rindu

Merindu mu

…. sekedar puisi-puisian – a random thought

cinta_ku

Sayang

Andai tinta untuk menulis takdir belum mengering,
Akan kuminta Tuhan merubah cerita ini.
Agar dapat kuterus mendekap mu, sayang.
Menciumi ubun-ubun mu,
Menggenggam erat jemari kecil mu,
Membiarkan mu, menggigit jari ku.

Tapi, tinta telah mengering.
dan meyakini bahwa cerita inilah yang terbaik
adalah keniscayaan.

Biarlah, aku belajar memiliki kehilangan
karena memang tak ada yang bisa dimiliki sepenuhnya,
pun diriku sendiri.

Sayang,
Apa kabar mu?
Akhir-akhir ini, kau sering hadir dalam mimpi-mimpi ku.
mendekap mu adalah ingatan terindah,
meski hanya dalam mimpi.
Tetapi, apalah bedanya mimpi dan nyata?

Sayang,
Aku rindu ritual mu
Bangun sepertiga malam terakhir
dengan nyanyian rengen-rengeng mu
‘ca ca ca caca…’
membangun kan ku, untuk bersujud kepada Nya.

Sayang,
Adakah kamu di langit yang ketujuh?
Bermain di taman syurga bersama Ibrahim.
Oh, alangkah indahnya.
Bukan taman dunia yang penuh kepalsuan.

Sayang,
Sampaikan salam ku untuk Ibrahim,
Sebagaimana salam untuk Muhammad.

Ya, Tuhan!
Kuatkanlah atas cobaan kerinduan ini.
Ku tunduk ikhlas atas segala takdir yang telah selesai Kau tulis.

Surabaya
Senja hari, 31-07-2018

Advertisements

Pulang … untuk kembali lagi.

… tak apalah, biar aku mundur beberapa langkah ke belakang, untuk kemudian lari kencang-kencang ke depan. Seperti anak ketapel dan anak panah, yang harus ditarik diulur ke belakang agar melesat jauh ke depan menggapai sasaran .

Arggh…. akhirnya aku menyerah pada rasa kerinduan yang semakin membuncah menyesakkan dada ini. Romantisnya musim gugur setahun lalu ketika pertama kali aku datang telah berganti dengan musim dingin dimana aku bertemu pertama kali dengan dingin nya salju. Musim dingin berlalu berganti musim semi yang indah, ketika bunga-bunga aneka rupa bermekaran indah penuh pesona. Bunga-bunga nan indah itu pun akhirnya layu dan berguguran kala musim panas dengan siangnya yang berkepanjangan datang. Musim gugur pun datang  kembali bersamaan dengan menguning dan memerahnya daun-daun. Daun-daun pun akhirnya berguguran meninggalkan ranting-ranting kering kerontang merana sendirian untuk bertahan hidup melawan musim dingin yang menggigit datang kembali di Bulan Desember ini. Bulan yang ditunggu anak-anak di negeri ini untuk mendapatkan hadiah natal terindah mereka dari St. Clause.

Arggh…. semuanya berlalu begitu cepat. Membawa aku hanya beranjak dari kesunyian ke kesunyian dan dari kenangan ke kenangan. Hidup seolah terperangkap dalam jeratan kesunyian dan kenangan.

Arggh…. aku tak pernah merasakan kerinduan sedalam ini. Rindu yang membuat separuh semangat hidupku hilang. Rindu yang membuat aku menjalani hidup bagai burung dengan satu sayap. Benar, baru kali ini, aku merasakan sebenarnya rindu.

eboarding_pass

Hore…. besok aku pulang. Saat akan kuobati lara rindu ini pada separuh jiwa, buah hati dan penyejuk mata ku. Rindu mencium tangan Bapak dan Ibu ku juga guru dan kyai-kyai ku. Rindu bercengkerama dengan sahabat lama ku. Rindu menghirup segarnya udara kampung halaman ku. Rindu kehangatan keluarga dan saudara ku. Rindu keramahan dan kebersahajaan orang-orang di kampung ku. Rindu mendengar suara adzan dari masjid di kampung ku. Rindu mendengar suara alunan ayat-ayat suci tuhan dilantunkan anak-anak di mushola kampung ku. Rindu melihat kepolosan anak-anak kecil di kampung halaman ku. Rindu memandang negeri ku dari dekat. Rindu menginjakkan kaki ku di tanah ibu pertiwi ku. Rindu mengagumi dari dekat keindahan pesona alam negeri ku, tempat aku akan mengabdi sampai mati suatu saat nanti.

Pasti … aku akan kembali disini, di kota ini, karena perjuangan ini belum usai. Aku hanya ingin menemukan semangat ku kembali. Menjemput mu untuk mengisi ruang-ruang sunyi disini. Aku hanya ingin mengembalikan ingatan ku tentang mimpi-mimpi itu kembali. Aku tidak sedang menyerah dan tak akan menyerah.

Tak apalah, biar aku mundur beberapa langkah ke belakang, untuk kemudian lari kencang-kencang ke depan. Seperti anak ketapel dan anak panah, yang harus ditarik diulur ke belakang agar melesat jauh ke depan menggapai sasaran.

Tuhan, terima kasih telah kau ajarkan arti kerinduan ini. Kerinduan yang membuatku memahami sisi-sisi lain kehidupan yang selama ini banyak telah aku abaikan. Tuhan, bimbinglah selalu kaki ini dalam melangkah. Jangan pernah membiarkan aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang ke jalan lurus mu kembali. Ingatkan aku bila lupa. Tegur aku bila aku terlena. Peluklah mimpi-mimpi ku. Dekaplah aku dalam cinta Mu yang tidak pernah berkesudahan.

Tuhan ! titip rindu untuk orang-orang yang aku sayangi. Seperti rindu ku bertemu dengan Mu suatu saat nanti.

Nottingham, 11-Desember-2013. 23:05. School of Computer Science. C.85.

saat kau beranjak dewasa, dan aku tak berada di samping mu

1363262602347

Sayang…  ayang-ayangku tersayang…
Dengarlah ayah memanggil mu.. nak.
Si Tole ganteng, anak ku sayang.
Lihatlah di langit sana.
Bintang gemintang dan Rembulan tersenyum begitu indah,
tapi buat ayah, senyum mu tetap lah yang paling indah.

Rupanya, sudah enam purnama,
ayah tak berada disamping mu, wahai pangeran kecil ku.
Rupanya, sudah tiga musim,
ayah hanya bisa mendengar suara mu, dan melihat gambar mu.

Malikat kecil ku,
Tahukah kamu, ada apa di hati ayah?
kuingin kau tahu,
ada kerinduan yang teramat membuncah,
ada cinta yang begitu menggelora,
untuk mu wahai engkau penyejuk jiwa.
**

“Gundul-gundul pacul cul, gembelengan..
nyunggi-nyunggi wakul kul, gembelengan…”

Ah, ayah tiba-tiba rindu menyanyikan tembang ini,
Tembang yang telah kau pilih sebagai pengantar tidur di setiap malam-malam mu.

Ayah kangen  saat kau ku biarkan bermain dengan tumpukan buku-buku tebal ayah,
Saat Kau buka buku itu, halaman demi halaman. Seolah kau tau isi buku itu,
Walaupun, sering kali kau sobekan halaman itu,
Dan bunda mu memarahi kita.

Ayah juga rindu bermain, berlari bekejar-kejaran dengan mu,
di kebun sempit belakang rumah kita dan di antara taman bunga yang bunganya selalu kau
petik sebelum merekah untuk kau berikan kepada ku dan bunda mu.
**

Permata hatiku,….
Kini, kau telah tumbuh dan kian  beranjak dewasa,
di akhir bulan ini kau akan menggenapkan usia dua tahun mu.
Tumbuhlah dengan sehat, pintar, cerdas, dan sholeh selalu.
Seperti tetumbuhan di taman syurga.
Pohon nya kokoh, daunya rindang, bunganya indah dan harum baunya,
manis dan lezat pula rasa buahnya.

Maafkan ayah, yang tak bisa menyaksikan hari-hari pertumbuhan mu.
Maafkan ayah, yang telah meminjam kebersamaan kita untuk sementara waktu.
Percayalah ayah akan mengembalikanya dengan lebih sempurna, suatu hari nanti.

Sayang,
Ketidakbersamaan ini bukanlah untuk disesali dan diratapi,
Ketidakbersamaan ini bukanlah untuk ditangisi,
Karena kita percaya takdir Tuhan tidak pernah kejam.
Takdir Tuhan selalu indah, dan tak pernah salah.

Yakinlah, Tuhan sedang mengajari kita tentang arti cinta yang sesungguhnya,
tentang arti sebuah kerinduan dan kesetiaan.
dan juga tentang arti sebuah ketangguhan, ketabahan, kesabaran, kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan.
yang tak bisa dipelajari dari buku-buku tebal ayah itu.
Walaupun, terkadang pelajaran Tuhan ini sering kali tidak mudah.
**

Walaupun raga kita tak lagi selalu bersua,
kita masih melihat matahari yang sama dan menatap langit yang sama,
di setiap sujud panjang di atas sajadah ini, doa doa ayah selalu untuk mu.
Doakan ayah selalu,
semoga esok, kita bisa melihat mentari bersama kembali, yang bersinar lebih cerah.

Tuhan,
terima kasih atas ketatapan takdir indah Mu ini.
Kami mencintai Mu selalu.

Nottingham, 14/03/2013
Seorang ayah yang merindukan anaknya.

R.I.N.D.U


Tuhan ijinkan aku mengeja sebuah kata,

er..
i..
en…
de…
u…

wahai angin yang berhembus dari ujung barat dunia ke arah matahari terbit,
duhai bintang yang berkerlip-kelip di sudut langit apabila malam telah mencekam,
kepadamu matahari yang selalu bersembunyi di ufuk barat di setiap penghujung senja.

dendangkanlah lagu pembuluh rindu ini, yang berderit-derit di setiap jengah kesendirian ku.
Tuhan, dekaplah aku dan dirinya,
sehingga kami tahu betapa dekatnya hati hati kami,

Nottingham, 180113

*)picture taken from:http://kenuzi50.files.wordpress.com/2012/06/hujan-dan-rindu.jpg