perjalanan kereta api

Dari Kereta Api Ranggajati: Masih Manusia Kah Kita?

“ …. Bagi manusia yang penting bukan kemanusianya, tapi status sosial, harta benda, dan kekuasaanya. di semua peta sosial, yang primer bukan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan – melainkan kemenangan, kegagahan, dan keunggulan “ – Mbah Nun

kereta_api

Ilustrasi: Kereta Api Indonesia

Untuk kesekian kalinya, aku menulis cerita ini ketika berada di dalam gerbong kereta api. Kali ini kereta api Ranggajati, jurusan Jember-Purwokerto. Aku duduk di Gerbong Bisnis 3 Kursi Nomor 2B dengan laptop tua Lenovo hitam pinjaman kantor, yang nafasnya sudah sering tersengal-sengal alias nge hang, jika diberi pekerjaan sedikit berat saja. Tak apalah, setidaknya aku masih bisa mengetik tulisan ini.

Hari ini lagi-lagi, aku merasa beruntung sekali. Tiket kereta yang kubeli satu jam sebelum keberangkatan itu hanya seharga Rp.65.000 lebih murah dari harga tiket kereta ekonomi. Seorang bapak yang naik bersama dan duduk disebelah kanan ku pas harganya Rp. 400.000. Pasalnya, si bapak memesan tiket itu semalam sebelumnya.

Haha lucu sekali. Rupanya teori revenue management system tidak berlaku di negara ini. Di luar negeri, kalau mau harga tiket murah, belilah jauh-jauh hari dan pesan secara online. Jika membeli tiket beberapa jam sebelum keberangkatan, sudah bisa dipastikan harganya bisa beratus-ratus persen lebih mahal. Dan hal sebaliknya malah terjadi pada penjualan tiket kereta api di Indonesia ini.

Aku sekarang sudah tahu triknya. Beberapa kali aku iseng melihat harga tiket kereta secara online. Seperti semalam aku juga mengecek harga tiket kereta api yang sedang aku naiki ini. Benar seperti Bapak di sebelahku ini, harga tiketnya Rp. 400.000. Untung jika masih ada, sering kali tiket sudah tidak tersedia.

Tetapi ternyata, anehnya jika kita membeli tiket yang sama langsung di loket pembelian di stasiun, dua jam sebelum keberangkatan, harganya jauh lebih murah, seperti tiket ku ini yang hanya Rp. 65.000. Pun demikian jika secara online tiket sudah tidak tersedia. Aku sudah membuktikan, ternyata kalau membeli tiket beberapa jam sebelum keberangkatan malah ada. Sistem ini begitu menguntungkan orang-orang yang menyukai spontanitas, tidak suka perencanaan alias grusa-grusu seperti diriku.

Di sepanjang perjalanan, alam pikiran ku masih tercenung pada poin-poin menggigit dari artikel tulisan Mbah Nun yang aku baca tadi malam. Seperti biasa, Mbah Nun sangat jenius membaca tanda-tanda zaman. Betapa, keresahan-keresahan yang selama ini hanya terbatin menjadi kegelisahan senyap didalam hati melihat kenyataan hidup di rumah, di kampung, di tempat kerja begitu ter well-articulated oleh artikel itu. Mbah Nun mendeskripsikan kondisi manusia-manusia indonesia saat ini seperti begini petikanya:

Bagi manusia yang penting bukan kemanusianya, tapi status sosial, harta benda, dan kekuasaanya. Bagi sekolah dan Universitas, bukan ilmu yang penting, tapi gelar kesarjanaanya. Bukan tujuan hidup yang penting, tapi jumlah pemilikan kedunianya. Dalam beragama yang terpenting bukan ridla Allah, tetapi gaya kealimanya, branding keulamaan, gengsi kecendiakawanan, serta keuntungan materi di dunia maupun pahala materiil di Sorga. Di semua peta sosial, yang primer bukan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan – melainkan kemenangan, kegagahan, dan keunggulan.

Pendek kata, kondisi kejiawaan manusia-manusia modern jaman sekarang itu membuat aku bertanya-tanya: masihkah kita manusia?

Di rumah, di kampung halaman, aku mulai merasa ada hal yang mengganjal dan berbeda. Hubungan antar manusia yang dulu ada begitu tulus dan apa adanya sebagai manusia, kini perlahan-lahan telah sirna. Hanya kepentingan sendiri belaka yang menyatukan mereka itu. Orang-orang secara tidak sadar melekatkan harga dirinya pada harta benda dan jabatan yang digenggamnya. Yang berharta dan berkedudukan merasa dirinya besar luar biasa. Sebaliknya yang miskin papa merasa kecil tak berguna.

Di kantor pun demikian. Entahlah belakangan aku merasa kurang nyaman. Dunia akademik yang dulu kubayangkan nyaman rupanya tak seindah yang kubayangkan. Setiap individu, setiap klan, merasa harus unggul dan harus mengungguli. Kenapa kita tidak unggul bersama-sama saja? Pun demikian dengan proses pendidikan, rasanya seperti proses di pabrik yang dituntut untuk menghasilkan produk sebanyak-banyaknya. Tetapi kehilangan ruh kearifan dalam pendidikan dan pengajaran. Kegiatan penelitian pun demikian, kehilangan ruh semangat mengembangkan dan mengabdikan ilmu pengetahuan, berubah menjadi mesin untuk mendapatkan penghasilan jabatan.

Argh, Entahlah. Sepertinya aku yang salah. Sepertinya ini hanya perasaanku saja. Entahlah! Semoga kita tetap manusia. Bukan mur baut mesin peradaban yang memuja materi belaka. Semoga kita tetap manusia, yang memiliki ruh dan keindahan didalam hatinya. Semoga!

Di stasiun Jombang kereta berhenti agak lama. Seorang pramugari kereta api cantik berbaju dan berkerudung biru menawarkan bantal untuk disewa. Hanya tujuh ribu rupiah saja katanya. Aku tiba-tiba mengantuk, meski tak berniat menyewa bantal itu. Dan segera ku akhiri catatatn ini.

Dalam Gerbong Kereta Api Rangga Jati
Antara Jember – Purwokerto
08/07/2017 – 14 Syawal 1438 H

Advertisements