pelangi di langit senja

Diatas Gerbang Kereta Ekonomi Logawa

“…indahnya dunia berwarna cinta pelangi di langit senja, terlihat warna berbeda bersanding dengan mesra, tak bercela” – Pelangi di langit Senja, Noah-Letto

kereta_api

Ilustrasi: Kereta Ekonomi

Aku menulis cerita ini di atas gerbong nomor 7, kursi nomor 8 C kereta ekonomi Logawa jurusan Jember-Purwokerto, dengan MacBook hitam tua ku. Sambil menulis, kudengarkan sebuah lagu berjudul pelangi di atas senja, yang entah sudah berapa kali kuputar berulang-ulang.

Aku sangat percaya bahwa musik dan lagunya memiliki kekuatan, setidaknya kekuatan untuk menggerakkan rasa. Dan lagu ini adalah salah satunya. Sejak kali pertama mendengar lagu ini kemaren sore, setiap kali mendengar lagu gubahan anak sulung cak nun ini ada rasa keindahan bergemuruh menggetarkan rongga dada.

Indahnya takdir perbedaan. Begitulah pesan indah lagu ini. Betapa belakangan di negeri kami terlihat semakin banyak yang tidak toleran dengan perbedaan. Semakin menonjolkan militansi sektarianya. Seorang calon gubernur yang keren harus ikhlas menepi dan menyepi di balik jeruji penjara karena tuduhan penistaan agama. Miris sekali rasanya.

Sentimen agama dibawa-bawa ke ruang publik, untuk sebuah peruntungan politik. Yah, di negeri yang punggawanya politik ini, orang akan melakukan kelicikan apa saja demi meraih kekuasaan.

Aku tak habis fikir, di dalam group WA tempat orang-orang yang terdidik, yang jelas di dalamnya dari berbagai agama yang berbeda. Setiap pagi, secara ajeg menebarkan pesan sektarian. Tidakkah dia berfikir pastinya ada orang yang kurang berkenan di dalamnya. Sampai akhirnya, aku sendiri yang keluar dari group.

Aku tak habis fikir, sepanjang Ramadlan ini, di dalam sebuah masjid terdekat di seberang kampus, setiap malam, beberapa jenak sebelum sholat taraweh, seorang penceramah tak henti-hentinya menabur benih-benih kebencian. Tak hanya menghina agama lain, kawan seagama sendiri pun tak luput dari tuduhan, celaan, dan hinaan. Rasanya petir menyambar-nyambar memenuhi rongga dada, setiap kyai-kyai saya yang sangat hormati itu dicaci maki oleh anak-anak muda berjenggot bercelan cingkrang yang gaya bicaranya meledak-ledak itu. Bukanya menebar kesejukan hati di bulan suci ini, malah menyulut percikan api.

Tidak bisakah kita berfikir sedikit terbuka, sehingga tidak perlu menyalahkan dan menyudutkan orang lain yang kebetulan berbeda? Bukankah perbedaan itu hanyalah sebuah takdir keniscayaan. Tidakkah kita menebar cinta, sesama manusia, sesama ciptaan Tuhan yang sama.

***
Di gerbong kereta itu, duduk tepat di kursi yang berhadapan dengan ku, tiga anak muda, dua perempuan dan 1 pria. Seorang berjilbab jingga, dua orang bercelana pendek. Ketiganya sibuk dengan telepon genggam masing-masing.

Ada perubahan sangat signifikan pada penataan kereta api, kereta api ekonomi khususnya, dibanding empat tahun yang lalu sebelum aku berangkat ke Inggris.

Sekarang, rasanya naik kereta api serasa naik pesawat saja. Sebelum naik, kita harus mencetak boarding pass, lewat mesin cetak otomatis di stasiun. Lalu harus melakukan chek-in, dengan memindai boarding pass ke mesin pemindai di pintu masuk stasiun.

Kondisi gerbong kereta ekonomi pun naik kelas. Jika dahulu sesak, kotor, dan pengap. Sekarang bersih, nyaman dan dingin. Setiap penumpang harus duduk sesuai dengan tempat duduk yang tertera di tiket. Di setiap gerbong ada tiga buah pendingin ruangan yang cukup mendinginkan udara. Buat sampean yang sanagt menghargai waktu, jangan khawatir ada empat colokan listrik di setiap baris kursi, sehingga bias menyalakan laptop sepanjang perjalanan. Toilet di setiap gerbong yang dulu bau pesing dan tidak ada airnya, sekarang bersih dan wangi.

Tidak ada lagi penjual asongan, peminta sedekah yang berjubel memenuhi gerbong kereta api. Sebagai pengganti, akan ada pramugari-pramugari cantik yang mengedarkan jualan makanan dan minuman layaknya di kabin pesawat terbang. Suara mesin akan memberi tahu nama stasiun terdekat dimana kereta api akan berhenti dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Dan yang paling penting, nyaris tidak ada lagi yang namanya keterlambatan kereta. Kereta akan berangkat dan tiba sesuai yang dijadwalakan. Betapa keberanian sosok pemimpin membuat perubahan telah banyak membawa perbaikan yang sangat signifikan, bukan? Terlepas, apa pun warna agama sang pemimpin.

Tetapi, diam-diam aku merindukan suasana kereta eknomi jaman dahulu. Terutama dengan orang-orangnya. Dahulu, kereta ekonomi identik dengan kereta orang-orang desa. Orang-orang tua lugu yang menjalani hidup begitu apa adanya. Jika dahulu kereta ekonomi penuh dengan kardus bertali rafia merah warnanya, bahkan ada yang membawa ayam, sekarang lain cerita. Rak-rak barang penuh dengan tas dan koper-koper yang bagus.

Jika dahulu orang-orang bercakap dengan bahasa jawa, sekarang nyaris semuanya berbahasa Indonesia. Jika dulu penumpang sebagian besar orang tua, sekarang didominasi anak-anak muda.

10-Juni-2017, 15 Ramadlan 1438 H

Advertisements