Gerbang Sekolah Pertama Mu

ilyas_Sekolah_lagi

Ilyas, anak ayah tersayang.
Hari ini telah kau goreskan tinta dalam lembaran baru sejarah hidup mu.
Tahukah kamu, hari ini kau ayunkan langkah-langkah kecil kaki mu
Menuju gerbang sekolah mu yang pertama.

Kau sendiri yang memaksa untuk sekolah,
Meskipun bunda mu awalnya melarang, karena kamu belum cukup usia
Namun, keinginan kuat mu akhirnya meruntuhkan pendirian bunda mu.
Dan kaulah pemenang nya.

Hari ini kau bertemu dengan guru pertama mu,
Dan juga teman-teman sekolah mu.
Awalnya kau terlihat agak canggung dengan suasana baru mu,
Tapi akhirnya kau terlihat begitu menikmati dunia baru mu itu.

Bahkan, taukah kamu,
Ketika lonceng pertanda jam pulang pun,
Ketika kawan mu bersorak riang
Kau malah menangis tak mau meninggalkan sekolah mu.

Maaf ya nak,
ayah tak bisa mengantar mu ke depan gerbang sekolah pertama mu
Hanya doa-doa ayah yang tak pernah terhenti membaluri setiap langkah kaki kecil mu
untuk segala kebaikan mu
Semoga kau kelak tumbuh menjadi pribadi harapan jaman mu.
Bak pohon yang akarnya kuat menghujam ke bumi,
Dahanya kuat, daunya rimbun mengayomi.
Buahnya lebat serta lezat rasanya.

Kau di sana sekolah,
Ayah di sini juga sekolah,
Kita sama-sama berjuang melawan kebodohan-kebodohan kita,

Semoga Allah berkenan membukakan pintu-pintu Ilmu Nya untuk kita semua
untuk kehidupan yang jauh lebih baik
Di dunia, dan kehidupan abadi sesudah nya

Mugi Gusti Allah ‘ijabahi do’a – do’a kita.

Ayah.

Nottingham, 05 September 2013 (#Menjelang tengah malam, in ASAP Lab.)

saat kau beranjak dewasa, dan aku tak berada di samping mu

1363262602347

Sayang…  ayang-ayangku tersayang…
Dengarlah ayah memanggil mu.. nak.
Si Tole ganteng, anak ku sayang.
Lihatlah di langit sana.
Bintang gemintang dan Rembulan tersenyum begitu indah,
tapi buat ayah, senyum mu tetap lah yang paling indah.

Rupanya, sudah enam purnama,
ayah tak berada disamping mu, wahai pangeran kecil ku.
Rupanya, sudah tiga musim,
ayah hanya bisa mendengar suara mu, dan melihat gambar mu.

Malikat kecil ku,
Tahukah kamu, ada apa di hati ayah?
kuingin kau tahu,
ada kerinduan yang teramat membuncah,
ada cinta yang begitu menggelora,
untuk mu wahai engkau penyejuk jiwa.
**

“Gundul-gundul pacul cul, gembelengan..
nyunggi-nyunggi wakul kul, gembelengan…”

Ah, ayah tiba-tiba rindu menyanyikan tembang ini,
Tembang yang telah kau pilih sebagai pengantar tidur di setiap malam-malam mu.

Ayah kangen  saat kau ku biarkan bermain dengan tumpukan buku-buku tebal ayah,
Saat Kau buka buku itu, halaman demi halaman. Seolah kau tau isi buku itu,
Walaupun, sering kali kau sobekan halaman itu,
Dan bunda mu memarahi kita.

Ayah juga rindu bermain, berlari bekejar-kejaran dengan mu,
di kebun sempit belakang rumah kita dan di antara taman bunga yang bunganya selalu kau
petik sebelum merekah untuk kau berikan kepada ku dan bunda mu.
**

Permata hatiku,….
Kini, kau telah tumbuh dan kian  beranjak dewasa,
di akhir bulan ini kau akan menggenapkan usia dua tahun mu.
Tumbuhlah dengan sehat, pintar, cerdas, dan sholeh selalu.
Seperti tetumbuhan di taman syurga.
Pohon nya kokoh, daunya rindang, bunganya indah dan harum baunya,
manis dan lezat pula rasa buahnya.

Maafkan ayah, yang tak bisa menyaksikan hari-hari pertumbuhan mu.
Maafkan ayah, yang telah meminjam kebersamaan kita untuk sementara waktu.
Percayalah ayah akan mengembalikanya dengan lebih sempurna, suatu hari nanti.

Sayang,
Ketidakbersamaan ini bukanlah untuk disesali dan diratapi,
Ketidakbersamaan ini bukanlah untuk ditangisi,
Karena kita percaya takdir Tuhan tidak pernah kejam.
Takdir Tuhan selalu indah, dan tak pernah salah.

Yakinlah, Tuhan sedang mengajari kita tentang arti cinta yang sesungguhnya,
tentang arti sebuah kerinduan dan kesetiaan.
dan juga tentang arti sebuah ketangguhan, ketabahan, kesabaran, kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan.
yang tak bisa dipelajari dari buku-buku tebal ayah itu.
Walaupun, terkadang pelajaran Tuhan ini sering kali tidak mudah.
**

Walaupun raga kita tak lagi selalu bersua,
kita masih melihat matahari yang sama dan menatap langit yang sama,
di setiap sujud panjang di atas sajadah ini, doa doa ayah selalu untuk mu.
Doakan ayah selalu,
semoga esok, kita bisa melihat mentari bersama kembali, yang bersinar lebih cerah.

Tuhan,
terima kasih atas ketatapan takdir indah Mu ini.
Kami mencintai Mu selalu.

Nottingham, 14/03/2013
Seorang ayah yang merindukan anaknya.