Tag Archives: orang-orang yang sama

Orang-orang Yang Sama

… sudut-sudut jalan yang dulu selalu ku lewati setiap pagi, kini hanya menjadi sebongkah kenangan di sudut memori ingatan di kepalaku – a random thought

nilai_manusia_edit

Ilustarasi: Jalan Kenangan

Waktu terus saja bergulir, menggilir momentum demi momentum hidup. Yang tak pernah dan tidak akan pernah sama. Selalu berbeda, selalu istimewa. Panggung, lakon, dan pelakon drama kehidupan pun silih berganti. Sudut-sudut jalan yang dulu selalu ku lewati setiap pagi, kini hanya menjadi sebongkah kenangan di sudut memori ingatan di kepalaku. Orang orang yang dulu selalu ku lihat, menyapa ku dengan hangat, memberi ku seutas senyum pemantik semangat di setiap pagi-pagi ku. Kini telah pergi entah di belahan bumi yang mana, seperti embun pagi yang menguap oleh sinar mentari pagi.

Selalu ada kesedihan terlintas di hati setiap kali mengenang nya dan menyadari aku masih tertinggal disini sendiri. Bocah kecil Muhamed dan abinya, kini telah kembali ke Libia. Tak ada lagi teman paling setia untuk menunggu lampu merah menyala di penyebrangan jalan itu. Hadija dan ayahnya pun telah kembali ke Malaysia. Tak ada lagi yang menyapaku dengan logat bahasa melayu yang kental di tengah kerumunan orang-orang berlalu lalang.

Tapi,
Setiap pagi, kini aku bertemu dengan Mr. Hallo dan bocah kecil lelaki anaknya. Di jalan itu, kami selalu berpapasan, dan hanya satu kata yang terucap diantara kami: ” Hallooo “. Tak pernah lebih, bahkan kita tak pernah mengenal nama satu sama lain. Sepulang menghantar putranya dengan beerjalan kaki sampai gerbang sekolah, lelaki separuh baya itu kulihat selalu berhenti di taman sebuah gereja tua, berdiri santai menikmati hisapan demi hesipan rokok di sela jari tanganya. Tak pernah kulihat orang yang lebih tidak sibuk dari dia di negara ini.

Ada juga lelaki muda bertas kulit slempang berwarna coklat, yang menempuhi jalan yang sama dengan ku dengan selalu berjalan kaki. Juga seorang perempuan muda, yang hampir selalu berpapasan dengan ku dengan sepeda pancal mininya, yang di keranjang sepedanya itu selalu tergeletak sebuah buku novel.

Dan waktu akan terus berlalu, menjawab setiap tanda tanya yang masih menggantung. Hingga kita sendiri yang akan menjadi bagian dari kenangan itu. Entah kapan?