Tag Archives: puisi ayah untuk anak

Mengaji itu …

santri-kuno

Ilustrasi: Santri jaman dahulu Mengaji (grabbed from: https://zedienz.wordpress.com)

Kemaren malam, beberapa jenak setelah kita sholat Maghrib berjamaah di rumah, suasana hati ayah terasa begitu damai dan tentram. Saat ayah mendengarkan dan memperhatikan mu sedang belajar mengaji bersama bunda. Belajar membaca huruf-huruf hijaiyah, huruf-huruf bahasa Arab, bahasanya Alquran, kitab pedoman kehidupan itu.

mengaji_ilyas

Ilustrasi: Ilyas belajar mengaji

“a ba ta sa,  ja ha qa”. Rasanya, seperti terjebak dalam lorong waktu, yang membawa ayah menyusuri bentang waktu di masa lalu, puluhan tahun yang lalu. Di pelosok dusun, di rumah sederhana, bercahaya remang-remang lampu minyak templok, saat nenek mu mengajari ayah mengaji di antar waktu maghrib dan isyak.

Mengaji, mengajilah sepanjang hayat nak ! Mengaji itu selalu berproses menjadi aji, menjadi lebih berharga, dan lebih mulia di mata Tuhan. Beranjak perlahan dari kubangan lumpur kebodohan, keterbelakangan, keterpurukan dan kehinaan. Menggulung pekatnya gelap kesesatan, merengkuh terang benderang pendar cahaya penunjuk arah jalan pulang.

Karena hidup bukanlah tentang dikotomi absolut antara hitam dan putih. Karena hidup bukanlah tentang pertentangan abadi antara kebaikan keluarga Pandawa melawan tipu muslihat kejahatan bolo Kurowo. Bisa saja, barangkali Kurowo hanya sedang berproses menjadi orang baik, dan Pandawa pun tak selalu suci dalam kebaikan.

Karenanya, nak, sebahagia dan sesusah apapun suasana hati mu, janganlah pernah berhenti mengaji! Eleng lan waspada lah. Sejauh-jauh kaki mu melangkah, setinggi-tinggi akal budi mu berfikir, janganlah sampai tercerabut dari ingatan tempat sangkan paraning dumadi, tempat esok, lusa, atau sesudahnya, pasti kita akan kembali.


Ilyas : Catatan Empat Tahun Usia mu

” Ilyas, am I your best friend? ” – Ayah
” YES, you are my best best friend ever, ayah !” – Ilyas

ilyas_4_yo_of

Ilyas is running. At a Random Place, Derbishire, UK

Empat tahun sudah Ilyas usiamu saat ayah menulis catatan ini. Empat tahun engkau mengisi hari-hari ayah dan bunda mu. Hari-hari yang tak pernah sehari pun, ayah lewati dengan penyesalan. Kehadiran mu, bagaikan taman indah yang tumbuh subur di hati ayah. Memang, kadang ayah jengkel dengan kenakalan tingkah laku mu. Tetapi itu, tak lebih dari sebuah tarbiyah yang mengajarkan ayah arti kesabaran.

Minggu yang lalu, kamu mendapatkan buku catatan akhir sekolah dari Nursery School (i.e. Nottingham Nursery Scool mu) mu. Sekolah yang kau sebut dengan, The brown school. Kamu selalu menangis tidak terima, jika ayah bercanda menyebutnya, the bad school. Catatan akhir itu adalah sebuah pertanda bahwa kamu akan meninggalkan sekolah ini untuk selamanya, dan setelah liburan musim panas ini kamu akan memasuki gerbang sekolah baru, primary school. Di sekolah nursery ini kamu selalu tampak bahagia. Tampak jelas, dari foto-foto yang didokumentasikan secara khusus untuk kamu di catatan akhir itu, kamu begitu menikmati setiap detik waktu mu di sekolah. Pantas saja, kau setiap selalu bersemangat pergi ke sekolah. Bahkan jikalau sekolah masih buka di hari libur, kamu pun penuh antusias untuk bergegas akan pergi ke sekolah.

ilyas_running

Ilyas is running even faster, Derbishire, UK, 2015

Di sekolah kamu punya teman dekat, best friend, Rafifa namanya. Tapi kamu memanggilnya, khafifah. Bocah cantik berparas ayu bak cinderela itu kebetulan anak dari teman dekat ayah di kota Nottingham ini. Dan bundanya juga berteman sangat baik dengan bunda kamu. Setiap pulang sekolah kamu selalu bercerita tentang khafifah. Bahkan dalam tidur pun, kau sepertinya sering bermimpi bermain bersamanya. Setiap acara kumpul-kumpul, kamu selalu dekat denganya. Meskipun kalian sama-sama berdarah Jawa dan berbahasa Ibu Bahasa Indonesia, obrolan kalian tak ubahnya obrolan dua orang anak British.

Semenjak sekolah, perkembangan bahasa mu sunggu luar biasa. Kamu sudah bisa bicara dalam bahasa Inggris sangat alamiah, dengan logat seperti layaknya anak-anak orang British kebanyakan. Meskipun lidah mu tetaplah lidah Jawa. Kosakatamu juga sudah sangat kaya. Bahkan ayah pun, sering mendapat kosakata baru dari kamu. Di rumah, kamu lebih sering berbahasa Inggris dengan ayah dan bunda. Kamu pandai menggambar, terutama menggambar kereta api. Kau pun sudah pandai menulis huruf dan angka, dan cukup pandai berhitung. Logika berfikir mu pun sudah sangat hebat untuk anak seusia mu. Kau hampir bisa menjawab dengan sangat baik, setiap pertanyaan logika yang ayah tanyakan setiap membacakan buku dongeng untuk mu.

ilyas_n_khafifa

Ilyas and His Best Friend, Khafifa, a random place at Lincoln, UK, 2015

Kamu punya segudang mainan di rumah. Hampir semua permainan anak-anak sudah kamu miliki. Tetepi, layaknya anak-anak seusia mu, kamu mudah sekali bosan dan selalu menginginkan mainan baru. Tetapi, ada mainan kesayangan kamu dari dulu hingga sekarang. Sebuah kereta api dari bahan metal berwarna hijau. Kamu tidak bisa tidur tanpa mainan kereta itu di genggaman mu. Ketika terbangun pun, mainan itu yang pertama kali kamu cari. Kamu pun akan menangis tanpa henti, jika green train itu, terselip entah dimana. Sampai sekarang pun, ayah masih heran dengan kegandrungan mu dengan kereta api yang terlalu berlebihan.

Ilyas, ayah merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia, saat diusia mu itu, kamu telah menjadi sahabat diskusi ayah yang hebat. Saat kau mulai pandai berlogika dan berkelit dengan pertanyaan ‘Why’ ayah. Dan kaupun, mulai terlatih membalas dengan lebih banyak bertanya ‘why’ daripada ‘what’ kepada ayah. Meskipun, pertanyaan dan jawaban mu terkadang teramat lucu dan menggelikan.

nott_nur_school_bye

Ilyas: Kesedihan Meninggalkan Gerbang Sekolah

Ilyas anak ku. Semoga kamu sehat selalu! Rajin belajar dan berlatih selalu ! Berlarilah yang kencang, mengejar takdir hidup mu. Semagat selalu menjalani setiap detik perjalanan hidup mu! Be a good boy forever ! Selamat berliburan musim panas. Gerbang sekolah yang baru, sedang menunggu mu ! Sukses buat mu selalu ! Semoga Allah senantiasa memberkati setiap jengkal langkah kecil mu ! Hati ku akan selalu ada untuk mu, meskipun kelak jika kau beranjak dewasa, kamu akan meninggalkan aku dan lebih menikmati dunia bersama teman-teman mu. Tetaplah, menjadi sahabat diskusi ayah yang terbaik! Jangan pernah berhenti berfikir ! Tapi, jangan lupakan senantiasa berdzikir ! Jangan mudah lelah dan menyerah, sebelum kau ambilkan gemintang yang berkelap-kelip itu, di kala hari perlahan beranjak dalam kegelapan, untuk orang-orang yang takut akan kegelapan. Dan untuk menjawab sejumlah tanya yang kau simpan, seperti, syair lagu yang sering kau nyanyikan : “Twinkle-Twinkle Little stars, how I wonder, what you are ?


Seorang Ayah dan Anak Lelakinya

… biarlah cerita hidup mengalir begitu saja, mengikuti alur yang tak pernah kita tahu dengan pasti ujung dan pangkalnya. Penuh misteri, penuh dengan kejutan-kejutan. Ada tangis pilu menggores perih luka di hati. Ada tawa yang meledak-ledak. Ada keindahan simfoni cinta lembut membelai jiwa.  Ada kerinduan menyayat  batin. Ada amarah dan dendam menyesakkan dada. Rasanya, kita tak perlu menerka-nerka jawaban untuk setiap teka-teki kehidupan. Tak perlu terlalu mengatur setiap inchi detail hidup kita. Buat apa? Jika ada Dia yang Maha Tahu dan Maha Mengatur kehidupan kita.

Satu Senja di York

Ayah dan Anak Lelakinya: Satu Senja di York

Rasanya, waktu berlari begitu cepat. Seolah, tak pernah memberi kesempatan kepada mereka yang menunggu. Terkadang, aku hanya bisa mengumpat, dan mengutuk diri sendiri yang tak pernah tersadar untuk berlari cepat mengejar angan dan mimpi yang bergelut dengan sang waktu. Tapi, terkadang akal sehat ku bertanya: buat apa aku terlalu ngoyo mengejar capaian hidup, jika aku tak pernah tahu bagaimana menikmatinya?

Memasuki usia 30-an dan menjadi seorang ayah. Ini adalah fase kehidupan yang baru saja aku jalani. Di fase ini, mungkin setiap orang mengartikan nya berbeda-beda. Mungkin, buat sebagian besar orang adalah fase bekerja keras untuk menumpuk-menumpuk kekayaan, membangun titian emas untuk sebuah kursi empuk jabatan dan kedudukan, serta sejumput kekuasaan. Dan pada akhirnya untuk sebuah arti kemapanan di usia 40-an. Yah, kata orang hidup dimulai diusia 40 tahun.

ilyas_playground

Ilyas di Nottingham. Trent University

Lalu, buat aku? Argh entahlah. Yang jelas, ketakutan akan gelapnya masa depan ketika usia 20-an perlahan menghilang. Yah, ketakutan tidak mendapatkan kehidupan yang layak, ketakutan siapa jodoh ku, dan ketakutan-ketakutan lumrah diusia labil itu perlahan pergi. Tetapi, ternyata sekarang muncul lagi ketakutan-ketakutan yang lain. Argh, entahlah, haruskah hidup berlari dari ketakutan yang satu ke ketakutan yang lain?

ilyas_surban

Siap untuk Sholat

Terkadang terlalu memikirkan hidup ini, membuat saya lupa untuk menikmatinya. Karenanya, aku sedang berusaha menikmati menjadi seorang ayah. Seorang ayah dari seorang ‘malaikat’ kecil dari Tuhan yang ditipkan oleh Tuhan untuk ku. Walaupun, sering kali aku gagal menikmatinya.

Lebih dari sekedar sering, aku datang menjumpainya ketika dia sudah terlelap tidur melepas lelah di hari yang panjang tanpa kebersamaanku. Lebih dari sekedar sering, aku pun sudah pergi meninggalkan nya sebelum matanya sempat melihatku jika semalam aku tidur di samping nya. Aku pun selalu memiliki seribu satu alasan untuk segera menyudahi saat-saat aku dan dia memiliki kesempatan untuk bermain bersama. Sungguh aku bisa mendengar suara di hatimu:

” Ayah, aku ingin bermain lama bersamamu ! Bermain bersama dengan pesawat dan perahu kertas yang selalu kau buatkan untuk ku, agar aku terlena dan tak mengganggu kesibukan diri mu “

Iya, aku yang tak pernah hadir sepenuhnya untuk nya. Tuhan, maafkan jika aku belum bisa menjaga sebaik-sebaiknya titipan mu.  Tapi, sungguh, kehadirannya di tengah-tengah kehidupan ku tak pernah membawa yang lain kecuali kebahagiaan dan keceriaan. Dialah lentera, ketika semangat hidup mulai ridup. Dialah alasan, untuk bangkit ketika terjatuh.

ilyas_school

Siap Berangkat Sekolah

Alhamdulilah, Ya Allah. Terima kasih Tuhan, untuk semua berkah dan anugerah kehidupan.


Saat Kau Tatap Hari Esok : Ayunan, Kau, dan Harapan ku

bandulan_masadepan

Saat ayunan mu mulai mengayun,
bergetar hati ku, saat terasa
betapa berharganya waktu ku saat bersama mu,
karena ku yakin semua ini akan cepat berlalu,
saat kau beranjak dewasa, dan meninggalkan ku.
mengejar mimpi dan menuruti garis takdir hidup mu.

Saat ayunan mu, mulai meninggi.
pecahlah senyum dan tawa mu,
menaklukkan segala ketakutan mu.
binar tajam sorot mata mu,
menatap langit biru.

seakan binar mata mu berkata:
ayah, ingin ku genggam dan kau dekap langit biru itu.
dan aku menjawab:
terbang, genggam dan dekap langit mu, tingi-tingi
setinggi harapan mimpi dan cita-cita mu.

Saat semilir angin menerpa tubuh kecil mu,
mengalir deras bening air doa-doa dari hati ku,
dan ribuan harapan untuk yang terbaik untuk mu.

Tuhan, dengarlah,
aku memohon kepada Mu.
takdirkanlah segala yang terbaik untuk ku, anak ku, dan keturunan ku.
dalam setiap titian takdir hidup menuju jalan keridlaan Mu.
Tuhan, tolonglah,
tuntun selalu langkah-langkah kami di jalan Mu.

Nottingham, 13/08/2014


Gerbang Sekolah Pertama Mu

ilyas_Sekolah_lagi

Ilyas, anak ayah tersayang.
Hari ini telah kau goreskan tinta dalam lembaran baru sejarah hidup mu.
Tahukah kamu, hari ini kau ayunkan langkah-langkah kecil kaki mu
Menuju gerbang sekolah mu yang pertama.

Kau sendiri yang memaksa untuk sekolah,
Meskipun bunda mu awalnya melarang, karena kamu belum cukup usia
Namun, keinginan kuat mu akhirnya meruntuhkan pendirian bunda mu.
Dan kaulah pemenang nya.

Hari ini kau bertemu dengan guru pertama mu,
Dan juga teman-teman sekolah mu.
Awalnya kau terlihat agak canggung dengan suasana baru mu,
Tapi akhirnya kau terlihat begitu menikmati dunia baru mu itu.

Bahkan, taukah kamu,
Ketika lonceng pertanda jam pulang pun,
Ketika kawan mu bersorak riang
Kau malah menangis tak mau meninggalkan sekolah mu.

Maaf ya nak,
ayah tak bisa mengantar mu ke depan gerbang sekolah pertama mu
Hanya doa-doa ayah yang tak pernah terhenti membaluri setiap langkah kaki kecil mu
untuk segala kebaikan mu
Semoga kau kelak tumbuh menjadi pribadi harapan jaman mu.
Bak pohon yang akarnya kuat menghujam ke bumi,
Dahanya kuat, daunya rimbun mengayomi.
Buahnya lebat serta lezat rasanya.

Kau di sana sekolah,
Ayah di sini juga sekolah,
Kita sama-sama berjuang melawan kebodohan-kebodohan kita,

Semoga Allah berkenan membukakan pintu-pintu Ilmu Nya untuk kita semua
untuk kehidupan yang jauh lebih baik
Di dunia, dan kehidupan abadi sesudah nya

Mugi Gusti Allah ‘ijabahi do’a – do’a kita.

Ayah.

Nottingham, 05 September 2013 (#Menjelang tengah malam, in ASAP Lab.)