ponorogo

Kyai Besari

….. setidaknya tentang kesementaraan, tentang ketidakabadian. Sebesar-besarnya kejayaan masa lalu, senja kala itu sudah pasti akan datang.

kyai_besari_2

Makam Kyai Besari

Kita memang hidup ‘disini dan sekarang’. Tetapi, adakah seorang manusia yang bisa melepaskan diri sepenuhnya dari rantai kait masa lalu? dan juga rantai kait berikutnya: masa depan, tentunya. Sejauh-jauh kaki telah melangkah, melepaskan diri, pada akhirnya hati akan tetap memanggil untuk mencari tempat kita berasal.
Bukankah gerak alamiah belaka, jika kita mencari-cari rantai masa lalu kita yang telah terlepas.

kyai_besari_4

Bersama Saudara Embah di Depan Rumah Mbah Buyut

Buat ku, pencarian masa lalu itu mengantarkanku pada sosok kyai Besari. Kyai besar pada masanya. Meski tidak banyak buku atau apapa pun sumber sejarah yang menulis tentangnya. Karena leluhur kita yang tak terbiasa, atau mungkin lebih tepatnya tidak bisa, menulis. Bahkan saat menulis bukanlah laku monopoli kasta tertentu saja. Tetapi, dari tutur tinular, rasanya tidak mungkin menafikan kebenaran sang kyai.

kyai_besari_1

Leluhur dan Generasi Penerusnya

Perjalanan pencarian itu berawal dari dusun kecil, Garongan kalau tidak salah namanya. Dari pasar Mlilir, Dalopo di perbatasan Madiun-Ponorogo, kami menyusuri jalan aspal desa yang mulus ke arah barat. Pemandangan sepanjang perjalanan selama kurang dari setengah jam itu, didominasi oleh hamparan padi yang ijo royo-royo, dengan lukisan alam gunung-gunung yang membiru di kejauhan.

kyai_besari_3

Masjid Jamik Tegalsari

Di dusun inilah, kabarnya buyutku dari jalur emak berasal. Dusun yang tenang, damai, dan bersahaja, dengan penduduknya yang sepertinya menyelenggarakan hidup dengan sederhana saja. Toh, hidup hanya sejenak, selama mampir ngombe saja. Tetapi, sorot-sorot mata itu memberi pertanda, kekutan hati yang luar biasa.

Dusun ini bak antitesa deru kehidupan kota yang selalu riuh. Yang tak pernah lelah mengejar kemajuan katanya. Kemajuan yang diukur oleh gedung-gedung tinggi, gaya hidup yang gemerlap, dan pusat-pusat pemuas nafsu para penghuninya. Penuh gelak tawa bahagia seolah segala kenikmatan hidup dapat direguk kabarnya. Uang menjadi penggerak utama gerak langkahnya. Menumpuk, melipatgandakan uang adalah filosofinya. Entah untuk apa? Hidup selama-lamanya? Tetapi, diam-diam rapuh hati para penduduknya. Tetapi, ada satu benang merah yang sama. Tak di dusun tak di kota. Anak-anak terjerat oleh candu bermain gadget. Tetapi, apapun ituSenang rasanya, di dusun ini aku bertemu dengan saudara sekandung mbah saya yang semuanya telah memasuki senja kalanya usia.

Dari dusun Garongan, perjalanan kami berlanjut ke Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Kami berziarah ke makam kyai besari, kyai hasan besari lebih tepatnya. Kabarnya, kami masih mambu-mambu keturunan kyai besar ini. Tetapi entah turunan yang keberapa.

Suasana desa santri begitu terasa saat memasuki desa ini. Walaupun tidak ada pesantren lagi di desa ini. Tetapi, kabarnya di tahun 1700an. Jauh sebelum ada negara bernama Indonesia. Di desa ini, ada sebuah pesantren besar, yang lebih dikenal dengan Pondok Gebang Tinatar dengan jumlah santri berjumlah ribuan. Ronggo Warsito dan HOS Cokroaminoto pun kabarnya pernah berguru di pesantren ini.

Meski tinggal kenangan, keturunan Kyai Besari masih memiliki pesantren besar: Pondok Modern Gontor yang masih terkenal hingga sekarang.

Di petilasan pondok gebang tinatar ini, selain makam kyai besari dan istrinya ada sebuah masjid tua yang menyejarah. Interior masjidnya didominasi pilar-pilar kayu jati yang besar-besar, yang kabarnya telah berusia ratusan tahun lamanya. Sejenak, masjid jami’ tegal sari ini, mengingatkanku pada masjid ampel surabaya yang juga dipenuhi pilar-pilar kayu jati besar berusia ratusan tahun.

Meski sudah tidak ada pesantren, di samping makam dan masjid ada beberapa madrasah. Dari Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah (setara SMA). Semuda madrasah di kompleks ini diberi nama Ronggo Warsito.

Siapa saja bisa berziarah di makam ini. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja makam ini ditutup. Jika kebetulan sedang ditutup, anda bisa bertanya ke kantor takmir masjid tidak jauh dari makam. Ohya, di dalam komplek makam, ada white board yang isinya silsilah kyai besari. Sampean bisa didownload disini.

Dari para leluhur, kita selalu bisa memetik pelajaran. Setidaknya tentang kesementaraan, tentang ketidakabadian. Sebesar-besarnya kejayaan masa lalu, senja kala itu sudah pasti akan datang. Yang ada akan tiada, yang tiada akan ada. Dan juga menyisakan tanya: apa yang dapat kita wariskan pada generasi berikutnya?

Advertisements

Pundung di Telaga Ngebel

… bukan telaganya yang istimewa, tapi perjalanan menuju ke telaganya yang istimewa – a random thought

pundung_pnorogo

Buah Pundung

Ada yang tahu buah ini? ya betul, aku menyebutnya buah pundung. Rasanya, sudah lama sekali tidak bersua dengan buah ndeso yang murah meriah ini. Dulu sekali, waktu masih kecil, si embah atau emak kalau ke pasar, sering beli buah ini. Rasanya kecut ada manis-manisnya sedikit, dan isinya pahit sekali.

telaga_ngebel

Telaga Ngebel

Sampai kemaren  saat menyusuri pinggiran kabupaten Ponorogo menuju Telaga ngebel, akhirnya aku kembali bersua dengan buah satu ini. Dibanding Telaga Serangan Magetan, Telaga Ngebel ini mungkin kalah populer. Tapi, bak gadis desa yang belum pandai berdandan, Telaga ngebel justru lebih menarik untuk dijelajahi.

Jika sampean datang pada saat yang pas., pada liburan akhir tahun misalnya, perjalanan ke Telaga Ngebel ini sungguh menyenangkan. Selain suasana khas pedesaan yang adem dan menenangkan, selama perjalanan sampean bisa melihat dan menikmati langsung berbagai buah-buahan ndeso. Sambil bertegur sapa dengan orang-orang desa yang keramahan dan ketulusanya begitu otentik.

Diantara buah-buahan ndeso itu adalah buah duren, buah manggis, apukat, pisang, langsep, buah pundung, kelapa, waakhowatuha. Sampean bisa mampir membeli dan duduk-duduk santai di pinggir jalan di sepanjang perjalanan.

Sepanjang perjalanan sampean juga akan mendengar konser alam yang amat menakjubkan, yaitu konser Tonggeret. Serangga yang suaranya begitu indah dan panjang. Ah pasti mereka bukan sedang bernyanyi. Tetapi sedang bertasbih, menyenandungkan lagu puji-pujian untuk Tuhan atas karunia Nya atas hutan yang kaya raya itu. Tanah yang subur, udara yang sejuk dan menyehatkan, dan air bersih yang melimpah dan menyegarkan, buah-buahan, dedaunan, umbi-umbian, sumber penghidupan yang tumpah ruah .

Sampai di pinggir telaga, sampean bisa menikmati menu khas dari Telaga ini, yaitu Ikan Bakar. Ikan-ikan air tawar segar ini kabarnya diambil langsung dari keramba-keramba ikan di Telaga Ngebel. Bagi yang tidak suka makan ikan, ada juga ayam kampung bakar.

Oh, betapa pemurah betul bumi pertiwi karunia Tuhan yang satu ini bukan? Surga seolah pernah bocor sedikit, dan percikanya itu pernah jatuh ke bumi, bernama Indonesia. Tetapi,  anehnya banyak juga orang-orang yang serakah, yang ingin menukarnya dengan hutan beton yang gersang, penuh kepalsuan pula.