Advertisements

Tag Archives: puisi tentang hidup

Teori Hidup mu

Aku sudah bosan dengan teori hidup mu,
petatah-petitih mu tentang hidup,
dan kesoktahuan mu akan arah hidup yang belum kau jalani.

Aku sudah jenuh mendengar ramalan-ramalan,
firasat-firasat dan pertanda yang kau baca,
tentang esok hari.

Biarlah hidup tetap menyimpan segenap rahasia-rahasianya.
Biarlah air kehidupan mengalir dengan segala kejutan-kejutanya.
Biarlah perjalanan hidup senantiasa menggantung sederet tanda tanya.

Izinkan aku menghidupi hidupku,
dalam ketidaksempurnaan pemahanku akan kompleksitasnya,
Karena diam-diam aku sangat menikmatinya.

Toh, siapa yang bisa menebak dengan pasti apa yang terjadi esok hari?
Toh, hidup hanyalah permainan yang bukan disini ditentukan siapa juaranya?
Toh, hidup hanya menunda kekalahan dalam pergulatan dengan waktu?
Jauh atau dekat, cepat atau lambat,  dimana dan kapan pun hidup meruang dan mewaktu.

Nottingham, 20/07/2016

Advertisements

Hidup, Apalah …

hidup_apalah

Ilustrasi : Pemandangan Kota Edinburgh dari Calton Hill

Anak-anak bermain, tersenyum lebar, dan tertawa lepas.
Mereka bersuka ria, walau terkadang harus menangis meronta-meronta.

Remaja berpesta, dan berhura-hura, seolah hidup untuk selamanya.
Dimabuk cinta, terpanah asmara, walau kadang harus merasai perihnya patah hati.

Pemuda bermimpi menaklukkan bumi, menembus batas langit.
Untuk mereguk sari-pati segala keindahan dan kenikmatan dunia.
Kadang harus merasai pahitnya kegagalan.

Tak sadar, hari pun sudah senja.
Padahal rasanya, hidup baru dimulai kemarin.

Rambut yang dulu hitam legam, perlahan memutih.
Tubuh yang dulu gagah menawan, perlahan ringkih dan rapuh.
Wajah yang dulu rupawan, kini keriput tak lagi menarik perhatian.

Namanya yang dulu dipuji dan dipuja, kini tinggal sayup-sayup,
nyaris tak pernah terdengar.
Teman, sahabat, dan kolega yang dulu selalu memburunya, kini semua berpaling tak menghiraukanya. Bak hilang ditelan bumi.

Yang tertinggal hanyalah hidup dalam dalam kesendirian dan kedukaan.
Menanti tubuh terkubur di dalam tanah untuk dilupakan selama-lamanya.
Sejenak dia termenung, dalam hati kecilnya bertanya-tanya:

Apalah artinya kekayaan tujuh gunung emas, jika hanya membuat kita tak bisa merasai nikmatnya pisang rebus.
Apalah artinya kekuasaan setinggi raja hutan, jika hanya membuat nurani kita mati simpati pada semut-semut kecil.
Apalah artinya ketenaran dan puji-puja, jika hanya membuat kita tak memiliki kehidupan kita sendiri.
Apalah artinya prestasi menjulang tinggi, jika hanya membuat kita lupa cara menikmati secangkir kopi bersama di pagi hari.
Apalah artinya kepintaran seluas samudera, jika hanya membuat kita merasa tidak nyaman bergaul dengan orang biasa.
Apalah artinya pendidikan setinggi langit, jika hanya menciptakan tirani dan sekat-sekat antar manusia.

Apalah artinya hidup, jika kita tak mampu menghayati makna dibalik kehidupan.
Apalah artinya hidup, jika kita lupa bagaimana menikmatinya.
Apalah artinya hidup, jika kita buta pada kehidupan setelah hidup ini.

Argh, apalah apalah…

Nottingham, 09/10,2015


Ada Yang …

wayang_arjuna

Wayang Arjuna: Museum Wayang, Jakarta

Ada yang hanya lulusan SD,
tetapi hidupnya bergelimang harta.
Ada yang seorang profesor,
tetapi hidupnya sangat sederhana.

Ada yang dihimpit kemiskinan dan kesempitan,
hingga makna kebahagiaan pun sangat sederhana.
Bisa kenyang hari ini saja,
sudah menjadi kebahagiaan yang tak terkira.

Ada yang dipeluk kekayaan dan kemurahan,
hingga makna kebahagiaan pun menjadi sangat rumit.
Liburan mewah di pulau Maladewa pun,
sering tak mampu meniup gelembung-gelembung kebahagiaan
di hati mereka.

Ada yang diperbudak oleh kesibukan,
hingga satu detik pun terasa sangat berharga.
Tetapi ada yang mencari-mencari kesibukan,
untuk membunuh waktu yang bergulir.

Tidak ada yang salah dengan mereka,
Karena hidup adalah tentang keberanian membuat pilihan,
atau dipilihkan.
Karena hidup adalah sekedar menjadi wayang,
dari sang dalang kehidupan.

Nottingham, 20/09/2015


Hidup, Mimpi, dan Angan-Angan

uon_lake
*) University Park, Universitas Nottingham

Dahulu, aku pernah berangan, untuk disini bersamamu melukis seribu kenangan.
Membingkai mimpi, saat datangnya keajaiban hidup sedang kutunggui.
Menatap biru langit mu nan indah, dipeluk awan, di cakrawala mu yang luas tanpa batas.
Menelanjangi hijau daun-daun pepohonanmu yang rimbun.
Menciumi wangi dari setiap kelopak bunga mu yang berwarna-warni.
Memerciki muka ku dengan air mu yang jernih.

Mengagumi bangunan mu yang kokoh nan menawan.
Menyapa orang-orang mu yang ramah nan santun.
Menapaki setiap jengkal jalan-jalan mu.
Menebar benih-benih harapan.
Dan di ujung menara itu, akhirnya himmah ku titipkan.

uon_lake_2

Dan perlahan mimpi-mimpi pun jadi kenyataan,
bersama datangnya kesadaran betapa ajaibnya hidup ini.

Sekarang, aku pun berangan
Segera meninggalkan mu atas keberhasilan
Bukan kegagalan, bukan pula keputusasaan
Untuk membentang deretan mimpi-mimpi yang lain.

Argh, beginikah hidup ini?
Bersandar pada angan ke angan yang lain.
Berlabuh dari mimpi ke mimpi yang lain.
Entahlah, sampai  kapan dia akan menepi?

Akan kah, dia akan tertambat pada pelabuhan ketenagan hati?
Bukankah hidup adalah tentang bagaimana menikmati? bukan mencari dan terus mencari?

Nottingham, 1 Mei 2014 (Yang Sudah Pengen Lulus Kuliah PhD)