puisi rindu pada anak

Merindu mu

…. sekedar puisi-puisian – a random thought

cinta_ku

Sayang

Andai tinta untuk menulis takdir belum mengering,
Akan kuminta Tuhan merubah cerita ini.
Agar dapat kuterus mendekap mu, sayang.
Menciumi ubun-ubun mu,
Menggenggam erat jemari kecil mu,
Membiarkan mu, menggigit jari ku.

Tapi, tinta telah mengering.
dan meyakini bahwa cerita inilah yang terbaik
adalah keniscayaan.

Biarlah, aku belajar memiliki kehilangan
karena memang tak ada yang bisa dimiliki sepenuhnya,
pun diriku sendiri.

Sayang,
Apa kabar mu?
Akhir-akhir ini, kau sering hadir dalam mimpi-mimpi ku.
mendekap mu adalah ingatan terindah,
meski hanya dalam mimpi.
Tetapi, apalah bedanya mimpi dan nyata?

Sayang,
Aku rindu ritual mu
Bangun sepertiga malam terakhir
dengan nyanyian rengen-rengeng mu
‘ca ca ca caca…’
membangun kan ku, untuk bersujud kepada Nya.

Sayang,
Adakah kamu di langit yang ketujuh?
Bermain di taman syurga bersama Ibrahim.
Oh, alangkah indahnya.
Bukan taman dunia yang penuh kepalsuan.

Sayang,
Sampaikan salam ku untuk Ibrahim,
Sebagaimana salam untuk Muhammad.

Ya, Tuhan!
Kuatkanlah atas cobaan kerinduan ini.
Ku tunduk ikhlas atas segala takdir yang telah selesai Kau tulis.

Surabaya
Senja hari, 31-07-2018

Advertisements