menjadi  Gosip, menjadi rasan-rasan yang menyebar ke seluruh warga dusun bahkan warga sedesa. Setiap orang seolah berubah menjadi presenter acara infotainment yang mulutnya begitu tajam, tajam sekali, seperti sembilu yang menyayat-nyayat hati Yu Lastri.

Di balik jeruji Penjara Raja Diraja Malaysia, di pojok ruangan yang pengab itu, Lek  Mardi yang rambutnya sudah gundul, badanya kurus, matanya cekung meratapi nasibnya.  Oalah, nasib-nasib. Diam-diam nurani kecil hatinya, merindukan suasana dan nuansa dusunya dulu saat masih dibalut kesederhanaan dan kebersahajaan hidup.

Diam-diam hatinya merutuki jebakan iming-iming kemewahan dunia, yang telah membuat suasana dan nuansanya dusunya menjadi panas bagai terkena pantulan panasnya neraka jahanam, suasana hati penuh iri dengki, karena setiap orang berusaha memamerkan kemewahan hidup.

Diam-diam hatinya teringat nasihat emboknya dulu, sebuah filosofi tentang rejeki. Bahwa setiap orang itu punya ukuran takeran rizki masing-masing, yang sudah ditetapkan ukuranya pada setiap jabang bayi yang lahir.

Kalau ukuran nya  cuman sak batok, mau dikasih beras satu ember pun, pasti akan tumpah. Begitu juga  dengan rizki. Kalau memang rejeki mu kecil, ya tidak usah iri dengan rizki orang lain yang memang ukuranya sudah ditetapkan jauh lebih besar.

Memang, kita tidak akan pernah tahu seberasa besar takeran rizki kita sebelum kita
berusaha keras sekuat tenaga. Tetapi, kita semestinya juga sadar, sekeras-kerasnya ikhtiar,tidak akan pernah mampu menembus dinding-dinding takdir. Seseorang bisa saja meniru sama  persis cara orang lain mencari rizki, tetapi jumlah rizki yang diperoleh adalah persoalan lain.

Sebenarnya, bukan besar-kecilnya takeran rizki kita yang menjadi  masalah, tetapi usaha untuk mengetahui seberapa besar takeran rizki kita dan ridlo tidaknya terhadap berapapun ukuran takeran reziqi kitalah yang akan menjadi persoalan.

Bukankah, semua yang kita miliki pada hakikatnya tak lebih dari sebuah  titipan? Yang sewaktu-waktu pasti akan diambil kembali oleh sang pemilik titipan, tanpa sempat kita bertanya mengapa dan untuk apa Tuhan menitipkanya kepada kita?

***

Catatan Kaki:

*) Sebuah cerpen, ditulis sambil mengutuki diri sendiri, di tengah kejaran deadline
submit disertasi, kok ya masih tega-teganya mencuri waktu hanya untuk menulis
tulisan sampah ini. Tokoh dan cerita hanya fiktif belaka. Terinspirasi kisah nyata.