Tag Archives: pesantren

Santri di Persimpangan Zaman Edan

… jamane jaman edan,sing ora edan ora kuat melu edan. Jamane jaman edan mangan lemper dibeset metu setan -Syair Jaman Edan Cak Nun

jaman_mondok_jadul

Santri Pondok (Asrama Cordova, Pondok Induk, PP Darul Ulum Jombang, 2000)

Beberapa hari belakangan ini kata “santri” menjadi ngehits jadi wacana nasional, di media sosial khususnya. Kata ini mendadak naik kelas, dari wacana senyap orang-orang pinggiran di pelosok-pelosok desa, menjadi wacana orang-orang perkotaan. Saya yakin, ada anak-anak di kota yang bertanya-bertanya kepada bapaknya: “Santri itu apa, Pa?”. Atau kalau tidak, mereka bertanya kepada si Mbah Google. Yah, ini semua karena tanggal 22 Oktober kemaren, ditetapkan sebagai hari santri nasional.

Di dunia akademik, kata santri ini dipopulerkan oleh seorang Antropolog alumni Harvard, Clifford Geertz, dalam buku klasiknya “The Religion of Java” yang melakukan trikotomi masyarakat menjadi tiga golongan: Abangan, Santri, dan Priyayi (bisa dibaca :disini). Santri dalam interpretasi Geertz, adalah masyarakat Jawa yang keislamanya murni, taat, sesuai syariat Islam, sebaliknya abangan adalah orang yang islamnya masih ala kadarnya, e.g. tidak pernah sholat, serta keimananya masih bercampur dengan ajaran Hindu.

Tentu saja, sebagaimana nature ilmu sosial itu sendiri, dalam konteks sekarang, interpretasi Geertz ini bisa jadi sangat tidak tepat dan tidak relevan kembali. Termasuk definisi santri itu sendiri. Dalam konteks sekarang, kata santri mungkin lebih banyak digunakan untuk menyebut para pelajar yang sedang belajar di Pondok Pesantren, pesantren NU khususnya.

Apa Esensi Hari Santri Nasional?

Menurut pemahaman saya yang ala kadarnya, fakta sejarahnya, penetapan hari santri nasional ini adalah tidak lebih dari produk politik, alias sekedar alat untuk meraih kuasa. Kita pastinya belum lupa, bahwa penetapan hari santri nasional ini adalah janji politik JOKOWI waktu kampanye di Jawa Timur, untuk menarik dukungan dari pesantren-pesantren, yang berpengaruh sangat kuat pada masyarakat grass root di Jawa Timur.

Kemudian oleh PBNU ditagih, dan akhirnya ditetapkanlah tanggal 22 Oktober sebagi hari santri nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih untuk mengingat peristiwa penting yaitu resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim As’ary. Dalam resolusi itu, sang kyai mamfatwakan bahwa melawan penjajah hukumnya adalah wajib, dan jika mati karena melawan penjajah itu akan dikategorikan sebagai mati syahid. Peristiwa resolusi jihad ini digambarkan dengan apik di Film sang Kyai (bis dilihat : disini). Hal ini jelas melukiskan bagaimana peran para kyai dan santrinya dalam perang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan Indonesia yang sangat luar biasa besar kontribusinya. Namun, belakangan setelah Indonesia merdeka, khususnya jaman sekarang, peran santri seolah terpinggirkan. Itulah sebabnya, momentum penetapan hari santri ini disambut penuh suka cita oleh para santri. Terlepas, hal-hal seperti ini memang tidak bisa lepas dari nuansa kepentingan-kepentingan politis.

Tetapi, setelah ditetapkan sebagai hari santri nasional so what? Apakah serta merta menaikkan martabat para Santri?

Santri di Persimpangan Jaman Edan

Memilih menjadi santri di Pesantren di jaman edan sekarang seperti saat ini memang tidaklah mudah.  Awalnya, pesantren adalah tempat mengaji ilmu agama di bawah bimbingan seorang kyai. Yang dipelajari hampir 100% ilmu akhirat. Referensi yang dijadikan rujukan biasanya adalah kitab-kitab klasik, yang di pesantren biasanya dikenal dengan Kitab Kuning. Genre kitab itu pun bermacam-macam, mulai dari tafsir Alquran, hadist, ilmu fiqih, tauhid,  hingga ilmu tasawuf. Awalnya, sistem yang digunakan adalah sistem bandongan, kyai membaca kitab yang ditulis dalam bahasa dan tulisan Arab gundul (tanpa harokat) , sementara para santri  menyimak kitab yang sama, sambil memberi makna/arti dari setiap kata kitab gundul tersebut. Atau metode sorogan, dimana setiap santri dibimbing satu persatu untuk membaca kitab. Tempat bandongan dan sorogan ini biasanya di masjid atau asrama pesantren. Lulusan dari model pesantren ini, tentu saja tidak memperoleh ijazah.

Kemudian pesantren berkembang dengan membuka sistem madrasah, yang kemudian dikenal dengan Madrasah Diniyah (Catatan: Madrasah ini berbeda dengan MI, MTs, dan MA, di bawah DEPAG). Di madrasah ini, santri belajar di kelas-kelas layaknya sekolah pada umumnya. Ada beberapa tingkatan, mulai tingkat Ula (setara SD), Wustho (setara SMP), dan ‘Ulya (setara SMA). Masing-masing tingkatan dibagi lagi menjadi level. Misalnya di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Tingkat Ula terdiri dari 4 tingkatan (kelas 1 – 4), Tingkat Wustho terdiri dari 2 tingkatan (kelas 1-2), dan kelas ‘Ulya (kelas 1-2). Di sistem madrasah ini, ilmu yang dipelajari selain ilmu sebagaimana genre kitab-kitab yang dipelajari dengan sistem klasikal (bandongan dan sorogan), juga dipelajari ilmu alat atau ilmu grammatika bahasa Arab, seperti nahwu, shorof, balagoh, mantiq. Disebut ilmu alat, karena ilmu ini adalah ilmu untuk bisa membaca dan memahami kitab-kitab klasik yang ditulis dengan bahasa Arab gundul tadi. Juga ilmu falaq. Sistem pengajaran yang digunakan kebanyakan adalah dengan perulangan (di pesantren dikenal dengan Taqrar) dan hafalan (di pesantren dikenal dengan Muhafadzoh atau lalaran) atau istilah modernya disebut  ‘Rote Learning System’. Salah satu kitab yang terkenal di pesantren dan wajib di hafal adalah kitab Alfiyah Karya Ibnu Malik. Kitab ini terdiri dari 1000 nadzom (atau baris syair) yang merupakan rule grammar bahasa Arab.

Dari Madrasah Diniyah ini, santri memperoleh ijazah. Hanya saja tentu saja ijazahnya tidak diakui oleh sistem pendidikan nasional. Padahal untuk memperoleh ijazah sampai level Ula tadi misalnya, dibutuhkan waktu setidaknya 8 tahun. Dan pesantren, karena memang orientasinya akhirat, tidak pernah protes dengan masalah tidak diakuinya ijazah itu. Pengecualian, untuk beberapa pesantren, seperti pondok pesantren Gontor,  Ponorogo, ijazahnya sudah diakui setara SMA. Karena ijazahnya tidak diakui, para santri yang biasanya ijazah formalnya hanya sampai tingkat SD itu, sulit untuk mendapatkan pekerjaan formal, atau melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Lulusan dari pesantren dengan metode klasikal dan madrasah diniyah ini pada akhirnya yang beruntung akan menjadi kyai yang sukses mendirikan pondok pesantren baru, hanya saja jumlah sangat-sangat sedikit, mungkin hanya 1:1000. Kebanyakan, ya menjadi kyai kampung atau menjadi orang biasa dan bekerja di sektor-sektor informal.

Seiring jaman yang semakin materialistis, pada akhirnya membuat banyak pesantren membuka diri untuk membuka sekolah-sekolah umum, bahkan perguruan tinggi di dalam pesantren, baik yang berafilisiasi dengan Depag (misal: MI, MTs, MA, STAI), maupun Dikbud (SD, SMP, SMA/K, Universitas). Sehingga selain mengikuti sistem klasikal, dan Madrasah Diniyah, santri juga bersekolah layaknya sekolah-sekolah di luar pesantren. Dan berhak mendapatkan ijazah yang diakui oleh pemerintah. Keberadaan sekolah-sekolah umum di pesantren ini bukanya tanpa resiko. Satu sisi, bagus karena santri tidak hanya belajar ilmu agama saja, tetapi juga ilmu umum, dan setelah lulus mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah, dan pada akhirnya bisa bekerja di sektor-sektor formal. Tetapi disisi lain, hal ini membuat santri tidak fokus belajar agama. Bahkan di beberapa pesantren, keberadaan kajian kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren itu, menjadi terpinggirkan. Sehingga jangan heran jika ada lulusan pesantren yang tidak bisa bahasa Arab, dan tidak bisa membaca kitab kuning.

Keberadaan sekolah umum di pesantren ini juga membuat Pesantren melakukan trade-off antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Idealnya, ya sama-sama kuat, atau dalam operation research dikenal dengan istilah Pareto Optimal. Gus Dur, mungkin adalah contoh santri yang paling ideal. Ilmu keagamaanya top, beliau bisa berbahasa Arab dan bisa memahami kitab kuning klasik, tetapi juga wawasan ilmu umumnya tak diragukan, bahkan akademisi barat pun sangat mengakui keilmuanya. Kita bisa saja mengatakan, kita tidak boleh mendikotomi ilmu agama dan umum, keduanya penting. Tetapi pada kenyataanya sangat tidak mudah.   Pesantren yang tradisinya kuat ( ngaji kitab dan madrasah diniyah nya bagus), biasanya kualitas sekolah umumnya juga ala kadarnya.  Sebaliknya, pesantren yang sekolah dan Universitas umumnya bagus, tradisi ngaji pesantrenya menjadi ala kadarnya.

Bagi santri sendiri, keberadaan sekolah/universitas umum di pesantren ini juga membuat santri tidak mudah memahami dan menghayati dua perspektif ilmu tersebut pada saat yang sama. Ilmu agama cenderung berisi kebenaran deduktif yang dogmatis. Sementara ilmu umum, adalah kebenaran empiris, berdasarkan bukti ilmiah, yang bersifat induktif. Kitab tasawuf yang umum dijadikan rujukan di pesantren seperti kitab Alhikam, dan Ihya Ulumidin, misalnya mengajarkan santri untuk ‘membenci’ dunia, memilih untuk zuhud, tidak serakah, hidup bersahaja, dan mengutamakan akhirat. Sementara ilmu umum, e.g. ilmu bisnis misalnya, mengajarkan untuk mencintai dunia, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Demikian juga tentang relasi hubungan antara lelaki dan perempuan atau suami istri, pada kitab-kitab yang dijadikan rujukan utama di pesantren-pesantren seperti: Qurrotul ‘Uyun, dan ‘Uqud dilijain, perempuan/istri seolah menjadi subordinat lelaki atau suami. Bisa jadi apa yang menurut kitab tersebut wujud dari istri solehah, justru dianggap merendahkan kaum perempuan pada wacana keilmuan barat. Demikian juga masalah homoseksual. Jelas ini akan membuat santri yang juga mengenyam dunia Barat, seperti Ulil Absar Abdala misalnya, berada pada posisi yang dilematis.

Indeed, terkadang susah menemukan kedua kutub ilmu tersebut. Tetapi, bisa saja kita menempatkan kedua ilmu itu pada tempatnya, sesuai dawuh kanjeng nabi:

… bekerjalah untuk dunia mu seakan engkau hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhirat mu sekan esok hari engkau tiada.

Tentu saja ini tidak mudah, disinilah tantangan pesantren untuk mendamaikan keduanya, yang tentunya tidak mudah.

Keberadaan sekolah umum di pesantren-pesantren juga berdampak pada biaya di pesantren. Sebagaimana kita tahu, pesantren ini tidak dibiayai oleh pemerintah. Jika ngaji di pesantren tradisional bisa dijangkau hampir semua lapisan masyarakat akar rumput. Pesantren yang ada sekolah umumnya menjadi kian tidak terjangkau. Semakin bagus sekolah umumnya (lulusanya banyak yang diterima di PTN favorit misalnya), biasanya biayanya juga semakin mahal. Tidak heran, jika masuk pesantren sekarang juga harus mengeluarkan puluhan juta rupiah. Pada akhirnya pesantren-pesantren itu memiliki segmentasi pasar sendiri-sendiri. Tak ubahnya apa yang terjadi di bisnis, ada pesantren kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

Keputusan untuk membuka atau tidak membuka sekolah umum di jaman edan sekarang ini juga tidak mudah bagi pesantren. Pesantren yang ingin murni menjaga tradisi misalnya, dengan tidak mau membuka sekolah umum. Akan berada di posisi tidak mudah. Jika tidak membuka sekolah umum, untuk ngemani fokus mempelajari ilmu agama yang kuat, bisa berdampak kehilangan calon santri dari masyarakat yang semakin materialistis. Masyarakat yang takut, jika anaknya hanya ngaji tidak sekolah, setelah lulus mau kerja jadi apa, pasti akan berfikir berkali-kali lipat untuk memasukkan anaknya ke pesantren tradisional, atau dikenal dengan pesantren Syalaf ini.  Sebaliknya, kalau ingin memasukkan anaknya di pesantren yang sekolah umumnya bagus, orang tua harus memikirkan biaya pendidikan yang berkali-kali lipat.

Alhamdulilah meskipun pesantren murni syalaf semakin langka keberadaanya, karena calon santri yang semakin materialistis. Masih ada pesantren-pesantren besar yang hingga sampai sekarang masih bertahan dengan tradisi murni salafnya, seperti pondok pesantren sidogiri Pasuruan, dan pondok pesantren Lirboyo Kediri. Yah, memang bukanya kita percaya rejeki sudah ada yang ngatur? Rejeki tidak ditentukan oleh sekolah kita, tetapi oleh Gusti Allah ta’ala.

Santri Memaknai Jihad di Jama Sekarang

Jikalau jihad di jaman Mbah Hasyim dimaknai, perang angkat senjata melawan penjajah. Jihad dalam konteks kekinian bisa dimaknai dengan jihad melawan kebodohan, ketertinggalan, dan kebobrokan akhlak. Para santri harus giat menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Santri juga harus bangkit mengejar ketertinggalan dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang harus diakui saat ini kita sangat tertinggal dengan dunia barat. Padahal spirit untuk melakukan research itu ada pada ayat-ayat Alquran. Padahal tradisi akademik itu ada pada para ulama-ulama penulis kitab-kitab klasik yang kita pelajari di pesantren selama ini. Santri juga harus berjihad melawan kebobrokan akhlak para pemimpim kita saat ini yang kronis dihinggapi penyakit keserakahan, kemunafikan, dan hidup bermewah-mewahan, dengan semangat kesederhanaan, keikhlasan, dan spirit untuk berbagi, bukan untuk menang sendiri.  Spirit untuk berlomba-lomba untuk kebaikan bersama, bukan berlomba-lomba untuk keunggulan diri sendiri. Pada akhirnya santri dan pesantren ditunggu kontribusinya untuk menciptakan peradaban dunia yang lebih baik.

Selamat hari santri nasional !

Related Post:


Qoilulah: Tradisi Tidur Siang di Pesantren yang Menyehatkan

Researchers say taking forty winks in the middle of the day could reduce blood pressure and stave off heart attacks. – bbc.co.uk (30/08/2015)

tidur_siang

Ilustrasi: Tertidur di Dalam Bus

Dulu, waktu masih jadi santri di pondok pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, ada kebiasaan khas pesantren yang mungkin tidak ada di institusi pendidikan lain, dimana pun. Tradisi itu dikenal dikalangan santri dengan sebutan, waktu qoilulah. Yaitu, waktu antara setengah sampai satu jam menjelang masuk waktu sholat duhur.

Pagi hari, mulai jam 7 para santri sekolah formal di unit pendidikanya masing-masing. SMP,SMA, SMK, atau Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, layaknya sekolah di luar pesantren. Nah, jam 11 siang kegiatan belajar ini usai. Nah waktu, satu jam menjelang masuk waktu duhur inilah, disebut waktu qoilulah.Dimana hampir semua santri tidur siang. Tidur bak pindang berderet-deret tanpa kasur beralaskan lantai telanjang di asrama santri.

Saya kadang hanya sempat tertidur, seperempat hingga setengah jam saja.Bahkan belum sempat memejamkan mata, hanya ketap ketip saja. Karena begitu bedug berbunyi, adzan berkumandang, semua santri harus bangun, wudlu berjamaah di blombang (kolam),dan sholat jamaah duhur di masjid.

Setelah jamaah duhur, dan membaca alquran, aktivitas dimulai kembali. Sekolah khusus pelajaran agama di Madrasah Diniyah hingga masuk waktu ashar. Taqrar, atau mengulang kembali pelajaran di madrasah diniyah,dari habis ashar hingga Maghrib. Kemudian habis maghrib mengaji kitab tafsir jalalain. Habis Isyak sorogan kitab kuning, dan dilanjut dengan pengajian bandongan kitab kuning hingga tengah malam, yang ditutup dengan sholat malam berjamaah.

Nah, selain untuk memulihkan tenaga, tidur siang hari ini,memang merupakan sunah rosululloh SAW. Kebiasaan kanjeng nabi, yang juga kebiasaan para kyai. Yah kita melakukan itu ya semata-mata mengharap pahala karena mengikuti sunah rosul. Tanpa banyak bertanya mengapa dan mengapa.

Sampai hari ini, saya baca artikel di bbc.co.uk, yang mengungkap hasil penelitian ilmiah terbaru akhir pekan ini dari para ahli kardiologi, bahwa ternyata tidur sebentar di siang hari sangat baik untuk kesehatan. Disebutkan bahwa qoilulah, alias day time snooze, atau tidur sebentar siang hari ini dapat mengurangi tekanan darah tinggi dan mencegah serangan jantung (lihat sumbernya: disini). Subhanallah, cerdas sekali nabi kita ini.

Ini bukan kali pertama, fakta yang tertulis di Alquran dan Hadis pada abad 7 itu, baru dibuktikan secara ilmiah oleh para ilmuwan baru belakangan ini. Banyak penemuan-penemuan yang mengejutkan dan fenomenal di mata ilmuwan sekuler, menjadi biasa-biasa saja bagi umat Islam, karena banyak fakta ilmiah itu sudah tertulis di Quran dan Hadis. Hanya saja, kenapa tidak kita umat islam sendiri yang membuktikan pesan-pesan langit itu dengan bukti empirik ilmiah. Padahal, fakta-fakta ilmiah itu paling dekat dengan kita.

Jadi kesimpulanya, yuk mari kita biasakan tidur siang sebentar di tempat kerja masing-masing. Hehehehe…… Tidur sebentar, untuk manfaat kesehatan besar.


Budi dan Zaidun Yang Melegenda: Do’a dibalik Nama ?

Mungkin, Si Budi  akan tinggal cerita, akan tetapi budi baiknya akan dikenang oleh jutaan manusia Indonesia.

ini_budi_nuh
(Courtesy: republika.co.id)

Diantara berita-berita politik menjelang pemilihan presiden 9 Juli 2014, ada satu berita duka yang menggelitik hati saya ,yang biasanya cukup selektif memilah berita yang ‘bermutu’ di antara berita-berita ‘sampah’, untuk membacanya. Berita duka itu adalah perihal kepergian Budi dari dunia perbukuan pendidikan dasar di Indonesia. Pak Menteri Pendidikan akan ‘mematikan’ Si Budi, keluarga, dan kawan-kawanya yang sudah ‘hidup’ melegenda berpuluh-puluh tahun, menemani anak-anak Indonesia dari generasi ke generasi belajar membaca dan menulis. Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Rest in Peace Budi ! Budi ‘dituduh’ sebagai biang kemonotonan sistem pendidikan dasar di Indonesia, dan segera akan hadir tokoh-tokoh baru Edo, Siti, dkk. yang lebih ‘segar’ bersamaan dengan datangnya mahzab pendidikan baru, bernama Kurikulum 2013. Oh, benarkah tuduhan itu?

buku_ini_budi
(Courtesy: http://blogs.phys.unpad.ac.id/sahrul/ )

Kenangan Si Budi

Siapa sih yang tidak kenal Si Budi? Anak-anak yang mengalami sekolah dasar di era 70-90 an, saya haqul yakin kenal dengan Si Budi. ‘Ini Budi’ mungkin adalah kalimat pertama yang paling banyak diucapkan oleh jutaan anak-anak Indonesia ketika pertama kali belajar membaca. Sebelum pada akhirnya menjadi anak-anak cerdas dan pintar di berbagai bidang kehidupan yang saat ini menjadi aktor-aktor utama dalam panggung besar bersama negara Indonesia raya ini.

Buat saya pribadi, Si Budi membawa ingatan saya pada bangunan terkucil di tengah-tengah sawah di dusun kami. Yah, bangunan sederhana penuh kenangan itu tidak lain adalah SD (INPRES) Negeri PLAMPANGREJO 3. Tetapi, masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan sebutan SD Inpres. Ini adalah satu di antara lima sekolah dasar negeri di kampung kami, dan menjadi yang terdekat dari rumah saya,  serta menjadi satu-satunya sekolah dasar di dusun kami, dusun Ringinpitu. Selain 5 SD negeri ini, ada satu lagi sekolah swasta di kampung kami bernama Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum yang dikelola Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) anak ranting Desa Plampangrejo. Yang letaknya cukup jauh dari rumah saya.

Masya Allah. Tiba-tiba saja saya jadi teramat rindu dengan kenangan memakai seragam merah putih di saat jaman dunia anak-anak yang begitu indah saat itu. Riuhnya anak-anak dusun menyusuri jalan setapak, galengan sawah, melintasi uwot, jembatan kayu yang menhubungkan dua bibir parit irigasi sawah, di antara hamparan tanaman padi, mendong, singkong, pisang dan rerimbunan pohon kelapa yang hijau adalah pemandangan setiap pagi hari. Dan kami pun hanya berpayung daun pisang dikala hujan deras datang di musim hujan. Seolah tak pernah ada kesedihan, yang ada hanyalah keceriaan anak-anak dusun yang begitu  menikmati dunia mereka.

Si Budi juga membuka memori ingatan saya pada sosok Pak Suroto. Sosok Guru paling sabar di dunia, yang setiap hari menemani saya di kelas 1 di sekolah itu, kelas paling ujung di sekolah kami yang berbatasan langsung dengan hamparan sawah yang luas. Iya, Pak Suroto pripun kabar panjenengan pak? Bahkan saya tidak tahu apakah beliau masih hidup atau kah sudah meninggal dunia. Kebetulan rumah beliau cukup jauh dari rumah saya, dan saya pun belum pernah tahu dimana rumah beliau karena berada di desa yang berbeda. Saya mungkin salah satu murid durhaka, dari jutaan orang-orang yang melupakan guru SD nya. Guru yang pertama mengajari kita belajar mengenal huruf, mengeja, membaca, menulis dan berhitung. KUnci-kunci pembuka semua ilmu pengetahuan. Seorang guru yang sangat telaten dan sabar mengajari kami, anak-anak dusun dengan kecerdasan yang pas-pasan dan nakal pula.

Semoga dimanapun beliau berada, selalu dalam lindungan Allah Swt. Ketulusan, kesabaran, kesederhanaan, kebersahajaan, pengabdian, semangat, perjuangan, cinta dan ilmu beliau akan selalu hidup dalam hati kami para murid-muridnya. Khusus buat guru SD kelas 1 saya, Pak Suroto, Alfaaatihah ! Saya yakin ilmu dari beliau adalah ilmu yang bermanfaat, sekaligus menjadi amal jariyah yang pahalanya akan terus dan terus mengalir meskipun jasad telah meregang nyawa.

ini_budi2
(Courtesy: http://koleksibarangdjadoel.blogspot.co.uk/)

Ada apa dengan Budi?

Sudahlah, saya simpan kembali dulu kenangan Si Budi dalam memori ingatan saya untuk dikenang, diceritakan kembali suatu saat ini. Ohya, mungkin dulu kita pernah bertanya kenapa sih dipakai nama Budi? Kenapa ndak Ahmad seperti nama saya yang artinya sangat terpuji ini. Kenapa tidak menggunakan nama-nama lain? Kenapa pula, nama Budi begitu ‘eksis’ hingga berpuluh-puluh tahun bahkan lintas generasi?

Pastinya, semua karena sesuatu alasan. Bukanlah sesuatu yang kebetulan.  Menurut hemat saya, Ada filosofi dibalik nama Budi. Ada pesan atau doa di balik nama itu. Bisa jadi, penulis buku itu sebenarnya ingin berpesan betapa penting nya memiliki budi yang baik itu penting di atas segalanya. Diatas capaian ilmu dan keterampilan ada yang jauh lebih penting yaitu Budi pekerti yang baik. Menjadi pintar menjadi percuma, ketika seseorang tidak berbudi. Iya Budi pekerti yang baik, yang tidak lain adalah pendidikan karakter yang menjadi jargon yang digembar-gemborkan oleh pemerintah melalui Kurikulum 2013.

Ada pesaing Budi bernama Zaid di Pesantren 

Sebenarnya, fenomena penggunaan nama berulang-ulang dalam lierature dunia pendidikan tidak hanya terjadi di pendidikan dasar di SD saja. Buat sampeyan yang pernah mondok di pesantren pasti kenal dengan yang namanya Zaid. Nama ini sama fenomenalnya sama Budi. Kalau budi terkenal dengan kalimat ” Ini Budi”  dan “Ini bapak budi” nya. Zaid terkenal dengan kalimat: ” Jaa a Zaidun “ (dibaca: Jaa a, wes teko, SOPO, Zaidun, Zaid  : artinya, Zaid sudah datang) dan “Doroba Zaidun Amron” (dibaca: Doroba, wes mbalang, SOPO, Zaidun, Zaid, Amron, ING, Amr  : artinya, Zaid memukul Amr) .

Di pesantren, nama zaid ini dipakai berulang-ulang di kitab-kitab (baca: literature) ilmu Nahwu dan Shorof. Dua ilmu utama, yang sering disebut ilmu alat, yang menjadi kunci untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning. Kitab kuning adalah istilah yang digunakan untuk menyebut literatur berbahasa Arab yang ditulis dengan huruf Arab tanpa harokat. Jika anda menguasai dua ilmu ini anda dijamin bisa membaca dan memahami artinya, meskipun tertulis dalam tulisan Arab tanpa harokat. 

Nah, di kitab-kitab literature ilmu Nahwu dan Shorof  seperti kitab Jurumiyah, Imrithi, dan Alfiyah ibn malik, Nama Zaid sangatlah populer. Karena sering dipakai contoh berulang-ulang. Apakah ini juga potret kemonotonan sistem pendidikan di dunia pesantren, Pak Menteri? Bahkan, tidak saja puluhan tahun, kitab-kitab yang memuat nama Zaid ini sudah dipakai ratusan tahun yang sampai sekarang masih digunakan di pesantren-pesanten, bahkan mungkin akan terus dipakai hingga akhir dunia ini.

Lalu, apa filosofi dibalik nama Zaid?

Jujur, saya belum pernah bertanya hal ini ke kyai saya. Karena kekritisan itu sesuatu yang mungkin dianggap agak tabu di dunia pesantren. Tapi saya pernah bertanya kepada seorang Kang Santri yang lebih senior dari saya. Katanya sih, Zaid itu artinya bertambah. Jadi filosofinya, kenapa dipakai nama Zaid berulang-ulang, itu supaya ilmu kamu cepat bertambah. Haha, kedengaran tidak masuk akal memang. Tapi saya selalu memaknai sebagai Do’a dibalik sebuah nama. Biar ilmunya bertambah dan barokah. Ohya, di pesantren ada jargon yang sangat sakral di antara para santri, yaitu BAROKAH. Mungkin kalau diadakan studi analisa kata, kata barokah ini menjadi salah satu kata yang paling sering dibicarakan di pesantren. Ketika saya bertanya apa itu Barokah? belum ada seorang pun yang bisa menjelaskan dengan kata-kata dengan sangat baik. Tetapi, barokah sering diartikan “ziyadatul khoir” yaitu bertambahnya kebaikan. Tuhkan, masih ada kaitanya dengan Zaid. Hehe…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kitab Kuning (Courtesy: http://nahwusharaf.wordpress.com/)

Baiklah, Pak Menteri. Jika Si Budi harus di ‘mati’ kan, biarlah saya mengucapkan Rest In Peace buat Budi. Mungkin, Si Budi  akan tinggal cerita, akan tetapi budi baiknya akan dikenang oleh jutaan manusia Indonesia. Dan Zaid sepertinya bernasib lebih mujur dari si Budi. Tapi, siapa tahu suatu saat nanti ada yang berani ‘obrak abrik’ kurikulum pesantren dan mengkudeta Zaid dari dunia kepesantrenan. Entahlah.

Terlepas semuanya, saya ingin menghadiahkan Alfatihah buat seluruh guru, ustad, ustadzah, kyai, bu nyai, dosen saya di dunia ini, lahumul fatihah…….!


Tentang Pesantren-Pesantren NU

Miris rasanya, melihat pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang. Masih SMP sudah banyak yang sudah bunting, Mudah diperdaya oleh laki-laki hidung belang hanya lewat Facebook, begitu mudahnya terbawa budaya ikut2an mode/ gaya hidup yang mendera di tengah-tengah era keterbukaan informasi. Seolah mereka tak memiliki jati diri, tak memiliki pegangan hidup yang pasti.

ppdu_jombang

Ilustrasi: Kantor Pusat PP Darul Ulum Jombang

Pesantren? Apa yang terlintas di pikiran  sampean ketika mendengar kata Pesantren? Mungkin terlintas di kepala sampean sarung dan kopiah, atau udik, terbelakang, tradisional, sarang teroris. Tempat orang-orang nakal, atau justru  sebaliknya tempat orang-orang alim? Tapi buat saya pribadi, pesantren begitu berarti dalam hidup saya. Saya paling bangga jika menyebut diri saya alumni pesantren. Tempat yang membentuk saya personally, tempat yang menempa saya bagaimana memandang, memaknai, dan menjalani kehidupan ini.

Sayang nya, banyak orang yang salah memandang institusi pendidikan tertua ini. Dahulu, oleh orang barat pesantren pernah di pandang sebagai sarang teroris. Dipandang sebagai tempat  untuk pengkaderan orang-orang militan, yang menghalalkan kekerasan atas nama Tuhan. Adalah Gus Dur orang yang berhasil menunjukkan kepada dunia, tentang Islam Indonesia, yang damai, moderat, santun, dan tidak berbenturan dengan dunia barat. Gus Dur lah yang getol, mengajak para akademisi barat blusukan ke pesantren-pesantren NU, untuk melihat langsung bagaimana pesantren-pesantren NU ini. Untuk menunjukkan secara langsung pandangan bahwa pesantren adalah sarang teroris dan akar militansi islam adalah pandangan yang benar-benar salah. Sehingga sekarang, kalau kita mau menulis artikel ilmiah tentang NU, tentang pesantren, justru profesor rujukanya bisa jadi orang Belanda, orang Australia, atau orang Amerika.

Gus Dur jugalah yang mengangkat pesantren ke pentas dunia. Pesantren yang identik dengan nilai tradisional dan keterbelakangan ini justru mampu, memunculkan anak-anak pesantren NU keluar dengan pemikiran-pemikiran Islam yang tidak berbenturan bahkan menawarkan ide-ide segar melengkapi kemajuan jaman. Sehingga muncullah, istilah masyarakat Madani, Islam yang pro demokrasi, Islam yang pro kesetaraan gender, dan sebagainya.

Baiklah, kali ini saya mau sharing tentang  Pesantren-Pesantren NU. Secara garis besar semua pesantren NU memiliki kesamaan, sebagaimana pada tulisan saya sebelumnya disini. Akan tetapi, pada perkembanganya, seiring dengan kemajuan jaman, pesantren-pesantren NU ini pun berubah beradaptasi dengan kebutuhan dan tuntutan jamanya masing-masing. Tetapi ada juga yang mencoba bertahan, mempertahankan  tradisi lama, mempertahankan ciri khas pesantren dan mencoba tak lekang di makan jaman. Menurut pengamatan, asal-asalan saya, pesantren-pesantren NU ini bisa dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Pesantren Syalafiah

Ini yang sebenarnya aslinya pesantren, sejak berabad-abad yang lalu, yang sampai sekarang masih bertahan. Model pendidikan asli Indonesia. Di Pesantren ini, kurikulumnya 100% kurikulum pesantren, yang boleh dibilang 100% pendidikan agama. Pendidikan berpusat pada Madrasah Diniyah dan Kajian Kitab Kuning. Ilmu yang dipelajari meliputi kajian ilmu alat (Nahwu dan Sharaf) atau grammar bahasa Arab, sampai dengan sastra Arab (seperti mantiq dan balagah), Ilmu Fikih, Hadis, Tafsir Alquran, Tasawuf, dsb. Ilmu agama benar-benar dipelajari secara intensive dan mendalam. Saya berani bertaruh, kalau lulusan pesantren ini pengetahuan agama nya lebih mumpuni daripada lulusan perguruan tinggi islam umum seperti UIN atau IAIN. Di pesantren jenis ini tidak ada sama sekali sekolah atau Madrasah umum seperti di luar pesantren.

Ilustrasi: Santri Pesantren Sidogiri, (Courtesy: http://ghozalios.blogspot.co.uk/ )

Seiring dengan kecenderungan manusia Indonesia yang semakin materialistis, pesantren ini mulai banyak ditinggalkan. Biasanya pesantren ini sekarang hanyalah pesantren kecil di desa-desa yang jumlah santrinya tinggal ratusan atau bahkan tinggal puluhan. Pesantren-pesantren kecil ini biasanya, hampir sama sekali tidak mengenakan biaya pendidikan kepada santri-santrinya. Tetapi ada juga pesantren syalafiah yang hingga saat ini bisa tetap eksis dengan jumlah santri di atas 10.000, contohnya adalah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Langitan Tuban, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Menurut hemat saya, Pesantren Sidogiri bisa dijadikan contoh model pesantren syalaf yang paling sukses yang tak lekang di makan jaman. Meskipun tidak mengadopsi sekolah umum formal, pesantren ini bisa mandiri dalam arti sesungguhnya. Bagaimana tidak, pada saat banyak pesantren lainya, banyak yang mengharap bantuan dari pemerintah, dari politisi, maupun sumber-sumber dana lain. Pesantren ini bisa mandiri dengan usaha perekonomian nya sendiri yang berbasis pesantren. Sebut saja pesantren ini memiliki usaha air dalam kemasan, usaha koperasi, usaha perbankan dalam bentuk Baitul Maal wat Tamwil, usaha travel umroh dan haji, usaha percetakan dan sebagainya. Disebut, omset usaha koperasinya saja sudah bisa tembus Rp. 1 triliun [ 1 ].

Jadi, jika sampean berkeinginan untuk benar-benar paham terhadap ilmu agama Islam, tafaquh fiddin, pesantren jenis ini menurut hemat saya, sangat pas buat anda, ketimbang sekolah di madrasah atau perguruan tinggi milik pemerintah ( e.g. Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah, IAIN/STAIN/UIN).

 2. Pesantren Hybrid (Syalaf + Kholaf)

Sesuai dengan jargon pesantren, “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat. Sebagian besar pesantren, mulai terbuka atau responsif terhadap perubahan jaman. Pesantren-pesantren dalam perkembanganya mulai membuka Madrasah dan Sekolah Umum. Tidak hanya Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah/ Sekolah Tinggi Agama Islam tetapi juga sekolah-sekolah umum e.g. SD, SMP, SMA, SMK, Universitas.

ILustrasi: PP Bahrul Ulum Tambak Beras (Source: http://siakero.blogspot.co.uk)

Menurut hemat saya, jenis pesantren ini adalah mayoritas pesantren-pesantren NU saat ini. Selain tetap menjalankan core tradisi pendidikan kepesantrenanya, pesantren ini juga membuka sekolah-sekolah atau madrasah. Mereka berprinsip tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, semuanya penting dan semua harus dipelajari. Akan tetapi dalam penyelenggaraanya, bukan pekerjaan mudah memang menyeimbangkan apalagi berharap sama-sama mendapatkan ilmu dengan kualitas maksimal antara ilmu agama dan ilmu umum. Apalagi kalau berharap dapat ilmu agama yang mendalam sebagaimana di pesantren salaf, sekaligus mendapatkan ilmu umum yang bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum favorit di luar pesantren. Tidak jarang, pada akhirnya pesantren jadi berat sebelah.

Sehingga menurut saya, lebih spesifik lagi ada tiga jenis pesantren ini. Yang pertama, pesantren yang lebih berat ilmu agamanya. Sebagai contoh adalah Pondok Pesantren Darussalam, Blok Agung, Tegalsari, Banyuwangi. Termasuk pesantren Manbaul Ulum, dan Minhajut Thulab, di Kabupaten yang sama. Di Pesantren ini, sampean bisa belajar agama yang cukup sebanding dengan di pesantren syalaf. Kitab-kitab kuning besar seperti Ihya Ulumiddin, juga masih dikaji di pesantren ini. Sampean juga tidak perlu khawatir tidak memiliki ijasah sekolah umum, karena di pesantren ini juga ada Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah/ Sekolah Tinggi Agama Islam maupun SD, SMP, SMA, SMK. Tetapi, untuk kualitas sepertinya saya harus jujur, sebagaimana kebanyakan sekolah di pesantren NU kebanyakan, masih ala kadar nya. Rasanya, sulit lulusan SMA/MA dari pesantren jenis ini yang bisa bersaing dengan SMA Negeri di luar pesantren untuk bisa diterima di perguruan tinggi negeri umum favorit. Untuk menjembatani kesenjangan itu, Depag memiliki program khusus program beasiswa santri berprestasi  yang merupakan jalur khusus alumni pesantren untuk diterima di PTN favourite tanpa melalui jalur umum.

Yang kedua adalah pesantren yang relatif seimbang antara Ilmu agama dan Ilmu umum nya. Contoh dari tipe pesantren ini adalah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, dan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denayar Jombang. Dibanding dengan sebelumnya, kualitas sekolah umum di pesantren ini cukup bagus. Di Bahrul Ulum misalnya, di pesantren ini terdapat Madrasah Aliyah Negeri Tambak Beras, yang cukup terkenal.

Yang ketiga adalah pesantren yang kualitas sekolah umumnya sangat bagus, bisa bersaing bahkan bisa dibilang lebih bagus dari sekolah umum di luar pesantren. Akan tetapi, anda jangan berharap bisa mendalami ilmu agama sedalam di pesantren syalaf. Sebuah majalah NU pernah menyindir, Kitab Kuning merana di pesantren ini. Walaupun minim jika dibandingkan dengan pesantren syalaf, teapi tentunya pendidikan ilmu agama di pesantren ini jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan di sekolah umum. Pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang dan PP Amanatul Ummah adalah contoh sempurna dari jenis pesantren ini. Di pesantren ini, terdapat sekolah-sekolah unggulan seperti SMP Negeri Unggulan 3 Peterongan, SMA Unggulan Darul Ulum 1 BPPT, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT RSBI  (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional Sebelum dihapus).

smu_du_2

Ilustrasi: Santri Darul Ulum di SMA Unggulan DU 2 BPPT

Alumni sekolah di pesantren ini banyak sekali yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit seperti ITS, Unair, UGM, UNDIP, ITB, IPB, UI. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya banyak alumni pesantren ini yang jadi dokter, insinyur, ahli hukum tata negara, dan berbagai profesi lainya. Pesantren ini seolah ingin membuktikan bahwa alumni pesantren tidak hanya bisa jadi ahli agama, tetapi juga bisa sukses di berbagai bidang profesi kehidupan.

Jadi kalau sampean pingin sekolah di sekolah yang tidak kalah bagus di SMP atau SMA Negeri favorit di kota kamu, semisal sampean pengen jadi Ahli hukum, Dokter, Insinyur sekaligus  ingin memiliki fondasi dasar keagamaan yang kuat (ingat level dasar, bukan advanced lowh), pesantren jenis ini adalah pesantren pilihan terbaik buat sampean.

3. Pesantren Modern (Kholaf)

Yang jelas di pesantren ini tidak ada kitab kuning. Walaupun saya yakin awal mulanya NU, tetapi pesantren jenis ini mengklaim berdiri di atas semua golongan. Berbeda dengan pesantren NU yang bermadzaf Imam Syafii (Syalafiyah, As’ariyah) pesantren ini biasanya tidak mengklaim bermahdzab pada mahdzab tertentu. Saya lebih senang menyebutnya boarding school untuk jenis pesantren ini. Biasnya di pesantren modern ini digunakan bahasa internasional, yaitu bahasa Arab dan Inggris. Contoh dari pesantren jenis ini adalah: Pondok Modern Gontor, Pondok Modern Assalam Solo,  dan Pesantren Darunnajah.

Ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Gontor Ponorogo

Pembentukan karakter yang mengkolaborasikan sistem pendidikan modern dan islam sangat kental di pesantren ini. Kedisiplinan dan penguasaan bahasa asing juga menjadi penekanan dari pondok pesantren modern ini. Pondok pesantren modern ini seolah ingin menepis anggapan pesantren yang identik dengan keterbelakangan, kumuh, dan anti kemajuan.

Jika sampean  berniat melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren, atau sampean orang tua yang ingin menyekolahkan putra/putrinya ke pesantren semoga tulisan ini sedikit bisa memberi gambaran. Saya pribadi, sebagai alumni salah satu pesantren, sangat menyarankan untuk memilih pesantren sebagai jalur pendidikan yang tepat. Apalagi jika melihat mentalitas anak sekolah jaman sekarang yang begitu rapuh, yang begitu mudah terpengaruh oleh budaya luar dan mudah terberdaya dengan teknologi. Miris rasanya, melihat pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang.  Masih SMP sudah banyak yang sudah bunting, Mudah diperdaya oleh laki-laki hidung belang hanya lewat Facebook, begitu mudahnya terbawa budaya ikut2an mode/ gaya hidup yang mendera di tengah-tengah era keterbukaan informasi. Seolah mereka tak memiliki jati diri, tak memiliki pegangan hidup yang pasti.

Dengan di pesantren, saya sangat yakin mereka setidaknya akan memiliki pegangan, dasar agama yang kuat yang membuat mereka tidak rapuh ketika terpaan ideologi, gaya hidup luar yang datang bertubi-tubi.  Mereka bisa memaknai  setiap episode kehidupan dengan bijak, karena memiliki kecerdasan spiritual yang diasah di pesantren. Bahwa keterbukaan informasi sebagai akibat dari kemajuan jaman tidak dapat dielakkan, karenanya kita perlu membekali anak-anak kita tidak hanya dengan ilmu tapi juga dengan Iman dan Taqwa. Kuat Ilmu, Kuat Iman, Kuat Takwa, agar anak-anak kita tidak sekedar sukses mengejar kesuksesan semu di dunia saja, tetapi juga sukses, selamat, bahagia di dunia dan di akhirat.


Pesantren NU dan Pendidikan Karakter

Suasana di Kota Santri, asyik senangkan hati. Tiap pagi dan sore hari muda-mudi berbusana rapi menyandang kitab suci, hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji. Duhai ayah ibu, berikan ijin daku untuk menuntut ilmu pergi ke rumah guru, mondok di kota santri banyak ulama kyai tumpuan orang mengaji. Mengkaji ilmu agama, bermanfaat di dunia, menuju hidup bahagia sampai di akhir masa. – Kota Santri, Nasida Ria.


Santri Sedang Mengaji Kitab Kuning (Courtesy: www.tempo.co )

Bait di awal tulisan ini adalah cuplikan lirik salah satu lagu qasidah yang di populerkan group qasidah Nasida Ria di tahun 1990 an. Duh, saya jadi ingat dan kangen  sama emak di kampung yang demen banget dengerin lagu-lagu qasidah ini dari radio setiap menjelang Adzan maghrib di kampung. Apalagi di bulan Ramadlan. Selalu menghadirkan suasana nostalgic masa kecil di kampung setiap kali mendengarkan kembali lagu qasidah ini di youtube. Apa kabar ya, para artis Nasida ria ini? Oh sayang seribu sayang, qasidah ini sepertinya sudah hilang ditelan keangkuhan zaman. Semoga saja saya keliru.

Maaf, saya tidak sedang ingin menulis tentang nasib Nasida Ria. Seperti judul dari tulisan ini, kali ini saya ingin menulis uneg-uneg saya tentang pesantren. Katanya para akademisi, pesantren adalah sebuah sub-cultural tersendiri dalam masyarakat (Entahlah, apa maksudnya? ). Sering diidentikkan sebagai tempat nya pemuda-pemuda sarungan dan pemudi-pemudi berjilbab kampungan, yang jarang terdengar dan diekspos di media bahkan cenderung terpinggirkan, kecuali kalau menjelang pemilu. Tak jarang sering diremehkan, dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang sok berpendidikan. Bahkan oleh orang-orang Islam sendiri. Pesantren ini sering dijadikan kambing hitam sebagai sarangnya Bid’ah, Kolotisme, dan biang ketidakmajuan umat Islam. Padahal, fakta sejarah mencatat pesantren-pesantren NU ini adalah institusi pendidikan tertua di Indonesia yang membangun manusia-manusia Indonesia. Khususnya para manusia-manusia pejuang-pejuang kemerdekan RI.

Suatu hari, saya sedang berada di tengah-tengah keluarga mertua saya. Kebetulan, ada salah satu keponakan yang sedang rewel yang entah kenapa tidak mau masuk sekolah. Karena kehabisan cara untuk merayu, sang ibu tiba-tiba mengancam begini: “Eh, kamu kalau ndak mau masuk sekolah, saya pondok kan kayak Mbak Fulanah ya ! “. Si anak pun terlihat ketakutan, ” ndak mau ! buk” . Dan si anak pun bergegas mau berangkat ke sekolah. Tidak hanya ketika malas sekolah, rupanya ancaman dimasukkan pesantren adalah cara paling efektif untuk membuat si Anak menurut kehendak sang Ibu. Dalam hati saya nggrundel emang nya pesantren tempat pesakitan piye? Sebagai salah satu alumni pesantren, jelas saya tidak terima pesantren dijadikan untuk menakut-menakuti bocah.

Jelas ini ada persepsi yang salah. Dan saya sangat yakin, masih banyak masyarakat yang berfikiran yang salah, bahkan berfikiran negatif terhdap pesantren. Di tulisan ini, saya ingin mencoba sedikit meluruskan. Apalagi, saat melihat karakter anak-anak muda jaman sekarang yang tergambar dari media yang sungguh sangat memprihatinkan. Pergaulan bebasnya, gaya hidup hedon nya, budaya instant nya, manja nya, dan matinya kecerdasan dan empati sosial mereka terhadap sesama. Membuat saya sangat yakin, betapa pentingnya pendidikan  ala pesantren ini.

” Pak Nuh, kalau sampean mau mencari model pendidikan karakter, sampean ndak usah bingung jauh-jauh mencari kemana kemari. Belajar saja sama pesantren-pesantren NU !”

Begitu kata Ibu Khofifah Indar Parawansa, Ketua Muslimat NU, suatu ketika ke Pak M. Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kebetulan juga kader NU. Saya sangat-sangat setuju dengan Bu Khofifah ini. Saya rasa, pesantrenlah institusi pendidikan yang paling berhasil membentuk karakter. Sebagai orang yang pernah di pesantren, saya merasa karakter berikut cara pandang saya melihat dan memaknai hidup ini terbentuk saat di Pesantren. Untuk membentuk karakter seseorang, menurut hemat saya jelas sangat tidak cukup hanya dengan sistem pengajaran di dalam kelas sebgaimana di sekolah-sekolah umum. Tapi perlu pendidikan menyeluruh 24 jam, dan itulah yang terjadi di pesantren.

pp_darul_ulum
Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Model Pendidikan Pesantren NU

Secara umum, ada beberapa karakteristik yang menurut saya melekat pada Pesantren, khususnya pesantren NU dan tidak ada pada institusi pendidikan lainya. Karakteristik tersebut adalah:

Figur Pak Kyai/ Bu Nyai

Sang kyai dan Bu Nyai adalah tokoh sentral di Pesantren. Mereka ibarat kurikulum hidup yang senantiasa menjadi inspirasi, panutan, dan keteladanan bagi santri. Yang dari merekalah para santri belajar kearifan dan kebajikan hidup, meneladi akhlak  Rosulullah dan sahabat nya sesuai dengan Alquran dan Hadist. Bersama para ustad dan ustadzah Pak kyai dan Bu Nyai ini memantau para santrinya selama 24 jam. Singkat kata, Akhlakul Karimah adalah kurikulum wajib yang diterapkan di pesantren. Kesederhanaan, kesabaran, dan keiikhlasan adalah sifat yang melekat pada Pak Kyai dan Bu Nyai. Yang akan selalu menginspirasi seumur hidup para santrinya.

Masjid

Masjid adalah jantungnya pesantren. Di Masjid inilah semua kegiatan religius berpusat. Setiap santri diwajibkan sholat jamaah dimasjid, kegiatan pengajian juga berpusat di masjid ini. Tahlil, Istigotsah, Manaqib, dan kegiatan Ubudiyah berpusat di masjid ini. Dari masjid inilah religiusitas, fondasi keimanan dan ketaqwaan para santri dibentuk.

Asrama Santri

Para santri tinggal bersama dengan santi lainya yang datang dari berbagai daerah dan beda budaya. Di kamar-kamar sederhana tapi penuh dengan kebersamaan. Di asrama ini para santri learning by doing yang namanya kemandirian, gotong royong, egaliter, kebersamaan, kedisiplinan, kepemimpinan, saling memahami dan menghormati, saling mengingatkan, berempati kepada orang lain. Mau tidak mau mereka tidak bisa hidup egois dan individualis di asrama ini.

Kitab Kuning

Kitab kuning adalah kitab (baca : buku) klasik karangan ulama-ulama terkenal jaman dahulu (utamanya masa kejayaan Islam) yang dipelajari dan menjadi ciri khas pesantren NU. Karena ditulis dalam bahasa Arab gundul (tanpa harokat) dan biasanya dicetak pada kertas berwarna kuning makanya biasa disebut kitab kuning. Kitab kuning ini mencakup berbagai disiplin ilmu: Tafsir, Hadist, Fiqih, Akhlak, Tasawuf, dan sebagainya. Kitab ini dibaca kata per kata dan diterangkan oleh sang kyai secara kolosal kepada puluhan, ratusan, bahkan ribuan santrinya, yang menyimak sang kyai sambil memberi makna pada kitab yang dibaca dengan huruf arab pego (bahasa jawa yang ditulis arab). Sistem ini dikenal dengan sistem Bandongan. Atau dibacakan secara personal, satu ustad/ustadzah ke satu santri secara bergantian, sistem ini dikenal dengan sistem sorogan. Dari kitab-kitab inilah sang kyai mengajarkan kearifan dan kaebajikan hidup dari ulama-ulama jaman dahulu. Bagaimana bahanya penyakit hati seperti iri, dengki, hasut, riyak atau Pedihnya siksa kubur atau dahsyat nya hari kiamat, mengerikanya neraka, dan indahnya Syurga dibahas sangat detail dari kitab-kitab kuning ini.

Madrasah/Sekolah

Di pesantren NU, ada maqalah begini: “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat [1]. Jelas, pesantren tidak anti modernitas sepanjang itu membawa perubahan yang lebih baik, tetapi pesantren juga kekeh melestarikan budaya sendiri yang positif, tidak begitu saja mengadopsi  budaya orang lain, tetapi bangga dengan budaya dan kearifan lokal sendiri.

Oleh karena itulah di pesantren juga ada Madrasah atau Sekolah. Ada Madrasah Diniyah, yang memang khusus mempelajari Agama yang terdiri dari beberapa tingkat mulai, Shifir, Ula, Ustho, Ulya, dan Ma’had ‘Aly. Tidak sedikit pesantren yang membuka sekolah layaknya sekolah pemerintah di luar pesantren seperti: SD, SMP/M.Tsanawiyah, SMA/SMK/Madrasah Aliyah, bahkan Perguruan Tinggi. Dan jangan salah, banyak sekolah di pesantren yang kualitasnya lebih bagus dari sekolah di luar pesantren, seperti Pondok Pesantren Darul Ulum di Jombang, yang memiliki sekolah SMA swasta berstandar Internasional.

Disamping itu semua ada barokah do’a kyai/Bu nyai yang Insha Allah membuat barokah hidup para santrinya.

pendidikan_karakter

Jika belakangan pemerintah menggalakkan pendidikan karakter, menurut hemat saya pesantren dari dahulu secara mandiri telah berhasil menerapkanya. Pemerintah seharusnya belajar banyak dari pesantren tentang pendidikan karakter. Seperti, yang telah ditiru oleh Pemerintah Kabupaten Sragen, yang mendirikan SMP-SMA Negeri bilingual boarding School. Sekolah ini terbukti berhasil dengan prestasinya yang luar biasa, siswa-siswinya sering menjuarai olimpiade baik tingkat nasional dan internasional. Bahkan pada tahun 2012, mendapat penghargaan dari MURI  sebagai sekolah termuda dengan prestasi terbanyak [2].

Semoga, segera lahir generasi-generasi emas untuk mengubah bangsa ini, Allahumma Ammiin.