pengalaman PhD

Hai ‘Riset’ ! Apa kabar?

…. terkadang masa-masa sulit, masa perjuangan adalah hal terindah dari kenangan perjalanan hidup manusia – a random thought

research_diary

Research Diary

Kemaren, kiriman 1 box sisa-sisa barang kami di Inggris, setelah melalui perjalanan yang panjang dan berliku, sampai juga di rumah. Satu setengah tahun sudah kami kembali di Indonesia. Dan barang-barang itu kami berhasil membuka kenangan kami kembali. Terperangkap dalam nostalgia. Eaa…

Dan diantara yang paling membuat saya tercenung adalah, beberapa buku tulis tebal, yang tidak lain adalah buku diary riset PhD saya. Sebagai mahasiswa S3 yang kadang-kadang rajin, saya terbiasa menulis apa yang akan saya lakukan dan apa yang telah saya lakukan di buku diary itu.  Memang mengelola proyek riset selama 4 tahun sendirian tentu bukan pekerjaan mudah. Apalagi kalau tidak well-documented bisa kacau balau dan acak adut, ketika harus menuliskan kembali apa yang telah kita lakukan.

Lembar demi lembar saya buka kembali buku itu sepenuh perasaan, beratus-ratus halaman jumlahnya.  Dan semuanya tulisan tangan. Dulu saya menulisnya penuh duka dan air mata. Sekarang, saat membacanya kembali rasanya pengen menertawakan diri sendiri.

Selain catatan riset, banyak curhatan, keluhan, kata-kata penyemangat, bahkan pisuan kepada diri sendiri. Membacanya kembali, membuat saya bersyukur bahwa saya telah melewati hari-hari sulit itu. Sungguh, perjalanan studi S3 adalah perjalanan yang tidak saja menguras fikiran, tapi juga menguras perasaan. Berkali-kali sudah rasanya saya pernah berfikir tidak akan bisa menyelesaikan. Berkali-kali sudah rasanya saya menemui jalan buntu. Berkali-kali sudah rasanya saya pernah merasa mengambang di antara ketidakpastian.

Tetapi, alhamdulilah setiap cerita pasti ada akhirnya. Dan kebetulan, pada akhirnya saya bisa mengakhiri dengan baik. Buat saya, dari pengalaman sekolah dari TK sampai S3, sekolah S3 inilah yang paling menantang. Kalau boleh saya simpulkan top tips bisa menyelesaikan PhD adalah:

  1. Jaga hubungan baik dengan Supervisor. Rendah hati dan mengalah sajalah sama supervisor tidak perlu banyak bertentangan. Termasuk bisa menahan diri untuk bersabar terhadap hal-hal yang kurang baik dari supervisor. Layaknya manusia pada umumnya, supervisor macam-macam bentuknya. Ada yang ‘baik’ tetapi juga tidak sedikit yang ‘jahat’. Berhusnudzon selalu saja.
  2. Perseverance. Sabar dan ulet. Namanya riset, which is aiming at creating new knowledge, sudah pasti penuh ketidakpastian, kadang salah, kadang gagal. Mental juga sama, kadang semangat, kadang down sampai pada titik nadzir. Semuanya normal. Jatuh adalah hal yang biasa. Tetapi harus bangkit lagi setelah jatuh.
  3. Banyak berdoa. Pengalaman saya banyak teman-teman PhD yang stres, depresi, bahkan sampai masuk klinik kesehatan jiwa. Berdo’a akan sangat membantu menenangkan jiwa kita kawan.

Buat saya, dan mungkin banyak teman-teman juga setuju faktor kepintaran dalam menyelesaikan PhD tidaklah penting, itu nomor dua puluh satu mungkin. Banyak teman-taman yang sangat pintar, tapi gagal baik di tengah maupun akhir perjalanan.

Buat teman-teman yang sedang berjuang menyelesaikan PhD, terus berjalan saja. Meski titik akhir perjalanan kadang terlihat masih sangat gelap. Buat teman-teman yang berencan Ph.D. be mentally well-prepared ! Siapkan mental saja kawan! mental yang kuat jatuh bangun selama perjalanan studi yang kadang dirundung ketidakpastian.

Dan ketika membuka catatan-catatan itu kembali, tiba-tiba terbesit kerinduan pada kerja-kerja ilmiah seperti dulu lagi. Saya jadi teringat kata-kata salah seorang profesor di Indonesia begini:

PhD adalah puncak karir akademik tertinggi dosen-dosen di Indonesia.

Seharusnya selesai PhD adalah awal karir ilmiah seseorang, karena PhD memang tidak lain adalah research training. Tetapi, sayangnya setelah kembali ke Indonesia kebanyakan kalau tidak semua, pada akhirnya memilih bahkan tidak bisa memilih untuk menjadi pejabat dan terjebak dengan kerja-kerja administratif. Bahkan yang sudah bergelar Profesor atau Guru Besar. Sehingga ada guyonan di Indonesia itu GBHN, Guru Besar Hanya Nama. Gelar administratif belaka.

Gelar nya profesor, tetapi nyaris tidak pernah melakukan kerja-kerja ilmiah. Tidak percaya? Cek saja di google scholar. Perhatikan, biasanya karya ilmiah berkualitas tertingginya (i.e. terbit di Jurnal Q1) adalah diperoleh setelah S3. Setelahnya? biasanya publikasi ecek-ecek saja.

Yah, yang saya alami dan rasakan memang kehidupan akademik kampus-kampus di Indonesia masih jauh dari kondisi ideal untuk melakukan kerja-kerja ilmiah, i.e. melakukan penelitian. Waktu habis tercurahkan untuk kerja-kerja administratif dan mengajar.

Kecuali mungkin sebagian orang-orang yang punya ‘kekuatan’ luar biasa untuk fokus pada akademik termasuk berani untuk memilih sedikit egois menolak kerja-kerja administratif. Tetapi tentu kalau semuanya egois, yang lainya pasti ada yang berantakan.

Saya yang termasuk terjebak dengan timpukan pekerjaan administratif, hehehe. Dan sayangnya, saya tidak memiliki ‘kekuatan’ luar biasa itu. Dan jadilah ngenes begini.

Sebenarnya, kalau salary dosen dan peneliti di Indonesia sudah sebaik di negara maju Dan pekerjaan-pekerjaan administratif diserahkan ke tenaga-tenaga profesional di bidangnya dan para dosen bisa fokus pada meneliti dan mengajar, perguruan tinggi akan kembali menemukan marwahnya sebagai tempat munculnya ilmu-ilmu baru. Bukan sekedar broker ilmu pengetahuan belaka.

Salary yang pas-pasan, mendorong dosen-dosen lebih senang mencari proyekan di luar. Pekerjaan administratif mendorong orang-orang lebih mementingkan tugas jabatan administratifnya.  Tugas ilmiahnya jadi tak tersentuh. Akibatnya diskusi dosen nyaris semuanya adalah tentang hal-hal administratif dan hal remeh temeh lainya. Diskusi ilmu? senyap-senyap saja. rasanya tak pernah aku mendengarnya.

Jadi jangan tanya kenapa kampus-kampus Indonesia peringkatnya jauh di bawah. Tidak usah jauh-jauh membangdingkan dengan kampus di Inggris. Dari kampus-kampus di Malaysia dan Thailand saja kita sudah sangat ketinggalan jauh (lihat datanya disini). Padahal, usia kampus-kampus kita jauh lebih tua dari kampus-kampus mereka.

Welcome to the reality dude! Kalau mau benar-benar berkarir akademik dan peneliti ndak usah pulang ke Indonesia. Saya tahu tidak sedikit teman-teman saya yang akhirnya memilih hidup di negara lain, bahkan negara tetangga. Dan saya tahu karir akademiknya luar biasa. Beginilah hidup di negeri ini. Orang-orang masih sibuk pada bungkus, tetapi melupakan esensi. Hem entahlah, entahlah.  Kadang ingin berputus asa mencintai negeri ini. Tetapi hidup harus dinikmati bukan digerutui bukan?

Ya Tuhan, ajari aku darimana dan bagaimana harus memulai. Mungkin saya harus mulai dengan membaca paper jurnal kembali (Kapan ya terakhir baca? hehe).

Advertisements

Do’a Agar Skripsi/Tesis/Disertasi Cepat Di ACC

… ini tips, hanya buat mereka yang masih percaya dengan kekuatan rapalan doa-doa. – a random thought.

sholat_tasyahud

Ilustrasi : Sholat

Jebule, banyak yang nyasar ke blog ini atas rekomendasi mbah google gara-gara bertanya kepadanya: “doa agar skripsi cepat di acc”. Hehe, rupan-rupanya di bumi manusia ini, banyak yang sedang stres atau bahkan mungkin depresi dengan skripsi, tesis, disertasi wa akhoawatuha.

Beruntunglah sampean yang kebetulan memiliki dosen pembimbing yang baik hati, ndak terlalu demanding, selalu memotivasi , cepat dalam memberi feedback dan masukan dan yang paling penting very helpful. Sayang, tidak semuanya begitu. Ada dosen yang terlalu demanding, perfeksionis, ekspektasi terlalu tinggi, bahkan killer dan suka meremehkan kita, super lelet dalam memberi feedback, super sibuk lagi, serta parahnya ndak begitu helpful. Yang kadang, membuat kita merasa jengah meskipun sudah berupaya sekuat tenaga.

Sepanjang sejarah perkuliahan saya, saya pernah memiliki dosen tipe pertama. Duh setiap bertemu denganya rasanya sangat menyenangkan, menentramkan, tanpa sedikit pun rasa takut. Karena pandai memotivasi dan menghargai, otak rasanya menjadi sangat encer. Tapi, saya juga pernah (bahkan sedang :p) memiliki dosen tipe kedua. Argh, lewat depan pintu kantornya saja bikin jantung deg-degan. Apalagi bertemu denganya, rasanya lidah tiba-tiba jadi kelu dan otak mendadak menjadi beku.

Tapi saya yakin, keduanya demi kebaikan kita. Hanya caranya saja yang berbeda. Dosen memiliki caranya sendiri-sendiri dalam mendidik mahasiswanya. Jika kita terima keduanya secara positif, hasilnya pun pastinya positif. Untuk bisa tumbuh kadang kita perlu kesakitan. Toh keberhasilan pendidikan itu bukan sekedar diukur dari seberapa cepat dan angka yang kita peroleh ketika lulus, tapi sikap dan cara berfikir yang terbentuk dari proses pendidikan.

Walaupun dealing with dosen tipe kedua ini tidaklah pernah mudah. Kalau lagi bad bood, sang dosen bisa marah-marah, menghina-hina pekerjaan kita. Kalau sudah begitu, dunia rasanya mau kiamat, tidur tidak nyenyak, makan tidak enak, detik demi detik waktu berjalan penuh dengan rasa ketakutan dan kekhawatiran, semangat hidup jadi meredup, bahkan membawa kita kembali bertanya: buat apa kita hidup ini?. Lebay, memang terdengar nya. But, indeed it is a real story, Bro!

Beruntung, saya gini-gini pernah mondok di pesantren tradisional. Tempat dimana hal-hal yang bersifat meta-fisika masih sangat dipercaya. Tempat dimana kekuatan rapalan doa-doa masih sangat dipercaya. Dan meski saat ini saya tinggal di tengah-tengah peradaban Eropa, dimana kekuatan sains dipuja, dan kekutan rapalan doa-doa dibilang hanya ilusi belaka, tetapi I keep on strongly believing dengan kekutan rapalan doa-doa itu.

Dan saya membuktikanya, it works. Setidaknya membuat hati kita menjadi lebih tenang dan rileks. Sekuat-kuatnya manusia, tak akan mampu mengalahkan kekuatan yang membuat manusia. Sekeras-keras hati manusia, bisa dilembutkan oleh yang maha lembut.

Berikut amalan do’a, sebagaimana diijazahkan oleh kyai ku dulu (download disini). Buat sampean yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi, tesis, disertasi wa akhowatuha, semoga dosen nya segera happy dan disetujui, segera lulus, dan ilmunya manfaat barokah. Do’a ini juga efektif, untuk menundukkan hati seseorang yang menurut kita very-very challenging to be dealing with him/her. Saya sudah mengamalkanya sendiri, and it works Bro!

Catatan Kaki:
1. Jebule [bahasa jawa] : ternyata
2. Wa akhowatuha [bahasa arab] : dan sejenisnya

Tips Menulis Untuk Mahasiswa Semester ‘Tuwek’

Al-istiqomatu khoirun min alfi karomah (Itiqomah itu lebih baik dari seribu karomah) ” – Hadist

tips_menulis

Ilustrasi : Buku di Cambridge University Press Boolshop, Cambridge, UK

Sampean mahasiswa tingkat akhir ingin cepat lulus atau harus cepat lulus tapi belum lulus-lulus, bahkan terancam DO? Well, mungkin tulisan ini ada manfaatnya buat sampean.

Tulisan ini sebenarnya untuk saya sendiri, mahasiswa semester terakhir (semester 6), kandidat Doktor pada bidang Teknologi Informasi, di Sekolah Ilmu Komputer, di sebuah kampus yang cantik di kota yang tenang dimana sang legenda Robin Hood berasal. Tetapi, kemudian saya berfikir, jika saya menuliskanya disini, menowo-menowo ada orang lain yang bisa mengambil manfaat dari tulisan ini.

Adalah sindrome di dunia perkuliahan bagi kebanyakan mahasiswa semester akhir, baik di level sarjana, master, maupun doktor, bahwa menulis skripsi/tugas akhir/tesis/disertasi adalah bagian yang paling menantang binti sulit sekali. Semakin tinggi levelnya, maka semakin tinggi tingkat kesulitanya.  Tak jarang kita mendengar cerita mahasiswa yang bertahun-tahun tidak lulus-lulus, bahkan akhirnya Drop Out (DO) hanya kecantol masalah menulis ini, terlepas bahwa untuk DO adalah pilihan buat mereka dan mungkin adalah takdir terbaik buat mereka.

Yah, menulis (ilmiah) memang berat dan akan selalu berat; menulis memang tidak menyenangkan dan akan selalu tidak menyenangkan. Sehingga menjadi concern, menjadikan ketakutan tersendiri buat mahasiswa semester terakhir, seperti yang saya rasakan sendiri saat ini. Tetapi setidaknya, kita bisa belajar baik dari pengalaman kita sebelumnya maupun dari pengalaman orang lain untuk membuat beban menulis ini menjadi sedikit lebih ringan.

Berikut adalah tips menulis efektif yang terinspirasi dari buku yang barusan saya baca, judulnya “How to Write a Lot” karya Paul J. Silvia. Buku ini, sangat efektif ngecharge baterai semangat menulis saya yang nyaris habis beberapa minggu terakhir ini.

Apakah harus smart untuk bisa menyelesaikan Skripsi/Tesis/Disertasi tepat waktu?

Jawabanya adalah Tidak. Yang dibutuhkan adalah komitmen, kesabaran, dan keuletan. Pengalaman saya waktu S1 dan S2 dulu, justru banyak teman-teman saya yang sebenarnya sangat Smart justru malah banyak yang kena DO karena kecantol masalah skripsi (mereka tidak butuh gelar kali ya? karena udah pintar :D) Bahkan saya tahu 3 di antaranya pas jaman SMA langganan juara olimpiade. Pangalaman waktu S2 juga begitu, lulusan sarjana cumlaude, 3.5 tahun, dari salah satu kampus terbaik di Indonesia, juga pada akhirnya DO.

Artinya sebenarnya, untuk bisa menyelesaikan skripsi/tesis/disertasi ini tidak haru Smart kok. Yang biasa-biasa saja, banyak yang lulus dan selesai tepat waktu. Asalkan punya komitmen dan tekad yang kuat selesai tidak selesai harus selesai. Kemudian sabar dan ulet. Yah, karena menulis adalah proses panjang. Sebelum menulis harus melakukan penelitian yang menguji kesabaran dan keuletan. Apalagi untuk level S3, dimana diharuskan menemukan novelty (keterbaruan) ilmiah,  hasil eksperimen yang dijalankan seringkali tidak sesuai yang diharapkan, terpaksa harus dicoba lagi, diulang lagi.  Belum lagi, harus menulis untuk publikasi jurnal ilmiah dan faktor-faktor lain di luar dugaan. Indeed, sebuah proses panjang yang butuh komitmen, kesabaran, dan keuletan.

Nah, untuk tahap menulis, tips berikut mungkin bisa membantu sampean.

1. Will Power

Akhirnya saya menemukan kata-kata ini, setelah lama saya mencari-cari kata yang pas untuk mengunkapkan perasaan yang saya rasakan belakangan ini. Perasaan merasa sebenarnya saya ini bisa menyelesaikan cepat, tapi kok rasanya masih belum kepengen, belum kemasukan ruh untuk menyelesaikan segera.  Ruh ini ternyata istilahnya Will Power. Jika ingin bisa selesai cepat, sampean harus punya will power ini.

Cukup susah ternyata, saya sudah berminggu-minggu  bahkan berbulan-bulan kali ya, menunggu datangnya ruh will power ini. Tapi, tidak datang-datang juga. Saya sampai rasanya ingin mengutuki diri saya sendiri. Tapi alhamdulilah, ajaib,  semalam sekitar jam 1 malam waktu Indonesia, secara tidak sengaja, anak saya maianan hp saya, dan tiba-tiba terhubung dengan emak saya di kampung. Saya jadinya curhat sama emak, tentang kondisi apa yang saya rasakan, rasanya kok belum kemasukan ruh semangat pengen cepat lulus, padahal saya bisa lulus cepat kalau mau. Dan minta didoakan.

Paginya, something different happens to me, saya yang biasnya malas-malasan. Entah kenapa, sejak pagi itu saya kembali menemukan semangat yang menggebu-gebu yang sempat hilang itu. Will Power itu seolah kembali lagi kepada diri saya. Inilah mungkin yang disebut barokah nya do’a orang tua. Padahal saya sudah mengamalkan, amalan dari alma’tsurat nya teman-teman anak masjid jaman kuliah dulu setiap habis sholat agar tidak malas, yaitu baca do’a :

doa_malas

Doa Agar Terhindar Dari Malas

Maupun amalan sholawat nariyah dari pesantren dulu:

sholawat_nariyah

Sholawat Nariyah

So, telpon ibu kamu sekarang juga geh ! siapa tahu besok pagi, kamu sudah menemukan Will Power itu.

2. Buat Jadwal Yang Kejam dan Taatilah

Setelah menemukan will power maupun  belum ketemu juga, langkah yang paling penting dan utama adalah alokasikan waktu khusus untuk menulis. Buatlah jadwal khusus untuk menulis yang ketat bin kejam dan taatilah. Tidak perlu lama, bisa mulai 4 jam sehari, dari jam 8-12 siang. Tapi harus rutin setiap hari kerja.

Jadwal yang kejam disini maksudnya adalah, kamu harus fokus 100% hanya untuk kegiatan menulis dan pendukungnya. Masuk ke dalam kamar khusus dan kunci pintunya, atau pergi ke silent study zone di perpustakaan. Matikan koneksi internet. Matikan Handphone. Uninstall Game kesayangan kamu, dan hal-hal lain yang kemungkinan bisa mengganggu konsentrasi kamu. Selagi tidak ada hal-hal yang bersifat emergency, jangan korbankan jadwal writing time ini untuk hal yang lain.

Jadwal yang kejam ini untuk menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk kamu, seperti:

Procrastination, alias menunda-menunda pekerjaan yang utama dengan yang mendahulukan hal-hal yang tidak penting. Baru 5 menit, buka word niat mau menulis, eh malah ngecek email dulu, buku facebook, twitter. Kembali menulis lagi 10 menit, eh tergoda membuka instagram dulu, baca sms dulu, negecek BB, WA, line, detik, youtube, googling, eh tahu-tahu waktu 6 jam sudah berlalu, nulisnya baru dapat 1 paragraph doang. Percayalah, bahwa sesungguhnya otak kita sebenarnya tidak bisa multi-tasking kayak processor intel.

Excuse keengganan keluar dari zona nyaman, misal kamu selalu bilang pada diri kamu sendiri:

aku ini orang nya suka spontanitas, ndak suka diatur-diatur, dengan jadwal yang kaku nanti kalau sudah on the mood, pasti semuanya beres juga kok, nyantai saja.

aku masih mencari waktu yang tepat neh, aku butuh mencari inspirasi dulu untuk bisa memulai dulu.

aku ini tipe orang yang suka memanfaatkan the power of kepepet. Ndak tahu kenapa, otak ku itu ajaib, bisa tiba-tiba encer kalau sudah mendekati deadline. aku kerjakan nanti-nanti saja deh kalau sudah mendekati deadline.

Please deh, jangan jadikan alasan kepribadian kamu untuk menutupi kemalasan kamu. Ini bukan untuk menulis lagu, cerpen, novel, atau puisi yang butuh inspirasi layaknya para seniman itu. Jangan ambil resiko mengerjakan sesuatu mendekati deadline, banyak hal di dunia yang terjadi di luar kendali kita. Siapa yang bisa jamin, badan kita dalam kondisi fit dan sehat ketika hari-hari mendekati deadline. Yang ada malah, stres, depresi, dan badan kita bonyok.

Ingat kawan, dunia ini kadang-kadang memang kejam. So, kejamlah pada diri kamu sendiri, untuk membuat dunia tidak kejam sama kamu. Keraslah sama kamu sendiri, agar dunia lunak sama kamu. Di luar writing time, kamu bisa kembali buka internet dan hanphone lagi. Ngopi bareng teman, atau menghabiskan makan malam bareng keluarga juga boleh kembali. Kamu tidak akan merasa bersalah, dan merasa belum menemukan waktu yang tepat, karena kamu sudah melakukan writing di jadwal writing time kamu. Dan karenanya hidup kamu, terasa lebih bahagia bukan?

3. Keep Being Motivated with Daily Goal setting and Monitoring

Menjaga agar selalu termotivasi adalah pekerjaan yang tidak mudah. Karenanya, setiap hari, sebelum masuk writing time, kamu harus punya target harian. Misal, hari ini harus mengerjakan X atau hari ini harus menyelesaikan 500 kata. Kemudian monitoring capaian kamu. Bikinlah file excel atau spss, dengan kolom-kolom misal: tanggal, target, jumlah kata yang sudah tercapai, tercapai target/tidak. Di akhir pekan, atau akhir bulan, kamu bisa generate grafik perkembangan capaian kamu. Pasti ada kebahagiaan tersendiri ketika kamu bisa mencapai semua target-target kamu, pun kalau belum tercapai kamu bisa termotivasi untuk mencapai target dari melihat grafik capaian kamu selama seminggu/sebulan lepas. Ini adalah cara agar kamu selalu termotivasi.

4. Jangan Perfeksionis : Write First, Revise Later

Sempurna itu baik, tapi bersikap perfeksionis itu sering kali malah menjadi masalah. Misal, ketika kamu baru memulai menulis,  dapat satu paragraph, kamu merasa tulisan kamu kurang  bagus, lalu terhenti berfikir gimana cara menyempurnakanya, akhirnya satu paragaraph itu dihapus lagi. Mulai satu paragraph lagi, dihapus lagi. Dan seterusnya. Malah ndak jadi-jadi itu tulisan karena kamu terlalu menuntut kesempurnaan.

Ingat, menuntut kesempurnaan itu justru melumpuhkan. Lebih baik kamu menulis apa adanya dulu, ala kadarnya dulu tidak apa-apa. Setelah selesai draft pertama. Ambil break beberapa hari, jangan buka draft pertama kamu. Kemudian baca kembali, dan revisi, revisi, revisi, revisi, revisi kembali. Menulis dan merivisi itu dua tahapan yang berbeda. Jangan dilakukan pada saat yang sama.

5. Jangan Sembunyi dari dosen pembimbing kamu.

Kebanyakan dari kita malu, merasa bersalah bertemu dengan dosen pembimbing kalau kamu merasa belum ada progress sama sekali. Terus kamu menghilang dari dari radar dosen pembimbing kamu. Ini kesalahan fatal, men ! Tidak masalah, kamu ada progress atau tidak, yang penting kamu harus punya jadwal rutin untuk bertemu dengan dosen pembimbing kamu. Ini akan menjaga kamu agar keep on the right track. Jangan berharap dosen pembimbing kamu yang mencari-cari kamu, ya ! Tidak semua dosen pembimbing, memiliki kebaikan dan kelonggaran waktu sekedar untuk memperhatikan satu daru puluhan anak pembimbing nya.

6. Berikan Penghargaan untuk diri kamu sendiri.

Namanya penghargaan itu tidak harus dari orang lain, tapi bisa dari diri kamu sendiri untuk kamu sendiri. Kamu punya hak untuk memanjakan tubuh kamu sendiri. Misal, setelah 5 hari kerja kamu bisa mencapai target kamu buat sendiri. Bisa meluangkan 5 jam tanpa ganggungan hanya untuk menulis. Di akhir pekan, kamu bisa memanjakan diri kamu misal dengan tidur seharian, pijet, buka facebook atau youtube seharian, balas dendam dari 5 hari dimana kamu harus menahan diri dari godaan-godaan mereka. Asal, reward nya jangan dengan tidak menulis pada writing time yang sudah kamu jadwalkan lowh ya. Ini sama saja, memberikan rokok, pada orang yang sedang latihan untuk berhenti rokok.

Jadi kawan,  kuncinya adalah istikomah. Tool untuk memaksa agar kamu istikomah adalah dengan membuat jadwal yang kejam. Percayalah, pada akhirnya, kamu akan merasa tidak percaya dengan capaian yang telah kamu raih. Kamu akan menyadari bahwa ternyata kamu jauh lebih hebat dari yang pernah kau pikirkan. Dan yang jelas, menulis tugas akhir, skripsi, tesis, atau disertasi tidak semenyeramkan seperti yang kamu kira. Pada akhirnya, kamu akan menyadari bahwa istikomah memang lebih baik dari seribu karomah (karomah itu semacam mukjizat yang diberikan kepada para wali Allah). Karakter kita adalah kebiasaan kita yang kita lakukan berulang-ulang.

Ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri ketika ketika bisa mencapai target yang kita buat sendiri. Kepuasan dan kebahagiaan ini tak mungkin diperoleh buat para mahasiswa yang suka menunda-menunda pekerjaan. Alih-alih menulis terasa menyenangkan, yang ada malah sebaliknya, menulis menjadi kegiatan menyeramkan seperti hantu gendruwo yang selalu mengintai kamu. Hidup mu menjadi tidak seimbang, penuh dengan perasaan cemas, merasa bersalah, depresi, dan tentunya sangat beresiko dengan kegagalan di hari-hari menjelang deadline.

Demikian. Semoga tips ini bermanfaat buat saya sendiri dan sampean-sampean semua. Semoga saya dan sampean-sampean semua segera selesai study nya dengan hasil yang sangat-sangat memuaskan ! Ilmunya barokah dan manfaat untuk kehidupan kita. Sekali lagi, semoga kita segera lulus secepatnya ! Allahumma Ammiiin.

Lelucon Hidup: Masa Lalu, Masa Depan, dan Persimpangan Jalan

… terkadang jika kita kembali menengok dan membaca cerita hidup masa lalu kita, entah kenapa sering kali tak peduli betapa sedih pun cerita itu di masa lalu, saat ini cerita itu hanya menjadi lelucon hidup belaka. Yang membuat kita tertawa terpingkal-pingkal jika mengingat dan mengenang nya kembali. Yah memang, pada akhirnya, di penghujung hari nanti, kita akan menyadari bahwa hidup ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

pusing

“Arrgh……. Sigh. @$#!!!**^^”!  ini mungkin yang paling tepat melukiskan apa yang saya rasakan akhir-akhir ini. Serba tidak jelas, bimbang, ragu, kehilangan kepercayaan diri hingga titik terendah, dan seribu perasaan-perasaan tak terdefinisikan dengan jelas yang selalu mengusik jiwa dan pikiran saya. Setiap berpapasan dengan orang yang menanyakan kabar saya, saya selalu bilang : “Not Too Bad “. Dan saya paling tidak suka dan sensitif , seperti perawan tua yang ditanyain umur dan pasangan hidup, jika ada yang menanyakan “How is your Research?”.

Iya. Saya sedang merasa di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan menuju kesuksesan PhD saya. Dan saya merasa tidak melakukan kemajuan sama sekali dalam riset. Bahkan parahnya saya merasa tidak tahu apa yang harus saya lakukan.  Lagi dan lagi, di setiap proses mencapai sesuatu dalam hidup saya, keraguan, ujian dan cobaan selalu muncul di tengah-tengah jalan. Benar-benar menguji komitmen, kesabaran, dan kesungguhan saya. Dan itu yang saya rasakan kembali saat ini. Disaat pertanyaan “Bisa ndak ya saya lulus PhD dalam waktu 3 tahun?” mengusik jiwa ini berulang-ulang kali. Jika sudah demikian, hanya keluhan, doa dan tangis atas segala kelemahan diri yang bisa saya munajatkan ke hadapan Tuhan.

***

Tidak seperti biasanya, dua hari berturut-turut belakangan ini, setiap dini hari sepulang dari Lab. saya menyalakan Laptop (biasanya langsung tewas tidur), online di skype, dan secara tidak sengaja kontak kembali dengan sahabat lama yang sudah lama tidak kontak. Gila, baru kali ini saya tertawa terpingkal-pingkal sendirian di kamar, dini hari lagi.

Yang Pertama adalah seorang sahabat lama dulu waktu kuliah S2 di Malaysia. Dia sekarang mahasiswa PhD tahun keempat akhir yang juga belum lulus-lulus. Berjam-jam kami ngobrol via skype hanya untuk mengenang dan menceritakan kembali masa lalu. Menelanjangi kekonyolan diri masa lalu yang membuat kami tertawa tebahak-bahak. Dari pengakuan diri yang kerjaanya cuman nonton dan jalan-jalan, sampai masa merasa diabaikan dosen pembimbing yang super sibuk dan tak tahu apa yang harus dikerjakan untuk Tesis. Toh pada akhirnya, kami bisa lulus juga.

Sedangkan yang kedua adalah sahabat lama waktu kuliah di ITS Surabaya. Sahabat seperjuangan bahkan sahabat satu ranjang. Dia sekarang bekerja di Perusahaan pertambangan milik Australia yang berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan yang saya incar sejak semester 2 karena menawarkan beasiswa ikatan dinas Rp. 10 Juta per semester. Tapi gagal gara-gara ndak lolos Tes Kesehatan. Padahal, sudah saya belain tidak puasa Ramadlan karena persyaratan tes kesehatan itu. Eh, malah dia yang akhirnya bekerja di perusahaan itu. Tapi gak papa, kesuksesan sahabat saya adalah kesuksesan saya juga. Sama dengan yang pertama, kami tertawa sampek perut sakit. Menelanjangi hal-hal konyol binti memalukan yang pernah kami lalui bersama. Betapa dulu kami untuk bisa bayar SPP dan bisa bertahan hidup di Surabaya tanpa menggantungkan kiriman uang dari orang tua, kami membuka usaha les-lesan privat dan jasa pembuatan website. Di tengah kesibukan kuliah di ITS yang padat, kami harus menyebar brosur, mengirim proposal penawaran ke sekolah-sekolah tanpa tahu malu. Hanya modal tekat dan handphone monophonic super jadul. Toh pada akhirnya, kami bisa diwisuda tepat waktu, bahkan lulus dengan pujian.

***

Obrolan via skype tak sengaja dengan dua orang sahabat lama seolah menyentil daun telinga saya. Yang memaksa mengingatkan saya bahwa saya pernah mengalami masa-masa sulit akan tetapi pada akhirnya saya bisa melalui nya juga. Termasuk waktu kelas 2 SMA yang merasa salah Jurusan. Lahwong pengen kuliah di ITS/ITB tapi sekolah di STM Jurusan Elektro yang lebih banyak praktik nyolder PCB di pesantren pula. Toh pada akhirnya saya bisa diterima juga kuliah di Jurusan dan kampus yang saya impikan. Dan semua pada akhirnya menyadarkan  saya bahwa  tidak ada yang kebetulan terjadi, semua terjadi karena sebuah alasan. Semua kejadian seperti benang-benang tenun yang terangkai manjadi kain-kain kehidupan yang indah.

Jika kau berada dipersimpangan jalan adalah wajar jika keraguan, ujian, dan cobaan datang menghadang. Yang harus kau lakukan adalah terus maju ke depan, walau sekecil apapun langkah itu. Kau tidak boleh kembali, karena jalan pulang sudah ditutup rapat-rapat dan kegagalan bukanlah pilihan.

Kata seorang sahabat yang pendaki Gunung, mencapai cita-cita itu seperti naik gunung, terasa berat memang, apalagi jika anda terus memandangi puncak gunung dan terus bertanya kapan saya akan sampai ke puncak itu. Cobalah menikmati setiap langkah perjalanan, sehingga tak terasa kau sudah berada di puncak gunung itu.

Kata seorang sahabat yang suka naik sepeda, mencapai cita-cita itu seperti naik sepeda. Harus terus dikayuh biar tidak terjatuh (gagal).

***

Duh Gusti, kuatkan tekad ini, ikhlaskan hati ini, luruskan dan ridloi niat ini, serta capaikanlah cita-cita kami. Berilah diri ini kekuatan, karena sesungguhnya tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali karena Mu semata. Allahumma Ammiin.