puisi

Aku Pernah Berfikir

Senja_di_Nott

Senja, Univ. Park, Univ. Nottingham

Aku pernah berfikir bahwa,
Kemulyaan hidup itu ketika kamu keluar dari sebuah sedan mewah
buatan Jerman, dengan pakaian parlente, jam tangan mahal, sepatumengkilat, lalu kamu berjalan dengan sangat gagah, setiap orang yang melihat mu memberi hormat terpesona kilauan cahaya kewibawaan mu.

Tetapi, fikiran ku berubah,
Setelah kulihat seorang profesor yang sangat disegani karena
ilmunya itu, menyapaku dengan ramah dari belakang ku, sedang
menuntun sepeda ontelnya dengan senyumnya yang tulus.
Lalu membukan pintu masuk gedung itu dan mempersilahkan ku masuk
terlebih dahulu.

Aku berfikir bahwa,
yang religius itu yang sudah haji dan umroh berkali-kali,
pakaianya kearab-araban. Ibadah nya terlihat tekun.
Tetapi, fikiran ku berubah,
saat ku tahu, ternyata banyak diantara mereka lebih takut
kehilangan harta bendanya, lebih takut di depan orang yang
berkuasa, melebihi takutnya kepada Tuhan.

Aku pernah berfikir bahwa,
Kesuksesan itu adalah ketika kita dapat menggapai capain-capain
yang terukur.
Tetapi, fikiran ku berubah,
Saat akhirnya aku ada orang-orang yang bisa ikhlas menikmati
setiap jengkal berproses, berjerih payah menyempurnakan ikhtiar,
walaupun sering kali capaian yang terukur itu tak bisa digapainya.

Aku pernah berfikir bahwa,
Kehebatan itu adalah ketika kita berada dipuncak popularitas.
Tetapi, fikiran ku berubah,
Saat aku melihat, ternyata popularitas itu sering kali tidak
berbanding lurus dengan kualitas.
Banyak yang jauh lebih berkualitas, tetapi sengaja menepi di
jalan sunyi.

Aku pernah berfikir bahwa,
Keberanian itu adalah berani menjadi pemimpin, menjabat jabatan
ini dan itu.
Tetapi fikiran ku berubah,
Saat aku sadar bahwa keberanian sebenarnya adalah berani untuk
tidak menjadi apa-apa, walaupun saat kesempatan itu ada.

Aku pernah berfikir bahwa,
Kemewahan itu mahal harganya,
Tetapi fikiran ku berubah,
Saat ku sadar bahwa ternyata kesederhanaan dan kebersahajaan lah
kemewahan itu sesungguhnya.

Nottingham, 26/03/2016

Advertisements

Gerimis Fajar

Gerhana_Mathari

Ilustrasi: Gerhana Matahari 09/03/16, KL,(AFP Photo/Manan Vatsyayana, liputan6.com)

Kekuatan apa coba?

yang meneguhkan hati lelaki bersarung itu.
yang menggerakkan langkah-langkah kecil sepasang kaki bersepatu coklat itu.

Kala gerimis menyambut fajar, membasuhi seluruh wajah kota, tak mau memberi jeda.
Kecipak kecipik suara gerimis menumbuk aspal, cericit dzikir burung-burung,
Pelukan angin dingin dari tenggara,
Temani perjalanan sunyi di bawah payung hitam.

Menembus gelap, melukis ratusan jejak langkah yang segera tersapu gerimis,
Bersama hati-hati yang rindu, mengetuk pintu,
mampir bersujud di rumah Tuhan
Menimba air ketenangan hati, mereguk air ketentraman batin,
Menyeruput air penyemangat jiwa, menjumput serbuk-serbuk berkah.

Kalau bukan kekuatan cinta, cinta kepada Sang Pencipta cinta.

Nottingham, 09/03/2016
Untuk Gerhana dan Matahari, di negeri ku tercinta.

Mungkin, Kelak Akan Kau Rindukan

rindu_adzan

ILustrasi : Senja

Mungkin, kelak akan kau rindukan,

Saat-saat untuk melangkahkan kaki mu saja terasa berat, seolah kau tak kuasa atasnya.
Saat-saat penghambaan mu pada Tuhan, berada di titik nadzir.
Saat-saat hidup, mati mu, benar-benar terasa semata atas kehendak Nya.
Saat-saat rasa takut, harap, cemas akan ketidakpastian hari esok,
sedang menguji kesetiaanmu pada Nya.
Saat-saat kau kembali mencari-mencari makna dibalik setiap benda dan peristiwa.
Saat-saat kau mencoba menyikangkap tabir alam hakikat.

Dan kau pun merasa,
Tak ubahnya sejumput kapas, terbang kesana kemari
Tak kuasa melawan arah angin takdir yang membawa mu.
Hanya sebutir debu yang menempel di dinding-dinding rumah kehidupan.

Sebelum,
Keberlimpahan dalam hidup mu melenakan mu kembali.
Kesibukan mu, melupakan mu bertanya pada Nya.
Kemuliaan kedudukan dunia mu, membuat mu angkuh kepada Nya.
Kehebatan mu, menggerus keyakinan mu akan kemahakuasaan Nya.

Dan pada akhirnya,
Waktu berjalan terasa sangat singkat,
Dan kau harus segera kembali ke sangkan-paran mu
Tetapi, segalanya menjadi serba terlambat,
Saat sekarat menghentikan nafas hidup mu.

Semoga kau tak pernah lupa sangkan-paran mu,
Dari, mengabdi, dan kembali kepada Tuhan mu

Nottingham, 03-03-2016

Pada Mu Ku Bercerita

rembulan

Ilustrasi: Rembulan Malam

Pada mu, ku bercerita
Tentang keresahaan jiwa dan gundah gulananya hati ku.

Pada mu, ku bercerita
Tengtang hari-hari esok yang tidak pasti.

Pada mu, ku bercerita
Tentang sedih, letih, perih, dan pedih ku,
menapaki perjalanan panjang medan juang ini.

Pada mu, ku bercerita
Tentang tanyaku yang belum jua berjodoh dengan jawabnya:
kapankah duhai ini akan berujung?

Pada mu, ku bercerita
Bahwa aku masih mencoba sekuat tenaga yang tersisa,
memeras keringat, hingga tetes-tetes yang terakhir

Pada mu, ku bercerita
Bahwa aku tak pernah bosan merayu Tuhan,
agar berpihak kepada ku.

Padamu, wahai kesunyian dan keheningan malam-malam ku.
Padamu, wahai segenap lagu-lagu kenangan.

Yang selalu setia menemani diriku,
Yang sedang menepi sejenak,
mencari jawab atas sebuah tanya yang selalu mengusik jiwa:
Kapan lulus? Kapan pulang?

Nottingham, 10/02/2016
Mahasiswa tuwek, yang sedang bekejaran dengan keperkasaan sang waktu

Kejarlah!

playin_the_ground

Ilustrasi: My son and his friends

Dulu kau pernah bilang pada ku, bahwa hidup itu harus punya mimpi. Bergegas bangun untuk mengejar mimpi-mimpi itu, dan pada akhirnya menghidupi mimpi. Bukanya tidur kembali untuk memimpikan yang lain.

Dulu kau pernah bilang pada ku, bahwa hidup ini harus diperjuangkan, dihayati dan dijalani sepenuh hati. Jer basuki mawa beyo. Tidak ada yang gratis, setiap sejumput capaian harus dibayar dengan kesakitan dan kesulitan.

Sekarang kau bilang bahwa hidup tak semudah kata mu dulu. Kata mu, semangat hidup sering kembang kempis. Kenyatakan hidup sering tak pernah memberi kita pilihan.

Sayang, perjalanan kita masih jauh. Terlalu dini untuk menyerah pada permainan hidup. Kejarlah! Percayalah, seperti yang pernah kau katakan pada ku, saat kau yakin kau telah memberikan yang terbaik dari mu, paling keras dari ikhtiar mu, paling tulus dari hati mu, apapun yang terjadi nanti tak akan pernah ada yang layak untuk disesali.

Sayang, bukankah seberat-beratnya lakon hidup, jika dijalani dengan sepenuh ketulusan hati, kelak hanyalah lelucon yang akan kita tertawakan bersama di kemudian hari.

Sayang, hari belum senja, kita masih ada waktu, kejarlah! Berikan yang terbaik dari mu untuk mu, untuk ku, untuk orang-orang yang selalu mendoakan mu sepenuh hati demi kebaikan mu. Dan demi Dia yang memberikan hidup mu.