Advertisements

Tag Archives: perjuangan phd

Igauan tidur yang tidak nasionalis

Bukankah, tak ada di dunia yang patut diperjuangkan mati-matian, kecuali mempertahankan akidah? – a random thought

ngokro_2

Macak stress akut

Hari-hari belakangan ini, saat malam telah larut, saat gelap telah pekat, saat semua orang telah terlelap, istri saya sering membangunkan tidur saya.

“yah… yah tangi” kata istri saya panik sambil mengoyang-goyang tubuh saya.” …hah, jam piro iki Bun?” saya pun terbangun kedandapan, langsung mencara handphone untuk melihat jam. ” ayah ngelindur” timpal sang istri, dan saya pun melanjutkan tidur kembali.

Kata istri saya, belakangan ini tiap malam suka mengigau. Mengigaunya, pakai bahasa Inggris, tetapi dia tidak paham. Haha, saya pun tertawa. Mosok, saya ngelindur pakek bahasa Inggris. Kok ndak nasionalis banget. Lahwong, biasanya di rumah kalau ngobrol sama istri pakek bahasa Jawa.

Rupanya, gejala stress akut gara-gara PhD ini telah terbawa juga sampai alam mimpi. Perdebatan, adu argumen, dengan ndoro dosen itu ternyata berlanjut, mengusik otak bahkan pada saat otak seharusnya sedang beristirahat sejenak.

Oalah, nasib-nasib! nasib mahasiswa PhD semester tuwek dengan kualitas otak ala kadarnya.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, kami mendengar ada kabar duka dari kawan seperjuangan yang sedang menempuh PhD di Sydney Australia. Lima tahun lebih berjuang dengan beasiswa dari pemerintah yang pas-pasan dan tersendat-sendat.

Tragisnya, sang kawan yang dosen di salah satu PTN di Jawa Timur itu harus  menghembuskan nafas terakhir saat perjuangan nyaris usai. Berakit-rakit kehulu berenang ketepian. Bukanya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tetapi, bersakit-sakit dahulu, malah mati kemudian.

Kata sohibul hikayat, istri sang kawan bercerita, bahkan sampai saat-saat kritis, menjelang sakaratul maut, sang kawan sering mengigau pakai bahasa Inggris. Apalagi kalau bukan, igauan tesis PhD nya. Ini adalah kali kedua saya mendengar berita dari kawan-kawan seperjuangan, yang berjuang untuk lulus PhD hingga hembusan nafas terakhir. Bahkan kata sohibul hikayat di group facebook kami, ini cerita sejenis yang ke-enam, lo. Wow !

Selamat Jalan, kawan! Semoga kau petik buah perjuangan mu di akhirat, di kehidupan keabadian nanti. Kata kyai saya di pesantren dulu, jika menuntut ilmunya diniatkan karena Allah semata, kematian orang sedang menuntut ilmu itu adalah kematian syahid. Sama halnya, kematian seorang ibu yang meninggal dunia karena perjuangan melahirkan anak yang kandungnya.
***
Ya, Allah. Jika boleh saya meminta, saya tak ingin bernasib stragis itu. Bukankah, tak ada di dunia yang patut diperjuangkan mati-matian, kecuali mempertahankan akidah. Bukankah, PhD bukanlah segala-segalanya. Apalah arti gelar PhD, jika hanya itu gagah-gagahan saja. Jikalaupun, takdir tak berpihak dan PhD tak berhasil diraih, tetapi cerita hidup harus terus dilanjutkan. Setidaknya saya telah mencoba. Setidaknya saya sudah berusaha sekuat tenaga. Setidaknya saya sudah berdoa sepenuh jiwa.

Bukankah, yang terpenting kita menikmati dan menghayati proses belajar ini? Bukankah yang lebih penting itu belajarnya, bukan selembar kertas tanda tamat belajar itu?

Istri saya mengingatkan, agar tidak terlalu menjadi beban, jangan lupa amalan dari pak kyai diistikomahkan. Seorang kawan saya juga mengingatkan, sholat jamaah di masjidnya cak, diistikomahkan lagi.

Advertisements

Tips Sukses Menjalani PhD Life Ala Mbak Maryati, PhD

…. support keluarga dan doa orang tua adalah hal terpenting selama perjalanan PhD saya. – Mbak Maryati, PhD

tips_phd_7

Ilustrasi : Diskusi (Jubilee Campus, Nottingam, 2013)

Setiap orang memiliki definisi sendiri tentang arti kesuksesan. Begitu juga setiap orang memiliki cara sendiri untuk mencapai kesuksesanya sendiri. Banyak jalan menuju Roma, begitu juga banyak cara untuk mencapai sukses. Cara orang lain belum tentu cocok untuk kita ‘copy paste’ menjadi cara kita. Karena pada dasarnya setiap dari kita memang diciptakan istimewa. Tetapi tak pernah salah jika kita mau belajar dari pengalaman orang lain. Jika semut punya kearifan untuk mengikuti jejak jalan yang paling optimal menuju sumber makanan. Kita pun, sebagai manusia, bisa menjejaki jejak kesuksesan orang lain. Meskipun tidak seharusnya, seutuhnya sama. Yang jelas, jangan pernah terperosok ke jurang yang sama dengan orang lain.

Hampir semua orang setuju, kuliah ditingkat PhD itu tidaklah mudah. PhD is different education level. Ini sekolah, bukan sekedar duduk di bangku kuliah, mendengarkan dosen bicara, ikut ujian, kemudian lulus. Bahkan, di Eropa PhD itu tidak perlu duduk di bangku kuliah sama sekali. Banyak yang berhasil, tetapi juga tidak sedikit yang gagal di tengah jalan.

Nah, beberapa hari yang lalu, saya berhasil mewawancarai seorang Mahasiswa Indonesia yang baru saja menyelesaikan studi PhD nya dari School of Pharmacy, The University of Nottingham dengan beasiswa dari Islamic Development Bank (IDB). Namanya, Mbak Maryati. Beliau adalah dosen di Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo. Setelah menempuh studi penuh dengan perjuangan berat selama lebih dari 4 tahun, alhamdulilah, akhirnya beliau bisa menyelesaikan dengan sangat baik. Memang tidak pernah ada perjuangan yang sia-sia.

wisuda_2

Celebrating Success. Mbak Maryati, PhD

Apa saja kita sukses PhD ala mbak Maryati, PhD. Berikut wawancara saya dengan beliau:

Semoga bermanfaat ! Semoga kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman mbak Maryati dan menjejaki jejak kesuksesan beliau. Semoga kita yang sedang berjuang menyelesaikan PhD diberikan selalu semangat, kepercayaan diri, dan kesuksesan. Insya Allah kesuksesan itu sudah sangat dekat. Selamat berjuang teman ! Matur nuwun Mbak Mar sudah berbagi pengalamanya ! Semoga semakin sukses kedepanya.


Catatan Pinggir : 2/3 Jalan Panjang PhD

…. pada akhirnya, bukan yang (merasa) paling cerdas dan pintar yang akan jadi pemenang. Tapi yang selalu berani bangkit ketika terjatuh, yang selalu ingin mencoba satu kali  lagi ketika berkali-kali merasa letih didera kegagalan, yang akan mengecap manis nya buah perjuangan. Dialah pemenang sesungguhnya. – A Random Thought

refleksi

Dari Belakang Saya, Wollaton Park, Nottingham, Winter 2013 (Dok. Pribadi)

Waktu akan selalu terasa singkat, buat mereka yang sedang bersenang-senang. Waktu akan selalu terasa sangat lambat, buat mereka yang berada di balik tembok derita. Dan setiap detik waktu akan selalu terasa begitu menentukan, buat mereka yang sedang berjuang. Malam yang terlalu panjang di musim dingin ini menuntun mata pikiran saya untuk menengok ke belakang kembali. Menatap dan merenungi jejak-jejak setiap langkah kecil, menyusuri jalan panjang perjalanan PhD ini. Yang belum juga menemukan titik tepi.

Dua tahun Dua bulan dari hari-hari yang hampir selalu terlihat sama. Lingkup hidup yang hanya berputar antara rumah-lab.-masjid. Ritme kehidupan yang hanya berkutat antara readingcodingwriting dan pusing. Hanya sesekali, ada kejutan-kejutan kecil. Tetapi, hari-hari itu tak pernah sama buat yang memahaminya.

Berawal dari merasa salah jurusan. Orang biasa berfikir dalam bingkai organisasi, dipaksa harus merubah cara berfikir dalam bingkai terlalu sempit bernama Algoritma. Lalu, merasa sangat tidak beruntung mendapatkan ndoro dosen pembimbing yang terkenal paling tough yang selalu percaya bahwa anak bimbinganya hanya bisa maju jika di push melebihi batas kemampuan yang diyakininya.

Lalu, saya pun harus memulainya dengan sebuah NOL besar. Menjadi bayi baru lahir di antara sesepuh pinesepuh yang sudah berpuluh-puluh tahun berada di jagad riset itu. Hanya berbekal keyakinan tak perlu pintar dan cerdas untuk memenangkan tantangan ini. Hanya butuh semangat, konsistensi, dan kesabaran untuk terus merangkak, apa pun yang terjadi.

Pernah ingin putus asa, karena merasa telah menemui jalan buntu. Pernah ingin menangis sekencang-kencangnya, ketika ndoro dosen seolah telah menghempaskan saya ke titik yang terendah. Pernah merasa malas, semalas-malasnya, seperti balon udara yang kehabisan gas hidrogen nya, seperti kerupuk mlempem dimakan angin. Beruntung, saya selalu menemukan cara untuk mendamaikan diriku. Ada hati-hati yang menguat kan saya kembali. Ada Tuhan, tempat bersandar yang Maha Segalanya. Bahkan ketika, empat teman seperjuangan sudah  mrotoli di tengah jalan. Saya mencoba untuk tetap bertahan. Walaupun, sering kali perjalanan PhD ini terasa seperti berjalan di jalan sunyi sendirian.

Tetapi, hari ini hati saya tak mampu membendung rasa bahagia. Akhirnya, solver saya berhasil mengalahkan solver sesepuh yang sudah mbaurekso berpuluh-puluh tahun itu. Akhirnya, saya menemukan hubungan yang menenangkan dengan ndoro dosen saya. Ketika saya menganggap hubungan ini, seperti santri yang sedang nyantri, ngalap barokah ilmu Kiai nya.

Kawan, pada akhirnya, bukan yang (merasa) paling cerdas dan pintar yang akan jadi pemenang. Tapi yang selalu berani bangkit ketika terjatuh, yang selalu ingin mencoba satu kali  lagi ketika berkali-kali merasa letih didera kegagalan, yang akan mengecap manis nya buah perjuangan. Dialah pemenang sesungguhnya.

Tetapi perjalanan ini masih belum usai, masih banyak tantangan di hadapan. Mohon do’a kawan-kawan !