pondok pesantren

Santri di Persimpangan Zaman Edan

… jamane jaman edan,sing ora edan ora kuat melu edan. Jamane jaman edan mangan lemper dibeset metu setan -Syair Jaman Edan Cak Nun

jaman_mondok_jadul

Santri Pondok (Asrama Cordova, Pondok Induk, PP Darul Ulum Jombang, 2000)

Beberapa hari belakangan ini kata “santri” menjadi ngehits jadi wacana nasional, di media sosial khususnya. Kata ini mendadak naik kelas, dari wacana senyap orang-orang pinggiran di pelosok-pelosok desa, menjadi wacana orang-orang perkotaan. Saya yakin, ada anak-anak di kota yang bertanya-bertanya kepada bapaknya: “Santri itu apa, Pa?”. Atau kalau tidak, mereka bertanya kepada si Mbah Google. Yah, ini semua karena tanggal 22 Oktober kemaren, ditetapkan sebagai hari santri nasional.

Di dunia akademik, kata santri ini dipopulerkan oleh seorang Antropolog alumni Harvard, Clifford Geertz, dalam buku klasiknya “The Religion of Java” yang melakukan trikotomi masyarakat menjadi tiga golongan: Abangan, Santri, dan Priyayi (bisa dibaca :disini). Santri dalam interpretasi Geertz, adalah masyarakat Jawa yang keislamanya murni, taat, sesuai syariat Islam, sebaliknya abangan adalah orang yang islamnya masih ala kadarnya, e.g. tidak pernah sholat, serta keimananya masih bercampur dengan ajaran Hindu.

Tentu saja, sebagaimana nature ilmu sosial itu sendiri, dalam konteks sekarang, interpretasi Geertz ini bisa jadi sangat tidak tepat dan tidak relevan kembali. Termasuk definisi santri itu sendiri. Dalam konteks sekarang, kata santri mungkin lebih banyak digunakan untuk menyebut para pelajar yang sedang belajar di Pondok Pesantren, pesantren NU khususnya.

Apa Esensi Hari Santri Nasional?

Menurut pemahaman saya yang ala kadarnya, fakta sejarahnya, penetapan hari santri nasional ini adalah tidak lebih dari produk politik, alias sekedar alat untuk meraih kuasa. Kita pastinya belum lupa, bahwa penetapan hari santri nasional ini adalah janji politik JOKOWI waktu kampanye di Jawa Timur, untuk menarik dukungan dari pesantren-pesantren, yang berpengaruh sangat kuat pada masyarakat grass root di Jawa Timur.

Kemudian oleh PBNU ditagih, dan akhirnya ditetapkanlah tanggal 22 Oktober sebagi hari santri nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih untuk mengingat peristiwa penting yaitu resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim As’ary. Dalam resolusi itu, sang kyai mamfatwakan bahwa melawan penjajah hukumnya adalah wajib, dan jika mati karena melawan penjajah itu akan dikategorikan sebagai mati syahid. Peristiwa resolusi jihad ini digambarkan dengan apik di Film sang Kyai (bis dilihat : disini). Hal ini jelas melukiskan bagaimana peran para kyai dan santrinya dalam perang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan Indonesia yang sangat luar biasa besar kontribusinya. Namun, belakangan setelah Indonesia merdeka, khususnya jaman sekarang, peran santri seolah terpinggirkan. Itulah sebabnya, momentum penetapan hari santri ini disambut penuh suka cita oleh para santri. Terlepas, hal-hal seperti ini memang tidak bisa lepas dari nuansa kepentingan-kepentingan politis.

Tetapi, setelah ditetapkan sebagai hari santri nasional so what? Apakah serta merta menaikkan martabat para Santri?

Santri di Persimpangan Jaman Edan

Memilih menjadi santri di Pesantren di jaman edan sekarang seperti saat ini memang tidaklah mudah.  Awalnya, pesantren adalah tempat mengaji ilmu agama di bawah bimbingan seorang kyai. Yang dipelajari hampir 100% ilmu akhirat. Referensi yang dijadikan rujukan biasanya adalah kitab-kitab klasik, yang di pesantren biasanya dikenal dengan Kitab Kuning. Genre kitab itu pun bermacam-macam, mulai dari tafsir Alquran, hadist, ilmu fiqih, tauhid,  hingga ilmu tasawuf. Awalnya, sistem yang digunakan adalah sistem bandongan, kyai membaca kitab yang ditulis dalam bahasa dan tulisan Arab gundul (tanpa harokat) , sementara para santri  menyimak kitab yang sama, sambil memberi makna/arti dari setiap kata kitab gundul tersebut. Atau metode sorogan, dimana setiap santri dibimbing satu persatu untuk membaca kitab. Tempat bandongan dan sorogan ini biasanya di masjid atau asrama pesantren. Lulusan dari model pesantren ini, tentu saja tidak memperoleh ijazah.

Kemudian pesantren berkembang dengan membuka sistem madrasah, yang kemudian dikenal dengan Madrasah Diniyah (Catatan: Madrasah ini berbeda dengan MI, MTs, dan MA, di bawah DEPAG). Di madrasah ini, santri belajar di kelas-kelas layaknya sekolah pada umumnya. Ada beberapa tingkatan, mulai tingkat Ula (setara SD), Wustho (setara SMP), dan ‘Ulya (setara SMA). Masing-masing tingkatan dibagi lagi menjadi level. Misalnya di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Tingkat Ula terdiri dari 4 tingkatan (kelas 1 – 4), Tingkat Wustho terdiri dari 2 tingkatan (kelas 1-2), dan kelas ‘Ulya (kelas 1-2). Di sistem madrasah ini, ilmu yang dipelajari selain ilmu sebagaimana genre kitab-kitab yang dipelajari dengan sistem klasikal (bandongan dan sorogan), juga dipelajari ilmu alat atau ilmu grammatika bahasa Arab, seperti nahwu, shorof, balagoh, mantiq. Disebut ilmu alat, karena ilmu ini adalah ilmu untuk bisa membaca dan memahami kitab-kitab klasik yang ditulis dengan bahasa Arab gundul tadi. Juga ilmu falaq. Sistem pengajaran yang digunakan kebanyakan adalah dengan perulangan (di pesantren dikenal dengan Taqrar) dan hafalan (di pesantren dikenal dengan Muhafadzoh atau lalaran) atau istilah modernya disebut  ‘Rote Learning System’. Salah satu kitab yang terkenal di pesantren dan wajib di hafal adalah kitab Alfiyah Karya Ibnu Malik. Kitab ini terdiri dari 1000 nadzom (atau baris syair) yang merupakan rule grammar bahasa Arab.

Dari Madrasah Diniyah ini, santri memperoleh ijazah. Hanya saja tentu saja ijazahnya tidak diakui oleh sistem pendidikan nasional. Padahal untuk memperoleh ijazah sampai level Ula tadi misalnya, dibutuhkan waktu setidaknya 8 tahun. Dan pesantren, karena memang orientasinya akhirat, tidak pernah protes dengan masalah tidak diakuinya ijazah itu. Pengecualian, untuk beberapa pesantren, seperti pondok pesantren Gontor,  Ponorogo, ijazahnya sudah diakui setara SMA. Karena ijazahnya tidak diakui, para santri yang biasanya ijazah formalnya hanya sampai tingkat SD itu, sulit untuk mendapatkan pekerjaan formal, atau melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Lulusan dari pesantren dengan metode klasikal dan madrasah diniyah ini pada akhirnya yang beruntung akan menjadi kyai yang sukses mendirikan pondok pesantren baru, hanya saja jumlah sangat-sangat sedikit, mungkin hanya 1:1000. Kebanyakan, ya menjadi kyai kampung atau menjadi orang biasa dan bekerja di sektor-sektor informal.

Seiring jaman yang semakin materialistis, pada akhirnya membuat banyak pesantren membuka diri untuk membuka sekolah-sekolah umum, bahkan perguruan tinggi di dalam pesantren, baik yang berafilisiasi dengan Depag (misal: MI, MTs, MA, STAI), maupun Dikbud (SD, SMP, SMA/K, Universitas). Sehingga selain mengikuti sistem klasikal, dan Madrasah Diniyah, santri juga bersekolah layaknya sekolah-sekolah di luar pesantren. Dan berhak mendapatkan ijazah yang diakui oleh pemerintah. Keberadaan sekolah-sekolah umum di pesantren ini bukanya tanpa resiko. Satu sisi, bagus karena santri tidak hanya belajar ilmu agama saja, tetapi juga ilmu umum, dan setelah lulus mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah, dan pada akhirnya bisa bekerja di sektor-sektor formal. Tetapi disisi lain, hal ini membuat santri tidak fokus belajar agama. Bahkan di beberapa pesantren, keberadaan kajian kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren itu, menjadi terpinggirkan. Sehingga jangan heran jika ada lulusan pesantren yang tidak bisa bahasa Arab, dan tidak bisa membaca kitab kuning.

Keberadaan sekolah umum di pesantren ini juga membuat Pesantren melakukan trade-off antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Idealnya, ya sama-sama kuat, atau dalam operation research dikenal dengan istilah Pareto Optimal. Gus Dur, mungkin adalah contoh santri yang paling ideal. Ilmu keagamaanya top, beliau bisa berbahasa Arab dan bisa memahami kitab kuning klasik, tetapi juga wawasan ilmu umumnya tak diragukan, bahkan akademisi barat pun sangat mengakui keilmuanya. Kita bisa saja mengatakan, kita tidak boleh mendikotomi ilmu agama dan umum, keduanya penting. Tetapi pada kenyataanya sangat tidak mudah.   Pesantren yang tradisinya kuat ( ngaji kitab dan madrasah diniyah nya bagus), biasanya kualitas sekolah umumnya juga ala kadarnya.  Sebaliknya, pesantren yang sekolah dan Universitas umumnya bagus, tradisi ngaji pesantrenya menjadi ala kadarnya.

Bagi santri sendiri, keberadaan sekolah/universitas umum di pesantren ini juga membuat santri tidak mudah memahami dan menghayati dua perspektif ilmu tersebut pada saat yang sama. Ilmu agama cenderung berisi kebenaran deduktif yang dogmatis. Sementara ilmu umum, adalah kebenaran empiris, berdasarkan bukti ilmiah, yang bersifat induktif. Kitab tasawuf yang umum dijadikan rujukan di pesantren seperti kitab Alhikam, dan Ihya Ulumidin, misalnya mengajarkan santri untuk ‘membenci’ dunia, memilih untuk zuhud, tidak serakah, hidup bersahaja, dan mengutamakan akhirat. Sementara ilmu umum, e.g. ilmu bisnis misalnya, mengajarkan untuk mencintai dunia, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Demikian juga tentang relasi hubungan antara lelaki dan perempuan atau suami istri, pada kitab-kitab yang dijadikan rujukan utama di pesantren-pesantren seperti: Qurrotul ‘Uyun, dan ‘Uqud dilijain, perempuan/istri seolah menjadi subordinat lelaki atau suami. Bisa jadi apa yang menurut kitab tersebut wujud dari istri solehah, justru dianggap merendahkan kaum perempuan pada wacana keilmuan barat. Demikian juga masalah homoseksual. Jelas ini akan membuat santri yang juga mengenyam dunia Barat, seperti Ulil Absar Abdala misalnya, berada pada posisi yang dilematis.

Indeed, terkadang susah menemukan kedua kutub ilmu tersebut. Tetapi, bisa saja kita menempatkan kedua ilmu itu pada tempatnya, sesuai dawuh kanjeng nabi:

… bekerjalah untuk dunia mu seakan engkau hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhirat mu sekan esok hari engkau tiada.

Tentu saja ini tidak mudah, disinilah tantangan pesantren untuk mendamaikan keduanya, yang tentunya tidak mudah.

Keberadaan sekolah umum di pesantren-pesantren juga berdampak pada biaya di pesantren. Sebagaimana kita tahu, pesantren ini tidak dibiayai oleh pemerintah. Jika ngaji di pesantren tradisional bisa dijangkau hampir semua lapisan masyarakat akar rumput. Pesantren yang ada sekolah umumnya menjadi kian tidak terjangkau. Semakin bagus sekolah umumnya (lulusanya banyak yang diterima di PTN favorit misalnya), biasanya biayanya juga semakin mahal. Tidak heran, jika masuk pesantren sekarang juga harus mengeluarkan puluhan juta rupiah. Pada akhirnya pesantren-pesantren itu memiliki segmentasi pasar sendiri-sendiri. Tak ubahnya apa yang terjadi di bisnis, ada pesantren kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

Keputusan untuk membuka atau tidak membuka sekolah umum di jaman edan sekarang ini juga tidak mudah bagi pesantren. Pesantren yang ingin murni menjaga tradisi misalnya, dengan tidak mau membuka sekolah umum. Akan berada di posisi tidak mudah. Jika tidak membuka sekolah umum, untuk ngemani fokus mempelajari ilmu agama yang kuat, bisa berdampak kehilangan calon santri dari masyarakat yang semakin materialistis. Masyarakat yang takut, jika anaknya hanya ngaji tidak sekolah, setelah lulus mau kerja jadi apa, pasti akan berfikir berkali-kali lipat untuk memasukkan anaknya ke pesantren tradisional, atau dikenal dengan pesantren Syalaf ini.  Sebaliknya, kalau ingin memasukkan anaknya di pesantren yang sekolah umumnya bagus, orang tua harus memikirkan biaya pendidikan yang berkali-kali lipat.

Alhamdulilah meskipun pesantren murni syalaf semakin langka keberadaanya, karena calon santri yang semakin materialistis. Masih ada pesantren-pesantren besar yang hingga sampai sekarang masih bertahan dengan tradisi murni salafnya, seperti pondok pesantren sidogiri Pasuruan, dan pondok pesantren Lirboyo Kediri. Yah, memang bukanya kita percaya rejeki sudah ada yang ngatur? Rejeki tidak ditentukan oleh sekolah kita, tetapi oleh Gusti Allah ta’ala.

Santri Memaknai Jihad di Jama Sekarang

Jikalau jihad di jaman Mbah Hasyim dimaknai, perang angkat senjata melawan penjajah. Jihad dalam konteks kekinian bisa dimaknai dengan jihad melawan kebodohan, ketertinggalan, dan kebobrokan akhlak. Para santri harus giat menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Santri juga harus bangkit mengejar ketertinggalan dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang harus diakui saat ini kita sangat tertinggal dengan dunia barat. Padahal spirit untuk melakukan research itu ada pada ayat-ayat Alquran. Padahal tradisi akademik itu ada pada para ulama-ulama penulis kitab-kitab klasik yang kita pelajari di pesantren selama ini. Santri juga harus berjihad melawan kebobrokan akhlak para pemimpim kita saat ini yang kronis dihinggapi penyakit keserakahan, kemunafikan, dan hidup bermewah-mewahan, dengan semangat kesederhanaan, keikhlasan, dan spirit untuk berbagi, bukan untuk menang sendiri.  Spirit untuk berlomba-lomba untuk kebaikan bersama, bukan berlomba-lomba untuk keunggulan diri sendiri. Pada akhirnya santri dan pesantren ditunggu kontribusinya untuk menciptakan peradaban dunia yang lebih baik.

Selamat hari santri nasional !

Related Post:

Advertisements

Ketika Universitas Oxford dan Cambridge Pun ‘Meniru’ Sistem Pendidikan Pondok Pesantren?

“… pesantren itu selama ini disebut pendidikan tradisional, iku kurang ajar tenan. Terus sing tradisional ki dianggep luweh rendah timbangane sekolah modern. Aku kepengen ngomong, eh tak kandani yo, pesantren itu mulai ditiru wong sak donyo saiki. Besok sak donyo ki pesantren kabeh ” – Cak Nun

” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok” Dr Afifi Al-Akiti (Dosen Studi Islam, Universitas Oxford, Inggris; Alumni Pondok Pesantren Kencong Jember Jawa Timur)

gerakan_ayo_mondok

Ilustrasi: Gerakan Ayo Mondok

Ketika banyak orang dengan bangga mengatakan ‘saya alumni ITB, ITS, UI, UGM, UB’ atau ‘saya alumni kampus luar negeri’, entah mengapa, meskipun saya alumni salah satu kampus tersebut, saya jauh lebih bangga mengatakan ‘saya alumni pondok pesantren’. Buat saya, pesantrenlah yang telah banyak mendefinisikan bagaimana saya memandang dan menjalani hidup dan kehidupan ini. Buat saya, pesantren bukanlah sekedar sekolah biasa. Buat saya, mondok di pesantren adalah masuk kawah candra dimuka sekolah kehidupan. Dari bilik-bilik sederhana di pesantren itulah, saya temukan nilai-nilai kebajikan hidup yang terus jadi pegangan hidup hingga saat ini. Dari wajah-wajah yang sejuk dipandang dari para kiai itulah, saya temukan inspirasi hidup bak lentera yang tak pernah padam di dalam jiwa. Dari do’a-do’a tulus para ustad, ustadzah, pak yai, dan bu nyai itulah, saya rasakan kebarokahan hidup hingga saat ini.

darul_ulum_jombang_edit

Salah Satu Sudut Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Di jaman ketika semua ada label harganya. Di jaman ketika rupa dan angka dipuja. Miris rasanya, merenungi sekolah dan universitas tak ubahnya seperti pabrik-pabrik yang memproduksi produk masal. Mencetak manusia-manusia setengah robot yang nyaris kehilangan sisi-sisi kemanusianya, yang nyaris mati sisi-sisi spiritual nya. Manusia-manusia yang dituntut seragam kompetensinya, dan sesuai standard kebutuhan industri-industri pengeruk keuntungan materialistis. Manusia-manusia yang pada akhirnya menuhankan makhluk bernama Uang. Sehingga rela menyerahkan apapun, termasuk kehormatan dan harga dirinya hanya untuk Uang. Argh, sungguh, pendidikan sudah kehilangan ruh pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia. Disitulah, saya merasa orang paling beruntung di dunia, karena pernah mondok di pesantren.

kampus_cambridge_edit

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Universitas Cambridge, UK

Kebanggan saya akan pesantren makin bertambah, justru ketika saya mengenyam pendidikan di Inggris. Betapa kagetnya saya ketika saya tahu ainul yaqin bahwa ternyata dua kampus terbaik di Inggris, dan terbaik di dunia, Universitas Oxford dan Universitas Cambridge ternyata sistem pendidikanya sama persis dengan sistem pendidikan di pesantren. Memasuki kompleks dua kampus ini tak ubahnya memasuki kompleks pesantren, kebetulan saya pernah berkesempatan nyantri kilat, sekolah musim panas selama seminggu di Universitas Cambridge dan pernah berkunjung di Universitas Oxford. Jangan kira, sampean akan menemukan tulisan besar University of Cambridge atau University of Oxford seperti kampus-kampus di Indonesia. Di komplek dua kampus ini, sampean akan menemukan kumpulan college-college yang tak ubahnya asrama-asrama di pesantren. Di setiap college, terdapat sebuah gereja, lecture hall, dining room, dan asrama yang diketuai seorang profesor yang paling berpengaruh di college tersebut. Yang tak jauh bedanya dengan asrama santri dengan masjid, tempat mengaji, pemondokan, kantin yang diasuh oleh kyai. Tak hanya penampakan fisik, sistem pendidikanya pun tak ubah sistem sorogan dan bandongan di pesantren.

santri_darul_ulum_edit

Ilustrasi: Senyum Santri Putri Darul Ulum Jombang

Semula saya pikir saya adalah satu-satunya yang mengklaim kesamaan antara sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan di OxBridge (Oxford dan Cambridge). Hingga suatu ketika, saya bertemu dengan seorang teman, mahasiswa Malaysia di Universitas Korowin (Universitas Tertua di Dunia), Maroko, pada suatu kesempatan di Den Haag, Belanda. Saya terkejut ketika dia yang alumni pesantren di Kediri, Jawa timur dan sering berkunjung ke Oxford, dimana salah seorang pamanya mengajar islamic studies disana, berkata: ‘ yah sistem pendidikan Oxford dan Cambridge itu ya sama persis dengan sistem pendidikan pesantren’. Rupa-rupanya, tanpa janjian, we shared the same opinion.

Kadang kita memang sering merasa inferior melihat punya orang lain, padahal kita telah memiliki sesuatu yang lebih baik. Kata pepatah Jawa, golek uceng kelangan delek. Kejadian serupa, ketika berada di stasiun kereta Api Rotterdam Central, Belanda, saya tidak sengaja bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar seni musik di salah satu kampus di Rotterdam. Seorang kawan tadi bilang: ” Waduh mas, tahu ndak Gamelan itu diakui dunia sebagai alat musik paling intuitive di dunia, karenanya gamelan adalah ‘mainan’ baru yang sangat menarik bagi para ilmuwan seni musik, ketika mereka sudah mencapai titik jenuh, stagnansi dengan seni musik modern barat.

Argh, ternyata benar seperti yang dibilang Cak Nun, ternyata pesantren adalah sistem pendidikan asli Indonesia yang luar biasa. Sistem pendidikan terbaik yang bahkan Oxford dan Cambridge pun menirunya. Sayang, di negeri sendiri, pesantren malah dimarginalkan. Sama halnya, gamelan yang dianggap tradisional dan terpinggirkan di negeri sendiri. Padahal, di seluruh dunia orang-orang berbondong-bondong belajar musik gamelan. Entahlah. Terkadang saya susah untuk mengerti.

Sudah saatnya kita sadar dan bangga dengan milik kita sendiri, bangga mewarisi kearifan para leluhur kita. Sudah saatnya kita berhenti menjadi bebek yang selalu ikut kemana arus dunia berjalan. Karenanya, untuk adik-adik muda, dan para orang tua yang tak ingin sekedar pemuja rupa dan angka, cukup hanya dua kata: Ayo Mondok !

Catatan Pinggir:  ‘Meniru’ (judul) bahasa marketing saya untuk menunjukkan kemiripan. Bisa jadi jangan-jangan Oxford Cambridge meniru sistem pesantren, atau sebaliknya. Bisa jadi sekedar kebetulan. Bisa jadi keduanya meniru sistem yang sama dari model sebelumnya yang lain. Please refer to youtube video below for similar opinion.

Related Post:

Related Video:

Pesantren NU dan Pendidikan Karakter

Suasana di Kota Santri, asyik senangkan hati. Tiap pagi dan sore hari muda-mudi berbusana rapi menyandang kitab suci, hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji. Duhai ayah ibu, berikan ijin daku untuk menuntut ilmu pergi ke rumah guru, mondok di kota santri banyak ulama kyai tumpuan orang mengaji. Mengkaji ilmu agama, bermanfaat di dunia, menuju hidup bahagia sampai di akhir masa. – Kota Santri, Nasida Ria.


Santri Sedang Mengaji Kitab Kuning (Courtesy: www.tempo.co )

Bait di awal tulisan ini adalah cuplikan lirik salah satu lagu qasidah yang di populerkan group qasidah Nasida Ria di tahun 1990 an. Duh, saya jadi ingat dan kangen  sama emak di kampung yang demen banget dengerin lagu-lagu qasidah ini dari radio setiap menjelang Adzan maghrib di kampung. Apalagi di bulan Ramadlan. Selalu menghadirkan suasana nostalgic masa kecil di kampung setiap kali mendengarkan kembali lagu qasidah ini di youtube. Apa kabar ya, para artis Nasida ria ini? Oh sayang seribu sayang, qasidah ini sepertinya sudah hilang ditelan keangkuhan zaman. Semoga saja saya keliru.

Maaf, saya tidak sedang ingin menulis tentang nasib Nasida Ria. Seperti judul dari tulisan ini, kali ini saya ingin menulis uneg-uneg saya tentang pesantren. Katanya para akademisi, pesantren adalah sebuah sub-cultural tersendiri dalam masyarakat (Entahlah, apa maksudnya? ). Sering diidentikkan sebagai tempat nya pemuda-pemuda sarungan dan pemudi-pemudi berjilbab kampungan, yang jarang terdengar dan diekspos di media bahkan cenderung terpinggirkan, kecuali kalau menjelang pemilu. Tak jarang sering diremehkan, dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang sok berpendidikan. Bahkan oleh orang-orang Islam sendiri. Pesantren ini sering dijadikan kambing hitam sebagai sarangnya Bid’ah, Kolotisme, dan biang ketidakmajuan umat Islam. Padahal, fakta sejarah mencatat pesantren-pesantren NU ini adalah institusi pendidikan tertua di Indonesia yang membangun manusia-manusia Indonesia. Khususnya para manusia-manusia pejuang-pejuang kemerdekan RI.

Suatu hari, saya sedang berada di tengah-tengah keluarga mertua saya. Kebetulan, ada salah satu keponakan yang sedang rewel yang entah kenapa tidak mau masuk sekolah. Karena kehabisan cara untuk merayu, sang ibu tiba-tiba mengancam begini: “Eh, kamu kalau ndak mau masuk sekolah, saya pondok kan kayak Mbak Fulanah ya ! “. Si anak pun terlihat ketakutan, ” ndak mau ! buk” . Dan si anak pun bergegas mau berangkat ke sekolah. Tidak hanya ketika malas sekolah, rupanya ancaman dimasukkan pesantren adalah cara paling efektif untuk membuat si Anak menurut kehendak sang Ibu. Dalam hati saya nggrundel emang nya pesantren tempat pesakitan piye? Sebagai salah satu alumni pesantren, jelas saya tidak terima pesantren dijadikan untuk menakut-menakuti bocah.

Jelas ini ada persepsi yang salah. Dan saya sangat yakin, masih banyak masyarakat yang berfikiran yang salah, bahkan berfikiran negatif terhdap pesantren. Di tulisan ini, saya ingin mencoba sedikit meluruskan. Apalagi, saat melihat karakter anak-anak muda jaman sekarang yang tergambar dari media yang sungguh sangat memprihatinkan. Pergaulan bebasnya, gaya hidup hedon nya, budaya instant nya, manja nya, dan matinya kecerdasan dan empati sosial mereka terhadap sesama. Membuat saya sangat yakin, betapa pentingnya pendidikan  ala pesantren ini.

” Pak Nuh, kalau sampean mau mencari model pendidikan karakter, sampean ndak usah bingung jauh-jauh mencari kemana kemari. Belajar saja sama pesantren-pesantren NU !”

Begitu kata Ibu Khofifah Indar Parawansa, Ketua Muslimat NU, suatu ketika ke Pak M. Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kebetulan juga kader NU. Saya sangat-sangat setuju dengan Bu Khofifah ini. Saya rasa, pesantrenlah institusi pendidikan yang paling berhasil membentuk karakter. Sebagai orang yang pernah di pesantren, saya merasa karakter berikut cara pandang saya melihat dan memaknai hidup ini terbentuk saat di Pesantren. Untuk membentuk karakter seseorang, menurut hemat saya jelas sangat tidak cukup hanya dengan sistem pengajaran di dalam kelas sebgaimana di sekolah-sekolah umum. Tapi perlu pendidikan menyeluruh 24 jam, dan itulah yang terjadi di pesantren.

pp_darul_ulum
Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Model Pendidikan Pesantren NU

Secara umum, ada beberapa karakteristik yang menurut saya melekat pada Pesantren, khususnya pesantren NU dan tidak ada pada institusi pendidikan lainya. Karakteristik tersebut adalah:

Figur Pak Kyai/ Bu Nyai

Sang kyai dan Bu Nyai adalah tokoh sentral di Pesantren. Mereka ibarat kurikulum hidup yang senantiasa menjadi inspirasi, panutan, dan keteladanan bagi santri. Yang dari merekalah para santri belajar kearifan dan kebajikan hidup, meneladi akhlak  Rosulullah dan sahabat nya sesuai dengan Alquran dan Hadist. Bersama para ustad dan ustadzah Pak kyai dan Bu Nyai ini memantau para santrinya selama 24 jam. Singkat kata, Akhlakul Karimah adalah kurikulum wajib yang diterapkan di pesantren. Kesederhanaan, kesabaran, dan keiikhlasan adalah sifat yang melekat pada Pak Kyai dan Bu Nyai. Yang akan selalu menginspirasi seumur hidup para santrinya.

Masjid

Masjid adalah jantungnya pesantren. Di Masjid inilah semua kegiatan religius berpusat. Setiap santri diwajibkan sholat jamaah dimasjid, kegiatan pengajian juga berpusat di masjid ini. Tahlil, Istigotsah, Manaqib, dan kegiatan Ubudiyah berpusat di masjid ini. Dari masjid inilah religiusitas, fondasi keimanan dan ketaqwaan para santri dibentuk.

Asrama Santri

Para santri tinggal bersama dengan santi lainya yang datang dari berbagai daerah dan beda budaya. Di kamar-kamar sederhana tapi penuh dengan kebersamaan. Di asrama ini para santri learning by doing yang namanya kemandirian, gotong royong, egaliter, kebersamaan, kedisiplinan, kepemimpinan, saling memahami dan menghormati, saling mengingatkan, berempati kepada orang lain. Mau tidak mau mereka tidak bisa hidup egois dan individualis di asrama ini.

Kitab Kuning

Kitab kuning adalah kitab (baca : buku) klasik karangan ulama-ulama terkenal jaman dahulu (utamanya masa kejayaan Islam) yang dipelajari dan menjadi ciri khas pesantren NU. Karena ditulis dalam bahasa Arab gundul (tanpa harokat) dan biasanya dicetak pada kertas berwarna kuning makanya biasa disebut kitab kuning. Kitab kuning ini mencakup berbagai disiplin ilmu: Tafsir, Hadist, Fiqih, Akhlak, Tasawuf, dan sebagainya. Kitab ini dibaca kata per kata dan diterangkan oleh sang kyai secara kolosal kepada puluhan, ratusan, bahkan ribuan santrinya, yang menyimak sang kyai sambil memberi makna pada kitab yang dibaca dengan huruf arab pego (bahasa jawa yang ditulis arab). Sistem ini dikenal dengan sistem Bandongan. Atau dibacakan secara personal, satu ustad/ustadzah ke satu santri secara bergantian, sistem ini dikenal dengan sistem sorogan. Dari kitab-kitab inilah sang kyai mengajarkan kearifan dan kaebajikan hidup dari ulama-ulama jaman dahulu. Bagaimana bahanya penyakit hati seperti iri, dengki, hasut, riyak atau Pedihnya siksa kubur atau dahsyat nya hari kiamat, mengerikanya neraka, dan indahnya Syurga dibahas sangat detail dari kitab-kitab kuning ini.

Madrasah/Sekolah

Di pesantren NU, ada maqalah begini: “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat [1]. Jelas, pesantren tidak anti modernitas sepanjang itu membawa perubahan yang lebih baik, tetapi pesantren juga kekeh melestarikan budaya sendiri yang positif, tidak begitu saja mengadopsi  budaya orang lain, tetapi bangga dengan budaya dan kearifan lokal sendiri.

Oleh karena itulah di pesantren juga ada Madrasah atau Sekolah. Ada Madrasah Diniyah, yang memang khusus mempelajari Agama yang terdiri dari beberapa tingkat mulai, Shifir, Ula, Ustho, Ulya, dan Ma’had ‘Aly. Tidak sedikit pesantren yang membuka sekolah layaknya sekolah pemerintah di luar pesantren seperti: SD, SMP/M.Tsanawiyah, SMA/SMK/Madrasah Aliyah, bahkan Perguruan Tinggi. Dan jangan salah, banyak sekolah di pesantren yang kualitasnya lebih bagus dari sekolah di luar pesantren, seperti Pondok Pesantren Darul Ulum di Jombang, yang memiliki sekolah SMA swasta berstandar Internasional.

Disamping itu semua ada barokah do’a kyai/Bu nyai yang Insha Allah membuat barokah hidup para santrinya.

pendidikan_karakter

Jika belakangan pemerintah menggalakkan pendidikan karakter, menurut hemat saya pesantren dari dahulu secara mandiri telah berhasil menerapkanya. Pemerintah seharusnya belajar banyak dari pesantren tentang pendidikan karakter. Seperti, yang telah ditiru oleh Pemerintah Kabupaten Sragen, yang mendirikan SMP-SMA Negeri bilingual boarding School. Sekolah ini terbukti berhasil dengan prestasinya yang luar biasa, siswa-siswinya sering menjuarai olimpiade baik tingkat nasional dan internasional. Bahkan pada tahun 2012, mendapat penghargaan dari MURI  sebagai sekolah termuda dengan prestasi terbanyak [2].

Semoga, segera lahir generasi-generasi emas untuk mengubah bangsa ini, Allahumma Ammiin.

London: satu diantara dua kota dalam sebuah mantra pesantren yang bertuah

….berotak London, berhati masjidil haram (mekah)

Dulu waktu saya nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang, ada salah satu moto, jargon, atau apalah yang saya lebih suka menyebutnya mantra ,yang sangat terkenal, yaitu : berotak london, berhati masjidil haram (Mekah). Mantra ini konon mulai populer di kalangan santri secara turun temurun dari generasi ke generasi , sejak salah satu pesantren besar dan termashur di Kabupaten Jombang ini diasuh oleh (alm) Kyai Haji Musta’in Romly (lebih merakyat dipanggil  kyai Ta’in). Kyai Tain adalah kyai karismatik yang sangat tersohor sebagai mursyid (baca: guru) thariqah (gerakan sufisme islam) dengan puluhan ribu jamaahnya pada jaman nya saat itu. Sang kyai adalah juga pendiri Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang, salah satu universitas swasta Islam terbaik yang alumninya sangat disegani pada masa nya i.e.  sekitar  tahun 80-90 an.

Waktu saya di pondok Njoso (panggilan rakyat untuk pesantren ini), tahun 1999-2002, mantra ini begitu melekat di hati saya. Bagaimana tidak, mantra itu tertulis di back cover buku saku amalan harian santri i.e. istigotsah, tahlil, sholawatan, dll. yang kemana-kemana selalu saya bawa. Di pondok njoso, secara rutin setiap hari selalu diamalkan bacaan istigotsah  setiap ba’da sholat ashar dan ba’da sholat subuh. Buat saya pribadi, mantra itu melahirkan sebuah mimpi.  Diam-diam dari sekedar tulisan tanpa nyawa di back cover buku ini, mantra itu  merasuk dan terhujam kuat dalam hati saya, yang menginspirasi bagaikan ruh yang tak bertuan. Berawal dari menghayalkan indahnya kota London, salah satu simbol kejayaan peradaban manusia saat itu dan mungkin hingga kini, dan juga membayangkan betapa nikmat dan khusuknya berdoa , membasahi keringnya jiwa di tempat suci masjidil haram di kota Mekah itu. Sampai kemudian melahirkan mimpi  dan janji diri bahwa suatu saat saya harus melihat dengan mata dan kepala saya sendiri dua kota Impian tersebut. Walaupun pada saat itu, itu hanyalah sebuah hayalan kosong seorang santri miskin  kampungan belaka.

Sebenarnya, mantra itu adalah sebuah pesan dari Sang kyai untuk para santri untuk tidak mendikotomi ilmu. Kalau bicara pesantren, orang pasti berfikir bahwa pesantren itu adalah tempat belajar ilmu agama, ilmu akhirat saja. Memang ada benarnya, dulu pesantren memang identik dengan tempat orang ngaji (menkaji, red) kitab-kitab klasik (biasa disebut dengan kitab kuning) rujukan ilmu-ilmu agama Islam e.g.  fiqih, hadis, tafsir, bahasa Arab, tasawuf, dll. Pesantren yang seperti ini disebut pesantren Salaf ( jangan salah arti dengan aliran syalafi wahabi yang berbaya itu ya !! ). Pesantren seperti ini, meskipun masih ada, sudah mulai tergilas oleh angkuhnya perubahan jaman yang semakin materialistis.

Pesantren Darul Ulum, sejak dahulu sangat konsisten untuk tidak mendikotomi ilmu menjadi  Ilmu agama dan Ilmu Umum. Ilmu adalah ilmu, semuanya bersumber dari Allah. Para pendiri Darul Ulum berkeyakinan bahwa, dikotomi ilmu itu adalah taktik orang Belanda untuk membodohi umat Islam. Oleh karena itu,di pesantren ini  santri wajib belajar ilmu kedua-keduanya. Tidak boleh belajar ilmu agama atau ilmu umum saja. Pesantren Darul Ulum adalah simbol pesantren yang menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu umum, atau dikenal dengan pesantren Khalaf (Modern, red). Tidak mengherankan jika pada akhirnya di pesantren ini berdiri sekolah-sekolah umum dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, hingga Perguruan Tinggi. Yang kualitasnya tidak kalah, bahkan lebih unggul dengan sekolah-sekolah umum di luar pesantren. Diantara sekolah-seklah itu, saya dulu memilih sekolah di STM Telkom Darul Ulum yang saat itu memiliki satu, yaitu Jurusan elektronika komunikasi /Informatika. Dengan alasan pada saat itu Tahun 1999, hal-hal yang berbau teknologi informasi/informatika, terdengar sangat keren sekali di telinga saya.

Mungkin bisa jadi STM Telkom Darul Ulum saat itu  adalah salah satu sekolah dengan jumlah mata pelajaran terbanyak di dunia. Bayangkan, Saat itu, saya sekolah mulai jam 07.00-16.00 setiap hari kecuali hari Jumat. Sistem pembelajaranya, diawali dari membaca Alquran selama 15 menit pertama kemudian diikuti mata pelajaran-mata pelajaran lainya. Mata pelajaran yang harus saya pelajari saat itu sangat banyak sekali, mungkin ada sekitar 35 mata pelajaran. Kenapa demikian? karena sekolah ini menggabungkan 4 kurikulum sekaligus. Pertama adalah kurikulum pesantren, dimana saya harus belajar ilmu bahasa arab modern, nahwu, sharaf, ilmu alquran, tafsir, hadist, fiqih, aqidah, baca kitab kuning, dll.

Kedua kurikulum Nasional STM Jurusan Elektronika komunikasi, ini lebih gila lagi jumlah mata pelajaranya, semua mata pelajaran SMA IPA (minus biologi) ditambah mata pelajaran kejuruan elektonika komunikasi (sama kayak Mata Kuliah Jurusan Elektronika) dimana saya harus belajar sistem digital, rangkaian elektronika, gambar teknik, teknik instalasi listrik, teknik audio video, dll. Saya sampai heran elektronika komunikasi kok ya ada mata pelajaran teknik instalasi listrik (itu kan elektro arus kuat).

Ketiga Kurikulum Informatika. Ceritanya pada tahun 1999 pemerintah belum ada SMK jurusan Teknologi Informasi seperti sekarang. Sehingga tidak ada kurikulum nasional. Tapi rupanya, kyai saya (alm) KH As’ad Umar lebih cerdas duluan menangkap perkembangan jaman, sehingga tahun 1996 memaksa mendirikan STM Telkom dengan jurusan Informatika. Dengan kurikulum lokal ini saya harus belajar bahasa pemrograman, sistem basis data, sistem informasi manajemen, teknik dan sistem komputer, sistem jaringan komputer, dll. Saya masih ingat, betapa senangnya saya saat itu bisa bikin game sederhana pakek bahasa pemorgraman Basic pada saat masih duduk di kelas 1 STM.

Kurukulum yang keempat, yang terakhir adalah Kurikulum Telekomunikasi, ini lebih sadis lagi, tidak ada kurikulum nasionalnya. Guru kami yang ngajar mata pelajaran pada kurikulum ini cuman ada dua orang. Keduanya adalah praktisi di Industri telekomunikasi. Yang pertama, adalah seorang karyawan PT Telkom, alumni STT Telkom Bandung, maaf sekali saya lupa namanya 😀 * murid kurang ajar*. Yang kedua adalah Pak Djungkung Prabowo, seorang karyawan pakarnya jaringan telekomunikasi di PT XL , alumni ITB Bandung. Dari kedua guru hebat ini saya belajar banyak tentang sistem telekomunikasi, teknik jaringan kabel, teknik switching, dll.

Keempat kurikulum ini dicampur aduk  jadi satu di sekolah kami. Jadi abis baca kitab kuning, kita belajar nyolder bikin perangkat elektronika. Habis hafalan hadist kita belajar bikin program. Semua campur aduk jadi satu. Tidak ada ilmu yang dianaktirikan. Semua ilmu sama-sama penting untuk dipelajari. Walaupun ndak kebayang juga waktu itu, betapa banyak ilmu-ilmu yang bersaing untuk  masuk dan mengendap di otak saya. Dan saya tidak pernah tahu mana dari ilmu-ilmu itu yang akan bermanfaat buat kehidupan saya selanjutnya. Selepas sekolah, jam 16.00 sore, saya harus mengejar pengajian kitab hadist jawahirul bukhori yang diselenggarakan sampai menjelang sholat maghrib. Setelah  jamaah sholat maghrib di Masjid utama pondok.

“Penderitaan” kami tidak berhenti disitu. Habis maghrib, kita wajib ngaji satu kitab kuning. Ada banyak pengajian kitab kuning, kita para santri dibebaskan memilih sesuai selera masing-masing. Saya lebih memilih ngaji kitab tafsir jalalain dan kitab minhajul abidin (kitab berat karya Imam Alghazali) dengan (alm) KH. Hannan Maksum. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu menjelang sholat isyak.

Habis sholat isyak, masih ada lagi sekolah di Madrasah Diniah yang khusus mendalami ilmu-ilmu agama seperti fiqih, taklim mutaalim, aqidah, nahwu shorof, dll. Luar biasa berat bebanya memang, sebagai santri biasa, saya sering tertidur tanpa sadar pas ngaji habis maghrib dan sekolah di madrasah diniah malam hari .  Sehingga kitab saya banyak yang bolong-bolong belum dimaknai (biasanya sambil membaca kitab klasik berbahasa arab tanpa harokat, kita menulis artinya dalam bahasa jawa dalam tulisan pegon/arab jawi) . Tapi itulah seninya menuntut ilmu. Biar ngantuk dan tertidur, satu jam di majelis ilmu lebih utama daripada sholat sunat 1000 rakaat. Dan meskipun kita tidak pernah tau, kapan dan ilmu yang mana yang akan bermanfaat suatu saat nanti. Pokoknya yang pentinig kita pelajari semua.

Itu hanya sekelumit cerita dari cerita panjang di kehidupan pesantren yang penuh makna, yang mungkin jika dituliskan akan menjadi trilogi Novel pendingin jiwa, *hayah…*. Tetapi pada intinya, misi dari Darul Ulum adalah mencetak generasi muda yang cerdas otaknya, secerdas otak orang-orang yang membangun peradaban di kota London, Inggris. Tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga bersih, bening dan suci hatinya seperti hati orang-orang yang sedang bersujud di masjidil haram di kota Mekah, Saudi Arabia.

**

Setelah 10 tahun meninggalkan bumi perjuangan Darul Ulum. Rupanya rapalan mantra yang berubah jadi mimpi itu. Hari ini, Allah berkenan merubahnya menjadi sebuah kenyataan yang sangat indah. Ya hari ini saya melihat kota London dengan mata dan kepala saya sendiri. Seakan sukma ku berteriak kencang-kencang  “LONDON, i am coming,  ini to….. yang namanya kota London itu”. *ternyata biasa saja *

di kota itu, Kusaksikan betapa megahnya Istana Buckingham, …..

indahnya tata kota London yang dikelilingi taman-taman kota yang Cantik dan menyejukan pandangan,

gagahnya Bigbang Tower, landmark kota London itu. Serta Romantisnya suasana di sekitar sungai Thames dan menakjubkanya London eye…

. Dan lebih indah lagi tentunya , ternyata Allah memberi kesempatan saya untuk menuntut ilmu di negeri nya ratu elisabeth ini selama tiga tahun kedepan. Alhamdulilahirabbilalamin… *maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?*

Jika Allah sudah memperlihatkan saya pada kota pertama dalam rapalan mantra bertuah itu. Mudah-mudahan Allah, berkenan juga memperlihatkan saya pada kota kedua dalam mantra bertuah itu. Masjidil haram di Mekah.  Entah kapan, Insya Allah. Toh, Jika Allah berkehendak, apa yang dikehendakinya terjadi maka terjadilah.

* Doa itu senjatanya orang  yang beriman, jika percaya, berdoalah, dan Tuhan pasti akan mengabulkan *