Tag Archives: resensi buku

Lima Cerita, Hidup Sederhana

… mengapa hidup sederhana? karena kalau ada hal yang mampu kita lakukan dengan baik dalam hidup ini, itu tak lain adalah membuat segala sesuatu menjadi rumit! – hidup sederhana, desi anwar

Hidup Sederhana, Desi Anwar

Kemaren, dan kemaren nya lagi cukup lama, aku untuk ke sekian kalinya terdampar di belantara beton ibu kota. Sendirian tentunya. Killing time, sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang masih terlalu lama dengan menyusuri sudut-sudut kota saat sebagian besar penduduknya sedang sibuk di depan layar monitor di balik pohon-pohon beton yang tinggi besar, seolah ingin menyundul langit.

Ada kebahagian sendiri, ketika orang-orang terlalu sibuk dengan aktivitasnya, sementara aku do nothing, mbambung ndak jelas. Menjadi penonton kehidupan orang-orang yang larut dalam kesibukan hidupnya masing-masing.

Dari sudut-sudut gang sempit yang riuh dan kumuh, sampai pusat perbelanjaan elit, senayan city, thanks to Gojek. Pagi itu, aku menjadi salah satu pengunjung pertama mall yang baru buka. Sepi, mungkin karena hari kerja.

Sudah kuduga, di mall ini yang ada hanyalah lapak toko-toko brand luar negeri. Untung aku pernah tinggal di luar negeri, sehingga cukup familiar dengan nama brand-brand itu. Setelah muter-muter ndak jelas, pada akhirnya aku mampir ke lapak toko pakaian bayi. Sungguh ndak enak banget, diperhatikan mbak-mbak penjaga toko.

Gila, lo harganya mahal-mahal banget. Celana bayi doang, harganya paling murah 350 ribu rupiah. Sebenarnya ndak mahal, akunya saja yang miskin haha. Perasaan dulu, di Inggris tidak sulit nyarik celana bayi seharga 1-5 poundsterling (20-100 ribu rupiah). Nah, ketika dijual di negara ini, kenapa harganya jadi berlipat-lipat mahalnya haha.

Akhirnya saya urung membeli oleh-oleh sepotong celana bayi. Setelah naik turun lantai ndak jelas, akhirnya ketemu toko buku dengan jaringan terbesar di Indonesia. Dan di rak buku-buku baru, aku menemukan buku bagus: Lima Cerita karya Desi Anwar. Nah, sebenarnya, dalam tulisan ini aku sekedar ingin mereview buku ini, tapi kok ya ceritanya jadi muter-muter ndak jelas.

Yah, ini adalah buku kedua dari Desi Anwar yang pernah aku baca. Sebelumnya aku pernah membaca buku sang wartawan senior ini yang berjudul faces and places. Bagus sekali tulisanya. Sederhana tapi kata-katanya sangat berbobot. Aku betul-betul jatuh cinta dengan cara Desi Anwar bercerita.

Sesuai judulnya, buku ini terdiri dari lima cerita, yang aku sangat yakin, meski seolah tulisan fiksi, tapi dituliskan berdasarkan true story kehidupan Desi Anwar. Yang aku suka dari Desi Anwar adalah sudut pandang yang berbeda dari orang-orang kebanyakan terhadap kehidupan. Di buku ini, Desi Anwar juga bercerita tentang kehidupan masa kecil hingga masa remaja saat kuliah di London. Dari cerita sederhana mencari kos-kosan, Desi Anwar menyelipkan cerita rumah tangga yang tampak seolah sempurna, ternyata menyimpan permasalahan yang pelik. Kejujuran desi anwar dalam lima cerita ini sungguh, keberanian yang luar biasa. Yang tidak banyak dimiliki penulis pada umumnya, yang biasanya banyak pencitraanya.

Faces and places dan lima cerita adalah buku yang sangat berbobot, bahkan tidak berlebihan rasanya, adalah buku terbaik tulisan orang indonesia, setidaknya versi saya. Aku begitu ketagihan dengan tulisan Desi Anwar, yang pada akhirnya mengantarkan saya menemukan buku lama beliau: Hidup Sederhana. Beruntung, meskipun susah menemukan di toko buku, akhirnya menemukan buku bekasnya di toko online.

Hidup sederhana adalah kumpulan cerita-cerita singkat tentang hal-hal sederhana dalam hidup, seperti leyeh-leyeh, minum teh, berkebun. Meskipun cerita sederhana, tapi sangat menyentil pola fikir kita kebanyakan dalam memandang kehidupan. Setelah membaca buku ini, aku jadi lebih menghargai hal-hal sederhana dalam hidup, yang justru dari hal-hal sederhana dalam hidup inilah, kita justru akan lebih memahami kehidupan ini.

Cukup sekian saja ya tulisan ini, sebagi tombo kangen karena sudah lama tidak menulis. Silahkan baca tiga buku tadi ya, dijamin sangat bermakna! Selamat beraktivitas! Semoga kalian berbahagia hari ini, esok, dan hari-hari berikut nya!


Terlarut Dalam Bumi Manusia

… Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” ― Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

663877005-bumi_manusia1

Bumi Manusia

Kemaren, dari salah seorang mahasiswa baru asal Indonesia di Universitas Nottingham saya dapat oleh-oleh sebuah buku yang istimewa, i.e. Bumi Manusia. Sudah cukup lama ingin membaca, tapi sayang tidak saya temukan bajakanya di jagat maya.

Saat seorang kawan-yang berdarah sastrawan, saya kabari akhirnya buku itu sudah di genggaman, sang kawan malah meledek: ” aku sudah baca buku itu sejak di bangku SMP”. Hehe, harap maklum saya baru belakangan ini saja jatuh cinta dengan sastra. Baru sangat sedikit tentunya buku sastra yang sudah saya baca, tetapi setidaknya sekarang saya  jadi mengerti bagaimana cara menikmati sebuah karya sastra. Rasanya, seperti remaja yang sedang memasuki masa aqil baligh, yang baru saja tahu nikmatnya jatuh cinta pada lawan jenis.

Selain keterbatasan bacaan, sepanjang sejarah persekolahan, saya dari dulu paling tidak suka dengan pelajaran bahasa Indonesia. Saya jauh lebih suka pelajaran matematika dan ilmu esakta lainya. Apalagi definisi pintar di sekolah tak pernah berpihak pada yang pandai bahasa Indonesia. Jenjang SMA pun akhirnya di STM, dan kuliah di perguruan tinggi teknik.

Mungkin karena semakin berumur dan mendewasa, akhirnya saya sadar bahwa kenyataan kehidupan tak sesederhana rumus dan logika matematika. Apalagi, untuk memahami kompleksitas makhluk Tuhan bernama manusia. Tak ada satupun hukum alam dan model matematika yang mampu menjelaskan. Kitab suci pun lebih banyak berisi ‘dongeng’ kehidupan manusia di masa lalu, ketimbang rumus-rumus kehidupan yang pasti.

Jadi rasanya memang sastralah, yang paling bisa menjelaskan kehidupan. Awalnya membaca sastra hanya sebagai pengisi saat tidak mengerti harus ngapain di tengah-tengah perjalanan studi PhD ini. Atau sekedar selingan saat badai kejenuhan melanda. Sampai akhirnya saya dapatkan justifikasi pembenaran, mengapa saya tidak perlu takut jatuh cinta pada sastra. Orasi kebudayaan Cak Nun dalam peringatan 50 tahun majalah horison ini dan kutipan dalam roman bumi manusia di awal tulisan ini diatas, menggaris bawahi mengapa manusia perlu belajar dari sastra.

Kesan Roman Bumi Manusia

Meskipun tergolong buku jadul, roman ini rasanya salah satu buku sastra terbaik yang pernah saya baca. Tak berlebihan kiranya, jika penulisnya masuk nominasi penerima nobel sastra.

Saking menikmatinya, buku setebal 500-an halaman ini selesai hanya beberapa hari saja. Tokoh-tokohnya sangat humanis, ditampilkan keunggulan pribadi sekaligus kekuranganya masing-masing. Bukan tokoh-tokoh separuh malaikat yang nyaris sempurna kelebihanya, tak sedikit pun ada kekurangan.

Pada setiap tokoh, rasanya selalu ada hal-hal positif yang bisa kita petik pelajaran darinya. Utamanya pada Nyai Ontosoroh alias Sanikem dan Minke. Sanikem adalah sosok yang digambarkan perempuan pribumi yang luar biasa. Meski tak pernah sekolah dan hanya berstatus gundik, tetapi Sanikem bisa menjadi perempuan Jawa yang berpengetahuan sangat luas yang bahkan mengalahkan perempuan-perempuan Eropa pada jamanya. Sayang, ia sangat pendendam. Pada tokoh ini saya belajar bahwa pendidikan itu tidak sama dengan sekolah. Hanya orang pandir yang menilai pendidikan seseorang dari ijazah sekolahnya saja.

Sementara Minke adalah putra pribumi berdarah biru, yang mengenyam pendidikan elit sistem Belanda. Alam pemikiran dan jiwanya dipenuhi dengan kegamangan diantara ilmu modern yang mengagungkan rasionalitas dan budaya ewuh pakewuh warisan leluhurnya sebagai orang Jawa. Pada tokoh ini saya belajar bahwa berpendidikan eropa tak perlu kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa. Kemajuan ilmu pengetahuan Eropa bukanlah kemajuan yang tanpa cela.

Secara keseluruhan, membaca roman yang berlatar masa akhir penjajahan Belanda di Indonesia ini, saya jadi kembali berfikir. Sebenarnya kita ini hanya mengulang-mengulang sejarah saja atau dengan kata lain sebenarnya permasalahan kita saat ini sebenarnya masih sama saja dengan jaman ketika dijajah belanda.

Ekonomi kita yang dikuasai jaringan orang-orang itu saja, sumber daya alam kita yang diperkosa habis-habisan oleh perusahaan asing, sementara para pribumi cukup bangga sebagi buruhnya saja itu, apa bedanya dengan jaman kompeni?

Pemimipin-pemimpin kita, pejabat-pejabat kita yang korup memalukan itu,  apa bedanya dengan para bupati, wedana, di jaman Belanda yang suka bersenang-senang bak kehidupan para raja di atas penderitaan rakyatnya sendiri, karena bersekongkol dengan kompeni Belanda. Apa bedanya coba?

Di roman bumi manusia ini juga bertebaran kata-kata mutiara dan filsafat hidup yang sangat berbobot, yang menurut saya masih sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari saat ini. Salah satu yang paling saya suka adalah tentang lima hal yang harus dimiliki sebagai seorang satria jawa: wisma (rumah), wanita, turangga (kuda), kukila (burung), dan curiga (keris).

Selain rumah dan wanita, satria harus memiliki ilmu pengetahuan, keahlian sebagai turangga. Tanpa turangga, seorang satria tak akan jauh langkahnya, pendek penglihatanya. Seorang satria juga harus memiliki kukila, burung sebagai perlambang hobi, segala yang tak ada hubunganya dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin seseorang. Tanpa itu seorang satria tak ubahnya sebongkah batu tanpa semangat. Terakhir yang paling penting, seorang satria harus memiliki keris, sebagai perlambang kewaspadaan, kesiagaan, dan keperwiraan. Dengan bahasa lain sak bejo-bejone wong bejo sih bejo wong kang eleng lan waspodo. Tanpa keris itu, keempat yang lainya bisa bubar binasa jika ada gangguan. Amazing sekali bukan kearifan orang Jawa?

Rasanya sangat menyesal baru kemaren saya membaca buku ini. Akhirnya, buat sampean yang belum membaca, silahkan membaca ya !


Resensi Buku : Tuhan Pasti Ahli Matematika

… untuk kebutuhan hidup, saya bekerja apa saja yang saya bisa, seperti memberi les dan asistensi. Untuk makan, saya juga menjadi penyelundup kecil-kecilan di acara-acara resepsi. Tiap Sabtu dan Minggu saya keliling hotel dan gedung-gedung resepsi dengan pakain rapi  untuk mencicipi hidangan orang-orang kaya tanpa saya tahu siapa yang sedang hajatan – Hadi Susanto

Tuhan_ahli_Matematika

Cover Buku Tuhan Pasti Ahli Matematika

Alkisah, seorang kawan saya di Indonesia, sebut saja namanya Pak Yadin, yang sangat mulia hatinya, memberi hadiah sebuah buku yang sangat istimewa, judulnya: Tuhan Pasti Ahli Matematika. Ditulis oleh seorang yang sangat istimewa buat saya: Dr Hadi Susanto, seorang anak muda Indonesia, seorang dosen matematika dengan jabatan akademik sebagai Associate Professor di Universitas Essex, Inggris. Yang juga ketua pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom (PCINU UK). Buku tersebut dititipkan ke seorang calon mahasiswa S3 sang penulis yang baru saja datang ke UK, dan diserahkan secara langsung oleh penulis kepada saya pada satu acara yang sangat istimewa di London. Bonus tanda tangan dan foto bersama dengan sang penulis pula (walaupun sudah berkali-kali foto bareng beliau, salah duanya disini dan disini :p). Betapa beruntung dan istimewanya saya, bukan? Hehehe.

Tuhan_Pasti_Ahli_Matematika

Dengan sang Penulis

Alhamdulilah, dalam sekali leyeh-leyeh manja di kasur, aka berlumajang (ber lumah-lumah di ranjang) ria :p  di hari minggu pagi, saya selesai membaca buku setebal 184 halaman ini. Saya baca mulai dari bab 4, bab terakhir, dan berakhir di bab pertama. Hehe, agak anti-mainstream. Tapi jangan protes dulu, buku ini memang kumpulan artikel lepas Bro! so, sampean bisa baca dengan urutan sakenak udele sampean.

Selain berisi catatan penulis tentang penghayatan beliau akan matematika, bidang yang penulis gandrungi dari SD hingga saat ini, dalam kehidupan sehari-hari. Dimana beliau dengan sangat sederhana bisa menjelaskan konsep-konsep matematika yang selama ini dianggap ruwet oleh orang-orang awam, dalam konteks hal-hal di sekitar kita sehari-sehari, seperti noda tumpahan kopi, yang biasa saya lap setiap hari karena tuntutan profesi, eih ternyata sudah ada rumus matematikanya. Hal yang paling menarik bagi saya dari buku ini adalah kisah perjalanan beliau dari menjadi cah ndeso anak orang dengan berpenghasilan pas-pasan di pelosok Desa Cikunir, Lumajang, Jawa Timur, kemudian hijarah ke kota Bandung, ke Belanda, ke Amerika Serikat, hingga menjadi orang besar di Inggris seperti sekarang.

Beberapa episode kehidupan sang penulis sebelum menjadi seperti sekarang, penuh dengan cerita yang mengharukan namun penuh pelajaran buat kita semua. Mungkin susah dibayangkan buat ukuran anak jaman sekarang, bagaimana dia setiap hari harus ngontel sejauh 13 km ke sekolah. Dan juga mungkin susah dibayangkan buat orang tua jaman sekarang, bagaimana orang tua penulis, yang hanya lulusan SD itu, rela menjual lapak jualan satu-satunya di pasar, demi biaya masuk kuliah di ITB. Perjuangan penulis untuk bertahan hidup sambil kuliah di Bandung bisa menguras air mata tapi dalam waktu yang sama juga bisa mengundang tawa. Tetapi semua perjuangan phait itu berubah menjadi manis pada akhirnya.

Dari tulisan-tulisan dalam buku ini, saya semakin yakin bahwa justru segala kesulitan, hambatan, rintangan itu jika disertai dengan kesabaran dan kesungguhan, justru bisa menjadi pelecut untuk meraih kesuksesan yang luar biasa. Dan sebaliknya, berbagai kemudahan sering kali malah ‘membunuh’ kita.

Sebenarnya, cerita sengsaranya keadaan penulis dan keluarga Penulis sebagaimana diceritakan dalam buku ini tidak unik. Sampai sekarang pun, saya yakin masih ada jutaan anak-anak Indonesia di pelosok-pelosok negeri , termasuk di pulau Jawa sendiri yang bernasib sama dengan masa kecil penulis bahkan lebih mengenaskan. Hanya saja mereka tidak seberuntung sang penulis buku ini, mereka hanyalah silent majority yang nyaris tak pernah terdengar di media, meskipun jumlahnya mayoritas.

Karenanya, semoga buku ini bisa menjadi inspirasi bagi cah-cah ndeso (termasuk saya :p) yang akrab dengan kesederhanaan, keterbatasan, dan kekurangan untuk berani bermimpi dan melawan segala keterbatasan itu dan mengubahnya menjadi energi untuk meraih prestasi setingg-setingginya. Apalagi sekarang sudah ada beasiswa bidik misi, yang diinisiasi oleh  Bapak Muhammad Nuh , ketika menjabat sebagai rektor ITS, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga cerita tidak bisa bayar SPP dan tidak bisa makan di kampus-kampus terbaik di kota-kota besar di Indonesia, apalagi sampai menjadi penyusup di resepsi :p, tidak perlu terjadi kembali lagi. Cerita hidup penulis dalam buku ini juga bisa menjadi bukti, bahwa pendidikan yang baik mampus menaikkan kelas sosial seseorang, bahwa pendidikan mampu memutus rantai kemiskininan.

Buku ini juga bisa menjadi tamparan buat anak-anak yang selalu dikelilingi berbagai fasilitas dan kemudahan. Mereka yang merubah pemandangan parkiran kampus-kampus rakyat dari parkiran sepeda onthel dan motor butut yang bersahaja, menjadi tak ubahnya show room mobil-mobil mewah yang menteror mental mahasiswa miskin di kampus. Kalau yang penuh keterbatasan dan keprihatinan saja bisa meraih prestasi luar biasa, lalu mereka yang penuh kemudahan dan fasilitas mewah itu bisa berprestasi lebih apa selain menang lebih bergaya?

Buku ini juga bisa menjadi bahan energi semangat baru, buat teman-teman yang sedang merasa ‘lelah’ dan ‘letih’ dalam beratnya perjuangan, khususnya yang sedang berjuang menyelesaikan studinya. Seperti yang diungkapkan beliau:

…. bagi mereka yang saat ini sedang diuji oleh Allah dengan perjuangan, saat badan terasa begitu lelah dan hati menjadi gundah, rebahkanlah badan kita sejenak dan bersujudlah dalam-dalam kepada-Nya. Sampaikan segala keluh kesah kepada Dia yang Maha Kasih. Mudah-mudahan Dia segera mengajari kita untuk menikmati perjuangan yang sedang menjadi episode kehidupan kita ini.

Akhirnya, selamat membaca buku inspiratif ini kawan ! Eits, tapi jangan lupa beli dulu bukunya :p, bisa dibeli online disini.