Tag Archives: puisi hujan

Hujan Pergantian Musim

sekedar puisi-puisian tentang hujan  – a random thought

dsc_1030

Ilustrasi: Lukisan Hujan

Pagi masih perawan di akhir pekan,
hujan gerimis turun perlahan.
Suara gemericiknya mengiring kesunyian.
Di kota ku yang masih dalam dekapan fajar.

Aku baru saja usai dari persembahyangan,
merapalkan dzikir puji-pujian untuk Tuhan
dan baris-baris do’a keselamatan,
do’a kebahagiaan, serta do’a keberkahan dalam kehidupan.
Saat kebanyakan orang-orang masih tak ingin beranjak
dari pelukan selimut malam dalam kehangatan.

Hati menuntun ku untuk duduk di kursi biru, menghadap jendela kaca
di kamar lantai dua rumah ku.
Ku buka jendela sedikit saja, lalu kulakukan kegemeranku:
Menikmati hujan.

Menatap hujan gerimis turun dari langit,
membentur kaca jendela rumah ku,
membentuk lukisan hujan.
Mendengar suara hujan menumbuk jalanan
beraspal di depan rumah ku.
Tek, tek, tek, tek, tek, …

Gerimis yang panjang menandai pergantian musim,
seolah bertutur selamat tinggal sampai berjumpa kembali
untuk musim panas, dan ucapan selamat datang untuk musim gugur.

Musim terus berganti menurut kehendak hukum alam,
seperti itu pula takdir perjalanan hidup manusia.
Latar panggung kehidupan akan terus berganti,
dengan segala ketidakpastian masa depan yang selalu menyimpan misteri.

Dalam setiap pergantian,
selalu ada setumpuk harapan,
Beriring dengan keraguan, kegelisahan, dan ketakutan-ketakutan.
Argh, bukan kah hidup hanya sekedar menjalani?
Jadi kenapa harus takut?


Gerimis Fajar

Gerhana_Mathari

Ilustrasi: Gerhana Matahari 09/03/16, KL,(AFP Photo/Manan Vatsyayana, liputan6.com)

Kekuatan apa coba?

yang meneguhkan hati lelaki bersarung itu.
yang menggerakkan langkah-langkah kecil sepasang kaki bersepatu coklat itu.

Kala gerimis menyambut fajar, membasuhi seluruh wajah kota, tak mau memberi jeda.
Kecipak kecipik suara gerimis menumbuk aspal, cericit dzikir burung-burung,
Pelukan angin dingin dari tenggara,
Temani perjalanan sunyi di bawah payung hitam.

Menembus gelap, melukis ratusan jejak langkah yang segera tersapu gerimis,
Bersama hati-hati yang rindu, mengetuk pintu,
mampir bersujud di rumah Tuhan
Menimba air ketenangan hati, mereguk air ketentraman batin,
Menyeruput air penyemangat jiwa, menjumput serbuk-serbuk berkah.

Kalau bukan kekuatan cinta, cinta kepada Sang Pencipta cinta.

Nottingham, 09/03/2016
Untuk Gerhana dan Matahari, di negeri ku tercinta.


Hujan di Pagi Itu

hujan_pagi_itu

Ilustrasi: Hujan

Di pagi di awal musim panas itu, aku berkawan dengan sepeda dan hujan.
Lembut rinainya menyapu wajah ku.
Mendamaikan dan menentramkan hati ku dengan sepeda yang terus ku kayuh.

Hujan di pagi itu, menghapus air mata, butir peluh, dan jejak langkah.
Pada setiap tetes air mata, aku belajar arti empati.
Pada setiap butir peluh, aku belajar arti kerja keras dan perjuangan.
Pada setiap jejak langkah, aku belajar arti sebuah proses.

Hujan di pagi itu, mengingatkan ku bahwa akan ada selalu harapan.
Ada saat ketika semua laku pertanda terbayar oleh sebuah ganjaran.


Melukis Sketsa Hujan

Hujan
Hujan,
Pagi ini kau menyambut bangun tidur ku,
di akhir pekan pertama ku, di bulan November ini.

Tik, tik, tik ….
Suara tetesan mu, yang terjatuh dari atap rumah,
Membangun kan tidur malam panjang ku di awal musim dingin ini.
Memecah kesunyian alam di pagi yang masih teramat perawan.
Menyempurnakan kemalasan ku, melepas penat di akhir pekan.

Hujan…
Ku tatap nanar lukisan sketsa mu, yang membasahi dinding jendela kaca rumah ku.
Aku selalu damai mendengar suara percikan mu,
Aku selalu rindu sketsa lukisan mu.

Mulut ku membisu,
Hatiku hanya bicara dengan diri mu.

Hujan,
Kau mengajak angan ku
Mengenang kebiasaan-kebiasaan kecilku,

Melihat mu dengan hati, dari balik jendela kaca rumah ku.
Menghirup harum semerbak bau mu,
Meredam debu-debu di setiap jengkal tanah kampung halaman ku yang telanjang.

Merasai segar airmu,
dari gerojogan yang tumpah ruah dari talang atap rumah ku
Bak di bawah air terjun di kaki gunung lawu.

Hujan,
Kau menuntun ku untuk merindu
Pada hangatnya, teh panas kentel manis
dan pisang goreng manget-manget buatan emak ku

DSC_1006

Argh hujan …
Sayang, ada sinar surya mengusir mu perlahan.
Memenuhi janji menghangatkan pohon dan ranting-ranting
yang kedinginan dan kesepian
ditinggalkan daun-daun yang hampir habis berguguran.

Argh hujan …
Sayang, aku tak pernah bisa melukiskan keindahan mu
dengan kata-kata indah laiknya para Pujangga.

Argh… hu jan …

 

Nottingham, 1 November 2014
Pecinta Hujan


Hujan di Sore Itu

Hujan di sore, itu…

hujan_di_soreitu

Bekas Hujan

menemani kesendirianku,
menyusuri jalan setapak yang dulu biasa ku lalui,
hujan di sore itu,
membuka ribuan memori dan kenangan,
tentang langkah-langkah kecil menapaki asa,
yang juga belum bertepi.

hujan di sore itu,
membasahi guguran daun-daun menguning yang berserak di awal musim gugur.
menghantarkan mereka membusuk dan menyatu kembali dengan tanah.
Argh, itu mengingatkan ku akan hari tua dan kematian yang pasti.

hujan di sore itu,
mengajari ku arti sebuah kehangatan dan cinta.

hujan di sore itu,
membuat ku mengumpati bus yang menampar mukaku dengan bekas air hujan.

karena hujan di sore itu,
ada keindahan rasa dibalik sepi dan sendiri.

untuk hujan di sore itu,
rindu ku selalu tersimpan.

***
Di Penhujung senja, Awal Musim Gugur, Nottingham – Birmingham (08/10/2014)