perbedaan sekolah di inggris dan di indonesia

Bid’ah dan Inovasi

… pendidikan disini menjadikan anak-anak kreatif sementara di tempat kita menjadikan anak-anak ensiklopedik. – a random thought

inovasi_ilyas

Anak Lanang dengan Inovasi Pesawatnya

Kemaren, yang telah lama berlalu, selepas sholat subuh jamaah di masjid. Ada seseorang yang menegurku. ” you have made an innovation, and it is not allowed in islam”  begitu, kira-kira pesan yang ingin disampaikan. Dia menggunakan kata “innovation” untuk menerjemahkan kata Bid’ah.

Rupanya tidak hanya di Indonesia, dimana teman-teman kelompok salafi, begitu gencar menyerang perilaku bid’ah, dimana NU, ormas Islam terbesar dengan jamaahnya yang ratusan juta itu (aku salah satunya), menjadi sasaran tembaknya; disini pun aku juga sudah berkali-kali divonis ahli bid’ah. Haha.

Ceritanya, setelah sholat, sebagai orang yang punya sentimental brain, aku sering sujud syukur. Intinya curhat kepada Allah, dan tentunya bersyukur atas segala apa yang telah Tuhan beri dalam kehidupan ini. Eh, malah divonis haram.

Aku pun enteng-enteng saja menanggapinya, meskipun dalam hati sambil ngomel: “Bid`ah endas mu, ngising mari sholat wae oleh, opo maneh sujud syukur“. Saya hanya bilang “thank you for your concern, but probably, we have different understanding“. Yah namanya orang, meskipun rambut sama hitamnya, tetapi isinya beda. Termasuk cara memahami agama. Mungkin mereka yang suka memvonis bid’ah itu, memahami agama dengan sangat textual. Jadi, apa-apa yang tidak secara explisit tertulis di buku-buku teks agama, yang sebenarnya buku-buku itu juga bikinan manusia, ya hukumnya haram. Sementara diriku, lebih senang memahami agama secara kontekstual. Latar belakang pendidikan yang berbeda pun menjadikan pemahaman kita yang berbeda.

Seingatku, selama ngaji fiqih di pesantren dulu, sholat itu dimulai takbir dan ditutup dengan salam. Jadi sependek pemahaman ku, setelah salam ya bebas kita mau ngapain saja boleh. Mau langsung ngising saja boleh, apalagi bersalaman atau bersujud syukur.

Tetapi saya sangat maklum dengan perbedaan pemahaman itu. Dan bukan kapasitas ku, menghakimi mana yang benar dan mana yang salah. Sungguh, wallahu a’lam bissowab. Hanya Allah yang maha mengetahui kebenaranya.

***

Tetapi aku sedang ingin menceritakan tentang Inovasi yang lain. Inovasi dalam membangun peradaban manusia di dunia, bukan peradaban di akhirat. Tentang bagaimana di Inggris ini rupanya semangat menciptakan inovasi sudah dibiasakan sejak bayek. Tak heran, jika banyak inovasi berdatangan dari negeri Inggris ini.

Inovasi inilah pemicu pertumbuhan ekonomi utama di negara maju, bukan konsumsi seperti di negara berkembang seperti di Indonesia. Boleh-boleh saja di media, pemerintah membangga-banggakan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik di dunia nomor tiga di dunia (padahal sebenarnya kurang tepat, lebih tepatnya nomor 3 diantara negara G20, dan banyak negara lain di luar G20 yang pertumbuhan ekonominya lebih tinggi daripada Indonesia, lihat disini), mengalahkan Inggris. Tetapi apalah artinya pertumbuhan ekonomi ranking segitu, jika pendapatan perkapita (yang menunjukan tingkat kesejahteraan) kita masih nomor 158 (yang jarang diekspos media).

Ceritanya kemaren pas liburan musim dingin, karena aku benar-benar nganggur jadi bisa mengamati perkembangan dan tingkah polah anak lanang dari bangun tidur hingga tidur lagi. Rupanya banyak hal-hal yang mengagumkan yang baru aku tahu dari anak lanang yang masih umur 5 tahun, yang aku yakin karena sistem pendidikan dasar yang sangat bagus disini.

Pertama, kemampuan bacanya yang berkembang pesat, sudah book band level 9 (lihat: oxford-owl) . Tidak hanya bisa membaca, tetapi juga paham apa yang dia baca. Terbukti dari hanya sekali membaca, lalu tutup buku, di hampir nyaris sempurna bisa menjawab semua pertanyaan berdasarkan bacaan yang diberikan di akhir buku.

Kedua, kebiasaan berinovasi. Selain pintar menggambar untuk mendeskripsikan sesuatu. Anak lanang juga terampil berinovasi dengan menggunakan barang-barang bekas, e.g. karton, kertas, kaleng bekas, untuk menciptakan sesuatu yang menurut dia baru. Satu yang menjadi poinya, menciptakan sesuatu yang dia fikir belum ada orang yang menciptakan sebelumnya.

Seperti kemaren, tentang pesawat kertas. Mungkin pesawat dari kertas yang bisa terbang sudah terlalu mainstream. Tetapi dia berinovasi dengan memberi roda pada pesawat kertas itu, dan menggambar jendela serta nama pesawatnya. Lalu setelah itu, dia mengambil laptop, buka google, mengetik : “paper aeroplane with plane“, dan diklik tab images. Ketika dia tidak menemukan satu pun gambar yang sama. Dengan excited, anak lanang berteriak dengan bangga: “ Hore!…. I am the first one in the world, making paper aeroplane with wheel“.

Pesawat kertas sendiri sih biasa-biasa saja, tetapi spirit untuk membuat bid’ah, alias inovasi, menciptakan sesuatu yang baru sungguh sangat luar biasa. Tidak hanya pesawat, selama liburan, anak lanang juga berinovasi menciptakan hal-hal yang lainya seperti: kapal laut, sledge, rumah, ikan, dll. yang setiap kali ditanya darimana datang idenya. Dia hanya menjawab: ” it just comes from my head“. Haha!

Aku jadi teringat, jaman aku seumur segitu, di sekolah hanya diajari hafalan. Hafalan nyanyi, hafalan pancasila, hafalan surat pendek. Lalu beranjak mendewasa hafalan pasal-pasal UUD, hafalan perkalian, hafalan nama menteri, hafalan tahun-tahun sejarah, dan hafalan materi-materi pelajaran lainya. Hafalan pelajaran berlanjut hingga kuliah. Apa yang bisa kita harapkan dari otak yang hanya digunakan untuk menghapal itu? Apa bedanya dengan wikipedia?

Tak heran jika miskin inovasi di negeri kita. Tak heran jika kita hanya bisa puas sebagai negara konsumen produk-produk teknologi di dunia, bukan produsen teknologi. Bahkan, kita pun parahnya jadi konsumen ideologi dan jati diri. Hal-hal yang kebarat-baratan dan kearab-araban dianggap lebih bergaya. Tak heran jika agama pun dipahami tak lebih dari hafalan aturan halal/haram. Bukan dihayati sepenuh hati sebagai penghambaan kepada Tuhan, dan inspirasi menciptakan rahmat untuk sekalian alam, inspirasi untuk menciptakan peradaban dunia yang berkemajuan.

Tetapi mungkin aku salah, dunia pendidikan di negeriku mungkin sudah banyak berubah?

Advertisements

Bersepeda Ke Sekolah bersama Ayah

… salah satu momentum paling berarti sepanjang kehidupan seorang laki-laki adalah ketika ada ‘malaikat’ kecil yang memanggilnya: ” AYAH !!!” – A Random Thought

ilyas_sekolah_1

Get Ready: Bike to School

Bumi tak pernah lelah dan tak pernah terlambat, menuruti hukum Tuhan, mengelilingi Matahari. Dan bulan September pun kembali datang. Menandai berakhirnya liburan musim panas yang panjang dan kembalinya anak-anak ke sekolah. Back to School.

September ini, berarti saya sudah tiga tahun di UK. Dan ternyata saya belum lulus. Berarti target yang saya buat waktu baru memulai tiga tahun yang lalu dulu meleset. Hahaha. Waktunya menertawakan diri sendiri. Yah, jalan yang saya pikir halus mulus, ternyata terjal, banyak tanjakan, dan berliku. Tapi merutuki hidup tidak ada artinya, lebih baik, meminjam istilah Prof. Komaruddin Hidayat, merayakan festival kehidupan ini. Dan terus bergerak, menuju tujuan.

September ini, Ilyas, diusianya yang 4 tahun, memasuki sekolah yang baru. Setelah selama setahun kemaren sekolah di Nursery School, tahun ini Ilyas masuk di kelas Reception di Primary School. Sekolah yang membuat setiap anak di negara ini merasa sangat senang dan excited di dalamnya.

Kalau sebelumnya, sekolah nursery berada di belakang rumah dan hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki dari rumah. Untuk sekolah baru ini, berada cukup jauh dari rumah. Hampir 30 menit kalau ditempuh jalan kaki. Nama sekolah baru tersebut adalah Berridge Primary School.

ilyas_sekolah_3

Seragam Sekolah Baru

Sebenarnya, ada Primary School di belakang rumah, tetapi entah kenapa hasil registrasi online kemaren, dapat sekolah pilihan yang ke 4. Padahal saya memilih berdasarkan, jarak terdekat dari rumah. Pengalaman dari teman, agar dapat sekolah yang diinginkan sebaiknya diisi dua pilihan sekolah saja dari lima pilihan yang disediakan. Yah, sayang tahunya baru setelah ada pengumuman diterima.

Karena jarak dari rumah jauh, kali ini Ilyas harus dibonceng ayah naik sepeda. Sepeda ayah terpaksa harus dipasang baby seat di belakangnya. Hehe, Ilyas ternyata sangat menikmati dibonceng naik sepeda. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya dia menyanyi girang. Apalagi kalau jalanya menanjak atau menurun ekstrim. Faster, faster, Ayah ! Alhamdulilah, saya pun juga sangat menikmatinya. Kebersamaan dengan si kecil diatas sepeda seperti ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidup saya.

ilyas_sekolah_2

Fasten the seat belt and Go !

Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di gerbang sekolah. Hari ini, karena hari pertama masuk sekolah, para staf sekolah terlihat lebih sibuk dari biasanya. Untuk melayani orang tua seperti saya yang belum tahu dimana kelas anaknya. Dan juga melayani pembelian seragam sekolah.

Sekolah hanya menyediakan jumper, seharga £ 6.5 itu pun tidak wajib sebenarnya. Untuk seragamnya bisa di beli di super market terdekat. Di Asda, 2 buah seragam atasan harganya hanya £2.5 . Sementara bawahanya hanya £3. Harga yang sangat murah untuk ukuran di UK ini. Lebih murah dari harga kentang dan ayam goreng di warung-warung Pakistan.

Seorang Ibu guru British, yang cantik dan funky (bibirnya ditindik, dan anting2nya tidak konvensional), mengantarkan kami sampai di depan kelas. Ilyas ditempatkan di Kelas Holy. Di depan kelas, seorang ibu guru yang lain sudah menunggu menyambut kami. What’s your name? tanyanya ke Ilyas dengan ramah. Ilyas jawab Ilyas dengan malu-malu. Kemudian sebuah stiker bertuliskan Ilyas ditempelkan di jumper Ilyas sambil mempersilahkan kami masuk kelas.

ilyas_sekolah_4

Feedback from his Teachers in the first Week

Di dalam kelas ada tempat gantungan jaket yang ada gambar dan nama masing-masing murid. Untuk ilyas dapat gambar pelangi, yang mungkin waktu otak saya lagi error, saya sebut it is umbrella. Yang kemudian dikoreksi sama Ilyas, No Ayah, it is a rainbow !

Setelah menggantungkan jaket, setiap murid yang datang harus memindahkan batu-batu kecil ke dalam kantong kain. Di batu-batu kecil itu, terlukis nama masing-masing surid. Dan setiap murid harus bisa menemukan namanya, dan memindahkan ke kantong kain. Eits, meskipun Ilyas belum bisa membaca, ternyata dia bisa mengenali namanya.

Di dalam kelas, murid-murid duduk mengelilingi seorang Ibu guru yang duduk di sebuah kursi dan sedang berusaha menangkan seorang muridnya yang sedang menangis tersedu-sedu. Saya pun meninggalkan ruang kelas itu dan kembali di rumah.

Mulai usia 4 tahun ini, sistem pendidikan di Inggris mewajibkan murid berada di sekolah dari jam 9 pagi hingga jam setengah 4 sore. Entah mata pelajaran apa yang diajarkan untuk bocah-bocah kecil yang masih suka menangis itu, sehingga mereka harus belajar selama itu. Yang jelas, setiap murid mendapatkan makan siang gratis di sekolah. Sekolahnya pun 100% gratis tis. Dan tidak pakai ribet. Pendaftaran hanya mengisi formulir online yang tidak banyak isianya, dan tidak pakai upload dokumen apa pun. Sudah habis itu, langsung masuk sekolah. Indeed, menyenangkan sekali pelayanan publik di Trust Society di negara maju seperti Inggris ini.

***

Di hari yang sama, seorang kawan yang baru saja pulang dari Inggris dan kembali ke Indonesia, curhat tentang ribetnya ngurusi sekolah anak-anaknya kembali di Indonesia. Apalagi, hampir 5 tahun sudah terbiasa dengan pelayanan serba mudah di Inggris.

Sudah lama jadi tren di kalangan kelas ekonomi menengah ke atas di perkotaan bahkan di daerah, bahwa sekolah dasar negeri tidak lagi diminati. Sudah distempel tidak maju dan ketinggalan jaman oleh para orang tua yang berada. Sebagai pengganti adalah SD full day yang ada labelnya Islam Terpadu, atau nama-nama yang kemarab. Konon sistem pendidikanya lebih maju, lebih islami, lebih mengedepankan pendidikan karakter dan sebagainya. Sehingga para orang tua pun tak keberatan meskipun harus membayar puluhan juta untuk biaya pendaftaran dan tentu saja biaya bulanan yang juga pastinya sangat mahal.

Sang Kawan pun, karena juga dari kelas ‘islam borjuis’ tak mau setengah-setengah dalam hal pendidikan anak-anaknya. Sekolah sejenis yang katanya salah satu yang terbaik di kotanya pun menjadi pilihan. Tetapi, ternyata kata sang kawan sekolah tersebut tak sebagus yang dibayangkan. Selain ribet administrasinya, anak-anaknya yang terbiasa sekolah di Inggris merasa tidak nyaman di sekolah dan mengatakan sekolahnya tidak bagus.

” Ibu, the school is not good. The students are uncontrolled. They are fighting and shouting”. Begitu kira-kira curhatan anak-anak kepada emboknya. Yang membuat anak-anak menjadi takut pergi ke sekolah. Hal sangat berkebalikan ketika mereka sekolah di Inggris.

Yah, hidup di Indonesia memang selalu lebih Challenging ! mudah-mudahan kita terus mau berbenah.

Potret Sekolah Gratis Untuk Semua di Inggris

“…. pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan itu Anda dapat mengubah dunia” – Nelson Mandela

atSchool

Ilyas By Radford Primary School, Nottingham

Riuh di Pagi Hari Ketika Lonceng Pagi Berdenteng

Ada aktifitas setiap pagi yang selalu saya nikmati, yaitu mengantar sekolah si kecil. Mendorong si kecil pakai push chair dari pintu rumah hingga ke gerbang sekolah. Perjalanan selama 10-15 menit ini adalah waktu istimewa saya dan si kecil, sebelum saya sibuk sendiri dengan kehidupan PhD saya di kampus dan baru pulang di rumah lagi ketika si kecil sudah terlelap dalam tidurnya. Entah, apa yang terjadi di sekolah yang membuat anak saya begitu kegirangan setiap kali berangkat sekolah. Mulutnya, tak henti-henti bernyanyi riang selama perjalanan dari rumah ke sekolah itu.

Di gerbang sekolah, seorang Ibu guru yang meskipun terlihat sudah berumur tapi masih terlihat cantik dan anggun berwibawa ditemani seorang bapak guru yang gagah dan tampan berwibawa, menyapa dengan senyum hangat dan ucapan ‘good morning’ kepada setiap murid dan orang tua yang datang mengantar ke sekolah yang semuanya datang dengan berjalan kaki dari radius 100-200 meter dari sekolah. Tepat pukul 09.00 pintu kelas di buka, kembali seorang guru kelas menyapa hangat setiap nama murid-murid nya yang datang sambil memberi tanda hadir pada buku kehadiran yang dipeganginya.

Hampir setiap hari saya bertemu dengan puluhan orang-orang wali murid yang sama. Orang-orang dari berbagai latar belakang yang sangat beragam. Kebetulan, tempat saya tinggal ini dihuni oleh para pendatang. Jadi, sangat beragam bentuk, warna, dan gaya orang-orang yang saya jumpai. Ada perempuan cantik berambut pirang yang seksi, perempuan eksotis berkulit hitam dengan rambutnya kribonya, perempuan berpakaian sangat longgar serba hitam dan bercadar, perempuan berjilbab anggun khas perempuan muslim asia tenggara, senyum manis perempun muslimah berjilbab dari afrika, perempuan kulit hitam dengan warna dan motif pakaian yang menyala dengan jilbab warna senada tapi memamerkan kedua daun telinganya, sampai dengan pemuda bertato, dan kakek-kakek yang jengotnya sudah memutih dan jalanya sudah bungkuk-bungkuk.

Hampir setiap hari saya berjumpa dan berpapasan dengan mereka di gerbang sekolah. Tanpa seorang pun diantara mereka, yang ku ketahui siapa namanya. Dalam suasana itu, hati saya selalu takjub, oh betapa indahnya ketika setiap orang dari berbagai latar belakang budaya, sosio dan ekonomi yang berbeda dapat hidup rukun dalam sebuah harmoni yang indah. Alangkah indahnya, bahwa setiap individu diberi kesempatan yang sama. Kesempatan setiap anak manusia untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dalam hidupnya, tanpa ada beda.

Yah, inilah kelebihan tinggal di negara maju, dimana pendidikan adalah hak setiap anak. Di Inggris, pendidikan dan kesehatan adalah gratis untuk setiap anak usia 3 sampai dengan 18 tahun. Tidak hanya untuk anak berkebangsaan Inggris saja, tapi untuk setiap anak dari setiap orang yang memiliki ijin tinggal (visa kerja atau visa belajar) di negara ini. Termasuk mahasiswa seperti saya ini, maka semua anak saya berapa pun jumlahnya, dijamin mendapatkan pendidikan gratis di negara ini.

Saya jadi terngat anak-anak Indonesia, anak para buruh perkebunan kelapa sawit di sabah sarawak Malaysia. Mereka, karena bukan warga kebangsaan Malaysia, tidak mendapatkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. Sungguh, cerita yang sangat memilukan sekali.

Pendidikan Untuk Semua Anak di Inggris

Kawan, mungkin salah satu pertimbangan yang membuat berat meninggalkan tanah air untuk melanjutkan sekolah di luar negeri adalah pertimbangan sekolah anak-anak. Bagaiman sekolah anak-anak nanti, kan terputus di tengah jalan? Tapi, seharusnya tidak menjadi hambatan, justru sebaliknya, keputusan sampean sekolah di luar negeri dengan membawa anak-anak sampean adalah keputusan besar yang membuka kesempatan emas untuk anak-anak sampean. Seperti yang saya sebutkan tadi, pendidikan di Inggris gratis untuk semua anak usia 3-18 tahun.

Lalu, bagaimana dengan anak yang berumur di bawah 3 tahun?

Untuk anak dibawah 3 tahun memang belum waktunya sekolah. Tetapi jangan khawatir, ada banyak fasilitas yang disediakan khusus untuk anak di bawah 3 tahun. Namanya adalah children centre. Selain bisa mendapatkan konsultasi kesehatan,  vitamin, monitoring kesehatan (berat dan tinggi badan) , parenting gratis. Disini, disediakan tempat bermain yang khusus di desain untuk anak-anak di bawah 3 tahun. Tidak hanya itu, sampean juga bisa meminjam mainan dari toys libary di children centre ini dengan harga sangat murah sekali, yaitu £0.2 per minggu. Selain children centre ada juga play ground di perpustakaan komunitas, yang menyediakan ruang khusus untuk anak. Menariknya, jumlahnya sangat banyak, kalau diibaratkan di Indonesia, setiap RT pasti ada medical centre, play ground, children centre, dan perpustakaan komunitas. Rasanya, tidak berlebihan jika dibilang bahwa Inggris ini adalah syurganya untuk anak-anak.

dress_up_at_museum_with_ayah

Dressing Up at Weston Park Museum, Sheffield

 

Tetapi, jika sampean tidak mau repot mengurus anak di bawah 3 tahun, sampean bisa menggunakan jasa Day Care service (semacam tempat penitipan anak), tetapi harus bayar cukup mahal, biasanya dihitung per jam.

Bagaimana Tingkatan Sekolah di Inggris ?

JenjangSekolahDiInggris

Jenjang Sekolah di UK (sumber: atdikbud London)

 

Ketika anak sampean sudah mencapai umur 3 tahun, maka anak sampean akan berhak pendidikan Nursery gratis selama 15 jam seminggu. Biasanya masuk 3 jam per hari, senin-jumat. Atau 5 jam sehari selama 3 hari dalam seminggu. Bisa juga, full day tetapi harus membayar biaya tambahan. Mulai umur 4 tahun, maka anak anda berhak mendapatkan pendidikan full day, dari jam 9 pagi sampai setengah 4 sore setiap hari. Untuk lebih lengkapnya lihat tabel di atas.

Bagaimana Sistem Pendidikan Dasar di Inggris

Filosofi pendidikan di Inggris adalah menyemangati dan menginpirasi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan keunikan masing-masing individu. Setiap individu adalah unik dan istimewa. Pendidikan disini sangat mengedepankan reward terhadap setiap sekecil apapun capaian siswa. Setiap siswa di dalam kelas mendapatkan reward masing-masing. Dari siswa paling pintar di matematika, sampai siswa tidak pernah terlambat sekolah semua mendapat penghargaan.

Secara, content justru pendidikan di Indonesia lebih berat di Indonesia. Siswa kelas 4 SD di Indonesia, bila pindah ke UK biasanya langsung masuk Year 5, dan biasanya merasa terlalu mudah mengerjakan soal ‘itung-itungan’ matematika di Year 5 ini. Tapi begitu, masuk ke soal matematika dalam bentuk cerita/penalaran, mereka biasanya menemui kesulitan.

Itulah perbedaan filosofi pendidikan di Inggris yang lebih mengedepankan pengembangan karakter, pemahaman dan penalaran di banding pendidikan di Indonesia yang cenderung content base dan menghafal kumpulan fakta. Di Inggris, membiasakan siswa tertib antri, sabar, berani bertanya, berfikir kreatif dan kritis, pembentukan sikap mandiri, dan tenggang rasa terhadap sesama jauh lebih diutamakan daripada menekankan penguasaan materi matematika dengan rumus-rumus nya yang njelimet. Menurut keyakinan mereka, dibutuhkan waktu bertahun- tahun untuk menjadikan seorang anak terbiasa memiliki budaya antri, sedang untuk memahami konsep matematika cukup membutuhkan waktu dalam hitungan hari atau bulan.

Satu lagi yang ditekankan dalam sistem pendidikan di Inggris sejak dini adalah budaya menulis. Yah, apa yang istimewa dari sekedar menulis? toh semua orang bisa menulis? Ternyata, kegiatan menulis bukanlah perkara sepele. Dibutuhkan proses berfikir, creative dan critical thingking, menumbuhkan ide, dan juga strategi untuk menuang ide dalam bentuk tulisan yang runtut. Setiap siswa, akan mendapatkan semacam sebuah log book khusus, untuk kegiatan menulis ini. Tuga menulisnya pun sederhana, seperti menceritakan tentang dirinya, apa yang dia suka dan tidak suka, cerita tentang liburan, dan sebagainya. Intinya, melatih siswa sejak dini untuk menuangkan ide, gagasan, pikiran, dalam bentuk tulisan. Setiap tulisan dalam log book itu akan diperiksa oleh gurunya, dan selalu diberi komentar yang isinya selalu berisi kata-kata penghargaan dan selalu menyemangati.

Cara Mendaftar Sekolah di Nottingham, Inggris

Nah sekarang bagaimana caranya mendaftar sekolah? Dokumen apa saja yang harus dilengkapi? Perlu surat pindah sekolah dari sekolah asal di Indonesia tidak? Tenang, pendaftaran sekolah di Inggris, meskipun untuk pendatang sekalipun, tidak ribet seperti mendaftar sekolah di Indonesia. Prosedurnya, sangat simple dan mudah. Akan tetapi, setiap kota di Inggris memiliki prosedur yang sedikit berbeda. Berikut tata cara mendaftar sekolah untuk anak anda di kota Nottingham.

Tata Cara Untuk Mendaftar Nursery School di Nottingham

Pertama, pastikan sampean sudah memiliki alamat tempat tinggal yang pasti. Karena penempatan sekolah di Nottingham berdasarkan lokasi terdekat dari lokasi tempat tinggal sampean.

Kedua, cari informasi daftar nursery school terdekat dari lokasi tempat tinggal sampean. Informasi ini bisa diperoleh dari Family Information Services (FIS), via email: fis@nottinghamcity.gov.uk . Mereka akan memberi daftar sekolah terdekat berikut alamat, no telpon, dan alamat email.

Berikut adalah contoh email balasan dari FIS Nottingham, berikut list sekolah yang diberikan: Day nurseries School nurseries , School nurseries 

email_fis

Balasan Email dari FIS Nottingham

Ketiga, setelah mendapatkan daftar sekolah, sampean bisa mendaftar dengan mendatangi sekolah langsung, atau menghubungi via telephone atau email terlebih dahulu. Syarat pendaftaran biasanya cuman suruh mengisi formulir pendaftaran yang singkat, dan mereka akan meminta paspor asli anak sampean untuk difoto copy (beberapa sekolah juga meminta akte kelahiran anak dan paspor bapak dan ibu).

Selanjutnya, dalam hitungan hari, sampean akan menerima surat resmi dari sekolah yang akan dikirim ke alamat rumah sampean. Jika masih ada quota, maka sampean akan langsung mendapat offer a place berikut pemberitahuan tanggal kapan mulai masuknya. Tetapi, jika kebetulan quota sudah penuh, akan mendapat pemberitahuan bahwa anak sampean sudah dimasukkan dalam waiting list. Jika sewaktu-waktu ada quota kosong, sampean akan diberi tahu sewaktu-waktu. Saran saya, sebaiknya mendaftar langsung di beberapa sekolah sekaligus. Sehingga tidak terlalu lama menunggu. Ketika mendapatkann offer a place sampean berhak menerima atau menolak offer tersebut dengan membalas surat yang sudah disediakan amplop dan perangko balasanya. Jadi, tidak masalah jika sampean mendapatkan offer dari beberapa sekolah sekaligus.

Tata Cara Untuk Mendaftar Primary School di Nottingham

Untuk mendafatar primary school, kurang lebih sama dengan pendaftaran nursery school. Cukup datang langsung ke sekolah, dengan membawa paspor. Jika masih dalam musim pendaftaran sekolah , sampean juga diminta untuk aplikasi online juga di admission online. Di aplikasi online ini, sampean tidak diminta untuk mengupload dokumen bukti apapun yang super ribet seperti di Indonesia. Cukup isi dengan informasi yang benar dan akurat. Tetapi, jika datang di tengah-tengah tahun berjalan cukup datang langsung ke sekolah yang dituju.

Ohya untuk penempatan di kelas berapanya, satu-satunya pertimbangan adalah usia anak sampean. Jadi, misal anak sampean usia 10 tahun ketika datang ke Nottingham, maka anak sampean langsung masuk ke Year 6. Mereka tidak akan meminta raport atau surat keterangan apapun dari sekolah sebelumnya di Indonesia. Sistem pendidikan di Inggris sangat berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia. Di Indonesia, setiap anak diukur dengan ‘meteran’ yang sama. Sementara, di Inggris, meskipun berada di kelas yang sama, setiap anak diperlakukan spesial dan istimewa. Setiap anak diberi target pencapain sendiri-sendiri, tidak dipukul rata. Tidak ada anak pintar dan bodoh, yang ada semua anak adalah istimewa dengan bakat dan kemampuan uniknya masing-masing.

Untuk masalah kendala bahasa, jangan khawatir. Anak-anak memiliki kemampuan belajar bahasa yang luar biasa yang sangat berbeda dengan kemampuan kita sebagai orang dewasa. Dalam hitungan bulan, sampean akan melihat keajaiban bagaimana logat anak sampean sudah berubag menjadi sangat British sekali.