Cahaya Islam di Langit Nottingham, Inggris

Sebagai Muslim yang terbiasa hidup sebagai di negeri muslim dengan jumlah muslim mayoritas, hidup di negara sekuler dengan jumlah muslim minoritas bisa menjadi tidak mudah, bahkan menjadi tantangan sendiri. Awalnya saya berfikir begitu, tetapi spertinya tidak begitu benar. Disini, justru saya belajar banyak bagaimaana seharusnya sebagai bagian dari mayoirtas memperlakukan kaum minoritas. Sebuah keindahan tak terkira, hidup di tengah masyarakat dimana setiap kepercayaan seseorang dijamin kebebasanya, dimana setiap orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda dapat hidup rukun dalam sebuah harmoni yang hangat, dimana setiap individu mendapat kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.

01_masjid_nottingham_01
*Menara Masjid Sultania Nottingam

Siang di penghujung musim gugur itu, saya sedang menghadiri pelatihan jaga ujian. Iyah, mau jaga ujian saja wajib ikut pelatihan. Padahal ini bukan kali pertama saya akan jaga ujian, pun semester sebelumnya saya sudah mengikuti pelatihan yang sama. Mungkin inilah yang disebut profesionalitas dalam bekerja. Di sesi tanya jawab, ada seorang peserta pelatihan yang bertanya: ” Jika ada peserta ujian yang memakai cadar, apakah saya harus memeriksa wajahnya?” Pemateri, yang bule perempuan british itu dengan sangat tegas menjawab: ” NO!, anda sama sekali tidak berhak melakukan itu !” Peserta kembali bertanya: “Bagimana kita bisa tahu, kalau dia bukan orang lain? Penjaga ujian yang perempuan, bisa memeriksanya di ruang tertutup?” Pemateri : “Sekali lagi, TIDAK!. Di kampus ini setiap kepecercayaan keagamaan dihargai dan harus dihormati titik”.

01_masjid_nottingham_02
*Masjid dan Pusat Pendidikan Islam Sultania Nottingam

Saya kembali teringat kejadian ini, ketika kemaren waktu liburan di Indonesia sempat menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa. Di film yang oleh beberapa kritikus film, ceritanya menggunakan nalar kalah, diceritakan bagaimana susahnya menjadi seorang Muslim di Eropa. Digambarkan banyak orang yang ‘menghina’ dan tidak memahami Islam. Secara pribadi, saya kurang sependapat dengan cerita di film yang katanya berdasarkan novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Di Inggris, justru saya menemukan pengalaman yang sebaliknya.

Saya bertemu dengan orang-orang yang sangat memahami saya sebagai seorang Muslim. Termasuk dosen pembimbing riset saya, yang sangat paham kalau setiap jumat siang saya harus sholat Jumat dan di Musim Summer saya harus berpuasa lebih dari 15 jam. Kebijakan kampus pun demikian, bahkan jika seorang mahasiswa mendapatkan jadwal ujian yang berbenturan dengan pelaksanaan ritual keagamaan, dia dijamin oleh peraturan akademik untuk bisa mendapatkan jadwal ujian yang lain. Setiap acara formal dinner juga misalnya, mereka jauh-jauh hari sebelumnya mengirim email dietary requirement, dimana kita bisa memilih menu Non-Alcoholic Drink, Halal, atau Vegetarian. Jangan khawatir mereka mengira Halal itu bukan sekedar daging babi, tetapi mereka paham bahwa Halal itu juga harus disembelih secara Islam.

Fasilitas Ibadah di Dalam Kampus

Memahami bahwa muslim diwajibkan sholat 5 kali sehari, Universitas memberikan fasilitas khusus untuk sholat yang sangat memadai. Jangan bayangkan di tempat sempit nan pengap sebagaimana mall-mall di Indoneisa. Mushola berada di bangunan utama kampus. Kampus Nottingham yang terdiri dari beberapa kampus, disetiap kampus pun disediakan Mushola. Di University Park, Dua Mushola yang dibedakan untuk brothers sama sisters, berada di lantai 2 gedung Portlad Building, yang merupakan pusat kegiatan mahasiswa.

03_PrayerRoom
* Portland Building, tempat Prayer Room Berada

Di Mushola-mushola ini, disediakan toilet khusus yang menggunakan air, tidak seperti toilet pada umumnya yang hanya menggunakan tisu. Tidak hanya toilet khusus, tetapi juga disediakan tempat wudlu yang dirancang secara khusus juga. Di dalam mushola juga dilengkapi dengan perpustakaan.

03_EidlFitri
* Sholat Ied di Sport Centre, Universitas Nottingham

Fasilitas mushola dengan kondisi yang hampir sama juga disediakan di kampus Jubilee (Lantai 2, Amenities Building), di kampus QMC, dan kampus Suton Bonington.

03_PrayerRoom_2
* Sebagian Mahasiswa Muslim Indonesia di Prayer Room

Mushola-mushola ini juga dijadikan tempat pelaksanaan sholat Jumat. Untuk sholat Ied, karena kapasitas mushola yang terbatas, Pihak kampus kampus menyediakan Sport Centre Indoor sebagai tempat pelaksanaan sholat ied. Tidak hanya mahasiswa Universitas Nottingham, tetapi juga masyarakat muslim di sekitar kampus ikut juga melaksanakan sholat ied disini.

01_masjid_nottingham_05
* Perpustakaan di Prayer Room, University Park.

Masjid di Luar Kampus

Di luar kampus banyak sekali masjid sebenarnya. Tetapi kebanyakan bukan bangunan yang dari awal dibangun untuk masjid, tetapi rumah biasa yang dialihfungsikan menjadi Masjid. Sehingga tanpa kubah dan tidak terlihat seperti masjid. Bahkan di dekat bioskop, savoy cinema, ada sebuah masjid kecil. Di dekat rumah tempat saya tinggal, Alhamdulilah kebetulan ada dua masjid, jarak 100 meter ada masjid Noor, dan jarak 200 meter ad masjid Umar. Sungguh sebuah kebahagian tersendiri, meskipun di negeri non-muslim, kita masih bisa mendengarkan Adzan 5 kali sehari dan sholat jamaah di masjid, bertemu saudara-saudara sesama muslim.

01_masjid_nottingham_03
* Masjid Islamic Centre, Nottingham

Untuk bangunan yang benar-benar masjid, di sekitar city centre ada dua masjid besar yang tentu saja ada kubah dan menaranya. Yang pertama adalah Masjid Islamic Centre di Curzon Street. Masjid nya sangat besar, tapi sayang sholat jumatnya menggunakan Bahasa Urdu (Bahasa Pakistan). Masjid ini bersebelahan dengan sebuah gereja, dan tempat perjudian Bingo. Saya biasa ngadem (kalau musim panas) dan ngangetin (kalau musim dingin) badan dan hati di masjid ini jika sedang di city centre. Jika malas jalan, dari Victoria Centre anda bisa naik Bus Nomor 40, 41, 42, atau S11.

01_masjid_nottingham_04
* Masjid Islamic Centre di Curzon Street, Nottingham

Masjid yang kedua adalah Masjid jamik dan Pusat Pendidikan Islam Sultania. Masjid ini baru saja diresmikan di Nottingham. Sebagai masjid baru yang dibangun from scratch. Masjid ini dari city centre bila malas jalan kaki bisa ditempuh dengan Bus Nomer 43 dari Victoria Centre, Jantung kota Nottingham. Ohya, lokasi masjid ini terletak satu jalur bus dan tidak jauh dari George Green Wind Mill and Learning Centre, tempat anda bisa melihat kincir Angin di kota Nottingham.

Makanan Halal

Mencari makanan yang benar-benar halal bisa menjadi masalah sendiri jika anda berada di negara Non-Muslim. Tetapi sepertinya tidak berlaku di Nottingham. Di kota ini restoran halal yang menjual kebab, ayam goreng, pizza halal sangat mudah dijumpai. Sebagian besar menawarkan free delivery order.  Hampir di setiap titik kota sangat mudah mendapatkan restoran halal ini. Pusat restoran halal dimana anda bisa menemukan berderet-deret, berjibun restoran halal di antaranya di daerah canning circus, mansfield road, dan di dearah Hyson Green.

02_halal_food_01
* Salah satu Toko Daging Halal di Nottingham

Untuk daging sapi, kambing, ayam mentah halal di Nottingham juga banyak sekali tersedia. Daerah terbesara pusat daging halal adalah di Hyson Green, disini anda bisa menemukan berderet-deret toko daging halal. Bahkan jika anda di kawasan Hyson Green ini anda akan beras seperti berada di wilayah Sunan Ampel Surabaya. Nama toko-tokonya hampir semuanya bernama Islam. Tempat langganan saya adalah Sharif & Son, dan Medina. Karena banyaknya toko daging halal, harganya pun sangat murah. Apalagi kalau mau beli jeroan, ampela ati, sayap ayam, atau buntut sapi. Apalagi daging yang dijual Masih Fresh. Di kawasan Beeston, ada satu-satunya toko daging halal namanya Iqro’ tempatnya bersebelahan dengan toko fresh Asia, dimana kita bisa menemukan saos, kecap, dan indomie ASLI 100% made in Indonesia. Jika anda malas pergi ke toko daging halal ini, anda juga bisa menemukan daging halal frozen di beberapa supermarket seperti Tesco dan Asda. Bahkan di Asda ada outlet khusus yang khusus menjual daging/ayam Halal. Jadi, berada di kota ini anda tidak perlu khawatir perut anda kemasukan makanan tidak halal :D.

Komunitas Dakwah

Jika anda terpanggil untuk ikut berjuang memperkenalkan Islam anda bisa bergabung dengan beberapa organisasi keislaman ataupun pengajian Informal. Di kampus, ada Islamic Society, yang merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di Universitas Nottingham. Di organisasi ini, anda bisa bertemu dengan saudara-saudara muslim dari berbagai penjuru dunia untuk bersama-sama memperkenalkan Islam yang ramah, toleran dan santun. Setiap tahun nya mengadakan acara rutin bertema Islamic Discovery Week, yang mencoba memperkenalkan Islam secara santun ke orang-orang non muslim di kampus, dan yang paling saya suka setiap bulan Ramadlan mengadakan Buka Bersama GRATIS selama sebulan penuh (menghemat uang saku banget 😀 ).

03_Pengajian_Nottingham
* Mas-mas pengajian PEDLN

Teman-teman muslim Indonesia, baik mahasiswa, maupun yang sudah lama bekerja dan menetap di Nottingham dan sekitarnya setiap bulan juga mengadakan Pengajian. Komunitasnya bernama, PEDLN (Pengajian Derby, Loughborough, dan Nottingham). Terbuka untuk muslim, muslimah dan Anak-anak. Diselenggarakan TPA juga buat anak-anak. Lokasinya biasanya di Mushola di Sutton Bonington kampus. Di komunitas pengajian ini, selain bisa meet and greet saudara sebangsa setanah air, seiman, anda bisa merasakan masakan Asli Indonesia bikinan ibu-ibu pengajian yang tentunya mantap sangat. Sampean yang biasa dakwah di pengajian Tarbiyah ala PKS, Hizbut Tahrir, atau Jamaah Tabligh, juga ada di Nottingham. Saya bahkan pernah mengadakan acara Tahlilan dan Kendurenan bersama-sama teman NU di Nottingham.

Intinya, selama berada di Inggris, di Nottingham khususnya. Saya belum pernah mengalami, atau mendengar cerita diskriminasi atau tindakan kurang mengenakkan hanya karena saya Muslim. Justru sebaliknya, saya merasa sangat dihormati dan Nottingham sangat welcome dengan Muslim. Tidak ada ceritanya kos-kosan yang ada embel-embel nya: “Menerima kos-kosan khusus Kristen”.  Sebagaimana banyak saya temui waktu masih jadi mahasiswa di ITS, sebagian besar kos-kosan ada embel-embelnya : “Menerima kos-kosan, Khusus Muslim”. Bahkan ada perumahan, do sebuah kota di Indoneisa yang mengeksklusifkan diri khusus Muslim.

Di negara ini saya belajar banyak bagaimana Agama mayoritas bersikap terhadap agama minoritas. Agama mayoritas seharusnya tidak takut dengan berkembangnya agama minoritas. Sebaliknya di Indonesia, banyak sebagian umat Islam yang mayoritas, bertindak seperti agama minoritas. Ada prasangka buruk, dan ketakutan yang berlebihan akan berkembangnya agama minoritas. Bahkan disertai dengan kekerasan untuk menghujat aliran kepercayaan yang kebetulan berbeda dengan kepercayaan mayoritas, seperti perlakuan terhadap jamaah syiah dan ahmadiyah. Bahwa kita yakin seyakin-yakin nya dengan apa yang kita imani adalah perbuatan terpuji, akan tetepi memaksakan orang lain untuk mempercayai apa yang kita percayai adalah sesuatu yang sangat absurd. Alangkah indahnya, hidup di tengah masyarakat dimana setiap kepercayaan seseorang dijamin kebebasanya, dimana setiap orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda dapat hidup rukun dalam sebuah harmoni yang hangat, dimana setiap individu mendapat kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.

 

a very good Friday: the splendid time with friends

IMG_1888

It was Friday (31/05/2013) at the end of May. It was very sunny day in the Spring season in the UK. The temperature was around 19 degree centigrade. It was very warm or even the warmest day I had felt in the UK, so far. I went to the Lab as usual, for doing my PhD stuff and the website for Hyflex until in the middle of the day.

at 12.45 I went to the University Park by Hopper Bus for making Jumah prayer.  I was so happy, after the jumah prayer I met my country mates i.e. Pak Kirno, Mas Walid, Mas Sidiq, Arif, Mas Udin, and Pak Ihsan. After the prayer, I along with pak Sukirno went to Hyson Green for our weekly shopping. As usual, I went to ASDA and Syarif and Son.

After shopping, Mas Walid invited us to have dinner together. He treated me, Arif, and Mas Udin for dinner in Taste of India restaurant that was very close to Arif house. Mas Walid came to my house before going to Arif house. We had interesting chat about our prior Pesantren Life. We shared the same experienced about boy to boy romance relationship in the Pesantren. It was taboo yet real fact. Actually, it was so humane.

We went to the taste of India at around 07.00 PM. We just ordered the menu and took away the food from the restaurant. We ate together the food in Arif house. We ordered for Mushroom Baji, Chips, Garlic Nan, Lamb Curry, Fish Buna, and Tandoori Lamb Chop. They were guaranteed as Halal food. Explicitly, it was not too luxurious food yet it was priceless implicitly. Being together with best friends is always incredibly priceless time. There is always genuine happiness inside.  Being together made the food more delicious hundreds times. We really enjoyed the food up to the last grain of the food.

IMG_1890

After finishing the food, we were involved in intense yet warm and casual discussion. At the very right moment, we were discussion about threatening to our local languages. We were critically discuss the fact that many new families from rural living in urban cities did not speak their local languages any more. It was not arguable that as matter of fact, in those families the children could not speak their father/mother languages.

In our opinion, it was critical issue. It could threaten the existence of thousands local languages in Indonesia. We should took actions to deal with those problems. We discussed how to cope with that problems. One of sound idea came from Arif who suggested to speak their local languages in their family at least one day of seven days a week. Moreover, we also discussed how apparently we could shape our children character by practicing our local languages. Such as in Javanese language we should use different words for the same meaning to different people in order to give respect. It was so important to teach our children how we should respect the parents and other older people.  The silver bullet of our discussion was we should not feel inferior with our local heritages, because we could find many life wisdom from them. Thus, we should conserve and sustainably inherit them to our descents. From Generation to Generation.

We ended our discussion when the Maghrib Prayer Time was calling at around 09.30 PM. We made Jamaah Prayer in which Arif was appointed to lead the prayer, although actually he is the youngest among us, But he had extremely excellent prayer recitation and beautiful voice. I did enjoy his voice.

Finally, Mas Walid and Mas Udin left at around 11 PM. While I was still staying at Arif house for another business i.e. Writing a paper. Thank you a bunch friends for the time. It was so incredible time. Thanks God for one of the most beautiful gift in life i.e. Good Friends. Thanks for the day and I love you as always.