Tag Archives: ramadlan di inggris

Ramadlan Keempat di Inggris

… sabar dan berani menghadapi setiap tanda tanya itu, walau tidak setiap tanya harus selalu ada jawabanya – A Random Thought

buka_puasa

Ilustrasi: Buka Puasa Bersama

Alhamdulilah, Ramadlan datang lagi, dan aku masih disini, di kota ini. Setahun yang lalu, ketika Ramadlan datang, aku begitu yakin bahwa Ramadlan tahun lalu itu adalah Ramadlan terakhir ku di kota ini. Rupanya, perhitungan ku salah. Nyatanya, aku masih ‘mengapung’ di atas pusaran air takdir yang tak ku tahu dengan pasti kapan dan kemana akan membawaku mengalir.

Mungkin, Tuhan sedang mengajariku tentang kesabaran dan keberanian. Sabar dan berani menghadapi setiap deret ketidakpastian-kepastian dalam hidup. Sabar dan berani menghadapi setiap teka-teki hidup yang selalu saja menyisakan tanda tanya. Sabar dan berani menghadapi setiap tanda tanya itu, walau tidak setiap tanya harus selalu ada jawabanya.

Tetapi, maaf buat emak, aku yang telah membuyarkan imajinasi lebaran indah mu tahun ini, berkumpul lengkap dengan semua anak-anak dan cucu-cucu mu.

Seperti ketiga tahun sebelumnya, di kota ini, Ramadlan datang saat musim panas. Berpuasa di siang hari yang terlalu panjang. Menjaga mata dan hati dari godaan penampakan gadis-gadis cantik, berambut pirang terurai sebahu, bermata indah dengan biji mata berwarna biru, tersenyum duhai sungguh manis menawan, berjalan semampai di jalan-jalan seolah sedang ingin bertelanjang dada.

Tentulah, itu bukan perkara yang mudah buat yang tipis iman. Hanya saja, baru tahun ini, aku merasakan musim panas yang benar-benar gerah dan sumuk. Rupanya, perubahan iklim bukan sekedar ilusi belaka.

Ramadlan pertama, aku hampir selalu berbuka puasa gratis di ‘masjid’ kampus. Ramadlan kedua, berbuka di rumah sewa ku di Glentworth Road. Ramadlan ketiga, berbuka di rumah sewaku di Bramcote Street. Ramadlan keempat kali ini, aku lebih banyak berbuka di masjid kampung lumayan dekat dengan rumah sewaku. Masjid Umar namanya.

Aku biasa berjalan ke masjid itu dari rumah pukul 21.00, sampai di masjid pukul 21.20. Adzan maghrib sekitar 21.30. Ada ta’jil gratis berupa kurma, buah-buahan, gorengan ala Pakistan, susu, air mineral, dan berbagai rasa jus buah untuk membatalkan puasa. Nikmat rasanya, bisa duduk bersila berderet-deret, berhadap-hadapan, dengan saudara seiman dari berbagai belahan dunia itu.

Seusai jamaah sholat maghrib, ada makanan besar gratis dihidangkan. Hanya saja menunya selalu sama setiap hari. Nasi briani dengan Curry ayam atau Curry kambing yang kuahnya yang ‘mlekoh‘ kental melimpah dan luar biasa kuat baunya itu. Aku sebenarnya tidak suka jenis makanan ini. Tetapi entahlah, sekarang aku jadi menyukainya. Apalagi ‘mengokop‘ kuahnya itu. “witing trisno jalaran kulino” kata orang Jawa. ” Kullu syaiin minal biasah” kata kang santri. Keduanya sepertinya benar adanya. Ada makanan penutup, seperti bubur yang katanya rasanya manis. Tetapi, aku tak pernah berani mencobanya.

Aku tadarus di masjid setelah mengenyangkan perut hingga jamaah sholat isyak dimulai sekitar pukul 22.30. Berlanjut sholat taraweh dan witir hingga berakhir sekitar pukul 1.00 dini hari. Sholat tarawehnya sih hanya 8 rakaat, tetapi bacaan surahnya itu lo, pelan perlahan dan panjang sekali. Sang Imam yang Hafidz, penghapal Alquran, itu hendak menghatamkan 15 juz dalam sholat Taraweh dalam waktu 1 bulan. Buat aku yang tidak terbiasa tidur siang, tetap berdiri tegak dalam sholat, terdiam mendengarkan bacaan yang panjang perlahan itu dalam kondisi menahan kantuk, adalah hal yang sangat berat. Seringkali, hampir saja, aku terjatuh ndlosor karena kalah dengan kantuk.

Fajar, batas puasa hari berikutnya dimulai, terbit di kota ini sekitar pukul 2.30 pagi. Aku tak berani tidur dan terlewat makan sahur dalam jeda waktu yang sangat pendek itu. Karenanya, sebelum tidur aku selalu makan sahur terlebih dahulu, lalu tertidur, dan bangun sholat subuh yang sering telat karena terlalu khusuk tidurnya.

Dan hari-hari berjalan normal seperti biasa. Menghabiskan hari-hari biasa ku yang kadang terasa sangat membosankan itu di tempat-tempat yang hampir selalu sama. Ya, Allah terimalah ibadah ku. Terimalah rukuk, sujud, dan puasa ku. Walau kadang, aku tak begitu tulus. Ya, Allah kabulkan do’a-do’a ku. Walau kadang, aku hendak memaksa Mu mengabulkan keinginan-keinginan nafsu keduniaan ku sendiri. Walau ku tahu Engkau yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk setiap hamba-hamba mu.


Psikologi Kekalahan : Oh, Ramadlan Ku Tahun Ini

ramadlan_2014
*)Buka Puasa Bersama Warga Muslim Indonesia di Beeston, Nottingam, Inggris 18 Juli 2014. **)

Ramadlan, Kaifa Haluk ! Setiap datang bulan Ramadlan, selalu terselip rasa kangen yang teramat sangat pada kampung halaman. Entahlah, susana ramadlan di kampung kelahiran selalu menyimpan epik kenangan klasik yang tak pernah tergantikan keindahan suasananya. Sebuah epik yang selalu ingin kubaca setiap senja di setiap hari di bulan Ramadlan. Ingin rasanya, sebulan penuh, menghabiskan Ramadlan di tempat ketika aku kecil penuh suka cita biasa menghabiskanya hari demi hari, detik demi detik, sepenuhnya. Mungkin nanti, di hari tua nanti, ketika semua ambisi hidup tak lagi memperbudak ku, ketika aku telah menjadi sosok yang arif dan bijak dalam memaknai kehidupan ini, aku bisa mewujudkanya kembali. Walaupun, aku sangat yakin, aku tak  akan lagi melihat segerombolan anak-anak dusun yang biasa tidur di langgar menabuh kentongan keliling dusun dengan ikhlas membangunkan orang-orang untuk melakukan ibadah sahur.

Seperti tahun yang sudah-sudah, tahun ini aku bersua Ramadlan di kampung perantauan. Kampung nan jauh di mata dari kampung halaman. Di negeri dimana saudara seimanku adalah minoritas. Di kampung Nottingham, Inggris tepatnya. Puasa di musim panas di negeri ini tak selalu mudah buat ku. Setidaknya, 19 jam aku harus menahan haus dan lapar. Malam yang terlalu pendek, membuat Ibadah malam terasa hilang kekhusukanya. Aku pun tak punya banyak waktu untuk istirahat, bahkan hampir setiap hari aku melawati ibadah sahur. Jam 1 selesai sholat tarawih, jam setengah 3 sudah harus memulai berpuasa lagi. Sementara jam 5 pagi aku harus memulai aktivitas ku.

Hari-hari pertama, di minggu pertama Ramadlan aku begitu semangat beribadah. Shalawat tarawih 20 rakaat di masjid dekat rumah, sholat mlam, sholat dhuha, tilawah alquran setidaknya 3 jus sehari, aku pun punya kelompok tadarus bersama teman-teman dari Malayisa setiap habis sholat Duhur di Mushola kampus. Dan masih beraktivitas di Lab. seperti biasa. Diam-diam, aku telah sum’ah, takabbur dalam hati, betapa hebatnya ibadah aku ini.

Hari-hari di minggu kedua Ramadlan, sepertinya Tuhan sedang menegur saya. Aku benar-benar drop. 10 hari terkapar tak berdaya di kasur. Kepala pusing, hidung pilek, badan terasa sangat lemas tak berdaya. Bibir dan lidah terkena sariawan sangat parah. Sehingga aku tak lagi kuat ke kampus, tak lagi bisa sholat tarawih di masjid, tilawah alquran pun terasa sangat berat karena lidah dan bibir sangat sakit untuk digerakkan. Bahkan 4 hari saya terpaksa tidak berpuasa. Di ketidakberdayaan ku ini, aku hanya bisa berdesis lirih: La haula wala quwwata Illa Billahil ‘aliyil ‘Adziim. Bahkan, kita ibadah pun, karena semata-mata kekuatan dari Gusti Allah yang membuat dan mengatur hidup bukan karena kehendak kita. Di tengah kekalahan ku ini, aku tersadar betapa lemah sebenarnya diri ini.

Alhamdulilah, 10 hari terakhir Ramadlan tahun ini aku perlahan kembali diberi kekuatan. Buka bersama dengan teman-teman muslim Indonesia di malam 21 Ramadlan hari itu sungguh memberi kekuatan kepada saya. Silaturrahim ini bak obat mujarab yang memulihkan segala duka dan lara. Ceramah ustad Bukhori Muslim yang diundang KBRI London khusus dari Indonesia itu begitu menyentuh hati saya. Tentang kekuatan do’a-do’a. Do’a orang tua dan orang-orang leluhur kita yang membentuk kita hari ini. Alhamdulilah, hari ini aku kembali beraktivitas seperti biasa di kampus, disambut senyum dosen pembimbing riset ku yang begitu perhatian perihal Ramadlan dan sakit ku. Sekaligus, mengingatkan ‘many things to do’ in the very near future.

Begitulah tentang hidup, terkadang kita terlalu percaya dan yakin dengan kekuatan diri sendiri, padahal sebenarnya itu semata-mata kekuatan Tuhan. Kita terkadang terlalu bersemangat dalam menjalani hidup penuh dengan angan dan mimpi dan kita sering kali merasa kalah, lemah tak berdaya dalam mengarungi hidup yang penuh coba, dan goda ini. Padahal, Allahlah semata yang mengatur hidup kita. Aku tiba-tiba jadi teringat dawuh Gus Mujib putra Alm. KH Musta’in Romly di timeline facebooknya:  “Ayo urip iki dilakoni seng temenan.. seng temenan mengko lak teko-teko dewe”  ( read: Ayo hidup ini dijalani dengan sungguh-sungguh, yang sungguh-sungguh nanti akan datang sendiri [kebaikanya]). Semoga perjalan hidupyang kita jalani dengan sungguh-sungguh akan datang sendiri apa yang terbaik buat kita dari Gusti Allah. Allahumma Ammiin !

Semoga Ramadlan ini membawa keberkahan hidup untuk kita semuanya ! Allahumma Ammiiin.

**) Courtesy Mbak Maryati