Tag Archives: pesantren

Pesantrenku dan Hingar Politik Banyuwangi 2014

“… akhirnya syahwat politik pesantren ku tak tertahan juga, semoga saja tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis seperti yang sudah-sudah hingga kehilangan kebarokahan dan kekaromahan nya”.

pkb_bwi01

Alhamdulilah, liburan natal tahun 2013 ini saya bisa pulang ke Tanah Air. Istirahat sebentar, sekedar melepas kejenuhan dan mengisi ulang gentong semangat untuk menyelesaikan ‘ngaji’ PhD saya di sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham, UK yang baru berada di pertengahan jalan ini.

Yah, kata orang bijak, dalam meraih sesuatu terkadang kita perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang dan bersyukur. Terkadang kita juga butuh mundur beberapa langkah, untuk ancang-ancang mengambil seribu langkah lebih cepat serta meloncat lebih tinggi ke depan. Semoga saja, ini bukan alasan untuk menyembunyikan kemalasan ku.

Lebih menyenangkan lagi, liburan kali ini saya bisa membawa anak istri saya pulang kembali ke desa halaman. Lebih tepatnya, sebuah dusun kecil bernama Wringinpitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Di dusun kecil di pinggiran kali setail inilah kehidupan saya di dunia ini dimulai, dan entah di belahan bumi yang mana hidup saya akan diakhiri. Mungkinkah akan berakhir jua di dusun kecil ini? Entahlah, kita tidak perlu bermain teka-teki dengan rahasia Tuhan.

Selain sowan ke emak bapak, dan sanak saudara. Yang paling membahagiakan buat saya adalah menciumi aroma kehidupan pedesaan yang masih ‘perawan’. Belum banyak ternoda penjahat konsumerisme yang menjadi gaya hidup di jaman ‘agama’ kapitalis ini. Di sinilah saya masih merasakan bahwa tidak setiap barang dan kebaikan jasa, bahkan setiap detik waktu ada label harganya.

Di sela beberapa hari di kampung halaman, saya menyempatkan ‘nyambangi’ adek bungsu saya yang masih ‘nyantri’ di pesantren Darussalam, di desa Blokagung, kecamatan Tegalsari (sebelum pemekaran masuk kecamatan Karangdoro), Banyuwangi. Pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi ini almamater saya juga. Di pesantren inilah saya belajar banyak tentang makna hidup, serta kesederhanaan dan kebersahajaan dalam menjalani hidup.

Ada yang menarik di sepanjang perjalanan dari desa saya ke pesantren selain pesona alamn yang hijau. Yaitu alat peraga kampanye para calon anggota legislatif dan partai politik berupa sepanduk dan baliho yang jumlahnya sangat banyak di sepanjang jalan. Seolah menjadi pertanda bahwa hingar bingar politik menjelang pemilu 2014 telah dimulai. Bahkan spanduk-spanduk itu ada juga di Gerbang bahkan di dalam pesantren.

Beberapa wajah di spanduk-spanduk itu nampak sangat familiar bagi saya. Bahkan dintaranya kawan ‘dekat’ saya di media jejaring sosial. Mereka tak bukan adalah pemilik darah biru trah ‘kerajaan’ pesantren terbesar di Banyuwangi tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, baru kali ini keluarga pesantren ini pada akhirnya terjun ke politik praktis, setelah sebelumnya adem ayem tak kepincut rayuan politik.

Satu lagi yang menggelitik dari isi spanduk-spanduk itu. Ada partai yang pemimpin nya sekarang pernah melawan dan berseberangan dengan Gus Dur karena kepentingan pragmatis, sekarang kembali mendompleng nama besar Gus Dur. Padahal, kalau boleh meminjam bahasanya Mbak Yenny Wahid, partai itu dulu Ibarat kereta api dengan lokomotif Gus Dur yang gerbongnya diserobot oleh Pemimimpin partai itu sekarang. Terlalu kecilkah partai ini tanpa sosok Gus Dur?

**

Sebenarnya sama sekali tidak ada yang salah jika pada akhirnya keluarga pesantren terjun ke partai politik. Partai politik berkepentingan mengumpulkan suara rakyat dan pesantren diakui atau tidak faktanya memiliki pengaruh yang sangat besar pada masyarakat ‘grass root’ di pedesaan.

Saya (S) iseng bertanya sama Kang Anshori (A), adik sepupu saya, yang sedang duduk nyetir mobil di sebelah kanan saya.

S: “Kang, gek sampean ono sing kenal kambel caleg-caleg iku kang?”

A: “Ndak, mas …”

S: ”Lah terus, misale sesuk pemilu sampean pilih sing ngendi?”

A: “Wah mas, yen wong kene ki opo jare pak kyai. Misale kyai Plampang ngongkon milih A, yo kabeh milih A, hehe “.

S: “Oh ngunu, yo mas”.

Soal kualiatas caleg dari pesantren ini juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Satu diantaranya saya tahu bergelar bergelar master lulusan salah satu Universitas Islam di temur tengah. Satunya lagi aktivis perempuan, punya gelar master (MA), lulusan salah satu Universitas Terbaik di US dan sekarang sedang menyelesaikan double degree PhD nya di UGM dan kampus di US.

Tujuan politisnya pun juga sangat jelas. Kalau bukan para orang cerdas dan santun dari pesantren semacam ini, siapa lagi yang bisa dipercaya memperjuangkan nasib para konstituen pesantren yang kebanyakan para petani miskin tak berdaya di desa-desa. Merekalah calon perumus kebijakan, yang akan menentukan nasib bangsa ini, ya termasuk para petani miskin desa itu.

Akan tetapi ada hal yang perlu digaris bawahi dengan terjun nya orang Pesantren ke ranah Politik Praktis. Yaitu diperlukan kehati-hatian. Jika tidak hati-hati, alih-alih mau memperjuangkan nasib umat, bisa-bisa malah membuat umat tercerai berai dan kyai dan pesantren kehilangan karismanya.

Sudah banyak contohnya, pesantren-pesantren besar di Jombang contohnya. Gimana umat tidak bingung, jika dalam satu pesantren saja para kyainya tidak kompak. Para kyainya rebutan suara santrinya dengan afiliasi partai yang berbeda-beda.

Satu lagi contoh, tidak usah jauh-jauh, keterlibatan salah satu orang pesantren yang terletak beberapa kilometer dari pesantren ini di ujung timur kabupaten Banyuwangi ke politik praktis berakhir cukup tragis. Sang orang pesantren harus mendekam di balik jeruji penjara karena kasus korupsi. Kalau sudah begini, mau ditaruh dimana kehormatan Pesantren?

pkb_bwi02

Saya pribadi termasuk orang yang kurang sreg jika pesantren dibawa-bawa ke ranah politik praktis. Biarlah pesantren membangun umat secara kultural dengan caranya sendiri seperti NU yang terlepas dari partai politik. Jika personal terjun ke politik, boleh-boleh saja. Tetapi membawa gerbong pesantren ke politik praktis sangat berbahaya.

Memang selalu tidak ada keputusan yang sempurna dalam hidup ini. Walaupun akhirnya syahwat politik pesantren ku ini tak tertahan juga, semoga saja tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis seperti yang sudah-sudah hingga kehilangan kebarokahan dan kekaromahan nya. Semoga Tuhan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin amanah yang senantiasa diridloi Allah Swt. Semoga saja, Allahumma Ammiin.

 


Warisan Budaya Leluhur, Jati Diri, dan Masa Depan Bangsa Kita

… Bangsa yang akan menjadi bangsa besar adalah bangsa yang mampu berdiri tegak di atas punggung warisan budaya leluhurnya.

Alkisah ada seorang pakar pendidikan di Indonesia diundang sebagai pembicara tamu dalam sebuah Seminar Kependidikan Internasional di Universitas Manchester Inggris. Dalam presentasinya beliau memaparkan tentang spiritualisasi dalam Pendidikan. Dengan bangganya beliau memaparkan paradigma-paradigma paling mutakhir  dalam dunia pendidikan dari berbagai profesor dan  pakar pendidikan di Dunia. Di antaranya beliau  memaparkan tentang paradigma Active Learning dan Mastery Learning.

Setelah memberikan presentasinya,  ada seorang Profesor dari Universitas Leed Inggris menyamperin beliau, dan terjadi perbincangan sebagai berikut:

Prof Leed : Pak, bapak tau mengenai Active Learning?

Pakar Indonesia : Iya saya tahu, emangnya kenapa Prof?

Prof Leed : Taukah anda, Bapak Ki Hajar Dewantoro sudah membicarakan tentang Active Learning sejak tahun 1941. Ki Hajar sudah memperkenalkan paradigma itu sejak 70 tahun lalu dengan Tut Wuri Handayani nya. Mengenai Mastery Learning, ki Hajar  juga sudah memperkenalkan dengan konsep Ing Ngarso Sung Tulodo nya.

Pakar Indonesia : Ohya *Malu setengah mati*.

**

Di atas adalah salah satu potret kecil bagaimana kita, orang Indonesia sudah lupa siapa diri kita sebenarnya sebagai sebuah bangsa. Bagaimana bangsa lain justru lebih tahu tentang bangsa kita dari pada kita sendiri.  Dan kita baru sadar setelah diingatkan oleh bangsa lain yang mempelajari budaya bangsa kita, atau ketika kearifan bangsa kita dipakai atau di klaim orang bangsa lain.

Dalam hal pendidikan misalnya, bagaimana kita sudah lupa siapa kita di pendidikan kita. Kita sudah kadung terkena virus rendah diri komplikasi akut, sehingga mentah-mentah mengadopsi sistem pendidikan dari luar untuk gagah-gagahan dengan cap standar internasionalnya, yang justru bisa jadi tidak sesuai dengan akar budaya bangsa kita. Kenapa tidak belajar dan mengembangkan dari warisan budaya leluhur kita sendiri. Kenapa dalam pendidikan kita tidak mewarisi dan mengembangkan konsep pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro, Bapak pendidikan kita sendiri? Saya sangat yakin hal-hal yang telah dikembangkan oleh leluhur kita itu tidak dibuat dengan cara ngawur, tetapi dibuat dengan kajian filosofis yang sangat dalam.

Konon, justru konsep pendidikan yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantoro itu saat ini malah dikembangkan dan diterapkan di negara Jepang dan Singapura. Di Jepang, Filosofi tiga dinding yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantoro saat ini telah dijadikan standard kelas sekolah-sekolah di Jepang. Begitu juga dengan sistem pendidikan di Singapore yang membagi sekolah menjadi sekolah negeri, sekolah swasta, dan sekolah swasta yang disubsidi pemerintah diakui diadopsi dari sistem pendidikan yang diperkenalkan ala Ki Hajar. Bahkan salah seorang pakar pendidikan di Singapore pun pernah mengatakan Jika saja Indonesia memakai dan ingat filosopi pendidikanya Ki Hajar Dewantoro, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling maju ke depan.

tiga dinding

Ini baru satu contoh potret kecil dalam bidang pendidikan dari banyak aspek kehidupan yang dapat dipelajari dari warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang ternyata sangat luar biasa. Sebagai sebuah bangsa besar, yang terkenal kejayaanya sejak jaman Sriwijaya kemudian jaman Majapahit, Kerajaan Mataram, tentunya banyak sekali capaian-capaian mengagumkan dalam berbagai aspek kebudayaan manusia. Saya sangat yakin, leluhur kita memiliki capaian yang tinggi dalam Teknologi bangunan, teknologi maritim, teknologi pertanian, teknologi pertahanan, industri, bidang hukum dan kemasyarakatan dan sebagainya tentunya.

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah kenapa kita tidak terwarisi capaian besar nenek moyang kita yang konon katanya luar biasa itu?dan jika pertanyaan itu boleh dilanjutkan, dimana kita bisa belajar capain-capain luar biasa nenek moyang kita itu?

***

Ketika saya berada di Inggris ada satu hal dari beberapa hal penting dari orang Inggris yang menurut saya patut untuk ditiru, yaitu budaya menghargai dan mempertahankan tradisi leluhurnya dan budaya dokumentasi atau knowledge management yang sangat luar biasa. Sebenarnya, saya mendapatkan teori ini justru ketika saya belajar di pesantren, lembaga pendidikan tertua di Indonesia sebelum mengenal adanya sekolah dan universitas. Di pesantren-pesantren NU  pada umumnya, setidaknya di dua pesantren tempat saya pernah ngaji  yaitu pondok pesantren darussalam blokagung banyuwangi dan pondok pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Ada satu maqalah yang dijadikan filosofi dalam pengembangan sistem pendidikan di  pesantren, yaitu:

“al-muhafadhatu alal qadimish Shalih wal akhdzu bil jadidil aslah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil pola baru yang lebih baik)

Maqalah ini mengajarkan kita untuk mempertahankan tradisi yang baik dan baru mengadopsi pola baru jika hanya pola baru itu dirasa lebih baik. Maqalah ini juga mengajarkan kita untuk mempertahankan jati diri kita sendiri, tetapi juga tidak menutup diri untuk perubahan yang lebih baik. Tidak untuk asal meniru budaya orang lain dan melupakan tradisi kita sendiri, bahkan merasa rendah diri dengan budaya kita sendiri.

Secara konsep saya mendapatkanya di pesantren, tapi justru saya melihat bagaimana konsep ini benar-benar diterapkan ketika saya berada di Inggris.

Antara Pesantren  dan Universitas OxBridge (Oxford & Cambridge)

Siapa sih yang tidak kenal Universitas Oxford, dan Universitas Cambridge? Dua kampus Inggris yang selalu konsisten berada dalam lima kampus terbaik di Dunia itu. Sebelumnya, saya membayangkan dua kampus ini memiliki bangunan-bangunan yang modern dan mutakhir dengan papan nama besar Universitas Oxford atau Universitas Cambridge, sehingga saya ingin sekali saya berfoto di depan papan nama dua kampus prestigious tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung di Universitas Oxford dan ternyata bayangan ku itu salah total. Saya berharap menemukan papan nama besar bertuliskan Universitas Oxford, ternyata tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah bangunan-bangunan tua berasitektur romawi kuno. Universitas Oxford dan cambridge terbagi menjadi beberapa college (setara fakultas kalau di Indonesia), yang seolah berdiri sendiri. Yang menarik adalah di setiap College ini pasti terdapat sebuah gereja katedral, yang merupakan jantung dari college, sebuah dining room (ruang makan), lecture hall (tempat kuliah), dan Asrama Mahasiswa. Jika anda pernah melihat film harry potter, begitulah suasana kampus Universitas Oxford karena memang film ini beberapa scenenya diambil di kampus ini.

oxfordsmall

Sebenarnya, konsep ini kurang lebih sama dengan sistem di Pesantren. Masjid adalah adalah jantung dari sistem pendidikan di pesantren. Disinilah santri sholat berjamaah, dan mengaji. Kemudian di sekitar masjid adalah asrama-asrama santri tempat para santri bermukim. Dan tentu saja sekolah yang biasnya terletak agak jauh dari masjid, tempat untuk  belajar secara formal. Kesamaan lainya adalah tradisi mempertahankan aristektur bangunan. Di Oxford, semua bangunan memang dipertahankan dengan arsitektur yang  sama sejak universitas tersebut didirikan sekitar abad 11 hingga sekarang.  Kalaupun ada renovasi, tidak akan merubah bentuk asli dari bangunan tersebut. Demikian juga di Pesantren, arsitektur masjid  biasanya juga dipertahankan sama dengan arsitektur masjid pada saat pesantren tersebut didirikan sampai dengan mungkin akhir jaman nanti.

Sebenarnya, tradisi melestarikan budaya leluhur itu tidak ada hanya terjadi di universitas sekaliber oxford dan cambridge saja tetapi dalam bidang kehidupan yang lain juga. Arsitektur rumah misalnya, di Inggris arsitektur rumahnya dari dulu hingga sekarang kurang lebih sama. Bangunan rumah orang inggris adalah rumah sederhana bertingkat dua dengan ciri khas batu bata dan cerobong asap nya.

Di Indonesia, mana ada ya kontraktor yang mengembangkan perumahan dengan konsep rumah Joglo? Kalau pun ada mungkin tidak laku jual, karena calon pembelinya takut dibilang udik, kuno dan ketinggalan jaman. Padahal bisa jadi rumah Joglo adalah rumah yang dikembangkan dengan kearifan lokal yang agung dan penuh nilai filosofis yang tinggi tidak dengan ngawur. Arsitekturnya disesuaikan dengan iklim dan cuaca di tanah jawa, demikian juga dengan desain interior nya yang disesuaikan dengan kondisi socio cultural  orang jawa yang ramah, guyup, rukun dan penuh kebersamaan serta cita rasa humor yang tinggi. Bahan bangunan dari kayu juga, bisa jadi adalah pilihan yang tepat untuk daerah tropis yang hemat energi dan .

Belakangan saya baru sadar, bahwa ternyata bangunan-bangunan modern di Universitas Nottingham , Jubilee campus yang merupakan salah salau proyek Taman Inovasi Universitas yang dikembangkan  dengan konsep sustainable energy and environtmental friendly ternyata juga berdinding kayu. Sama kayak bangunan khas Joglo orang Jawa jaman dahulu.

**

Jadi, kenapa kita masih harus merasa rendah diri dengan capaian bangsa kita sendiri? Sudah saatnya, kita kembali menjadi diri kita sendiri. Sudah saatnya kita kembali menemukan jati diri bangsa kita sendiri. Kita adalah bangsa yang besar yang memiliki warisan budaya yang luhur. Kita harus melestarikan budaya, dalam artian yang sangat luas, yang berakar dari budaya kita sendiri, dan mengembangkanya. Kita punya kearifan yang adiluhung di hampir semua aspek kehidupan kehidupan. Tidak hanya yang tampak secara fisik, tapi kita juga memiliki warisan budaya dalam bentuk filosofi hidup yang luhur. Kita sendiri yang seharusnya bangga, yang harus melestarikan, mengembangkan dan memperkenalkan jati diri bangsa kita dalam konteks pergulatan budaya yang semakin datar dan global ini. Jangan sampai kita baru sadar, setelah budaya kita dipelajari oleh orang lain, dan kita harus belajar ke bangsa lain untuk mempelajari budaya bangsa kita sendiri. Sungguh ironis, ketika anak cucu kita nanti ingin belajar sastra jawa, harus keluar uang banyak untuk mempelajari di sebuah Universitas di Belanda. Jangan sampai suatu saat anak cucu kita yang ingin belajar seni musik dangdut, harus belajar di sebuah Universitas di Amerika.

Mari kita menghargai sekecil apapun, setiap capain dari leluhur kita, para pendahulu kita. Bukan justru, memusnahkanya. Menurut hemat saya, … Bangsa yang akan menjadi bangsa besar adalah bangsa yang mampu berdiri tegak di atas punggung warisan budaya leluhurnya.

Referensi:

[1]  Tendy Naim, http://www.youtube.com/watch?v=bkgHuTK_ytQ


Balada anak kost [Bagian 2] : Pondok Sederhana Sarat Makna.

” disini…. di pondok ini, telah terukir sejuta kenangan, yang dihempas keras gelombang dan tertimbun batu karang yang tak mungkin dapat terulang”.

…….dan hidup pun terus berlanjut, menghantar saya dari satu tempat ke tempat lain. dari kehidupan satu ke kehidupan yang lain. Salah satu catatan hidup yang menurut saya sangat mengesankan, oh begitu mengesankan adalah ketika saya nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum , Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Jombang, sebuah kota kecil yang sering menghebohkan, berjarak 3 jam perjalanan darat dari kota Surabaya. Di pesantren nya KH Romly Tamim dan KH Dr Mustain Romly ( Allahu yarham huma)  ini benar-benar telah menggoreskan kesan yang dalam di hati saya. Bukan goresan luka tentunya, tetapi goresan arti hidup yang oh sungguh sangat mengesankan.

Saya masih inget, Cordova adalah nama pondokan (asrama) yang saya tinggali selama 3 tahun nyantri di pesantren itu. Memang sih di pesantren ini ada beberapa asrama eksklusif yang disediakan khusus untuk santri-santri manja [menurut hemat saya], sebuah asrama yang tidak wajar sebagaimana layaknya di pondok pesantren pada umumnya. Di asrama eksklusif ini disediakan spring bed guede dan almari eksklusif untuk setiap santri dalam gedung yang terkesan megah dan jauh dari kesan kumuh. Karena saya memang bukan orang yang special, apalagi eksklusif, tentu saja saya wegah dan tidak layak tinggal di asrama yang ekslusif di pesantren ini.

Di asrama cordova ini, seperti laiknya pondokan di pesantren-pesantren pada umumnya hanyalah  tak lebih dari sebuah bilik yang sangat sederhana. Ukuranya kira-kira hanya 8 kali 8 meter persegi, lantainya dari kayu, dan dihuni oleh 20 santri. Jangan pernah membayangkan ada kasur, apalagi spring bed empuk di asrama ini. Yang ada hanyalah lemari susun kecil yang jumlahnya tepat 20 biji dan satu rak buku umum yang sangat sederhana . Lah terus tidurnya gimana dunn? Ya.. ndelosor di lantai lah, untung nya lantai nya dari kayu dibalut karpet sederhana yang sudah sobek-sobek, jadi ndak kedinginan kalau pas musim dingin datang. Kamar mandi nya semi terbuka, tidak ada pintu kamar mandi nya soalnya, bentuknya seperti kubikal di perkantoran-perkantoran, dengan bak mandi puanjang, di sepanjang kubikal tadi. Yang unik adalah WC nya, WC menggantung di atas sungai. Huaha…..jadi itu nya langsung jatuh ke sungai yang aliran airnya membelah kompleks pondok pesantren.

Dua puluh orang santri tinggal bersama di ruangan seluas 8×8 meter persegi. Hehm… benar-benar susah membayangkan. Tapi nyatanya itu benar-benar terjadi. Dan dua puluh orang yang tinggal di asrama itu orang nya pun bener-bener beraneka ragam. Ada yang masih kelas 1 SMP, ada juga yang hampir lulus SMA, bahkan ada yang sedang kuliah. Tutur bahasa nya pun bermacam-macam. Ada yang ngomong nya bahasa jawa kuasar dan ndak bisa dikecilin volumenya [seperti orang berteriak dan marah-marah], mereka adalah teman-teman yang berasal dari pesisir utara pulau jawa seperti Tuban, Lamongan, Rembang, dan sekitarnya. Ada yang ngomongnya halus sekali, mereka adalah teman-teman dari tanah sunda: Bandung, Majalengka, Cianjur dan sekitarnya. Ada juga yang nada bicaranya agak sengak, mereka adalah teman-teman dari Medan dan sekitarnya, dan masih banyak lagi teman-teman dari Kalimantan, Sulawesi, Madura, Nusa Tenggara, dan Papua. Mereka semuanya memberikan warna yang berbeda di asrama kami.

Dan tidak semuanya diantara teman-teman itu bersikap manis pada kita. Ada yang sok jagoan, ada yang suka main tangan, ada yang suka ngiri, ada yang suka ngambekan, ada pula yang suka mencuri barang teman nya sendiri , tetapi ada juga yang baiknya ndak ketulungan. Ada teman yang sangat rajin, ada yang yang sangat mualas sekali. Ada teman yang peduli banget dengan kebersihan, tetapi ada juga teman yang kemprohnya amit-amit. Di antara mereka ada yang biasa-biasa saja seperti saya, haha…..

Memang kita tidak pernah sama dalam segala hal, setiap dari kami memiliki warna yang berbeda. Akan tetapi, justru perbedaan tersebutlah yang membuat kita menjadi kuat bersama. Dari bilik kecil itu saya belajar banyak tentang memahami arti seribu perbedaan dan memaknai arti kesetiakawanan, tidak mudah memang hidup bersama dengan 20 orang dengan karakter dan budaya yang berbeda. Tetapi bila kita sadar dan memahami perbedaan itu, kita akan bisa melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang indah, bagaikan taman bunga dengan seribu satu warna.

Ada satu hal lagi, yang saya dapatkan dari bilik sederhana itu yaitu belajar tentang arti kesederhanaan. Kesederhanaan hidup yang benar-benar kami jalani, bukan sekedar kita lihat dan baca, lalu kita renungkan. Hidup dengan tidak berlebih-lebihan, apa adanya, bahkan terkadang berada diantara keterbatasan terkadang justru terasa sangat indah. Sederhana itu indah begitu kata orang.

Apakabarmu kini kawan? Betapa terkadang saya merindukan saat-saat itu kembali. Baarakallahu untuk mu kawan….


Akhirnya Allah Menghubungkan Kami Setelah Sepuluh Tahun Kami Terpisahkan Oleh Keperkasaan Sang Waktu

[this blog entry especially dedicated for my beloved old friends : Amin ‘kang Amin’ Syaifuddin Albarkasy Alterkesy dan Ahmad ‘kang Jaki’ Muzakki at Blok Agung, Banyuwangi, East Java Indonesia]

***
Sepuluh tahun yang lalu di sebuah tempat yang sederhana kami pernah merenda hari bersama. Menatap langit matahari dan bulan yang sama di saat dan tempat yang sama. Agh… rasanya kenangan-kenangan itu terlalu indah untuk dirindukan dan diceritakan kembali. Sebuah romantika persahabatan masa lalu yang terlukis begitu elok di hati-hati kami, yang mungkin tak akan mudah terhapus oleh derai hujan, tak mudah usang dimakan sang waktu.

“Blok Agung”, agung nian…. nama ini dalam ingatan kami. Sebuah desa dimana pesantren tempat kami mengahabiskan detik demi detik waktu, hari demi hari bersama itu berada. Sebuah desa yang damai, sedamai nama pesantren kami “Darussalam”, desa kelamatan, desa kedamaian, di Ujung Selatan Kabupaten Banyuwangi Kecamatan Tegalsari [dulu Kecamatan Gambiran], Jawa Timur Indonesia. Sebuah pesantren yang kokoh berdiri sebagai pusat peradaban umat manusia dengan Islam sebagai spirit di Kabupaten Banyuwangi, bahkan mungkin Indonesia. Di pusat ‘tamaddun’ , ‘civilization’, ‘peradaban’ inilah berdiri pusat-pusat pendidikan dan pelatihan madrasah dan sekolah dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dengan keberadaan seorang kyai sebagai figur sentral. Seorang kyai yang sangat dihormati, tanpa pernah minta dihormati, oleh ribuan ‘santri ‘ sebutan untuk para penuntut ilmu yang datang dari seantero bumi nusantara. Seorang kyai yang kata-kata nya bak ‘Sabda Pandita Ratu’. KH Mukhtar Syafat Abdul Ghafur [alm., Allahu yarham lahu], pendiri pesantren ini bersama KH Muallim Syarqawi [alm., Allahu yarham lahu], dan Ibu nyai Hajah Siti Maryam [almh., Allahu yarham laha] *biar ndak dibilang bias gender sama feminist aku sebutin :p* yang kemudian dilanjutkan oleh putra-putri mereka : KH A. Hisyam Syafaat, KH A. Hasyim Syafaat, KH Ahmad Qusyairi Syafaat, KH. Mudlofar Sulthan adalah figur-figur sentral (vocal point) dimana Transfer Pengetahuan itu terjadi secara terus menerus dari generasi ke generasi selama berpuluh-puluh tahun. Di pesantren ini telah terbentuk “knowledge society network” culture, budaya jaringan masyarakat pengetahuan, yang khas dan unik antara kyai, ustadz, santri senior, dan santri yunior.

“Kang…”, itulah panggilan khas di pesantren ini, yang tidak mengenal constraint [* susah nyarik terjemahan bahasa Indonesia nya] usia, panggilan ke santri yang lebih yunior, lebih senior, ataupun seusia, sama saja kita panggil dengan sapaan ‘Kang’ ini. Sapaan yang mengisyaratkan tidak ada senioritas di pesantren ini,semua sama kedudukanya sebagai santri. Kang Amin, Kang Jaki, Kang Ali, Kang Nur, Kang Wahid, Kang Bambang, Kang Taufiq, Kang Kafiluddin, Kang Wandoyo, Kang Tohir, Kang Kholiq, Kang Muad, Kang Roziqin, Kang Munib, Kang Mahsun, Kang Maksum, Kang Azis, Kang Hanif, Kang Manan, Kang Karim, Kang Andi adalah hanya beberapa nama ‘Kang’ yang masih terekam dalam ingatanku. Yah…. Begitulah: Nama Teman, Nama Tempat, Nama Kegiatan seiring dengan berjalanya waktu, suatu saat akan hilang dari ingatan kita. Tetapi, tidak dengan rasa, Rasa Senang, Rasa Gembira, Rasa Kebersamaan, Rasa Kasih Sayang, Rasa Sedih, Rasa Bangga, Rasa Disakiti tidak akan mudah hilang dari bagian hidup kita.

Terlalu banyak nama teman, nama tempat, nama kegiatan, dan rasa yang pernah tercipta bersama di antara kami di pesantren ini. Kamar F2, Asrama Khulussunajah, Masjid, Sawah, Pasar, Kantin Ausath, Kantin Wevi, Gedung Induk, Makam, Darul Aitam, Pesantren Anak2, Ndalem, Blumbang tempat kami renang bersama, Perpustakaan ‘al Irfan’ ,  dikkomda, Asyifak, Alas, Kali Gesing, dan Perkebunan kopi susu adalah sebagian nama tempat yang masih terekam di ingatan saya. Ngaji kitab, sekolah, ‘diniyah’, lalaran, setoran hafalan, taqrar, sorogan, bandongan, ronda malam keliling pondok, dibakan, tahlilan, manaqiban, roan, mayoran, ‘ngerik’ santri putri, dan muhafadan adalah sedikit dari kegiatan yang masih aku ingat. Rasa lezatnya ‘Selep Terong’, Rasa senang saat ‘mayoran’, rasa sedih saat roan [pernah ngangkut kayu dari alas ke pondok :D], rasa bahagia saat minggu legi, rasa malu saat ketahuan nyontek ujian, rasa bangga jadi juara kelas,  rasa bangga saat disebut nama yang hafal nadzoman, rasa jijay saat kolam renang kita ada kuning2 nya dan bau, Rasa kebersamaan saat lomba kamar kita, Rasa Minder saat digojlok waktu khitobah, Rasa Marah saat dijaili teaman, dan Rasa gayeng saat ngobrol ngalur ngidul bersama adalah sebaian rasa yang terekam kuat dalam hati saya.

Dan diantara semua rasa itu, rasa yang terbesar saya rasakan adalah rasa persahabatan dan persaudaraan di antara kami yang tulus, lillahi ta’ala. Bukan karena penampilan fisik, harta, kedudukan seorang teman. Hidup terasa lebih hidup dan sangat menyenangkan dikelilingi oleh teman-teman. Ada teman dekat, teman biasa, dan teman ‘say hello’ saja. Dan diantara nama-nama teman dekat saya itu, tanpa ada maksud untuk membeda-bedakan teman, adalah Amin Syaifuddin dan Ahmad Muzakki.

Amin Syaifuddin

Kang Amin, begitu biasa saya memanggil dia. Pertama kali liat dia, orang ini kesan nya dingin dan pura-pura ‘cuek’.  Tapi akhirnya kenal baik juga sama si rambut ‘kriwul’ ini he he….
Orang nya kalem dan damai banget, tidak suka konfrontatif, permusuhan apalagi pertengkaran. Tetapi dibalik sifat mengalah dan defensif nya itu, dia sering juga ‘nggrundel’  di belakangg. hua ha…. Saya selalu merasa nyaman berada di dekatnya, walaupun terkadang dia suka cuek, diam seribu kata, kalau lagi marah. Suaranya bagus banget, melengking, secara dia adalah qari’ papan atas dengan jam terbang sangat tinggi di pesantren saat itu. Secara dia mengaku dari kampung yang ‘ndeso’ banget, di Jawa Tengah Utara kota Semarang itu [tepatnya Brakas Terkesi Grobogan Purwodadi], dia belajar banyak dari saya, yang menjadi simbol kemodernan berfikir saat itu *wakakak….. Dia tidak sungkan-sungkan banyak belajar dari saya yang lebih yunior, terutama belajar bahasa inggris, saya masih ingat dulu setiap hari selalu menulis vocabulary baru di catatan kecil nya dan mencoba dihafalnya. Tradisi “hafalan”, sebuah metode belajar paling sering diterapkan di pesantren, yang menurut hemat saya tidak begitu bagus. Saya kira, metode pemahaman yang mendalam ‘insight’ dan berfikir kritis ‘critical thingking’ itu jauh lebih efektif dari sekedar ‘hafalan’. Itu yang kurang dikembangkan, dan nyaris mati di Pesantren saat itu. Kalo ingat kang Amin, saya selalu ingat Muslimah, bukan Bu Muslimah di Laskar Pelangi, tetapi kekasih pujaan hati kang Amin kampung nya, yang fotonya disimpan rapi di dompetnya, eh..  ndak taunya Kang Amin ditinggal kawin duluan sama Muslimah. Sudah punya anak dua, dan kang Amin sampai sekarang masih sendir. hue he……… [masih menunggu janda nya ndak yak?]

Pernah suatu saat Kang Amin aku ajak jalan-jalan ke kota Jember, hanya untuk pergi ke Toko Buku Gramedia. Secara di Banyuwangi ndak ada Toko Buku yang representatif dan Libido Baca Buku Baru saya sudah tidak tertahan lagi.  Kami naik angkutan desa ‘kijang’ warna biru yang bagus…. banget, sangking bagus nya sering kali macet di tengah jalan. Dari BlokAgung ke Genteng. Terus dari Genteng naik Bus Ke Jember. Dari Terminal Tawang Alun Jember naik Bus Kota jalan-jalan ke kota Jember. Hue he… Berbeda dengan saya yang hobi jalan dan sangat menikmati perjalanan, kang Amin Teler, Mabuk darat. Hue he… kasihan banget. Karena keasyikan jalan, tanpa mempedulikan kang  Amin ini, kita nyampek Genteng lagi dah larut Malam. Sudah tidak ada angkutan dari Genteng ke Blok Agung. Terpaksa dagh.. kami tidur di salah satu masjid di sekitaran Genteng. Sampek akhirnya dibangunin sama seseorang, nampaknya takmir masjid itu. Mulanya mereka mencurigai kami, karena saat itu di Banyuwangi sedang panas dengan isu dukun santet, dan pembunuhan kyai2. Tetapi, setalah kami menunjukkan Kartu Santri Pondok BlokAgung, akhirnya si orang tadi menawari untuk tidur di rumahnya. Orang nya baik banget, kita di kasih makan, dan di kasih sarapan di pagi harinya sebelum kami balik ke Blok Agung. He he…..

Ahmad Muzakki

Sebenarnya saya kurang menegenal orang satu ini. Tapi saya sudah mengenalnya sebelum dia datang di pesantren, dan dia juga sudah mengenal saya sebelum saya datang di pesantren pada kesempatan yang lain [hue he…. bingungkan]. Kang Amin sering cerita tentang orang satu ini, katanya kembaranya, padahal menurut hemat saya, ndak ada mirip-miripnya. Tetapi sebelum dia datang di Pesantren, saya sudah keburu kaburrr. Hingga suatu saat yang lain saya sempat main kembali di pesantren dan bertemu dengan Kang Jaki ini. Ternyata dia sudah kenal saya sebelumnya, walaupun baru pertama kali itu kami bertemu. Ceritanya ternyata kami sama-sama murid kesayangan [pada masa nya masing2] Pak Sadmoko, Guru Matematika, di Madrasah kami. Kata Kang Jaki, Pak Sadmoko sering cerita tentang saya di kelas. Soalnya dulu kalo sedang diajar Pak Sadmoko ini, saya sering kali PROTES. ” Menurut saya itu tidak begitu deh pak, tetapi seharusnya begini dan begini… bla bla…..”. Itu protes saya sering kali. Hua ha…. dan saya yang selalu benar ketika protes. Nampak nya ‘kekurangajaran’ saya ini meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati Pak Sadmoko. Jadilah saya legenda yang selalu diceritakan Pak Sadmoko ke generasi-generasi setelah saya. Salah satu diantaranya adalah generasi Kang Jaki.
Agak berbeda dengan Kang Amin, Kang Jaki di mata saya orang nya sangat energik, dan ‘stylish’ setidaknya untuk ukuran anak pesantren saat itu. Sangat Terbuka dan Ramah Sekali. Dia suka sekali belajar sesuatu yang baru.

**
Kemudian sang waktu pun memutuskan hubungan kami, saya yang tidak suka kejumudan dan sangat gandrung akan sebuah perubahan, akhirnya memutuskan untuk bayang jauh lebih awal dari teman-teman. Sementara kang Amin, dan Jaki yang lebih dianugerahi sifat ‘Istiqomah’, Kesabaran, dan Qanaah tetap bertahan di pesantren.

Hari demi hari pun berganti, tahun demi tahun pun berlalu. Mungkin kami terlalu asyik dengan dunia kami masing-masing, sehingga kita tidak pernah terpikirkan untuk menanyakan kabar satu sama lain. Samapai akhirnya Internet pun masuk di Pesantren Darussalam Blok Agung. Saat ini ada sebuah warnet yang dikelola oleh pesantren. Suatu saat saya iseng-iseng googling dengan keyword ‘Blok Agung’, padahal sudah lama sekali ndak iseng kayak gitu. Dulu pernah iseng search dengan key ‘Blok Agung’ tapi No Result hua ha. Tapi saat itu saya tiba-tiba bahagia sekali, karena saya menemukan website pesantren blokagung, blog guru saya di pesantren saya dulu, dan blog Gus dan Neng pesantren itu.

Pak Fauzan adalah nama guru saya saat di pesantren waktu saya masih mondok dulu. Ternyata beliau adalah admin sekaligus penjaga warnet di Pesantren. Kami akhirnya sering chatting bareng, Alhamdulilah Pak Fauzan masih inget saya, secara saya dulu kan terkenal banget hue he… Asytaghfirullah…… Dari Pak Fauzan akhirnya menyebar kemana-kemana, Pak Ikhsan salah satunya yang berhasil terhubung kembali. Sampek akhirnya merembet ke Kang Amin dan Kang Jaki. Kemudian sms-sms an, telpon-telponan, dan chating-chatingan hua ha….. dengan Kang Amin dan Kang Jaki.

Alhamdulilah, saya senang sekali, setelah sepuluh tahun lamanya kami terputus. Allah menghubungkan kami kembali, dengan suasana yang tentu saja berbeda. Kang Amin sudah matang sekali ilmu agamanya dengan gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pdi) di belakang nama nya, begitu Juga  Jaki sudah bergelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Ki) di belakang namanya. Dalam waktu dekat ini, akhirnya memutuskan untuk boyong dan siap terjun di tengah-tengah masyarakat mendarma baktikan ilmu keduanya. Secara kebetulan, dalam waktu dekat ini saya juga memutuskan untuk segera kembali dari Negeri Jiran Malaysia, Setalah selesai studi Master saya di bidang Sistem Informasi, untuk mengabdi ke Tanah Air.

Oh… Teman….Semoga ukhuwah ini senantiasa terjalin untuk selamanya, Sukses Selalu My Brothers !!: Buat Kang Amin dan Kang Jaki saya persembahkan sebuah Nasyid untuk kalian berdua :

Sahabat….

 

Ingin aku singkap kembali
Kenangan lama agar bersemi
Inginku ulangi kisah manis
Agar terus bersemadi

Ingatlah aku sebagai rakanmu
Kenanglah daku dalam doamu
Begitu indahnya kisah dahulu
Engkau sebagai temanku

Apabila engkau terjaga
Satukanlah harapanku denganmu
Kerana ianya bakal berpadu
Mimpi si penunggu yang setia
Layarkanlah impian doamu
Sesungguhnya aku masih mengingatimu
Sebagai kawan rakan dan teman
Semoga kita diberkati Allah

Kudoakan kepadamu agar bahagia
Di dunia dan akhirat

[Lagu: AMAR,Lirik: AMAR,Album : Kiasan Naluri]

[pict. is grabbed from a book entitled : ‘humor ngaji kaum santri’ by Ahmad Sahal]