Anggur Merah Afrika Selatan

…. ketulusan, senyuman, dan cinta adalah bahasa universal untuk semua umat manusia – a random thought

anggur_sa

Anggur Merah Afrika Selatan dari Uncle John

Dok dok dok dok ! Dok Dok Dok!

Suara ketukan pintu itu menarik perhatian kami yang sedang berkumpul di ruang makan, hendak memulai makan malam. Istri saya dengan segera membukakan pintu, kemudian dari luar pintu terdengar keriuhan kata bercampur tawa dan senyum yang berderit-derit:

Hi, Happy new year to your family!  thank you, happy new year too.

Keriuhan kecil saat malam mulai perlahan mendekap siang di hari pertama tahun 2016 itu ditutup dengan suara pintu sedang ditutup dan dikunci. Istri saya menunjukkan ke kami, kotak lonjong berwarna emas, bermotif bintang-bintang. Di bagian atasnya diikat pita yang juga berwarna emas.

Perlahan kotak itu kami buka, ternyata isinya sebotol anggur merah kehitaman khas Afrika selatan, dan kartu ucapan selamat tahun baru. Dari kartu ucapan itu, kami baru tahu kalau ternyata tetangga rumah kami sebelah kanan, yang berbagi tembok dengan rumah kami itu bernama Uncle John.

Sebenarnya, kami kadang-kadang saling bertegur sapa, ketika kami kebetulan sama-sama sedang hendak keluar rumah. Hanya saja kami tidak pernah saling berkenalan nama. Hanya basa-basi khas Inggris: are you all right? Kebetulan, tetangga kami itu hampir selalu memarkir mobilnya di depan rumah kami, satu-satunya rumah yang tidak punya mobil sendiri.

Sayang, sebotol anggur itu tidak bisa kami nikmati. Walau sepertinya anggur merah itu nikmat sekali untuk diminum sebagai penghangat badan di puncak musim dingin seperti ini. Hanya saja The Power of Believing menahan kami untuk mereguk kenikmatan yang  terlarang itu.

Meski tak dapat kami nimati, sebotol anggur itu really something buat kami. Bagaimanapun itu adalah ungkapan cinta, kehangatan, ketulusan dan perhatian Uncle John kepada kami. Ungkapan yang menghadirkan suasana psikologis to be somebody di tengah-tengah peradaban hidup bermasyarakat yang ultra-individualistic.

Punya tetangga yang terlalu ‘perhatian’ dimana setiap yang nampak dari kita bisa jadi bahan omongan sekampung seperti di Indonesia, sering kali membuat kita tidak nyaman. Tetapi, ternyata memiliki tetangga yang semua ndak pedulian, sering kali membuat kita merasa terabaikan, merasa teralienasi kata pakar sosiologi. Hidup bermasyarkat, tetapi kehidupan terkungkung dalam tembok bernama keluarga.

Kadang saya berfikir, boleh jadi jika diukur dari tingkat ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, megahnya arsitektur bangunan, negara ini bisa dibilang sudah berperadaban yang tinggi dan maju, hidup serba berkecukupan, bahkan affluent-melimpah. Tetapi jangan-jangan, suasana hati manusia-manusia nya, diam-diam merasakan kegersangan. Diam-diam memendam keperihan, kerumpekan, dan kehilangan makna kehidupan.

Buktinya, hampir semua orang-orang mabuk-mbakukan, main judi di setiap malam-malam. Jika mereka merasa kehilangan makna, seharusnya, gereja-gereja itu bisa kembali merengkuh umatnya. Seperti suburnya keberagamaan orang-orang Jakarta, karena banyak yang merasa kering makna di kantor-kantor. Tetapi, dari buku text book sosiologi yang saya baca, pada tahun 2007, hanya sekitar 5% dari orang British yang rutin pergi ke gereja. Itupun, 2/3 nya para perempuan tua. Itu pun sebagian besar para Migrant Afrika dari Karibia. Most likely, jumlah church-goers itu makin menurun belakangan ini.

Karenanya, bisa jadi, mereka fine-fine saja, bahagia-bahagia saja, dengan kehidupan sekuler seperti itu. Jadi, tak perlu mendefinisikan ulang ukuran tingginya peradaban manusia. Argh, memang kehidupan dunia yang kompleks ini, sering kali sangat sulit untuk dipahami bukan?

Sebungkus Tisu Gratis dan Ayat-ayat Injil

… ketika ilmu pengetahuan mampu menyingkap dan menjelaskan fenomena alam, manusia, dan kehidupan; teknologi mampu menyelesaikan dan memudahkan berbagai  permasalahan kehidupan umat manusia; seni, hiburan dan cinta mampu memenuhi kebutuhan batin mereka, serta hukum dan etika mampu membuat kehidupan menjadi aman dan nyaman. Bukan rahasia lagi, di negara-negara maju di Eropa, termasuk Inggris salah satunya, banyak Gereja  yang dulu pernah atas nama Tuhan begitu mencampuri kehidupan manusia, kini telah ditinggalkan para jamaahnya.  Seolah, ipteks telah menjadi Tuhan baru di dunia barat. Akankah  agama menjadi binasa? atau sebaliknya, agama masih memiliki seribu nyawa?

tisu_injil_a

Tisu Gratis (Tampak Depan)

Di satu malam, beberapa hari yang lalu, ketika pulang dari kampus dan membuka pintu rumah. Sepatu saya, tak sengaja menginjak sebuah benda empuk, yang ternyata sebungkus tisu. Tisu anti virus dan bakteri penangkal influenza, yang  biasa merebak ke anak-anak kecil menjelang pergantian musim gugur ke musim dingin. Saya pikir itu belanjaan istri saya yang terjatuh. Ternyata istri saya bilang bukan, dan ternyata di balik tisu itu menempel stiker  tulisan tangan dua ayat dari Bible (kitab Injil). Saya pun hanya tersenyum, karena saya dan istri sudah pasti bisa menebak darimana tisu itu berasal?

tisu_injil_b

Tisu tampak belakang (dengan 2 ayat Injil )

Lalu dari mana tisu itu sebenarnya berasal? saya bisa menebak tisu itu pasti berasal dari perempuan-perempuan tua berkulit hitam, berambut putih. Yang hampir setiap hari berkeliling dari pintu ke pintu, mengabarkan berita injil. Mengajak setiap orang yang ditemui berdiskusi tentang Tuhan, atau menyebarkan selebaran berisi berita-berita Injil, dan termasuk membagikan tisu gratis ditempeli dua ayat injil ini.

Di Inggris, dan umumnya di negara-negara eropa lainya, bukan rahasia lagi gereja banyak ditinggalkan para jamaahnya. Akibatnya, banyak gereja yang kalau diibaratkan di Indonesia ada disetiap RT itu yang sepi bahkan banyak yang beralih fungsi. Di sekitar kota Nottingham saja misalnya, banyak gereja yang dibiarkan menjadi gereja tua dibiarkan begitu saja, dimakan usia, menjadi rumah laba-laba. Sebagian lagi berubah fungsi menjadi islamic centre, bahkan ada yang menjadi Pub tempat dugem (baca: mereka berpesta pora di rumah Tuhan ). Dan sebagian masih berfungsi sebagai rumah Tuhan. Bukan rahasia lagi, sedikit sekali orang Inggris yang rajin pergi ke gereja di hari Minggu. Dari sedikit yang datang itu kebanyakan adalah justru warga pendatang, atau orang Inggris kulit hitam. Dulu, ketika masih tinggal di shared house saya pernah bertanya ke dua house mates saya yang mengaku kristen, kenapa mereka tidak pergi ke Gereja. Jawabnya, sangat sederhana: malas karena jauh. Saya tertawa saja dalam hati, lahwong ada gereja jarak beberapa rumah saja dari tempat kami  tinggal.

Bagian dari budaya barat adalah bersosialisasi dengan cara party, kumpul teman dan minum minuman berakohol, di setiap malam Minggu hingga larut malam, sehingga sangat wajar kalau minggu pagi adalah saat paling senyap dalam seminggu, karena mereka masih pada teler dan tidak sadar di kasur mereka masing-masing. Katanya, mereka hanya pergi ke gereja kalau menikah saja. Itupun, sekarang banyak yang memilih tidak menikah, dan hidup bersama sebagai life partner alias kumpul kebo, dari pada hidup bersama sebagai husband/wife. Hari natal pun, tak lebih dari even budaya (baca: arti natal yang berbeda di Inggris), yang kehilangan ruh keagamaanya.

Walaupun mereka meninggalkan gereja, bukan berarti kehidupan di dunia barat menjadi kacau balau. Bahkan justru kalau mau jujur, tata kehidupan di barat, di Inggris khususnya jauh lebih islami daripada di Indonesia khususnya, dan negara-negara Islam umumnya. Bahkan kondisi lebih islami ini sudah dikonfirmasi dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam sebuah Jurnal (How Islamic are Islamic Countries? , baca juga: Ireland ‘leads the world in Islamic values as Muslim states lag’). Karena di barat agama sudah tidak dipahami lagi sebagai sebuah ritual dan ajaran dogmatis, teteapi agama dipahami sebagai nilai kebaikan kemanusiaan yang universal, yang mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendek kata, meskipun mereka tidak pernah ke gereja, tetapi mereka lebih jujur, lebih bisa dipercaya, lebih tepat waktu, lebih santun, lebih adil, lebih peduli, ketimbang orang-orang Indonesia pada umumnya, yang terkenal sangat religius.

Walaupun banyak yang meninggalkan gereja, bukan berarti agama telah mati di barat. Sebagian dari aktivis gereja masih sangat aktif mengabarkan injil dari pintu ke pintu. Bahkan di wilayah yang jelas-jelas mayoritas muslim seperti wilayah tempat kami tinggal di wialayah hyson green Nottingam ini. Menyebarkan brosur dan membagi-bagikan kitab injil gratis di antara keramaian orang di city centre.  Saya yakin ini tidak hanya ada di Kristen, di agama saya, Islam pun juga ada. Misal teman-teman saya di Jamaah Tabligh misalnya, mereka juga berdakwah dari pintu ke pintu,ke pelosok-pelosok dusun untuk mengajak orang-orang mengingat Tuhan dan memakmurkan masjid. Pun demikian saya yakin ada juga di agama lain seperti hindu, budha, dsb.

Sehingga, betul sekali apa yang pernah diungkapkan oleh Prof. Komaruddin Hidayat (Rektor, UIN Syahid Jakarta), bahwa agama tidak akan pernah mati, agama memiliki 1000 nyawa. Tak semua sisi kehidupan manusia mampu dijelaskan dan diselesaikan oleh ipteks, disitulah Agama mampu menjawabnya.

Semoga kita semakin arif dan dewasa dalam memahami agama kita !