Tag Archives: pesantren NU

Tentang Pesantren-Pesantren NU

Miris rasanya, melihat pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang. Masih SMP sudah banyak yang sudah bunting, Mudah diperdaya oleh laki-laki hidung belang hanya lewat Facebook, begitu mudahnya terbawa budaya ikut2an mode/ gaya hidup yang mendera di tengah-tengah era keterbukaan informasi. Seolah mereka tak memiliki jati diri, tak memiliki pegangan hidup yang pasti.

ppdu_jombang

Ilustrasi: Kantor Pusat PP Darul Ulum Jombang

Pesantren? Apa yang terlintas di pikiran  sampean ketika mendengar kata Pesantren? Mungkin terlintas di kepala sampean sarung dan kopiah, atau udik, terbelakang, tradisional, sarang teroris. Tempat orang-orang nakal, atau justru  sebaliknya tempat orang-orang alim? Tapi buat saya pribadi, pesantren begitu berarti dalam hidup saya. Saya paling bangga jika menyebut diri saya alumni pesantren. Tempat yang membentuk saya personally, tempat yang menempa saya bagaimana memandang, memaknai, dan menjalani kehidupan ini.

Sayang nya, banyak orang yang salah memandang institusi pendidikan tertua ini. Dahulu, oleh orang barat pesantren pernah di pandang sebagai sarang teroris. Dipandang sebagai tempat  untuk pengkaderan orang-orang militan, yang menghalalkan kekerasan atas nama Tuhan. Adalah Gus Dur orang yang berhasil menunjukkan kepada dunia, tentang Islam Indonesia, yang damai, moderat, santun, dan tidak berbenturan dengan dunia barat. Gus Dur lah yang getol, mengajak para akademisi barat blusukan ke pesantren-pesantren NU, untuk melihat langsung bagaimana pesantren-pesantren NU ini. Untuk menunjukkan secara langsung pandangan bahwa pesantren adalah sarang teroris dan akar militansi islam adalah pandangan yang benar-benar salah. Sehingga sekarang, kalau kita mau menulis artikel ilmiah tentang NU, tentang pesantren, justru profesor rujukanya bisa jadi orang Belanda, orang Australia, atau orang Amerika.

Gus Dur jugalah yang mengangkat pesantren ke pentas dunia. Pesantren yang identik dengan nilai tradisional dan keterbelakangan ini justru mampu, memunculkan anak-anak pesantren NU keluar dengan pemikiran-pemikiran Islam yang tidak berbenturan bahkan menawarkan ide-ide segar melengkapi kemajuan jaman. Sehingga muncullah, istilah masyarakat Madani, Islam yang pro demokrasi, Islam yang pro kesetaraan gender, dan sebagainya.

Baiklah, kali ini saya mau sharing tentang  Pesantren-Pesantren NU. Secara garis besar semua pesantren NU memiliki kesamaan, sebagaimana pada tulisan saya sebelumnya disini. Akan tetapi, pada perkembanganya, seiring dengan kemajuan jaman, pesantren-pesantren NU ini pun berubah beradaptasi dengan kebutuhan dan tuntutan jamanya masing-masing. Tetapi ada juga yang mencoba bertahan, mempertahankan  tradisi lama, mempertahankan ciri khas pesantren dan mencoba tak lekang di makan jaman. Menurut pengamatan, asal-asalan saya, pesantren-pesantren NU ini bisa dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Pesantren Syalafiah

Ini yang sebenarnya aslinya pesantren, sejak berabad-abad yang lalu, yang sampai sekarang masih bertahan. Model pendidikan asli Indonesia. Di Pesantren ini, kurikulumnya 100% kurikulum pesantren, yang boleh dibilang 100% pendidikan agama. Pendidikan berpusat pada Madrasah Diniyah dan Kajian Kitab Kuning. Ilmu yang dipelajari meliputi kajian ilmu alat (Nahwu dan Sharaf) atau grammar bahasa Arab, sampai dengan sastra Arab (seperti mantiq dan balagah), Ilmu Fikih, Hadis, Tafsir Alquran, Tasawuf, dsb. Ilmu agama benar-benar dipelajari secara intensive dan mendalam. Saya berani bertaruh, kalau lulusan pesantren ini pengetahuan agama nya lebih mumpuni daripada lulusan perguruan tinggi islam umum seperti UIN atau IAIN. Di pesantren jenis ini tidak ada sama sekali sekolah atau Madrasah umum seperti di luar pesantren.

Ilustrasi: Santri Pesantren Sidogiri, (Courtesy: http://ghozalios.blogspot.co.uk/ )

Seiring dengan kecenderungan manusia Indonesia yang semakin materialistis, pesantren ini mulai banyak ditinggalkan. Biasanya pesantren ini sekarang hanyalah pesantren kecil di desa-desa yang jumlah santrinya tinggal ratusan atau bahkan tinggal puluhan. Pesantren-pesantren kecil ini biasanya, hampir sama sekali tidak mengenakan biaya pendidikan kepada santri-santrinya. Tetapi ada juga pesantren syalafiah yang hingga saat ini bisa tetap eksis dengan jumlah santri di atas 10.000, contohnya adalah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Langitan Tuban, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Menurut hemat saya, Pesantren Sidogiri bisa dijadikan contoh model pesantren syalaf yang paling sukses yang tak lekang di makan jaman. Meskipun tidak mengadopsi sekolah umum formal, pesantren ini bisa mandiri dalam arti sesungguhnya. Bagaimana tidak, pada saat banyak pesantren lainya, banyak yang mengharap bantuan dari pemerintah, dari politisi, maupun sumber-sumber dana lain. Pesantren ini bisa mandiri dengan usaha perekonomian nya sendiri yang berbasis pesantren. Sebut saja pesantren ini memiliki usaha air dalam kemasan, usaha koperasi, usaha perbankan dalam bentuk Baitul Maal wat Tamwil, usaha travel umroh dan haji, usaha percetakan dan sebagainya. Disebut, omset usaha koperasinya saja sudah bisa tembus Rp. 1 triliun [ 1 ].

Jadi, jika sampean berkeinginan untuk benar-benar paham terhadap ilmu agama Islam, tafaquh fiddin, pesantren jenis ini menurut hemat saya, sangat pas buat anda, ketimbang sekolah di madrasah atau perguruan tinggi milik pemerintah ( e.g. Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah, IAIN/STAIN/UIN).

 2. Pesantren Hybrid (Syalaf + Kholaf)

Sesuai dengan jargon pesantren, “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat. Sebagian besar pesantren, mulai terbuka atau responsif terhadap perubahan jaman. Pesantren-pesantren dalam perkembanganya mulai membuka Madrasah dan Sekolah Umum. Tidak hanya Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah/ Sekolah Tinggi Agama Islam tetapi juga sekolah-sekolah umum e.g. SD, SMP, SMA, SMK, Universitas.

ILustrasi: PP Bahrul Ulum Tambak Beras (Source: http://siakero.blogspot.co.uk)

Menurut hemat saya, jenis pesantren ini adalah mayoritas pesantren-pesantren NU saat ini. Selain tetap menjalankan core tradisi pendidikan kepesantrenanya, pesantren ini juga membuka sekolah-sekolah atau madrasah. Mereka berprinsip tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, semuanya penting dan semua harus dipelajari. Akan tetapi dalam penyelenggaraanya, bukan pekerjaan mudah memang menyeimbangkan apalagi berharap sama-sama mendapatkan ilmu dengan kualitas maksimal antara ilmu agama dan ilmu umum. Apalagi kalau berharap dapat ilmu agama yang mendalam sebagaimana di pesantren salaf, sekaligus mendapatkan ilmu umum yang bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum favorit di luar pesantren. Tidak jarang, pada akhirnya pesantren jadi berat sebelah.

Sehingga menurut saya, lebih spesifik lagi ada tiga jenis pesantren ini. Yang pertama, pesantren yang lebih berat ilmu agamanya. Sebagai contoh adalah Pondok Pesantren Darussalam, Blok Agung, Tegalsari, Banyuwangi. Termasuk pesantren Manbaul Ulum, dan Minhajut Thulab, di Kabupaten yang sama. Di Pesantren ini, sampean bisa belajar agama yang cukup sebanding dengan di pesantren syalaf. Kitab-kitab kuning besar seperti Ihya Ulumiddin, juga masih dikaji di pesantren ini. Sampean juga tidak perlu khawatir tidak memiliki ijasah sekolah umum, karena di pesantren ini juga ada Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah/ Sekolah Tinggi Agama Islam maupun SD, SMP, SMA, SMK. Tetapi, untuk kualitas sepertinya saya harus jujur, sebagaimana kebanyakan sekolah di pesantren NU kebanyakan, masih ala kadar nya. Rasanya, sulit lulusan SMA/MA dari pesantren jenis ini yang bisa bersaing dengan SMA Negeri di luar pesantren untuk bisa diterima di perguruan tinggi negeri umum favorit. Untuk menjembatani kesenjangan itu, Depag memiliki program khusus program beasiswa santri berprestasi  yang merupakan jalur khusus alumni pesantren untuk diterima di PTN favourite tanpa melalui jalur umum.

Yang kedua adalah pesantren yang relatif seimbang antara Ilmu agama dan Ilmu umum nya. Contoh dari tipe pesantren ini adalah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, dan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denayar Jombang. Dibanding dengan sebelumnya, kualitas sekolah umum di pesantren ini cukup bagus. Di Bahrul Ulum misalnya, di pesantren ini terdapat Madrasah Aliyah Negeri Tambak Beras, yang cukup terkenal.

Yang ketiga adalah pesantren yang kualitas sekolah umumnya sangat bagus, bisa bersaing bahkan bisa dibilang lebih bagus dari sekolah umum di luar pesantren. Akan tetapi, anda jangan berharap bisa mendalami ilmu agama sedalam di pesantren syalaf. Sebuah majalah NU pernah menyindir, Kitab Kuning merana di pesantren ini. Walaupun minim jika dibandingkan dengan pesantren syalaf, teapi tentunya pendidikan ilmu agama di pesantren ini jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan di sekolah umum. Pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang dan PP Amanatul Ummah adalah contoh sempurna dari jenis pesantren ini. Di pesantren ini, terdapat sekolah-sekolah unggulan seperti SMP Negeri Unggulan 3 Peterongan, SMA Unggulan Darul Ulum 1 BPPT, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT RSBI  (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional Sebelum dihapus).

smu_du_2

Ilustrasi: Santri Darul Ulum di SMA Unggulan DU 2 BPPT

Alumni sekolah di pesantren ini banyak sekali yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit seperti ITS, Unair, UGM, UNDIP, ITB, IPB, UI. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya banyak alumni pesantren ini yang jadi dokter, insinyur, ahli hukum tata negara, dan berbagai profesi lainya. Pesantren ini seolah ingin membuktikan bahwa alumni pesantren tidak hanya bisa jadi ahli agama, tetapi juga bisa sukses di berbagai bidang profesi kehidupan.

Jadi kalau sampean pingin sekolah di sekolah yang tidak kalah bagus di SMP atau SMA Negeri favorit di kota kamu, semisal sampean pengen jadi Ahli hukum, Dokter, Insinyur sekaligus  ingin memiliki fondasi dasar keagamaan yang kuat (ingat level dasar, bukan advanced lowh), pesantren jenis ini adalah pesantren pilihan terbaik buat sampean.

3. Pesantren Modern (Kholaf)

Yang jelas di pesantren ini tidak ada kitab kuning. Walaupun saya yakin awal mulanya NU, tetapi pesantren jenis ini mengklaim berdiri di atas semua golongan. Berbeda dengan pesantren NU yang bermadzaf Imam Syafii (Syalafiyah, As’ariyah) pesantren ini biasanya tidak mengklaim bermahdzab pada mahdzab tertentu. Saya lebih senang menyebutnya boarding school untuk jenis pesantren ini. Biasnya di pesantren modern ini digunakan bahasa internasional, yaitu bahasa Arab dan Inggris. Contoh dari pesantren jenis ini adalah: Pondok Modern Gontor, Pondok Modern Assalam Solo,  dan Pesantren Darunnajah.

Ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Gontor Ponorogo

Pembentukan karakter yang mengkolaborasikan sistem pendidikan modern dan islam sangat kental di pesantren ini. Kedisiplinan dan penguasaan bahasa asing juga menjadi penekanan dari pondok pesantren modern ini. Pondok pesantren modern ini seolah ingin menepis anggapan pesantren yang identik dengan keterbelakangan, kumuh, dan anti kemajuan.

Jika sampean  berniat melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren, atau sampean orang tua yang ingin menyekolahkan putra/putrinya ke pesantren semoga tulisan ini sedikit bisa memberi gambaran. Saya pribadi, sebagai alumni salah satu pesantren, sangat menyarankan untuk memilih pesantren sebagai jalur pendidikan yang tepat. Apalagi jika melihat mentalitas anak sekolah jaman sekarang yang begitu rapuh, yang begitu mudah terpengaruh oleh budaya luar dan mudah terberdaya dengan teknologi. Miris rasanya, melihat pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang.  Masih SMP sudah banyak yang sudah bunting, Mudah diperdaya oleh laki-laki hidung belang hanya lewat Facebook, begitu mudahnya terbawa budaya ikut2an mode/ gaya hidup yang mendera di tengah-tengah era keterbukaan informasi. Seolah mereka tak memiliki jati diri, tak memiliki pegangan hidup yang pasti.

Dengan di pesantren, saya sangat yakin mereka setidaknya akan memiliki pegangan, dasar agama yang kuat yang membuat mereka tidak rapuh ketika terpaan ideologi, gaya hidup luar yang datang bertubi-tubi.  Mereka bisa memaknai  setiap episode kehidupan dengan bijak, karena memiliki kecerdasan spiritual yang diasah di pesantren. Bahwa keterbukaan informasi sebagai akibat dari kemajuan jaman tidak dapat dielakkan, karenanya kita perlu membekali anak-anak kita tidak hanya dengan ilmu tapi juga dengan Iman dan Taqwa. Kuat Ilmu, Kuat Iman, Kuat Takwa, agar anak-anak kita tidak sekedar sukses mengejar kesuksesan semu di dunia saja, tetapi juga sukses, selamat, bahagia di dunia dan di akhirat.


Pesantren NU dan Pendidikan Karakter

Suasana di Kota Santri, asyik senangkan hati. Tiap pagi dan sore hari muda-mudi berbusana rapi menyandang kitab suci, hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji. Duhai ayah ibu, berikan ijin daku untuk menuntut ilmu pergi ke rumah guru, mondok di kota santri banyak ulama kyai tumpuan orang mengaji. Mengkaji ilmu agama, bermanfaat di dunia, menuju hidup bahagia sampai di akhir masa. – Kota Santri, Nasida Ria.


Santri Sedang Mengaji Kitab Kuning (Courtesy: www.tempo.co )

Bait di awal tulisan ini adalah cuplikan lirik salah satu lagu qasidah yang di populerkan group qasidah Nasida Ria di tahun 1990 an. Duh, saya jadi ingat dan kangen  sama emak di kampung yang demen banget dengerin lagu-lagu qasidah ini dari radio setiap menjelang Adzan maghrib di kampung. Apalagi di bulan Ramadlan. Selalu menghadirkan suasana nostalgic masa kecil di kampung setiap kali mendengarkan kembali lagu qasidah ini di youtube. Apa kabar ya, para artis Nasida ria ini? Oh sayang seribu sayang, qasidah ini sepertinya sudah hilang ditelan keangkuhan zaman. Semoga saja saya keliru.

Maaf, saya tidak sedang ingin menulis tentang nasib Nasida Ria. Seperti judul dari tulisan ini, kali ini saya ingin menulis uneg-uneg saya tentang pesantren. Katanya para akademisi, pesantren adalah sebuah sub-cultural tersendiri dalam masyarakat (Entahlah, apa maksudnya? ). Sering diidentikkan sebagai tempat nya pemuda-pemuda sarungan dan pemudi-pemudi berjilbab kampungan, yang jarang terdengar dan diekspos di media bahkan cenderung terpinggirkan, kecuali kalau menjelang pemilu. Tak jarang sering diremehkan, dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang sok berpendidikan. Bahkan oleh orang-orang Islam sendiri. Pesantren ini sering dijadikan kambing hitam sebagai sarangnya Bid’ah, Kolotisme, dan biang ketidakmajuan umat Islam. Padahal, fakta sejarah mencatat pesantren-pesantren NU ini adalah institusi pendidikan tertua di Indonesia yang membangun manusia-manusia Indonesia. Khususnya para manusia-manusia pejuang-pejuang kemerdekan RI.

Suatu hari, saya sedang berada di tengah-tengah keluarga mertua saya. Kebetulan, ada salah satu keponakan yang sedang rewel yang entah kenapa tidak mau masuk sekolah. Karena kehabisan cara untuk merayu, sang ibu tiba-tiba mengancam begini: “Eh, kamu kalau ndak mau masuk sekolah, saya pondok kan kayak Mbak Fulanah ya ! “. Si anak pun terlihat ketakutan, ” ndak mau ! buk” . Dan si anak pun bergegas mau berangkat ke sekolah. Tidak hanya ketika malas sekolah, rupanya ancaman dimasukkan pesantren adalah cara paling efektif untuk membuat si Anak menurut kehendak sang Ibu. Dalam hati saya nggrundel emang nya pesantren tempat pesakitan piye? Sebagai salah satu alumni pesantren, jelas saya tidak terima pesantren dijadikan untuk menakut-menakuti bocah.

Jelas ini ada persepsi yang salah. Dan saya sangat yakin, masih banyak masyarakat yang berfikiran yang salah, bahkan berfikiran negatif terhdap pesantren. Di tulisan ini, saya ingin mencoba sedikit meluruskan. Apalagi, saat melihat karakter anak-anak muda jaman sekarang yang tergambar dari media yang sungguh sangat memprihatinkan. Pergaulan bebasnya, gaya hidup hedon nya, budaya instant nya, manja nya, dan matinya kecerdasan dan empati sosial mereka terhadap sesama. Membuat saya sangat yakin, betapa pentingnya pendidikan  ala pesantren ini.

” Pak Nuh, kalau sampean mau mencari model pendidikan karakter, sampean ndak usah bingung jauh-jauh mencari kemana kemari. Belajar saja sama pesantren-pesantren NU !”

Begitu kata Ibu Khofifah Indar Parawansa, Ketua Muslimat NU, suatu ketika ke Pak M. Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kebetulan juga kader NU. Saya sangat-sangat setuju dengan Bu Khofifah ini. Saya rasa, pesantrenlah institusi pendidikan yang paling berhasil membentuk karakter. Sebagai orang yang pernah di pesantren, saya merasa karakter berikut cara pandang saya melihat dan memaknai hidup ini terbentuk saat di Pesantren. Untuk membentuk karakter seseorang, menurut hemat saya jelas sangat tidak cukup hanya dengan sistem pengajaran di dalam kelas sebgaimana di sekolah-sekolah umum. Tapi perlu pendidikan menyeluruh 24 jam, dan itulah yang terjadi di pesantren.

pp_darul_ulum
Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Model Pendidikan Pesantren NU

Secara umum, ada beberapa karakteristik yang menurut saya melekat pada Pesantren, khususnya pesantren NU dan tidak ada pada institusi pendidikan lainya. Karakteristik tersebut adalah:

Figur Pak Kyai/ Bu Nyai

Sang kyai dan Bu Nyai adalah tokoh sentral di Pesantren. Mereka ibarat kurikulum hidup yang senantiasa menjadi inspirasi, panutan, dan keteladanan bagi santri. Yang dari merekalah para santri belajar kearifan dan kebajikan hidup, meneladi akhlak  Rosulullah dan sahabat nya sesuai dengan Alquran dan Hadist. Bersama para ustad dan ustadzah Pak kyai dan Bu Nyai ini memantau para santrinya selama 24 jam. Singkat kata, Akhlakul Karimah adalah kurikulum wajib yang diterapkan di pesantren. Kesederhanaan, kesabaran, dan keiikhlasan adalah sifat yang melekat pada Pak Kyai dan Bu Nyai. Yang akan selalu menginspirasi seumur hidup para santrinya.

Masjid

Masjid adalah jantungnya pesantren. Di Masjid inilah semua kegiatan religius berpusat. Setiap santri diwajibkan sholat jamaah dimasjid, kegiatan pengajian juga berpusat di masjid ini. Tahlil, Istigotsah, Manaqib, dan kegiatan Ubudiyah berpusat di masjid ini. Dari masjid inilah religiusitas, fondasi keimanan dan ketaqwaan para santri dibentuk.

Asrama Santri

Para santri tinggal bersama dengan santi lainya yang datang dari berbagai daerah dan beda budaya. Di kamar-kamar sederhana tapi penuh dengan kebersamaan. Di asrama ini para santri learning by doing yang namanya kemandirian, gotong royong, egaliter, kebersamaan, kedisiplinan, kepemimpinan, saling memahami dan menghormati, saling mengingatkan, berempati kepada orang lain. Mau tidak mau mereka tidak bisa hidup egois dan individualis di asrama ini.

Kitab Kuning

Kitab kuning adalah kitab (baca : buku) klasik karangan ulama-ulama terkenal jaman dahulu (utamanya masa kejayaan Islam) yang dipelajari dan menjadi ciri khas pesantren NU. Karena ditulis dalam bahasa Arab gundul (tanpa harokat) dan biasanya dicetak pada kertas berwarna kuning makanya biasa disebut kitab kuning. Kitab kuning ini mencakup berbagai disiplin ilmu: Tafsir, Hadist, Fiqih, Akhlak, Tasawuf, dan sebagainya. Kitab ini dibaca kata per kata dan diterangkan oleh sang kyai secara kolosal kepada puluhan, ratusan, bahkan ribuan santrinya, yang menyimak sang kyai sambil memberi makna pada kitab yang dibaca dengan huruf arab pego (bahasa jawa yang ditulis arab). Sistem ini dikenal dengan sistem Bandongan. Atau dibacakan secara personal, satu ustad/ustadzah ke satu santri secara bergantian, sistem ini dikenal dengan sistem sorogan. Dari kitab-kitab inilah sang kyai mengajarkan kearifan dan kaebajikan hidup dari ulama-ulama jaman dahulu. Bagaimana bahanya penyakit hati seperti iri, dengki, hasut, riyak atau Pedihnya siksa kubur atau dahsyat nya hari kiamat, mengerikanya neraka, dan indahnya Syurga dibahas sangat detail dari kitab-kitab kuning ini.

Madrasah/Sekolah

Di pesantren NU, ada maqalah begini: “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat [1]. Jelas, pesantren tidak anti modernitas sepanjang itu membawa perubahan yang lebih baik, tetapi pesantren juga kekeh melestarikan budaya sendiri yang positif, tidak begitu saja mengadopsi  budaya orang lain, tetapi bangga dengan budaya dan kearifan lokal sendiri.

Oleh karena itulah di pesantren juga ada Madrasah atau Sekolah. Ada Madrasah Diniyah, yang memang khusus mempelajari Agama yang terdiri dari beberapa tingkat mulai, Shifir, Ula, Ustho, Ulya, dan Ma’had ‘Aly. Tidak sedikit pesantren yang membuka sekolah layaknya sekolah pemerintah di luar pesantren seperti: SD, SMP/M.Tsanawiyah, SMA/SMK/Madrasah Aliyah, bahkan Perguruan Tinggi. Dan jangan salah, banyak sekolah di pesantren yang kualitasnya lebih bagus dari sekolah di luar pesantren, seperti Pondok Pesantren Darul Ulum di Jombang, yang memiliki sekolah SMA swasta berstandar Internasional.

Disamping itu semua ada barokah do’a kyai/Bu nyai yang Insha Allah membuat barokah hidup para santrinya.

pendidikan_karakter

Jika belakangan pemerintah menggalakkan pendidikan karakter, menurut hemat saya pesantren dari dahulu secara mandiri telah berhasil menerapkanya. Pemerintah seharusnya belajar banyak dari pesantren tentang pendidikan karakter. Seperti, yang telah ditiru oleh Pemerintah Kabupaten Sragen, yang mendirikan SMP-SMA Negeri bilingual boarding School. Sekolah ini terbukti berhasil dengan prestasinya yang luar biasa, siswa-siswinya sering menjuarai olimpiade baik tingkat nasional dan internasional. Bahkan pada tahun 2012, mendapat penghargaan dari MURI  sebagai sekolah termuda dengan prestasi terbanyak [2].

Semoga, segera lahir generasi-generasi emas untuk mengubah bangsa ini, Allahumma Ammiin.