Advertisements

Tag Archives: PhD di Inggris

MIKIR, Idiot !

Think 8 hours x Work 2 hours #darikaosoblongseorangteman

 

mikir_idiot

Ilustrasi: Pesan ndoro dosen, MIKIR!

Saat memulai studi PhD dulu, saat masih berkutat dengan yang namanya studi literature, saya sangat terkesan dengan setiap artikel ilmiah yang ditulis oleh orang British. Jelas terasa sekali bedanya antara artikel tulisan orang British dan non-British, apalagi dibandingkan tulisan orang Indonesia. Sangat enak dibaca, seperti membaca sebuh dongeng yang alurnya runut, sekaligus sangat mudah dipahami, bahkan oleh orang yang sangat new bie di bidang nya seperti saya pada saat itu.

Sekarang, tiga tahun kemudian, di penghujung studi PhD saya, saat saya harus menulis tulisan ilmiah ala orang British. Betapa, ternyata membuat tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami itu sangat-sangat tidak enak dan sangat-sangat sulit sekali. So painful, indeed. Bahkan diakui oleh ndoro dosen pembimbing riset saya sendiri, yang asli orang British dan sudah senior di bidangnya. Beliau bilang: “saya butuh diskusi dengan kolega berbulan-bulan hanya untuk memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan data hasil penelitian saya”.

Di setiap draft tulisan saya, selalu dikomentari:

Kamu ini hanya menuliskan bahwa kamu telah melakukan eksperimen ini dan itu dan hasilnya begini, titik ! Kamu tidak pernah MIKIR untuk menjelaskan WHY ekperimen “ini dan itu” itu kamu lakukan, dan menjelaskan SO WHAT dengan data hasil eksperimen itu. Tidak sopanya lagi, kamu tidak pernah MIKIR pembaca yang akan membaca tulisan kamu ini. Ingat, kamu menulis itu bukan untuk diri kamu sendiri tapi untuk pembaca, jadi pastikan setiap kalimat yang kamu tulis, tanyakan pada dirimu sendiri: apakah pembaca kira-kira ngerti apa tidak?

Dan tolol nya, saya masih saja melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Ampun, Ndoro! Sungguh tidak mudah seorang penulis di saat yang sama harus menempatkan diri sebagai seorang pembaca yang kritis.

Tapi terlepas dari tulis-menulis, dibanding orang Barat, ada satu hal yang fundamental yang menurut saya luput dari budaya orang Indonesia pada umumnya, yaitu budaya MIKIR JERU. Saya jadi teringat salah satu guyonan tentang otak orang Indonesia versi Gus Dur:

Akisah, ada pameran otak orang-orang sedunia. Ada otak orang Jepang, US, Jerman, termasuk otak Indonesia. Saat pelelangan, ternyata otak Indonesia lah yang paling mahal. Lowh kok bisa? usut punya usut karena kondisi otak Indonesia masih mulus, karena jarang dipakai, sedangkan otak negara-negara maju lainya kondisinya sudah aus.

Hahaha :D. Harus kita akui memang sejak kecil dari TK, bahkan sampai di Perguruan Tinggi, otak kita dididik hanya untuk menghafalkan kumpulan fakta. Sekarang lebih parah lagi, ketika fakta-fakta itu sudah dapat dengan mudah ditanyakan ke mbah Google. Informasi begitu mudah direproduksi dan disebarkan, dengan ‘copy paste’ dan media sosial. Otak kita dipakai untuk apalagi?

Tidak heran, jika pada akhirnya ketika negara-negara maju punya budaya  membaca dan menulis, dan riset yang sangat kuat, kita bangsa Indonesia masih berkutat pada budaya menonton. Yah, karena dibanding membaca dan menulis, menonton adalah kegiatan yang paling tidak pakai otak. Apalagi menonton acara-acara tidak mutu di TV itu.

Budaya malas MIKIR JERU ini, menurut saya dampak negatifnya banyak sekali dalam kehidupan kita. Kenapa sampai sekarang sekarang sistem pendidikan kita masih berkutat di hafalan saja? ya karena metode hafalan lah metode pembelajaran paling mudah untuk diterapkan, tanpa banyak MIKIR. Apa susahnya menyuruh siswa untuk menghafal?

Demikian juga dalam beragama, banyak yang memahami agama hanya sebagai kumpulan aturan hitam dan putih, kalau yang seperti ini benar berarti yang tidak seperti ini salah, kalau kelompok kita masuk syurga, kelompok lain pasti ke Neraka. Kenapa demikian? yah karena itulah cara memahami agama yang paling mudah, tidak perlu banyak mikir. Padahal, dalam islam misalnya, berapa banyak ayat Alquran yang berakhiran, “la’allakum ta’qiluun” – supaya kamu MIKIR. Banyak juga ayat-ayat Alquran, yang merangsang untuk riset, seperti:

Apakah kamu, tidak memperhatikan bagaiman Unta diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Ini kan pesan-pesan agama, untuk menggunakan karunia akal kita, untuk mikir, yang akhirnya melahirkan budaya riset, seperti di Barat, bukan?

Hal yang sama mungkin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kenapa anugerah Tuhan berupa negeri yang subur, gemah ripah lowh jinawi ini tidak kunjung membawa kemakmuran rakyatnya. Yah, mungkin karena para pemimpinya tidak pernah mikir jeru untuk menyejahterakan rakyatnya. Yang ada hanyalah kumpulan para pemimpin yang berpola pikir pragmatis, jangka pendek, dan kepentingan sesaat. Akibatnya?

Jangan heran, jika negeri yang 70% nya laut harus impor garam. Negeri yang punya gunung emas yang tidak habis dikeruk berpuluh-puluh tahun, tapi rakyatnya masih hidup sangat terbelakang. Negeri yang tanahnya katanya tanah syurga, tongkat dilempar jadi tanaman, tapi harus impor beras, kedelai, dan hampir semua produk pertanian lainya. Negeri yang dikarunia padang rumput yang luas, tapi harus impor daging sapi dan susu. Negeri yang dianugerahi sebagai penghasil kakao terbesar di dunia, tapi harus impor coklat.

Masya Allah. Ini ya tidak lain karena pemimpin-pemimpinya yang males mikir jeru, bagaimana mengubar sumber alam yang melimpah itu menjadi keberkahan, menghasilkan kemakmuran. Cara yang paling mudah, dan tidak perlu mikir banyak ya dengan menggadaikanya ke negara lain. Dapet uang cepat yang tidak seberapa, tapi sumber daya alam yang melimpah itu buat bancaan negara lain. Mereka orang asing itu menjadi tuan, rakyat disuruh kerja, kerja, dan kerja jadi tukang dan buruh mereka, pemimpin-pemimpinya hanya menjadi penonton nunggu setoran.

Jika, pas ulang tahun kemerdekaan ke-70 kemaren pemerintah meminta rakyat Ayo Kerja! padahal sedang musim PHK masal. Boleh dong rakyat meminta pemimpin-pemimpinya untuk Ayo Mikir Mikir Mikir Mikir dan kerja! kapan kita jadi tuan di rumah sendiri, pak? bosan pak, kita hanya jadi tukang, buruh dan babu di negeri kami sendiri.

Argh memang, setiap yang membutuhkan otak untuk berfikir keras tidak pernah menyenangkan, so painful. Tetapi, akibat jangka panjang males mikir itu lebih menyakitkan. Jadi, sampai kapan kita tetap menjadi bangsa yang malas mikir?

Advertisements

Bersepeda Ke Sekolah bersama Ayah

… salah satu momentum paling berarti sepanjang kehidupan seorang laki-laki adalah ketika ada ‘malaikat’ kecil yang memanggilnya: ” AYAH !!!” – A Random Thought

ilyas_sekolah_1

Get Ready: Bike to School

Bumi tak pernah lelah dan tak pernah terlambat, menuruti hukum Tuhan, mengelilingi Matahari. Dan bulan September pun kembali datang. Menandai berakhirnya liburan musim panas yang panjang dan kembalinya anak-anak ke sekolah. Back to School.

September ini, berarti saya sudah tiga tahun di UK. Dan ternyata saya belum lulus. Berarti target yang saya buat waktu baru memulai tiga tahun yang lalu dulu meleset. Hahaha. Waktunya menertawakan diri sendiri. Yah, jalan yang saya pikir halus mulus, ternyata terjal, banyak tanjakan, dan berliku. Tapi merutuki hidup tidak ada artinya, lebih baik, meminjam istilah Prof. Komaruddin Hidayat, merayakan festival kehidupan ini. Dan terus bergerak, menuju tujuan.

September ini, Ilyas, diusianya yang 4 tahun, memasuki sekolah yang baru. Setelah selama setahun kemaren sekolah di Nursery School, tahun ini Ilyas masuk di kelas Reception di Primary School. Sekolah yang membuat setiap anak di negara ini merasa sangat senang dan excited di dalamnya.

Kalau sebelumnya, sekolah nursery berada di belakang rumah dan hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki dari rumah. Untuk sekolah baru ini, berada cukup jauh dari rumah. Hampir 30 menit kalau ditempuh jalan kaki. Nama sekolah baru tersebut adalah Berridge Primary School.

ilyas_sekolah_3

Seragam Sekolah Baru

Sebenarnya, ada Primary School di belakang rumah, tetapi entah kenapa hasil registrasi online kemaren, dapat sekolah pilihan yang ke 4. Padahal saya memilih berdasarkan, jarak terdekat dari rumah. Pengalaman dari teman, agar dapat sekolah yang diinginkan sebaiknya diisi dua pilihan sekolah saja dari lima pilihan yang disediakan. Yah, sayang tahunya baru setelah ada pengumuman diterima.

Karena jarak dari rumah jauh, kali ini Ilyas harus dibonceng ayah naik sepeda. Sepeda ayah terpaksa harus dipasang baby seat di belakangnya. Hehe, Ilyas ternyata sangat menikmati dibonceng naik sepeda. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya dia menyanyi girang. Apalagi kalau jalanya menanjak atau menurun ekstrim. Faster, faster, Ayah ! Alhamdulilah, saya pun juga sangat menikmatinya. Kebersamaan dengan si kecil diatas sepeda seperti ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidup saya.

ilyas_sekolah_2

Fasten the seat belt and Go !

Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di gerbang sekolah. Hari ini, karena hari pertama masuk sekolah, para staf sekolah terlihat lebih sibuk dari biasanya. Untuk melayani orang tua seperti saya yang belum tahu dimana kelas anaknya. Dan juga melayani pembelian seragam sekolah.

Sekolah hanya menyediakan jumper, seharga £ 6.5 itu pun tidak wajib sebenarnya. Untuk seragamnya bisa di beli di super market terdekat. Di Asda, 2 buah seragam atasan harganya hanya £2.5 . Sementara bawahanya hanya £3. Harga yang sangat murah untuk ukuran di UK ini. Lebih murah dari harga kentang dan ayam goreng di warung-warung Pakistan.

Seorang Ibu guru British, yang cantik dan funky (bibirnya ditindik, dan anting2nya tidak konvensional), mengantarkan kami sampai di depan kelas. Ilyas ditempatkan di Kelas Holy. Di depan kelas, seorang ibu guru yang lain sudah menunggu menyambut kami. What’s your name? tanyanya ke Ilyas dengan ramah. Ilyas jawab Ilyas dengan malu-malu. Kemudian sebuah stiker bertuliskan Ilyas ditempelkan di jumper Ilyas sambil mempersilahkan kami masuk kelas.

ilyas_sekolah_4

Feedback from his Teachers in the first Week

Di dalam kelas ada tempat gantungan jaket yang ada gambar dan nama masing-masing murid. Untuk ilyas dapat gambar pelangi, yang mungkin waktu otak saya lagi error, saya sebut it is umbrella. Yang kemudian dikoreksi sama Ilyas, No Ayah, it is a rainbow !

Setelah menggantungkan jaket, setiap murid yang datang harus memindahkan batu-batu kecil ke dalam kantong kain. Di batu-batu kecil itu, terlukis nama masing-masing surid. Dan setiap murid harus bisa menemukan namanya, dan memindahkan ke kantong kain. Eits, meskipun Ilyas belum bisa membaca, ternyata dia bisa mengenali namanya.

Di dalam kelas, murid-murid duduk mengelilingi seorang Ibu guru yang duduk di sebuah kursi dan sedang berusaha menangkan seorang muridnya yang sedang menangis tersedu-sedu. Saya pun meninggalkan ruang kelas itu dan kembali di rumah.

Mulai usia 4 tahun ini, sistem pendidikan di Inggris mewajibkan murid berada di sekolah dari jam 9 pagi hingga jam setengah 4 sore. Entah mata pelajaran apa yang diajarkan untuk bocah-bocah kecil yang masih suka menangis itu, sehingga mereka harus belajar selama itu. Yang jelas, setiap murid mendapatkan makan siang gratis di sekolah. Sekolahnya pun 100% gratis tis. Dan tidak pakai ribet. Pendaftaran hanya mengisi formulir online yang tidak banyak isianya, dan tidak pakai upload dokumen apa pun. Sudah habis itu, langsung masuk sekolah. Indeed, menyenangkan sekali pelayanan publik di Trust Society di negara maju seperti Inggris ini.

***

Di hari yang sama, seorang kawan yang baru saja pulang dari Inggris dan kembali ke Indonesia, curhat tentang ribetnya ngurusi sekolah anak-anaknya kembali di Indonesia. Apalagi, hampir 5 tahun sudah terbiasa dengan pelayanan serba mudah di Inggris.

Sudah lama jadi tren di kalangan kelas ekonomi menengah ke atas di perkotaan bahkan di daerah, bahwa sekolah dasar negeri tidak lagi diminati. Sudah distempel tidak maju dan ketinggalan jaman oleh para orang tua yang berada. Sebagai pengganti adalah SD full day yang ada labelnya Islam Terpadu, atau nama-nama yang kemarab. Konon sistem pendidikanya lebih maju, lebih islami, lebih mengedepankan pendidikan karakter dan sebagainya. Sehingga para orang tua pun tak keberatan meskipun harus membayar puluhan juta untuk biaya pendaftaran dan tentu saja biaya bulanan yang juga pastinya sangat mahal.

Sang Kawan pun, karena juga dari kelas ‘islam borjuis’ tak mau setengah-setengah dalam hal pendidikan anak-anaknya. Sekolah sejenis yang katanya salah satu yang terbaik di kotanya pun menjadi pilihan. Tetapi, ternyata kata sang kawan sekolah tersebut tak sebagus yang dibayangkan. Selain ribet administrasinya, anak-anaknya yang terbiasa sekolah di Inggris merasa tidak nyaman di sekolah dan mengatakan sekolahnya tidak bagus.

” Ibu, the school is not good. The students are uncontrolled. They are fighting and shouting”. Begitu kira-kira curhatan anak-anak kepada emboknya. Yang membuat anak-anak menjadi takut pergi ke sekolah. Hal sangat berkebalikan ketika mereka sekolah di Inggris.

Yah, hidup di Indonesia memang selalu lebih Challenging ! mudah-mudahan kita terus mau berbenah.