Pengajian

Ketika Kangen Bernostalgia Ngaji Kitab Kuning di Pesantren Mendera

Allahu/utawi gusti Allah / iku / yaktumu / nentokno/ bainakumantarane siro kabeh / ayyuhal mu’minuuna / hai wong mukmin kabeh / walkafiruuna / lan wong kafir / yaumal qiyamati / ono ing dino kiamat / fiimaa / ing ndalem opo /  kuntum / ono siro kabeh / fiihi / ing ndalem ma, iku / takhtaliffuun / podo bertentangan siro kabeh- (Kitab Tafsir Jalalain)

ngaji_kitab_jalalain_edit

KH Cholil Dahlan Membaca Kitab Tafsir Jalalain di Masjid Pondok Induk, Darul Ulum Jombang

Belajar cukup lama di luar negeri, di kampus kelas dunia dengan fasilitas dan sistem pendidikan paling mutakhir binti kekinian, justru membuat saya kangen dengan latar belakang pendidikan tradisional saya. Yaitu, Ngaji kitab kuning di pondok pesantren bersama para kyai. Sistem pendidikan yang sudah berumur ratusan tahun, bahkan jauh sebelum Indonesia mengenal yang namanya sekolah, dan hebatnya hingga sekarang masih bertahan di ribuan pesantren-pesantren di Indonesia.

Entahlah, saya merasa selalu masih ada yang kurang dari sistem pendidikan di barat. Kuliah, tutorial, praktikum, diskusi, seminar, course work, tak satu pun yang menurut saya lebih baik dari sistem ngaji kitab kuning di pesantren. Ada rasa yang sangat istimewa, ada kekuatan magis menyergap hati, ketika sang kyai membaca kitab berbahasa Arab itu, kata per kata, dan menerjemahkan setiap kata itu dalam bahasa Jawa, teriring tangan saya menulis kan terjemahan per kata itu dalam tulisan Arab Pego di bawah setiap kata pada kitab kuning di pangkuan saya. Lalu, sang kyai mengelaborasi makna dari teks kedalam values, nilai-nilai, kebajikan yang bisa dijadikan pegangan hidup sepanjang hayat. Tak jarang beliau memberi nasihat, petuah-petuah bijak, serta do’a dan harapan untuk kebaikan kami. Membuka wawasan kami, dengan wawasan baru yang mencerahkan.

“… Awak mu telung puluh tahun engkas, sedeng wes dadi Profesor wisan, wes Guru Besar awakmu engkok. Makanya jangan pernah berhenti menuntut ilmu, dimana saja kapan saja, masio engkok lek awakmu prei muleh, kitab mu gowonen, buku mu gowonen, karena menurut kanjeng nabi, orang belajar itu tidak pernah berhenti, minal lahmi ilal lahdi, mulai rahim ibu sampai liang lahad, kita harus belajar dan mencari ilmu.” – KH. Cholil Dahlan

Tidak banyak kitab kuning yang berhasil saya khatamkan di pesantren. Tetapi diantara kitab-kitab yang pernah saya kaji tersebut, ada satu kitab yang sangat istimewa bagi saya. Yaitu kitab tafsir (Alquran) jalalain, karya duo Jalal: Jalaludin Almahali dan Jalaludi Assuyuti. Buat saya, mengaji kitab ini, penuh dengan kenangan, dan meninggalkan nostalgia yang istimewa dalam hidup saya. Selain memang, kitab ini adalah kitab paling besar yang pernah saya pelajari selama nyantri di pesantren.

Saya mengaji kitab ini pada tiga kyai. Pertama pada Kyai Ahmad Qusiry Syafaat, waktu nyantri di pondok pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi. Kemudian pada kyai Hannan Ma’sum (alm.) dan Kyai Cholil Dahlan di pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang.

Kebetulan waktu dan tempatnya selalu sama, yaitu waktu di antara maghrib dan isyak, bertempat di ruang utama masjid induk pesantren. Dan kebetulan juga, ketiga kyai ini memiliki sifat menonjol yang sama. Kyai paling kalem dan adem, kyai yang paling halus tutur katanya di pesantren. Menatap wajah para kyai ini, hati saya seolah luluh lantak, dan seketika berasa masuk dalam kulkas.

Kegiatan belajar seharian di sekolah dan madrasah, membuat pengajian habis Maghrib ini, penuh dengan perjuangan. Saya selalu melem merek, bahkan sering secara tidak sadar tertidur pulas dalam posisi duduk sampek ngiler di pojokan masjid, dan baru terbangun ketika terdengar suara Wallahu a’lam bis showab -Allah maha tahu kebenaranya dari sang kyai, pertanda pengajian telah usai. 

Masih teringat kuat dalam ingatan saya do’a-do’a panjang yang dipanjatkan para kyai sehabis mengaji. Saya yakin, do’a-do’a itulah yang membawa keberkahan dan kebaikan dalam kehidupan saya hingga saat ini. Berebut, mencium telapak tangan beliau sehabis mengaji dan selepas jama’ah sholat isyak. Rasanya, bau wangi telapak tangan sang kyai masih tercium hingga saat ini.

Tak terasa, sudah lebih dari tiga belas tahun yang lalu saya terakhir mengaji kitab ini. Dan nyaris, sejak saat itu saya tidak pernah membukanya kembali. Semoga kitab saya yang penuh dengan coretan-coretan  kenangan itu, masih tersimpan rapi di rumah orang tua saya di kampung Banyuwangi. Sungguh, saya ingin membukanya kembali. Sering saya teramat kangen dan ingin mengulangi kembali setiap momentum mengaji kitab tafsir Jalalain tersebut. Mendengar kembali suara sang kyai. Menatap wajah teduh nya, menciumi telapak tanganya, dan mendengar rapalan do’a-do’a nya.

Pernah juga, berandai-andai, jika pengajian itu bisa dibuat live streaming, sehingga saya bisa mengikutinya kembali dari jauh. Atau dibuat MOOC khusus pengajian kitab kuning dari ribuan pesantren-pesantren NU se Indonesia. Membayangkang, lambang-lambang kampus disini, berganti dengan lambang-lambang pesantren NU. Ada pesantren Tebu Ireng, Tambak Beras, Darul Ulum, Blokagung, Krapyak, Denanyar, Langitan, Kajen, Lirboyo, Buntet, Cipasung, Genggong, Guluk-guluk. Dan saya bisa mengikuti pengajian kitab-kitab kuning, lewat rekaman video, yang bisa saya putar kapan saja saya mau.

Rupanya, Gusti Allah mendengar bisikan hati saya. Gusti Allah mengerti kerinduan yang tersimpan dalam hati ini. Hari ini, secara tidak sengaja saya menemukan video pengajian kyai saya, Kyai Cholil Dahlan sedang mengaji Kitab Tafsir Jalalain, di youtube, yang baru saja diupload sehari yang lalu. Pengajian itu ternyata masih di tempat yang sama, wajah sang kyai pun masih sama. Ya Allah, betapa senangnya hati ini bisa mendengar suara dan menatap wajah sang kyai kembali. Walaupun masih ada 3 video, mudah-mudahan yang upload istikomah, berkenan merekam setiap pengajian dan menguploadnya ke youtube.

Memang ngaji di pondok tidak pernah sama dengan Liqo’. Kyai pondok tak tergantikan oleh murabbi, murabbiyah, ustad, ustadzah, dari masjid kampus dan rohis sekolah umum. Coba lihat, dengar, dan rasakan, video pengajian di atas ! Bedakan dengan pengajian wahabi yang mendominasi di youtube. Matur nuwun Gusti ! Khususon ila Kyai Ahmad Qusairy, Kyai Hannan Ma’sum (Alm.), Kyai Cholil Dahlan, lahumul faatihah

Advertisements

Another Social Life Story in The end of The Year

… a family is where your heart find its place to dive into – A Random Thought

bapak2

The ‘Pengajian’ Men

In the end of this year, almost everyday is a gloomy day. The day, where you find the sky so gray. The day, when you feel the weather is so cold. The day, when you barely could enjoy the warmth of sunshine. And, you just want to talk to no body around you. Because  you find no one could understand you but yourself. The day when you miss your past so badly and eager to meet some people that are physically so far away  from where you are.

Luckily,  I got the boy and his mom to pacify me. I got so many friends to cheer up the day. Though, it is not in everyday. Thanks for the boy and his mom. Thanks friends for the day. Today, I got so many big lough and cheers just because of you.

(Video:  Social Activity called ‘Pengajian’ at Loughborough | Credit The Photos: Mbak Bety, Mbak Irra, Cak Shon)

Having a bunch of good friends is never  enough. Friends that build up our far-extended family. Though, sometime it is never easy, when the time to say ‘good bye’ is coming up. Today, as the year is fading out , some friends of mine are saying good bye again. Leaving a kind of feeling of brotherhood/sisterhood romance that always deserve to be cherished.

farewell_mbakMenik

Mbak Menik Farewell Gathering, Beeston, Nottingham

 

Friends,  I wish that the upcoming times always bring you and your loved ones success, happiness and joy and keep this  brotherhood/sisterhood-romance feeling’ tight to see you again in random time in the near future.

Eidul Adha 2014: Ketika Panggung Kehidupan Berganti Peran dan Cerita

… kawan, teman, sahabat datang dan pergi dalam kehidupan kita. Sebagian berlalu bergitu saja, seperti angin yang berhembus, memberi keteduhan sejenak, dan pergi menghilang tak pernah kembali lagi. Sebagian meninggalkan kesan yang mendalam, seperti goresan kuas yang melukiskan bentuk dan warna yang berbeda pada kanvas kehidupan kita.

iduladha_nott_2014

Mahasiswa Indonesia di Univ. Nottingham, Sutton Bonington Campus

Hari ini adalah Eidul Adha 2014, 04 Oktober 2014. Tidak terasa, ini adalah Eidul Adha ketiga kali saya di kota Nottingham. Idul adha selalu memberi cerita sendiri bagi saya. Dan selalu menjadi momentum yang sentimentil buat saya. Idul Adha, selalu menjadi pertanda akhir liburan musim panas yang panjang, dan pertanda dimulainya tahun akademik baru. Karenanya, di setiap Idul Adha, saya selalu merasakan luapan kegembiraan karena bertemu dengan orang-orang baru, tetapi sekaligus merasakan perihnya kehilangan beberapa teman yang baru saja saya kenal setahun yang lalu. Masih ingat betul, persis setahun dan dua tahun yang lalu, di tempat yang sama, saya bertemu dengan wajah-wajah baru penuh semangat itu. Dan entahlah, di belahan bumi yang mana  saat ini mereka berada. Wajah-wajah baru itu kini telah berganti dengan wajah-wajah baru yang lain. Tetapi begitulah, takdir alam semesta. Panggung kehidupan harus selalu berganti peran dan cerita. Boleh dikenang, tetapi tak perlu diratapi.

Tahun ini, kebetulan Idul Adha jatuh pada hari Sabtu. Jika tidak, selepas sholat eid di sport centre di kampus, para jamaah yang sebagian besar adalah mahasiswa pasti sudah berhamburan pergi ke ruang-ruang kuliah. Untuk perayaan kali ini, kami mahasiswa Indonesia dan warga negara Indonesia lainya yang tinggal di Nottingham, seperti biasa mengadakan acara pengajian. Iyah, pengajian sambil makan-makan bareng, habis itu foto-foto bareng dan di upload di facebook.

Pengajian? Argh, saya (S) jadi ingat seorang teman saya (T), yang suka sekali membuat rule of thumbs terhadap fenomena sosio-cultural, masyarakat Indonesia. Waktu itu, kami sedang ngobrol santai di dalam masjid.

. . .

T  : Mas, sampean ki wong NU yo?

S  : Iyo, emange lapo?

T  : Halah, wong NU iku berarti, apa pun masalahnya solusinya adalah P E N G A J I A N.

S  : asyem, enak saja. 😀

. . .

Tentu saja, kawan saya tadi tidak sepenuhnya betul dan tidak sepenuhnya salah jika pengajian tidak dimaknai literally , permasalahan apa pun jika dikaji dengan mendalam akar permasalahanya, tentu nya bisa ditemukan solusinya.

Yang berbeda dari pengajian yang biasanya diadakan warga Indonesia di Derbyshire, Leicestershire, dan Nottinghamshire, kali ini adalah selain ketua baru, Pak Peni Indrayudha menggantikan Pak Irwan, dan kehadiran wajah-wajah baru (kurang lebih 50 orang baru, 3 diantaranya dari satu jurusan yang sama di almamater S1 saya) sebagian besar dengan beasiswa LPDP), adalah untuk kali pertama sepanjang yang saya tahu, pengajian kali ini dihadiri juga teman-teman non-muslim, bahkan teman-teman Indonesia keturunan Tionghoa. Sejuk dan adem rasanya, melihat suasana pluralis semacam ini. Perbedaan warna kulit, background socio-economy, etnis, agama, usia, jenis kelamin, preferensi politik, tak seharusnya membuat kita saling membangun tembok ekslusivisme. Sebaliknya, seharusnya bisa berkolaborasi membangun sebuah haromoni yang indah. Walaupun, sering kali segregasi sosial semacam itu, terjadi secara alamiah dan sulit untuk dihindari. Kita pastinya punya kecenderungan alamiah untuk merasa lebih nyaman dengan orang-orang yang lebih banyak memiliki kesamaan dengan kita bukan? Seperti saya yang sekarang sudah merasa terlalu tua dan berada di gelombang radio yang berbeda, ketika berkumpul dengan muda. Padahal, dahulu sebaliknya, merasa terlalu muda jika berkumpul dengan bapak-pak dan Om-Om.

Kumpul, ngobrol, makan-makan, foto-foto, yang beberapa saat kemudian beredar di beberapa media social. Begitulah, state-of-the-art gaya sosialisasi manusia urban Indonesia jaman sekarang bukan? Kurang lebih begitulah perayaan Idul Adha 2014 kami di Nottingham tahun ini. Lebihnya, Pak Irwan dalam pengajian kali ini berbagi cerita pengalaman haji dari Inggris, yang tidak pakai lama, alias langsung berangkat, setelah anda mendaftar beberapa bulan sebelumnya di tahun yang sama. Dengan biaya sekitar 3500 GBP ( Rp. 65 juta ), biaya hidup minimum per orang selama 5 bulan  di Inggris. Semoga saya dan istri bisa mewujudkanya tahun depan, insha Allah. Allahumma Ammiin.

Berkumpul seperti ini buat sebagian orang mungkin sekedar membuang waktu dengan percuma. Tetapi, buat saya, seringkali keberkahan hidup itu sering kali karena kumpul-kumpul seperti ini. Selamat datang , semoga sukses dan get the most di bumi Nottingam ini.

Dari Nottingham: Sejumput Senyum Kemenangan di hari Lebaran 2014

lebaran_di_nottingham_1
*) Selepas Sholat Eid, di Indoor Sport Centre, Jubilee Campus, University of Nottingam

Allahu Akbar,  Allahu Akbar,  Allahu Akbar, Walillahilhamdu (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan Hanya bagi Allah segala pujian).

Lafadz takbir itu aku ucapkan dengan suara lirih beberapa kali. Tepat selepas sholat maghrib, di penghujung senja penutup hari terakhir di bulan Ramadlan 1435 H/2014 M itu. Sejenak kemudian, aku pun beranjak dari duduk ‘tawaruk`, ku tatap nanar langit senja dari balik jendela kaca lantai dua rumah ku. Selalu ada indah kedamaian, setiap aku melihat semburat warna merah di batas cakrawala senja yang redup perlahan-lahan, berganti dengan kegelapan. Ada sedikit penyesalan terlintas di hati, meratapi Bulan Ramadlan yang telah pergi begitu saja. Ada sedikit kegembiraan di hati, karena besok adalah hari lebaran Idul Fitri dan aku tak perlu lagi menahan lapar dahaga 20 jam setiap hari.

Tak seperti biasanya, menjelang malam itu, Ilyas-anak lelaki ku, begitu girang bukan kepalang. Berkali-kali, melompat-lompat di atas kasur, sambil mulutnya tak henti-hentinya bernyanyi riang. Seolah dia tahu hari itu adalah hari kemenangan yang patut dirayakan. Padahal, di negara ini sama sekali tidak ada euforia lebaran. Tak ada suara takbir, tak ada kue lebaran, tak ada baju lebaran, pun kami tak pernah membicarakan lebaran. Di usianya di tahun ketiga, rasanya, dia masih terlalu kecil untuk tahu apa itu hari lebaran. Entahlah, seolah hati nya yang masih bersih mampu menangkap cahaya kemenangan itu.

Semakin bertambah usia, kadar kebahagian menyambut hari raya itu semakin berkurang. Mungkin karena semakin pula bertampah dosa yang menutupi mata hati. Sehingga tak mampu melihat kilauan cahaya kemenangan itu. Teringat dahulu waktu kecil, hari raya idul fitri adalah hari paling membahagiakan dari dalam setahun. Seolah hari itu adalah puncak dari segala puncak kebahagiaan. Hari dimana bagi kami anak-anak dusun yang orang tuanya hanya mampu membelikan baju setahun sekali, akan memakai pakaian yang baru, menikmati kue hari raya, menyantap masakan terlezat sepanjang tahun, serta mendapatkan uang saku yang berlimpah dari sanak saudara. Kami pun tak mampu membendung luapan kebahagian di malam hari raya, sehingga kami pun merayakan dengan menyalakan Obor dari sebatang bambu kecil diisi minyak tanah, disumbat dengan serabut kulit buah kelapa, bertakbir mengelilingi kampung. Sungguh, kenangan masa kecil di kampung halaman yang terlalu indah untuk terlupakan.

Setelah, bermaaf-maafan lewat telepon dengan orang tua, kami mengakhiri malam itu dengan mendengarkan alunan suara takbir dari youtube. Mengiringi mata kami, yang tak mudah terpejam begitu saja.

**

lebaran_di_nottingham_2
*) Selepas Sholat Eid, di Jubilee Campus, University of Nottingam

Senin, 28 Juli 2014

Usai sholat Subuh, di hari lebaran ini, aku masih harus menjalankan tugas harian ku. Mengelap meja-meja kerja di sebuah gedung perkantoran bertingkat di salah sudut kota ini. Beruntung, supervisor kerja ku seorang Muslim, aku pun bisa selesai sebelum pukul 07.00 pagi. Setiba di rumah, aku langsung mandi sunah hari raya dan segera keluar rumah bersama anak istri menuju tempat pelaksanaan sholat Ied. Tepat pukul 07.15 pagi, kami berangkat berjalan kaki bersama keluarga Pak Peni (Mbak Yuli, Yumna, dan Izza), tetangga keluarga orang indonesia terdekat dari rumah kami, menyusuri jalanan yang biasa aku lalui setiap hari. Ya, seperti tahun sebelumnya, sholat ied tahun ini dilaksanakan di Sport Center Indoor, Kampus Jubilee, Universitas Nottingham.

Hampir 30 menit perjalanan, kami sampai di lokasi. Terlihat, para security terlihat begitu sibuk dan sigap mengatur mobil-mobil jama’ah sholat ied yang mencari lokasi parkir. Senang rasanya, berjumpa dengan saudara-saudara sesama muslim dari berbagai belahan dunia. Mereka sebagian besar berasal dari negara-negara timur tengah, india, pakistan, dan sekitarnya. Gedung indoor sport center itu pun rasanya terlalu sesak dipenuhi jamaah dan sejenak bergema dengan alunan suara takbir.

lebaran_di_nottingham_4
*) Di Depan Wollaton Park Castle, Nottingham

Usai khutbah dan sholat eid, para jamaah berhamburan keluar. Terlihat, saling bersalaman, berpelukan, bercipika-cipiki, dan saling bermaaf-maafan. “Eidl Mubarok” ! begitu, saudara muslim dari timur tengah menyapa kami. Terlihat sebagian jamaah, menggunakan pakaian muslim tradisional mereka masing-masing. Seperti kita memiliki, sarung baju koko dan peci. Mereka punya pakaian khusus yang dipakai pada hari raya. Dan, yang tidak boleh tertinggal oleh kami adalah acara foto-foto. Bahkan, seorang kawan sempat-sempatnya membawa spanduk kelompok pengajian bulanan kami untuk sesi pemotretan spesial edisi lebaran.

Usai sholat eid dan sesi pemotretan di sekitar kampus jubilee. Kami, sebagian keluarga  Muslim Indonesia di Nottingham mengadakan piknik di Wollaton Park. Sekedar bersilaturahim, berkumpul santai, dan makan-makan sebagai ucapan syukur di hari lebaran. Merekalah, pengganti keluarga kami di tanah perantauan ini. Haripun berganti begitu cepat, dan esok kita beraktivitas normal kembali.  Terimakasih ya Allah atas kenikmatan ini.

lebaran_di_nottingham_3
*) Eid Gathering, Wollaton Park

Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke fitrah, dan termasuk orang-orang yang beruntung. Semoga Allah menerima Ibadah kita semua selama bulan Ramadlan. Dan semoga hikmah ramadlan senantiasa membekas di hati kita, hingga Ramadlan datang kembali. Semoga keberkahan hidup selalu menyelimuti kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Kawan ! Mohon sampean berkenan tulus saling memaafkan kesalahan kita.

__
**) All pictures were taken and shared by Mas Wisnu