patung kong zi

Mampir ke Padepokan Puri Tri Agung

… tempat ini mengingatkan ku untuk sesekali merenungi sekaligus menertawakan kehidupan yang tabiatnya telah menjebak kita dalam jeratan rutinitas kesibukan – a random thought

padepokan_1

Padepokan Puri Tri Agung

Cerita ini masih sekitar memoir perjalanan ku ke Pulau Bangka awal bulan Oktober 2018 silam. A random moment in life bring me to this place. Sungguh, perjalanan yang tidak direncanakan. Tetapi, kejutan dalam hiduplah yang membuat hidup terasa lebih hidup. Pak sopir yang baru kami kenal mengantar kami ke tempat ini, another a stunningly beautiful place. Nama tempat yang mungkin hanya akan aku kunjungi once in a lifetime ini adalah Padepokan Puri Tri Agung.

padepokan_4

Pemandangan dari Pedepokan

Yang membuat aku paling senang dari Pulau Bangka ini adalah karena Pulau ini belum banyak dikenal orang. Pulau ini masih kalah populer dengan Pulau kecil tatangganya, Pulau Belitung. Harus diakui, popularitas novel dan film ‘laskar pelangi’ berhasil mengangkat nama Belitung setidaknya ke sorot panggung nasional. Tetapi tidak sama halnya dengan Pulau Bangka.

Kurang populernya Pulau Bangka, buatku justru sesuatu yang harus disyukuri. Keindahan alamnya dapat kita nikmati secara lebih intim. Terbayang kan, betapa amat menyebalkanya mengunjungi sebuah tempat yang penuh berjubel orang-orang, yang sebagian besar datang hanya untuk berfoto, bukan untuk menikmati dan merenungi keindahanya. Apalagi mencoba berbahasa dengan alam semesta.

Padepokan ini terletak di atas sebuah bukit yang langsung berhadapan dengan pantai. Jangan ditanya lagi, pantainya yang indah dan bersih dengan warna turquoise (pirus, biru-kehijauan) yang memesona. Suasana di Padepokan yang adem berkolaborasi dengan pemandangan pantai yang indah. What a stunningly beautiful place, isn’t it? Sejenak tempat ini mengingatkanku suatu perjalanan menyusuri daratan Italy beberapa waktu silam.

Bentuk bangunan padepokan ini berbentuk kerucut bersusun tiga. Mirip dengan masjid Jawa yang biasanya atapnya juga bersusun tiga. Kenapa harus tiga? Ada filosofi tentunya, bukan sekedar purely a random number. Setelah melewati tangga berundak panjang lebar, dengan sisinya yang berwarna putih, di depan Padepokan kita akan disambut oleh sebuah patung (kalau tidak salah) Budha dengan perut gendut, santai dan sedang tertawa. Melihat patung ini, membuat kita jadi ikut-ikutan tertawa. Jadi, kalau sampean lagi setres dengan segala keruwetan hidup, melihat patung ini bisa jadi terapi mujarab penghilang setres. Eh, atau malah jadi kebablasan setresnya hahaha….

Entah mengapa melihat patung ini, jangkar fikiranku langsung terbawa pada sosok Gus Dur. Sosok Gus Dur yang cerdas dalam meningkahi hidup, yang menjadikan permasalahan hidup yang rumit jadi penuh canda. “Gitu saja kok repot”. Bukan untuk menggampangkan permasalahan, tetapi sebuah ajakan untuk menghadapi setiap persoalan hidup dengan gembira. Dengan perasaan gembira, permasalahan hidup akan terasa menjadi lebih mudah bukan? Bahkan pada akhirnya, jadi lelucon belaka.

padepokan_5

Tangga Menuju Padepokan

Bukankah kehidupan dunia hanyalah  la’ib dan lahw, hanya permainan dan senda gurau belaka? Jika kita tidak bisa mempermainkan kehidupan, kitalah yang akan dipermainkan kehidupan. Pada intinya aku paling tidak suka dengan orang-orang yang terlalu metenteng  dalam menjalani kehidupan. Yang kaku dengan aturan yang dibuat-buat sendiri dan menambatkan capain kehidupanya dengan ukuran angka-angka yang  juga dibuat-buat sendiri. Dan buatku, patung ini menjadi semacam justifikasi bahwa urip iku ora usah terlalu serius-serius  rek! apalagi sampai petentengan karena sesuatu dan lain hal. haha 

padepokan_3

Tiga Patung Pemimpin Agama

Memasuki pedepokan kita akan disambut oleh tiga patung pemimpin agama, yang sedang khusuk bermunajat (baca: bermeditasi) dengan caranya masing-masing kepada Yang Maha Memberi hidup. Patung yang paling kiri adalah KONG ZI, tokoh sentral dalam agama Konghucu, yang tengah adalah Patung Sang BUDDHA SYAKAMUNI, dan yang paling kanan adalah patung LAO ZI, tokoh sentral dalam agama Taoisme. Di depan ketiga patung tersaji sesajen berupa tumpukan bunga dan buah-buahan. Wangi semerbak dari kemenyan atau hio atau dupa ataulah apanya yang dibakar memenuhi seluruh sudut ruangan. Rasanya wangi yang tercium masuk menyentuh memenuhi segenap rongga dada.

padepokan_2

Ornamen Atap Padepokan

Ketiga patung ini mengingatkan diriku, bahwa kita manusia, apapun rupa dan bahasnya, hanyalah jiwa-jiwa kering nan rapuh, yang sebenarnya sangat merindukan kehadiran Tuhanya. Karenanya, inti dari agama apapun, mengajarkan cara mendekatkan diri pada Tuhanya. Apakah dengan bermunajat dalam sujud dan dzikir-dzikir yang panjang di keheningan sepertiga malam yang terakhir, ataukah bermeditasi dalam kesunyian, ataukah dengan lagu puji-pujian, pada intinya adalah untuk merasakan peristiwa intim, transedental, menyatu dengan kehadiran Tuhan pada jiwa-jiwa kita yang kering. Jiwa yang tenang, yang dekat dengan Tuhanya, bukankah itu sejatinya sumber kebahagiaan dan ketenteraman dalam hidup?

Hal lain yang menarik perhatian adalah ornamen interior atap padepokan yang indah. Rasanya tak kalah indah dengan seni fresco yang jamak ditemui di gereja-gereja katolik di Eropa. Di Inggris, apalagi di Itali. Eh, tetapi rupanya seni fresco ini juga sudah di adopsi di masjid kampung ku lo. Aku cukup terperanjat kapan hari waktu pulang kampung, sholat di masjid dusun, di pelosok desa, kabupaten Banyuwangi sana, waktu menengadah ke atap kubah masjid. Wau, sebuah pemandangan seni yang mewah sekali untuk ukuran dusun kami. Setidaknya mewah untuk cita rasa seni perkampungan petani tulen di dusun kami. Sebuah ornamen yang didominsi warna biru langit dengan hiasan kelap-kelip lampu hias. Indah betul jika dilihat malam hari. Kabarnya, seni fresco di masjid dusun kami itu menghapuskan puluhan juta rupiah. Jumlah yang sangat besar di mata orang-orang dusun. Tetapi, kabarnya uang itu adalah sumbangan dari pemuda-pemuda dusun kami yang sukses jadi TKI di Korea Selatan dan Taiwan di tambah hasil penjualan kavling kuburan di depan masjid dusun.

Ohya, Padepokan ini terletak di Jalan Pantai Tikus, desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diresmikan oleh pak menteri agama bersama dengan pak menteri pariwisata pada Tahun 2015. Nama desa dan nama padepokan ini rasanya terlalu Jawa. Rebo, bukankah itu cara orang-orang Jawa desa mengucapkan hari Rabu? Begitupun padepokan puri tri agung. Bukankah itu juga terlalu jawa juga? Padepokan kurang lebih artinya pondok, Puri artinya kurang lebih rumah, Tri artinya Tiga dan Agung artinya Besar. Yang kalau aku boleh menerjemahkan secara bebas artinya tempat yang merupakan rumah tiga orang besar. Tiga tokoh agama yang aku ceritakan di atas. Entahlah?

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube