pasundan

Cerita dari Gerbong Kereta APi Pasundan

… rumah-rumah sederhana di pinggiran desa, anak-anak yang bermain riang adalah sedikit dari pemandangan yang menakjubkan selama perjalanan. – a random thought

dalam_ka_pasundan

Ilustrasi: Pemandangan dari Dalam Kereta Api Pasundan

Aku menulis cerita ini sambil duduk diatas kursi nomor 14D, gerbong nomor 4, kereta api ekonomi Pasundan jurusan Surabaya-Bandung. Kereta berangkat tepat sesuai jadwal, pukul delapan lebih sepuluh menit pagi, dari stasiun Gubeng, dan dijadwalkan tiba di stasiun Kiara Condong, Bandung lima belas jam kemudian.

Hehe, lagi-lagi menulis di dalam gerbong kereta ekonomi. Ya, aku memang penikmat perjalanan dengan kereta ekonomi. Selain memang rasanya aku sempat menulis hal-hal yang tidak penting seperti catatan ini ketika berada di dalam gerbong kereta, sebagai pengusir kebosanan lebih tepatnya. Walaupun tak mampu mengusir rasa panas di pantat yang kelamaan beradu dengan kursi kereta yang kurang empuk dan tidak ergonomis.

Kereta melaju kencang, dengan suara deru bergumuruh yang ditimbulkan dari gesekan roda besi kereta dengan rel. Dua bola mataku menatap nanar pemandangan di luar jendela yang terlihat seperti sedang berlarian. Hijaunya padi yang baru ditanam beberapa pekan, rerimbunan pohon bambu, pohon pisang, hutan jati, aliran sungai yang jernih airnya, rumah-rumah sederhana di pinggiran desa, anak-anak yang bermain riang adalah sedikit dari pemandangan yang menakjubkan selama perjalanan.

Ada suasana khas berada di gerbong kereta Pasundan ini. Kebanyakan orang-orang bercakap-cakap dengan Bahasa Sunda. “Kang Asep, Aa, teteh, kumaha, eta” begitu sedikit kata yang berhasil aku curi dengar dari percakapan mereka yang sangat kental dengan logat sundanya. Tidak salah sama sekali rasanya jika kereta ini bernama Pasundan.

Duduk di samping kiriku, seorang lelaki paruh baya bertubuh gembil, sedang sangat lahap menyantap nasi bungkus daun pisang dilapisi kertas minyak. Sementara di depanku seorang remaja baru gede yang tubuhnya kurus seperti diriku, sedang asyik memencet-mencet handphone jadoel yang casingnya berwarna orange. Di samping kananku, di deret tempat duduk jendela seberang, ada enam orang yang semuanya laki-laki.

Satu diantaranya terlihat berbeda. Dari penampilanya, sepertinya berasal dari kelas ekonomi menengah keatas. Membawa koper besar berwarna hitam, bermerk Citibank, dipegangan koper itu masih melekat tag bagasi pesawat Citilink. Dia terlihat kebingungan meletakkan koper itu. Rak diatas kursi dan kolong di bawah kursi tak muat menampung koper itu. Anak muda itu juga menenteng tas laptop berwarna coklat, tas kertas bermerk luar negeri, dan satu kotak mainan. Sekilas terlihat seperti Thomas and Friends, mainan kesukaan nomor wahid anak lanang. Tetapi setelah ku perhatikan ternyata Tomis the Big Family. Sepertinya ini numpang popularitas saja sama Thomas and Friend.

Ah sayang, kereta sudah hampir sampai di stasiun Madiun, dan aku harus segera turun. Dan cerita ini harus berakhir disini.

Jumat, 14 Juni 2017, 21 Ramadlan 1438 H
Dari dalam Gerbong Kereta Api Pasundan

Advertisements