Advertisements

Tag Archives: Phd Life

Kapan Kita Ngopi Bareng Lagi?

… pada akhirnya candu aplikasi media sosial membuat kita merindukan bersosialiasi yang sebenarnya, salah satunya obrolan di warung kopi – a random thought

20160825_074035

Ilustrasi : Secangkir Kopi

Duh Gusti!, waktu sudah bergulir hampir di penghujung tahun saja. November, sebentar lagi Desember dan berganti dengan tahun baru kembali, ada apa? Argh, biarlah, kehidupan senantiasa berdenyut dengan segenap simpanan rahasia-rahasianya. Tak perlu mengira-ngira, tak perlu menganalisa.

Menjelang akhir tahun begini, suhu di kota ku, semakin mendekati suhu nol derajat celcius saja. Kalau cerah, matahari muncul sebentar saja. Tetapi, lebih seringnya suasana mendung, langit tertutup mendung kelabu sepanjang hari. Terkadang hujan gerimis sepanjang hari. Dan malam pun semakin panjang dari hari kehari. Hari sudah gelap, saat pukul 16.00. Sungguh suasana yang sangat sendu, apalagi jika sampean sedang kesepian memendam rindu dendam pada orang-orang tersayang yang jauh disana. Malam-malam dingin, sunyi nan panjang, adalah waktu yang tepat untuk memperangkap diri dalam jebakan ratapan duka.

Biasanya, aku adalah penikmat kesunyian. Malam-malam panjang yang sunyi adalah waktu yang sempurna untuk asyik dengan dunia ku sendiri. Dunia mahasiswa PhD ilmu komputer, yang lebih asyik bercengkerama dengan baris-baris kode program komputer dan alam pikiranya sendiri ketimbang bercanda ria dengan anak-istri. Bahkan hingga dini hari. Tak berlebihan jika ada yang menyebut manusia nerd, yang nyaris kehilangan kemanusianya. Empat tahun sudah berlalu, masa-masa jahiliyah itu mestinya akan segera berlalu.

Belakangan, karena beban fikiran untuk menyelesiakan tesis selama bertahun-tahun itu sedikit berkurang. Aku mencoba, menghidupi hidup dengan sedikit berbeda. Diantaranya menghabiskan akhir pekan dengan keluarga di rumah, dari sebelum-sebelumnya yang lebih sering kuhabiskan di lab. juga. Dan salah satu yang kucoba untuk memulihkan rasa kemanusianku adalah minum kopi bareng teman.

Mungkin diantara sampean adalah salah satu pecandu warung kopi. Memesan, secangkir kopi, rokok, lalu larut dalam obrolan dan guyonan berjam-jam. Kebetulan aku sebaliknya, aku bukanlah penikmat obrolan di warung kopi. Sepertinya aku adalah teman ngobrol di warung kopi yang paling menyebalkan di dunia. Aku pernah berfikir bahwa ngopi bareng teman adalah kegiatan paling mubadzir di dunia, membuang-buang waktu saja. Kalau ingat itu, rasanya aku merasa paling bersalah dengan teman-teman yang dulu rajin mengajak ku ngopi bareng.

Tetapi, ceritanya sedikit berbeda dengan belakangan ini. Kebetulan di kampus ku ada sebuah tempat nongkrong paling asyik buat mahasiswa post-gradutae, namanya graduate centre. Nah, di tempat ini disediakn teh dan kopi gratis unlimited. Belakangan, aku cukup sering nongkrong di tempat ini, bahkan kadang hingga larut malam. Bukan kopi dan teh gratisnya yang bikin nikmat, tetapi obrolan dengan teman sambil menyeruput kopi panas lah yang membuat suasananya istimewa.

Rupanya, obrolan dengan bermuwajahah langsung itu tak tergantikan nuansanya dengan obrolan di whatsapp, facebook, twitter, instagram, atau aplikasi media sosial apa pun namanya. Rupanya, mendengar perspektif kehidupan dari orang lain itu begitu mengasyikkan. Ternyata, menyimak seorang kawan bertutur tentang pengalaman hidupnya itu begitu memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan. Berdiskusi, beradu argumentasi dengan kawan dari latar belakang keilmuwan yang berbeda itu jauh lebih menggairahkan dari diskusi di konferensi-konferensi internasional bidang keilmuwan yang pernah kuhadiri sebelumnya. Tak sadar, orang-orang sekolahan menganggap dunia ini bak rumah besar yang tersekat-sekat menjadi kamar-kamar, layaknya tembok-tembok fakultas di universitas. Padahal, sejatinya dunia nyata adalah rumah besar satu ruang yang dapat dimasuki dari banyak pintu, pintu pemahaman kita masing-masing terhadap dunia yang kompleks. Itulah sebabnya, mendengar perspektif orang lain itu sama pentingnya mematangkan perspektif diri terhadap dunia yang kompleks ini.

Diskusi organic sebagai manusia-manusia biasa tanpa kepentingan di `warung’ kopi memang tak ada tandingan. Sayang, seringnya kita terjebak pada kesibukan-kesibukan dan urusan-urusan sendiri-sendiri masing-masing. Bahkan jika kebetulan ada kesempatan, kadang kita lebih asyik bermain dengan gadget kita masing-masing. Kadang kita enggan bersinggungan jika tidak ada kepentingan. Pada akhirnya candu aplikasi media sosial membuat kita merindukan bersosialiasi yang sebenarnya, salah satunya obrolan di warung kopi ini. Jadi, kapan kita ngopi bareng lagi? Kalau ada sumur di ladang, boleh kita numpang mandi. Kalau ada umur panjang, bolehlah kita ngopi bareng lagi.

 

Advertisements

Secangkir Kopi Rakyat

… terkadang kita hanya perlu berdamai dengan kepahitan hidup, agar kepahitan itu menjadi sebuah kenikmatan, seperti segelas kopi pahit yang lebih menggairahkan bagi para penikmat sejatinya – a random thought

secangkir_kopi_rakyat

Ilustrasi : Secangkir Kopi

Pulang larut malam, dengan wajah, hati dan pikiran kusut adalah my typical day selama menjalani hidup di kota ini. Sebelum beranjak ke ruang tidur, aku sering berlama-lama, menikmati my me-time di ruang tamu, hingga hitungan waktu telah berganti hari.

Terkadang ditemani secangkir kopi. Kopi pahit, tanpa gula. Bukan karena tak kuat membeli gula, atau takut diserang diabetes. Bukan pula, aku penikmat kopi sejati. Tetapi, entahlah, rasanya, kopi pahit bisa menjadi penawar segala rasa pahit di setiap rongga hati ini.

Malam ini aku menyeduh secangkir kopi spesial. Kopi rakyat aku menyebutnya. Dari bubuk kopi yang sangat bersahaja. Terbungkus plastik kiloan tipis, tanpa ada nama merek secuil pun dibungkusnya. Oleh-oleh dari seorang kawan satu perjuangan, saat pulang liburan menengok anak-anak dan istri di tanah air beberapa waktu yang lalu. Katanya, kopi itu dibeli dari si embah-embah tua yang berjualan di pasar tradisional, pusat ekonomi para rakyat jelata, di pinggiran kota Pekanbaru. Kopi itu lahir dari tetesan keringat dan kumpulan keperkasaan yang tersisa dari tangan-tangan si embah yang mulai mengeriput itu. Bukan dari mesin-mesin pabrik milik penguasa kapitalis itu.

Kuciumi aromanya, saat uap mengepul dari secangkir kopi yang baru aku seduh itu. Sungguh harum bersahaja. Mataku pun terpejam meresapinya. Alam pikiran ku pun terbawa ke awang-awang. Terperosok pada jebakan penggalan waktu dua puluh tahun waktu silam di kampung halaman.

Aku, yang hanya seorang bocah yang tidak istimewa. Kegirangan memanjat sepohon kopi yang buahnya sudah ranum kemerah-merahan di kebun belakang rumah. Memetiki buahnya yang harum, seharum bunga-bunganya  yang putih usai musim hujan tiba. Mengulumnya, mengelamuti daging buahnya yang tipis, lalu melepahnya. Nenek ku memunguti biji-biji kopi yang keluar dari mulut cucu kesayangan itu. Menjemurnya hingga kering. Lalu menggorengnya dengan kereweng, penggorengan tanpa minyak dari tanah liat itu, dengan perapian dari kayu bakar. Hingga biji kopi itu pun gosong, bagai arang hitam tapi amatlah harum baunya. Sang nenek pun menumbuk sendiri bongkahan biji-biji kopi hitam itu, didalam lesung dari kayu. Lalu, mengayaknya, hingga diperoleh bubuk kopi hitam yang lembut. Terakhir, menyajikan secangkir kopi hitam itu, untuk sang suami tercinta, yang duduk manis dalam sunyi, di kursi kesayanganya di ruang tamu. Di setiap pagi, dan senja hari.

Sang nenek adalah istri kedua kakek ku. Yang setelah sepeninggal kakek ku, nasibnya tidaklah aku tahu. Diboyong oleh anak satu-satunya dari suami pertama, beserta seluruh harta warisanya, tanpa tersisa. Kabarnya, hidup terlunta di pedalaman Papua saat itu. Dan tak satupun, kami yang tahu kapan sang nenek menghembuskan nafas terakhirnya. Argh, perjalanan hidup manusia sering kali tidak mudah ditebak. Kita tak pernah bisa memilih, dari rahim siapa kita dilahirkan, dan di belahan bumi yang mana kita akan dikuburkan. Do’a keselamatan dan kebahagiaan selalu untuk mu, Nek!

**

Malam ini, hingga tegukan terakhir pun, kopi rakyat masih tersisa. Meninggalkan cete, gumpalan ampas kopi  di dasar cangkir. Rupanya, kopi pahit pun menjadi terasa nikmat rasanya. Mungkin, begitu juga dengan kepahitan hidup. Pahit rasanya di hati, bisa menjadi kenikmatan jika kita tahu cara menikmatinya. Meskipun, seperti kopi yang masih meninggalkan cete, hidup tak akan pernah menjadi sempurna. Sudahlah, pahit atau manis, nikmati saja hidup ini !


Sarapan Minggu Pagi di Rumah ndoro Dosen

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. – QS: Alhujurat:13

 

daffodil

Bunga Daffodil, Nottingham

Hari ini, Minggu pagi di musim semi, cuaca di kota Nottingham begitu sempurna. Tidak dingin, tetapi juga tidak panas. Langit cerah membiru, tak segumpal awan pun menggantung. Mentari pagi, sinarnya menyempurnakan keindahan bunga daffodil dan tulip di taman yang sedang mekar sempurna. Membangunkan kuncup-kuncup daun, yang lelap tertidur di dalam ranting-ranting pohon-pohon yang kerontang selama musim dingin.

bungaTulipDiTaman

Bunga Tulip di Taman, Nottingham

Cuaca yang sempurna itu menyengat semangat emaknya anak lanang untuk beraktifitas di Minggu pagi. Berburu barang antik di Car Booth. Hiburan paling menggairah di kota ini. Awalnya, saya harus menemani. Alhamdulilah, sekarang sudah menikmati perburuanya sendiri ditemani anak lanang.

bungatulip

Bunga Merah Putih di Taman, Nottingham

Hari ini, saya dapat undangan “Sunday Morning Breakfast”, sarapan pagi , di rumah ndoro dosen, pembimbing riset kedua saya. Ini adalah undangan sarapan Minggu pagi dari beliau yang ketiga kalinya. Dan saya selalu menikmatinya. Naluri mahasiswa miskin di tanah rantau, yang tak pernah hilang, suka barang yang murah, apalagi yang gratisan.

Saya dan Raras, adek angkatan ku di ITS, datang terlambat sekitar 15 menit dari undangan jam 10 pagi. Sebenarnya keterlambatan itu tidak kami sengaja, hanya saja kami lupa rute jalan kaki ke rumah beliau yang membuat kami tersesat di jalan yang salah dan harus berputar balik cukup jauh.

Begitu kami sampai rumah ndoro dosen, kami langsung memulai sarapan pagi. Rupanya mereka telah menunggu kami. Ndoro dosen saya mengundang 12 orang pagi ini, yang hampir semuanya adalah anak-anak bimbinganya, anak-anak ideologisnya. Berbagai jenis makanan tradisional Turki terhidang melimpah di meja makan yang sangat besar. Aromanya teramat menggugah selera makan saya yang sepagi itu belum terisi apa pun.

Istri ndoro dosen saya  menjelaskan  dengan ramah, nama setiap makanan tradisi Turki itu. ” ini saya petik dari kebun belakang rumah kami sendiri di Turki lo” katanya dengan bangga, menunjuk kesalah satu jenis asinan buah. Sayang memori otak saya sangat terbatas, sehingga saya tak ingat satu pun nama-nama makanan Turki yang sulit diucapkan oleh lidah saya itu. Satu-satunya nama yang saya ingat adalah Muhammara, karena namanya yang kearab-araban yang artinya memerah, yaitu sambal kacang, walnut, dan cabe merah nan pedas rasanya.

Makanan_Turki

Makanan Turki

Diantara makanan-makanan itu, yang paling saya suka adalah apa yang dari mbah google saya tahu namanya, Sigara Boregi. Kriuk, renyah. lezat, nan nagih rasanya. Dan juga sambal terong, yang di Inggris cukup populer dengan nama EggPlant. Saya juga hanya sempat memotret makanan di piring saya saja. Malu, karena ternyata budaya memoto makanan sebelum dimakan itu ternyata  hanya budaya orang Indonesia. Ngumpul-ngumpul, makan-makan, terus menggelar pameran foto di facebook. Itu ndak banget buat orang-orang disini.

Sambil menikmati sarapan pagi, kami bercerita tentang hal-hal tradisi budaya negara kami masing-masing. Diantara kami, ada orang Turki, British, Cina, Arab, Iran, dan Jawa. Yah, mengenal dan memahami budaya bangsa lain selalu menarik perhatian saya. Untungnya, kami sama sekali tidak mendiskusikan tentang riset, apalagi kalau ada pertanyaan: Kapan Submit? Wah kalau sampek iya, pasti  akan mengurangi selera makan saya 100%.

Sang ndoro dosen terlihat paling menguasai pembicaraan. Beliau yang sudah dikaruniai dua orang putra itu merasa sangat beruntung. Meskipun sudah lama tinggal di Inggris, tetapi anak-anak mereka masih bisa belajar budaya Turki. Kedutaan besar Turki, mengirim guru-guru khusus, dikirim ke seluruh kota di Britania raya, untuk mengadakan ‘sekolah’ Turki seminggu sekali.

Di sekolah itu, bocah-bocah Turki belajar budaya Turki, budaya nenek moyang mereka. Belajar sejarah, tradisi, nasionalisme, bahasa, tulisan, bahkan Agama Islam versi Turki. Jaman boleh saja membuat manusia mengglobal, tetapi tak harus membuat mereka tercerabut dari akar budaya sendiri. Hidup boleh di negeri asing, tetapi tak seharusnya menghalangi mereka untuk mengenal leluhurnya sendiri. Bahkan, katanya, kedua putra ndoro dosen saya ini pun masih membudayakan tradisi cium tangan ke kedua orang tua lo.

“Kami muslim, dan sebenarnya saya tahu disini juga banyak sekolah Islam yang kebanyakan dikelola Pakistan. Tetapi, kami punya interprestasi Agama Islam yang berbeda” istri ndoro dosen saya menambahi.

Memang dibanding Islam di timur tengah dan asia selatan, yang cenderung fundamental. Islam di Turki lebih terbuka, berdialektika dengan budaya barat, mirip-mirip dengan wajah Islam Indonesia yang terbuka dengan pengaruh budaya lokal. Seperti keluarga ndoro dosen ku ini, meskipun mereka mengaku Muslim, tetapi tidak pernah sholat, istrinya juga tidak memakai jilbab. Beberapa teman Turki saya yang lain ada yang tidak pakai Jilbab tapi rajin sholat lima waktu, dan ada juga yang masih memakai jilbab dan rajin sholat. Jilbabnya lebih mirip muslimah Indonesia dan Malaysia pada umumnya. Tidak terlalu gondrong seperti perempuan-perempuan Arab.

Selain tentang tradisi dan budaya, kami juga ngobrol masalah pendidikan, yang semakin hari semakin menjadi komoditas bisnis. Bukan rahasia lagi, kampus-kampus di UK ini mencari mahasiswa internasional sebanyak-banyaknya untuk mengeruk keuntungan. Diantara negara Eropa lainya, Inggris memang yang paling ambisius mengeruk untung dari komoditas pendidikan dengan biaya yang sangat-sangat mahal. Padahal di Jerman, pendidikan sampai Universitas sampai sekarang masih gratis, bahkan untuk mahasiswa internasional.

Sama dengan di Indonesia, rupanya di Cina dan Turki pun mengalami permasalahan yang sama: kapitalisasi pendidikan. Universitas negeri yang murah dan bagus, jumlahnya sangat terbatas, dan dari hari kehari semakin mahal spp nya. Sekolah-sekolah pemerintah, semakin turun kualitasnya, tersaingi sekolah-sekolah swasta yang sangat mahal dan tak terjangkau kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Yah, begitulah sistem dunia kita saat ini, orang-orang semakin hidup individual dan kehilangan sense komunalnya. Uang menjadi Tuhanya. Kalau sampean ingin menjadi somebody sampean harus punya banyak uang. Kalau tidak, yah bersabarlah menjadi ampas dari sistem kapitalisme. Yang kaya semakin digjaya, yang miskin menjadi semakin rapuh tak berdaya. Padahal, ketika kita akan lahir di dunia ini, kita tak pernah bisa memilih lahir di tengah keluarga kaya raya atau keluarga miskin papa.

Beruntunglah, jika masih ada Tuhan Yang Maha Kuasa di hati mu. Kita hidup semata karena kehendaknya jua. Bukan kehendak Tuhan Uang yang hanya saja seolah sangat berkuasa.

***

Tak terasa kami larut dalam jagongan yang gayeng  itu hingga tengah lari. Saat kami mesti pamit, undur diri melanjutkan cerita dalam alam pikiran kami sendiri-sendiri, menghabiskan sisa hari. Matur nuwun!


Tips Sukses Menjalani PhD Life Ala Mbak Maryati, PhD

…. support keluarga dan doa orang tua adalah hal terpenting selama perjalanan PhD saya. – Mbak Maryati, PhD

tips_phd_7

Ilustrasi : Diskusi (Jubilee Campus, Nottingam, 2013)

Setiap orang memiliki definisi sendiri tentang arti kesuksesan. Begitu juga setiap orang memiliki cara sendiri untuk mencapai kesuksesanya sendiri. Banyak jalan menuju Roma, begitu juga banyak cara untuk mencapai sukses. Cara orang lain belum tentu cocok untuk kita ‘copy paste’ menjadi cara kita. Karena pada dasarnya setiap dari kita memang diciptakan istimewa. Tetapi tak pernah salah jika kita mau belajar dari pengalaman orang lain. Jika semut punya kearifan untuk mengikuti jejak jalan yang paling optimal menuju sumber makanan. Kita pun, sebagai manusia, bisa menjejaki jejak kesuksesan orang lain. Meskipun tidak seharusnya, seutuhnya sama. Yang jelas, jangan pernah terperosok ke jurang yang sama dengan orang lain.

Hampir semua orang setuju, kuliah ditingkat PhD itu tidaklah mudah. PhD is different education level. Ini sekolah, bukan sekedar duduk di bangku kuliah, mendengarkan dosen bicara, ikut ujian, kemudian lulus. Bahkan, di Eropa PhD itu tidak perlu duduk di bangku kuliah sama sekali. Banyak yang berhasil, tetapi juga tidak sedikit yang gagal di tengah jalan.

Nah, beberapa hari yang lalu, saya berhasil mewawancarai seorang Mahasiswa Indonesia yang baru saja menyelesaikan studi PhD nya dari School of Pharmacy, The University of Nottingham dengan beasiswa dari Islamic Development Bank (IDB). Namanya, Mbak Maryati. Beliau adalah dosen di Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo. Setelah menempuh studi penuh dengan perjuangan berat selama lebih dari 4 tahun, alhamdulilah, akhirnya beliau bisa menyelesaikan dengan sangat baik. Memang tidak pernah ada perjuangan yang sia-sia.

wisuda_2

Celebrating Success. Mbak Maryati, PhD

Apa saja kita sukses PhD ala mbak Maryati, PhD. Berikut wawancara saya dengan beliau:

Semoga bermanfaat ! Semoga kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman mbak Maryati dan menjejaki jejak kesuksesan beliau. Semoga kita yang sedang berjuang menyelesaikan PhD diberikan selalu semangat, kepercayaan diri, dan kesuksesan. Insya Allah kesuksesan itu sudah sangat dekat. Selamat berjuang teman ! Matur nuwun Mbak Mar sudah berbagi pengalamanya ! Semoga semakin sukses kedepanya.


The PhD Journey : A Flashback

“Winners are losers who got up and gave it one more try.” —Dennis DeYoung

kebersamaan_kawan

A Friendship

Again, today I got another regretful news from one of my best friends from the same batch and scholarship sponsor that got his studies terminated. Indeed, I am so sorry to hear that. I still remember, how we start this long and painful journey together. Supporting each other in very frequently not easy stages. Offering a helping hand when one of us in need. Sharing foods and joys just to kill the loneliness of being apart from our beloved ones. Till the day when we could live a life with our beloved ones came and we kept supporting each other though in a little bit distant.

Then, now, it is almost, three summers have gone by and one by one of us, eventually found what everyone really expects not to happen. But, it really happened. And we found no clue how to solve the ‘puzzle’. Since this life is so unique life experience. Finally, I do understand what people said that PhD is a different education level, a painful journey, the most requiring commitment endeavor in life after a marriage.

I am not sure whether it happens for each single PhD journey. But, I saw by my self that many people failed to complete successfully this journey. Even, I know in my cohort from the same research group, there have been 5 people did not complete their endeavor till the finish line. And I am still wondering whether I could finish this journey or not. But, indeed I do hope I will. I swear to my self to give one more try for each single effort to finish this journey safely and happily.

When I was trapped into doubt, the only thing I can do to conquer is believing. At this point, I do feel fortunate that I am destined to believe in God. Yeah, try, pray, pray and pray. I do understand that even understanding and managing ourselves is, more than sometimes, the most challenging one in life. It indicates that there is some one else, that actually manage and guide is. It is no other than God. I can’t imagine when I were an atheist, I don’t know the place where I can go to weasel and submit whatever that make me surrender.

To whom who have decided to quit or being terminated, hopefully, it is only a matter of defining different meaning of our success. To whom struggling to reach the finish line, never give up! May Allah ease our step to reach it. Hopefully, each of us deserve for a happy ending. Ammiin.