Ramadlan dan Kelucuan-Kelucuan Kita

Kehadiran Ramadlan buat saya itu seperti kehadiran sang kekasih di sisi kita. Kehadiranya menciptakan getaran-getaran lembut di hati kita. Getaran rindu untuk selalu mendekat kepada Nya. – a random thought.

buka_puasa_inggris

Ilustrasi: Buka Puasa Ramadlan (Univ. Loughborough, UK, 2013)

Dalam penggalan-penggalan waktu kehidupan ini, kehadiran bulan Ramadlan selalu meninggalkan kenangan ruhani yang istimewa dalam hati saya. Dulu saya berfikir, hal itu karena umat Islam Indonesia yang terlalu berbunga-bunga ekspresi keberagamaanya menyambut bulan Ramadlan dan hari raya setelahnya. Artis-artis yang biasa memamerkan aurat, mendadak berubah memamerkan simbol-simbol religius: baju koko, jilbab, hijab, kerudung, dan sejenisnya. Program televisi pun banyak yang dibuat khusus karena bulan Ramadlan. Tak ketinggalan para artis penyanyi yang secara khusus membuat album religi, bahkan oleh penyanyi yang biasanya mengandalkan ‘jualan’ kemolekan tubuh nya. Suara bacaan Alquran hampir terdengar sepanjang malam, dari pelosok-pelosok kampung hingga di kota-kota. Masjid pun tiba-tiba tak muat menampung para jamaah sholat isyak, padahal biasanya sangat sepi. Sungguh, pemandangan manusia-manusia Indonesia yang sangat religius, bukan?

Tetapi, tanpa dikelilingi adanya ekspresi keberagamaan yang berbunga-bunga pun, ternyata kenangan ruhani istimewa itu masih sama saya rasakan ketika berada di negara yang minoritas muslim. Ramadlan kali ini adalah kali ketiga saya berpuasa di Inggris. Yang kebetulan pas musim panas, yang mengharuskan berpuasa dalam rentang waktu sekitar 20 jam. Waktu yang sangat panjang buat yang berpuasa sekedar untuk menunggu saat berbuka tiba. Tetapi, tidak seberat yang dibayangkan buat mereka yang ikhlas berpuasa karena Allah swt. Yang berat sebenarnya adalah godaan menjaga pendangan mata. Maklum di musim panas begini, di Eropa banyak orang-orang yang berjemur menyambut hangatnya sinar matahari dengan keadaan (maaf) setengah telanjang.

Tahun pertama, ketika masih belum ditemani anak istri, saya biasa buka puasa bersama gratis dan sholat taraweh di masjid / prayer room kampus. Tahun kedua, buka puasa di rumah, dan sholat taraweh di masjid yang hanya berjarak 100 meter dari rumah. Tahun ketiga, buka puasa di rumah, dan sholat taraweh di masjid yang jaraknya bisa ditempuh15 menit jalan kaki.

Meskipun Ramadlan kali ini tempat sholat tarawih cukup jauh dari rumah, tapi justru saya begitu menghayatinya. Sholat jamaah Isyak yang diteruskan sholat taraweh 8 rakaat dan sholat witir 3 rakaat baru dimulai jam setengah 12 malam, dan saya sampai rumah kembali sekitar jam 1 pagi dini hari. Saya langsung sahur, dan tidur sekitar jam setengah dua pagi. Maklum, waktu imsak sangat mepet sekitar jam setengah tiga pagi. Kemudian saya harus bangun sekitar pukul 4 pagi untuk sholat subuh dan mulai beraktivitas normal seperti hari-hari biasa (tidak tidur lagi). Logikanya, saya harusnya kurang tidur, tapi ajaibnya, ketika beraktivitas normal saya jarang merasa mengantuk.

Kenikmatan luar biasa Ramadlan tahun ini adalah mendengar suara adzan isyak di masjid yang terasa begitu menyentuh hati. Begitupun suara indah sang imam ketika membaca surat-surat panjang di setiap rakaat sholat begitu sangat menggetarkan jiwa. Baru kali ini hati saya begitu menghayati dan larut dalam bacaan-bacaan ayat-ayat Quran. Berjamaah dengan sesama hamba Allah dengan beragam warna kulit dan kebangsaan, juga meninggalkan kesan yang istimewa pada Ramadlan kali ini. Setiap berdiri melihat telapak kaki saya, warna kulit saya terlihat lebih hitam tapi juga terlihat sangat putih di waktu yang sama.

Bagi para pencari keuntungan kampung akhirat, Ramadlan adalah waktu yang tepat untuk menghayati kehidupan ini. Kembali merenungi arti perjalanan hidup ini, dengan mendekatkan kembali pada Dzat kemana ruh kita berasal dan akan kembali. Ramadlan adalah waktu yang tepat untuk mengurangi amalan-amalan keduniawian kita untuk memperbanyak amalan-amalan ukhrowi.

Bagi para pencari keuntungan dunia, bulan Ramadlan di Indonesia juga saat yang tepat untuk mengeruk keuntungan dunia sebanyak-sebanyaknya. Karena di bulan Ramadlan inilah kegiatan ekonomi konsumtif manusia Indonesia mencapai puncaknya. Di bulan inilah jumlah perputaran uang mencapai puncaknya. Mereka begitu jor-joran dan kehilangan rasa eman untuk membelanjakan uang. Maka keuntungan besarlah bagi para penjual makanan dan minuman, penjual simbol-simbol keagamaan, penjual jasa-jasa layanan beribadah, dan tentunya para penjual gaya hidup. Karena ramadlan akan ditutup dengan tradisi pulang kampung halaman, dimana para perantau akan dinilai kesuksesan hidupnya.

Sebuah kelucuan sebenarnya jika kita merenungkanya. Bukankah puasa mengajarkan kita untuk menahan nafsu kita, dengan mengurangi makan dan minum. Tapi anehnya, kebutuhan bahan makanan dan minuman justru meningkat sangat tajam. Bukankah puasa itu ibadah yang paling privat antara seorang hamba dan Tuhanya, tetapi mengapa kita justru sangat sibuk membeli simbol-simbol religiusitas yang hanya menempel pada tubuh kita. Bukankah, bukti kesuksesan puasa kita adalah meningkatnya kepekaan kita terhadap sesama manusia. Tetapi mengapa kita seolah malah sengaja memamerkan simbol-simbol kesuksesan hidup dunia kita kepada mereka? Entahlah, terkadang kita memang sekedar lucu. Dan mari kita menertawakan diri kita, hahahaha 😀

Saya jadi teringat cerita emak saya tentang kakek saya (allahu yarham hu) dulu kalau bulan Ramadlan tiba, selama sebulan penuh dipergunakan hanya untuk ibadah, tidak mau bekerja sama sekali. Sementara, sang nenek (allahu yarham ha) harus pontang panting sendiri mencari nafkah, untuk memenuhi kebutuhan hidup kesepuluh anaknya yang tentunya semakin meningkat menjelang lebaran. Luar biasa dan kasihan sekali si mbah saya waktu itu. Mencari keuntungan di kampung akhirat, tak sepatutnya melupakan kita untuk melupakan nasib kita di dunia juga.

Bagi para pejuang (seperti saya), yang sedang berusaha meraih tujuan-tujuan nya, semoga Ramadlan ini dikabulkan hajatnya, dikabulkan cita-citanya. Ya Rabbi bilmusthofa, balligh maqasidana. Bagi yang sedang diuji dengan permasalahan-permasalahan hidup yang pelik dan rumit, semoga segera dimudahkan dan terselesaikan permasalahanya. Allahumma Yassir Wala Tu’assir Umurona. Bagi yang sedang sakit, semoga segera disembuhkan. Bagi yang sedang dirundung kesusahan, kesedihan, dan kemalangan hidup, semoga segera datang kebahagiaan. Bagi yang sedang merindu semoga segera hadir yang dirindukan.

Semoga kita masih ditakdirkan berjumpa Ramadlan kembali tahun depan. Semoga pada Ramadlan tahun depan, saya dan teman-teman senasib seperjuangan sudah selesai PhD nya dan sudah kembali di kampung halaman. Semoga Ramadlan membawa barokahnya hidup untuk kita semua. Allahumma Ammiin. Ammiin-Ammiin ya Rabbal ‘alaamiin.

Psikologi Kekalahan : Oh, Ramadlan Ku Tahun Ini

ramadlan_2014
*)Buka Puasa Bersama Warga Muslim Indonesia di Beeston, Nottingam, Inggris 18 Juli 2014. **)

Ramadlan, Kaifa Haluk ! Setiap datang bulan Ramadlan, selalu terselip rasa kangen yang teramat sangat pada kampung halaman. Entahlah, susana ramadlan di kampung kelahiran selalu menyimpan epik kenangan klasik yang tak pernah tergantikan keindahan suasananya. Sebuah epik yang selalu ingin kubaca setiap senja di setiap hari di bulan Ramadlan. Ingin rasanya, sebulan penuh, menghabiskan Ramadlan di tempat ketika aku kecil penuh suka cita biasa menghabiskanya hari demi hari, detik demi detik, sepenuhnya. Mungkin nanti, di hari tua nanti, ketika semua ambisi hidup tak lagi memperbudak ku, ketika aku telah menjadi sosok yang arif dan bijak dalam memaknai kehidupan ini, aku bisa mewujudkanya kembali. Walaupun, aku sangat yakin, aku tak  akan lagi melihat segerombolan anak-anak dusun yang biasa tidur di langgar menabuh kentongan keliling dusun dengan ikhlas membangunkan orang-orang untuk melakukan ibadah sahur.

Seperti tahun yang sudah-sudah, tahun ini aku bersua Ramadlan di kampung perantauan. Kampung nan jauh di mata dari kampung halaman. Di negeri dimana saudara seimanku adalah minoritas. Di kampung Nottingham, Inggris tepatnya. Puasa di musim panas di negeri ini tak selalu mudah buat ku. Setidaknya, 19 jam aku harus menahan haus dan lapar. Malam yang terlalu pendek, membuat Ibadah malam terasa hilang kekhusukanya. Aku pun tak punya banyak waktu untuk istirahat, bahkan hampir setiap hari aku melawati ibadah sahur. Jam 1 selesai sholat tarawih, jam setengah 3 sudah harus memulai berpuasa lagi. Sementara jam 5 pagi aku harus memulai aktivitas ku.

Hari-hari pertama, di minggu pertama Ramadlan aku begitu semangat beribadah. Shalawat tarawih 20 rakaat di masjid dekat rumah, sholat mlam, sholat dhuha, tilawah alquran setidaknya 3 jus sehari, aku pun punya kelompok tadarus bersama teman-teman dari Malayisa setiap habis sholat Duhur di Mushola kampus. Dan masih beraktivitas di Lab. seperti biasa. Diam-diam, aku telah sum’ah, takabbur dalam hati, betapa hebatnya ibadah aku ini.

Hari-hari di minggu kedua Ramadlan, sepertinya Tuhan sedang menegur saya. Aku benar-benar drop. 10 hari terkapar tak berdaya di kasur. Kepala pusing, hidung pilek, badan terasa sangat lemas tak berdaya. Bibir dan lidah terkena sariawan sangat parah. Sehingga aku tak lagi kuat ke kampus, tak lagi bisa sholat tarawih di masjid, tilawah alquran pun terasa sangat berat karena lidah dan bibir sangat sakit untuk digerakkan. Bahkan 4 hari saya terpaksa tidak berpuasa. Di ketidakberdayaan ku ini, aku hanya bisa berdesis lirih: La haula wala quwwata Illa Billahil ‘aliyil ‘Adziim. Bahkan, kita ibadah pun, karena semata-mata kekuatan dari Gusti Allah yang membuat dan mengatur hidup bukan karena kehendak kita. Di tengah kekalahan ku ini, aku tersadar betapa lemah sebenarnya diri ini.

Alhamdulilah, 10 hari terakhir Ramadlan tahun ini aku perlahan kembali diberi kekuatan. Buka bersama dengan teman-teman muslim Indonesia di malam 21 Ramadlan hari itu sungguh memberi kekuatan kepada saya. Silaturrahim ini bak obat mujarab yang memulihkan segala duka dan lara. Ceramah ustad Bukhori Muslim yang diundang KBRI London khusus dari Indonesia itu begitu menyentuh hati saya. Tentang kekuatan do’a-do’a. Do’a orang tua dan orang-orang leluhur kita yang membentuk kita hari ini. Alhamdulilah, hari ini aku kembali beraktivitas seperti biasa di kampus, disambut senyum dosen pembimbing riset ku yang begitu perhatian perihal Ramadlan dan sakit ku. Sekaligus, mengingatkan ‘many things to do’ in the very near future.

Begitulah tentang hidup, terkadang kita terlalu percaya dan yakin dengan kekuatan diri sendiri, padahal sebenarnya itu semata-mata kekuatan Tuhan. Kita terkadang terlalu bersemangat dalam menjalani hidup penuh dengan angan dan mimpi dan kita sering kali merasa kalah, lemah tak berdaya dalam mengarungi hidup yang penuh coba, dan goda ini. Padahal, Allahlah semata yang mengatur hidup kita. Aku tiba-tiba jadi teringat dawuh Gus Mujib putra Alm. KH Musta’in Romly di timeline facebooknya:  “Ayo urip iki dilakoni seng temenan.. seng temenan mengko lak teko-teko dewe”  ( read: Ayo hidup ini dijalani dengan sungguh-sungguh, yang sungguh-sungguh nanti akan datang sendiri [kebaikanya]). Semoga perjalan hidupyang kita jalani dengan sungguh-sungguh akan datang sendiri apa yang terbaik buat kita dari Gusti Allah. Allahumma Ammiin !

Semoga Ramadlan ini membawa keberkahan hidup untuk kita semuanya ! Allahumma Ammiiin.

**) Courtesy Mbak Maryati