Tag Archives: orang desa jaman dahulu

Roti Pentung dan Kenangan Bersamanya

… air laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh – Pepatah Colongan dari Tetangga

roti_pentung

Roti Pentung

Jika sampean ingin tahu artinya waktu satu detik, bertanyalah kepada mahasiswa semester akhir yang sedang dikejar-kejar deadline. Hosh, haihata-haihata, seandainya waktu bisa diperlambat sejenak, pasti akan diminta lebih para mahasiswa setengah gila seperti saya sekarang. Maksud hati ingin berlari kencang, tapi apa daya kadang otak dan badan tak bisa diajak kompromi. Otak kalau kelamaan dipakai mikir juga mumet, hehe dan harus diistirahatkan. Badan juga sering ikutan protes, hidung mbeler, batuk, badan pegal-pegal, meriang, kesemutan, ngentutan. Mood apalagi, kadang juga seperti anak nakal yang susah diatur. Jiaah, terus kudu piye? keep on floating, Man !

Saat begadang, godaan paling menyebalkan di musim dingin seperti ini adalah perut gampang lapar. Entahlah, apa hubunganya musim dingin dengan rasa lapar ini. Makanya, meskipun siang di musim dingin juah lebih pendek daripada ketika musim panas, puasa di musim dingin itu rasanya berat sekali. Nah, karena saya tidak biasa membawa pekerjaan di rumah, kadang serangan lapar ini begitu menyiksa saat bekerja di kampus. Dan selalu menjadi alasan ingin cepat-cepat pulang ke rumah yang ujung-ujungnya banyak kerjaan yang tertunda.

Nah, baru-baru ini saya nemu pengganjal perut yang efektif. Roti seperti gambar di atas. Saya menyebutnya Roti pentung. Karena bentuknya seperti pentungan. Gede bener. Biasanya saya paling ogah makan roti ala bule-bule itu, tapi belakangan saya menyukainya. Rasanya plain sih, ndak ada manis-manis nya. Tapi lama-lama rasanya menjadi gurih. Harganya murah lagi, satu biji hanya 15 pence (0.15 poundsterling, setara 3000 rupiah).

Setiap makan roti ini, memori ingatan saya terbawa pada suasana lebaran di kampung tempo doeloe. Saat lebaran menjadi hari-hari yang paling membahagiakan sepanjang tahun. Orang kampung jaman dulu berbeda dengan orang kampung jaman sekarang. Kalau sekarang mah, tidak ada bedanya dengan orang kota, kue lebaranya beli di toko semua, akibatnya kue lebaran orang sekampung ya itu lagi, itu lagi.

Kalau jaman dulu, sejak puasa hari pertama, ibu-ibu di kampung sudah repot membuat kue lebaran. Rengginan, kerupuk, tape, keripik, madu mongso, jenang, hampir semuanya home made. Karenanya, setiap rumah, kue nya memiliki cita rasa sendiri-sendiri. Tidak seragam seperti jaman seragam. Nah, satu-satunya roti bikinan pabrik jaman dulu adalah roti entung. Bentuknya sama seperti gambar di atas tapi ukuran mini, seukuran kepompong. Wah, jaman dulu, roti itu begitu ajaib rasanya. Sekarang? Betapa ya, kenikmatan dan kebahagiaan itu sangat relativ. Dulu memang katanya jaman susah, tetapi kebahagian itu begitu sederhana definisinya dan melimpah ruah. Sekarang, yang katannya jaman serba mudah, tetapi kebahagiaan itu rasanya begitu rumit definisinya dan susah dicari. Padahal, bukankah hidup hanya kebahagiaan tujuanya?

Buat teman-teman mahasiswa semester akhir, yang sedang berjuang untuk lulus seperti saya, tetap semangat ya ! Meskipun, pasti banyak sekali cobaan dan ujianya. Semoga diberi kekuatan raga dan kebesaran jiwa untuk tetap bisa menikmati setiap detik dalam proses perjuangan ini, seberat apa pun jalan nya. Di waktu yang tepat, insya Allah kita akan sampai jua, di pelabuhan tujuan. Kadang air laut memang harus ganas, karena air laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh.


Secangkir Beras Kencur Anget dan Segenap Kenangan Yang Meliputinya

Sabar dalam kehidupan itu seperti jamu, meskipun pahit tapi menyehatkan. -MutiaraBijaksana.Com

Secangkir Beras Kencur Anget

Ilustrasi : Secangkir Beras Kencur Anget

Pergantian dari musim panas ke musim gugur tahun ini rupanya kurang bersahabat dengan keberuntungan saya. Meskipun sudah tiga tahun hidup di negara empat musim, pergantian musim tahun ini berhasil mengagetkan tubuh saya dan merobohkan daya tahan tubuh saya. Akibatnya, badan meriang, batuk, pening, pilek, letih, lesu ber-‘konser ria’ menjajah tubuh saya berhari-hari. Tetapi semangat hidup mencoba tak menyerah hanya pada penyakit sejuta umat itu dengan beraktivitas seolah badan masih baik-baik saja.

Karenany, saya masih ke kampus juga seperti biasa, meskipun harus ditemani dengan seonggok tisu. Untuk menyeka ‘umbel’ sialan yang suka meleleh tanpa permisi dari hidung. ‘Sentrap – Sentrup’ si hidup jadi sering mampet. Berpadu dengan konser batuk yang juga susah dikontrol. Keduanya membuat saya merasa sangat berdosa dengan orang-orang di sekitar saya. Karena mereka pasti sangat jijik melihat saya.

Hari ini, ketika hari menjelang malam, penderitaan saya semakin sempurna, karena masih ditambah lagi si gusi yang tiba-tiba bengkat dan menimbulkan rasa sakit senat-senut sampai di kepala. Padahal sudah bertahun-tahun sudah tidak pernah merasakan yang namanya sakit gigi. Hati saya hanya bisa mbatin: ealah di saat belakangan saya semakin merasa sangat ‘sensi’ untuk menjawab pertanyaan yang makin sering ditanyakan orang-orang disekitar saya: ” Have you submitted your thesis? ” kenapa juga penyakit-penyakit ini muncul bersamaan. Tuhan, memang maha pandai membuat cerita hidup hambanya agar semakin dramatis, hehe.

Argh, pertanyaan itu sama menakutkanya dengan hantu di siang bolong. Saya sampai berani memarahi salah seorang teman, yang berkali-kali mengajukan pertanyaan yang sama. Mungkin begitu ya rasanya ketika seorang jomblo senior ditanya ” kapan nikah? “. Atau pasangan yang belum punya anak ditanya ” kapan nih punya momongan? “. Atau pasangan yang baru punya anak satu ditanya ” kapan nih punya adek?”. Haha, kadang memang susah membedakan antara sebuah perhatian dan sebuah sindiran.

Akhirnya hanya sampai jam 9 malam saya bertahan di kampus, 2 jam lebih awal dari hari-hari biasanya, saya pulang ke rumah. Berjalan menembuh angin malam yang sudah terasa sangat dingin menusuk tulang. Kedua lubang hidung langsung meleleh kembali.

Sesampai di rumah, melihat menu makan malam rasanya tidak berselera. Yaelah, hidung mampet. Tetapi ada yang istimewa di meja makan dari biasanya. Secangkir beras kencur anget. Kebetulan, kemaren Raras, adik angkatan saya waktu kuliah di ITS bersama dengan putri dan ibunya yang baru datang ‘sambang’ dari Indonesia, membawa oleh-oleh istimewa. Salah satunya kerupuk dan beras kencur.

Saya seduh secangkir beras kencur anget itu, dan saya sruput perlahan sambil duduk di sofa yang hangat. “Slurrrp”. Rasa manis, gurih, dan hangat secara perlahan menjalar dari mulut, tenggorokan, perut, dan menimbulkan sensasi hangat ke seluruh tubuh. Wah, jian rasanya, seperti dipeluk Malaikat Ridzuan. Kuulangi sruputan itu berkali-kali. Membuat saya sejenak terlupakan sensasi penyakit-penyakit yang sedang mendera badan.

Secangkir beras kencur hangat dari kota Solo Jawa Tengah itu pun, membawa alam pikiran saya terbang bersama kenangan-kenangan akan beras kencur yang kenikmatanya sudah bertahun-tahun tidak saya kecap itu. Beras kencur itu mengingatkan saya akan sosok Alm. Mbah Dok alias Nenek ketika saya masih kecil. Dulu, ada penjual jamu gendong yang berjalan bekilo-kilo meter keliling kampung, yang dua minggu sekali selalu mampir di emperan nenek saya.

Jangan bayangkan si penjual jamu yang masih muda dan seksi, penjual jamunya sudah tua dan tidak seksi. Tetapi tubuhnya masih terlihat segar dan subur. Ada beberapa jenis jamu yang ditawarkan, yang saya ingat hanya tiga: jamu beras kencur, jamu kunir asem, dan jamu cabe puyang. Jamu-jamu itu disimpan dalam botol plastik berwarna putih, seukuran botol bensin 1 literan. Si nenek biasanya memesan jamu cabe puyang yang warnanya hitam kecoklatan itu, dan pastinya pahit rasanya. Dan saya biasanya dibelikan jamu beras kencur yang berwarna putih agak kekuning-kuningan.

Jamunya masih hangat dan manis, biasanya dibungkus dalam kantong plastik gula pasir 1/4 kg, yang saya sedot dari salah satu ujung bawahnya. Baru kalau jamu beras kencurnya sudah habis, biasanya diganti dengan jamu kunir asem.

Yang saya kangeni dari kenangan itu adalah suasananya. Bagaimana suasana desa jaman nenek saya masih hidup itu masih sangat bersahabat. Hubungan antar sesama masih sangat hangat dan istimewa. Setiap rumah selalu terbuka lebar pintunya bagi siapa saja. Orang-orang juga biasa berunjung sana, dari rumah ke rumah seperti saudara sendiri. Orang-orang juga selalu punya banyak waktu untuk sekedar bercengkerama dengan sesama. Sekedar ngobrol ngalur ngidul, tentang kehidupan. Bahkan dengan orang asing, seperti penjual jamu tadi.

Suasana desa jaman sekarang tak ubahnya suasana di kota yang mulai angkuh dan kurang bersahabat. Perbaikan ekonomi membuat semakin banyak rumah yang bagus dan megah di desa, sayang rumah-rumah bagus itu dikelilingi beteng tembok yang tinggi, dan hampir selalu terlihat terkunci. Benteng-benteng rumah itu seolah menggambarkan bagaimana gaya hidup orang di dalamnya, yaitu keinginan hidup yang lebih individualistis, hidup nafsi-nafsi. Orang-orang desa pun terlihat lebih sibuk dengan urusanya sendiri-sendiri.

Entahlah, siapa yang mengajar mereka seperti itu? Mungkin Televisi, tontonan yang karena hampir setiap orang mampu membeli, sekarang menjadikan mereka semakin hidup sendiri-sendiri. Padahal, dahulu, ketika hanya satu dua orang yang mempu membeli, televisi menjadi media pemersatu dan pengakrab warga.

Untuk yang kesekian kali, hati kecil saya kembali bertanya: benarkah setiap kemajuan selalu menjadikan kehidupan yang lebih baik? Atau sebaliknya, harus ada sisi lain kehidupan yang harus dikorbankan untuk kemajuan itu?

Yang pasti, secangkir beras kencur hangat di malam itu, telah mengantarkan istirahat tidur saya dalam nyenyak yang meneduhkan. Terima kasih kawan, untuk secangkir beras kencur hangat nya! Terima kasih Tuhan atas setiap langkah perjalanan dalam titian takdir kehidupan mu yang begitu indah.


Filsafat ndeso Tentang Kebahagiaan

… jangan-jangan sebenarnya kita justru tidak butuh modernitas dan teknologi yang canggih untuk hidup lebih bahagia lagi? – A Random Thought

happiness

Ilustrasi: Anak-Anak Indonesia Sedang Bersuka Ria. Derby, Inggris.

Habis membaca sebuah tulisan Umar kayam, yang ditulis pada tahun 1989, saya kok ya tiba-tiba jadi kangen momen sembilan puluhan di kampung. Kampung ndeso, tempat tipikal masyarakat agraris dengan kultur Islam NU yang kental di Ujung selatan Kabupaten Banyuwangi. Seolah momentum itu tersimpan begitu rapi dalam sebuah ruang khusus yang begitu istimewa dalam memori ingatan saya. Momentum, yang tak seorang Antropolog pun sempat mengabadikanya dalam tulisan yang barang kali bisa dibaca oleh generasi penerus satu abad mendatang, yang penasaran ingin tahu bagaiamana kehidupan para nenek moyang para pendahulu mereka.

Saya masih ingat betul, dulu di teras depan rumah saya ada sebuah lincak (bangku panjang) dari pring ori (salah satu spesies bambu yang elastisitasnya sangat tinggi) hasil karya tangan Bapak saya sendiri. Dilincak inilah, di setiap senja hingga adzan maghrib berkumandang dari corong TOA (pengeras suara) masjid dan langgar, sejumlah puluhan tetangga, pria dan wanita berkumpul dan ngobrol penuh keakraban nan gayeng. Rutinitas itu seolah menjadi pelepas lelah, setelah seharian bekerja di sawah dan ladang. Sehabis dari sawah dan ladang, mereka mandi berjamaah, pria dan wanita, anak-anak, dewasa, bahkan dengan kerbau, di sungai setail belakang rumah. Sehabis mandi, sholat ashar, dan makan sore itulah, mereka berkumpul di lincak teras depan rumah itu. Ada dua buah pohon jambu klutuk,dan sebuah pohon rambutan yang menjadi kanopi alami halaman depan rumah saya yang berada tepat dipinggir jalan utama kampung yang berdebu itu.

Sepertinya, tidak pernah ada hal serius yang diperbincangkan. Hanya guyonan dan tertawa lepas yang nyaris terdengar setiap saat. Seolah tidak ada rahasia pribadi atau rahasia keluarga diantara mereka. Semua rahasia dan permasalahan menjadi milik mereka bersama. Jarang diantara mereka yang mengeluh tentang hidup, karena buat mereka hidup adalah sekedar menjalani. Tak perlu ada yang ditakutkan dan dikhawatirkan. Jika selepas isyak, di TVRI tidak ada acara campur sari, ketoprak, ludruk, atau dagelan Kirun, mereka kembali melanjutkan obrolan di tempat yang sama hingga sekitar jam 9 malam. Tetapi, jika ada salah satu dari acara kesayangan mereka tersebut, obrolanya berpindah ke salah satu rumah warga yang memiliki TV hitam putih, yang seolah tidak lagi menjadi milik pribadi, tetapi sudah menjadi milik bersama. Rukun, damai, dan bahagia mungkin itu adalah kata yang teapat melukiskan kehidupan sosial masyarakat desa di kampung saya saat itu.

Kehidupan anak-anak pun tak kalah membahagiakan. Di samping kanan rumah saya dulu ada halaman yang cukup luas. Ada sebuah pohon jambu wer (jambu air) yang pohonya tinggi besar dan dahanya sangat rindang. Di bawah pohon,jambu inilah puluhan anak-anak berkumpul bermain riang dari sepulang sekolah hingga menjelang sholat ashar. Ada saja jenis permainan yang dimainkan. Mulai gedrik, gobak sodor, nekeran, main karet, sredek, pal-palan, cimciman (hide and seek), kasti, dan sebagainya. Di belakang rumah saya juga ada halaman yang sangat luas, ada jalan setapak yang sangat lebar menuju sungai. Ada banyak pohon kelapa, mahoni, dan pohon nangka, yang daun dan dahanya menjadi atap alamiah. Di belakang rumah inilah, anak-anak juga sering bermain untuk permainan yang lebih serius. Permainan neker dan karet gelang yang dijadikan taruhan. Yang menjadi pemenang adalah mereka yang bisa mendapakan neker dan karet gelang sebanyak-banyaknya.

Sayang, keadaan itu kini tinggal cerita. Sejak setiap rumah mampu membeli TV berwarna. Rumah seolah menjadi sekat-sekat yang tabu untuk dilalui bagi orang lain. Kumpul-kumpul bersama menjadi barang yang begitu mewah. Kecuali jika ada acara selamatan atau tahlilan di rumah salah satu warga. Pun demikian dengan anak-anak. TV menjadikan mereka begitu betah di dalam rumah.

Pertanyaanya adalah lebih bahagia manakah mereka, hidup di jaman sekarang atau jaman dahulu?

Sebuah pertanyaan yang sangat personal tentunya. Tetapi, menurut hemat pribadi saya, saya kok justru merasa lebih bahagia dengan keadaan ndeso jaman dahulu. Perubahan teknologi dan kemajuan jaman, ternyata telah menggeser value yang berkembang pada masyarakat. Jikalau dulu, makan ndak makan yang penting kumpul sekarang bergeser menjadi kumpul ndak kumpul yang  penting makan. Kebersamaan yang dulu lebih diutamakan daripada kepentingan ekonomi, sekarang yang terjadi sebaliknya. Banyak suami yang rela meninggalkan anak istrinya bertahun-tahun menjadi buruh di Malaysia, demi rumah dan motor baru. Banyak istri yang meninggalkan suami dan anak-anaknya bertahun-tahun menjadi babu di Abu Dhabi, demi sebidang tanah baru. Pun demikian, anak-anak yang rela hidup terpisah dari orang tua mereka atas nama kehidupan yang lebih baik. Kalau dahulu yang paling dihormati di masyarakat adalah yang paling alim di antara mereka, sekarang yang paling dihormati adalah yang paling mewah mobilnya dan paling megah rumahnya.

Dari falsafah sederhana tentang kebahagiaan orang ndeso inilah saya terkadang belajar arti kebahagiaan. Bahwa bahagia itu sebenarnya sederhana. Bahagia itu ketika kita bisa berdamai dengan diri sendiri, tidak terlalu ambisius dengan ukuran-ukuran yang kita atau orang-orang disekitar kita buat sendiri. Bahagia itu ketika kita sadar bahwa urip mung saderno ngelakoni, hidup hanya sekedar menjalani. Bahagia itu ketika kita mampu menghayati setiap langkah dalam hidup kita, seperti khusuk dalam sholat yang membuat sholat terasa indah dan penuh makna, bukan sekedar rangkaian gerakan tubuh tanpa makna.

Kebahagiaan memang yang paling dicari tapi masih penuh teka-teki. Sampai-sampai, saya pernah melihat sebuah gedung di Universitas Birmingham, Inggris, yang merupakan pusat penelitian khusus tentang kebahagiaan. Bahkan, di Universitas Berkeley, US, berkembang ilmu kebahagiaan (Science of Happiness), sampean pun bisa mengikuti kuliahnya gratis di sini.

Semoga Bahagia selalu ya Dolor !